Step Brother

step brother

Author: seobabywook
Rate: G
Length: oneshot
Genre: brothership, angst, family, school life
Cast:
-Kim Ryeowook (Ryeowook)
-Cho/Kim Kyuhyun (Kyuhyun)
-Kim Seung Wook (Ryeowook’s father/OC)
-Cho/Kim Kyu Ra (Kyuhyun’s mother/OC)

Other cast:
-Victoria Song (Victoria)
-Seo Joohyun (Seohyun)

Summary: “Mungkin kamu tidak suka dan tidak pernah menerima aku sebagai kakak tirimu, Kyuhyun. Namun, walaupun begitu aku tetap menyayangimu selamanya.” -Ryeowook-

Disclaimer: holaa~~ akhirnya gue bawain FF brothership nih :v coba-coba bikin sih karna gue keseringan bikin FF romance -_-” kayaknya readers agak bosen gitu ya sama FF romance :v disini gue bawain FF brothership KYUWOOK >_< ya, pasalnya emang mereka bias gue dan jarang banget ada FF brothership yg castnya mereka -_-” yowes dah, sampe disini aja gue curhatnye :3 yg jelas lu jangan jd silent readers yeh :v

-Happy Reading-

Sebuah demi sebuah daun berguguran mengotori negara yang disebut Korea itu dan menyebabkan musim gugur di negara tersebut. Tampaklah dari sebuah rumah yang lumayan besar dan mewah, terlihat seorang lelaki bertubuh jakung yang bernama Cho Kyuhyun sedang berdiri di balkon rumahnya sambil memandangi pemandangan yang tergambar jelas di matanya. Lelaki itu memegangi sebuah balon yang di bawah tali balon tersebut ada sepucuk surat. Balon surat itu ia tunjukkan pada Ayahnya yang telah berada di alam baka.
“Saranghae, Appa..” Bisiknya saat menerbangkan balon itu.

Dari dalam, seorang lelaki berambut coklat yang bernama Kim Ryeowook tengah memerhatikan Kyuhyun yang berada di balkon sendirian sambil menerbangkan balon surat itu. Ryeowook yang sangat mengerti dengan keadaan adik tirinya yang sangat kehilangan Ayahnya itu pun menghampiri Kyuhyun yang tengah berada di balkon rumahnya. Mencoba menghibur adik tirinya yang tengah bersedih itu.

“Kyuhyunnie..” Ucap Ryeowook sambil memegang pundak Kyuhyun.
“Mau apa lagi kau kesini?” Ketus Kyuhyun.

Kyuhyun menepis tangan Ryeowook yang memegangi pundaknya. Ryeowook hanya tersenyum menanggapi sikap Kyuhyun yang sangat dingin padanya. Ia sangat mengerti bahwa Kyuhyun benci melihat Ibunya yang menikah dengan lelaki selain Ayahnya. Alasan Ibunya agar Kyuhyun tetap bisa mendapatkan kasih sayang dari seorang Ayah walaupun yang dinikahinya itu bukan Ayah kandungnya.

“Aku tidak ada maksud untuk mengganggumu, Kyu. Aku hanya ingin menghiburmu.” Ucap Ryeowook. Kyuhyun hanya memutar kedua bola matanya.
“Cih, menghiburku? Kau tidak menghiburku. Justru kau membuatku semakin muak. Ingatlah, kita bukan saudara kandung. Marga kita saja tidak sama. Jadi kau tidak perlu susah payah mencari-cari cara agar aku bisa menganggapmu sebagai Hyung ku. Tidak, dan tidak akan pernah aku menerima mu sebagai saudaraku, camkan itu!” Ucap Kyuhyun dingin. Lalu ia pun pergi meninggalkan Ryeowook menuju kamarnya yang terletak di sebelah kamar Ryeowook.

Ryeowook hanya bisa menghela nafas melihat sikap Kyuhyun pada dirinya.

‘Apa aku salah menjadi hyung mu? Apakah aku pernah berbuat salah padamu sampai-sampai kau tidak pernah mau akur denganku, Kyu?’ Batin Ryeowook.

***

Malam itu, suasana di rumah keluarga Kim sangat sunyi. Kedua anak di rumah itu sama-sama sedang mengurung diri di dalam kamar. Berkali-kali Ibu Kyuhyun memangggil Kyuhyun dan Ryeowook untuk makan malam, tetapi tidak ada yang mau mengikuti ajakan Ibu Kyuhyun.
“Kyu chagi.. Ayo makan nak, nanti kamu sakit.” Ucap Kyura dengan lembut.
“Anni, aku tidak mau! Jika Eomma ingin aku makan, bawakan saja makananku ke dalam kamarku. Aku malas makan malam bersama kalian, terutama makan malam bersama Ryeowook.” Balas Kyuhyun dari dalam kamar.
“Kyu, kamu. Tidak boleh berkata seperti itu sayang.” Ucap Kyura.
“Terserah Eomma saja, yang jelas aku tidak mau ikut makan malam bersama, titik!” Ucap Kyuhyun keras kepala. Kyura hanya geleng-geleng kepala melihat sikap anaknya itu.

“Ryeowook, tolong buka pintunya nak. Ayo makan.” Ujar Kyura di depan pintu kamar Ryeowook.
“Tidak Eomma, aku tidak ingin makan jika Kyuhyun tidak ikut makan malam bersama.” Balas Ryeowook dari dalam kamar.
“Ayolah Ryeowook, Kyuhyun, buka pintunya.” Seungwook membantu sang istri untuk mengajak kedua anaknya makan malam.
“Pergilah! Aku ingin sendiri!” Teriak Kyuhyun dari dalam.

Sepasang suami istri itu pun sudah kewalahan meneriaki kedua anak kereka yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Dan pada akhirnya meja makan hanya dihadiri oleh sepasang suami istri itu. Sedangkan Ryeowook dan Kyuhyun masih berada di dalam kamarnya hanya karena alasan yang sepele. Pertama, Kyuhyun tidak ingin keluar karena tidak mau makan bersama Ryeowook. Kedua, Ryeowook tidak mau keluar karena Kyuhyun tidak mau makan malam bersama. Semuanya serba salah dan serba membingungkan.
‘Kyuhynnie, kapan kau akan menerimaku sebagai hyung mu? Kapan kau akan memanggilku dengan sebutan ‘hyung’? Apakah berat memanggilku ‘Ryeowook hyung’? Aku sangat menyayangimu, Kyu. Tetapi kapan kau bisa menganggapku ada?’ Batin Ryeowook.

***

Pukul 07.15 KST

Ryeowook tengah melahap sarapannya di meja makan. Pandangannya menyapu ke segala ruangan. Dimana Kyuhyun? Ia tidak melihat Kyuhyun sejak ia bangun.

“Kyuhyunie ada dimana, Eomma?” Tanya Ryeowook.
“Ia sudah berangkat sendiri ke sekolah dari tadi.”
“Sendiri? Tidak diantar?”
“Tidak, ia ke sekolah menggunakan motornya. Tadi Eomma sudah menyuruhnya untuk menunggumu sebentar agar kalian bisa berangkat sama-sama. Tetapi ia tidak mau. Eomma khawatir ia akan berbuat macam-macam.”
“Tenanglah, aku yang akan mengurusnya. Aku berangkat dulu.”

Ryeowook mencium tangan Ibu tirinya itu. Lalu ia pun berangkat ke sekolah diantar oleh supir pribadinya. Hatinya terasa was-was karena khawatir dengan Kyuhyun. Khawatir jika ia membolos sekolah lagi seperti beberapa minggu yang lalu.

Ryeowook dan Kyuhyun bersekolah di sekolah yang sama. Bedanya, Kyuhyun masih duduk di kelas 11, sedangkan Ryeowook sudah berada di kelas 12. Setelah Ibunya menikah dengan Ayah Ryeowook, sikap Kyuhyun berubah. Ia tidak pernah setuju dengan pernikahan itu karena merasa jika Ibunya telah melupakan almarhum Ayahnya.

15 menit kemudian, Ryeowook pun sampai di sekolahnya. Matanya langsung menatap ke arah parkiran motor. Ia mencari motor Kyuhyun untuk memastikan bahwa Kyuhyun bersekolah hari ini. Perasaannya lega setelah mendapati motor Kyuhyun di area parkiran. Ia pun berjalan ke arah kelasnya dan beberapa saat kemudian, bel tanda pelajaran dimulai pun berbunyi.

***

“Hei, Kim Kyuhyun!” Panggil Eunhyuk. Kyuhyun menoleh dengan wajah datar.
“Yak! Jangan panggil aku dengan marga itu! Sampai kapanpun, margaku tetap Cho dan tidak akan berubah menjadi Kim.” Balas Kyuhyun marah.
“Aish, aku bercanda. Kau membawa motor hari ini?” Tanya Eunhyuk.
“Tentu saja. Apa kau juga membawa motor?” Kyuhyun balik bertanya.
“Aku selalu membawanya. Pulang sekolah, aku tunggu kau di depan sekolah. Kau mau ikut balap motor di tempat biasa, bukan? Lihat siapa yang menang nanti!”
“Hahaha, siapa takut? Kau sudah sering kalah denganku.”
“Kau memang sering mengalahkanku, tetapi belum mengalahkan teman-temanku. Mereka jagoan balap motor, apa kau tidak tahu?”
“Persetan dengan teman-temanmu. Paling-paling nanti aku yang akan mengalahkan teman-temanmu.”
“Bagaimana dengan hyung mu nanti?”
“Aish, tidak usah fikirkan dia. Biarkan saja dia mengurusi hidupnya sendiri.”

Kyuhyun menyeruput sodanya. Kantin hari ini begitu ramai. Mata Kyuhyun menyapu pemandangan di sekitarnya. Dari sekian banyak siswa, ia tidak melihat saudara tirinya itu di kantin. Kyuhyun tersenyum jahat. Dengan begitu, ia bisa membahas tentang balap motor itu dengan Eunhyuk tanpa takut jika Ryeowook mendengarnya. Karena jika Ryeowook mendengarnya, Kyuhyun yakin bahwa Ryeowook akan melaporkan hal itu pada Ibunya.

Eunhyuk melambai-lambaikan tangannya pada Donghae, Yesung, dan Siwon. Mengisyaratkan bahwa ia menyuruh mereka untuk bergabung. Ketiga lelaki itu pun menghampiri Kyuhyun dan Eunhyuk. Kemudian mereka pun membahas tentang balap motor yang akan dilaksanakan sepulang sekolah itu.

***

“Aku pulang!” Ucap Ryeowook dari luar. Lalu sang Ibu pun membukakan pintu untuk Ryeowook.
“Ryeowook, kamu sudah pulang? Dimana Kyuhyun?”
“Kyuhyun belum pulang?”
“Belum. Eomma menelfon ia berkali-kali, tetapi ponselnya dimatikan.”

Ryeowook yang mendengar itu pun langsung masuk ke dalam rumah dan melempar tasnya ke kamarnya. Lalu ia meraih kunci mobil dan berpamitan kepada Ibu tirinya untuk pergi mencari Kyuhyun.

‘Kyuhyun, kau dimana?‘ Batin Ryeowook.

Ryeowook mengemudikan mobilnya kesana kemari. Berkeliling ke berbagai tempat namun dirinya juga tidak melihat dimana keberadaan Kyuhyun. Sudah satu jam lebih ia menghabiskan bensin hanya karena mencari Kyuhyun. Serasa hampir gila karena sampai detik ini pun tidak juga ia menemukan Kyuhyun. Lelaki berambut coklat itu mengacak-acak rambutnya karena frustasi. Ia merasa telah mengelilingi seluruh kota Incheon. Ryeowook pun menepikan mobilnya di sebuah halte. Mengingat-ingat tempat apa lagi yang belum dikunjunginya.

“Ah! Masih ada satu tempat lagi.” Ujarnya perlahan.

Ryeowook pun mengemudikan mobilnya menuju tempat yang ia maksud. Ternyata Kyuhyun berada disana. Tampaklah Kyuhyun yang sedang memanaskan mesin motornya. Ryeowook pun melepaskan sabuk pengamannya dan keluar dari mobil. Jantung Ryeowook berdebar-debar dan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Sebelumnya ia belum pernah ke tempat mengerikan seperti ini.

“Kyuhyun-ah!” Seru Ryeowook yang membuat semua orang yang berada disana menoleh ke arahnya.

Ryeowook menghampiri Kyuhyun yang kini sedang menatapnya dengan tatapan tajam.

“Apa yang kau lakukan disini?” Ujar Kyuhyun ketus.
“Seharusnya aku yang bertanya padamu! Apa yang kau lakukan disini?” Ucap Ryeowook dengan nada suara yang meninggi.
“Kalian semua, bubarlah! Balap motor seperti ini tidak ada gunanya bagi remaja seperti kalian. Seharusnya kalian di rumah, menuntut ilmu! Bukan pergi ke tempat seperti ini. Pulanglah!” Ujar Ryeowook pada orang-orang yang berada di sekitarnya.

Satu per satu orang pun pergi dari tempat itu dan kini hanya ada Ryeowook dan Kyuhyun di tempat itu. Kyuhyun menatap Ryeowook sinis. Kyuhyun sangat benci pada sikap Ryeowook yang selalu ikut campur dengan urusannya.

“Aku sudah pernah bilang padamu, urusilah hidupmu sendiri!” Ujar Kyuhyun.
“Tidak semudah itu, Kyuhyun. Aku tidak mungkin membiarkanmu terpengaruh oleh pergaulan bebas.”
“Memangnya siapa kau?”
“Aku hyung mu!”
“Hyung? Bukankah aku telah berkata bahwa aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara? Apalagi menganggapmu sebagai hyung!”
“Kyu, aku tidak mau mencari masalah denganmu.”
“Kau yang membuat masalah!”
“Cukup! Eomma sedang di rumah dan ia mengkhawatirkanmu. Sekarang kita pulang. Eomma pasti sudah lama menunggu kita.”
“Aku tahu, pulang nanti kau akan mengadukan perbuatanku pada Eomma.”
“Tidak Kyu, aku tidak akan melaporkannya. Tetapi aku ingin melihat perubahanmu.”
“Terserah apa katamu. Yang penting besok, kau harus menyerahkan seluruh uang bulananmu padaku karena kau sudah membuatku malu di depan teman-temanku.”
“Kyu, aku…”
“Tidak ada alasan apapun. Jika kau tidak mau, baiklah! Aku akan pergi dari rumah.”
“Jangan pernah lakukan itu.”
“Kalau begitu, besok aku sudah harus menerima uang itu darimu.”
“Baiklah.”

Ryeowook pun masuk ke dalam mobilnya. Sementara itu Kyuhyun mengendarai motornya menuju arah ke rumah. Di perjalanan, raut wajah Ryeowook terlihat sedih. Sedih karena memikirkan sikap adiknya itu.

“Aku hyung mu!”
“Hyung? Bukankah aku telah berkata bahwa aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara? Apalagi menganggapmu sebagai hyung!”

Kalimat yang dilontarkan Kyuhyun padanya masih terngiang di telinganya. Ryeowook hanya bisa menghela nafas. Ia ingin merubah sikap Kyuhyun. Tetapi bagaimana caranya?

“Apa yang harus kulakukan?” Lirihnya.

30 menit kemudian, Ryeowook dan Kyuhyun pun sampai di rumahnya. Ibu mereka yang dari tadi cemas menunggui mereka pun akhirnya lega setelah melihat mereka pulang.

“Kyunie, kamu kemana saja nak?”
“Menyingkirkah! Aku lelah, aku ingin istirahat.”

Kyuhyun berjalan menghindari Ibunya dan langsung masuk ke dalam rumahnya. Kyura pun akhirnya menanyakan pertanyaan itu pada Ryeowook.

“Dimana kamu menemukan Kyuhyun?”

Ryeowook memutar otaknya untuk tidak berkata yang sebenarnya. Kyura memandanginya dengan bingung.

“Mengapa kamu diam?”
“Errr.. Tadi… Tadi Kyuhyun sedang mengerjakan tugas kelompok di rumah temannya.”

Ryeowook meremas baju bagian bawahnya. Ia sangat jarang sekali berbohong. Lalu ia pun mencium tangan Kyura lalu masuk ke dalam rumahnya.

Ryeowook masuk ke dalam kamarnya. Lalu ia pun mengganti baju seragamnya dengan kaos santainya.

“Kacau! Semuanya kacau!”

Teriakan Kyuhyun dari kamarnya terdengar di telinga Ryeowook. Ryeowook pun keluar dari kamarnya dan mengetuk pintu kamar Kyuhyun.

“Kyuhyun-ah. Buka pintu kamarmu. Biarkan aku masuk. Aku ingin bicara padamu.”
“Pergilah!”
“Kyu, untuk kali ini.”
“Kubilang pergi! Apa untungmu mengurusiku?”
“Aku begini karena aku peduli padamu.”
“Dan aku tidak peduli padamu.”
“Kyuhyun-ah.”

Cklek!

Kyuhyun membuka pintunya sambil menatap Ryeowook dengan malas. Ryeowook pun masuk ke dalam kamar Kyuhyun dan mengajaknya bicara.

“Mau bicara apa?” Ujar Kyuhyun dingin.
“Beberapa hal tentang kau dan aku.”
“Cih, aku tidak pernah mau berbagi cerita denganmu.”
“Sudah sangat lama aku ingin memiliki adik laki-laki, dan sangat lama juga aku menginginkan seorang ibu. Ibuku meninggal ketika melahirkanku, selain itu Appa bilang Ibuku juga sedang mengidap leukemia saat itu. Aku sama sekali tidak pernah merasakan sentuhan lembut dari seorang ibu. Aku tidak pernah melihat wajah ibuku. Aku tidak pernah meminum ASI yang berasal dari ibuku sendiri. Aku pernah berkata pada Appa kalau aku menginginkan seorang ibu dan adik laki-laki. Dan keinginanku sudah dikabulkan oleh Appa. Aku ingin hubungan saudara kita membaik. Aku tidak ingin kau membenciku. Berhentilah bersikap seperti ini padaku. Pada hyung mu. Panggilah aku dengan sebutan ‘Ryeowook hyung’. Walaupun aku bukan saudara kandungmu, tetapi aku ingin kau memanggilku seperti itu.”
“Ya ya ya.. Kau menginginkan ibu dan seorang adik laki-laki. Sedangkan aku lebih senang menjadi anak tunggal dan hanya memiliki satu ayah. Yaitu ayahku sendiri. Itulah sebabnya aku tidak pernah menerima jika ibuku menikah dengan ayahmu. Aku bukan saudaramu dan selamanya akan tetap seperti itu. Hanya keajaiban yang bisa membuatku memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’. Selain itu kau jangan berharap. Aku tidak akan pernah peduli padamu. Mau kau sakit, maupun kau mati sekalipun aku tidak akan pernah peduli. Karena aku tidak pernah bermimpi atau menginginkan mempunyai seorang saudara. Satu hal yang harus kau ketahui. Aku sangat membencimu. Pergilah, aku ingin sendiri.”

Raut wajah Ryeowook berubah setelah mendengar pernyataan Kyuhyun. Memang sudah berkali-kali Kyuhyun selalu berkata kasar padanya dan selalu membuat hatinya sakit. Namun perkataan kali ini justru lebih menyakitkan dari sebelumnya. Ryeowook pun keluar dari kamar Kyuhyun dengan wajah yang tertekuk. Lalu Kyuhyun menutup pintunya dengan keras.

“Apa salahku padamu, Kyuhyun-ah?” Lirihnya.

***

Ryeowook duduk termenung di teras rumahnya. Jam menunjukkan pukul 7 malam. Sebentar lagi ayahnya pulang kerja. Sementara itu pasti ibu tirinya sedang menyiapkan makan malam untuk suami dan kedua anaknya. Ryeowook menghela nafas. Selama 3 bulan ia tinggal bersama Kyuhyun, tidak pernah ia makan bersama Kyuhyun di meja makan. Tidak jarang kedua orang tuanya mengetuk pintu kamar Ryeowook dan Kyuhyun hanya karena mengajak mereka makan bersama. Ujung-ujungnya, yang keluar dari kamar hanya satu orang. Jika tidak Ryeowook, Kyuhyun yang keluar. Namun lebih sering lagi kedua-duanya yang tidak keluar kamar dan alhasil ibunya yang mengantarkan makanan ke kamar mereka masing-masing.

Ryeowook melihat pintu gerbang terbuka dan sebuah mobil sedan berwarna hitam pun masuk dan keluarlah seorang lelaki bertubuh tegap sambil menenteng sebuah koper. Ryeowook menyambut kepulangan ayahnya dengan mencium tangan ayahnya.

“Masuklah, Appa. Kau pasti lelah sehabis bekerja. Eomma telah memasakkan makan malam untuk kita.” Ujar Ryeowook.
“Wajahmu mengapa murung seperti ini, Ryeowook-ah? Kalian bertengkar lagi?”
“Gwenchana.”

Seungwook menepuk pundak Ryeowook sambil menatap anak lelakinya itu. Ia bisa melihat ada kebohongan di mata Ryeowook. Iaa tahu jika Ryeowook sekarang sedang memikirkan sesuatu. Apa lagi jika bukan memikirkan masalahnya dengan Kyuhyun?

“Dia masih memerlukan adaptasi, Ryeowook-ah.”
“Nde, Appa.”

Ryeowook pun berjalan menaiki tangga. Lalu ia menghampiri kamar Kyuhyun. Ryeowook menarik nafas dalam. Diketuknya pintu kamar Kyuhyun dengan perlahan. Tidak ada jawaban apapun dari dalam sana.

“Kyuhyun, Kyuhyun-ah. Buka pintunya, Eomma telah memasakkan makan malam.” Ucap Ryeowook dengan tenang.
“Tidak usah sok perhatian padaku! Aku bukan anak kecil lagi dan aku bisa makan sendiri! Menyingkirlah dari pintu kamarku! Jangan lagi kau mengetuk pintu kamarku dengan tanganmu itu!” Teriak seseorang dari dalam kamar tersebut.
“Kyuhyun-ah. Aku ini hyung mu.”

Blam!

Kyuhyun membuka pintunya dengan keras. Lalu Ia mencengkram kerah baju Ryeowook. Sementara itu Ryeowook memandangi Kyuhyun dengan santai. Karena tidak hanya sekali Ia diperlakukan seperti ini oleh Kyuhyun.

“Kau bukan hyung ku! Jangan lagi kau mengaku kalau dirimu adalah hyung ku. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai hyung. Bukan hanya tidak pernah menganggapmu sebagai hyung, tetapi juga aku tidak pernah menganggapmu ada!”
“Terserah apa katamu, Kyuhyun-ah. Tetapi kau adalah saudaraku. Kau adalah adikku. Dan aku adalah hyung mu.”

Bugh!

Sebuah tinjuan melayang ke pipi kiri Ryeowook. Hadiah dari Kyuhyun yang sering diberikan untuknya. Sebuah pukulan yang begitu sakit. Tetapi rasa sakit yang lebih terasa adalah dimana saat Kyuhyun mengucapkan kata-kata kasar padanya.

Ryeowook segera bangkit dari lantai sambil menyeka darah di sudut bibirnya yang lebam. Ditatapnya wajah Kyuhyun dengan datar. Dari wajahnya terlihat sama sekali tidak ada rasa marah ataupun tidak suka dengan apa yang diperbuat oleh adik tirinya itu.

“Pukulah aku jika itu bisa membuatmu tenang. Pukulah jika itu membuatmu bisa meluapkan semua rasa kesalmu.” Ujar Ryeowook dengan tenang.
“Kau kira aku sebodoh itu? Mungkin saja nanti Eomma dan Ayahmu itu langsung memarahiku karena membuatmu terluka setelah aku puas memukulimu. Ujung-ujungnya, perhatian Eomma ku akan berpaling dariku. Akhir-akhir ini aku sering melihatnya. Kau, Kim Ryeowook. Kau telah merebut perhatian Ibuku. Ya, rampaslah semua milikku! Bahkan gadis yang kucintai di sekolah adalah kekasihmu. Yap! Hebat Kim Ryeowook, hebat! Semuanya telah kau rampas dariku!”

Lelaki bertubuh jangkung itu tertawa miris. Sementara lelaki yang dipanggil ‘Kim Ryeowook’ itu mematung setelah mendengar semua pernyataan Kyuhyun. Ia tidak pernah merasa bahwa Ia telah merebut perhatian Ibu tirinya. Namun, soal kekasihnya, Victoria Song. Victoria adalah adik kelas Ryeowook yang merupakan teman sekelas Kyuhyun. Ryeowook benar-benar tidak tahu sama sekali bahwa saudara tirinya itu mencintai kekasihnya.

“Maksudmu, Victoria?” Ucap Ryeowook perlahan.
“Hmmm. Fikirkan saja sendiri.” Celetuk Kyuhyun dingin.
“Kyu, aku sama sekali tidak pernah berfikir untuk merampas segala kebahagiaanmu.” Ryeowook berkata sehalus mungkin. Tata krama Ryeowook sangat bagus. Berbeda 180 derajat dari Kyuhyun.
“Sudahlah! Aku tidak ingin lagi mendengar omong kosong darimu. Keberadaanmu tidak pernah membuatku merasa bahagia. Justru dengan adanya kau disini, itu membuatku merasa ada orang yang akan selalu merebut segala kebahagiaanku.”
“Kyuhyun, aku–”
“Diamlah!”
“Apa yang harus kulakukan agar kau bisa menganggapku?”

Seketika itu suasana menjadi hening. Tanpa sepengetahuan mereka, kedua orang tua mereka mendengarkan perbincangan Ryeowook dan Kyuhyun. Kyuhyun menatap saudara tirinya itu dengan tatapan penuh kebencian. Lalu Ia pun menjawab pertanyaan Ryeowook, “Hanya keajaiban yang dapat membuatku menganggapmu. Selebihnya tidak usah banyak berharap.”
“Walau bagaimanapun juga, aku ini—”
“Aku ini hyung mu. Itu kan yang ingin kau katakan? Sudahlah, aku malas membahasnya. Kau selalu berkata bahwa kau adalah hyung ku, tetapi aku selalu berkata bahwa kau bukan hyung ku. Aku dan kau tidak sama. Apapun dari kita itu berbeda, tidak sama!”

Ryeowook menghela nafas. Kemudian Ia pun mencari topik lain.

“Kyu, bolehkah sekali saja kau makan malam bersama di ruang makan itu? Kita berempat duduk di meja makan dan menikmati hidangan bersama-sama. Selama ini kau tidak pernah melakukan itu. Kau selalu mengurung dirimu di dalam kamar.”
“Tidak. Aku tidak akan pernah mau melakukan itu. Aku akan melakukannya jika kau tidak ikut serta.”

Ryeowook menghela nafas. Tanpa sepatah kata apapun, Ryeowook pun berjalan gontai memasuki kamarnya lalu menguncinya. Kyuhyun tersenyum senang. Ia pun berjalan menuruni tangga dan melihat Ibunya dan Ayah tirinya yang tengah makan bersama di meja makan.

“Jangan bicara apapun pada Kyuhyun soal pembicaraan mereka tadi. Anggap saja kita tidak tahu apa-apa.” Bisik Seungwook. Kyura mengangguk pelan.
“Akhirnya kamu mau makan disini juga, chagi.” Ucap Kyura sambil membelai lembut rambut anaknya. Sementara itu Kyuhyun menatap Ibunya sambil tersenyum kecil.

***

Ryeowook memegangi perutnya. Menahan rasa lapar yang terus-terusan membuat perutnya berbunyi. Dengan begini sama seperti Ia sedang menukar posisinya dengan Kyuhyun. Setiap hari, Kyuhyun selalu rela menahan lapar demi tidak makan bersamanya. Lalu Ia akan makan setelah tidak ada orang di ruang makan itu.

“Kyuhyun-ah, apakah ini yang kau rasakan setiap hari? Demi tidak makan semeja denganku, kau rela menahan lapar sampai semua orang meninggalkan ruang makan? Apakah sebegitu bencinya kau padaku? Sebegitu bencinya kah kau untuk melihat wajahku?” Gumam Ryeowook miris.

Ryeowook berjalan keluar dari kamarnya. Mengintip ke ruang makan yang berada di bawah tangga. Sudah tak terdengar lagi suara sendok dan piring dari ruang makan itu, menandakan bahwa tidak ada orang di meja makan.

Ryeowook pun turun ke lantai dasar dan segera menghampiri ruang makan. Rasa lapar di perutnya sudah tak tertahankan lagi. Segera Ia mengambil sebuah piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauk. Kemudian Ia makan sendirian ditemani bangku-bangku kosong.

‘Apa seperti ini suasana makan malammu, Kyuhyun-ah?‘ Batin Ryeowook.

***

“Motormu, Eomma jual.”

Mata Kyuhyun terbelalak setelah mendengar jawaban dari Ibunya. Ya, pulang sekolah hari ini Kyuhyun tidak mendapati motornya di halaman rumah. Padahal Ia sudah berjanji dengan Eunhyuk jika pulang sekolah ini Ia akan ikut dengan Eunhyuk untuk balap motor bersama teman-temannya.

“Apa?! Mengapa? Aku hanya belajar—”
“Omong kosong apa lagi yang akan kamu perbuat? Apa Eomma mu ini begitu bodoh sehingga kamu bisa berbohong kalau kamu setiap hari belajar kelompok dengan teman-temanmu? Kamu belajar apa setiap hari kalau nilai-nilaimu masih dibawah rata-rata? Bahkan saudara tirimu, Ryeowook, tidak pernah setiap pulang sekolah selalu meminta izin belajar kelompok dengan teman-temannya tetapi Dia bisa menjadi juara kelas. Katakan pada Eomma sejujur-jujurnya, sebenarnya setiap pulang kamu pergi kemana?”
“Aku be–”
“Jangan berbohong! Eomma mendapat laporan kalau seminggu yang lalu kamu pernah memukuli temanmu karena Ia mengalahkanmu dalam balap motor.”

Kyuhyun terdiam seketika. Lidahnya mendadak kaku setelah mendengar ucapan Ibunya. Ia tak tahu harus membuat alasan apa lagi.

“Itu fitnah!”
“Cukup Kyuhyun cukup! Jangan mengelak lagi. Eomma juga menemukan ini dikamarmu. Apa ini?! Apa ini yang disebut fitnah?”

Kyura menunjukkan beberapa lembar foto yang ditemukannya di dalam kamar Kyuhyun. Foto Ia sedang balap motor dengan teman-temannya, foto Ia sedang di bar, dan lain sebagainya.

‘Bodoh, mengapa aku lupa menyembunyikan foto-foto itu?‘ Batin Kyuhyun.

“Mengapa kamu hanya diam? Tak bisakah kamu mencontoh Ryeowook?”

Kyuhyun memutar kedua bola matanya ketika mendengar nama itu lagi yang keluar dari mulut Ibunya. Setiap Ibunya memarahi dirinya, selalu nama Ryeowook dibawa-bawa.

“Ya, teruslah beri perhatian padanya! Teruslah Eomma memperhatikannya tanpa memperhatikanku! Teruslah Eomma bandingkan aku dengannya! Katakanlah Ia lebih baik dari pada aku! Bahkan Ia yang hanya anak tiri bisa Eomma perlakukan sebagai anak kandung. Dan aku yang merupakan anak kandung Eomma, anak dari darah yang sama, darah daging Eomma, tetapi Eomma tidak memperhatikanku? Eomma berubah. Maka dari itu, aku tidak pernah setuju jika Eomma menikah lagi. Alasan Eomma agar aku bisa mendapatkan kasih sayang seorang Ayah, bukan? Buktinya apa? Lelaki tua berhidung belang itu sama sekali tidak memperhatikanku?!”

Plak!

Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Kyuhyun. Kyuhyun hanya memegang pipinya yang di tampar itu sambil tersenyum miris.

“Bahkan Eomma bisa menamparku hanya karena membela kedua orang itu.”
“Kamu keterlaluan, Kyuhyun-ah.”
“Bukankah aku sudah pernah bilang jika aku tidak ingin Eomma menikah lagi? Tetapi, Eomma tidak mendengarkanku. Dan sekarang apa? Eomma lebih sayang pada mereka. Lalu aku? Aku adalah seorang anak yang dicampakkan begitu saja. Apakah ada alasan Eomma selain agar aku mendapat kasih sayang seorang Ayah? Karena alasan Eomma yang satu itu belum terpenuhi dalam keluarga ini.”
“Dulu, Ayah tirimu itu sahabat Appa. Eomma ingin kau tidak terlarut-larut dalam kesedihanmu tentang kepergian Appa. Dan juga, Eomma kasihan pada Ryeowook.”
“Kasihan? Semua yang Ia inginkan selalu ada untuknya. Untuk apa kasihan padanya?”
“Cukup Kyuhyun-ah! Dia itu hyung mu.”
“Dia bukan hyung ku. Karena aku tidak pernah berharap bertemu dengannya.”

Tanpa mereka sadari, sepasang mata dengan tatapan sendu dan menyedihkan kini tengah memperhatikan mereka. Pernyataan demi pernyataan yang dilontarkan oleh Kyuhyun membuat dirinya semakin rapuh. Selama ini Ia selalu ingin membuat Kyuhyun bisa menerima keberadaan dirinya dalam hidup Kyuhyun.

“Apa aku harus menjauhimu agar rasa bencimu itu lenyap?” Gumam Ryeowook.

***

5 hari Ryeowook lewati hari-hari tanpa bertatap muka dengan Kyuhyun. Rasanya benar-benar hampa dan sepi. Setiap berangkat sekolah, Ryeowook tidak meminta supirnya untuk mengantar, tetapi Ia berangkat bersama Ayahnya karena Ia tahu Kyuhyun akan berangkat dengan supirnya. Dan setiap pulang sekolah, Ryeowook tak lagi mengetuk pintu kamar Kyuhyun untuk menyuruhnya makan siang. Langsung saja Ia masuk ke dalam kamarnya dan menyendiri.

Ryeowook merebahkan dirinya di atas kasur. Ponselnya terus berbunyi dan penelfonnya sama, yaitu Victoria. Selain tidak bertatap muka dengan Kyuhyun, Ryeowook sendiri juga mulai menjauhi Victoria karena Ia tidak ingin Kyuhyun sakit hati.

Setelah 5 menit ponselnya pun berhenti berbunyi. Namun Ryeowook menerima sebuah pesan dari Victoria.

“Oppa, ada apa denganmu? Mengapa akhir-akhir ini kau menjauhiku?”

Ryeowook membacanya dengan miris. Ia sangat mencintai Victoria, namun Ia lebih memilih dirinya yang sakit hati ketimbang adik tirinya itu yang sakit hati.

“Mianhae, Victoria.” Lirihnya.

***

Hari berikutnya Ia lewati dengan penuh kejenuhan. Ryeowook berjalan melewati koridor sekolahnya sendirian. Langkahnya terhenti ketika Ia melihat Victoria berada tak jauh darinya. Lalu matanya menangkap sosok Kyuhyun yang juga berada di sekitar tempat itu.

“Mungkin ini saatnya untuk mengakhiri hubungan dengan Victoria.” Gumam Ryeowook.

“Seohyun-ah!” Panggil Ryeowook.

Gadis yang dipanggil Seohyun itu menoleh ketika merasa namanya dipanggil. Ia pun menghampiri Ryeowook.

“Ada apa?” Ujarnya.
“Apa kau bisa membuat Victoria cemburu?” Bisik Ryeowook pada Seohyun.
“A-apa? Tapi..”
“Aku yang akan bertanggung jawab jika Victoria marah padamu.”

Dengan berat hati, Seohyun menganggukkan kepalanya. Tiba-tiba saja, Ryeowook memeluk Seohyun erat. Layaknya orang yang berpacaran. Pemandangan itu pun disaksikan oleh Victoria dan juga Kyuhyun.

Dengan berlinang air mata, Victoria datang menghampiri Ryeowook. Ryeowook menatap gadisnya dengan miris. Ada perasaan tidak tega melihat air mata gadisnya itu jatuh begitu saja.

“Ryeowook oppa..” Lirihnya sambil menahan isak tangis.
“Vic..toria.” Ryeowook melepaskan pelukannya dengan Seohyun.

Plak!

Tangan gadis itu pun akhirnya melayangkan sebuah tamparan untuk Ryeowook.

“Jadi ini? Ini alasanmu mengapa belakangan ini kau menghindariku! Aku tidak menyangka kau sekejam itu, Ryeowook-SSI!” Ujar Victoria dengan sengaja menekankan kata ‘ssi’ untuk panggilannya pada Ryeowook.

“Victoria, aku..”

Bugh!

Seseorang memukul Ryeowook hingga ia terjatuh ke lantai. Ryeowook pun menoleh ke arah orang itu.

“Kyuhyun-ah.” Ucap Ryeowook lirih.
“Victoria, kita pergi dari sini.” Ucap Kyuhyun sambil merangkul Victoria yang menangis terisak. Dilihatnya mata Kyuhyun yang menatap dirinya dengan tatapan penuh kebencian. Kemudian kedua sosok manusia itu pun pergi dari hadapannya.

***

Sepulang sekolah…

Ryeowook mengacak rambutnya. Pelajaran tadi tidak ada yang masuk ke dalam otaknya satu persen pun. Fikirannya berulang kali mengingat kejadian mengerikan yang baru saja dialaminya.

Ia berjalan gontai menuju gerbang sekolah. Tak sengaja Ia melewati Kyuhyun dan Victoria yang duduk di sebuah bangku berdua. Terlihat Kyuhyun yang berusaha menenangkan Victoria yang masih menangis. Sementara itu Ryeowook menatapnya dengan miris. Hatinya terasa sakit namun Ia tidak memedulikan hal itu. Tiba-tiba saja Kyuhyun menatap ke arahnya. Menatap dirinya dengan penuh amarah. Ryeowook pun pergi berlalu dari tempat itu.

“Jagalah Victoria untukku, Kyuhyun-ah.” Bisiknya lirih.

***

“Hah.”

Berkali-kali lelaki itu menghela nafas. Hari ini merupakan hari yang buruk baginya. Pertama, hubungan Ia dan kekasihnya berakhir. Kedua, saudara tirinya itu semakin benci pada dirinya.

Mata caramelnya menatap ke arah bunga-bunga indah yang bermekaran di sekitarnya. Halaman rumahnya benar-benar indah, namun tak seindah suasana hatinya.

“Kim Ryeowook!”

Jantung lelaki itu berdebar-debar saat merasa namanya dipanggil oleh suara berat tersebut. Ia yakin, orang yang memanggilnya itu akan mengajaknya berdebat lagi. Tunggu, berdebat di halaman rumah? Mengapa Kyuhyun berani melakukannya? Ah, tentu saja Ia berani sebab di rumah itu hanya ada mereka berdua. Sang Ayah sedang pergi bekerja sementara sang Ibu pergi ke pasar. Satu kesempatan bagi Kyuhyun untuk mengeluarkan seluruh ketidaksukaannya pada Ryeowook.

“Kyuhyun-ah.” Ryeowook berdiri dari bangku yang di dudukinya.
“Dasar lelaki kurang ajar! Bisa-bisanya kau mempermainkan hati seorang perempuan, hah?!” Bentak Kyuhyun. Ryeowook tak bergeming, Ia bingung harus menjawab apa.

Bugh!

Sebuah pukulan lagi dari Kyuhyun untuknya. Ryeowook hanya tersenyum miris sambil memegang dadanya yang sakit akibat pukulan Kyuhyun. Ah, tampaknya kali ini Kyuhyun tidak lagi mengajaknya untuk berdebat. Dari matanya Ia tampak sangat-sangat ingin menghabisi orang yang kini berada di hadapannya.

Ryeowook kembali berdiri setelah jatuh karena pukulan Kyuhyun. Ditatapnya wajah Kyuhyun dengan datar. Berkali-kali tangan Kyuhyun melayangkan sebuah pukulan, namun Ryeowook selalu menangkisnya dan tidak membalas pukulan dari Kyuhyun.

“Jangan menangkis saja, pecundang! Kalau bisa kau serang juga aku!” Ujar Kyuhyun sambil menatap tak suka pada Ryeowook.
“Aku tidak akan menyerangmu.” Balas Ryeowook.
“Jika kau bisa menangkis, pasti kau bisa menyerang. Lakukanlah! Jangan ragu.”
“Tidak, orang bodoh mana yang mau melukai adiknya sendiri.”

Bugh!

Kali ini bukan tangan yang melayang, melainkan kaki. Kaki itu melayangkan tendangannya dimana tadi pukulannya mendarat dengan mulus.

Ryeowook meringkuk kesakitan di tanah. Tendangan itu benar-benar kuat sehingga membuat dirinya menjadi seperti ini sekarang. Dahi Kyuhyun sedikit mengerut ketika melihat darah tiba-tiba mengalir dari hidung Ryeowook. Apa separah itu pukulanku? Pikirnya.

“Dengar, aku tidak mau kau menganggapku sebagai adik. Aku juga tidak mau kau menganggap dirimu adalah saudaraku sekalipun adalah saudara tiriku!”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Kyuhyun pun masuk ke dalam rumah dan membiarkan Ryeowook yang masih meringkuk kesakitan di tanah. Ya, ini pertama kalinya Kyuhyun menendangnya. Ditambah lagi Kyuhyun sangat jago taekwondo. Ia sendiri juga bisa taekwondo, tetapi jarang mempraktikkannya. Maka dari itu saat Kyuhyun menyerangnya, Ia bisa menangkisnya.

Ryeowook mengusap darah yang mengalir di hidungnya. Ia membiarkan dirinya terkapar di atas tanah itu.

‘Tidak, jangan sekarang.’ Batinnya.

***

Setelah kejadian itu, Kyuhyun tak pernah melihat sosok lelaki berambut coklat itu 2 hari belakangan ini. Berkali-kali, Ia melihat sang Ibu yang selalu menampakkan wajahnya dengan wajah yang murung. Begitu juga dengan Ayah tirinya.semua orang yang berada di rumah itu membuat dirinya bingung.

“Eomma, dimana Ryeowook?”

Akhirnya pertanyaan itu pun keluar dari bibir lelaki yang selama ini gengsi untuk menanyakan hal tersebut.

“Ryeowook di rumah sakit.” Balas Ibunya datar.
“Rumah sakit? Untuk apa Dia disana?”

Fikiran Kyuhyun melayang pada kejadian 2 hari yang lalu. Dimana Ia memukuli dan menendang Ryeowook. Bukan hanya itu, beberapa kata kasar pun Ia ucapkan pada Ryeowook.

“Ia dirawat disana.”

Serasa terhantam ribuan batu saat Ia mendengar ucapan Ibunya. Bagaimana bisa Ryeowook dirawat? Apakah Ia yang menyebabkannya?

‘Apa itu karenaku?’ Batin Kyuhyun.

“Dia, kenapa?”

Ibunya menghela nafas. Namun akhirnya sang Ayah yang menjawabnya.

“2 hari yang lalu, Appa menemukan Ryeowook terkapar lemas di halaman rumah. Setelah Appa mengeceknya, ternyata penyakitnya kambuh.”
“Penyakit?”
“Ryeowook mewarisi penyakit mendiang Ibunya. Ia menderita leukemia sejak kecil.”
“Ti–tidak mungkin. Selama ini Ia baik-baik saja. Aku tidak pernah melihatnya sakit atau bagaimana.”
“Dia memang seperti itu. Dia anak yang kuat. Walaupun Ia sakit parah, tetapi Ia jarang menyusahkan orang lain.”
‘Jadi, kemarin penyebab hidungnya mengeluarkan darah itu bukan karena pukulanku. Tetapi karena penyakitnya. Ya Tuhan, apakah aku sudah terlalu kejam padanya? Selama ini Ia selalu sabar menghadapi sikapku. Bahkan Ia tidak pernah bercerita apapun tentang penyakitnya.’ Batin Kyuhyun.

Kyuhyun kembali mengingat kejadian dua hari yang lalu, dimana Ryeowook bersikap layaknya lelaki yang kurang ajar pada seorang perempuan. Kyuhyun kembali mengingat-ingat bagaimana raut wajah Ryeowook saat melakukan hal tersebut. Tampak dari wajahnya, Ia tidak ingin melakukan itu.

‘Apakah Ia melakukan itu karena Ia ingin menyerahkan Victoria padaku?’ Batin Kyuhyun.

“Appa, aku ingin menjenguknya.”

***

Kyuhyun memandangi sosok lelaki berambut coklat itu dari luar ruangan. Ada perasaan gengsi di dalam hatinya untuk menjenguk saudara tirinya itu. Perlahan, Kyuhyun membuka pintu ruangan dimana Ryeowook dirawat. Lelaki yang terbaring di atas tempat tidur itu tersenyum ketika melihat adiknya yang datang menjenguknya.

“Hyu.. Hyung.” Ucap Kyuhyun sambil menatap sosok lelaki yang sedang terbaring di atas tempat tidur.
“Katakan sekali lagi.” Ujar Ryeowook tersenyum.
“Hyung.. Ryeowook hyung..”
“Sekali lagi.”
“Ryeowook hyung.”

Kyuhyun sudah tak kuasa menahan tangisnya. Ia pun memeluk tubuh kurus itu sambil menangis tersendu-sendu.

“Hyung, mianhae.” Ucap Kyuhyun di sela-sela tangisannya. Lalu Ia melepaskan pelukannya.
“Aku sudah memaafkanmu dari dulu.” Balas Ryeowook menatap adiknya itu dengan menunjukkan seulas senyuman bahagia di bibirnya.
“Berjanjilah padaku bahwa kau akan terus bersamaku, hyung. Aku tidak ingin lagi kehilangan orang yang kusayangi untuk yang kedua kalinya.”

Ryeowook menarik nafas dalam.

“Aku tidak janji. Tetapi aku berjanji, aku akan menjadi hyung yang baik untukmu. Aku…”

Ryeowook menghentikan ucapannya ketika Ia merasakan kepalanya berputar hebat. Darah kembali mengalir dari hidung mungilnya. Kyuhyun terlihat panik. Segera Ia memencet tombol untuk memanggil dokter.

“Bertahanlah.” Ucap Kyuhyun.

Perlahan, kesadaran Ryeowook mulai berkurang. Ruangan yang dipandangnya serasa berputar. Pandangannya mengabur perlahan kemudian menjadi gelap.

“Ryeowook hyung!”

***

“Chagi.”

Kyuhyun menoleh ke arah suara lembut milik Ibunya itu. Kini suasana hati Kyuhyun bercampur aduk. Tentang bagaimana keadaan saudaranya, tentang segala kesalahan dan keegoisannya pada Ryeowook. Semua itu berkecamuk di dalam fikiran Kyuhyun.

Kyuhyun memandang Ryeowook dari jendela. Ryeowook sedang ditangani oleh dokter. Dirinya masih belum percaya bahwa lelaki itu sakit parah.

“Nde, Eomma.” Balas Kyuhyun sembari duduk di samping Ibunya.
“Apa kamu sudah mengerti sekarang? Betapa sayangnya Ryeowook padamu? Ia sengaja tidak memberitahu hal ini padamu supaya kamu bisa menyayanginya tanpa ada rasa kasihan. Maksud perkataan Eomma beberapa hari yang lalu adalah ini. Eomma kasihan dengannya. Ia lahir tanpa diasuh oleh seorang Ibu. Ia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang Ibu. Ia juga menginginkan seorang adik lelaki untuk menemaninya. Ditambah Ia harus mengidap penyakit mematikan itu sejak kecil hingga sekarang. Ia memang selalu tersenyum dalam keadaan apapun, walaupun sebenarnya hidupnya itu menyedihkan.”
“Ya, aku sudah mengerti. Aku menyesal dengan semua yang kuperbuat untuknya. Semua balasan jahatku terhadap kebaikannya. Aku menyesal mengapa aku harus bersikap egois. Padahal semua itu sia-sia.”

Cup.

Sebuah kecupan lembut pun mendarat di kening Kyuhyun. Kemudian tangan Ibunya membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang.

“Maafkan aku, Eomma.”
“Gwenchana.”
“Kyuhyun-ah, Appa juga minta maaf. Selama ini Appa tidak pernah meluangkan waktu untukmu.”

Kyuhyun menoleh ke arah Ayah tirinya. Lalu bibir Kyuhyun melukiskan sebuah senyuman.

Cklek!

Ketiga sosok manusia yang menunggu di depan ruangan pun berdiri dengan serentak setelah mendengar suara tersebut. Terlihat seorang lelaki berpakaian kemeja dan jas putih dengan stetoskop yang menggantung di lehernya itu keluar dari ruangan.

“Bagaimana keadaannya, dokter?” Tanya Seungwook memastikan keadaan anaknya.
“Penyakit itu telah menyebar luas di tubuhnya. Kita tidak bisa lagi menunggu. Ryeowook-ssi harus segera mendapatkan donor sumsum tulang belakang secepatnya.”
“Ambil milik saya!”
“Maaf, anda tidak bisa mendonorkan sumsum tulang belakang itu pada Ryeowook-ssi. Operasi seperti ini berbahaya untuk anda. Pendonor harus lebih muda karena tulang-tulangnya masih kuat dan kemungkinan besar jika ada pendonor seperti itu, operasinya akan berhasil.”
“Mungkin dokter bisa memberikan sumsum tulang belakangku untuknya.” Kyuhyun angkat bicara setelah mendengar penjelasan dokter.
“Kyuhyun-ah?”
“Anggap saja ini sebagai tebusan atas semua sikapku pada Ryeowook hyung, Eomma.”
“Berapa persentase keberhasilan operasinya, dokter?”
“Sekitar 90% jika pendonornya adalah dia.”
“Izinkan aku, Eomma.”
“Baiklah.”
“Kapan anda bisa melaksanakan operasi itu?”
“Kapan saja saya siap, dokter.”
“Kalau begitu, operasi akan dilaksanakan besok.”

***

Kyuhyun menatap wajah pucat lelaki yang tertutupi oleh masker oksigen itu. Berkali-kali lelaki itu tersenyum lemah ke arahnya.

“Istirahatlah.” Ucap Kyuhyun.

Ryeowook mengangguk perlahan. Kemudian Ia pun memejamkan matanya.

“Gomawo.” Bisiknya di balik masker oksigen itu.

***

Keesokan harinya..

Operasi akan dimulai beberapa menit lagi. Sesekali Kyuhyun menoleh ke arah Ryeowook yang sudah terlebih dahulu dibius.

‘Semoga operasi ini berhasil. Hyung, kau harus sembuh.’ Ucap Kyuhyun dalam hati.

Kemudian, seorang suster pun menghampirinya dengan membawa sebuah suntikan yang berisi obat bius. Lalu suster itu menyuntikkan obat tersebut ke tubuh Kyuhyun. Perlahan, kesadarannya pun mulai hilang.

***

“Kyuhyunnie..”
“Mau apa lagi kau kesini?”
“Aku tidak ada maksud untuk mengganggumu, Kyu. Aku hanya ingin menghiburmu.”
“Cih, menghiburku? Kau tidak menghiburku. Justru kau membuatku semakin muak. Ingatlah, kita bukan saudara kandung. Marga kita saja tidak sama. Jadi kau tidak perlu susah payah mencari-cari cara agar aku bisa menganggapmu sebagai Hyung ku. Tidak, dan tidak akan pernah aku menerima mu sebagai saudaraku, camkan itu!”

“Aku sudah pernah bilang padamu, urusilah hidupmu sendiri!” Ujar Kyuhyun.
“Tidak semudah itu, Kyuhyun. Aku tidak mungkin membiarkanmu terpengaruh oleh pergaulan bebas.”
“Memangnya siapa kau?”
“Aku hyung mu!”
“Hyung? Bukankah aku telah berkata bahwa aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudara? Apalagi menganggapmu sebagai hyung!”

“Ya ya ya.. Kau menginginkan ibu dan seorang adik laki-laki. Sedangkan aku lebih senang menjadi anak tunggal dan hanya memiliki satu ayah. Yaitu ayahku sendiri. Itulah sebabnya aku tidak pernah menerima jika ibuku menikah dengan ayahmu. Aku bukan saudaramu dan selamanya akan tetap seperti itu. Hanya keajaiban yang bisa membuatku memanggilmu dengan sebutan ‘hyung’. Selain itu kau jangan berharap. Aku tidak akan pernah peduli padamu. Mau kau sakit, maupun kau mati sekalipun aku tidak akan pernah peduli. Karena aku tidak pernah bermimpi atau menginginkan mempunyai seorang saudara. Satu hal yang harus kau ketahui. Aku sangat membencimu. Pergilah, aku ingin sendiri.”

“Kyuhyun-ah. Aku ini hyung mu.”
“Kau bukan hyung ku! Jangan lagi kau mengaku kalau dirimu adalah hyung ku. Aku sama sekali tidak pernah menganggapmu sebagai hyung. Bukan hanya tidak pernah menganggapmu sebagai hyung, tetapi juga aku tidak pernah menganggapmu ada!”

“Jika kau bisa menangkis, pasti kau bisa menyerang. Lakukanlah! Jangan ragu.”
“Tidak, orang bodoh mana yang mau melukai adiknya sendiri.”
“Dengar, aku tidak mau kau menganggapku sebagai adik. Aku juga tidak mau kau menganggap dirimu adalah saudaraku sekalipun adalah saudara tiriku!”
Perlahan, lelaki bermata bulat itu membuka kedua matanya. Seluruh ucapan itu terngiang-ngiang di otaknya. Matanya memperhatikan ruangan yang tengah dipandangnya. Hidungnya menghirup aroma yang sangat khas dari tempat itu. Rumah sakit, Ia berada di rumah sakit. Ia memutar otaknya, kembali mengingat-ingat apa yang menyebabkannya terbaring di rumah sakit ini.

‘Operasi telah selesai?’ Pikirnya.

Ia melirik ke seluruh ruangan. Lalu baru Ia sadari di sampingnya ada seorang perempuan paruh baya yang tengah menungguinya.

“Chagi, kamu sudah sadar?” Ucap sosok itu dengan lembut.
“Eomma, Ryeowook hyung..”
“Operasinya berjalan dengan lancar.”
“Benarkah? Kalau begitu, aku ingin menjenguk Ryeowook hyung.”

Mendengar ucapan anaknya, Kyura pun mengambilkan kursi roda untuk Kyuhyun. Kemudian Ia membantu sang anak untuk pindah dari ranjang ke kursi roda tersebut.

“Ahh..” Kyuhyun memegang bekas operasinya yang terasa sedikit perih.
“Pelan-pelan.”

***

Kyuhyun memasuki sebuah ruangan. Ruangan tempat dimana Ryeowook berada. Lelaki berambut coklat itu masih belum sadarkan diri.

“Ryeowook hyung..”

Kyuhyun menatap wajah lelaki yang berada di balik masker oksigen itu dengan iba.

“Hyung, kau adalah manusia paling baik yang pernah kutemui. Kurasa, tidak ada orang sebaik dirimu.”
“Maafkan aku yang dulu tidak pernah menganggapmu. Aku melakukan itu karena aku tidak tahu harus marah pada siapa. Aku sangat terpukul atas kepergian Ayahku. Aku tidak mungkin memarahi Tuhan, karena Tuhan-lah yang mengatur segala takdir. Dan dengan bodohnya, aku melampiaskan semua itu padamu, pada orang sebaik dirimu, Ryeowook hyung.”

Jari jemari Ryeowook mulai bergerak. Kelopak matanya membuka secara perlahan. Sedikit demi sedikit cahaya masuk ke matanya. Lalu dikerjap-kerjapkan matanya itu sampai pandangannya terlihat jelas.

“Hyung, kau sadar?”

Ryeowook tersenyum ke arah adik lelakinya itu. Kemudian Ia meraih masker oksigen untuk melepasnya.

“Terima kasih untuk donor sumsum tulang belakang itu, aku sangat berhutang budi padamu. Kau yang menyelamatkanku saat nyawa ini berada di ujung tanduk.”

Air mata Kyuhyun berlinang. Ia menangis terharu.

“Hyung, kau tidak perlu berhutang budi padaku. Aku melakukan ini demi menebus segala kesalahan yang pernah kuperbuat.”
“Aku sudah bilang kalau aku memaafkanmu, Kyu.”
“Tetaplah selamanya bersamaku, hyung.”
“Nde, kau juga harus terus bersamaku. Karena aku ini hyung mu.”
“Karena juga aku adalah dongsaeng mu.”

-END-

Advertisements

One thought on “Step Brother

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s