[Ficlet-Series] PROMISE (3)

ir-req-promise

ParkSeungRiHae and xxipixi Storyline presents

Title: PROMISE

Main cast: Kim Jiyeon, Kim Jongin, Xi Luhan

Support cast: Kim Taehyung

Rate: G – PG 15

Cover by @IRISH Poster Channel

Note: Annyeong hasimnikka, ini adalah FF kolaborasi pertamaku jadi mohon dukungannya yaa ;). Kolaborasi sama my bestie, nama penanya xxipixi, bisa temuin dia di wattpad pribadinya di @xxipixi.

Alur dan plotnya merupakan ide dari @xxipixi dan aku hanya memperpanjang idenya dia aja. Jadi, maaf kalau kurang dapet feel sama inti ceritanya.

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!! KOMEN AND LIKE JUSEYO!! TANGGAPAN KALIAN ADALAH SUPPORT TERBESAR! JEONGMAL GOMAWOO ❤

HAPPY READING GUYS ^^

Previous: PROLOG > (1) > (2)

“Aku pulang..” seru Jiyeon kencang begitu melepas sepatunya di depan. Nyonya Kim menyambutnya dengan senyuman merekah seperti biasanya. “Jung-ah, tumben sekali kau tidak pulang dengan Jongin..”

Jiyeon tersenyum kecut. “Em… dia pulang lebih dulu soalnya aku sedang ada urusan di sekolah.”

“Berpacaran, eomma. Itu urusannya makanya aku meninggalkannya.” teriak Jongin sinis. Jiyeon membelalakkan matanya. “Ya! Jongin! Jangan seenaknya menuduh seperti itu!!”

Nyonya Kim menaikkan sebelah alisnya. Ia menoleh sebentar ke arah ruang keluarga melihat Jongin yang dengan gusar makan camilan sembari menonton TV, pandangannya beralih lagi ke arah Jiyeon yang mukanya memerah.

Apakah Jongin marah karena hal ini?

“Sudah, sudah.. ayo masuk. Eomma sudah memasakkan makanan yang enak untukmu.”

Jiyeon mengangguk pelan lalu berlalu sebentar di depan Jongin. Gadis itu mengeluarkan bungkusan es krim yang dibelinya tadi sengaja untuk Jongin. “Ini untukmu.” Jiyeon mengulurkan benda itu di depan wajah Jongin. Jongin menatapnya tak berminat. Jiyeon mendesah pelan, kenapa dia masih saja mengambek seperti anak kecil?

“Buatmu saja.” sahutnya pendek dan ketus. Jiyeon mendengus. “Aku menghabiskan uang jajanku hanya untuk membeli ini untukmu, Jong!”

“Salahmu sendiri.” jawabnya tak peduli. Netranya bahkan tak pernah melirik Jiyeon sama sekali. Tetap terfokus pada layar TV di depannya. “Aish… sia-sia sekali..” lirih Jiyeon kesal. Gadis itu memasukkan es krimnya ke dalam freezer. Lalu masuk ke kamarnya dongkol.

Jongin melirik ke arah kamar Jiyeon begitu gadis itu masuk. Tumben sekali dia tidak memperpanjang debat kami..


Jiyeon membasuh dirinya dengan air dingin yang mengucur dari atas kepalanya. Entah kenapa, hatinya merasa sangat tidak nyaman melihat Jongin memusuhinya dengan cara seperti ini. Ia tidak suka pemuda itu berubah dingin. Apakah ini karena dirinya dekat dengan Luhan?

Lalu apa masalahnya? Bukankah aku juga punya banyak teman laki-laki seperti Byunbaek dan Chanyeol? Tidak masuk akal!

Setelah selesai mandi, Jiyeon bergegas mengenakan sweater warna krem yang kebesaran – pakaian kesukaannya – dan juga celana training yang gombrong. Menenggelamkan tubuh ramping miliknya yang selalu diejek Jongin.

Jiyeon bersenandung kecil seraya membuka kulkas dan mencari es krimnya tadi. Lumayan juga jika Jongin tidak memakannya, batinnya.

Matanya membulat ketika melihat satu cup es krim rasa vanilla oreo itu lenyap dari freezer. Pandangannya segera tertuju ke arah Jongin yang masih juga berkutat dengan tontonannya di sofa ruang keluarga.

“Jong-ah! Kau memakan es krimku?”

Jongin hanya menggeleng cepat. Mata Jiyeon menyipit melihat gerak-gerik Jongin yang aneh. Kebiasaan Jongin yang tidak bisa berbohong adalah dia akan bergerak-gerak seperti cacing kepanasan dan tidak bisa diam.

“Ayolah, mengaku saja.”

“Ya! Kau tahu aku tidak suka es krim vanila oreo!” teriak Jongin membantah mentah-mentah. Jiyeon tersenyum aneh. “Aku bahkan tak memberitahumu rasa es krimnya. Kau juga sama sekali tak melirikku ketika bicara tadi. Dasar pembohong!” umpat Jiyeon kesal.

“Aku mau keluar sebentar, eomma!!”

Jongin diam. Ekor matanya mengikuti siluet Jiyeon yang keluar setengah berlari. Ya ampun, kenapa suasana bertambah keruh seperti ini? Aish, Jung-ah, aku tidak bermaksud sama sekali.


Jiyeon berjalan-jalan pelan menuju taman kecil yang ada di tengah perumahan mewah itu. Ya, Jongin adalah anak seorang chaebol yang kaya raya, namun, sayangnya kelakuannya yang sangat kekanakan itu terkadang membuatnya agak norak serta tak sesuai dengan status anak chaebol yang disandangnya.

Kepalanya tertunduk menatap kakinya yang mengambil pelan langkah menuju

Luhan nampaknya masih membayangi pikiran gadis itu. Ia juga tak mengerti kenapa kehadiran Luhan hari ini bisa membuat efek sebesar ini. Jiyeon yakin ia telah melihat banyak pemuda tampan, ia bahkan tinggal bersama Jongin yang sangat tampan itu.

Taehyung sunbaenim adalah salah satu favorit pemuda tampan yang Jiyeon sukai. Gadis itu mengakui kalau di sekolahnya banyak sekali pemuda tampan nan berbakat yang dapat menawan hati para gadis dengan hanya sekali lirik saja.

“Jung?”. Suara berat seorang pemuda dengan nada keheranan itu membuat Jiyeon segera menengadah. Matanya bertubrukan dengan iris hitam indah itu. Ia meneguk ludahnya sendiri. “Ah.. annyeong hasimnikka, sunbaenim..” Jiyeon membungkukkan badannya rendah 90 derajat. Taehyung tersenyum samar.

“Kenapa sudah sore seperti ini kau tidak kunjung pulang?”

“Ah, aku sedang ada sedikit masalah di rumah. Jadi, aku berniat pergi ke taman. Taehyung sunbae sendiri mau kemana?”

Taehyung mengendikkan bahunya sendiri. “Molla. Aku hanya ingin jalan-jalan sore menghirup udara segar. Bisa kita pergi bersama?” tanyanya. Jiyeon membelalakkan matanya tidak percaya. Pemuda tertampan di sekolah itu mengajaknya berjalan sore bersama?

Mimpi apa kau semalam, Jung Jiyeon?

“Kemana Jongin?” tanya Taehyung seraya masih berjalan beriringan dengan Jiyeon.

Ne?” ulang Jiyeon tak mengerti. Taehyung tersenyum samar lagi. Entah kenapa, ekspresi Jiyeon begitu memikat hatinya belakangan ini. Semenjak gadis itu menyoraki Jongin di pinggir lapangan basket ketika tim sekolah berlatih.

“Bukankah kau bersahabat erat dengan Jongin?”

Ne?”. Lagi-lagi, Jiyeon dibuat heran dengan Taehyung. Bagaimana bisa dia tahu semuanya?, batinnya. Berkenalan secara resmi saja mereka tidak pernah melakukannya. Dan disini, di sore ini, Taehyung mendadak berjalan bersamanya seolah mereka sudah akrab sejak lama.

Dan yang lebih parahnya lagi, yang membuat Jiyeon kehilangan pikirannya sendiri adalah darimana Taehyung seakan sangat mengenal dirinya?

“Aku tahu dari Jongin. Dia teman curhatku.”. ujar Taehyung seolah menjawab pertanyaan dalam benak Jiyeon. “Ah.. jadi begitu rupanya..” Jiyeon tersenyum kikuk lalu menundukkan kepalanya seraya mengayunkan ayunannya perlahan-lahan. Merasakan semilir angin menerpa lembut wajahnya.

Matahari sore mulai memancarkan sinar oranyenya. Membuat suasana terasa hangat dan menenangkan.

“Kau gadis yang cantik.”

Jiyeon membelalakkan matanya mendengar kata-kata Taehyung yang menurutnya di luar dugaan, “Sunbae, kau sehat?”

Taehyung mengangkat bahunya dan melempar pandangannya ke depan. “Aku tidak tahu jika aku sedang bersamamu.”

Wah, jeongmal.. Lelucon macam apa ini..

“Jongin sangat beruntung karena bisa selalu bersamamu.” ucapnya. Taehyung memejamkan matanya dan mulai mengayun kakinya agar ia bisa mendapatkan ayunan yang lebih tinggi. “Wae?” tanya Jiyeon berbasa-basi agar dirinya tidak terlihat terlalu salah tingkah.

Gadis mana yang tidak salah tingkah jika pemuda favoritmu mengatakan semua hal manis tadi? Dan benar-benar di luar dugaanmu jika dia mengenalmu lebih dari yang seharusnya?

“Karena dia bisa merasakan bagaimana hangatnya perhatianmu dan seluruh ucapanmu yang terus membuat hatinya senang, sedih, tenang, dan segala emosi itu, tidak pernah aku rasakan sebelumnya dari seorang gadis. Jongin benar-benar beruntung bisa memilikimu.”

“Kenapa kau berkata seolah-olah aku ini pacarnya saja? Haha..”. Tawa simpul Jiyeon membuat Taehyung heran. Pemuda itu mengeryit. Apakah dia tidak tahu perasaan Kai?

“Bagaimana jika aku mempunyai rencana untuk menyukaimu, Jung-ah?”

Jiyeon merasakan jantungnya seakan jatuh ke dasar lambung mendengar perkataan Taehyung barusan. Moseun sori ige?

Sunbaenim, aku rasa aku harus pergi..”. Jiyeon buru-buru turun dari ayunannya dan hendak mengambil langkah menjauh. Tapi, tangan Taehyung lebih sigap menahan lengan gadis itu. “Wae? Kenapa kau pergi mendadak? Kau kira aku bercanda?”

Sirat kekecewaan kentara nampak di wajah tampannya. Jiyeon meneguk ludahnya.

Pemuda ini memang benar-benar tampan. Betapa beruntungnya aku bisa mendengar semua ucapannya barusan. Tapi, dia hanya sekadar orang yang bisa aku kagumi..

Sunbae.. aku rasa.. aku tidak mempunyai rencana yang sama denganmu.”

Genggaman erat Taehyung pada lengan Jiyeon mengendur. “Aku.. aku memang pengagummu nomor satumu. Tapi, apakah kau tahu rasanya hanya menjadi seorang pengagum dan tidak lebih? Ya, aku senang bisa berada disini bersamamu. Mendengar semua kata-katamu tadi yang tidak pernah aku dapatkan dari seorang pemuda manapun. Bahkan Jongin sekalipun.”

Jiyeon kembali membasahi tenggorokannya sendiri dengan ludahnya. “Hatiku sudah berlabuh kepada orang lain. Kau aku anggap sebagai idolaku yang paling keren. Geurae, sunbae? Apakah kau mengerti maksudku?”

Taehyung menatap Jiyeon nanar. Belum pernah sebelumnya, dia mendapatkan penolakan semacam ini. Jiyeon adalah gadis pertama yang pernah menolaknya dalam hidup 17 tahunnya berlangsung.

“Bukan berarti kau harus menjauh dariku. Bukan. Kau tetap bisa menghubungiku kapanpun kau mau, kau bisa memintaku datang ke tempat latihan ketika kau membutuhkan semangat dariku, jika kau memintaku untuk menjadi adikmu aku juga bersedia. Tapi, hanya itu yang bisa kulakukan. Dan tidak bisa menjadi orang yang mencintaimu sebagai sosok pemuda. Jika sebagai kakak, aku bisa melakukannya.”

“Kau menyukai Jongin bukan?”. Taehyung berusaha mengendalikan emosinya sendiri. Sia-sia, suaranya berubah menjadi serak, menahan kepedihan yang kini membuat hatinya teriris sakit.

Jiyeon terdiam lama. Menyukai Jongin?, tanyanya pada diri sendiri. Bukan menyukai dalam artian itu.. Tapi, apakah aku memang mungkin takkan pernah menyukai Jongin setelah hidup bersamanya hampir 11 tahun?

Animnida.. Aku tidak menyukainya, sunbae..”

Geureom.. Hari sudah mulai malam. Aku akan mengantarmu pulang..” tawar Taehyung.

“Jung-ah..”

Jiyeon tersentak. Ia langsung membalikkan badannya menemukan Jongin disana sedang terengah seraya mengelap dahinya yang penuh peluh. “Jong.. Apa yang kau lakukan disini?” ujar Jiyeon terbata. Jantungnya mendadak berdegup tak beraturan.

Jongin melangkah mendekat perlahan. “Kau pikir aku sedang melakukan apa, huh? Aku mencarimu. Bukan kebiasaanmu jalan-jalan sore dan eomma sudah ribut jika kau akan hilang diculik.” omel Jongin. Jiyeon mengerucutkan bibirnya sendiri. Ia tahu Kim eomeonim tidak akan se khawatir itu. Bukankah dia tahu aku jago taekwondo? Tidak mungkin eomeonim menyuruh Jongin mencariku. Cih, alasan basi..

Jiyeon masih memasang raut merajuk. Jongin menatap ke belakang Jiyeon dan menemukan sunbaenya sendiri.

“Taehyung sunbae!” sapa Jongin dengan senyuman dua sentinya. Taehyung hanya membalas senyum seadanya lalu berjalan mendekati mereka berdua juga. “Kau mencari Jiyeon, eoh? Kau khawatir?” goda Taehyung.

Jongin mendelik. “Anii.. bagaimana bisa aku hanya mengkhawatirkan ikan semacam dia?”

Jiyeon menendang kaki Jongin kencang. Membuat Jongin mengaduh kesakitan seraya melompat-lompat memegang tulang keringnya. “Ya! Kasar sekali kau ini! Bagaimana bisa kau disukai pemuda?”

Taehyung tersenyum samar. Kau dan aku sama-sama jatuh cinta padanya, Jongin.. Kenapa kau masih mengatakan hal semacam itu? Menjadi munafik pada perasaanmu sendiri, huh?

Jongin mengambil tangan Jiyeon lantas menggenggamnya erat. “Kajja, kita pulang..”

Jiyeon memberengut. Ia menggeleng kuat-kuat. Kebiasaannya jika merajuk terhadap Jongin. Pemuda itu menghela napasnya kesal. Dia tahu, kebiasaan Jiyeon yang keras kepala takkan ada habisnya jika ia tidak melakukan hal ini.

Jongin berjongkok dan menghadapkan punggungnya ke arah Jiyeon. “Ja, naiklah..” ucapnya lembut. Jiyeon memandang Jongin tidak mengerti. Jongin berdecak kesal, “Ayolah.. aku tahu kau ingin melakukan ini..”

Jiyeon lantas menoleh ke arah Taehyung. Memalukan sekali. Namun, tawaran digendong oleh Jongin tak kalah membuatnya bingung. Berada dalam gendongan Jongin merupakan hal yang paling bisa membuat hatinya menghangat.

“Aku pergi dulu..” pamit Taehyung seolah mengerti mereka berdua takkan bisa diganggu. Jongin hanya menundukkan kepalanya sekilas lalu Taehyung menghilang dari pandangan mereka berdua.

Ppali! Aku sudah pegal ini..” protes Jongin cerewet.

Ragu-ragu, Jiyeon mulai meletakkan bobot tubuhnya ke atas punggung Jongin. Pemuda itu tersenyum samar. Bahkan sampai sebesar ini, Jiyeon akan berhenti merajuk jika dia menawarkan gendongan untuk gadis itu. Hal simpel namun seiring mereka tumbuh besar, membuat Jongin merasakan hal-hal aneh dalam hatinya mulai bangun. Perasaan asing menjalari tubuhnya setiap kali Jiyeon menatapnya dalam, memeluknya, mencubit pipinya.

Tanpa Jiyeon, Jongin bisa bertaruh kalau hidupnya akan terasa sangat hampa. Gadis itulah pengisi kehidupannya sekarang.

“Sudah siap?” tanya Jongin begitu Jiyeon sudah melingkarkan tangannya di lehernya. Terasa anggukan pelan di bahunya. Segera, Jongin mulai mencoba berdiri. Jiyeon yang langsing semampai itu beratnya bagaikan bulu.

“Kau berat sekali. Kau makan apa sebenarnya?” canda Jongin tapi terdengar seolah serius. Jiyeon menjitak kepala pemuda itu kesal. Ia paling sebal dikatai Jongin gendut. Jongin terkekeh pelan. Jiyeon tersenyum.

Ya, Jongin adalah seorang pemuda yang selalu bisa menemukan cara yang tepat untuk segala masalah hatinya. Tapi, apakah Jiyeon benar-benar tidak bisa melabuhkan hatinya pada Jongin? Gadis itu masih sangat ragu akan perasaannya sendiri.


“Kau marah padaku?” tanya Jongin setelah beberapa saat mereka berjalan menyusuri jalan yang sepi, membiarkan Jiyeon diam. Ani, hanya Jongin yang berjalan karena Jiyeon masih ada di punggung pemuda itu. Nyaman dalam piggy back yang diberikan Jongin.

Jiyeon terdiam beberapa saat. “Eoh.”

Jongin menghela napas berat. “Ya ampun, kau ini masih saja seperti anak kecil. Aku itu takut Luhan melakukan hal yang tidak diinginkan kepadamu. Aku kan tidak bisa menjamin kalau dia orang yang baik setelah seharian dia sama sekali tidak bicara denganku, eoh? Kau mengerti? Aku tidak ingin kau terluka.”

Jiyeon mengangguk pelan. Tangannya mengeratkan dekapan. Hangat sekali. Hingga rasanya, Jiyeon tidak ingin turun. Ia mencoba memejamkan matanya dengan membenamkan kepalanya lebih dalam di bahu Jongin. Pemuda itu melirik sekilas melalui ekor matanya, melihat wajah damai gadis itu ketika terpejam.

Hatinya bergemuruh. Sungguh, melihat keadaan Jiyeon yang terpejam bak malaikat kecil itu selalu membuat Jongin berjanji pada dirinya sendiri untuk tetap melindungi gadis itu apapun yang terjadi. Sesuai dengan janjinya yang ia buat 11 tahun lalu, kala kedua orangtua Jiyeon tiada.

Jongin menghentikan langkahnya sejenak. Melirik Jiyeon lagi yang nampaknya sudah benar-benar terlelap. Sedikit demi sedikit, pemuda itu berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Jiyeon.

Cup.

Jongin mencium pipi Jiyeon lembut. Pemuda itu tersenyum samar merasakan kehangatan menjalari bibirnya. “Aku benar-benar menyayangimu, Jung. Kau harus tahu itu. Walaupun, aku takkan bisa mengungkapkan ini sampai pada waktunya.”

Saranghae, Jung Jiyeon.” bisiknya pelan.

< TO BE CONTINUED >

Annyeong hasimnikka, reader-deul!!

Euri kembali dengan my fav OTP, yes.. Jongin-Jiyeon.. Oh ya, nanti Taehyung kayaknya bakalan jadi support cast untuk beberapa part ke depan oke?? Gapapa lah ya, sekalian diriku berimajinasi tentang Taetae ❤

COMMENT JUSEYO!! LIKE SERTA KOMEN KALIAN ADALAH SUPPORT TERBESAR HEHE ^^

MUCH LOVE, EURI {}

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s