[Ficlet-Series] PROMISE (2)

ir-req-promise

ParkSeungRiHae and xxipixi Storyline presents

Title: PROMISE

Main cast: Kim Jiyeon, Kim Jongin, Xi Luhan

Rate: G – PG 15

Cover by @IRISH Poster Channel

Note: Annyeong hasimnikka, ini adalah FF kolaborasi pertamaku jadi mohon dukungannya yaa ;). Kolaborasi sama my bestie, nama penanya xxipixi, bisa temuin dia di wattpad pribadinya di @xxipixi.

Alur dan plotnya merupakan ide dari @xxipixi dan aku hanya memperpanjang idenya dia aja. Jadi, maaf kalau kurang dapet feel sama inti ceritanya.

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!!

HAPPY READING GUYS ^^

Jiyeon buru-buru membereskan barangnya dengan asal ketika bel berdering nyaring. Luhan lagi-lagi heran dengan tingkah polah gadis yang duduk di sebelahnya itu.

“Kajja, kita harus keluar dari kelas sebelum Jongin menyeretku..”. Jiyeon menarik Luhan cepat-cepat keluar dari kelas.

“Jung-ahh…”. Jongin memanggil Jiyeon tepat setelah gadis itu menghilang di balik pintu kelas. “Lho? Kemana dia?” tanya Jongin sendiri bingung. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan panik. Tidak! Luhan juga sudah tidak ada..

Jongin berpikirlah.., Jongin panik sendiri. Apa yang akan mereka lakukan berdua?

“Byunbaek!! Kau melihat Jiyeon?” teriaknya cepat-cepat.

Baekhyun menggeleng. “Chan!” panggil Jongin.

Ani.. aku tidak melihatnya, Jong..”

Shit! Kemana dia??”. Jongin bergegas menyelempangkan tasnya dan keluar setengah berlari. Chanyeol dan Baekhyun hanya saling berpandangan aneh. Ya, Jongin memang benar-benar aneh hari ini..


“Ini taman belakang. Ada green house disana. Aku sering menanam beberapa bunga disana. Kau akan melihat hasilnya musim semi nanti.”. Jiyeon tersenyum senang membicarakan kegemarannya. Luhan hanya memperhatikannya dalam diam dari samping. Siluet Jiyeon, suaranya, aroma parfumnya, Luhan sedang menghapalnya.

“Dan ini ruang musik. Lu? Kau mendengarku?”

Ne?”

“Ini ruangan musik. Jongin suka sekali bermain piano disini. Dia benar-benar ahli..” bisik Jiyeon usil seolah memberitahukan rahasia. Luhan tertawa kecil. “Kau mau masuk ke dalam?”

Luhan menggeleng. “Lain kali saja. Kita lanjutkan..”

Jiyeon mengangguk-angguk membenarkan. Luhan lama-lama ingin sekali membawa Jiyeon pulang jika tingkahnya selalu membuatnya gemas sendiri.

“Jung-ah!!”

Jiyeon mendadak menghentikan langkahnya sehingga Luhan tak sengaja menubruknya dari belakang. Gadis itu meneguk ludahnya sendiri mendengar suara itu memanggilnya tidak sabar.

“Jongin-ah..” gumam Jiyeon pelan begitu Jongin sudah berdiri di hadapannya dengan ekspresi khawatir bercampur kesal. “Kau kemana saja, hah? Aku setengah mati mencarimu!” bentaknya kasar. Jiyeon menundukkan kepalanya. Tapi, dia diam saja.

Luhan mengerutkan dahinya tak suka melihat perlakuan Jongin kepada Jiyeon.

Tatapan tajam menusuk Jongin kini berpindah tempat. Luhan membalas tatapannya dengan tenang. “Apa yang kau lakukan padanya?” tanyanya marah.

Luhan hanya mengendikkan bahunya. “Aku hanya ingin berkeliling.”

“Bohong!” tuduh Jongin mulai tersulut emosi sendiri. Jiyeon mengaduh. Ia lupa sama sekali Jongin pernah berkata kalau ia tidak suka melihat Jiyeon bersama orang asing sendirian. Ya, Luhan masih termasuk orang asing bagi Jongin karena mereka bahkan belum saling berbincang akrab.

Jongin bilang itu salah satu bentuk perlindungannya pada Jiyeon. Gadis itu menurut saja. Tak ada salahnya jika Jongin terus menjaganya, memberikan rasa aman.

“Katakan yang sebenarnya!” bentak Jongin lagi. Luhan sama sekali tampak tak takut.

Jiyeon mendadak mengenggam erat lengan baju Jongin. Seketika itu juga Jongin menoleh, “Ada apa?”

“Dia mengatakan yang sebenarnya. Sudahlah. Ayo kita pulang.” bujuk Jiyeon agar kemarahan Jongin tak memuncak lebih dari ini.

“Ayolah, Jong..” ucap Jiyeon kali ini setengah merengek. Amarah dalam kilatan mata Jongin melemah lalu lenyap mendengar suara halus itu memintanya dengan sangat. Luhan sama-sekali-tidak-menyukai pemandangan di depannya sekarang.

Kajja..”. Jongin menarik Jiyeon menjauh. Namun, baru dua langkah, ia merasakan langkahnya tak bisa diteruskan. Jiyeon seperti diam membatu.

“Lanjutkan turnya, Nona Jiyeon.”. Suara dalam Luhan membuat Jongin mengeraskan rahangnya. Jongin menarik tangan Jiyeon lebih keras lagi. Gadis itu mengerang kesakitan. Tentu saja, satu tangannya ditarik keras oleh Jongin dan satu tangannya lagi dipegang erat Luhan yang tak ingin dia meninggalkannya.

Jongin berbalik. Ia melayangkan tatapan permusuhan ke arah Luhan. Kali ini, pemuda berwajah oriental itu membalasnya dengan maksud yang sama seperti Jongin juga.

“Lepaskan dia.” ucap mereka dingin bersamaan. Jiyeon menelan ludahnya sendiri. Ia berusaha memberontak namun tak satupun dari pemuda keras kepala itu mau merenggangkan sedikit cengkraman tangan mereka pada tangannya.

“Jong! Lepaskan aku!”. Jiyeon mengambil inisiatif. Jongin menggertakkan giginya kesal. “Kau memilih bersamanya ketimbang pulang sekarang?!”

“Aku tadi sudah terlanjur berjanji padanya, Jong..” ucap Jiyeon berusaha memberikan Jongin pengertian. “Kau tahu aku tidak akan pernah membiarkanmu bersama orang asing?”

Arra. Aku tahu, tapi dia kan bukan orang asing, Jong.. Dia bahkan teman sekelas kita!” ujar gadis itu mulai tidak sabar.

“Baiklah.”. Jongin melepaskan tangan Jiyeon dan mengangkat kedua tangannya di atas kepala. “Aku menyerah memberitahumu, Jung Jiyeon. Aku akan pulang sekarang. Pulanglah sendiri.” kecam Jongin. Jiyeon sedikit takut juga melihat Jongin terlihat sangat membencinya sekarang.

“Tenang saja, aku akan mengantarkanmu pulang, Jung..”. Luhan menyentuh pundak Jiyeon, menenangkan gadis itu. Jiyeon tersentak apalagi melihat Jongin sepertinya lebih marah lagi padanya sekarang.

“Hah, dia bahkan sudah memakai nama panggilanku padamu? Wah, akrab sekali.” sinis Jongin. Hatinya perih sekali sekarang.

“Bukan begitu..”

“Sudahlah, Jung-ah.. Ayo kita lanjutkan sebelum hari benar-benar gelap.”. Luhan menarik Jiyeon menjauh. Gadis itu terus saja menoleh ke belakang menatap ke arah Jongin yang disana sedang berusaha mati-matian menahan tangannya agar tak melayang ke wajah Luhan.


“Aku pulang, eomma..”. Jongin melempar sepatunya gusar ke rak sepatu lalu membanting pintu keras-keras. Nyonya Kim menarik kedua alisnya tinggi-tinggi. “Ada apa, Jong-ah? Kenapa kau marah-marah seperti itu?” tanyanya baik-baik melihat raut muka Jongin sedang benar-benar kacau sekarang. Amarah mendominasi ekspresinya.

“Mana Jiyeon?”

“Aku tidak tahu!” jawab Jongin setengah membentak lalu lagi-lagi membanting pintu kamarnya.

Blam.

Nyonya Kim bingung. Baru kali pertama ini, Jiyeon tak pulang bersama Jongin. Dan sekarang Jongin tampak marah sekali. Apakah mereka bertengkar lalu Jongin meninggalkan Jiyeon sendirian di sekolah?

“Aish.. ya ampun, remaja.. aku tak mengerti jalan pikiran mereka.” desah Nyonya Kim bingung. Wanita paruh baya itu lalu masuk lagi ke dapur melanjutkan aktivitasnya.


“Kau dan Jongin tinggal satu rumah?” tanya Luhan kaget. Jiyeon mengangguk. “Kami sudah tinggal bersama sejak umur kami masih 5 tahun. Aku tinggal bersama Kim eomeonim dan Jongin.”. Perlahan-lahan mereka berjalan beriringan melewati jalan menuju rumah Jiyeon. Daun-daun kuning berguguran layaknya salju, mengiringi sepanjang mereka melangkah.

Luhan tertegun. Jongin ternyata tinggal satu atap dengan Jiyeon. Pantas saja, dia merasa marah jika aku membawa Jiyeon pergi. Pasti mereka sudah seperti saudara kandung. Wah, kasus sister complex yang tinggi..

“Ada apa? Kau kaget ternyata aku tinggal bersama Jongin?”

“Tentu saja. Apalagi mengingat marga kalian berbeda. Pasti Jongin bukan saudara kandungmu kan?”

Jiyeon hanya mengangguk lagi. Hening. Jiyeon memejamkan matanya sejenak merasakan semilirnya udara menerpa wajahnya lembut. Berusaha sejenak melupakan kegelisahannya tentang Jongin yang mungkin saja sekarang sedang mengambek berat dengannya.

“Apakah kau tahu, Jung? Aku rasa, Jongin bertindak di luar kendalinya tadi. Aku rasa dia menyembunyikan perasaannya padamu.”

“Perasaan apa?” tanya Jiyeon polos. “Dia menyukaimu, kan?” tanya Luhan langsung. Jiyeon terkejut.

“Tak mungkin! Dia takkan mungkin menyukaiku.. Percayalah, aku tipe wanita paling buruk yang pernah dilihatnya.” bantah Jiyeon. Luhan tersenyum samar. Andai saja, Jiyeon menyadari tatapan Jongin yang sungguh berbeda jika sudah menatap gadis itu lama, Jiyeon sendiri juga pasti akan terkejut sendiri.

“Tapi, kau cantik dan baik hati. Mustahil sekali jika Jongin takkan menyukaimu. Apalagi kalian sudah sering bersama-sama selama lebih dari 10 tahun. Aku sangsi.” komentar Luhan ringan.

Jiyeon tercenung. Apakah Luhan ada benarnya?.  Jiyeon harus jujur pada dirinya sendiri bahwa ia benar-benar mengagumi Jongin. Mungkin Jiyeon bisa mengatakan Jongin adalah cinta pertama abadinya. Hanya, seiring berjalannya waktu, rasa cintanya lebih mendalam sebatas kakak dengan adik saja. Tidak lebih. Tapi, Jiyeon mengakui kalau Jongin adalah cinta pertama dalam hidupnya.

“Ah, bagaimana jika kita mampir ke kedai es krim itu dulu?”. Luhan menunjuk sebuah kedai es krim kecil di persimpangan jalan. “Kau ingin makan es dulu?” tanya Jiyeon balik.

“Aku akan mentraktirmu. Tenang saja. Sebagai tanda terima kasihku. Bagaimana?”. Luhan tersenyum sangat manis menurut Jiyeon sehingga lagi-lagi Jiyeon hanya bisa mengangguk seperti orang bodoh.

Luhan langsung menggenggam tangan Jiyeon. Entah untuk keberapa kalinya hari ini, Jiyeon dibuat terkejut setengah mati oleh Luhan. Jantung berdebar tak keruan bahkan hanya untuk berjalan bersama seperti tadi. Luhan seolah memberikan aura aneh yang takkan pernah membuat jantungnya beristirahat untuk sekedar berdetak normal.


Oseo oseyo..”. Bibi penjual es krim itu menyambut mereka dengan ramah. Luhan memberikan senyumannya lagi. Nampaknya, senyuman Luhan memang mempunyai efek magis bagi siapapun.

“Bisakah aku mendapatkan satu es krim cokelat?”. Luhan menunjuk ke dalam etalase kecil yang menyimpan berbagai macam es krim itu dengan tangan kirinya. Tentu saja, tangan kanannya tak lepas mengenggenggam tangan Jiyeon erat-erat. Jiyeon merasakan kini mungkin dia bisa saja demam karena pipinya terus menerus memanas sedari tadi.

“Jung-ah, kau mau pesan apa?” tanya Luhan lembut serta penuh kasih sayang. “Eoh? Ah, aku pesan rasa matcha saja.” jawab Jiyeon tersendat-sendat. Bibi penjual es krim itu tersenyum-senyum sendiri melihat tingkah Jiyeon yang serba gugup.

“Ini pesanan kalian.”. Bibi itu tersenyum lagi ke arah Luhan yang menerima pesanan mereka berdua. “Nikmati es krimnya ya. Kalian tampak manis bersama. Kalian pasangan yang serasi.”

Ani.. kami bukan pasangan!” sela Jiyeon cepat.

“Tapi, tak akan lama lagi, kami pasti akan menjadi pasangan, bukan begitu, Jung-ah?”. Luhan melemparkan smirk mautnya ke arah Jiyeon. Gadis itu tersenyum aneh. Ia merasakan jantungnya jatuh ke dasar lambung kala Luhan tersenyum seperti itu.

“Jika begitu, semoga beruntung..” ucap Bibi itu memberikan semangat pada Luhan. Pemuda itu mengerlingkan matanya sebagai tanda terima kasih.


“Ayo duduk..”

“Tapi, hari sudah hampir gelap.” cicit Jiyeon yang sepertinya sudah tidak sanggup lagi. Ia takut jantungnya benar-benar hilang jika bersama dengan Luhan beberapa saat lagi. Sepertinya, Luhan tidak menggubris perkataan Jiyeon dan langsung menyeret gadis itu ke meja di pinggir kaca kedai yang besar sehingga mereka bisa dnegan leluasa melihat ke arah jalan raya yang mulai tampak ramai karena pekerja kantoran mulai bubar.

Jiyeon menjilat es krimnya perlahan. Sekali-kali, ia mencuri pandang ke arah Luhan yang tampak sedang memperhatikan suasana di luar. Ya Tuhan, bagaimana bisa ada pemuda setampan dia?, Jiyeon berdecak kagum dalam hati.

Gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya ketika Luhan kini menatapnya. Kaki Jiyeon terus mengetuk ke kaki kursi karena sangat gugup. Luhan tersenyum kecil melihat Jiyeon yang selalu saja salah tingkah saat bersamanya hari ini.

“Jung-ah..”

Jiyeon menoleh.

Set..

Luhan langsung mengelap sudut bibir Jiyeon yang belepotan es krim. Damn! Aku bisa mati sekarang.., Jiyeon memaki dirinya sendiri karena baru sadar jantungnya benar-benar lemah menghadapi perlakuan seperti ini. Padahal, Jongin biasa memperlakukannya seperti ini juga.

Ada apa denganmu hari ini, Jung-ah? Kau gila?

Luhan meneguk ludahnya sendiri melihat Jiyeon yang kini terpana memandangnya dengan mata bulat besarnya itu. Ya, Jiyeon tampak sempurna dengan kedua mata indah itu. Luhan merasakan debaran jantungnya mulai menggila. Tangannya belum beralih dari sudut bibir Jiyeon. Mereka berdua terdiam seakan waktu terhenti sekejap.

Jiyeon mendapatkan kesadarannya kembali. Ia langsung memundurkan kursinya cepat-cepat.

“Ah, choisonghamnida..”. Luhan mengerjapkan matanya berusaha mendapatkan kesadarannya juga dan meminta maaf. Jiyeon menggeleng. “Tidak apa-apa. Hanya aku saja yang aneh. Harusnya itu bukan apa-apa bukan?”. Jiyeon memaksakan seulas senyumnya. Ia merasakan kini tangannya benar-benar dingin karena gugup yang melandanya benar-benar sudah parah.

“Aku akan pulang. Rumahku ada di dekat sini. Kau tak perlu mengantarku.”. Jiyeon bangkit dengan tergesa-gesa. Luhan hanya diam di tempat duduknya. Ia memandang Jiyeon yang masih sempat membeli satu cup es krim untuk Jongin nanti.

Luhan tak berusaha mengejar Jiyeon yang kini sudah berada di luar dan berjalan melintasi kaca kafe dekat tempat mereka duduk tadi. Hanya ekor matanya yang mengikuti siluet Jiyeon yang perlahan-lahan menghilang.

Lu, ada apa denganmu? Kau jatuh cinta padanya hanya dalam satu hari? Bukankah tak ada yang namanya cinta pada pandangan pertama? Konyol sekali..

Luhan termangu dengan sebelah tangan yang menopang dagunya serta tatapan yang menerawang jauh kesana. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Hanya wajah Jiyeon yang kini terdapat dalam benaknya. Ada satu perasaan aneh yang menelisik ke dalam hatinya setiap kali melihat Jiyeon.

Perasaan macam apa itu?

Comment jangan lupa ya!! Gamsahamnidaa ^^

Warm hug, Euri

 

Advertisements

8 thoughts on “[Ficlet-Series] PROMISE (2)

    • wahaha.. ada shipper jiyeon-jongin 🙂 mereka terlalu lucu buat gajadi couple ya ;( yah, semoga kelanjutannya bisa seperti itu.

      Makasii banyak yaa udh komen… terus ikutin cerita aku yaa

      LUV, EURI

      Like

    • walaupun takdir mereka masih jauh tapi setidaknya selama sma ini mereka udh bisa nyari takdir mereka sendiri2 /apalah/ makasii yaa udh komen, mohon ditungguu kelanjutannya!

      Warm hug, Euri ❤

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s