[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #15. Worried (?)

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Cast: Lee Donghae, Im Yoona, Choi Siwon, Jessica Jung

Poster by: @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

*@NCT Entertainment

“Baiklah, ini rapat terakhir.. Ada yang masih mau memberikan saran?” ujar Yoona memimpin rapat dengan Donghae di sampingnya. Yang memperhatikan Yoona dengan saksama.

Siwon, pemuda itu di kejauhan masih selalu merasa ganjil dengan pandangan Donghae pada Yoona. Selalu merasa ada sesuatu yang salah. Selalu merasa ada yang Donghae sembunyikan darinya. Siwon tahu Donghae amat sangat membohongi perasaannya sendiri. Itu nampak jelas.

Pandangan itu. Lain. Sangat lain. Penuh dengan kasih sayang yang sayangnya tak bisa Donghae ungkapkan sendiri dengan gamblang.

“Kawan-kawan?”. Suara Yoona yang mulai meninggi membuat Siwon sepenuhnya tersadar dari pikirannya yang mengembara jauh. Yoona menatap Siwon dengan arti ‘apakah-kau mendengarkan-apa-yang-aku-katakan-tadi-?’. Siwon menyeringai mengatakan ‘tidak’. Yoona melotot namun Siwon malah terkekeh pelan.

“Tidak ada? Baiklah, jika begitu, silahkan kembali bekerja. Selesaikan apa yang seharusnya kalian selesaikan. Aku tahu kalian punya artis sendiri yang harus masih kalian urus segala sesuatunya. Sugohaesseumnida..”. Donghae menutup rapat dengan suara riang dan senyuman dua senti terpampang di wajahnya. Menampakkan ‘Donghae’ yang biasanya hanya terlihat di iklan, televisi, acara apapun itu di luar label.

“AH!! MAAFKAN AKU TERLAMBAT!!”. Teriakan khas Kibum memecah suasana ramai yang ceria. Semua mendadak terdiam melihat pandangan Donghae tiba-tiba meredup. Menjadi sangat tajam. Semua manager mendadak mengerut melihat perubahan temperamen pemuda itu yang sangat drastis.

Kibum meneguk ludahnya sendiri melihat Donghae menatapnya dengan amat sangat tajam. “Kenapa kau terlambat?”

“Em.. mobilku mogok di tengah jalan.”

“Kenapa kau tidak lekas memasukkannya kepada bengkel?” potong Donghae dingin.

“Aku memakai mobilku karena aku pikir tadinya tidak akan mogok lagi. Namun, di tengah jalan, mesinnya mendadak mati.”. Donghae memutar bola matanya seakan takkan peduli oleh semua alasan Kibum yang sebenarnya memang fakta.

“Dari A, B, C, D. Bukankah A yang paling penting? Bukankah seharusnya kau tahu ini mungkin saja terjadi? Kenapa kau tidak menyiapkan dirimu untuk rapat terakhir? Apakah kau bisa disebut profesional? Aku tidak tahu kebiasaan yang lain disini, tapi tolong tepat waktu jika ada janji atau rapat.”. Donghae sama sekali tidak membiarkan Kibum memberikan kembali pembelaan dirinya. Pemuda itu dengan kejam membungkam Kibum paksa dengan nadanya yang dingin.

Donghae berlalu begitu saja. Tak mengabaikan perasaan Kibum yang sangat tersinggung.

“Astaga! Aku kan tidak melakukan hal ini sering-sering! Menyebalkan sekali. Ternyata dia masih juga berhati dingin.” omel Kibum gemas.

“Hei, Nak. Kalau tahu mobilmu rusak, jangan memakainya kemana pun oke? Masukkan ke bengkel dan jangan mengantar mobilnya kesana. Panggil saja mobil derek untuk membawanya ke bengkel. Sangat berbahaya untuk mengendarai mobil yang rusak.” nasihat Heenim yang bersimpati seraya menepuk bahu Kibum, membesarkan hatinya, kemudian berlalu meninggalkan ruang rapat. Kibum mengangguk pelan.

Yoona membereskan barang-barangnya sementara para manager sudah keluar dari ruangan rapat. Kecuali Choi Siwon. “Eng? Kenapa kau masih disini, oppa?” tanya Yoona seraya masih sibuk menuliskan sesuatu di jurnalnya.

“Yoongie, apa yang kau lakukan?

Siwon bangkit dari duduknya, menghampiri Yoona dan mengangkat kartu identitas pegawai gadis itu yang sekarang ada dalam tempat yang diberikan Donghae ketika Yoona kembali bekerja.

“Eoh? Kau takut kehilangan kartu identitasmu hingga menaruhnya di tempat sebagus ini?” ejek Siwon. Yoona mengerucutkan bibirnya kesal. “Ini hadiah dari Donghae.”. Yoona memeletkan lidahnya melampiaskan kegemasannya pada Siwon yang selalu saja mengejek segala sesuatu yang berhubungan dengan Lee Donghae.

“Apa Donghae? Untuk apa?” ujar Siwon seolah tidak bisa mempercayai pendegarannya.

“Sebagai hadiah selamat datang.” Yoona tersenyum riang seraya membayangkan kembali kata-kata Donghae yang terdengar sangat menenangkan kala itu. Siwon tertawa sinis.

“Kenapa kau berubah Yoongie? Kemana dongsaengku yang lama? Aku sungguh sangat merindukannya.”

“Kenapa kau seperti tidak senang akan semua perubahan yang oleh semua orang terbilang bagus. Kau malah seperti terus menerus mengejekku. Lagipula, aku menerima ini karena dia bilang memberikannya pribadi sebagai seorang teman dan bukannya atasan.”

Lagi, Siwon tertawa bagaikan orang gila. Seolah semua yang didengarnya sungguh tidak masuk akal. Dan membuatnya begitu geli. “Apa? Ya ampun! Tak masuk akal.. Kau senang dengan hanya hadiah kecil semacam ini? Ya ampun…. gelinyaaaa…”. Nada Siwon jelas sekali mengejek apa yang sedang terjadi.

Yoona menimpuk Siwon dengan buku jurnalnya. Tapi, pemuda itu lebih gesit menghindar. Hingga kertas yang diselipkannya tercecer kemana-mana. “Ya!!! Choi Siwon! Kau menyebalkan sekali!!!” teriak Yoona kesal. Siwon sudah lebih dulu ambil langkah seribu.


Yoona memejamkan matanya sejenak berusaha menikmati alunan lagu kesukaannya dari earphone yang terpasang dengan volume cukup tinggi. Berusaha mengusir penatnya yang kembali datang terus menerus setiap kali Yoona berusaha melupakan seluruh rasa penatnya.

Bus berjalan pelan membawa Yoona dan penumpang lainnya menuju tempat tujuan mereka masing-masing. Malam belum terlalu larut sehingga masih banyak penumpang yang naik bersamaan dengan Yoona. Untung saja Donghae tidak memberikan tugas tambahan kepada gadis itu sehingga semuanya bisa berjalan cepat dan gadis itu bisa pulang lebih sore.

Mwo? Lihatlah!! Omo.. Kenapa ada pemuda senekad dia? Bukankah berkendara terlalu dekat dengan bus sangat berbahaya?”

“Astaga! Lihat ekspresinya! Dia terlihat tidak waras.”

“Menyeramkan sekali! Bagaimana bisa dia mendapatkan surat izin mengemudinya?”

Yoona mengerut melihat seluruh penumpang panik berbisik-bisik seraya melihat ke arah keluar jendela. Yoona yang duduk persis di samping jendela juga pun praktis menoleh.

Matanya seketika membulat. Rahangnya jatuh bebas melihat siapa orang dengan ekspresi aneh bagaikan orang gila itu.

“Manager Choi!!!” teriak Yoona kencang saking kagetnya. Para penumpang melihat ke arahnya dengan aneh. Yoona meringis malu. “Ya ampun, itu sangat berbahaya..” desis Yoona panik.

“Yoongie!!!! Selamat datangg!!!!”. Siwon berusaha berteriak sekencang mungkin agar Yoona bisa mendengarnya. Kepalanya tak bisa berhenti menoleh ke depan-kanan-depan-kanan untuk melihat Yoona- lalu memastikan apakah dia masih aman untuk menoleh lagi. Apakah dia tidak akan menabrak mobil atau apapun itu.

Yoona merengut panik. Otaknya sedang ia pakai untuk berpikir keras. “Manager Choi!! Hentikan!! Itu sangat BERBAHAYAA!!!”. Yoona jadi ikut sama gilanya dengan Siwon. Jelas-jelas, bus itu sangat kedap suara dan takkan ada suara yang bisa keluar dari sana.

Jelas tidak mendengar kata-kata Yoona, Siwon malah hanya tersenyum bodoh seraya menyeringai tidak jelas. Sungguh membuatnya bagaikan orang yang benar-benar kehilangan akalnya. “Astaga, apa yang harus kulakukan?” desahnya bingung.

#skip

Yoona bergegas turun di halte terdekat. Yoona langsung berlari kala melihat Siwon disana sudah duduk diatas motor hitam antiknya, menunggunya.

“YA!!! OPPA!!! APA YANG KAU LAKUKAN TADI! ITU SANGAT BERBAHAYA!” pekik Yoona tanpa memberikan Siwon waktu menjelaskan. Gadis itu menyemprot Siwon habis-habisan. Siwon sepertinya sama sekali tidak mendengarkan dan malah langsung mengeluarkan barang dari sebuah kotak besar yang ada di jok belakangnya.

“Nah, ambil ini. Sebagai hadiah ‘selamat datang’ mu.”. Siwon tersenyum lebar seakan-akan puas niatnya sudah terlaksana dengan sempurna. Dahi Yoona mengerut heran sekaligus shock. Jadi… Siwon melakukan semua hal gila itu hanya untuk memberikan tas ini padanya?

“Tapi, oppa..”. Yoona masih tertegun heran sembari menatap tas berwarna merah marun yang tersampir di tangan kanannya.

“Tapi, oppa…”. Yoona menjadi tak sanggup berkata-kata menatap apa yang sudah ada di dalam genggamannya sekarang.

“Bukankah ini mahal?” selidik Yoona bingung. Siwon mengendikkan bahunya. “Setidaknya hadiahku lebih besar dari apa yang Donghae berikan!” ucap Siwon puas seakan-akan dia memang ingin mengatakan hal itu dari kemarin. Mengatakan bahwa hadiah Donghae yang sekecil itu bukan apa-apanya.

Yoona membulatkan matanya mendengar kalimat Siwon yang terakhir. Sangat bersayap.Ia mengerti sekarang. Jadi, barang ini hanyalah sebagai pelampiasan rasa cemburu Siwon?

Ani.. aku tidak mau menerimanya!!” tolak Yoona kasar tiba-tiba dan melemparkan tas itu ke arah Siwon lagi. Pemuda itu kaget tak alang kepalang. “Wae?”

“Tas ini jelek.” komentar Yoona asal memberikan alasan. Ia tidak mau Siwon memberikan benda seperti ini hanya karena ingin dianggap lebih baik.

Alis Siwon naik sebelah. Dengan cepat, tangannya meraih tempat kartu id pegawai Yoona dan mengangkatnya, membandingkannya dengan ukuran tas yang diberikannya.

“Lihat? Ini bahkan 20 kali lebih besar dan kau masih bilang tas ini jelek? Astaga, aku bahkan harus berlari-lari kesana kemari untuk mendapatkan tas ini.” protes Siwon tak menyerah. Mereka berdua sama-sama keras kepala. Yoona memanyunkan bibirnya, menggeleng keras tetap tidak mau menerima tas yang masih diulurkan Siwon.

“Berikan saja kepada yang lain!” tegas Yoona sekali lagi, pura-pura merajuk.

“Baiklah jika begitu….”. Siwon melirik ke sekitarnya. Ada seekor anjing besar yang sedang dituntun berjalan-jalan oleh majikannya. Kilatan mata nya yang jahil segera terlihat cepat. Mulutnya membentuk seringain jahil seperti biasa.

“Hei!!! Anjing! Kemarilah..”. Siwon berusaha membujuk anjing itu mendekat. Siwon tersenyum senang ketika anjing itu menurutinya. “Nah, ini, aku berikan tas bagus ini untukmu.. Kau bisa menjualnya untuk membeli rumah anjingmu sendiri yang besar bahkan..”. Siwon berbicara layaknya mengajak bicara seorang manusia normal. Yoona membelalakkan matanya melihat kelakuan Siwon yang sekarang benar-benar nampak seperti orang gila.

Gadis itu bertambah panik ketika melihat pemilik anjing itu mulai gelisah, dan tidak nyaman akan perlakuan Siwon. “Oppaa!!” desis Yoona menahan malu. Siwon tidak mempedulikannya.

“Kau harus membawa ini, arra? Karena aku membelinya untuk diberikan kepada seseorang tapi dia menolak. Tapi, tetap saja, aku tidak mungkin menyimpannya bukan? Sudah, pergi sana, kau terlihat cantik memakai tas itu..”. Siwon lalu tertawa lepas layaknya orang yang kehilangan akal. Yoona panik sekali, Tatapan aneh si pemilik anjing membuat Yoona harus memilih keputusannya.

ARRA!!!! AKU AKAN MENGAMBIL HADIAHMU!!”. Yoona buru-buru menyabet tas itu dari leher anjing tersebut. Dan menyelempangkannya ke pundak. “Lihat? Aku tidak berbohong! Sudah..”. Yoona meringis menahan malu. Ia hampir menjambak rambutnya sendiri keras-keras lagi.

“Maafkan aku, Tuan.. Temanku ini memang abnormal. Tolong maafkan dia..” ujar Yoona buru-buru. Namun, tatapan aneh pemilik anjing itu kini tertuju pada mereka berdua. Yoona mendesis pelan melihat hal itu.

“YA!! APAKAH KAU SUDAH GILA?! APAKAH KAU MEMPERMAINKANKU?!!” teriak Yoona dengan ekspresi marahnya yang selalu lucu.

Siwon hanya terkekeh ringan seolah sesuatu yang baru terjadi bukan perkara besar. “Kau membuang harga dirimu sendiri, oppa..” omel Yoona pelan. Mendengus putus asa.

“Ah.. ternyata ekspresi marahmu tetap sama. Aku merindukan hal itu..”

Yoona mematung mendengar pernyataan Siwon. Ia membalikkan badannya dan menatap Siwon. Raut sedih di wajah pemuda itu nampak kentara walaupun Yoona tahu Siwon berusaha menutupinya.

“Ah.. oppa.. itu..”. Yoona menundukkan kepala ketika Siwon menatapnya dengan mata jernih penuh sirat luka itu. Gadis itu tidak sanggup melihatnya. Tidak sanggup meneruskan katanya.

Siwon tiba-tiba tertawa kecil. Yoona mendongakkan kepalanya, menatap Siwon tidak mengerti. “Apa ada yang lucu?” tanya Yoona bingung. Siwon menggeleng. “Kau takut sekali melihat wajahku yang sedih. Apakah kau merasa bersalah?” tanya Siwon dengan nada miris. Yoona terdiam.

Arasseo.. Sudahlah.. Aku hanya bercanda. Jangan khawatir. Oppa mu ini hanya sedang kesepian. Aku begitu merindukanmu karena tak ada manager lain yang bisa aku jahili sepertimu.”. Siwon tertawa berusaha membuat Yoona tidak khawatir. Tapi, itu sepertinya tidak berhasil mengusir kekhawatiran gadis itu.

“Bagaimana dengan tteobeokki dan naengmyeon untuk hari ini?” tawar Siwon.

Yoona melirik tajam Siwon kesal. “Kau masih saja sempat mengajakku makan. Ani! Aku tidak mau! Aku kesal sekali padamu hari ini.. Aish.. memalukan!”. Yoona buru-buru berlari menuju halte bus begitu ada satu busa yang menuju ke arah rumahnya datang.

Siwon hanya tersenyum tipis. Ya, perubahan emosi gadis itu, tingkah lakunya yang tak dapat ditebak, serta raut wajahnya yang menggemaskan itulah yang membuat Choi Siwon sulit sekali melupakannya sekeras apapun dia berusaha untuk menghilangkannya.

Dan pada akhirnya, aku harus menerima kenyataan bahwa Yoona adalah satu-satunya gadis yang amat kucintai, namun tak pernah bisa aku miliki bukan?, batin Siwon. Senyuman getirnya kembali. Ekor matanya masih lekat memperhatikan Yoona yang kini sudah duduk di dalam bus. Berusaha untuk tidak melihat lagi ke arah Siwon.


*@M Countdown!

Yoona melirik pergelangan tangannya untuk yang kesekian kali. Yoona bahkan sampai tidak bisa menghitung berapa kali dia melihat pukul berapa sekarang. Kakinya mengetuk-ngetuk lantai koridor backstage dengan gelisah.

Bagaimana bisa dia masih belum juga datang?

Memang masih dua jam lagi, tetapi, kau tahu kan banyak sekali persiapan yang harus dilakukan sebelum seseorang tampil di atas panggung. Mulai dari make up, fitting pakaian, sampai gladi bersih sebelum semuanya benar-benar dimulai agar acara berjalan dengan sempurna.

Yoona meraih ponselnya dengan tangan bergetar. Tangannya menekan speed dial untuk nomor Donghae. Nada sambung semakin membuat hati Yoona bertambah gelisah.

Nomor yang Anda hubungi sedang berada di luar jangkauan. Tunggulah beberapa saat lagi. Anda akan terhubung ke dalam kotak pesan suara.

Yoona mendesis jengkel. Bagaimana bisa dia mulai berulah lagi di kala penting seperti ini? Kau bilang kau mau mengalahkan Eunhyuk?!

“Aish! Jeongmal. Dia membuatku mulai kesal lagi..”. Yoona terduduk di lantai dan menutup matanya frustasi. Ia menyandarkan kepalanya ke dinding untuk menyerap dinginnya suhu untuk meredakan pikirannya yang mendidih.

Dongsaeng!”

Yoona membuka matanya lantas langsung terbelalak. “Ya! Mwohanya? (Apa yang terjadi?)”

“Kenapa kau basah kuyup seperti ini??” pekik Yoona panik sendiri dan buru-buru mencegat salah satu asistennya untuk membawakan handuk kering.

“Di luar hujan turun deras sekali. Tadinya aku mau memindahkan motorku ke dalam basement karena sudah mendung sekali. Tapi, nampaknya hujan datang lebih cepat dibandingkan dari perkiraanku.”. Siwon mengangguk-angguk dengan wajah memelas. Yoona mematung sejenak.

Tunggu, hujan?

“Kau bilang deras sekali?”. Suara Yoona tersendat. Seketika, pikirannya kosong ketika satu kemungkinan mengerikan melintas di dalam benaknya.

“Donghae!” teriak Yoona kalap saat menyadari apa yang mungkin terjadi pada pemuda itu karena sampai sekarang belum juga datang.

“Ya! Ya! Dongsaeng! Apa yang terjadii!!”. Siwon melempar handuknya sembarangan dan mengejar Yoona yang lari pontang panting keluar.

Suara derasnya hujan sungguh membuat Yoona tertegun. Apakah dia akan baik-baik saja?

Aku memiliki trauma dengan hujan. Pada saat hujan, keluargaku mengalami kecelakaan mobil yang cukup hebat. Aku kehilangan ibuku saat itu juga. Ketika hujan tiba, aku selalu mengingat peristiwa mengerikan itu. Persepsiku tentang betapa menyenangkannya hujan seketika berubah hari itu.

Ani… aniyo.. Dia pasti memakai supir hari ini..” ucap Yoona cepat-cepat mengenyahkan pikiran buruknya.

Yoona membulatkan matanya. “Kenapa aku tidak memastikannya saja?”


#another side

Donghae menundukkan kepalanya di atas kemudi mobilnya. Punggungnya naik turun dengan cepat karena ia bernapas terlalu cepat, seakan harus menghirup udara sebanyak-banyaknya. Paru-parunya seakan tak pernah cukup mendapatkan oksigen.

Kenangan buruk itu.. Kembali lagi. Apa yang harus aku lakukan?

Ayo, Donghae, lawan.. Sudah berapa ratus kali kau mengalami ini dan kau selalu tidak bisa mengatasinya? Kenapa kau sangat menyedihkan seperti ini?

Donghae tercenung kala memorinya malam itu memutus seluruh kenangan buruknya yang sedang berputar. Malam ketika Yoona menyelamatkannya. Malam dimana gadis itu melindunginya. Malam dimana, ia merasakan apa artinya bersandar kepada seseorang. Dimana ia bisa merasakan betapa berartinya seseorang untuknya.

Bayangan Yoona yang akan gelisah menunggunya di sana membuat Donghae mendongakkan kepalanya. Seluruh kenangan buruknya sirna. Seolah kabut tebal yang sedari tadi menutupi akal sehatnya direnggut begitu saja.

Ponselnya bergetar. Sudah ada 20 panggilan tak terjawab dari nomor yang sama. Nomor ‘Manager Im’ bersarang di notifikasinya.

Dengan tangan bergetar, Donghae mengangkat teleponnya.

Yeoboseyo?”. Yoona semakin panik karena mendengar nada Donghae yang sangat lemah.

“Donghae-ssi!! Apakah kau baik-baik saja? Gwaenchanseumnikka?”

Sebersit senyuman tipis mengembang di bibirnya. Entah kenapa, mendengar ada yang mengkhawatirkannya seperti ini, membuat hatinya sungguh gembira. Seketika seluruh ketakutannya akan memori kelamnya itu menguap entah kemana.

Sungguh, suara Yoona yang mengkhawatirkannya bagai obat paling manjur untuk segala kekhawatirannya.

“Em… Aku akan segera kesana.”

“Kau bisa menyetir sendiri sampai ke sini?”

Donghae meneguk ludahnya. Matanya melirik ke arah luar. Butiran hujan menerpa seluruh bumi tanpa ampun dengan jumlahnya yang begitu banyak. Ia sedikit takut, tapi apa masalahnya jika disana ada yang lebih mengkhawatirkannya? Dan itu nyata, bukan hanya sekedar ilusinya. Sedangkan memori kelam itu hanyalah ilusi gelap yang membuatnya buta akan realitas yang sebenarnya terjadi.

Memori itu hanya ilusi dan Yoona disana yang mengkhawatirkannya adalah nyata.

Kenapa aku jadi benar-benar mengkhawatirkannya? Kenapa dia sanggup memotong seluruh khayalan burukku? Apa yang sebenarnya terjadi denganku?

“Em.. percayalah. Aku bisa sampai kesana dengan selamat.”

“Kau yakin?”. Sekali lagi, Yoona masih belum bisa tenang. Ia akan merasa sangat bersalah dan menyesal jikalau ia membiarkan Donghae sendiri dan berakhir di ranjang rumah sakit dan bahkan membuat artis itu tidak bisa kembali berkarya karena kecelakaan yang parah.

“Dimana kau sekarang?”

“Tenanglah aku akan segera sampai, arra? Kkeokjeongmal (jangan khawatir).”

Yoona mengigit kukunya dengan ragu. Baiklah, aku akan percaya..

“Datanglah dengan selamat. Jangan mengebut. Asalkan kau sampai disini dengan selamat itu sudah lebih dari cukup.”

Donghae kembali tersenyum tipis. Ini.. kenapa hatinya terasa sangat hangat? Hanya mendengar kata sederhana yang menggambarkan kekhawatiran seseorang. Membuatnya merasa dimiliki dan dilindungi.

Arasseo, jangan terus mengomel seperti itu, ne?”

“Aishh… jeongmal, kenapa kau masih terdengar menyebalkan dan santai seperti itu, eoh? Jantungku hampir copot ketika menyadari ini hujan! Ini comeback pertamamu!!!!!” pekik Yoona kesal sendiri.

Donghae menatap layar ponselnya sejenak, menghindari pekikan lima oktaf Yoona.

Annyeong.”. Donghae buru-buru menutup panggilan teleponnya. Membuat Yoona yang di seberang sana membulatkan matanya marah.

Donghae menarik napasnya dalam-dalam. “Tarik, keluarkan, tarik, keluarkan.” gumam Donghae sendiri. Manik matanya melirik takut-takut keluar. Kenapa butiran hujan terlihat sangat horor untukku?

Donghae menundukkan kepalanya sejenak ke atas stir mobilnya. Menenangkan pikirannya.

Jantungku hampir copot ketika menyadari ini hujan!

Pemuda itu terkekeh pelan mengingat pekikan gadis itu yang terdengar super sebal. “Arra, Nona Im aku akan segera datang. Aku tidak akan mengecewakanmu.”. Senyuman khas tulus Donghae kembali muncul. Sebuah senyuman yang takkan muncul jika bukan karena sesuatu yang sangat spesial dalam hati pemuda itu.

Dan hanya ada satu yang bisa membuatnya tersenyum seperti itu…

Itu adalah Im Yoona baik yang dulu pernah ia kenal dan yang ia kenal sekarang walaupun Donghae belum tahu mana Yoona yang pernah benar-benar dia kenal.


Jessica memutar-mutar pulpen di tangannya dengan cekatan. Pikirannya dipenuhi beberapa hal yang sangat menggelisahkan. Beberapa hari lagi, buku autobiografi nya akan segera keluar. Apakah dengan begitu, Donghae masih akan tetap mempercayainya seperti ini?

Astaga, Jess…berpikirlah.. kenapa ini terdengar sangat menyeramkan? Semua akan berubah drastis, kau mungkin akan kehilangan sahabat terbaikmu dan juga cintamu jika kau tidak segera mengakui segala kebohonganmu yang lebih kejam dari apapun ini!, hati kecil gadis itu mulai berteriak setelah sekian lama dipaksa bungkam oleh pemiliknya.

“AH! Bagaimana aku bisa melakukan ini!!!” teriak Jessica kesal. Ia melempar pulpen di tangannya kencang-kencang, meluapkan amarahnya.

Tiba-tiba, muncul satu raut wajah jenaka dalam benaknya. Mata gadis itu membulat. Mungkin saja, mungkin, pemuda itu bisa membantunya, atau setidaknya sekadar meringankan rasa stressnya dengan segala tingkah konyolnya.


Yoona tak henti-hentinya memutar manik matanya ke segala arah mencari satu siluet tegap itu muncul.

Siwon mendesah lelah. Ia juga tidak hentinya mengamati Yoona dari kejauhan. Siwon tahu gadis itu sangat khawatir dan gelisah. Sayangnya, ia sama sekali tidak bisa membantu apapun. Tadi saja, segelas cokelat panasnya yang ia tawarkan ditolak mentah-mentah oleh Yoona begitu saja.

Pergilah, oppa! Kau masih mempunyai banyak pekerjaan. Sebaiknya, kau membantu kru yang lain, aku bisa menangani Donghae sendiri..

Raut wajah Yoona yang campur aduk membuat Siwon menjadi tidak tega sendiri. Ia agak geram juga dengan kelakuan Donghae yang selalu sukses membuat Yoona panik setengah mati sedari dulu. Kenapa pemuda satu itu tidak pernah membiarkan Yoona tenang barang sedetik pun.

“Manager Im? Kau Manager Donghae kan?”

Yoona terlonjak kaget ketika salah satu kru siaran dengan muka masam menyentuh pundaknya dan menyongsongnya dengan pertanyaan semacam itu. Yoona mengangguk patah-patah. Kru itu langsung membuka beberapa lembar kertas di tangannya.

“Waktu make upnya akan selesai 30 menit lagi dan kita akan segera tampil. Apakah Donghae sudah siap? Aku tadi sudah mengecek ke ruang rias dan tidak menemukan siapapun disana.”

“Ah, choisonghaeyo, Donghae-ssi sedang terjebak macet di luar. Bisakah kalian menunggu sebentar lagi?”

Kru itu tambah menekuk wajahnya mendengar apa yang disampaikan Yoona. “Bisakah dia datang tepat waktu? Dia sungguh membuat orang lain juga susah!” omelnya. Yoona membungkukkan badannya berkali-kali, memohonkan maaf. “Aku akan segera mengurus semuanya. Donghae-ssi pasti sebentar lagi juga datang. Tenang saja. Aku bisa menjaminnya.”

Tanpa mendengarkan penjelasan Yoona lebih lanjut, kru itu sudah kabur entah kemana. “Yaish.. menyebalkan sekali. Dia tidak tahu saja apa yang sebenarnya terjadi.”

30 menit berlalu dan sekarang acara sudah dimulai. Yoona menghela napasnya pelan. Bagaimana bisa Donghae belum juga datang? Apakah sesuatu yang buruk benar-benar terjadi?

Yoona kembali menekan nomor Donghae untuk yang kesekian puluh kalinya.

Gadis itu melempar ponselnya ke sembarang arah dengan kesal. Rasa tegangnya memuncak. Bagaimana bisa Donghae membuatnya seperti ini? Bagaikan orang gila. Yoona menelungkupkan kepalanya ke atas kedua tangannya yang disilangkan. Gadis itu berjongkok bersandarkan dinginnya tembok.

“ASTAGA! DIA BENAR-BENAR MEMBUNUH DIRINYA SENDIRI!”

“Apa yang kau bilang dengan membunuh diri sendiri?”

Suara tenang nan berat itu membuat Yoona sontak menengadahkan kepalanya.Seketika ia gagu. Lidahnya kelu. Seluruh makian yang sedari tadi ia pendam sama sekali tidak bisa dikeluarkan karena melihat keadaan Donghae yang basah kuyup di hadapannya.

“Kau hujan-hujanan?” tanya Yoona terkejut. Terdengar sangat shock. Donghae tertawa ringan. Ia duduk di depan meja rias dan menata sedikit anak rambutnya yang berantakan dan lepek kemana-mana karena tersiram air hujan.

“Nona Im, Donghae-ssi..”. Kru itu seketika menghentikan ucapannya melihat Donghae disana dalam keadaan yang bisa dibilang cukup mengenaskan.

“Bisakah kau mengundur waktunya? Kau lihat bagaimana kondisinya sekarang kan?” tanya Yoona marah mengancam. Kilatan matanya berubah galak. Ia sudah sebal sekali karena sedari tadi kru siaran sudah menerornya dengan pertanyaan yang sama seperti ‘Kapan Donghae datang?’, ‘Apakah dia sudah siap?’

Kru siaran itu pun beringsut mundur dan menghilang di balik pintu.

Yoona menghela napasnya pelan. “Bagaimana bisa kau basah kuyup seperti ini? Ini, wardrobe mu. Pakai ini.”. Yoona melempar sebuah kantung laundry besar ke arah Donghae. Pemuda itu menangkapnya dengan cekatan.

“Kenapa kau terdengar sebal?” tanya Donghae iseng-iseng. Yoona mengerucutkan bibirnya. “Aku kesal sekali hari ini. Kenapa kau membuat onar lagi? Membuatku panik?”

“Kenapa juga kau harus panik?” tanya Donghae balik. Yoona mengerjapkan matanya. “Karena aku menangermu.” sahutnya pendek. Gadis itu mulai membuang muka. Sebenarnya aku khawatir lebih dari perasaan seorang manager.

“Manager? Aku rasa aku belum pernah menemukan manager yang sekhawatir dirimu. Mereka paling hanya kesal dalam hati dan tidak mengungkapkannya lewat ucapan mereka.” terang Donghae mulai menggoda Yoona. Gadis itu kembali meneguk ludahnya. Astaga, dia benar-benar manusia menyebalkan.

“Apa maumu?!” potong Yoona tidak sabar. “Cepat ganti pakaian dan segera bersiap menuju panggung. Kau tahu, waktu tampilmu menjadi waktu tampil Eunhyuk.”

Donghae mematung. Eunhyuk? Mengambil main time show case ini? Gawat!

Donghae menahan tangan Yoona yang hendak pergi dan menarik gadis itu cepat ke dalam dekapannya. Yoona tersentak. Napasnya tersendat. Apa ini?

Yoona berusaha membebaskan tubuhnya sendiri. Namun, cengkraman Donghae di lengannya semakin terasa kuat.

“Donghae-ssi, kenapa kau..”

“Aku tidak masalah jika main time showcase menjadi milik Eunhyuk, karena sekarang aku tahu aku mempunyai seseorang yang mengkhawatirkanku lebih dari seharusnya.” bisik Donghae rendah. Nadanya penuh dengan rasa bersalah dan terharu sekaligus.

Yoona buru-buru membebaskan dirinya sekuat tenaga dan menatap Donghae kikuk. Ia paling tidak tahan mendengar suara seseorang menjadi agak sedih. “Aniyo. Aku hanya khawatir padamu karena kau memang salah satu tanggung jawabku kepada perusahaan.”. Yoona tersenyum palsu.

Donghae tersenyum aneh. Kenapa dia tidak mau mengakuinya, eoh?

Astaga, jantungku sudah jatuh ke dasar. Bagaimana ini? Kenapa kau mendadak melakukannya, Hae?

“Aku permisi.” ucap Yoona pendek yang bergegas keluar ruangan. Meninggalkan Donghae dengan rasa kehampaan dan kosong yang ganjil. Suatu perasaan yang pernah ia alami ketika ia baru saja pindah ke Amerika, meninggalkan Yoona kecil, sahabat terbaiknya.

Mungkin juga adalah cinta pertamanya yang begitu indah.

Mata Donghae terpaku ke arah dimana tadi Yoona keluar dari ruangan ini, membiarkannya sendiri.

Kenapa? Kenapa kau membuatku merasakaan perasaan yang menyesakkan ini kembali, Manager Im? Sebenarnya, sihir apa yang sedang kau lakukan padaku sekarang? Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku harus mengakui bahwa aku mulai mencintaimu..

ALOHAAA!!! GIMANA NIHHH PART INI?? YOONHAE MOMENT EVERYWHERE HEHEHEHE.. LEAVE SOME COMMENT YAA READER-DEUL! BIAR EURI TAU DIMANA KURANGNYA ATAU GIMANA PERASAAN KALIAN PAS BACA INI..

Mohon apresiasinya..

Much luv, Euri ❤

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s