Pretty Woman (chapter 4)

pretty-girl2

amazing poster by : Charismagirl Indo Fanfictions Arts.

***

**

*

Author : Kim Nara

Cast : Soojung, Yoona, Irene, Nara

Other Cast : Sehun, Donghae, Suho, Baekhyun

Genre :Crime, Schoolife, friendship

****

**

*

“Terjadi lagi, seorang siswa di temukan bunuh diri.”

usai  kalimat itu terlontar dan masuk tepat pada saraf anggota s.p.y, membuat ke-empat gadis cantik itu dengan cepat berlari menuju kerumunan yang terletak tidak terlalu jauh dari gerbang sekolah. Sedikit sulit karna harus menerobos lalu lalang murid lainnya.

Seorang pemuda tengah tergeletak tak berdaya di atas rerumputan dengan darah segar yang bercucuran dari bagian kepala adalah pemandangan pertama yang mereka lihat, meloncat dari atap sekolah lah yang menjadi satu-satunya jawaban dari ratusan pertanyaan yang di rangkup menjadi satu dalam nalar.

Nara menatap mayat itu penuh dengan rasa penasaran, sungguh akan lebih mudah jika memegang surat perintah dan langsung memeriksa mayat itu sendiri dibanding mengamati dalam jarak dan menebak semuanya tanpa adanya satupun hal yang di dasarkan sebuah praktek.

Yoona dengan cepat bergerak menuju sisi yang lebih baik-dalam artian mendekati petugas-dengan gelagat polos layaknya murid sekolah menengah atas-tentu saja bagian dari akting.

Ahjussi, apa yang terjadi?”

Pemuda itu menatap Yoona sekilas lalu membuang muka malas “Bukan urusanmu murid, jangan ikut campur.”

Yoona memanyunkan bibir kesal “Tapi ini sekolahku,”

Tak ada tanggapan dari pemuda paruh baya tadi, sepertinya ia sangat fokus menuliskan catatan penjelas dan sungguh sebuah kebodohan jika Yoona melewatkan kesempatan ini. Dengan sedikit berjinjit gadis ‘Im’-itu berusaha melihat semua yang tercantum di kertas dan dengan cepat menyalinnya ke dalam saraf pengingat.

“Kau menemukan sesuatu?”

Nara sedikit berdecih begitu senggolan dari Irene merusak fokusnya, sementara sang pelaku hanya menatap lurus-lurus pada Nara.

“Jangan menggangguku dulu,”

Irene hanya mengangguk singkat lalu mengalihkan atensi pada sekitar “Di mana Soojung?” pertanyaan itu lebih terdengar seperti sebuah bisikan di banding seruan. Kembali menatap pada sosok Nara yang masih fokus dan Yoona yang sibuk mengintip, Irene menghela napas kecil setelah kemudian berlalu pergi bermaksud untuk mencari sosok Soojung yang tiba-tiba menghilang.

-oOo-

Jangan tanyakan sosok apa yang telah merasuki gadis super cuek seperti Soojung, karna jika kembali pada fakta, ia juga di buat bingung dengan sikapnya sendiri. Bagaimana bisa begitu mendengar ada korban yang bunuh diri dan melihat kondisi mayat itu, sebuah pemahaman aneh timbul di otaknya.

Ya, pemahan yang pada intinya menanyakan kabar seorang oh Sehun. Dua korban sebelumnya adalah adik pemuda itu jadi wajar jika pada awalnya Soojung menjadi cemas jika saja siswa yang bunuh diri itu Sehun.

Tapi tetap khawatir walau telah mengetahui Sehun itu bukanlah korban sungguh bukan hal yang normal bagi seorang Jung Soojung dan berkeliling sekolah demi menemukan pemuda itu di saat anggota lainnya menyibukkan diri dengan sebuah urusan penting juga bukan hal yang menjadi landasan keseharian gadis ‘Jung’-tersebut. Apa ia menyukainya, entahlah.

“Dimana dia?”

Soojung mengacak rambutnya frustasi, kepalanya entah telah berapa kali berpindah arah dan pandangannya yang entah telah berkenala seberapa jauh demi menemukan pemuda itu.

“Kau sedang apa?”

Sebuah suara merdu namun cukup berat merasuki indra pendengar Soojung, lantas gadis itu menoleh dan mendapati seorang pemuda tengah menatapnya penuh keheranan.

“Bukan urusanmu,”

Soojung bermaksud untuk pergi sebelum pemuda itu kembali menginterupsi “Aku hanya ingin memberitahu kalau hari ini semua kegiatan pembelajaran di hentikan,”

Hanya sebuah anggukan kecil lah yang menjadi tanggapan dari ungkapan pemuda itu, seperkian sekon selanjutnya Soojung benar-benar melangkah pergi. Tujuannya, tentu sama dengan tujuan sebelumnya, mencari sosok Oh Sehun.

Hingga semua pencariannya terhenti taatkala di dapatinya sosok pemuda itu tengah mengatur napas di dekat ruang guru. Soojung melangkah mendekat, dan kemudian bernapas lega karna pemuda itu tak terluka bahkan sedikitpun.

“Kau baik-baik saja?”

Sehun terlihat sedikit terkejut saat mendapati ada orang lain selain dirinya, dan kembali bersikap biasa saat menyadari itu Soojung.

“Aku baik-baik saja,”

Soojung mengalihkan atensi pada sekitar untuk sesaat, ia baru sadar bahwa sekolah dalam keadaan cukup sepi saat ini.

“Sepi sekali, kan?”

Soojung mengangguk singkat sembari kembali menancapkan pandangan pada sosok Sehun “Sudah lama di sini?”

“Cukup lama,” Sehun menaikkan pergelangan tangannya singkat guna melihat jarum jam arloji silver yang di kenakannya “Dua jam yang lalu. Oh ya, bagaimana keadaan di luar?”

Soojung mulai merajut langkah keluar diikuti Sehun yang berusaha menjejerkan diri, dengan sedikit menimang gadis itu berujar singkat, “Apa maksudmu?”

“Keadaan mayat murid itu bagaimana, ku dengar selain jatuh ada luka lebam juga di sekitar punggungnya,”

Soojung menggeleng singkat, “Entahlah, aku langsung kemari tadi.” Gadis itu berhenti sejenak begitu dwimanik-nya menangkap sosok Irene di lantai bawah, “Hari ini kegiatan pembelajaran di berhentikan dulu, kau pulanglah, aku harus pergi,”

Tanpa menunggu persetujuan dari pemuda itu Soojung dengan cepat berlari pergi meninggalkan sosok Sehun. Pemuda itu hanya terdiam, helaan napas kasar dapat terdengar dengan sangat jelas setelahnya. Manik kelamnya menatap ke bawah sana-halaman sekolah-lebih tepatnya pada arah mayat itu terbaring tak berdaya di tengah-tengah kerumunan sesak manusia yang tidak sepadat sebelumnya.

“Kenapa lama sekali mereka membawa pergi mayatnya,”

-oOo-

Irene sedikit terkejut begitu seseorang menarik lengannya dari belakang dengan tiba-tiba, hampir-hampir ia memasang posisi bersiap dan dengan lihai membanting orang itu jika saja omelan Yoona yang mungkin akan dihadapinya jika ia melakukan hal itu terbayang di kepala.

“Kau mau mati ya?!”

Tidak memperdulikan gertakan kasar dari Irene, Suho justru hanya menunjukkan sebuah senyum kecil di ikuti deheman singkat. Irene melipat kedua tangannya di depan dada sembari memasang wajah sedikit kesal.
“Kau masih normal?”

Semakin merekahkan senyum, pemuda itu menjawab ringan “Tentu saja, lagi pula mana mungkin ketua dewan kesiswaan tidak normal,”

“Kau sedang pamer?”

“Untuk apa aku melakukannya?”

Irene mengembalikan posisi seperti semula, mencoba acuh pada pertikaian barusan dan memfokuskan diri pada tujuan awal.

“Kau lihat Soojung?”

“Soojung?”

“Iya, Jung Soojung,”

“Ahh, maksudmu gadis dingin dan cuek itu, aku bertemu  dengannya di sekitar sini tadi, tapi entah sekarang dia kemana.”

Irene mengangguk singkat “Baiklah, aku pergi,”

Langkah awal telah tercipta untuk menjauh sebelum Suho dengan cekatan menahan lengan gadis cantik itu, “Jangan pergi dulu,”

Irene menutkan kedua alis, tanda kebingungan “Kenapa?”

“Aku lapar, Joo.”

“Lalu?”

Suho menghela napas sesaat, menatap dwimanik gadis cantik di hadapannya dengan sebuah senyum tipis yang terpatri “Temani aku makan Irene-ah,”

Irene membuang muka kesal, “Kenapa harus aku? Lagi pula kau pikir aku gadis-”

Tak ada jeda untuk melanjutkan kalimat itu lagi karna pada detik selanjutnya Suho menarik pergi Irene dengan sedikit paksaan, gadis itu bisa saja memberontak untuk menolak tapi entahlah, sebuah sugesti untuk mengikuti langkah pemuda itu seperti berbunyi kuat dalam hatinya dan sungguh tak bisa nalarnya cermati.

-oOo-

Yoona merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk kamar asrama, maniknya menerawang langit-langit, mencoba mencerna semua hal yang terjadi. Ini sudah ketiga kalinya kasus bunuh diri yang sungguh berada di luar kepala terjadi. Pertama Sejin, Sehyun dan sekarang seorang pemuda bernama Sunggyu.

Kasus ini jelas tidak di latar belakangi masalah keluarga seperti dugaan awal mereka, karna timbulnya sosok Sunggyu yang sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan keluarga-‘Oh’. Gadis itu mengacak rambutnya guna melampiaskan rasa frustasi yang memuncak di kepala.

“Aku pulang,”

Soojung berujar pelan begitu membuka satu-satunya destinasti yang ada. Manik kelamnya menatap heran seisi ruangan sebelum menjatuhkan tatapan pada Yoona, “Dimana yang lain?”

Gadis cantik itu menghela napas sejenak, “Nara belum kembali dari tugasnya, dan Irene tadi menghubungiku, dia bilang akan ke kantor untuk mengambil beberapa berkas.”

Soojung mengangguk kecil lalu beranjak menuju samping Yoona, “Eonn, kasus kali ini,,” kalimat itu ia biarkan tergantung sesaat sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih rendah “Sangat sulit, bukankah lebih baik jika kita kobarkan saja bendera putih?”

“Aku tahu itu Soojung-ah, tapi menyerah juga bukan jalan yang terbaik.”

Yoona bangkit, meraih sebuah notebook  merah muda miliknya “Kau ingat kan kita sudah memecahkan puluhan kasus. Tidak ada yang namanya keajaiban, kasus ini tidak mungkin terpecahkan dengan sendirinya.”

“Baiklah eonn, kau memang selalu benar.” Soojung terkekeh kecil, sebesit memori yang tadi lupa ia lisankan timbul lagi pada saraf  berpikirnya lanta sebuah pandangan kembali terlontar  pada sosok Yoona “Eonn bagaimana dengan mayat itu?”

“Ada di forensik,”

“Kudengar ada luka lebam di sekitar punggung-nya, apa kau tidak merasa aneh?”

Tepat sebelum Yoona kembali ingin mengungkapkan pendapatnya, pada saat itu pula pintu terbuka dengan perlahan. Dua insan yang tadinya tengah beradu frasa menatap pada satu arah itu-pintu coklat, sebelum sosok gadis mungil berperawakan ceria hadir dengan senyum bodohnya.

“Apa kau harus membuka pintu dengan cara selembut itu?”

Nara tidak memperdulikan cercaan yang di lontarkan gadis yang tengah menatap dirinya lekat-lekat itu. Fokusnya justru lebih teralih pada Yoona “Eonnie, aku berhasil mendapatkan informasi dari badan forensik.”

Soojung dan Yoona lantas menoleh dan berucap dengan cukup kompak “Informasi apa?”

“Selain luka jatuh, Sunggyu juga memiliki luka lebam pada sekitar punggunya. Hasil pemeriksaannya baru keluar dan aku orang kedua yang mengetahuinya sesudah dr.Hanna.”

Nara menunjukkan senyum kebanggaan karna berhasil melakukan tugas dengan baik-pikirnya, berbanding terbalik dengan Yoona dan Soojung yang terdiam saling mencerna paham satu sama lain.

“Tapi, Soojung baru memberitahuku tadi.”

“NEE??”

Nara spontan ternganga lebar, bingung bagaimana Soojung bisa mengetahui hal yang harusnya bersifat rahasia ini.

“Darimana kau mengetahuinya?” Tanya Nara pada Soojung yang berada tidak  jauh dari kondisi mereka-terkejut. Tatapan penasaran Nara dan tatapan tajam milik Yoona seolah menderu menjadi satu dalam penglihatan Soojung itu.

“Sehun, dia yang memberitahuku.”

-oOo-

 

Pagi kembali menyapa dunia, suasana sekolah masih kalang kabut mengingat kejadian yang terjadi tempo hari. Beberapa polisi juga masih bolak-balik dari tempat kejadian membuat beberapa murid terlihat risih, ditambah dengan para wartawan dari berbagai stasiun tv yang mulai berdatangan berburu rejeki.

Tak terkecuali bagi Nara, ia juga benci akan kerusuhan yang terjadi di tempat yang seharusnya menjadi tenang agar para murid dapat fokus menerima pelajaran. Ah, lupakan saja, bagaimana caranya belajar jika para guru-guru bahkan banyak yang tidak datang dengan berbagai macam alasan.

Nara mempercepat langkahnya menuju ruang UKS, hingga tiba tepat di hadapan pintu berwarna putih dengan lambang tambah berwarna merah yang menghiasi. Perlahan dibukanya pintu itu dan perlahan pula sosok pemuda tampan terlihat di hadapan.

“Hey, kau membuatku terkejut.”

Gadis itu hanya tersenyum kikuk, tidak menyangka akan bertemu Baekhyun lagi di sini “Maaf, aku tidak sengaja.”

“Hahahah, apa yang kau lakukan disini?”

“Hmm, di luar sangat berisik, jadi aku ke sini. Bau obat-obatan membuatku nyaman,”

Sontak Baekhyun kembali tertawa lebar, “Kau tahu, gadis pada umumnya benci dan bahkan menghindari bau obat-obatan bukannya malah merasa nyaman,”

Nara menggaruk tengkuknya kaku sembari memasang wajah bersalah, “Aneh ya?”

“Bukan aneh tapi unik, dan aku menyukai segala hal yang unik.”

Tangan Baekhyun kemudian terulur mengacak pelan puncak kepala gadis-‘kim’-itu. Membuat semburat merah dengan cepat mendominasi pipi tembam sang empu.

“Aku harus pergi sekarang, jaga dirimu.”

Nara hanya mengangguk, tidak sanggup berkata lantaran degupan jantung yang berpacu dengan begitu hebat. Sepertinya gadis itu telah jatuh dalam pesona seorang Byun Baekhyun lagi.

Kreekk..

Pintu kembali terbuka, Nara spontan berbalik-dengan harapan Baekhyun kembali-yang harus pupus kala sosok itu menampakkan diri. Seorang wanita cantik yang Nara yakini lebih tua beberapa tahun darinya.

“Kim Nara?”

Wanita itu berucap dengan sedikit menimang-nimang, Nara spontan mendongak “Anda mengenalku,”

Wanita itu terkekeh kecil, “Aku pemilik organisasi PMR di sekolah ini, sekaligus kakak sepupu Baekhyun, Byun ahra.”

Wanita dengan nama Ahra itu mengulurkan tangannya yang disambut hangat oleh Nara, tapi tunggu gadis itu merasakan ada sesuatu yang aneh saat menyentuh telapak tangan kakak sepupu pemuda yang di sukainya itu, ada sebuah tanda aneh berbentuk kepala singa yang di kelilingi lingkaran emas-sedikit menyeramkan-pada ujung telapak tangan Ahra. Tapi gadis itu ambil acuh, tak peduli dan membalas tulus senyum yang di tunjukkan Ahra padanya.

-oOo-

“Ada waktu?”

Yoona mendelik seketika, menatap heran pada sosok Donghae yang tengah menatapnya lekat “Kau mau apa?”

Donghae menghela napas sejenak, “atap,”

Lantas pemuda itu berlalu dan memacu tungkai menuju atap sekolah di ikuti Yoona di belakangnya. Tak ada satupun konversasi yang terjadi pada keduanya dalam perjalan, baik Yoona maupun Donghae sama-sama memilih untuk membisu.

Begitu tiba di atap sekolah, Yoona dengan cepat menahan tangan pemuda itu “Ada apa? Kenapa mengajakku kemari?”

Donghae menatap gadis di hadapannya dengan sedikit takjub, angin dengan sempurna memainkan rambut kecoklatan gadis pemilik hatinya itu, menambah  kesan kecantikan yang terbilang terlalu indah bagi pemuda itu.

“Aku minta maaf.”

Ujar pemuda itu-akhirnya.

“Untuk apa?”

“Masa lalu kita,”

Yoona menghela napas kesal, lantas menatap tajam dwimanik karamel pemuda itu “Kau tahu, aku tidak punya waktu untuk membicarakan hal tidak  penting seperti ini, aku sibuk. Lagipula apapun yang pernah kau lakukan di masa lalu dan bagaimana sakit yang kurasakan di masa lalu, bagiku hal itu tidaklah penting lagi,”

Mengalihkan pandangan sesaat, Yoona melanjutkan “Jika tidak ada yang ingin kau katakan lagi, aku pergi.”

Sekon selanjutnya Yoona berbalik, bermaksud untuk meninggalkan tempat itu sebelum Donghae kembali menarik lengannya.

“Aku punya informasi,”

“Informasi apa?”

“Informasi yang bisa menjadi penghubung antara tiga korban pembunuhan ini.”

Yoona tertegun sesaat, “Beritahu aku,”

-oOo-

Baik Sehyun, Sejin, maupun Sunggyu ketinganya adalah murid yang cukup aktif dalam bersosialisasi sosial di sekolah ini. Beberapa kali mengikuti kegiatan bakti sosial bersama, hingga bulan lalu,tanpa adanya alasan yang jelas ketiganya memilih berhenti.”

Kalimat Donghae terus berputar di kepala Yoona, gadis itu,entah mengapa merasa hal ini menjadi titik pusat permasalahan-mungkin. Tungkainya masih berpacu-memburu menuju ruang guru. Tepat setelah tiba, gadis itu sontak mencari sosok Kwon Songsaengnim yang ber-notebene sebagai guru kesiswaan.

Ssaem!”

Sedikit terkejut, Kwon Songsaengnim lantas menoleh dengan was-was “Ada apa denganmu?”

“Sehyun, Sejin dan Sunggyu. Mereka anggota tetap bakti sosial sekolah kan?”

Kwon Songsaengnim mengangguk kecil, “Iya benar,”

“Selain mereka bertiga apa masih ada murid yang aktif lainnya?”

“Yang mengikuti kegiatan ini cukup banyak, tapi yang paling menonjol selain mereka bertiga mungkin hanya Taeyong dan Seulgi.”

“Taeyong? Seulgi? Ah, apa mereka masih aktif hingga kini?”

Kwon Songsaengnim meggeleng perlahan, “Setelah bakti sosial di Mokpo, tanpa alasan yang jelas kedua murid itu bersama Sehyun, Sejin dan Sunggyu memutuskan untuk berhenti.”

Yoona mencoba berpikir jernih, ada hal lain yang terjadi di sini, sebuah hal buruk, ia yakin dengan sangat akan hal itu.

“Aku sendiri juga bingung mengapa mereka berhenti, tapi dari raut wajah mereka saat itu, mereka benar-benar ketakutan.”

-oOo-

“Kau belum pulang?”

Sebuah pertanyaan dengan nada hangat kembali terlontar sementara Soojung masih saja memandang papan tulis dengan tatapan yang benar-benar kosong membuat Sehun yang berada di sampingnya kembali di buat bingung.

“Soojung, kau baik-baik saja?”

Soojung tidak langsung menjawab, melainkan menatap dalam terlebih dahulu manik milik Sehun. Pemuda itu sedikit bergidik ngeri “Ada apa dengamu?”

“Hun, dari mana kau tahu?”

Kalimat itu menggantung di udara sesaat, Soojung terlalu takut untuk menanyakan sebuah kebenaran yang mungkin saja akan berdampak parah-terutama untuk hatinya. Gadis pemilik marga-‘Jung’-itu melenan salivanya perlahsn, berusaha melanjutkan kalimat yang tetahan di bibirnya yang tiba-tiba berubah kelu.

“K-kau, darimana kau tahu tentang luka lebam pada korban?”

Pemuda itu terkesiap, tidak menyangka bahwa kalimat inilah yang akan terlontar dari bibir mungil Soojung. Pemuda itu terdiam sejenak, membiarkan hening mengisi relung kosong yang menguasai situasi.

“Jangan bertanya,”

Ujar pemuda itu lirih namun Soojung tidak mengidahkan permintaan barusan, lisannya masih terus berucap.

“Hanya bagian forensik dan pelaku kejahatan yang harusnya mengetahui ini,”

“Berehentilah Soojung,”

“Kau tidak mungkin bagian dari forensik, K-kau..”

“Kumohon berhentilah,”

“Apa kau pelakunya?”

Sehun kembali terdiam, menatap tepat manik pekat milik Soojung. Begitu pula Soojung, masih senantiasa menancapkan tatapannya pada Sehun dengan hati yang tak berhenti berharap bahwa saja pemuda itu akan menyangkal. Tapi, kalimat selanjutnya terlontar sukses membuat pertahanan gadis itu runtuh, sepertinya ia salah menaruh hati, pemuda di hadapannya menatapnya nanar sebelum menepuk pelan pundaknya dan berujar dengan semakin lirih.

“Maafkan aku Soojung-ah,”

Permintaan maaf, Soojung benci hal itu.

TBC

A/N :

Udah lama,

aku tahu,

 maafkan aku yang jarang update lagi sibuk dan teledor atur waktu soalnya.

Btw, Rcl tetap jan lupa, karna itu penyemangat buat lanjutin

Suka sakit hati sama pembaca gentanyangan soalnya (re : siders)

Advertisements

One thought on “Pretty Woman (chapter 4)

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s