[Oneshoot] Freelance – The End

PicsArt_1420715640482

 

Waktu tak dapat diputar kembali. Kenyataan yang masih belum dapat diterima oleh gadis itu. Ia tengah berdiri, merentangkan kedua tengannya lebar-lebar, mencoba merasakan hembusan angin yang menerpa tubuhnya, seolah-olah ini untuk yang terakhir kalinya.

 

 

Rambut hitam panjangnya serta ujung dress-nya melambai ke belakang diterpa angin seakan-akan memberi salam perpisahan pada kenangan yang masih tertinggal dibelakangnya, mengejek pernderitaan yang selama ini mengepung gadis itu.

 

*

 

*

 

Minran tengah duduk di salah satu meja bundar di salah satu café di pusat kota Seoul. Matanya tak henti-hentinya menatap jam tangan Gucci yang terpasang indah di pergelangan tangannya.

 

     Sudah 15 menit ia menunggu seseorang yang kemarin mendadak meneleponnya, memaksa untuk bertemu di sini. Padahal gadis itu sudah mempunyai rencana tersendiri dengan Han Jihyun untuk pergi ke toko buku. Jika bukan karena pria itu yang memohon, ia tidak akan sudi membuat dirinya harus mendengarkan ocehan Jihyun yang hampir memecahkan gendang telinganya karena mendadak membatalkan janji.

 

     “Hei, jangan melamun terus,”

 

     Minran kembali pada alam sadarnya saat menyadari bahwa pria itu –Cho Kyuhyun, sudah berada di hadapannya sambil tersenyum manis. Ada apa dengan pria ini? Biasanya, hanya muka menyeramkan dan cuek yang menghiasi wajahnya.

 

     “Sudah memesan sesuatu?” Tanya Kyuhyun ramah. Minran bergidik takut dibuatnya. Apa tubuh pria ini telah dimasuki roh kebaikan? Tidak biasanya ia bersikap seperti ini.

 

     “Tidak, aku tidak haus atau pun lapar. Katakana saja apa maumu.”

 

     Senyum Kyuhyun makin mengembang mendengar perkataan Minran. Kedua tangannya terangkat, meraih ke dua tangan Minran yang sedang gadis itu gunakan untuk menopang dagunya.

 

     Minran tampak terkejut dengan perlakuan Kyuhyun. Seluruh organnya seperti tak dapat dikendalikan dengan baik. Paru-parunya kekurangan oksigen, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, dan pikirannya mendadak kacau.

 

     “Maukah kau menjadi kekasihku?”

 

     Tubuh Minran menegang saat kata-kata keramat itu meluncur dari bibir Kyuhyun. Matanya menatap kedua bola hitam Kyuhyun tanpa berkedip sedikitpun, mencoba mencari kebohongan di sana. Siapa tahu Kyuhyun sedang mengerjainya?

 

     “A-apa?”

 

     Kyuhyun tersenyum geli melihat reaksi Minran. Itu adalah salah satu ekspresi kesukaannya, karena gadis itu terlihat polos sekarang –meski sebenarnya Kyuhyun menyukai semua ekspresi yang dimilki Minran.

 

     “Aku serius,” ucap Kyhyun berusaha menebak pikiran gadis itu. “Dan kurasa aku tidak perlu mengulanginya lagi kan Nyonya Cho?”

 

     Pipi gadis itu memerah mendengar godaan Kyuhyun. Namun tak lama kemudian gadis itu mengangguk sambil tersenyum senang.

 

     Kyuhyun juga tak kalah senangnya. Ia mengangkat salah satu tangan Minran, lalu mengecupnya di punggung tangan. Ia lalu mengeluarkan benda berbentuk lingkaran berwarna keperakan dari dalam saku celananya, lalu ia sematkan ke jari manis gadis itu.

 

     “Ini memang bukan cincin asli, tapi aku janji akan memberikan yang lebih mahal dan jauh lebih bagus di pernikahan kita nanti.”

 

*

 

*

 

Minran tersenyum miris saat kejadian empat tahun lalu itu berputar di kepalanya. Hatinya terenyuh meningat janji yang diucapkan Kyuhyun. Mendadak ia marah. Marah karena Tuhan tak memberi kesempatan pada Kyuhyun untuk menepati janjinya.

 

Kakinya berayun, melangkah maju ke depan melawan arah hembusan angin yang semakin gencar mendorong tubuh mungilnya ke belakang, seolah memaksanya mengehentikan perbuatan konyolnya.

 

Tapi ia dan Kyuhyun adalah satu. Kemana pun Kyuhyun berada, ia juga harus ada. Kemana pun Kyuhyun pergi, ia juga harus pergi bersama Kyuhyun, begitupun sebaliknya. Itu adalah sumpah yang telah ia ikrarkan bersama Kyuhyun.

 

*

 

*

 

Hari itu adalah tepat satu tahun hubungannya dengan Kyuhyun. Minran datang ke sekolahnya sambil tersenyum riang, sesekali melompat-lompat layaknya seoarang anak kecil yang telah dijanjikan kado mainan oleh orang tuanya.

 

 

 

Namun kegiatannya itu berhenti saat mengingat sesuatu yang ada di dalam tasnya. Benda itu harus ia jaga baik-baik, tak boleh sampai rusak. Jika itu sampai terjadi, bisa-bisa rencananya untuk memberikan hadiah pada Kyuhyun gagal.

 

 

 

Setelah meletakkan tas di bangkunya, Minran keluar hendak mencari Kyuhyun yang berbeda kelas dengannya. Saat itulah Minran melihatnya. Kyuhyun yang sedang bercengkrama dengan Yoona, yang Minran ketahui sebagai mantan kekasih Kyuhyun sambil sesekali tertawa riang.

 

 

 

Apa apaan ini? Apakah Kyuhyun lupa bahwa hari ini adalah anniversary mereka yang pertama dan malah menyuguhkan kepadanya pemandangan menyakitkan seperti ini?

 

 

 

Mendadak Kyuhyun menatap ke arahnya. Akhirnya pria itu menyadari juga keberadaanya. Terlalu sibuk pada Yoona-mu ha?

 

 

 

Kyuhyun lalu melangkah ke arahnya, sambil tersenyum sumringah seperti tak terjadi apa-apa. Berbanding 180 derajat dengan Minran yang kini tengah menahan emosinya yang meluap-luap. Sebelum Kyuhyun sampai ke hadapan Minran, gadis itu sudah berlari menjauh, tak ingin melihat wajah kekasihnya sendiri.

 

 

 

“Yak, Min-ah! Mau kemana?” teriak Kyuhyun kebingungan. Teriakan itu menggema ke seluruh ruangan, menyebabkan mereka menjadi pusat perhatian sekarang. Kyuhyun ikut berlari mengejar Minran.

 

 

 

“Lee Minran! Apa yang terjadi denganmu?”

 

 

 

Kyuhyun masih belum menyerah meski langkah gadis itu semakin cepat. Kyuhyun makin mempercepat larinya, dan dalam waktu singkat ia berhasil meraih lengan gadis itu dan menariknya.

 

 

 

“Sebenarnya apa yang terjadi padamu?”

 

 

 

Kyuhyun masih tetap dengan pertanyaannya yang sebelumnya, karena memang itulah yang membuatnya penasarn sedari tadi.

 

 

 

“Jangan urusi aku, urusi saja Yoona-mu itu!” bentak Minran dengan kepala tertunduk, mencoba meredam emosinya. Tapi tidak bisa. Bayangan Kyuhyun yang tersenyum gembira bersama Yoona terus bersemayam di kepalanya.

 

 

 

Dengan gerakan cepat, Kyuhyun mendorong tubuh Minran hingga tubuh gadis itu bertubrukan dengan kerasnya dinding, lalu mencengkram bahu Minran hingga gadis itu tak bisa bergerak.

 

 

 

“Jadi karena itu? Kau meragukan cintaku?”

 

 

 

Kalimat yang keluar dari mulut Kyuhyun barusan lebih terdengar seperti desisan kejam di telinga Minran. Tubuhnya bergetar takut. Ia paling tidak suka melihat Kyuhyun yang seperti ini, meski ia tahu ialah yang memulai semua ini.

 

 

 

Perlahan-lahan Kyuhyun memajukan wajahnya, hingga kini bibir mereka bertemu. Pria itu melumat bibir gadisnya lembut, tanpa memperdulikan Minran yang kini terbelalak kaget. Tubunya seperti kaku, dan kerja otaknya mulai tidak beraturan.

 

 

 

Kyuhyun lalu melepaskan tautan bibirnya untuk melihat rekasi gadis di hadapannya. Benar saja, kini Minran tengah berdiri kaku, wajahnya merah padam menampilkan wajah paling bodoh yang pernah ia miliki.

 

Kyuhyun terbahak keras.

 

“Ini peringatan pertama dariku, Nyonya Cho. Kuharap mulai dari sekarang, kau tidak akan berbuat hal bodoh seperti tadi. Apa itu? Kau cemburu pada Yoona? Itu sama saja kau meragukan kekuatan cintaku. Padahal seingatku aku sudah pernah mengatakan padamu bahwa kau adalah satu-satunya gadis yang ada di hatiku, tak ada yang lain.”

 

 

 

Minran merutuki dirinya sendiri. Kenapa ia bisa sebodoh itu? Seperti anak kecil yang menuruti emosinya tanpa memikirkan perasaan pria itu. Padahal ia tahu Kyuhyun sangat mencintainya. Tapi kenapa ia bisa meragukan semua itu?

 

“Tapi tak apa. Kali ini aku memaafkanmu, karena itu berarti kau mencintaiku, kan? aku cukup tersentuh, Nyonya Cho.”

 

*

 

*

 

Tubuh Minran  terjerembab ke tanah, terkulai lemas. Seluruh organ tubuhnya melemah, terasa seperti jelly saat mengingat kejadan itu.

 

Aku memang mencintaimu, Cho Kyuhyun.

 

Mendadak tubuh Minran menegang. Perasaan itu datang lagi. Rasa penyesalan itu menghantuinya lagi, dan menamparnya bertubi-tubi tanpa ampun berusaha menyadarkannya pada kenyataan pahit yang semakin menghantuinya lagi, dan menamparnya bertubi-tubi tanpa ampun berusaha menyadarkannya pada kenyataan pahit yang semakin membawanya jauh dalam keterpurukan.

 

Ia memeluk dirinya sendiri dengan erat. Tubuhnya bergetar hebat, sorot matanya sarat akan ketakutan yang amat sangat.

 

“Pergi!!” seru Minran mencoba mengusir rasa bersalahnya.

 

“Pergi! Jangan ganggu aku!!” serum gadis itu lagi, kali ini lebih keras dan histeris.

 

Namun semakin ditahan, perasaan itu makin mencengkram kuat menyelimuti tubuhnya, meremas jantungnya yang sudah terasa amat sakit. Ia memukul-mukul tanah menggunakan kepalan tangannya, tanpa mempedulikan tajamnya kerikil yang menyebabkan tangannya mengeluarkan banyak darah.

 

    “Kau mau kemana?”

 

     “Ke perpustakaan. Kenapa?”    

 

     “Kalau begitu jangan pergi dulu. Aku akan mengantarmu.”

 

     “Tidak perlu, aku bisa pergi sendiri.”

 

     “Cih, aku juga tahu kau bisa pergi sendiri. Tapi sudah seminggu lebih kita tidak bertemu. Aku merindukanmu, Nyonya Cho. Kau tidak merindukanku ya?”

 

     “Iya, iya. Terserah kau saja. Tapi jangan lama-lama ya.”

 

Minran menguatkan kepalan tangannya, seiring dengan menguatnya perasaan itu. Pertahanannya runtuh. Air matanya meluncur membasahi pipi. Tangisannya terdengar begitu memilukan, menggambarkan penderitaan yang harus ia tanggung sendiri.

 

Ia meraung-raung, menjerit dengan tubuh bergetar hebat, meninju udara kosong, kemudian menarik-narik rambutnya sendiri.

 

“Ini bukan salahku,” gumam Minran dengan suara bergetar.

 

Ya, ini salahmu.

 

“Bukan! Ini bukan salahku!” Minran makin histeris dan frustasi. Tangisannya semakin menjadi-jadi.

 

Ini memang bukan salahanya! Jika ia tahu kalau hari itu akan menjadi hari terakhir ia melihat Kyuhyun, ia tidak akan membiarkan pria itu ikut bersamanya.

 

*

 

*

 

     Minran keluar dari perpustakaan dengan senyum riang. Ditangannya terdapat dua tumpuk buku setebal tiga jari yang akan ia gunakan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Berebeda dengannya, Kyuhyun malah tampak suntuk sekaligus lega setelah keluar dari tempat yang merupakan neraka baginya.

 

     Kyuhyun memang membenci buku sejak dulu. Ia selalu pusing jika harus berkutat dengan kumpulann tulisan yang membosankan itu. Tetapi ia tetap bersikreas menemani Minran untuk masuk ke perpustakaan meski pada akhirnya ia hampir tertidur di sana.

 

     Sejak mereka kuliah, keduanya memang semakin jarang bertemu. Ditambah dengan jurusan kuliah mereka yang berbeda, sehingga sulit menyamakan waktu untuk bertemu. Tak heran jika kedua pasangan itu tidak akan menyia-nyiakan waktu luang meski hanya sebentar.

 

     “Tunggu sebentar,” ucap Kyuhyun menahan lengan Minran tepat ketika mereka akan menyebrang untuk menghampiri mobil Kyuhyun.

 

     Seperti biasa, Kyuhyun selalu menyuruh gadis itu menunggu selagi Kyuhyun mengambil mobilnya. Lebih terlihat romantis, katanya.

 

*

 

*

 

Tubuh Minran telah lebih tenang. Hanya tersisa isakan-isakan kecil yang keluar dari bibir mungilnya. Ia memukul-mukul dadanya dengan kepalan tangan, berusaha meredakan nyeri yang amat sangat.

 

Ciiiittttttttt

 

Minran menutup telinganya. Ia dapat mendengar suara decitan mobil itu.

 

Brruukkkkk

 

Sekuat apapun Minran menutup telinganya, semua itu percuma. Suara-suara itu tetap berngiang di kepalanya.

 

“Ini bukan salahku, ini bukan salahku,” guman gadis itu berulang-ulang, mencoba menghibur diri sendiri.

 

     Ya, ini salahmu. Seharusnya kau tidak membiarkan Kyu pergi. Seharusnya kau ikut menyerbrang bersamanya agar kalian bisa sama-sama mati.

 

“Diam!”

 

*

 

*

 

     Saat itulah Minran melihatnya. Sebuah mobil sedan hitam melaju dengan sangat kencang, meliuk-liuk tak tentu arah. Matanya beralih cemas pada Kyuhyun yangn masih melangkah mendekati tengah jalan.

 

     “Tidak! Kyu!! Pergi dari sana!!”

 

     Namun terlambat….

 

     Ciiiiiiittttttttttt

 

     Brruuuukkkkk

 

     ………………………………………..

 

    Buku-buku yang berada di genggaman Minran jatuh begitu saja.

 

     Tidak, ini hanya mimpi. Kumohon, ini hanya mimpi!

 

     Minran berlari sekuat tenaga, menerobos kerumunan orang-orang yang mengelilingi tubuh Kyuhyun.

 

     “Kyu, ini aku. Buka matamu Kyu, buka.”

 

     Minran berlutut meraih kepala Kyuhyun yang berlumuran darah. Gadis itu merunduk, mengusap cairan merah pekat itu menggunakan telapak tangannya, tak peduli dengan mantel birunya yang kini terkena bercak noda merah.

 

     “Kyu, kau tidak boleh mati! Buka matamu Kyu, buka!!”

 

     Minran berteriak histeris. Tubuhnya tetguncang hebat akibat tangisan yang menjadi-jadi. Beberapa orang berusaha menghibutnya, yang lainnya hanya menatap iba.

 

*

 

*

 

Minran bangkit berdiri. Dengan kaki gemetar, ia melanjutkan langkahnya yang tadi sempat tertunda. Ia harus melakukan ini jika ingin menemui Kyuhyun. Ia harus meminta maaf, dan melanjutka hubungan mereka, apapun caranya. Ia benar-benar tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Kyuhyun.

 

Ayunan kaki gadis itu terhenti ketika ujung jari kakinya menggantung pada daerah tak berpijak di hadapannya. Daerah itu kosong, sangat dalam hingga dasarnya tak terlihat. Setiap orang yang melihatnya pasti akan melangkah mundur ketakutan.

 

Namun tidak dengan gadis itu. Senyum mengerikannya merekah. Jurang ini bagai pintu masuknya menemui Kyuhyun.

 

Dengan sekali hentakan kedua kakinya, gadis itu terjatuh. Menelusuri dinding-dinding gelap di kedua sisinya. Kaki dan tangannya ia katupkan, tak sedikitpun membiarkan udara mengahalangi jalannya.

 

     Tunggu aku Kyu, tunggu aku. Sebentar lagi aku akan menyusulmu, dan kita dapat hidup bersama-sama lagi.

 

End

Advertisements

3 thoughts on “[Oneshoot] Freelance – The End

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s