겨울 사랑 [Winter Love] – 사 (Four)

ir-req-winter-love-e1505472182432

Title: 겨울 사랑 [Winter Love]

Cast: Im Yoona, Lee Donghae, Choi Siwon, Bae Suzy

ParkSeungRiHae storyline present

Poster by: @IRISH Poster Channel

Annyeong hasimnikka!! FF ini merupakan semacam songfict sebenernya, cuma aku gatau ini beneran songfict apa ga.. (?) Soalnya, dasar cerita ini emang dari lagu ‘Winter Love’ nya Donghae sama Eunhyuk buat fans sebelum mereka masuk wajib militer.

Lagu ini artinya dalemm bangett makanya Euri terisnpirasi buat bikin FF dari lagu ini.. Jadi, mungkin bisa disebut songfict kali yaa cuma dalam bentuk chapter dan ditambahin imajinasi liar yang lain :v

DON’T BE SIDERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa tinggalkan komentar kalian bisa berupa kritik, saran, ungkapan hati kalian juga boleh (?) hehe.. Pokoknya comment juseyo!

HAPPY READING ^^

Preview: Prolog– 

“Siwon-ah.. Bagaimana jika kita berjalan-jalan ke pinggir Sungai Han hari ini?”

Siwon hanya mengangguk dalam diam. Suzy tersenyum senang di sampingnya. Ia merebahkan kepalanya manja di lengan pemuda itu. Hatinya senang bukan kepalang bisa memiliki pemuda sesempurna Siwon seperti ini.

“Siwon-ah..”

“Emm..”

“Kenapa kau tampak agak muram hari ini?”

“Ah, ne?”. Siwon baru tersadar dari lamunannya. Tatapan Suzy yang khawatir di depannya membuat tiba-tiba satu memori di kepalanya berputar cepat.

Pertemuan yang mengguratkan sebuah takdir baru dalam kehidupannya. Takdir besar yang benar-benar mengubah hidupnya.

“Dimana aku?” lirih Siwon bingung. Di atasnya, ia hanya dapat melihat langit-langit putih bersih. Serta bau obat yang menusuk penciumannya tajam. Pemuda itu berusaha bangkit namun gagal karena detik berikutnya ia merintih kesakitan ketika pelipisnya terasa sangat ngilu. Membuatnya pusing dan pandangannya sedikit berputar-putar.

Bola matanya berusaha melirik ke kanan dan kiri, melihat keadaan sekelilingnya melalui sudut mata, itupun dengan susah payah karena ia merasakan rasa sakit dan ngilu yang luar biasa hebat.

“Ah! Dia sudah bangun..”. Pekikan lembut seorang gadis membuat Siwon terkejut. Siapa yang ada disini?

Tap.. tap.. tap..

“Are you alright?” tanyanya terputus-putus menggunakan Bahasa Inggris yang agak belepotan diselingi cengkok asli orang Korea. Mau tak mau, Siwon tersenyum tipis melihat gadis di depannya terlihat begitu khawatir. Manik mata hitam legamnya yang indah selaras dengan paras cantik yang dimilikinya, namun di dalam matanya itu pula tersirat kekhawatiran teramat sangat.

“I’m so sorry. Aish.. bagaimana aku menjelaskannya ya?? Apa bahasa Inggrisnya?” Gadis itu lalu buru-buru mengambil sebuah kamus saku dari dalam tasnya dan mencari beberapa kata yang mungkin ia butuhkan.

Sampul bertuliskan ‘Kamus Korea-Inggris’ menyatakan dengan jelas identitas gadis di hadapannya yang tak lain juga orang Korea.

“Gwaenchanha..” ucap Siwon pelan yang langsung disambut membulatnya bola mata gadis itu, terkejut mungkin.

“Ah.. Kau mengerti bahasa Korea juga?” tanyanya heran.

Siwon mengangguk. Gadis itu masih tercenung heran. Pemuda di hadapannya memang mempunyai raut orang Korea yang membuatnya semakin tampan. Tapi, apakah dia benar-benar orang Korea asli?

“Tapi, namamu Andrew..”

“Andrew?” ulang Siwon kebingungan. “Sebentar..”. Siwon memejamkan matanya rapat-rapat berusaha mengingat hal sepele itu, namanya.

“Oh, ayolah! Bekerja!!”. Siwon memukul samping kepalanya dan malah sukses membuatnya meringis kesakitan. Kepalanya langsung terasa pusing. Kenapa kepalaku sama sekali tak mengingat apapun?, desahnya panik.

“Ini..”. Gadis itu menyodorkan sebuah kartu. Kartu pelajar. “Namamu Andrew Choi..”. Siwon membulatkan matanya.

“Andrew Choi?”. Siwon menatap kartu pelajarnya sendiri dengan kaget seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. “Bukan.. ini bukan namaku..” protesnya. Gadis di hadapannya mengerutkan dahi heran.

“Mianhamnida.. Tapi, aku mengambil ini dari dompetmu, Tuan, ani, Siwon-ssi.. Lebih enak memanggilmu seperti itu. Lagipula, ini dirimu bukan?” Gadis itu menunjuk foto Siwon yang terpampang di sudut kiri kartu pelajar.

“Lalu kenapa aku bisa ada disini?” tanya Siwon bingung. Ia menatap tangan kanannya yang sebagian diperban putih.

Gadis itu membelalakkan matanya kaget. Lalu manik matanya bertambah khawatir. “Kau tidak mengingat apapun sebelum ini?”

Siwon menggeleng cepat. “Kau ingat apa yang kau lakukan hari ini sebelum kau ada disini?”

Siwon menggeleng lagi.

“Kau tahu siapa nama orangtuamu?”

Siwon tertegun. Orangtua? “Ah, itu..”

Oh, ayolah!! Seharusnya aku mengingatnya, ayo Choi Siwon!!! Andwaee ada apa ini??, tangisnya dalam hati mendapati otaknya sama sekali tak bisa mengingat apapun.

Gadis di depannya kini benar-benar yakin. “Kau tidak ingat?”

Siwon menggeleng lemah.

“Kau.. ah, tadi aku tidak sengaja menabrakmu, lalu karena aku mengerem mendadak, ada mobil dari arah lain yang hendak menyalip menjadi terkejut dan juga menabrakmu cukup keras. Maafkan aku..”. Gadis itu membungkukkan badannya berkali-kali. Melihat Siwon bergeming seolah terkesima dengan apa yang dikatakan gadis itu, gadis itu malah bertambah panik. Ia malah sampai bersujud, seperti layaknya memberikan penghormatan kepada orangtua di tahun baru, di depan ranjang rawat Siwon.

“Siapa namamu?” tanya Siwon mendadak.

“Ne?”

“Ireum.. nama..”

“Bae Suzy imnida..”

Siwon menatap lekat-lekat mata Suzy yang penuh dengan rasa khawatir. Kenapa sampai ada malaikat seperti dia yang menabrakku? Siapa sebenarnya aku sekarang? Kenapa aku tidak bisa mengingat apapun?

“Suzy-ssi, bisakah kau membantuku memulihkan kembali ingatanku?”

“Ne?”. Suzy mengerutkan dahinya tak mengerti. “Bantu aku memulihkan ingatanku.”

“Tapi, bagaimana bisa?”

“Kau harus melakukan segala usaha untuk membantuku. Dihitung-hitung sebagai hukuman kelalaianmu.” ucap Siwon ringan. Namun, gadis bernama Suzy itu langsung mendelik. “Animnida. Aku tidak bisa melakukannya.”

“Kumohon…”. Siwon menujukkan tatapan memelasnya yang membuat hati Suzy seketika itu juga luluh. Oh ya ampun, Suzy.. Kau beruntung sekali menabrak seseorang yang tampan sepertinya..

“Baiklah. Aku akan membantumu.”

Senyuman dua senti Siwon mengembang. “Baiklah. Terima kasih. Datanglah besok pukul 7.”

Suzy mengangguk ragu. “Dimana alamatmu? Siapa tahu aku bisa membawakan barang-barangmu..”

Siwon tersenyum kecut. Untuk pertanyaan ini, dia juga tidak bisa mengingatnya sama sekali. Percakapannya dengan Suzy sekarang bahkan bagaikan memori pertama yang bisa ia kenang.

“Ah, kartu pelajarmu..”. Suzy buru-buru mengambil kartu pelajar Siwon yang diletakkan di nakas samping tempat tidur. Dahinya langsung berkerut melihat alamat tempat tinggal Siwon.

“Kau anak Bibi May?”

“Bibi May?”

“Ya, dia pemilik mansion kecil ini. Seingatku dia hanya tinggal sendiri. Dan tidak pernah menyewakannya pada orang lain.”

“Aku tidak ingat apapun. Maafkan aku..” lirih Siwon sedih. Sungguh, apakah seluruh ingatannya menghilang? Apakah ada kenangan yang seharusnya tetap aku ingat?

Gwaenchanha?” ulang Suzy sekali lagi melihat pandangan Siwon malah semakin kosong. Pikirannya kini berganti dipenuhi dengan satu sosok gadis yang tiba-tiba memanggilnya di Dongdaemun tempo hari dan menangis di depannya sejadi-jadinya.

Kenapa dia tadi ada disana?

“Apakah ada yang sedang kau pikirkan?” tanya Suzy hati-hati kala Siwon sama sekali tidak merespon perkataannya. “Ani. Aku hanya sedang bingung. Kenapa rasanya aku pernah mengenal gadis yang tadi duduk di samping penggemar beratmu itu?”

“Bukankah dia yang tempo hari menangis sembari memanggil namamu di Dongdaemun itu?”

“Ya, aku tahu itu. Tapi, aku merasa telah mengenalnya lebih lama dari itu. Ketika aku menatap ke dalam matanya lebih lama lagi.”

Perasaan tidak enak segera menyelinap ke dalam lubuk hati Suzy. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul. Suzy sama sekali tidak berprasangka buruk pada gadis itu, namun perasaan ini muncul begitu saja.

Suzy memang sempat melihat sirat luka di mata gadis yang ditemuinya lagi tadi pagi di kelas. Luka yang begitu dalam dan tak terperi. Masalahnya sekarang adalah Suzy tidak tahu apa penyebabnya. Tapi mata gadis itu seolah berbicara bahwa dirinyalah yang menjadi penyebab semua luka itu.


“Kau baik-baik saja?”

Yoona berjalan pelan menyusuri pinggir Sungai Han dengan kepala yang terus tertunduk. Hembusan angin sedari tadi memainkan surai panjangnya yang menutupi wajahnya. Pemuda di sampingnya tak henti-hentinya menatap Yoona dengan khawatir. Ya, siapa lagi jika bukan Donghae.

Pemuda itu merasa Yoona sedikit berbeda hari ini. Semangat cerianya hilang lenyap bak ditelan bumi. Ketika ia bertanya kepada Miyoung ada apa, gadis itu berbisik khawatir kepadanya.

“Siwon baru saja pindah ke sekolah ini dan dia satu kelas dengan kami! Bersama Bae Suzy pula! Mereka bagaikan raja dan ratu sekolah kita sekarang. Aku kira, Siwonlah yang menjadi penyebab kemurungan Yoona sekarang.”

Donghae mengerti. Masalah utamanya adalah Siwon bersama Suzy sekarang. Ya, gadis yang berada di samping Siwon tempo hari bernama Suzy itu cukup membuat Yoona bak tercabut nyawanya seketika.

“Yoong.. Jangan membuatku khawatir seperti ini. Kumohon..”

Yoona menghentikan ayunan langkahnya. Gadis itu mendongakkan kepalanya. Donghae terkejut melihat banyaknya jejak air mata di wajah gadis yang disayanginya itu.

“Kenapa kau menangis?” tanya Donghae sedih. Yoona menggeleng menolak memberitahu. Donghae benar-benar merasa putus asa sekarang. Ingin rasanya dia juga menangis sekarang.

“Kenapa kau tidak bisa melupakannya, Yoong?! Kumohon, apakah kau tidak bisa mengganti posisinya dengan kehadiranku di sampingmu?”. Donghae mencengkram bahu Yoona kuat-kuat dan mengguncangkannya beberapa kali. Yoona sama sekali tidak terpengaruh. Sorot matanya tetap kosong. Seperti tak bernyawa.

“Hae..”

Nada penuh luka itu seketika membuat Donghae bungkam. Iris matanya mulai memancarkan rasa takut yang teramat kuat. “Ne?”

“Aku…”

Donghae menahan napasnya sendiri kala Yoona memaku pandangannya. Betapa banyak luka dalam yang terpampang jelas disana. Luka yang selama ini belum pernah Donghae lihat. Kilat kesakitan yang amat sangat, yang membuat Donghae menjadi getir.

“Aku rasa aku tidak bisa membuatmu terus terluka seperti ini.”

Donghae merasakan langit serasa runtuh langsung menimpanya. Menimbulkan rasa sesak yang tak terkira. Sakit sekali. Donghae diam menunggu Yoona kembali melanjutkan kata-katanya.

“Aku ingin mengakhiri semuanya.”

Deg.

Jantung Donghae seperti langsung jatuh ke dasar lambung. Batinnya benar-benar tidak bisa menerima keputusan Yoona yang amat sangat mendadak. Walaupun Donghae sudah bisa menebak kejadian hari ini akan terjadi juga, hatinya masih belum siap.

Sama sekali.

“Kau mudah sekali mengatakannya.” ucap Donghae serak seraya tersenyum pahit. Yoona menelan ludahnya. Mengatakan hal ini juga bukan hal yang mudah baginya. Ia tak sanggup melihat gurat kesakitan di mata Donghae. Gurat yang sama seperti apa yang terus dimilikinya ketika Siwon pergi. Atau malah mungkin selamanya.

“Aku bahkan sudah mencintaimu lebih dari yang kau tahu Im Yoona. Apakah kau tidak ingat?”

Yoona menggeleng kuat. “Aku bersumpah tak pernah mengenal dirimu lebih dari ini, Hae..”

Donghae tersenyum miris lagi. Menatap Yoona seolah berkata kau-benar-benar- melupakannya?

Seketika itu juga, memori itu mengambang ke permukaan. Yoona menutup mulutnya sendiri untuk tidak berteriak kaget.

Salju..

Salju itu kembali datang. Seorang gadis kecil dengan riang berlari-lari di sepanjang jalan raya yang terlapisi oleh es tipis. Membuatnya tampak mengilat, memperingatkan kepada para penggunanya untuk lebih berhati-hati.

Topi rajut warna krem lembut, sarung tangan berwarna merah muda dengan sulaman bunga-bunga kesukaannya, membuat paras gadis kecil itu tampak sempurna cantik dan menggemaskan.

Di tangan kanannya, satu buah kantung plastik kecil berisikan tteobeokki hangat kesukaannya membuat gadis kecil itu terus mengumbar senyumnya. Manik matanya bersinar-sinar menatap bungkusan itu. Seolah ia baru saja mendapatkan jackpot.

Bruk..

Kantung itu jatuh tergeletak mengenaskan di sampingnya. Ia meringis kesakitan seraya mengusap pantatnya yang berbenturan cukup keras dengan trotoar beku di bawahnya.

“Ya!! Lihatlah! Tteobeokki ku jatuh!! EOMMA!!!”. Gadis kecil itu langsung meraung sejadi-jadinya melihat apa yang telah terjadi. Seorang laki-laki cilik di depannya terlongong. Tidak menyadari bahwa keteledorannya membawa dampak yang sangat besar dan gawat.

Mata lembut gadis itu berubah garang menatap bocah laki-laki di depannya dengan galak. “Neo! Kurang ajar sekali!! Lihatlah.. Aduh, aku susah payah membelinya di ujung jalan!! Dan lihat! Sarung tanganku menjadi kotor karenamu!” teriaknya tanpa putus. Bocah laki-laki di depannya bergeming. Bingung sebaiknya melakukan apa.

“Mianhamnida..”. Bocah laki-laki itu meringis ketakutan melihat gadis cilik di hadapannya menatap penuh benci.

“Gantikan makananku!” bentaknya tak sabar. Bocah laki-laki itu mengeryit. “Aku tidak membawa uang..”

“Aish, aku tidak peduli..”. Gadis itu sudah sempurna berdiri di hadapannya. Sedikit lebih tinggi. Tangannya terulur di depan hidung si bocah laki-laki yang belum pernah ia kenal itu. Sifat agak premannya muncul.

“Aku hanya punya ini..”. Dengan polosnya, bocah laki-laki itu mengangkat kantung plastiknya yang berisikan beberapa snack kecil. Sekali sabet, gadis cilik itu langsung mengambilnya. Membuat bocah laki-laki itu kembali terlongong.

“Kau bisa menggantinya sementara dengan ini. Ya ampun, gara-gara dirimu aku kehilangan uang jajan terakhir musim dingin ini. Besok aku harus sudah masuk sekolah..” ocehnya marah tetapi nampak lucu karena pipinya yang bersemu kemerahan seperti tomat.

Bocah laki-laki itu tersenyum sedikit. “Siapa namamu?” Itu kalimat kedua yang terlontar dari mulutnya setelah si gadis mengoceh panjang lebar. Sontak kicauan gadis kecil itu berhenti. Matanya yang bulat lucu itu menatap si bocah laki-laki kaget.

“Ada apa memangnya? Kau ingin mengadukan aku?” tanyanya galak. Ia menggeleng.

“Aku hanya ingin tahu.” ucap si bocah laki-laki mengendikkan bahunya.

“Im Yoona. Dan kau?”. Matanya yang bulat itu menatap si bocah laki-laki menyelidik.

“Aku Lee Donghae.”

“Donghae? Laut Timur?”

Bocah laki-laki itu mengangguk. “Aku menyukai laut. Dan juga hujan.” tambahnya tanpa diminta.

Gadis cilik itu mengerucutkan bibirnya. Matanya membulat sedikit kala melihat jam tangan mungil berwarna pink di tangannya sudah menunjukkan waktu makan malam. “Aku harus pergi. Jangan lupa gantikan tteobeokki ku..”

Gadis kecil itu meninggalkan dia sendiri seperti itu saja. Sejenak, pandangan si bocah laki-laki tak bisa lepas dari bayangnya. Sungguh ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya terkesima. Rasa yang aneh menjalari tubuhnya. Sebuah perasaan bahagia membuncah dalam dirinya. Suatu hal yang belum pernah dia rasakan.

“Kau tidak ingat?” tanya Donghae memecah lamunan Yoona yang sedari tadi mendengarkan ceritanya yang panjang lebar itu dengan pikiran yang melantur kemana-mana.

Yoona menggeleng lemah. Ia ingat sebagian kecil akan peristiwa itu. Tapi, apakah semua ini omong kosong? Hanya karena kejadian itu lalu Donghae menaruh hati padanya? Mereka bahkan belum menginjak bangku SMP waktu itu. Hanya anak kelas 4 SD yang masih polos dan lucu.

Dan yang terpenting.. Belum mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya.

“Apakah hanya karena itu kau ingin mencegahku untuk mengakhiri semua ini?”. Yoona angkat bicara setelah Donghae terus saja membelokkan arah pembicaraan mereka. Yoona tahu, pemuda ini pasti akan tidak bisa menerimanya. Tapi, Yoona juga tahu, kebohongan yang ia buat selama ini sungguh membuat dirinya merasa lelah.

Tak sedetik pun, relung hatinya, celah hatinya yang masih kosong bisa terisikan oleh bayang-bayang Donghae. Siwon. Hanya Siwon yang bisa membuat hatinya bahagia kembali.

Kenapa takdir begitu kejam?

Memisahkan mereka lalu membuat salah satu dari mereka melupakan masing-masing? Melupakan seluruh kenangan di baliknya? Apakah takdir baru memang harus diguratkan?

“Kenapa kau masih saja keras kepala mempertahankan perasaanmu itu, Yoong? Kau sudah tahu mereka telah bertunangan. Lalu apa lagi yang bisa kau harapkan? Dengan begini kau tahu mereka saling mencintai.” nasihat Donghae putus asa. Ia menggenggam tangan Yoona yang langsung ditepis oleh gadis itu dalam satu detik.

“TIDAK! AKU TIDAK AKAN MENERIMA SEMUA INI! AKU YAKIN SIWON TETAP MENJADI TAKDIRKU! DENGARKAH KAU?” teriak Yoona kalap. Donghae meneguk ludahnya. Apa ini?

Yoona bagaikan orang gila yang kehilangan akalnya. Ia tertawa sinis sendiri berkali-kali. Tak bisa dihentikan. Donghae panik.

“Yoong! Sadarlah!”

“HAHAHA BIARKAN AKU SENDIRI! AKU SUDAH TIDAK SANGGUP MELIHATNYA LAGI! BIARKAN AKU PERGI!!”. Yoona berlari menyusuri pinggir Sungai Han dan pergi ke hilir. Donghae dengan perasaan takut yang mencengkram kuat batinnya, mengikuti setiap langkah Yoona tanpa henti.

Tidak, tidak, kumohon jangan lakukan tindakan bodoh!

Shit!, Donghae memaki kala melihat Yoona malah melakukan hal yang sangat ia takuti. Gadis itu mulai berjalan menuruni lereng kecil yang menuju ke dalam sungai.

“Yoong!! Jangan nekad!!” teriak Donghae bagaikan orang kesetanan kini.

Byur!!

Donghae beberapa detik terlambat di belakang gadis itu. Gadis itu menenggelamkan dirinya ke dalam sungai. “Andwae!”.

Byur!!

Suara tercebur kedua yang amat keras itu mulai membuat beberapa warga yang melintas teralih perhatiannya. Jujur saja, mereka pasti kaget.

Donghae putus asa mengayuh kedua kakinya secepat ia bisa. Ia melemparkan tangannya sejauh mungkin untuk bisa lebih cepat menggapai badan yang dibiarkan terapung oleh nyawa pemiliknya. Gadis ini benar-benar kehilangan akal sehatnya.

Matanya nyalang berusaha mengikuti tubuh Yoona yang terbawa arus. Mata lembut itu kini terpejam, menyeramkan bagi Donghae. Pemuda itu sungguh tak ingin kehilangan gadis satu-satunya yang pernah ia cintai. Sampai kapanpun. Bahkan jika takdir tidak mengizinkan, dia akan tetap selalu mencintainya.

LEAVE SOME TRACE JUSEYO!!

LUV LUV, EURI ❤

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s