Sweet Sin [Ficlet Series – Part 4-End]

Sin

|| Title: Sweet Sin || Author: Phiyun || Genre: Family | Hurt | Sad | Friendship | Romance | School Life || Cast: Choi Siwon | Im Yoona | Choi Sooyoung ||

Don’t Bash, Plagiat! And Please Don’t Be Silent Reader Guys ^^

Preview: Part 1 | Part 2 | Part 3

*** Happy  Reading ***

***Summary***

Aku memang berbohong padamu tapi rasa yang kurasakan padamu tidaklah semu, itu nyata.

~OoO~

“Siwon-ah! Apa yang sedang kau pikirkan, sih!” ucap Sooyong setengah berteriak saat mengekori Siwon yang sedang menuruni anak tangga sekolah. Merasa tak digubris panggilannya, Sooyoung pun memanggil kembali lawan bicaranya, kali ini dengan suara yang membentak. “Yak! Choi Siwon!”

Tak beberapa lama pemuda itu pun menghentikan langkah kakinya dan kemudian menoleh. “Apaan sih? Kau ini berisik sekali.”

“Apa kau serius berpacaran dengan Yoona? Semua itu tidak benar, kan? Kalau kau terus-terusan begitu, nanti bisa serius, loh! Kasihan nanti dirinya, di sini yang terluka bukan kau saja tapi yang paling tersakiti adalah Yoona!” pekik Sooyoung.

Namun tanggapan yang di berikan oleh pemuda itu hanya tatapan dingin. Tampa berkata satu patah kata pun Siwon pergi. Belum jauh Siwon melangkah meninggalkan gadis itu, Sooyoung langsung bersua kembali.  “Jangan remeh kan aku. Aku sudah tahu semuanya. Orang tuaku sudah menceritakannya padaku. Dia itu adikmu, kan? Setengah darahnya sama dengan darahmu. Yoona itu adikmu satu-satunya, benar kan!?”

Dan di saat Siwon akan menatap kembali Sooyoung, ia tak sengaja melihat seseorang wanita sedang berdiir terpaku di atas tangga. Tatapan gadis itu terlihat kosong. Gadis itu diam mematung bagaikan manekin.

Dengan suara yang pelan namun mantap Siwon pun menjawab. “Benar… ia satu-satunya… adik yang masih ada hubungan darah.” Imbuhnya sambil menatap sosok gadis yang sedang berdiri di belakang Sooyoung. Yang tak lain dan tak bukan adalah Yoona.

~OoO~

“Ya, Yoona adalah adik kandungku.”

“Kalau kau tahu, kenapa kau masih melakukan hal itu bersama dia? Apakah kau tahu apa yang aku lakukan saat ini sangat lah nista, Siwon-ah!” teriak Sooyoung.

Aku tahu sejak awal bila apa yang telah aku lakukan bersama Yoona sangat lah tak terpuji. “Lagi-lagi kau benar, Sooyoung-ah.” sahutku. “Jadi apa yang akan kita lakukan sekarang. Coba katakan, Yoona-ah?”   kataku sambil menatap ke arah Yoona yang masih mematung.

Sooyoung terkejut saat ia melihat Yoona sudah berdiri di belakangnya. “Yoona?” ucapnya dan kemudian ia menatap kembali ke arahku. “Ada apa dengan wajahmu. Mengapa kau terlihat tenang, Siwon-ah. Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kau harus menyelesaikannya sekarang, dan penyelesaian yang terbaik adalah mengakhirinya.” ujarnya setelah itu, Sooyoung pun pergi.

~OoO~

Dengan perlahan-lahan aku langkahkan kakiku untuk mendekat kepada dirinya. kususuri anak tangga itu satu persatu dengan pijakan yang mantap. Terlihat dengan jelas bila Yoona masih terpaku. Sepertinya ia sangat terkejut dengan semua yang telah ia lihat dan ia telah ia dengar.

Ekspresi itu sudah aku prediksikan dari awal. Sikapku yang lembut kepadanya dan kata-kata manisku itu semuanya hanya semata-mata ingin membalaskan dendam. Harusnya seperti itu, bukan? Dan akhirnya sandiwara ini berakhir.

Kurengkuh jari jemarinya dengan erat. aku bisa merasakan bila tangan gadis ini sedang bergetar hebat bahkan tangannya pun dingin sedingin es.

“Apa kau suka kepadaku?” kataku pelan seraya menatap dalam matanya.

Gadis itu tetap terdiam dengan bibir yang bergetar, sorot matanya yang saat iterakhir kulihat begitu bening dan  menyejukkan seketika lenyap dan berganti dengan sorot mata yang kelam.

“Adikku yang manis. Sayang sekali, hubungan ini harus kuakhiri. karena hubungan kekasih sesama saudara bisa menimbulkan dosa,”

Tak lama kemudian Yoona pun angkat bicara. “…Ciumanmu…”

Bisa kulihat ia masih sangat terkejut saat kutatap bibirnya yang sampai detik ini masih bergetar. “Maafkan, Oppamu ini, ya. Karena sudah merebut ciuman pertamamu.”

Seketika Yoona melepaskan tangannya dari gengamanku. Ia menunduk dan perlahan-lahan ia menggeserkan tubuhnya ke belakang. “O—op..pa—pa…” imbuhnya. “Ii—itu… T—ti.. ti..” dalam hitungan detik kedua mata Yoona telah basah oleh airmata. Buliran-buliran bening itu turun begitu membasahi kedua pipinya saat ia menatap wajahku.

Wajahnya sangat terluka. Dan inilah yang aku inginkan dari awal. “Sebenarnya aku juga terkejut saat aku mengetahui kau itu adikku.“ ucapku sambil terkekeh geli. Yoona pun langsung berlari meninggalkan diriku tampa menyelesaikan ucapannya. Ia langsung berlalu.

Entah apa yang sedang aku lakukan? Dan aku juga tak tahu mengapa aku tertawa begitu kencang saat itu. “Ekspresi wajahmu lebih parah daripada yang kubayangkan.” aku tertawa seperti orang gila,  namun semua gelak tawa ini bukan lah rasa riang maupun bahagia.

Tawa ini adalah kesedihanku. Pendirianku telah goyah saat aku mengenal dirimu. Di saat aku menatap dirimu yang sedang berdiri di bawah pohon sakura, harusnya aku menyadari bila rasa cintaku lebih besar daripada rasa benciku padamu. Dan sekarang aku tidak peduli lagi mengenai ayah, mengenai kebencian bahkan mengapa diriku dilahirkan di dunia.

Tak kukira akhirnya seperti ini. ini sakit.. sakit ini lebih dari pada yang kubayangkan. Rasa sakit ini muncul akibat mencintai adik perempuanku sendiri. Harusnya dari awal aku tidak melakukan ini. “Kau memang bodoh, Siwon-ah…” lirihku dengan deraian air mata.

~OoO~

-Seminggu kemudian-

Dari kejauhan terlihat sesosok pria jangkung sedang berdiri di bawah pohon sakura yang sedang bermekaran. Cukup lama ia berdiam diri di sana. ia seolah sedang asik berbicara dengan pohon itu meskipun dalam diamnya.

Keadaan disekitarnya begitu sunyi karena kebetulan hari itu adalah hari libur sekolah. Akhirnya setelah satu jan terdiam, Siwon pun berkata. “Ucapanku ini kotor, tolong jangan dengarkan!” sambil meletakkan sebelah tangannya di atas pohon sakura di mana tempat itu adalah tempat di mana Yoona selalu datang.

“Aku akan pindah sekolah dan pergi jauh. Apapun yang terjadi… aku tidak akan mengunjungimu.” Sesat ia terdiam. “Tapi… selamanya kau tak bisa aku lupakan.”

“Di saat aku melukai dirimu…”

 

~OoO~

“Terdengar…”

Aku terkejut saat melihat Yoona sudah ada di belakangku. Ia lalu berjalan menghampiriku. Saat batas kami hanya terpaut beberapa langkah, gadis itu kemudian menggerakan kedua tangannya. Ya, ia sedang berbicara dengan bahasa isyarat kepadaku.

“Yoona-ah…”

Meskipun aku tak mengetahui apa yang ia bicarakan namun semua isyarat itu sampai ke hatiku.

“Mengapa kau ada di sini?” tanyaku kembali.

Dan Yoona menjawab. “Aku bisa mendengar perasaanmu, Siwon-ah…” katanya. “Mengapa kita bisa menjadi adik-kakak? Tolong beri tahu aku.”

Akhirnya hari ini pun tiba. Hari dimana ingi aku hindari namun pada akhirnya aku harus menyampaikan kebenarannya. “Aku senang kita bertemu. Maaf karena telah menyakitimu.”

 

Kumantapkan hatiku untuk mengucapkan kata terakhir itu padanya dan saat aku hendak mengatakan perkataan itu tak sengaja aku melihat kancing baju yang dikenakan oleh Yoona yang salah pakai.

“Kancingmu, salah pasang.” kataku.

Ia pun lalu menuliskan sesuatu di dalam sebuah buka yang tadi ai bawa. Aku terperangah saat membaca tulisan yang tertera di atas kertas tersebut. kertas itu bertuliskan.

‘Aku melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan waktu iru. Karena aku mencintaimu maka dari itu aku tidak peduli.’

“Tidak boleh! Pasang yang benar! Biar aku betulkan untukmu.”

Kulepaskan satu-persatu kancing yang melekat ditubuh adikku, Yoona. Dan di saat hendak akan mengancingi pakaiannya dengan benar, kedua tanganku langsung digengam erat olehnya. “Jangan… Bi—biarkan saja seperti itu.. ”Dengan mata yang beruraian  airmata ia menatap mataku dengan dalam.

Hatiku tersentuh, saat ia berusaha memperlihatkan perasaan dirinya yang sesungguhnya padaku, ia rela menunjukan kewanitaannya di depan mataku. “Bodoh…” sahutku. Dengan lembut kuhapus airmatanya yang membasahi kedua pipinya.

“Kancingmu  yang salah tak bisa dibetulkan lagi.”  kurengkuh tubuhnya yang mungil ke dalam dekapanku.

“Ini adalah dosa termanis yang telah Tuhan berikan.” dan kemudian berkata. “Aku juga mencintaimu.” seraya menautkan bibirku di atas bibirnya yang tipis.

~OoO~

-Epilogue-

-Lima belas tahun yang lalu-

“Bagaimana mungkin kau lebih memilih lelaki bajingan itu ketimbang aku? Kau tahu benar kan aku mencintaimu, Yoora-ah!” teriak sang pria.

Namun tanggapan dari sang wanita sebaliknya. Ia malah berkata sambil tersenyum. “Cinta?” tungkasnya. Sang pria terdiam saat melihat respon lawan bicaranya. “Ya, Cinta. Meskipun aku sudah berkeluarga, tapi rasa itu tak bisa aku hapus dari dalam hatiku.”

“Kau memang laki-laki brengsek!”

“Iya, aku laki-laki brengsek jadi apa bedanya aku dengan dirinya? Setidaknya aku tak meninggalkan seorang orang anak perempuan dan kabur melepaskan tanggung jawab.” tambahnya kemudian menatap sesosok bayi perempuan yang mungil yang saat ini ada di dalam pelukan sang wanita.

Yoora terdiam, ia langsung membuang tatapannya dari lelaki tersebut. “Lebih baik kau pergi. Saat ini aku tidak ingin bertengkar denganmu.”

“Lihat aku! Tatap mataku dan katakan padaku kalau kau tidak mencintai aku lagi, Yoora-ah…” ucap lelaki itu sambil bersimpuh di depan Yoora yang sedang duduk menimang bayi perempuannya.

Wanita itu tetap menunduk. Sepertinya ia enggan menatap pria yang saat ia ada di depannya. “Aku tidak menyuruhmu untuk kembali padaku.” dengan suara yang serak. “Kumohon kali ini saja, tolong terimalah bantuanku. Biarkan aku ikut membantumu membesarkan dirinya.”

“Tapi aku tidak mau menjadi beban untukmu, Wook. Bagaimana nanti dengan keluarga besar Choi. Dan bagaimana nanti perasaan istrimu. Aku tidak mau menghancurkan keluarga kecilmu, kau harus ingat kalau dirimu juga telah mempunyai seorang putra yang masih balita. Bagaimana dengan perasaan dirinya kelak saat mengetahui apa yang telah dilakukan oleh ayahnya di belakangnya.” ungkap wanita itu denga bibir yang bergetar.

Dengan santainya Wook berkata. “Memang, apa salahku? Aku hanya membantumu membesarkan dirinya. Aku tidak meninggalkan mereka. Diriku tetap menjadi kepala keluarga mereka.”

“Tapi..”

“Sudah, buang jauh-jauh pikiran negatifmu. Lagipula aku tidak keberatan jika menjadi ayah angkat, putrimu Yoona. Aku yakin ia akan menjadi gadis yang cantik dan manis sama seperti ibunya.”

Yoora tersenyum dan membalas. “Aku juga yakin, pasti putramu kelak akan menjadi pria yang tampan dan bertanggung jawab seperti dirimu.”

“Dan kupastikan kelak saat putraku telah tumbuh dewasa, ia akan menjadi pelindung putrimu Yoona,  Siwon akan menjadi penggantiku bila aku tak ada lagi di dunia ini jadi kau tak usah risau. Ia akan baik-baik saja bersamaku maupun bersama dirinya.” seraya tersenyum manis kepada putri kecil Yoora.

-Fin-

Yuhuu Chingudeeul,,,, akhirnya kelar juga nih ff.. sesuai janjiku, aku bakalan namatin beberapa ff sebelum daku ngelakuin hiatus di bulan depan… Mian kalau endingnya gantung … soalnya sengaja kita buatnya begitu… /Hehe…/ kalau ada waktu aku bakalan buatin sequelnya deh, kalau ada ya dear…

Makasih yah dah mau ngikutin ff ini dari awal pe akhir + komennya dari awal pe part terakhir… see you next projectku selanjutnya ❤

Advertisements

21 thoughts on “Sweet Sin [Ficlet Series – Part 4-End]

  1. Ternyata siwon n yoona ga sekandung toh…syukurlah br mereka bs bersama menjalin hubungan cinta diantara mereka…dtungguin sequelnyanya thor…

    Fighting n gomawo ya..

    Liked by 1 person

    • Yap… disini Siwon sama Yoona gak sedarah. mereka cuman salah paham saja.
      untuk sequelnya tar aku usahakan buatin kalau sempat. Makasih ya sudah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s