The Darkest Side Chapter 1

The Darkest Side

Setelah menghadapi Kyuhyun, Hyera segera pergi dari kantor tersebut. Dia tidak menghiraukan tatapan resepsionis maupun orang-orang yang penasaran. Karena saat ini wajah Hyera sangat merah padam menahan amarah. Apalagi perkataan Kyuhyun yang terakhir masih terngiang dengan jelas dikepalanya. Dia tidak merasa mengenal Kyuhyun sebelumnya yah kecuali kemarin malam saat lelaki itu tiba-tiba datang menghampirinya.

Hyera merebahkan tubuhnya dikasur setelah sampai dirumahnya. Sebuah rumah kecil yang ia sewa beberapa tahun yang lalu. Hari ini Hyera merasa benar-benar lelah. Dia hanya ingin tidur walaupun hari masih siang. Cuaca diluar juga masih panas. Hyera yakin cuciannya yang banyak tadi bisa kering dengan cepat jika cuacanya seperti ini.

Ponsel gadis itu bergetar ketika dia sedang mencoba untuk tidur. Hyera meraba-raba pinggiran kasur untuk mencari ponselnya. Gadis itu mengernyit bingung ketika dilayarnya tertera nama ayahnya. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada keluarganya.

“Hallo Appa.” Hyera diam, dia mendengarkan semua kata-kata yang disampaikan oleh ayahnya. Tatapannya berubah menjadi sendu. Dia hanya mengatakan ‘ya’ dan kemudian menutup teleponnya. Hari ini benar-benar hari yang buruk menurutnya. Tadi dikantor dia mendapat kejutan yang sangat besar dari bosnya yang tak lain adalah Kyuhyun, si pria misterius. Dan sekarang keluarganya menghubunginya dengan kabar buruk. Adik semata wayangnya sakit parah dan memerlukan operasi minggu depan. Gadis itu menunduk ketika kata-kata ayahnya terngiang kembali.Read More »

Advertisements

The Darkest Side Prolog

The Darkest Side

-Story Begin-

Tembok besar itu menjadi satu-satunya penghalang kokoh. Tidak ada apapun yang dapat kugunakan saat ini. Para keparat itu pasti akan menemukanku dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Karena percuma saja aku menebaknya, hal itu pasti akan meleset. Lebih baik aku membacanya secara langsung dari pikiran para biadab itu. Suara langkah kaki yang berlari semakin mendekat membuat nyaliku menciut. Harusnya aku tidak boleh bertindak seperti ini, aku bisa membaca pikiran mereka dan mengetahui apa yang akan mereka lakukan padaku.

 

“She’s not here.” Itu suara laki-laki berambut panjang yang tadi mengejarku, dan aku masih meringkuk dibalik tembok. Sesekali menahan nafas walaupun aku yakin bahwa hal itu tidak berguna. Didepan bangunan ini terdapat hamparan  padang rumput yang luas. Pohon cemara berjarak beberapa meter dari tempatku bersembunyi. Aku tidak yakin bahwa dalam waktu secepat kilat pohon itu yang berubah menjadi pelindungku.

 

Yang kulakukan sekarang hanyalah menghembuskan nafas lega. Lega karena para preman itu sudah pergi. Dan yeah seperti biasa tebakanku selalu meleset. Salah satu anggota dari geng tersebut berdiri dihadapanku ketika aku berbalik badan. Tubuhnya tinggi menjulang, tapi aku ragu satu hal. Laki-laki itu mengenakan pakaian yang terlihat mahal bukan pakaian biasa seperti para geng. Dan sialnya aku tidak dapat membaca pikirannya, dia menggunakan kacamata hitam yang membuatku tidak mampu menembus tatapannya.

Read More »