겨울 사랑 [Winter Love] – 삼 (Three)

artwork-71

Title: 겨울 사랑 [Winter Love]

Cast: Im Yoona, Lee Donghae, Choi Siwon, Bae Suzy

ParkSeungRiHae storyline present

Poster by: @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

Annyeong hasimnikka!! FF ini merupakan semacam songfict sebenernya, cuma aku gatau ini beneran songfict apa ga.. (?) Soalnya, dasar cerita ini emang dari lagu ‘Winter Love’ nya Donghae sama Eunhyuk buat fans sebelum mereka masuk wajib militer.

Lagu ini artinya dalemm bangett makanya Euri terisnpirasi buat bikin FF dari lagu ini.. Jadi, mungkin bisa disebut songfict kali yaa cuma dalam bentuk chapter dan ditambahin imajinasi liar yang lain :v

DON’T BE SIDERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa tinggalkan komentar kalian bisa berupa kritik, saran, ungkapan hati kalian juga boleh (?) hehe.. Pokoknya comment juseyo!

HAPPY READING ^^

Preview: PROLOG

Previous chapter:

“Ini penting sekali, Nyonya Choi.. Aku harus menanyakan sesuatu kepada Anda.”. Yoona terhenti sesaat. Mengumpulkan keberaniannya menyebut kembali nama pemuda sialan itu.

“Ini tentang Siwon.”


Hening lagi. Kali ini benar-benar senyap. Seolah seluruh udara yang bisa menghantarkan suara terhisap entah kemana.

“Masuklah, sayang..”. Keputusan Nyonya Choi terdengar sangat berat. Yoona benar-benar mengenal bagaimana sikap seorang Nyonya Choi dalam berbagai keadaan. Ia mengetahui semuanya karena ia sudah menganggap Nyonya Choi sebagai ibu keduanya. Setelah ibu kandungnya sendiri meninggal.

Yoona kini hanya tinggal bersama ayahnya, Tuan Im Jang Gun, ibu tirinya, Eun Soo Jung, serta kakak tirinya, Im Sooyoung. Walaupun ia tinggal bersama ibut tiri dan kakak tirinya, untung saja nasibnya tidak benar-benar sama seperti Cinderella. Hanya saja terkadang ibu tirinya tidak mengerti dirinya dengan baik sehingga sering berselisih paham.

Dan Nyonya Choi selalu ada di sampingnya. Merawatnya seperti anaknya sendiri. Yoona benar-benar mengenal wanita berhati lembut itu. Hanya saja, hubungan mereka menjadi agak renggang beberapa bulan terakhir ini..

Yoona melangkahkan kakinya masuk ke dalam pekarangan Ryeo Joo’s manor setelah penjaga rumah membukakan pintu berukir kayu yang tingginya hampir 5 meter itu. Pekarangan Ryeo Joo’s manor luasnya hampir sama dengan rumah mungil keluarganya sendiri. Yoona melangkahkan kakinya dengan cepat menuju pintu rumah yang sudah terbuka 500 meter di hadapannya. Dari kejauhan, Yoona dapat melihat gestur Nyonya Choi benar-benar gelisah, seolah Yoona akan melakukan sesuatu yang membongkar sebuah rahasianya.

Annyeong hasimnikka, eomeonim..”. Yoona membungkukkan badannya 90 derajat di hadapan Nyonya Choi seperti biasanya. Bagaimana pun juga, strata kekayaan keluarga Choi jauh dibandingkan dengan keluarganya. Yoona hanya beruntung saja bisa memiliki teman sekaligus keluarga sebaik keluarga Choi.

“Masuklah..” ajak Nyonya Choi yang langsung masuk mendahului Yoona. Gadis itu mengangguk dan heran kala Nyonya Choi menghindari tatapannya dengan sirat mata takut.

Yoona duduk nyaman di atas sofa kesukaannya di ruangan keluarga yang terletak di tengah bangunan manor ini. Nyonya Choi duduk di hadapannya dan menyeruput tehnya perlahan. Sekilas, Yoona bisa melihat tangan Nyonya Choi bergetar sedikit ketika tangannya mencengkram gagang cangkir.

“Baiklah, Yoongie.. Apa yang mau kau tanyakan kepadaku?”. Nyonya Choi tersenyum menatap ke arah Yoona. Sebuah senyuman yang dipaksakan untuk menyembunyikan sesuatu.

“Baiklah, eomeonim.. beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan Siwon di jalanan Dongdaemun..”. Yoona menatap Nyonya Choi saksama. Ia tidak mau melewatkan perubahan raut wajah wanita yang juga disayanginya itu.

Terkejut. Itu ekspresi pertama Nyonya Choi. Lalu terlihat takut.

Yoona tidak mengerti kenapa wanita paruh baya di hadapannya terlihat begitu terkejut. Apakah ada yang salah?

“Kenapa kau tidak memberitahuku kalau dia sudah pulang, eomeonim? Kau selalu tahu kalau aku menunggunya bukan?”

Nyonya Choi gelagapan diserang Yoona hanya dengan satu pertanyaan sederhana itu.

“Ah, ye, aku tahu kalau kau selalu menunggunya. Tapi, dia belum pulang, Yoong. Kau bisa lihat manor ini kosong. Hanya ada aku dan para pelayan. Bahkan abeonim (ayah) mu – maksudnya Tuan Choi – sedang pergi ke luar negeri sekarang. Mengurus cabang baru disana.”

“Jinjjayo? Aku bahkan sudah mengobrol dengannya, eomeonim.. Dia tahu namanya Siwon tapi dia sama sekali tidak tahu siapa aku.” jelas Yoona pelan-pelan.

Lagi, Nyonya Choi tampak sekali terkejut. Mulutnya rapat terkunci seketika. Pikirannya kosong. Ia tidak tahu harus berkata apalagi kepada Yoona.

Eomeonim?” ulang Yoona melihat pandangan Nyonya Choi kosong dan dia diam seribu bahasa.

“Apakah ada yang tidak aku ketahui?”. Yoona mendadak takut. Hatinya tidak siap mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Suaranya bergetar hebat sama seperti hatinya sekarang.

“Yoona-ah.. Maafkan aku. Aku terlalu jahat untuk tidak mengatakan ini padamu.”

Yoona meremas tangannya sendiri gugup. Wajahnya benar-benar menggambarkan rasa ingin tahu yang amat sangat.

“Maafkan aku. Kau harus bertanya sendiri kepadanya. Jika dia mengatakan semuanya, baru aku yang akan menambahkannya. Maafkan aku…”

Kepala Yoona langsung terkulai lemas. Rasanya nyawanya tercabut begitu saja mendengar Nyonya Choi tampak takut mengatakannya. Apakah itu benar-benar sesuatu yang buruk?

Arasseoyo, eomeonim.. Maafkan aku menganggu waktu istirahatmu. Nikmati tehnya..”

Yoona membungkukkan badannya dan berlalu pergi dengan keadaan awut-awutan.

Nyonya Choi menghembuskan napasnya berat. Kenapa susah sekali untuk memberitahu Yoona tentang apa yang terjadi? Toh, cepat atau lambat dia akan mengetahuinya.. Tapi, aku tidak sanggup melihatnya terpukul berat. Aku tidak tega.

Ini semua salahku, Yoongie.. Maafkan eomeonim karena telah merusak jalinan kasih kalian. Aku minta maaf.., Nyonya Choi menundukkan kepalanya. Air matanya mengalir jatuh bebas ke atas permadani tebal yang menyelimuti lantai.

Eomma, kenapa kau menangis?”. Suara berat itu mengagetkan Nyonya Choi. Perempuan paruh baya itu tak bisa berkata-kata.

“Apakah ini karena gadis bernama Im Yoona itu? Yang baru saja datang kesini? Ada apa sebenarnya dengannya, eomma? Apakah kau mengenalnya juga?” tanyanya frustasi. Tatapan matanya menuntut penjelasan.

“Apa yang sebenarnya tidak aku ketahui, eomma?? Beritahu aku!” bentaknya tak sabar. Suaranya makin tercekat. Menggambarkan batinnya yang benar-benar tersiksa karena ia tak bisa mendapatkan memori yang ia punya. Kenapa ingatan itu sama sekali tak bisa muncul, ada apa denganku?

“Sebenarnya, siapa Im Yoona itu?” tanyanya pelan pada akhirnya.

“Kau akan mengetahuinya sebentar lagi, Nak.. Kau akan mengenalnya sendiri. Aku takkan membantumu berusaha mendapatkan kembali ingatanmu..”


*@Yoona’s house

“Im Yoona.. Keluarlah sekarang.. Aku ingin makan malam bersamamu..”

Yoona diam. Ia malas sekali menjawabnya. Ia sungguh tidak ingin bertemu pemuda itu saat ini. Dia datang di saat yang sama sekali tidak tepat.

“Yoong?”

Sungguh, aku tidak ingin bertemu denganmu sekarang, Hae.. Biarkan aku mempunyai waktu sendiri..

“Maafkan aku, Hae.. Aku sedang tidak enak badan sekarang. Bisakah kita makan malam lain waktu saja?”

Mwo? Kau sakit? Aku akan menjengukmu..”. Nada suaranya bisa dibilang panik sekali. Yoona tersenyum tipis. Hatinya terhibur sedikit mendengar kepanikan Donghae yang terbilang tulus dan bukan seperti Donghae si bad boy yang pernah ia kenal dulu.

Ani.. kau tidak usah menjengukku. Aku baik-baik saja, ne?”

Donghae terdiam. Yoona terkesan menghindarinya. Sangat menghindarinya. “Wae geurae? Kenapa kau menghindariku?” tanyanya tercekat.

Yoona mengerjapkan matanya mendengar perubahan emosi dalam suara Donghae. Gadis itu merasa berdosa karena sudah membohongi Donghae, tapi ia tidak ingin memperpanjang masalah ini. Dia hanya ingin sendiri untuk sekarang.

Hanya ingin sendiri.

Merenungkan perasaannya sendiri apakah memang pantas Yoona masih memperjuangkan hatonya yang sudah porak poranda demi Siwon.

Yoona memejamkan matanya. “Maafkan aku, Hae. Aku hanya ingin sendiri sekarang.”

“Apakah kau benar-benar tidak perlu bantuanku?”

“Em… pulanglah sudah larut malam. Angin malam sangat dingin, Donghae-ya.. Kita bisa bertemu besok pagi di sekolah, arra?”

“Siwon lagi?”

Yoona melemparkan ponselnya ke sudut ruangan. Kesal. Karena bahkan ia juga menyakiti perasaan Donghae ketika ia membenci Siwon karena menyakiti perasaannya. Bukankah aku sama saja dengan Siwon jika seperti ini?

Donghae menatap ponselnya dengan sendu. Ia tahu, semua ini pasti karena pertemuan mereka tempo hari dengan Siwon. Salju perlahan kembali turun. Donghae menatapnya dengan berbagai kecamuk perasaan.

Salju nampaknya memang berarti dalam kehidupan mereka berdua.

Salju jugalah yang membawa luka bagi mereka berdua.

Apakah salju akan selalu membawa kemuraman bagi kita, Yoona-ah?


*@Gangshim High School

“Yoona-ah!”

Suara langkah berderap mendekati Yoona yang sedang melangkahkan kakinya dengan berat. Pikirannya mengambang kemana-mana. Siwon. Donghae. Siwon. Donghae. Hanya dua wajah itu saja yang kini silih berganti mengisi pikirannya.

Tanpa menengok pun, Yoona sudah tahu siapa yang berteriak bagai preman pasar itu.

“Eoh? Eoh? Ada apa dengan Yoongieku??”

Miyoung berusaha melihat wajah Yoona yang terhalang oleh surai panjangnya saat kepalanya tertunduk. “Ayolah, Yoong.. Kau ini kenapaa??”

Yoona tidak mempedulikan Miyoung yang masih repot berusaha menghiburnya. Masih dengan kepala tertunduk dan rambut panjangnya yang menutupi wajah, Yoona kini bagaikan hantu yang memasuki kelasnya.

Semua siswa menaikkan sebelah alisnya melihat penampilan gadis itu berubah menjadi hantu dalam sehari. Miyoung semakin merasa bersalah. Jangan-jangan ini karena kemarin dia menunjukkan foto Suzy, model terkenal itu?

Tapi, apa hubungannya Yoona dengan Suzy? Apakah dia punya luka masa lalu dengan gadis itu? Oh, ayolah Miyoung, berpikir!, Miyoung memiringkan kepalanya berpikir keras.

Ting. tong.. ting.. tong..

Para siswa segera saja berhamburan masuk ke dalam kelas begitu bel sekolah berbunyi. Suara kursi yang diseret keluar dari bawah meja, suara buku dan kertas yang saling beradu serta percakapan riuh rendah disana-sini sungguh membuat sekolah terasa hidup.

Kepala Yoona terkulai lemas di atas meja. Gadis itu sedari tadi berusaha memejamkan matanya barang sekejap untuk mengusir rasa kantuknya yang makin lama semakin berat. Tentu saja dia mengantuk sebab semalam dia sama sekali tidak bisa tidur. Rasanya ia ingin pulang lagi dan bersembunyi di balik selimutnya yang hangat.

“Bangun.” perintah ketua kelas begitu Kim Jun Myeon ssaem masuk.

“Selamat pagi, Kim ssaem..”. Yoona tetap bergeming. Ia sama sekali tidak berdiri. Rasanya badannya lemas sekali.

“Im Yoona? Kau sakit?” tanya Jun Myeon langsung melihat wajah Yoona yang pucat pasi dengan kantung mata berwarna hitam melingkar di bawah matanya.

Yoona menggeleng. “Johasseumnida, ssaem. Aku baik-baik saja.”

Alis Jun Myeon segera bertautan namun dia mengalah melihat Yoona bersikeras mengatakan dia tidak sakit.

“Baiklah. Aku kesini membawa dua anak baru.”

Miyoung yang antusias segera saja menyikut lengan Yoona bersemangat. “Yoong!! Pasti siswa baru ini tampan. Aku berani bertaruh. Feelingku mengatakan itu.”

Yoona melambaikan tangannya sebagai kode dia sedang tidak mood mengurus hal-hal seperti itu.

“Silahkan masuk..”

Semua siswa antusias di tempatnya menanti siapa yang akan masuk ke kelas mereka. Tadi pagi, sudah beredar kabar bahwa salah seorang siswa baru itu anak chaebol. Tapi, Yoona benar-benar sama sekali tidak berminat tentang masalah ini.

Suitan keras dan panjang segera saja membuat riuh kelas begitu seorang gadis cantik dengan mata lebar sempurna disertai paras cantiknya yang sudah terkenal dimana-mana. Yoona mengerang. “Ya ampun, bisakah mereka diam ketika melihat perempuan cantik?” keluhnya kesal. Gadis itu menutup telinganya sendiri dengan kedua tangannya gusar.

“Ya ampun!!” pekik Miyoung sendiri tertahan melihat siapa gadis yang masuk itu. “Yoong! Yoong!! Ini fantastis!”

“Aish.. masa bodoh dengan anak baru. Biarkan aku tidur, Miyoung!”

“Dan yang kedua, silahkan masuk.”. Jun Myeon mempersilahkan seorang pemuda tinggi jangkung dengan paras tampan memasuki kelas. Senyumannya yang menawan dalam sekali lihat mampu menawan hati gadis-gadis di kelas.

Miyoung shock berat melihat siapa yang masuk. Dia panik. Panik sekali.

“Yoong.. kurasa kau benar-benar harus menghilangkan rasa kantukmu sekarang juga..” bisik Miyoung bergetar. Yoona menaikkan sebelah alisnya mendengar Miyoung kini sepertinya ketakutan. “Ada a-..”

Detik berikutnya, ketika Yoona mengangkat kepalanya, matanya membulat sempurna. Rasa kantuknya hilang dalam sekejap digantikan shock yang sama beratnya seperti yang dialami Miyoung. Bibirnya bergetar ketika hendak mengucapkan dua kata. Nyawanya serasa melayang begitu saja.

Hanya satu pertanyaan yang tersimpan dalam benaknya.

Kenapa dia ada disini?

Comment juseyooo!!! ❤

Much love, Euri :*

Advertisements

2 thoughts on “겨울 사랑 [Winter Love] – 삼 (Three)

    • Annyeong!!!

      Iyaaa nihh jarang aku lanjut yang iniii maaff bangett yaaaa soalnya harus nunggu bener2 mood biar dapet feelsnya yaa walaupun ga ngefeels juga sih segini juga :” makasii banyakk yaa udh nunggu FF ini.. Merasa terhura ada yang suka :””

      Ne.. mohon ditunggu yaaa!! Fighting for you too dear ^^

      MUCH LOVE, EURI ❤

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s