[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #16.

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Cast: Lee Donghae, Im Yoona, Choi Siwon, Jessica Jung

Poster by: @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

*Author’s POV

*@NCT Entertainment

“Wahh.. aku kesal sekali.”

“Aku lebih gila dibandingkan sebelumnya.”

“Bisakah kau membayangkan bagaimana Lee Donghae kemarin malam memarahiku karena aku salah membawakan kopinya? Menyebalkan sekali, padahal dia sendiri yang telat sehingga aku harus mengurus masalah lain yang ia sebabkan.” gerutu Suzy mencak-mencak di depan kerumunan para pegawai yang sibuk membicarakan acara comeback Donghae semalam.

Yoona yang baru datang menaikkan sebelah alisnya mendengarkan segala omelan dan juga komentar miring tentang Donghae. Yoona mengerti kenapa mereka marah-marah, tapi yang membuatnya tidak setuju adalah mereka tidak tahu apa yang sebenarnya bisa terjadi jika saja Donghae memaksakan dirinya sendiri terlalu keras.

Nyawa artis muda itu mungkin saja bisa melayang dengan mudahnya.

“Aish, ingin sekali aku berkata ini di depannya, ‘ya! bukankah seharusnya kau tepat waktu?’” Kibum berceloteh mengejek seraya menirukan gerakan khas Donghae. Yoona mengepalkan tangannya sendiri. Walaupun Donghae bukan siapa-siapanya, tetap saja, mendengar sahabatnya diejek seperti itu, Yoona tidak bisa menerimanya.

Siwon yang berada di tengah kerumunan itu menyadari perubahan arus emosi Yoona. Ia menaikkan alisnya sebelah karena mengakui mungkin akan ada letusan perkelahian disini.

“Hei, apakah ada yang mau main game denganku? Untuk menentukan siapa yang pergi ke lobi untuk membeli kopi?” seru Siwon dengan raut jenakanya berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang membuat Yoona ‘panas’ itu. Tapi, sepertinya itu tidak berhasil.

“Eii.. karena dia, waktu utama untuk menampilkan agensi kita diambil alih oleh Eunhyuk. Bagaimana bisa kita mengalahkannya kali ini jika seperti itu?” lontar seseorang yang asyik mendengarkan pembicaraan mereka. Para manager yang ada disitu segera mengangguk setuju.

Yoona memejamkan matanya berusaha tidak mempedulikan apa yang mereka semua sedang katakan.

Siwon mengigit bibirnya melihat Yoona sepertinya semakin tidak tahan disana mendengarkan obrolan mereka. Yoona bahkan tidak bisa duduk dengan tenang di tempat kerjanya.

“HEI! APAKAH KALIAN MAU MAIN DENGANKU? AKU SUNGGUH MEMBUTUHKAN KALIANN!!” teriak Siwon mendadak, membuat hening satu ruangan.

“Ah, aku bosan. Palingan kau curang, Manager Choi.” ungkap Seo Joon. Siwon membelalakkan matanya. Sejak kapan aku bisa berlaku curang?

“Sudahlah, di antara bergosip dan minum kopi, mana yang paling penting?” ujar Kibum berusaha meniru gaya Donghae yang memarahinya dua hari yang lalu karena ia datang terlambat sebab mobilnya mogok. Sontak, semua manager yang hadir rapat kala itu tertawa terbahak.

“Bisakah kita menjulukinya Si Tidak Tahu Malu, Lee Donghae?” usul Suzy menimpali pendapat Kibum. Langsung disambut tawa meriah lagi disana-sini.

Brak.

Yoona menghantamkan tangannya dengan kesal ke atas meja. Ia pun berdiri dari kursinya terlalu cepat dan keras sehingga kursi yang ia duduki mundur ke belakang sampai sangat jauh membentur kursi yang sedang diduduki Siwon.

Pemuda itu memejamkan matanya pasrah. Gagal. Rencananya menahan amarah Yoona gagal.

Siwon cepat-cepat berdiri dan menatap Yoona yang sepertinya sedang terbakar emosi. Ia mengusap wajahnya kasar kehabisan akal. Pemuda itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dengan gugup.

“Bisakah kalian berhenti membicarakan orang lain dengan kejam seperti itu? Kalian bahkan tidak tahu apa yang terjadi!” bentak Yoona dengan suara melengking.

Seluruh manager terdiam karena cukup kaget melihat reaksi Yoona.

Ani, nuna, bukankah kau merasa kemarin dia juga membuatmu cukup kesal?” bela Seo Joon.

“Kalian hanya tidak tahu apa yang akan terjadi! Jadi jangan seenaknya membicarakan Donghae seperti itu?”

“Apa yang tidak kami ketahui dari Lee Donghae? Apakah kau mau bilang kalau kau tahu semua rahasia Donghae?” sindir Eun Ji. Yoona tersentak sebentar. “Apakah kau menjalin hubungan dengan Donghae?” selidik Suzy dengan tatapan menyeramkan.

Ani.. ani!” gagap Yoona.

“Lalu, kenapa kau seolah mengatakan kalau, ‘aku lebih tau Donghae dari siapapun kalian’. Setahuku, Donghae-ssi orangnya tertutup dan tidak akan membeberkan rahasianya pada siapapun. Dan, ah ya, aku pernah melihat interview Donghae kalau ia tidak akan memberikan rahasianya pada siapapun jika orang itu bukan orang yang berarti dalam hidupnya. Jadi, apakah…”

ANIYO! Ini bukan seperti yang kalian pikirkan!”

“Yoona-ssi, bisakah kau ke ruanganku sebentar?”

Suara berat itu membuat seluruh orang disitu terkejut. Semua pandangan kini tertuju kepada Donghae yang sudah berdiri di balik kerumunan. Yoona mengatupkan mulutnya sendiri dengan rapat. Malu. Begitu pun dengan para manager lainnya.

“Ah, ne..”. Yoona menundukkan kepalanya tanda mengerti. Para manager segera buru-buru berbalik ke meja mereka masing-masing dan menyibukkan diri.

“Ah, astaga.. Hancur sudah hidupku jika dia mendengarnya tadi.”

“Bisa mati aku jika seperti ini.”

“Semoga saja dia tidak mendengarnya.”

Berbagai macam bisik-bisik di sana sini mengiringi kepergian Yoona yang mengekor di belakang Donghae dengan jantungnya yang berdentam-dentam tidak keruan.


Yoona masih saja tidak sanggup memandang Donghae yang berdiri di hadapannya. Dengan kedua manik matanya yang teduh, Donghae terus menerus menatap Yoona yang tampak tidak enak.

“Em.. anu masalah tadi..”

“Bukan jadi masalah.” tangkas Donghae mendengar Yoona begitu takut. Gadis itu mendongakkan kepalanya perlahan. “Bagaimana bisa itu menjadi tidak masalah? Aku yang seharusnya bertanggung jawab untuk menghentikan semua ucapan mereka, tapi tampaknya aku tidak bisa apa-apa.”

Gwaenchanayo… kau sudah membelaku saja seperti tadi sudah baik.”. Donghae tersenyum hangat dan mengacak rambut Yoona. Mau tak mau, Yoona bisa sedikit tersenyum.

“Tapi, kenapa kau tetap mencampuri urusan mereka? Kau tahu aku takkan terganggu dengan hal semacam itu? Hatersku cukup banyak dan itu membuat pikiranku bebal.”

“Tetap saja! Mereka itu menuduhmu macam-macam. Mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi! Ahh.. aku mulai marah lagi semakin aku memikirkan hal itu.” omel Yoona.

“Kau tidak dengar apa yang mereka katakan sebelumnya? Si Tak Tahu Malu Donghae? Lakukan semuanya sendiri? Mereka tidak tahu kebenaran di baliknya!” pekik Yoona saking makin mepetnya kata-kata antara omelannya.

Donghae terkekeh pelan. Wajah Yoona dari sini terlihat sangat menggemaskan jika sedang marah. Ini terlalu lucu untuk dilewatkan.

“Tapi kenapa kau masih bisa tersenyum, Donghae-ssi? Ketika orang-orang mengatakan hal-hal buruk tentangmu?”

“Ah, itu tidak seburuk yang kau pikirkan. Hatersku sudah melakukan hal yang lebih gila dari itu. Dan itu sudah cukup membuatku kebal akan segalanya.”. Donghae membuang pandangannya jauh. Yoona memperhatikan dari samping, terkagum sedikit demi sedikit.

“Yah, hujatan tidak berdasar itu hanya karena mereka terlalu over reaktif terhadap apa yang aku lakukan. Well, itu tidak menjadi masalah karena masih ada seseorang yang berada dalam pihak yang sama denganku. Yang akan tetap membelaku bagaimana pun keadaannya.”

Donghae menoleh ke arah Yoona. Senyuman manis itu – yang hanya akan pernah ditujukan kepada Im Yoona, gadis yang dia cintai – mengembang sempurna. “Dan orang itu kau, Manager Im. Kau membuat perasaanku menjadi lebih baik di atas masalah-masalah itu.”

“Ya! Donghae-ssi, ini bukan saatnya untuk bercanda.” Yoona mengalihkan wajahnya yang mulai merona seperti tomat.

“Jika dipikir-pikir, aku memang salah. Mereka sama sekali benar untuk mengatakan hal-hal buruk itu. Memang keadaannya seperti itu. Dan aku memang seburuk itu.”

“Tapi, Donghae-ssi…”

Ani, perusahaan bukanlah tempat untuk mendengarkan permasalahan pribadi seseorang. Mereka tidak akan peduli masalah apa yang kau hadapi secara pribadi. Jika aku membuat kesalahan karena masalah pribadiku, maka akulah yang harus menanggung semuanya 100 % karena masalah itu tidak akan ada jika saja masalah pribadiku tidak ada.”

“Donghae-ssi..” Yoona masih belum bisa menerima penjelasan Donghae yang tetap saja terasa dipaksakan walaupun terdengar bijak.

“Untuk semua yang kau lakukan untuk membelaku, aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.”. Mata Donghae teralih ke arah kartu identitas pegawai Yoona yang berada dalam tempat kartu yang ia berikan.

“Tampaknya, hadiah ini cukup berharga juga untuk kau pakai. Sudah. Ayo kita masuk dan selesaikan masalah yang lain.”

Donghae masih tetap tersenyum walaupun tersimpan sedikit rasa getir disana. Ia menepuk bahu gadis itu dan berlalu meninggalkan Yoona dengan perasaan yang sungguh bercampur aduk tak keruan.

“Manager Im! Bisakah kau kesini sebentar?”

Yoona melongokkan kepalanya dari tempat kerjanya dan memicingkan mata ke arah Jungsoo yang melambaikan tangan ke arahnya, memanggilnya untuk kesana.

Perlahan, Yoona berusaha menembus lautan tempat kerja para manager yang kian hari makin berdesakan karena banyaknya artis yang debut. Tampaknya, perusahaan menganggap para manager adalah budak kerja mereka. Naas.

Ne, ada apa, Manager Park?”

“Maukah kau membuatkan skenario kecil untuk malam penghargaan Daesang?”

Yoona membelalakkan matanya heran. Skenario kecil? Untuk malam penghargaan bagi artis terbaik dan segala sesuatu yang terbaik dalam dunia entertainment semacam itu, skenario acara bukanlah hal yang kecil!

“Kau sungguh-sungguh, Manager Park?”

Jungsoo mengangguk yakin. “Aku tahu ide untuk comeback Donghae di panggung kemarin merupakan yang terbaik yang pernah aku lihat selama bekerja dalam industri musik ini. Dan aku tahu kaulah tangan dingin yang bekerja di baliknya. Aku tidak akan meragukan kemampuanmu.”

“Cobalah tulis beberapa dengan pemeran artis-artis yang akan datang. Aku punya listnya. Ini.” Jungsoo menyodorkan list panjang para artis yang akan mengisi gelaran musik akbar tahunan itu.

Omo! Bagaimana bisa aku melakukannya..” Yoona tertawa aneh dan mengibaskan tangannya di depan wajah. Jungsoo mengeryit. Nampaknya, Manager Im yang freak akan segera kembali.

“Aku tidak punya keberanian untuk itu dan tampaknya masih ada seseorang yang lebih pantas untuk itu, Manager Park.”

“Aku tidak akan memasukkan idemu jika itu dibawah standard, jadi, kenapa kau tidak mencoba membuat satu atau dua scene untuk dua lagu yang akan digunakan untuk kolaborasi?”

“Ahahaha, aku rasa aku tidak bisa melakukannya, aku akan bekerja seperti biasanya saja dan mendukung kalian semua.” Jungsoo menghela napas. Awalnya, ia kira, memilih Yoona akan menjadi hal yang tepat karena gadis itu selalu saja optimis.

“Hahh.. baiklah, jika kau tidak mau. Baiklah, kau bisa kembali ke tempatmu. Aku hanya ingin membicarakan hal itu denganmu.” Yoona mengangguk pelan. Jungsoo kembali sibuk dalam lautan kertasnya. Gadis itu tiba-tiba teringat satu hal dan membalikkan badannya.

“Ah, jeogiyo (permisi), terima kasih sudah mempertimbangkan aku dalam hal sebesar ini, Jeongmal gamsahamnida..”. Yoona membungkukkan badannya dalam. Jungsoo hanya mengangguk-angguk sebentar lalu kembali dalam pikirannya yang ruwet.

Siwon mengangkat sebelah alisnya mendengar semua jawaban Yoona yang pesimis, yang sangat berlawanan dengan kepribadian Yoona yang benar-benar optimis.

Dongsaeng! Kenapa kau tidak mencobanya saja? Tidak ada yang sempurna jika kau mengerjakannya baru kali ini.” celetuk Siwon seraya menyeluncurkan kursinya ke arah bilik kerja Yoona seperti biasanya.

Dan kini, pemuda itu sudah benar-benar persis di samping Yoona, sangat dekat. Tangan pemuda itu merangkul pundak Yoona layaknya kakak yang menyemangati adiknya.

“Bagaimana aku bisa melakukannya? Itu hanya omong kosong..” komentar Yoona yang matanya terus melekat menatap layar komputernya tanpa berpaling sama sekali ke arah Siwon yang gemas di sebelahnya.

Siwon memasang dork facenya. Ia berpikir sesaat apa mungkin triknya yang ini akan berhasil.

Mendadak, Siwon langsung mengangkat tangan kanan Yoona. “Manager Park! Dongsaeng bilang dia akan melakukannya!” teriaknya cepat. Yoona membulatkan matanya. Siwon mulai gila lagi.

Jungsoo hanya menatap mereka uring-uringan. Ini akan menjadi perdebatan sengit dua orang kakak adik virtual itu lagi.

Ani! Manager Park! Aku tidak akan melakukannya!” bantah Yoona lalu lekas menatap Siwon tajam, “Yaish.. bagaimana bisa kau melakukan hal gila semacam ini lagi?!” desis Yoona kesal. Siwon menatap Yoona dengan wajah datarnya sehingga Yoona lebih gila lagi.

“Ya! Dengarkan nasihatku dan lakukan saja! Manager Park! Yoongie bilang dia akan melakukannya!” Teriakan Siwon kali ini luar biasa kencangnya hingga beberapa manager yang sibuk teralihkan pandangannya dan menatap kesal ke arah Siwon. Seperti biasa, pemuda itu tidak peduli dengan reaksi orang-orang di sekitarnya.

“Yoongie, kesempatan baik tidak akan datang dua kali.. Kau tidak boleh menolaknya. Coba saja..” nasihat Siwon sungguh-sungguh. Yoona masih merengut. Telinganya sudah ia buat tuli karena sangat kesal dengan Siwon.

“Choi Siwon! Kapan kau akan menjadi dewasa hah? Kau selalu saja kekanakan.” ujar Jungsoo yang terdengar sudah mulai lelah menghadapi ulah Siwon.

“Besok. Besok aku akan tumbuh dewasa. Tapi, setelah Yoona bilang dia akan melakukannya.”. Siwon nyengir selebar mungkin sehingga mau tak mau Jungsoo geli melihat ulahnya.

“Aish.. jinjja!” Yoona menghentakkan tangannya marah.

Siwon menghela napas. Kenapa setiap niat baikku sepertinya sekarang tak pernah diterima oleh Yoongie? Apakah karena dia memang tidak mau aku berada di dekatnya lagi? Ani! Choi Siwon, kau tidak boleh berpikiran macam-macam. Fokuslah untuk tetap menjaga adikmu itu. Adik yang membawa separuh hatimu hancur.


Siwon keluar terburu-buru dari minimarket langanannya. Ia memakan kimbapnya dengan lahap. Kenapa rasanya aku seperti tidak makan beberapa hari? Ini sangat enak.

Siwon berpikir sesaat. Ah, apakah aku mungkin stress memikirkan kemungkinan buruk yang akan terjadi di antara aku dan Yoongie? Biasanya aku akan makan banyak jika aku sedang stress. Siwon memiringkan kepalanya bingung dan naik ke atas motor antiknya.

“Ya! Kau! Apakah kau sudah merasa baikan?”

Gadis yang merasa terpanggil itu menghentikan langkahnya. Jessica. Raut wajahnya tampak begitu lelah seolah tidak ingin hidup lagi.

Jessica memaksakan seulas senyumnya. Yang malah menjadi senyum penuh kesakitan yang terburuk yang pernah Siwon lihat. “Ah, ne. Aku sudah merasa lebih baik. Terima kasih sudah mengkhawatirkan keadaanku.”. Jessica terus memaksakan senyumnya.

Siwon tersenyum aneh. Ia tahu Jessica berbohong. “Dahaengitda (baguslah, ini melegakan). Baiklah, sampai jumpa!”

Jessica mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju minimarket namun mendadak kakinya terhenti. Ia membalikkan badannya cepat-cepat, ia seperti hendak mengatakan sesuatu namun sangat ragu.

“Em.. jeogiyo (permisi), apakah aku bisakah kau melakukan permintaanku?”

Siwon menoleh kaget. Kimbap sisa yang cukup besar masih menyumpal mulutnya penuh-penuh. “Pe..mi.. tan?” ujar Siwon berusaha mengulang maksud Jessica. Gadis itu mengangguk.

Beberapa menit kemudian, Siwon sudah melajukan motornya di jalanan yang mulai padat. Jessica memegang erat pinggang Siwon karena merasakan dirinya bisa saja limbung dalam beberapa saat, maklum, gadis ini memang mempunyai sedikit fobia menaiki motor.

“Kau sangat pelan, bisakah kau melajukannya lebih cepat?” ujar Jessica. Siwon tersenyum tipis. “Kau yakin? Ini akan sangat menakutkan sejak kau baru pertama kali dibonceng olehku.”

“Menyeramkan? Kau sungguh-sungguh??” balas Jessica seolah tak percaya. Siwon tertawa evil. “Arasseo! Jangan salahkan aku jika kau akan menangis nantinya. Aku mulai!!”. Siwon menekan pedal gasnya lebih kencang lagi dan motor antik itu ternyata bisa melesat dengan cepat membelah jalanan kota Seoul.

“Apakah kau sukaaa?!!” teriak Siwon berusaha mengalahkan kencangnya deru angin karena kecepatan motor mereka membelah jalanan.

DAEBAKIDAAA!! (ini terasa sangat hebat!!)” balas Jessica tak kalah kencangnya. Gadis itu merentangkan tangannya, merasakan kencangnya angin yang menyapa jemari tangannya.


Yoona terhenti kala matanya terpaku pada satu pamflet besar yang tertempel di dinding halte. Salah satu karakter favoritnya dalam permainan monopoli kini menjadi tren kembali. Yoona tersenyum samar kala melihat animasi itu lagi. Tokoh kartun lucu yang selalu saja menjadi rebutannya dengan Donghae kala bermain monopoli dahulu.

“Ah, Donghae-ya..” desah Yoona pelan. Ia menghembuskan napas berat. Entah sampai kapan, Yoona harus menyimpan rahasia ini sendirian.

Yoona tergugah dari lamunannya sendiri ketika merasakan kalau dia tidak benar-benar sendiri. Pandangannya tertoleh ke samping. Gadis itu terbatuk-batuk kaget melihat Donghae kini sudah berdiri di sampingnya. Aku tidak berhalusinasi bukan?

“Ah, Manager Im. Kau juga menyukai tokoh ini?”

Yoona terpana sesaat dengan pertanyaan Donghae. Sedetik kemudian, dia mengangguk bagaikan orang bodoh. Kini, rasa shock dan juga pandangan teduh Donghae menghisap seluruh akal sehatnya.

Astaga, kenapa dia semakin mirip dengan Im Yoonaku?, Donghae mendesah frustasi. Ekspresinya, hobinya, dan sekarang animasi kesukaannya. Apakah ini bisa dibilang kebetulan?

“Oh ya! Kenapa kau ada disini, Donghae-ssi?” tanya Yoona cepat-cepat untuk mengalihkan perhatiannya sendiri yang mulai melenceng kemana-mana.

“Ah, ne?” Donghae terkesiap. Benar juga, kenapa aku disini?, pemuda itu linglung sesaat dan kini ia harus menanggung malu karena ia sudah menemukan alasannya. Tadi, dia membuntuti Yoona hanya karena ia ingin menanyakan satu hal.

Tapi, rasanya pertanyaan kecil itu kembali tenggelam dalam benaknya meliha raut menyelidik Yoona. “Ah, aku sedang menghirup udara segar saja. Aku akan lembur malam ini.”

“Eoh? Kau lembur? Untuk apa? Bukankah seharusnya aku yang lembur dan bukannya kau, Donghae-ssi? Apakah aku meningg-..” Donghae membekap mulut Yoona segera menghentikan rentetan pertanyaan Yoona yang tak bisa di stop.

“Aku memang hanya ingin memperbaiki beberapa hal yang agak pribadi. Kau tidak perlu tahu.” jawab Donghae terkesan ketus. Yoona memberengut. Terserah, pikirnya.

“Aku sangat menyukai tokoh ini. Dia terlihat sangat menggemaskan. Aku suka melihatnya karena akan mengingatkanku pada seseorang yang penuh semangat dan senyuman manis seperti dia.”

Yoona menahan napasnya. Tidak, Yoona.. Itu pasti bukan kau.., Yoona memaksakan seulas senyum yang sebenarnya membuat kegetiran itu semakin nampak.

Yoona terdiam menatap Donghae yang masih cerewet menjelaskan kenapa ia menyukai tokoh permainan monopoli satu itu. Bayangan Donghae kecil kini mengendap di depannya. Memenuhi seluruh tubuh Donghae, menjadi Donghae kecil yang dirindukan Yoona.

Mengoceh dengan lucunya, Yoona masih bisa membayangkan itu. Bagaimana dulu Donghae sering sekali mengomelinya karena hal-hal kecil. Yang membuat hatinya menjadi lebih hangat. Sungguh.

“Hei!” Donghae melambaikan tangannya di depan wajah Yoona, membuat gadis itu tersentak. “Ne?”

“Kau bosan mendengarkan ceritaku ya?” Donghae menelan ludahnya sendiri. Kenapa hatiku tidak bisa diam. Ini ganjil sekali, aniyo Donghae, kau punya Yoongie (baca: Jessica)

Animnida. Baiklah, selamat berjumpa esok hari, Donghae-ssi, aku akan menunggu bus di halte ini. Semangat!” Yoona berusaha menyemangati Donghae dengan raut lucunya dengan tangan terkepal di depan. Donghae tersenyum lebar. “Gomawoyo.”

Yoona membungkukkan badannya hormat dan segera masuk ke dalam halte, duduk. Mengayunkan kakinya bosan menunggu. Kepalanya menoleh ke kanan-kiri-kanan-ki…

Dan raut wajah Donghae yang kini benar-benar berada di sebelahnya membuat Yoona terpekik kecil. “Ya Tuhan! Berhentilah membuat jantungku copot, Tuan Lee..” kesal Yoona. Gadis itu mengerucutkan bibirnya lucu. Donghae mengacak poni Yoona. Membuat jantung gadis itu sukses berdentam kembali.

Refleks, Yoona memundurkan duduknya beberapa langkah lagi. Merasa canggung, Donghae memutuskan diam.

“Kau sudah biasa pulang dengan kendaraan umum?”

“Sejak SD aku sudah terbiasa.” jawab Yoona cepat.

“Kau tidak kembali ke kantor?” tanya Yoona heran. Donghae menatap kaget. Tenggorokannya tercekat berusaha mencari alasan baru.

“Aku akan menemanimu disini.” ucapnya pelan. Yoona membulatkan matanya heran. “Apa?”

“Aku akan menghirup udara segar disini.” ralatnya cepat. Yoona tertawa kecil melihat raut muka Donghae salah tingkah.

Donghae mengangguk-angguk berusaha membenarkan argumen anehnya, pandangannya mengambang seolah mencari pertanyaan baru. “Ah, itu busmu datang.” seru Donghae cepat. Yoona menoleh kaget. Senyuman gadis itu mengembang seketika. Lega. Karena tidak akan berada dalam kondisi canggung seperti ini lagi.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa.” Donghae menganggukkan kepalanya cepat dan juga berlalu pergi begitu saja dengan raut wajah yang kaku. Yoona tidak mengerti dengan ekspresi itu. Sungguh.

Yoona berlari-lari kecil masuk ke dalam bus. Sedetik setelah pantatnya menyentuh bangku bus, pertanyaan aneh terbersit.

“Bagaimana bisa dia tahu aku naik bus ini?” gumamnya heran. Yoona memiringkan kepalanya mencoba memikirkan kemungkinan yang ada.

Nihil. Pasti ini hanya tebakan asal benar yang didapatkan Donghae.

Yoona tersenyum tipis. Hatinya menghangat mengetahui Donghae menemaninya menunggu di halte.


“Ahh… daebak!!! Sekarang aku tahu kenapa orang-orang menyukai naik motor!” seru Jessica kegirangan. Siwon hanya tersenyum kecil. Entah kenapa, reaksi Jessica hampir sangat mirip dengan reaksi Yoona jika kegirangan. Tak heran, mereka sudah sangat mirip seperti adik kakak kandung.

“Apakah aku harus membeli satu?” Jessica memasang mimik lucu berpura-pura serius. Siwon tertawa. “Hahh.. aku harus pulang. Kemana aku harusnya berada.” ucap Jessica dibarengi dengan helaan napas berat.

Siwon mengangguk-angguk takzim, sesuai gayanya biasa. “Terima kasih banyak. Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi, kau membantuku menghilangkan beban yang ada di hatiku. Sebagian besar.”

Siwon tersenyum tipis. Ia mengerti beban apa. Ia juga mendapatkan beberapa beban itu, untuk bisa menghilangkan perasaannya. Beban yang sangat berat.

“Kau menyukai Yoona bukan, Siwon-ssi?”. Jessica menatap Siwon serius dengan kedua mata bulatnya. Siwon terdiam. Menatap Jessica tidak mengerti.

“Aku pikir, ini adalah saatnya melepaskan. Kau sendiri yang bilang bahwa melepaskan adalah bagian dari kehidupan yang tangguh. Kau bilang aku harus melepaskan Donghae. Begitu juga denganmu. Kita sama-sama tahu bahwa mereka memang ditakdirkan untuk bersama.”

Siwon terkesiap. Semua yang dikatakan Jessica adalah benar. Fakta yang tak bisa terelakkan. Pemuda itu tercenung.

“Tapi, kau tidak serta merta harus langsung melepaskannya, Siwon-ssi. Pelan-pelan juga tidak masalah. Kau tahu, Yoongie tidak pernah menunjukkan kebenciannya secara terang-terangan.”

Siwon mengangguk lemas. “Baiklah, aku pergi!!”

Jessica melambaikan tangannya dengan senyuman antusias – yang sangat dipaksakan. Hanya untuk mengurangi sedikit rasa sakit dalam hatinya yang kembali membuat sesak.

“Aku pergi!!!” teriak Jessica berulang-ulang hingga Siwon hilang dalam pandangannya. Matanya berair. Ani, aku tidak boleh kembali menangis karena Donghae..

Jessica menarik napas dengan berat berulang kali. Tangannya gemetaran memegang pulpennya. Entah kenapa, otak encernya benar-benar macet hanya sekadar untuk membuat surat pengakuan. Apakah layak jika disebut surat pengakuan dosa karena telah berbohong?

Jessica tahu, ini sudah kedua kalinya dia berniat akan mengungkapkan seluruhnya. Tapi, entah kenapa ini terasa sangat – teramat sangat berat. Rasa pusing kembali menyergapnya. Jessica mengerti otaknya tak pernah bisa berkompromi dengan stress yang berlebihan.

Jessica memejamkan matanya sesaat. Berusaha mengumpulkan sisa tenaganya yang benar-benar terkuras habis hanya untuk membayangkan reaksi mengerikan apa yang akan ditunjukkan Donghae jika pemuda itu tahu selama ini dia hanya berbohong.

To: Uri Donghae (setelah kau membaca seluruh surat ini, kau mungkin akan berpikiran aku akan sangat tidak sopan memanggilmu seperti ini)

Donghae-ya, aku tidak tahu harus memulai bercerita dari mana. Aku benar-benar tidak mengerti. Dan aku bahkan berusaha untuk tidak mengerti bagaimana menjelaskan semua masalah ini kepadamu.

Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku katakan. Tapi, sebelumnya, aku mohon, jangan pernah membenci aku setelah kau membaca surat ini. Aku mohon. Aku tahu kau Donghae yang sangat baik hati. Aku tahu kau sangat pemaaf. Tapi, sikap temperamenmu sungguh membuat siapapun takut melihatnya. Terlebih, kau kadang menjadi sangat pendendam.

Donghae-ya…

Sebentar lagi, buku biografiku akan dirilis dan kau akan menyadari bahwa aku memang bukan Im Yoona yang kau kenal. Aku benar-benar seorang Jessica Jung selayaknya namaku yang ada. Aku, Jessica Jung, sahabat baik Im Yoona. Ani, aku adalah sahabat yang jahat karena telah menikung sahabatku sendiri. Aku tahu keegoisan akan selalu berakhir dengan buruk. Tapi, jika itu menyangkut tentangmu, aku berani menanggung semua risiko terburuknya.

Donghae-ya..

Apakah kau tahu alasanku melakukan semua kebohongan ini?

Aku mencintaimu. Sejak ketika Yoona pertama kali membicarakanmu. Sejak pertama kali, Yoona terus berbicara bagaimana rasanya kehilangan, aku juga merasakan kehilangan yang sama atas dirimu. Atau malah mungkin lebih besar dari apa yang Yoona rasakan.

Kau, bocah kurus pucat yang takkan menarik perhatian siapapun, jujur saja, sifatmu itu, sifat temperamenmu itu dengan terselip sedikit kebaikan di dalam relung hatimu itu, telah membuat dua gadis kecil tidak bisa melupakanmu sama sekali.

Kau mengenalku. Tapi, aku tahu cinta ini akan menjadi cinta satu sisi yang takkan pernah bisa berbalas. Ketika kita masih kecil pun, aku tahu kau telah membuat keputusan untuk jatuh cinta dan akan terus jatuh cinta kepada Yoona.

Tapi, kenapa harus Yoona?

Aku tahu ini pertanyaan retoris. Tanpa kau jawab pun aku sudah tahu segalanya. Yoona memang melebihi segala yang aku punya kecuali kekayaan. Yoona memiliki senyuman yang manis dan aku tidak. Yoona yang lembut hatinya dan aku tidak. Dia penyabar sekali, amat sangat sabar, dan aku tidak. Dia selalu membuat tersenyum sedangkan aku tidak.

Tidak. Tidak. Dan tidak.

Aku memang kalah telak.

Ketika kau kembali beberapa bulan yang lalu, jujur saja, aku cukup terkejut melihatmu masih menghubungi Yoona setelah sekian tahu benar-benar lost contact. Sangat terkejut sekaligus iri.

Aku tidak mengerti kenapa Yoona memiliki nasib yang sangat beruntung sampai saat ini. Kau, Lee Donghae yang kami kenal, bocah ingusan aneh yang sama sekali tidak menarik perhatian dulu, kini menjadi seorang superstar.

Aku benar-benar cemburu atas nasib Yoona. Dia yang sangat mujur. Dan kau juga mujur karena dia memang masih mencintaimu.

Kabar lebih pahit yang benar-benar membuatku gila adalah Yoona menjadi managermu. Ya, Manager Im yang selama ini berada di sampingmu adalah Im Yoona yang sebenarnya kau cintai. Aku tidak mengerti kenapa kau sama sekali tidak merasakan keganjilan saat selalu berada bersamaku.

Apakah kau tidak merasa kalau aku sama sekali tidak mempunyai sifat seperti apa yang dimiliki Yoona?

Kau tahu? Aku sudah cukup lama memendam perasaanku sendiri hingga rasanya ingin mati karena aku tidak mau melukai perasaan sahabatku sendiri. Aku melakukan semua ini karena aku hanya ingin merasakan bagiaman jadinya jika kau menjadi milikku sepenuhnya. Apakah kau tetap Donghae yang aku cintai setelah sekian lama atau bukan.

Dan ternyata benar. Kau, Lee Donghae, yang aku cintai dan Yoona cintai. Masih dengan sifat yang sama dan cara berbicara yang sama. Kau tak lain adalah orang yang arogan namun mempunyai sifat baik hati di dalam sana. Hal yang membuatku dan Yoona sama-sama jatuh cinta. Dan karena sifatmu itulah aku terlena.

Awalnya, aku berjanji hanya akan melakukan semua kebohongan ini selama satu bulan. Nyatanya? Ini sudah hampir empat bulan dan aku sudah mengambil waktu yang seharusnya dinikmati oleh Yoona selama tiga bulan lebih dari janjiku?

Aku yakin, jika kau sudah sampai membaca bagian ini, rasa bencimu memuncak dan kau boleh saja memakiku karena alasannya sudah jelas.

Aku memang gadis tidak tahu diri yang memanfaatkan sahabatnya yang polos.

Aku hanya ingin minta maaf karena selama ini telah membohongimu dan memalsukan semua kebahagiaanmu. Tapi, kau harus tahu satu hal ini bahwa aku sangat bahagia setiap kali kita jalan bersama untuk berkencan.

Aku minta maaf.

Tapi, bisakah kau membuka hatimu untuk orang lain? Aku, mempunyai kelebihan yang tak dipunyai oleh Yoona. Jadi, apakah kau hanya akan terus terpatok pada Yoona setelah lebih dari 20 tahun saling mengenal?

Satu-satunya, orang yang penuh penyesalan namun masih tetap mencintaimu selalu,

Jessica


Comment juseyo! Share your thoughts about my works below!!

고맙습니당응응

LUV , Euri ❤

Don’t forget to follow my wattpad @ParkSeungRiHae, you will get another fresh FF there.. THANKIES :*

 

 

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s