[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #18. 너 때문에 (Because Of You)

ir-req-i-got-you

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Cast: Lee Donghae, Im Yoona, Choi Siwon, Jessica Jung

Poster by: @IRISH (For her personal blog) or @IRISH POSTER CHANNEL

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

PREVIOUS PART >>

“Jangan bilang kalau Yoona nuna salah mengambil kunci dan malah mengambil kunciku?! Dia tidak akan bisa memakai mobil itu!” pekik Kibum panik sendiri.

Mata Siwon dan Jungsoo melebar. Benar..

“Hei, bukankah mobilmu yang sering mogok itu? Yang karenanya kau menjadi sasaran amukan Donghae? Kau belum memperbaikinya?” ucap Heenim santai sambil menunjuk-nunjuk Kibum dengan sumpitnya. Kibum mengangguk mengiyakan.

Siwon meneguk ludahnya. Aniyo.. ini tidak mungkin terjadi..


*Author’s POV

“Aku bahkan terlalu takut untuk memakainya sendiri. Karena itu, aku meninggalkannya di basement agar bisa diderek ke bengkel.” lanjut Kibum masih dengan tteokbeokki memenuhi mulutnya.

Siwon mengusap wajahnya kasar. Ia kalut tidak karuan sekarang. Panik, sepanik-paniknya orang yang panik. Tangannya yang gemetar cepat meraih ponsel di sakunya. Menekan speed dial 1 untuk kata ‘Dongsaeng’.

“Aku akan menelepon nuna sekarang..”. Seo Joon menawarkan diri mendengar huru-hara menimpa kakak kecilnya itu.

Ani.. aku sedang meneleponnya sekarang. Biar aku saja.”. Siwon menahan tangan Seo Joon seraya masih berusaha menelepon Yoona.


“Idemu dalam skenario besar seperti yang bisa kami lihat sebelumnya benar-benar membuat hati para penonton tergetar. Karyamu selalu menjadi mahakarya besar dalam malam penganugerahan apapun itu. Bisakah aku meminta saranmu untuk melihat skenario ini?”

Yoona memiringkan kepalanya. Merasakan masih ada yang janggal dengan kata-katanya. “Aish.. kenapa ini terdengar sangat tegang? Bersikap biasa, Im Yoona. Bersikap profesional. Ehem..” Yoona berdehem lalu mulai kembali mengatakan kata-kata pengantarnya nanti.

“Eoh? Kenapa mendadak turun kabut seperti ini? Kenapa menjadi putih semua? Apakah kabut turun ketika tidak hujan juga?”

Yoona melongokkan kepalanya lebih ke depan berusaha melihat langit. Cerah. Tapi, apa asap putih ini?

Yoona berpikir sejenak. Lagi-lagi, Yoona memilih bersikap masa bodoh dan kembali melanjutkan pekerjaannya.

Di luar, asap putih dari mesin mobil mengepul hebat, tentu saja, karena mesin mobil itu memang benar-benar rusak dan mungkin saja mobil itu meledak setiap saat karena kerusakan fatal ketika Yoona memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.

Dering ponselnya sendiri bahkan tidak bisa di dengar Yoona karena gadis itu masih dengan antusias mengucapkan daftar pertanyaannya untuk Lee Seung Gi, penulis skenario terbesar itu.


*@NCT Entertainment

“Apakah dia mengangkat teleponnya?” tanya Kibum masih panik. Bagaimana pun juga, jika terjadi sesuatu kepada Yoona, ini ikut menjadi tanggung jawabnya. Jika saja, ia tidak menyimpan mobil rusaknya di basement, Yoona mungkin saja tidak akan terkena musibah.

Dan semoga, Yoona baik-baik saja.

Siwon terdiam.

Nomor yang Anda tuju berada di luar jangkauan.

Siwon menggeleng. Pemuda itu mengusap wajahnya kasar, putus asa. Ia memukul kasar udara di sekitarnya. “Sialan!” makinya marah terhadap diri sendiri.

“Kau tidak berpikir terjadi sesuatu yang buruk terhadap Yoona nuna kan?” bisik Seo Joon khawatir. Suzy langsung memukul bahu Seo Joon.

“Ya! Jika itu memang di Paju, berarti Yoona harus melewati jalan tol? Jalan tol kan harus dilalui dengan kecepatan maksimum 90 km/jam. Jika memang seperti itu, bukankah kerusakan permanen akan terjadi secara mengerikan, Kibum-ah? Mobilmu bisa saja rem blong, mesinnya mati mendadak, dan akan terjadi tabrakan beruntun?” Heechul menyeletuk, membuat suasana semakin keruh. Banyak pandangan ngeri yang saling bertemu. Mereka bahkan tak memikirkan hal itu.

Itu kemungkinan terburuk yang harus mereka hadapi.

Kibum memejamkan matanya merasa bersalah dan tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi pada Yoona karena ulahnya.

Siwon menatap gemas Kibum. Melihat pemuda itu sama sekali tidak berusaha untuk mendebat apapun. “Ya! Jangan berkata macam-macam sunbaenim! Perkataan adalah doa! Ani, itu tidak mungkin terjadi pada Yoona nuna, benarkan?” sanggah Seo Joon yang juga sekarang menjadi panik, ia menoleh kanan-kiri menunggu dukungan.

Jungsoo mengurut pelipisnya kuat. Ini benar-benar situasi genting.

“Siapa bilang perkataanku tidak mungkin terjadi? Semua yang aku katakan itu fakta bukan?!” tangkis Heenim yang masih tidak mau kalah. Ingin rasanya Siwon membekap mulut Heenim yang bukannya mengucapkan kata-kata menenangkan, malah mengatakan hal-hal buruk yang memperkeruh situasi.

Jungsoo memukul Heenim dengan tongkat sakti kepunyaan Heenim sendiri. “Aku mengatakannya karena aku khawatir, salahkah aku?”. Nada Heenim menjadi sedikit rendah.

Mata Siwon menyalang kemana-mana. Kalutnya sudah benar-benar absolut sekarang. Tak ambil waktu, ia langsung melesat menuju basement dan memacu motornya keluar.

Tujuannya hanya satu. Menyelamatkan adik kesayangannya.

Ani, gadis yang ia cintai. Rasanya, itu terdengar lebih tepat.


*@cafe

Donghae mengetuk-ngetukkan jarinya seraya memandang tabletnya yang dipenuhi dengan grafik comebacknya minggu ini. Masih berdiri kokoh di posisi pertama, Donghae bisa menghela napas. Tapi, kabar tentang single baru Eunhyuk cukup membuatnya khawatir juga.

“Ah, geurae.. aku harus mengecek hal itu.” gumamnya sendiri lalu menelepon Jungsoo.

Dengan sedikit kesusahan, Donghae meraih ponselnya dan menekan kontak Jungsoo. Maklum, ia lumayan repot karena harus menyamar di tempat keramaian seperti ini. Tidak tanpa alasan dia harus repot-repot memilih tempat ini, Donghae sedang menunggu Jessica datang.

Yeoboseyo? Manager Park, bisakah aku memintamu mengecek satu data dan tolong..”

Eotteohkee?? Yoona eonni masih belum bisa dihubungi!!”. Teriakan Suzy yang kencang di seberang sana langsung bisa terdengar oleh Donghae.

Donghae terhenyak. Yoona?

“Kenapa dengan Suzy? Ada apa dengan Yoona? Ani, maksudku Manager Im?” tanya Donghae panik karena mendengar teriakan khas Suzy kalau sedang khawatir.

“Ah, Manager Im tadi tidak sengaja mengambil kunci mobil Kibum. Seharusnya, dia mengambil kunci mobilku. Mobil Kibum sedang rusak saat ini, karena itu kami semua panik ketika tahu Yoona menggunakan mobil yang bisa saja mencelakakannya setiap saat.” terang Jungsoo berusaha tenang.

Pegangan Donghae mengerat pada ponselnya. Tak sadar, emosinya juga ikut bergejolak. Khawatir, kalut, panik. “Moseun soriya!! (Omong kosong apa ini!)”  Tak sadar, Donghae berteriak marah.

Pandangannya tak sengaja jatuh ke atas tabletnya yang sedang menampilkan berita online terbaru. Matanya membelalak kaget ketika melihat kolom Breaking Newsnya. Tangannya dengan cepat membuka kolom itu.

BREAKING NEWS!!

TELAH TERJADI KECELAKAAN YANG CUKUP PARAH DI PAJU, TEPATNYA DI KM 90 SEBELUM MEMASUKI DAERAH KOTA YADONG. SEORANG WANITA DENGAN UMUR 20 TAHUNAN DIKABARKAN MENJADI KORBAN

“Kemana dia pergi?” tanya Donghae dengan suara bergetar. Matanya memandang nanar berita itu.

“Daerah Paju, Kota Yadong.” jawab Jungsoo pelan.

Brak..

Kursi yang diduduki Donghae langsung terjungkal ke belakang karena pemuda itu berdiri dengan kasar.

Tak ambil tempo, Donghae langsung pergi meninggalkan kafe itu. Tak memikirkan apapun selain kemungkinan terburuk akan apa yang mungkin terjadi pada Manager Im – orang yang secara tidak sadar, ia cintai dengan sepenuh hatinya. Jika ia tidak menyukai Yoona, kenapa juga level kepanikannya sampai sejauh ini? Sampai separah ini?

Hanya hubungan sebatas seorang artis dengan managernya? Donghae bahkan sudah benar-benar tidak yakin pada dirinya sendiri. Jikalau hanya perasaan sebagai partner kerja, paling-paling dia masih akan disini, berdiam diri, mendoakannya dan akan menjenguknya di rumah sakit nanti. Dan masih akan disini, menunggu seseorang yang lebih penting, yang punya janji dengannya.

Tapi, pikiran Donghae yang kacau benar-benar langsung melupakan, bahwa saat ini, dia menunggu disini, untuk bertemu dengan Jessica.

Donghae turun dari lantai 2 dan langsung lari dengan kecepatan penuh keluar, tanpa menyadari ia melewati Jessica yang hendak masuk. Gadis itu tentu saja benar-benar terkejut melihat Donghae melewatinya begitu saja dengan raut panik.

“Donghae-ya!! Donghae-ya!!” panggil Jessica kencang. Percuma, telinga dan mata Donghae benar-benar sudah dibutakan oleh kepanikan yang teramat sangat.

Jessica mengeratkan genggamannya, membuat surat itu sedikit demi sedikit terus menjadi lusuh.

Eotteohke, Donghae-ya? Bagaimana bisa aku memberitahu semuanya jika terus ada hal-hal tak diinginkan seperti ini?” gumam Jessica sedih.


Siwon terus memacu kecepatan sepeda motornya tanpa mempedulikan keselamatannya sendiri lagi. Di pikirannya hanya ada satu. Bagaimana caranya ia bisa menemukan Yoona secepatnya. Secepatnya, bagaimana pun juga.

Di sisi lain, Donghae juga terus memusatkan perhatiannya ke depan, berusaha menyalip mobil-mobil yang menurutnya begitu lambat padahal kecepatan mobilnya sendiri lah yang abnormal. 180 km/jam di jalanan biasa. Untung saja, jalanan sudah tidak terlalu padat.

Donghae menekan klakson berkali-kali dengan tidak sabar. Emosinya benar-benar tidak keruan sekarang. Semuanya bercampur aduk. Rasa yang sama juga dirasakan oleh Siwon. Kedua pemuda itu kalut tidak keruan, takut kehilangan gadis yang sama-sama mereka cintai.

Hujan turun dengan deras. Membanjiri bumi tanpa ampun.

Kedua pemuda itu sedang kalut dan sama-sama sedang berusaha menuju Im Yoona, gadis yang mereka sukai. Kedua pemuda itu seolah berpacu, berlomba terhadap lawannya masing-masing.

Siwon terkejut dengan datangnya hujan yang mendadak. Siwon tidak peduli, tidak ada artinya basah kuyup seperti ini asalkan dia bisa melihat Yoona selamat terlebih dahulu. Bersikap masa bodoh, Siwon malah terus memacu kecepatan motornya secepat yang motor antiknya bisa. Tak peduli, dinginnya air hujan yang mulai menusuk tulangnya.

Hujan.

Itu juga yang menimpa Donghae.

Hujan, trauma terbesar Donghae.

Donghae tidak peduli sama sekali. Nampaknya, ia bahkan tidak bisa memikirkan traumanya saat ini. Pikirannya kini hanya dipenuhi bayang-bayang Im Yoona dengan senyuman manis dan juga nada suaranya yang kini ia sadari, selalu membuatnya tenang. Tempatnya untuk melepas semua kelelahan, hanya dengan mendengar suara lembutnya. Yang mungkin saja, tidak akan bisa ia temui lagi besok dalam keadaan sebagaimana mestinya.

“Kau tahu, menulis surat bisa lebih menyampaikan perasaanmu dibandingkan dengan menyatakannya langsung?”.

Donghae masih ingat betul, Yoona yang menemaninya kala itu ketika mereka berusaha membuat konsep MV yang sempurna. Hanya mereka berdua. Senyuman cantik itu bertengger setiap kali Donghae tak sadar memperhatikan Yoona. Sempurna.

“Kau harus makan secara teratur agar tidak sakit. Ini, makan siangmu..”

“Gwaenchanha, Donghae-ssi… Ini hanya hujan biasa.. Kita baik-baik saja..”. Bayangan Yoona yang memayunginya dengan jaket di tengah hujan deras itu kembali terputar bagaikan film. Yoona yang sepertinya selalu melindunginya, merawatnya, menjaganya, tanpa ia sadari. Mata Donghae mulai berkaca-kaca.

“Kau tidak bisa melakukan hal dengan benar! Satu pun!”. Donghae memejamkan matanya menyadari betapa memalukannya ia ketika baru saja bertemu dengan Manager Im. Selalu menghujat apapun yang dilakukan Yoona.

“Siapa kau!!”.

Donghae bahkan masih bisa mendengar gemaan jerit hati keputus asaannya ketika ia mencegat Yoona di penyebrangan jalan, ketika ia mengira Manager Im mengatakan hal yang sama ketika lampu pejalan kaki menjadi warna hijau, ‘Gasioda! (Ayo jalan!)’

Detik itu juga, Donghae benar-benar mengakui jika hatinya telah diambil oleh Yoona separuhnya. Atau malah mungkin sepenuhnya. Donghae menekan pedal gasnya sedalam yang dimungkinkan, bagaimana pun juga, ia harus menemukan Im Yoona.

“Apakah kau yakin, kau tidak mempunyai perasaan apapun kepada Im Yoona?”

Pertanyaan Siwon yang satu itu langsung mengambang dalam benaknya. Mencampur adukkan emosinya menjadi lebih buruk lagi. Pertanyaan yang kini, bisa ia jawab dengan sedikit lebih yakin.

Ya, aku mencintainya, Siwon-ssi. Apakah kau masih mau mencari kelemahanku?, bisik Donghae tercekat kini.

Tak sadar, air matanya meleleh perlahan. Hatinya hancur seketika menyadari kemungkinan terburuk sekarang sudah ada dekat di depan matanya. Yang mungkin saja merenggut seseorang yang baru saja – ia sadar – dicintainya.

Dan mungkin, ia takkan mempunyai kesempatan untuk mengatakan segalanya. Mengungkapkan semuanya dengan jujur kepada Yoona.

Kalau sekarang, hatinya sudah berlabuh dengan damai ke dalam hati gadis lembut nan cantik itu, Im Yoona.

Donghae langsung berlari turun ketika melihat kerumunan orang di KM 90 seperti apa yang dikatakan dalam berita. Satuan kepolisian yang memakai raincoat warna kuning neon tampak sedang mengecek kondisi mobil, menanyai penduduk sekitar, dan masih banyak lagi. Suasana malam yang benar-benar bertambah kelam dengan derasnya air hujan, sungguh membuat batin Donghae semakin tersiksa.

Mobil yang ditumpangi Yoona memang ringsek bagian depannya. Dan posisi mobil sudah naik ke atas trotoar hingga akhirnya berhenti menabrak sebuah tiang listrik. Pemandangan itu membuat Donghae semakin kehilangan akal sehatnya.

“Dimana pengemudi mobil ini?” tanya Donghae tidak sabar. Ia diabaikan oleh polisi itu.

“DIMANA PENGEMUDINYA??” teriak Donghae yang mulai lepas kontrol diri.

“Siapa Anda?” tanya polisi itu balik. Donghae mencengkram kerah polisi itu lalu mengangkatnya beberapa senti dari tanah. Matanya yang melotot kini benar-benar menggambarkannya sebagai artis yang temperamen. Donghae yang terkenal sangat menyeramkan jika sedang marah. Marah besar.

“APAKAH PENTING SIAPA AKU SEKARANG DALAM KEADAAN GENTING SEPERTI INI?! AKU MENANYAKAN SOAL KEBERADAAN PENGEMUDINYA SEKARANG! APAKAU KAU MENDENGARKU?!” Amarah Donghae sempurna meledak. Menumpahkan semua emosi yang campur aduk sedari tadi terpendam dalam hatinya. Pemuda itu bahkan terengah-engah setelah berteriak marah. Membuat kaget para warga dan segelintir wartawan yang di bawah payungnya sedang dimintai keterangan.

“Donghae-ssi?”

Donghae terdiam seketika. Matanya nyalang mencari sumber suara. Berharap ini bukan halusinasinya saja karena terlalu panik.

“Donghae-ssi?”. Suara lembut dan bergetar itu sekali lagi memanggil Donghae.

Kepala Donghae sempurna tertoleh ke kanan mendengar asal suaranya.

Disana, berdiri Yoona yang tampak ketakutan seraya memegang payung bening yang melindunginya dari bulir hujan. Dengan wajah yang cemang-cemong dengan beberapa oli yang terciprat di wajahnya. Mungkin Yoona sudah berusaha memperbaikinya sebelum akhirnya mendapat tabrakan kecil karena mesinnya sudah tidak kuat. Lapisan debu tipis juga tampak menyelimuti wajahnya, mungkin karena asap yang mengepul tebal dari mesin sudah benar-benar parah tadi.

Yoona terlihat begitu shock. Siapa yang menyangka seorang superstar seperti Donghae, berteriak-teriak seperti kesetanan hanya mencarinya, yang notabene hanya managernya yang suka sekali dimarah-marahi saja, di bawah hujan deras pula.

Donghae tidak tahu harus bereaksi seperti apa, yang jelas, suara Yoona yang menyapanya membuatnya lega bukan main.

Donghae langsung berlari ke arah Yoona, membuang payung gadis itu dan memeluknya erat. Yoona membelalakkan matanya. Apa yang terjadi?

Jantung gadis itu berdentam-dentam sangat kencang, membuatnya sesak napas, darahnya berdesir hebat, karena pelukan Donghae yang erat benar-benar tidak pernah ia bayangkan, akan pernah ia rasakan sendiri.

Pelukan erat yang sangat hangat dan membuat hatinya sedikit lebih merasa aman.

“Donghae-ssi?” Yoona benar-benar tidak tahu harus berkata apa selain memanggil nama pemuda itu – pemuda yang selalu berhasil membuatnya menangis dan bahagia hanya dalam kurun waktu yang singkat.

Yoona berusaha melepaskan pelukan Donghae karena nampaknya, warga yang berkumpul semakin banyak karena menyadari Donghae – si superstar – sedang ada disini, dan lebih parahnya lagi memeluk seorang gadis dengan erat di bawah hujan. Sepertinya, wartawan koran biasa sudah mulai memanggil wartawan infotainment sejak melihat kedatangan Donghae.

Hanya tinggal masalah waktu, mereka akan datang bagaikan semut mengerubungi gula. Santapan lezat untuk berita hangat esok pagi.

Sangat dramatis. Skandal yang akan sangat dramatis.

Donghae melepaskan pelukannya. Kini, memegang bahu Yoona erat-erat, sepertinya, lagi-lagi, Donghae tidak bisa menahan emosinya sendiri. Matanya yang tajam menusuk ke dalam lubuk hati Yoona. Menyeramkan, tapi banyak sekali sirat kekhawatiran di dalam sana.

Babo-ya?! Apakah kau sudah gila? Bagaimana bisa kau dengan konyolnya salah mengambil kunci mobil orang seperti itu? Apakah kau tidak berpikir jika sesuatu yang mengerikan bisa saja terjadi padamu?!” teriak Donghae marah di depan Yoona. Gadis itu terhenyak. Apakah tujuannya hanya karena ini?

Aniyo. Aku sama sekali tidak memikirkannya. Geunde, apakah kau baik-baik saja? Hujan turun sangat deras sekarang, bagaimana bisa kau mengemudi sampai kesini?” teriak Yoona juga karena suaranya sudah sangat lemah untuk melawan kuatnya suara hujan.

Donghae terkesiap. Pandangannya seketika kosong. Benar, bagaimana bisa aku menyetir sampai kesini?

Cengkraman erat Donghae di bahu Yoona langsung mengendur. Yoona masih terus terpana, tidak percaya siapa yang sedang berdiri di hadapannya. Dasar gadis polos.

“Ya ampun!! Kau basah kuyup! Payungkuu!!” pekik Yoona panik sendiri setelah sadar dari khayalannya. Gadis itu bergegas mengambil payungnya yang tertiup angin setelah jatuh tadi cukup jauh.

Donghae tercenung. Apa yang baru saja terjadi kepadaku?

“Kau benar-benar baik-baik saja? Kau basah kuyup seperti inii.. Ya ampun, ini salahku. Jadwal comebackmu masih ada beberapa lagi.” omel Yoona panik seraya kembali memayungi dirinya dan juga pemuda di hadapannya. Donghae terdiam, menatap Yoona, menyatakan seribu kebingungan dalam siratnya.

Ani, tapi, aku masih bingung bagaimana kau..”

Mollayo.. (aku tidak tahu)” potong Donghae lemah. Matanya memandang kosong Yoona kini.

“Aku tidak tahu… jika hujan sudah turun sedari tadi..” bisik Donghae pelan.

YEYY!! I’M BACKK!! HONESTLY THIS IS MY FAV PART IN THE DRAMA ❤ What do you think? Please leave you comment also vote on my stories 😉

Thanks!

XOXO, Euri 😀

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s