[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #14. The Things That I Might Regret

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Karena semua kebohongan ini akan segera menjadi anak panah yang tidak hanya melukai satu pihak, tetap juga pihak yang lainnya. Dan itu akan menghancurkan segalanya.

*@Jung’s Magazine Office

Jessica mengetukkan kuku jari runcingnya yang termanikur rapi ke atas layar ponselnya dengan irama tak beraturan. Matanya menatap lurus jauh kesana, menembus pemandangan kota Seoul yang terhampar di bawahnya. Matanya menyipit setiap kali sebuah pikiran tidak mengenakkan terlintas di benaknya.

“Aw..” Jessica merintih kesakitan kala rasa sakit kembali menusuk perut bagian bawahnya. Gadis itu memegangi perutnya. Mencengkramnya erat berusaha menghilangkan rasa sakitnya. Sudah beberapa lama ini, sakit perut ini terus melandanya tanpa alasan yang jelas. Hanya rasa sakit yang teramat sangat mendadak datang dan pergi dengan cepat. Namun, bisa dibilang sering terjadi.

Tok.. tok..

Jessica mengusap dahinya sendiri berusaha menormalkan mimik wajahnya yang masih kentara menahan sakit. “Masuk..” lirihnya dengan suara bergetar. Semakin menusuk…

“Jessica-ssi..”

Jessica tertatih-tatih bangkit dari kursinya dan memaksakan seulas senyum begitu melihat Sehun, orang kepercayaannya masuk.

“Ada apa?” tanyanya perlahan khawatir melihat raut wajah Jessica yang pucat pasi. Jessica mengibaskan tangan di depan wajahnya. “Aniyo, aku baik-baik saja. Ada apa?”

“Ini buku autobiografimu. Aku sudah mengeceknya dengan teliti. Ini siap untuk diterbitkan.” gumam Sehun seraya membolak-balik jilidan kertas berisikan biografi Jessica itu di tangannya.

Nuna, kau baik-baik saja?” tanyanya sekali lagi melihat Jessica meringis kesakitan lagi kala merasa tidak diperhatikan olehnya. Jessica terperangah. “Ne, gwaenchanha. Tak usah mengkhawatirkanku, Sehun-ah. Pergi ke bagian penerbitan dan bilang mereka harus menerbitkannya secepat mungkin karena aku sudah menetapkan tanggal distribusinya.”

Sehun mengangguk paham. “Aku pergi nuna. Makan dengan baik.” sarannya. Jessica memberi kode agar pemuda itu cepat keluar.

“Akh.. kenapa ini terasa sangat sakit?”


*NCT Entertainment

“Jadwal comeback Donghae terbit!!” teriak salah satu manager histeris. Yoona sontak mendongakkan kepalanya mendengar hal itu.

Aigoo.. Di M Countdown dia akan tampil sebagai penutup spesial, di Inkigayo dia akan menjadi pembuka, di Yoo Huiyeol Sketchbook dia akan menjadi penampil spesial juga. Daebak… Yoona eonni!! Kau akan bekerja rodi kali ini huh? Padahal kau baru saja kembali..” celetuk Seo Joon yang ternganga akan padatnya jadwal comeback Donghae.

Yoona tersenyum tipis. Hal itu tidak akan menjadi masalah sejak ia masih punya pekerjaan. Lagipula, ini bekerja bersama Donghae. Rasa takutnya pada pemuda itu kini mulai menipis seiring berjalannya waktu. Donghae sepertinya tidak akan mungkin pernah tahu siapa dirinya yang sebenarnya.

“Im Yoona! Kau dipanggil Jungsoo sunbaenim...”

Lamunan Yoona terpecah. “Ah ne.. Jamsimanyo.. (tunggu sebentar)”

Yoona bergegas pergi tanpa melihat beberapa panggilan telepon yang masuk ke dalam ponselnya.

Jessica.


Siwon memainkan sumpitnya di atas satu cup besar ramyeon yang masih panas. Pemuda itu usil mengetuk-ngetukkan sumpitnya di atas tutup cupnya seperti bermain drum seraya menunggu ramyeonnya matang. Ia duduk sendirian di depan minimarket tempat biasanya dia membeli makanan kala larut malam.

Pemuda itu bersiul kesal kala sebersit kejadian tadi siang melintas kembali di benaknya.

“Yoongie-ah!”

Yoona tidak memedulikannya dan tetap memfokuskan pandangannya ke depan layar komputernya. “Em, wae?”

Jemarinya yang lentik bermain di atas keyboard seolah sedang memainkan melodi yang indah.

“Aku lapar. Kau mau makan siang bersamaku?”

“Ani.” tolak Yoona cepat. Tanpa mengalihkan netranya sedikit pun.

Siwon mendengus sebal. “Sudah lamaa sekali aku tidak makan bersamamu..”

“Aku sedang mengurus semua keperluan Donghae.”

“Kau lebih mementingkan Donghae dibandingkan kakakmu ini?”

Yoona membanting jemarinya sendiri di atas keyboard lalu menatap Siwon tajam. “Oh ya ampun, berhentilah bersikap kekanakan, Choi Siwon.. Aku sedang mengerjakan kewajibanku sekarang dan kau mengacau hanya karena sebuah alasan tidak jelas? Lagipula, kau bukan kakak asliku.”

Siwon terlongong melihat pertama kalinya Yoona nampaknya benar-benar gusar padanya. Yoona menendang kursi Siwon menjauh. Pemuda itu pasrah duduk di kursinya sambil menatap Yoona tak percaya.

Aigoo jeongmal.. Kenapa aku masih saja bersikap seperti cemburu begitu.. Aku sudah berjanji untuk hanya menyayanginya sebagai kakak bukan? Oh ya ampun, Choi Siwon.. Kuatkan dirimu..”. Siwon menepuk-nepuk pipinya sendiri.

“Kyaaa… Ya ampun!!!”

Siwon terkejut dan langsung menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Matanya menyipit berusaha melihata apa yang sedang terjadi. Matanya lalu segera membulat begitu melihat apa yang terjadi.

“Jessica?”


*@Seoul’s General Hospital

“Dia menderita gastrospam karena stress yang luar biasa berat. Apakah dia sedang dirundung masalah akhir-akhir ini?”

Kedua alis Siwon mengerut. Rasanya ia tahu kenapa gadis ini sepertinya sangat stress dan cemas. Ya, siapa lagi jika bukan Donghae. Nampaknya, gadis ini masih belum bisa menerima jika Donghae dan Yoona memang ditakdirkan bersama.

Siwon menggeleng melihat dokter nampaknya masih menunggu jawabannya. Dokter itu mencatat sesuatu di atas kertas riwayat pasien. “Baiklah, aku sarankan kau menemaninya selama 24 jam ke depan hingga dia siuman.”

Siwon lagi-lagi hanya bisa menjawabnya dengan anggukan kepala. Entah kenapa, ia bingung untuk menangani masalah seperti ini. Siwon menyeret kursi ke depan ranjang yang kini ditempati oleh Jessica. Manik matanya mengamati wajah gadis itu yang nampak penuh beban dan lelah.

Sejujurnya, dia merasa sangat kasihan kepada gadis itu. Jessica mengalami nasib yang sama dengannya. Mencintai seseorang yang sepertinya tidak akan berbalas. Bedanya, Jessica sudah dicintai oleh orang yang disukainya karena sebuah tabir kebohongan. Yang sewaktu-waktu bisa terbongkar. Dan hal itulah yang membuat gadis tersebut khawatir.

Jessica membuka perlahan matanya. Menyadari dimana ia berada sekarang. Matanya menyapu seluruh ruangan dan berakhir menemukan Siwon duduk di depannya. Memperhatikannya dengan raut khawatir namun masih tersirat sedikit kebencian di sana.

Jessica terkejut dan berusaha untuk duduk di tempatnya.

Ani.. duduk saja. Aku tahu itu sangat menyakitkan.” potong Siwon dingin sebelum gadis itu bisa bangkit dari tidurnya.

Jessica mengigit bibirnya. Ia takut sekali jika Siwon akan marah kepadanya seperti ini.

“Kenapa kau masih terus memaksakannya eoh? Kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri dan malah berakhir terpuruk sakit di atas ranjang rumah sakit seperti ini?” kecamnya.

Jessica tak sanggup melihat mata Siwon yang masih menusuk ke dalam hatinya itu.

“Dari apa yang aku lihat, kau bukan seseorang yang bisa menjalankan sebuah persoalan yang besar dengan konsekuensinya. Kau bukan tipe orang yang bisa menerima konsekuensi dari perbuatanmu sendiri. Kenapa kau masih tetap menutupi semuanya? Semakin lama kau menunggu waktu yang tepat…”. Siwon menghela napasnya sejenak. Ini fakta yang memang harus dihadapi Jessica. Fakta menyakitkan yang takkan pernah bisa Jessica hindari.

“Kau hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Jessica-ya..”. Nada suara Siwon merendah. Tidak sanggup melihat gadis di hadapannya mulai berlinang air mata. Sedetik kemudian, Jessica terisak.

“Aku sudah berniat mengakhirinya hari ini. Aku bahkan sudah membuat janji dengannya, membuat surat, tapi, ketika aku sudah sampai di tempat kami bertemu, aku bahkan tidak sanggup untuk melangkah masuk. Hanya bisa mematung dari luar, melihat Donghae yang duduk di pinggir jendela. Menungguku. Seketika pikiran, ‘aku hanya ingin waktu satu hari lagi’ kembali muncul. Apakah kau tahu rasanya??”. Jessica menumpahkan segala rasa gundahnya seketika di sela-sela isakannya.

Siwon menggeleng. Ia tidak tahu rasanya karena ia tak pernah mengalaminya. Tapi, walaupun nampaknya itu benar, perbuatan Jessica sungguh salah. Membuat orang lain yang seharusnya menerima semua hal itu menunggu sebuah kepastian yang tidak jelas. Dan celakanya lagi, orang itu adalah sahabatnya sendiri.

“Kau adalah sahabat Yoona. Orang yang paling Yoona kasihi. Kau tahu Donghae dan Yoona memang saling menyukai sejak dulu. Lalu kenapa kau masih melakukannya? Kau tahu Donghae adalah cinta pertama Yoona..”

“Aku tahu! Dan itu juga terjadi padaku! Aku belum pernah merasakan kebahagiaan sebesar ini semenjak aku bertemu Donghae. Dia juga cinta pertamaku! Aku bahkan sudah lebih dulu mencintai sebelum Yoona sadar jika ia memang kehilangan Donghae kala itu. Yoona bahkan belum bisa mendefinisikan perasaannya sendiri ketika aku sudah bisa melakukannya!” teriak Jessica marah.

Siwon berjengit. Ia tidak tahu jika gadis ini begitu temperamen. Tetapi, Siwon mengerti. Ia mengerti kenapa Jessica sampai berbuat seperti ini. Dia merasakan takdir bersikap tidak adil padanya.

Jessica menangis kencang. Siwon sungguh tidak sanggup melihat seorang gadis menangis seperti ini. Apalagi, dia tidak bisa berbuat apapun.

Namun, tetap saja semua ini salah.

Seberapa tidak adilnya takdir kepadamu, kau tetap tidak boleh melakukan hal-hal yang membuat takdir seseorang menjadi berubah dengan cara yang licik. Jika saja, Jessica melakukan hal yang sportif, dengan cara menunjukkan dirinya sendiri dengan namanya, mungkin Siwon masih bisa merasa simpati padanya.

Tapi ini..

Siwon sungguh tidak mengerti kenapa Jessica bisa begitu kejam mengkhianati Yoona, sahabatnya sendiri.

Pemuda itu perlahan bangkit dari tempat duduknya, menghampiri Jessica yang masih menangis hebat. Ragu-ragu, pelan, Siwon melingkarkan tangannya di pundak gadis itu. Merengkuhnya hangat. Membiarkan gadis itu menangis dalam pelukannya walaupun Siwon tahu yang diperbuatnya ini sungguh di luar perasaan hatinya.


*@Yoona and Jessica’s apartment

Jessica mencoba bangun dari tempat tidurnya begitu mendengar kegaduhan panci yang beradu dari dapur. Yoona pasti sudah pulang. Gadis itu bangkit perlahan-lahan seraya mencengkram perutnya yang masih berdenyut sakit. Berusaha meredam sedikit nyerinya kala berjalan.

Benar saja, Jessica bisa melihat Yoona sudah sibuk di depan kompor mengaduk sesuatu di dalam kuali berukuran sedang. Yoona langsung membalikkan badannya begitu mendengar suara langkah kaki Jessica yang lembut. Maklum, pendengarannya sangat tajam.

“Ah.. yeobo!”

Jessica tersenyum kesakitan. Yoona mengeryit. “Aku sudah tahu keadaanmu dari Siwon oppa. Untung saja ada Siwon disana. Jika tidak..”. Kata-kata Yoona terhenti karena tangan Jessica tiba-tiba melingkar di pinggangnya. Yoona menaikkan sebelah alisnya.

Eoh? Kenapa dengan backhug ini? Kau membuat hatiku berdesir..” . Yoona berusaha melontarkan candaannya. Namun, kata-katanya kembali terhenti merasakan pundaknya basah oleh lelehan hangat. Air mata pastinya.

“Kenapa kau menangis?” tanya Yoona perlahan. “Apakah kau merasakan sakitnya lagi?”

Yoona merasakan gelengan perlahan di pundaknya.

“Maafkan aku…”. Isakan Jessica membuat suaranya bergetar. “Maafkan aku karena telah mengecewakanmu..”. Isakan pelan berubah menjadi tangisan keras yang sungguh membuat Yoona bingung harus berbuat apa. “Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa akhir-akhir ini kau selalu meminta maaf padaku tanpa alasan yang jelas eoh?”. Yoona sungguh bingung.

“Aku mengecewakanmu yang telah merawatku sepenuh hati. Kau masih saja membuatkan aku bubur kesukaanku..”

Yoona tersenyum tipis. “Jadi karena kau jatuh sakit kau minta maaf?” Yoona tertawa kecil.

Jessica memaksakan sedikit senyumannya. Bukan, sebenarnya bukan karena itu.

Maaf karena aku tidak bisa melakukan hal yang seharusnya aku lakukan hari ini. Seharusnya seluruh penderitaanmu berakhir hari ini, Yoongie.. Harusnya kau mendapatkan perhatian dari Donghae itu mulai hari ini, dan kau bisa bebas dari orang munafik seperti diriku..


*Flashback

Jessica menggigit ujung pensilnya dengan ritme kegugupan yang ekstrem. Tangannya yang sebelah kiri mengetuk meja dengan gelisah. Matanya nanar menatap sepucuk kertas surat yang ada di atas mejanya. Sudah setengah jalan. Dan setiap hurufnya kini bertambah berat untuk ditulis.

Jessica menarik napas berat.

Perlahan, tangannya mulai menuliskan beberapa kata lagi..

Maafkan aku karena telah mengkhianati kepercayaanmu selama ini. Maafkan aku karena telah bermain diantara memori kalian berdua. Maafkan aku karena telah membuat takdir kalian hancur sesaat. Tolong maafkan aku.

Setitik air mata bening menetes lepas begitu saja tanpa bisa ditahan. Ini sungguh menyakitkan. Menjadi orang jahat. Yang mengakui kesalahannya. Semua kegembiraannya dan memori menyenangkannya bersama Donghae lenyap sesaat.

Digantikan rasa takut teramat sangat. Apakah Donghae dan Yoona tetap akan memaafkan diriku?

Selesai.

Jessica dengan tangan yang bergetar memasukkan sepucuk surat itu ke dalam amlop berwarna krem pucat.

Jessica berencana menemui Donghae hari ini dan memberikan surat ‘pengakuan dosa’ nya. Jessica tahu dia tidak akan sanggup membicarakannya langsung di depan Donghae. Ia hanya akan menangis tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun. Karena itu Jessica memilih menulis surat agar maksudnya bisa tersampaikan.

#skip

Donghae mengetukkan kakinya di bawah meja dengan gelisah.

Entah kenapa, beberapa hari belakangan ini Yoona (baca: Jessica) sangat sulit ia temui. Gadis periang itu yang selalu menyambutnya dengan eye smilenya, menghilang, raib begitu saja. Tanpa sebab dan alasan yang jelas. Membuat bertanya-tanya.

Janji bertemu ini bahkan terasa lebih ganjil. Suara Jessica yang bergetar ketika mengatakan keinginannya untuk bertemu Donghae, sambungan telepon yang langsung diputuskan sebelum Donghae sempat berbicara satu patah kata pun.

Ini ganjil.

Dan membuat Donghae khawatir.

Drrt.. drrt..

Donghae terlonjak. Matanya membulat melihat nama yang tertera di atas layar ponselnya. Tak perlu empat kali getar, Donghae menyabet ponselnya dan menjawab teleponnya dengan tergesa-gesa.

“Yeoboseyo? Yoona-ya..”. Cemas. Suara Donghae terdengar cemas.

“Hae-ya…”. Suara Jessica tercekat. Kata-katanya kini sungguh tersangkut di tenggorokan. Jessica merapatkan mantelnya karena udara dingin di luar berhembus kencang. Matanya nanar menatap ke arah lantai dua kafe, dimana Donghae terlihat sedang menunggunya.

“A..aku..”

Kuatkan dirimu, Jess! Kau sudah berjanji tidak akan menyakiti Yoona lagi..

“Wae? Ada masalah?”

Jessica mengigit bibirnya. Suaranya pasti sudah sangat bergetar lagi sekarang.

“Aku… tidak bisa menemuimu sekarang..”

“Wae?”. Donghae terdengar kaget. Intonasi suaranya menuntut penjelasan lebih.

“Aku ada urusan kantor yang sangat mendadak. Sebentar lagi buku autobiografiku keluar. Kau tahu kan..”

Donghae mengangguk. Alasan yang masuk akal. “Geurae.. Baiklah.. Tidak apa-apa.. Jangan lupa makan malam dan jaga kesehatanmu. Kapan launching bukunya diselenggarakan?”

Jessica terdiam. “Ah! Aku dipanggil. Mianhada.. Aku harus segera pergi.. Annyeong!”.

Trek.

Sambungan terputus. Begitu saja kembali. Donghae menghela napas. Jemarinya memutar ponsel di atas meja dengan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa dia membuatku sangat khawatir?

*Flashback END


“Sudahlah. Jangan menangis lagi. Kau sungguh tidak membuatku kecewa. Percayalah.”. Yoona mengedipkan matanya jenaka dan sekarang sibuk menaruh beberapa sendok bubur kerang jamur kesukaan Jessica.

“Makanlah..”. Yoona meletakkan semangkuk bubur hangat itu di depan Jessica yang masih tergugu. Pandangan gadis itu kosong. Seakan tak bertuan.

“Jess! Ayolah.. Jangan memikirkan hal-hal aneh lagi. Sungguh aku tidak marah kau menjadi sakit berat seperti ini. Tapi, makanlah ini sekarang agar aku tidak perlu mengkhawatirkanmu lagi. Ayo..”. Yoona menyendokkan bubur di dalam mangkuk dan menyodorkan sendok itu ke tangan Jessica. “Makan.”

Jessica menangis lagi. Cara Yoona menyuruhnya makan seperti ini sungguh membuatnya teringat kepada ibunya. Ibu kandungnya. Yang sudah lama tidak berjumpa dengannya. Bahkan Jessica tidak tahu bagaimana kabarnya sekarang.

Yoona menghela napasnya. Yoona adalah gadis yang sangat sabar. Gadis penyayang yang sangat sabar. Yang tidak akan pernah marah jika bahkan sahabatnya sendiri kadang membuat batas kesabarannya bisa meledak. Tetapi, hanya untuk Jessica, sahabatnya sekaligus keluarganya, temperamennya tidak akan pernah bisa buruk.

“Ayolah, Jess.. Aku sangat menyayangimu dan karena itu makanlah ini sekarang dan jangan buat aku khawatir oke?” ujar Yoona lembut. Tangannya merapihkan poni Jessica yang berantakan. Jessica mengangguk patuh dan perlahan memakan buburnya dengan air mata yang masih mengalir deras.

VOMMENT JUSEYO!! I NEED YOUR SUPPORT READER-DEUL!! GAMSAHAMNIDA ❤

WARM HUG, EURI ^^

 

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s