[Ficlet] Forecast!

forecast1

|| Title: Forecast! || Author: Phiyun || Genre: Romance | Comedy | School Life || Cast: Irene (RV) | Mark (Got7) ||

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Kisah kali ini aku fokuskan di Pov Irene yah,

*** Happy  Reading ***

Menurut ramalan di majalah, hubungan percintaan pasangan golongan darah A dan B tidak akan berjalan mulus. Sifat mereka sangat berlawanan, tapi bila hanya sebatas teman akan berjalan baik. Tapi menurutku teori itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan hubungan kami, kuharap…

~OoO~

“Aku suka Mark, Ma—maukah kau jadi pacarku!?”

Sang pria tercengang bola matanya yang besar membulat sempurna. Untuk sesaat suasana disekitar mereka terasa canggung.

“Be…benarkah? Aku juga menyukaimu!” sahutnya dengan kedua manik yang berbinar-binar sambil tersenyum.

Mendengar jawaban dari pria yang saat ini berdiri di hadapannya, Irene menjerit tanpa suara. Ia tak percaya bila pengakuan cintanya di sambut hangat oleh pria yang selama ini ia kagumi sejak dua tahun yang lalu. Kedua pipi milik Irene bersemu merah bak kepiting rebus. Di kedua gedang telinga miliknya, Irene hanya dapat mendengar kebisingan hatinya yang saat ini sedang berhivoriah dengan keras, bahkan ia yakin bila jantungnya seakan menyeruak lepas dari tenggorokannya saatsetiap kali  ia menatap kedua mata lawan bicaranya.

“Ja—jadi…” gadis itu berkata ragu sambil merunduk malu,

Mark membalas. “Nanti pulang sekolah kita pulang bersama ya, Irene-ah..” kemudian mengacak lembut puncak kepala milik kekasihnya.

~OoO~

Perkenalkan aku Bae Irene bergolongan darah A. Sedangkan pacarku, Mark Tuan bergolongan darah B. Dan hari ini kami baru saja jadian.

###

“Benarkah!? Selamat ya, Irene-ah. Akhirnya penantianmu kesampaian juga.” kata Joy girang saat mendengar kabar gembira dari sahabat karibnya, Irene.

“Suara Joy, keras sekali!” balas Irene dengan cepat sambil sibuk melihat sekelilingnya.

Joy tertawa saat melihat sahabatnya, panik bila ucapan selamatnya kedengaran oleh orang sekitarnya.

“ Point 1 – A : Pemalu “

“Senangnya, kamu pasti sangat suka sama dia.”

Dan ucapan sahabatnya langsung di iyakan oleh Irene dengan anggukan di selingi oleh senyuman. “Iya.. sangat suka, karena bila bersama dengan Mark aku tidak merasa kesepian.”

Namun senyuman itu seketika menghilang dari sudut bibirnya saat sahabatnya, Joy berkata kembali kepadanya.

 “Bukannya Mark golongan darah B? Golongan darah  A dan B tidak akan langgeng, bukan?”

“I—itu…”

ucapan Joy kembali, membuat sahabatnya semakin terpojok, “Kamu kan sering baca buku ramalan, di buku manapun pasti dikatakan begitu?”

“A—aku tahu, sudah tahu.” seru Irene dan tak beberapa lama kemudian nada suaranya mulai melemah.  “Aku tahu itu…”

“Point 2 – A : Mudah putus asa namun ia juga mudah bangkit dari keterpurukannya.”

 

“Tapi, meskipun hubungan cinta golongan darah A dan B tidak baik, aku pikir tidak akan jadi masalah bila kami saling mencintai. Golongan darah kan bukan segalanya.” sahut Irene mantap.

Baru saja ia berkata itu, tiba-tiba orang yang sedari tadi di perbincangkan datang ke kelasnya. “Hai, Irene, sudah makan siang?”

“Makan siang? Tadi aku sudah makan siang sama Joy.”

“Point 3 – A : Sulit untuk berbohong.”

 

 

Dan Mark pun menjawab. “Ooh… begitu ya? Ya sudah, dah…” kemudian berlalu.

“Point 1 – B : Tergantung mood”

 

Tak sengaja Irene melihat Mark menjinjing sebuah kantong plastik, dan ia beranggapan bila pria itu sudah membelikan makan siang-nya juga.

“Mark! Tunggu!!” panggil gadis berparas cantik itu sambil berlari ke arah Mark.

Sang pria menoleh ke belakang. “Ada apa?”

“Mau makan siang bersama? Sepertinya aku masih lapar. Apa kamu mau?” kata Irene dengan hati-hati.

“Point 4 – A : Dapat membaca sikon”

“Tentu aku mau.” Jawab Mark dengan sumeringah.

~OoO~

-Beberapa saat kemudian-

Mark mengajak kekasihnya, Irene untuk makan siang bersama dengan dirinya di atap gedung sekolah. Semilir angin mengalun lembut di sela-sela surai gadis itu. Irene terlihat sangat kikuk saat ia hendak menikmati roti selai coklat yang saat tadi telah dibelikan oleh Mark untuk dirinya.

“Kenapa tegang?” celetuk Mark membuyarkan lamunan kekasihnya. “Eh??”

Melihat tampang polos Irene, Mark pun tertawa lepas. “Imutnya…” sambil menepuk-nepuk lembut puncak kepala Irene. “Aku juga tengang, tapi aku sangat senang!”

Perkataan Mark membuat jantung Irene semakin kian berdentum kencang. “Jangan panik, tenanglah Irene-ah.” jerit batin gadis itu di dalam bisunya.

“Irene-ah… apakah kau tahu hari ini Bambam baru jadian juga loh sama Seulgi.”

“Ah? Masa sih? Kamu tahu darimana?” kata Irene tak percaya.

Mark pun lalu menjelaskan darimana ia tahu. “Anak-anak club Judo yang bilang padaku.”

“Point 2 – B : Berpandangan luas.”

 

Hampir sepanjang jam istirahat sekolah Mark menceritakan tentang apa yang terjadi di dalam sekolah akhir-akhir ini kepada Irene. Dan Irene pun mendengarkan semua cerita yang di beritahu oleh kekasihnya, Mark dengan seksama tanpa mengeluh sedikitpun.

 

“Point 5 – A : Pendengar yang baik.”

~OoO~

Empat bulan kemudian

-Sepulang sekolah-

“Eh?? Ke rumah Mark sekarang?” ujarku. Aku sedikit panik saat di ajak main ke rumahnya, meskipun kami hampir empat bulan jadian dan kami juga sudah saling mengenal kedua orang tua masing-masing tapi aku masih merasa canggung karena ini kali pertama aku di ajak ke rumahnya.

“Iya, memang sih sedikit berantakan, bagaimana?” tanyanya kembali, Aku terdiam dan bingung apa jawaban apa yang akan aku katakan padanya. Merasa ucapannya tidak aku hiraukan, Mark pun berkata. “Kalau tidak mau juga tidak apa-apa kok.” dengan tampang kecewa.

“Aku mau!” seruku tanpa berpikir panjang. Seketika wajah Mark yang lesu menjadi bersemangat saat mendengar jawabanku.

Mark berjalan mendekat padaku lalu ia mengenggam tanganku dan kemudian berkata. “Kajja…

~OoO~

-Setibanya di kediaman Mark-

Irene di persilakan oleh Mark masuk ke dalam kamarnya, dan bertapa terkejutnya saat ia melihat kamar sang kekasihnya sangat kotor dan berantakan. Banyak baju kotor yang berserakan di bawah lantai maupun di kasur dan bangku. Bukan itu saja, di sana juga banyak bungkusan-bungkusan snack maupun botol minuman soft drink yang telah habis namun belum terbuang. Sampah-sampah itu teronggok begitu saja di pojokan dinding.

“Point 3 – B : Tidak rapi.”

“Ayo ma—.” belum sempat Mark menyelesaikan ucapannya, Irene langsung berhambur ke dalam kamar kekasihnya yang berantakan seperti kapal pecah.

“Kita bersih-bersih yuk!” ajak Irena

Mark kaget saat kekasihnya saat ini  sedang  menyibukan dirinya di atas tumpukan barang-barang yang bisa di katakan barang itu adalah sampah.

“Ehh? Tapi, Irene-ah, kau tidak usah…”

Sekali lagi gadis berkuncir kuda itu menyela perkataan Mark. “Baiklah! Mark yang rapikan pakaian kotornya, aku merapikan ini (sampah).” tambah Irene lagi.

“Point 6 – A : Merasa risih bila melihat sesuatu yang berantakan.”

~OoO~

-Dua jam kemudian-

“Wah hebat…” ucap Mark dengan mulut yang menganga saat melihat kamarnya sangat bersih dan rapi. “Maaf ya, Irene-ah, sudah merepotkanmu. Terimakasih.” ungkapnya dan di saat itu juga Irene tiba-tiba langsung berlari ke depan Mark.

Mark terhenyuh saat Kekasihnya, berlari kencang kearahnya seolah ia hendak berlari memeluk dirinya. Namun pikiran Mark salah, Irene ternyata berhenti di depan rak buku tepat disamping dirinya. Ya, gadis itu merapikan urutan buku sesuai jilid penerbitan. Mark semakin takjub dengan ketelitian kekasihnya.

 “Uwaaa… rapinya.” imbuhnya kembali. “Sebenarnya aku orang yang rapi kok.” Seketika kening Irene berkerut saat mendengar pengakuan sang pacar. “Ayo kita nonton televisi.“ tampa rasa bersalah.

“Dimana rapinya? Kamarnya kaya kapal pecah dibilang rapi!” gerutu Irene dalam batinnya. Karena ia tak ingin bertengkar dengan kekasihnya, Mark. Akhirnya Irene hanya menghela napas kemudian ia duduk di samping Mark. Tak sengaja kedua bahu mereka saling bersenggolan. Spontan ia dan Mark saling bertatapan.

Irene termangun, gadis itu mematung bagaikan manekin. “Kamu deg-degan, ya?” celetukkan Mark membuat kedua pipi gadis itu menyemburkan warna kemerehan bak tomat yang terlihat ranum.

“A—paan sih? A—aku…”

“Aku selalu deg-degan bila di sampingmu.” potong pria itu kembali dan kemudian…

Chu…

Mark mengecup lembut sebelah pipi Irene untuk beberapa detik dan itu membuat bukan hanya pipi gadis itu saja yang berwarna merah namun seluruh wajahnya sekarang telah berwarna kemerahan.

 “Besok minggu kita jalan-jalan yuk, ke taman bermain.” Dan ajakan Mark pun langsung di iyakan oleh Irene dengan anggukan kepala.

“Point 4 – B : Tidak sabaran.”

~OoO~

-Satu hari sebelum ke taman hiburan-

“Mark-ah, sudah membuat rencana bersama untuk besok hari minggu di taman bermain. Aku bahkan sudah…” sambil meronggoh dalam tas miliknya untuk memperlihatkan pamflet wahana yang ada di dalam taman hiburan kepada Mark.

“Point 7 – A : Tipe orang yang suka berinisiatif.”

Namun sebelum itu terjadi, pria jangkung yang berdiri di sampingnya berkata. “Rencannya nanti saja ya, kalau kita sudah tiba di sana.”

“Ke—kenapa?”

“Kelihatannya sedikit merepotkan. Kan kasiahan sama kamu juga.”

“Point 5 – B : Tidak menyukai suatu yang sulit.”

 

 

“Aku tidak merasa repot. Aku berpikir lebih baik semuanya direncanakan biar lebih praktis.” ucap sang kekasihnya, Irene. “Kamu selalu saja bilang ini merepotkan. Harusnya Mark mencoba berubah lebih baik.”

Mark menoleh dan beberapa saat kemudian berkata. “Baiklah, lakukan apa yang kamu suka.” seraya menghela napas dan jawaban itu membuat Irene semakin kesal kepada sanga kekasih.

“Oke. Akan kulakukan!!!” sahutnya ketus.

“Point 8 – A : Keras kepala.”

~OoO~

Aku hanya ingin bersenang-senang dengan Mark, kenapa jadi bertengkar seperti ini? Aku kan hanya ingin membuat semuanya menjadi praktis dan berjalan sesuai rencana.

“Pasti Mark kecewa padaku saat itu.” ku hempaskan napasku panjang-panjang saat memikirkan kejadian tadi siang bersama Mark.

“Besok sebelum pergi kencan, aku akan meminta maaf padanya. Dan setelah itu kami berdua melupakan semua yang telah terjadi pada hari ini.”

“Point 9 – A : Mudah khawatir.”

~OoO~

D-day-

 

Seperti biasa Irene telah tiba terlebih dahulu di stasiun kereta api, dimana sehari sebelumnya mereka sudah janjian di sana. Irene sudah menyiapkan semuanya di waktu dini hari. Ia juga tidak lupa membuat bekal makan siang untuk kekasihnya, Mark.

“Maaf kan aku, ya atas soal kemarin.” Gadis itu berlatih untuk mengungkapkan rasa bersalahnya. Tak selang beberapa saat kemudian datanglah orang yang sedari tadi ditunggu oleh dirinya. Ya, Mark datang dengan pakaian yang kasul namun terlihat trendi.

“Irene-ah…” sambil berjalan kearah gadis itu dengan tersenyum.

Setibanya Mark dihadapannya, ia langsung mengutarakan permintaan maafnya saat kemarin. “Mark-ah, maafkan aku soal…”

“Maafkan aku, Irene-ah. pergi ketaman hiburannya hari ini kita tunda ya.” Sela mark.

Irene mematung. “Eh?”

“Iya hari ini ada pameran otomotif, di sana pasti banyak motor modifikasi yang dipajang, kau kan tahu aku penggemar modifikasi motor. Kamu mau ikut bersamaku?”

“Point 6 – B : Sering berbuat sesuka hati.”

~OoO~

Aku tertegun saat Mark berkata bila rencana yang sudah aku rancang di undur. Mengapa dia tidak bicara padaku sejak awal bila kita tidak jadi pergi ke taman bermain. Apakah dia sedang bercanda kepadaku?

“Aku ingin sekali melihat pameran itu, Irene-ah.” Mark merajuk dan apa yang ia putuskan membuatku kecewa. Padahal tadi aku sudah senang bila hari ini aku dan Mark menghabiskan waktu bersama-sama di taman bermain.

“Tapi, Mark-ah… kemarin aku sudah buat rencana,” kemudian mengeluarkan secarik kertas yang bertuliskan list rencana yang akan kita berdua lakukan disana.

Dan dengan gampangnya Mark berkata padaku, itu membuatku semakin kecewa. “Oh itu,mah gampang. Rencana hari ini kita ganti ya. Ayo kita pergi sekarang kesana.”

Aku terdiam, aku sama sekali tak menjawab ajakannya. Aku sakit hati dengan perkataan Mark yang suka melakukan apa yang ia inginkan tanpa peduli dengan perasaanku.

~OoO~

Merasa ajakannya tak di hiraukan oleh kekasihnya, Irene. Mark pun akhirnya mengalah. Ia mengikuti keinginan sang kekasihnya.

“Maaf…Maaf… lain kali saja deh pergi ke pameran otomotifnya, kan pamerannya masih ada hari lain. Jadi sekarang kita pergi ke taman bermain saja yuk.”

Irene tetap terdiam, gadis itu masih menunduk. “Mungkin ini karena golongan darahku A.” bisiknya.

“Ada apa, Irene-ah, aku tidak mengerti. Ayo kita berangkat.”

Saat Mark mengegam tangan Irene, tiba-tiba gadis itu menepisnya. “Aku tidak akan pergi! Mark egois!” teriaknya kemudian melempar kencang daftar rencana mereka berdua di depan Mark.

“Kau kenapa? Irene, biasanya tidak pernah keras kepala seperti ini!” bentaknya

“Cukup! Memang benar aku dan kamu tidak cocok!” setelah mengatakan itu, Irene langsung pergi meninggalkan Mark begitu saja.

~OoO~

-Di kediaman Irene-

Setibanya dirumah, aku langsung berlari ke dalam kamar. Di sana aku menangis sejadi-jadinya. Aku kesal dengan Mark. Kenapa ia selalu berbuat semaunya. Harusnya di konfirmasi dulu padaku, bila hari ini tidak jadi.

Memang benar sih, kalau dipikir-pikir aku juga egois. Aku membuat list rencana ke taman bermain tampa berbicara dengan Mark, apakah dia suka dengan rencana yang aku buat atau tidak.

“bibipp…bibipp…bibipp…”

Suara pesan di ponselku membuat lamunanku buyar, kuraih ponselku dan kemudian membacanya. “Ada hal yang ingin aku bicarakan. Keluarlah sebentar, aku sudah ada di depan rumahmu.”

“Bicara??” bibirku terasa keluh saat mengucapkan kalimat itu.

Mungkinkah akan berakhir sampai di sini.

~OoO~

Dengan ragu-ragu Irene menekan kenop pintu rumahnya. Dan benar di sana sudah ada Mark yang telah menunggu dirinya di depan halaman.

“Irene-ah…” sapa pria itu.

Perlahan-lahan Irene berjalan menghampirinya dan kini pembatas dirinya dan Mark telah dibukakannya.

“Aku benar-benar minta maaf soal tadi. aku yang salah!” kata Mark dengan wajah yang bersalah. “Kalau kau kesal padaku, pukul aku saja.”

Plak!

Gadis itu menampar pelan sebelah pipi Mark. Mark terperangah.

“Bodoh!! Harusnya aku yang tidak berbicara seperti itu padamu.” sahut Irene dengan deraian airmata.

Mark menjadi kalut saat gadis yang ia sayangi menangis tersedu-sedu di depannya. “Kau jangan menangis lagi, dong Irene-ah, nanti aku ikut menangis, nih.” ledek Mark sambil memeluk kekasihnya.

“Yang harusnya minta maaf itu aku, Mark-ah. Aku yang salah. Maafkan aku yang keras kepala.” ungkap Irene yang masih terisak-isak.

“Sudahlah, jangan dipikirkan. Aku juga salah kok kepadamu, maafkan aku yah, Irene-ah.” balas Mark seraya membelai lembut puncak surai milik kekasihnya, Irene.

~OoO~

-Keesokan harinya-

Seperti biasa Irene dan Mark pulang sekolah bersama-sama. Nampaknya kejadian kemarin sudah mereka lupakan. Tidak ada lagi rasa canggung maupun kesal.

“Jadi menurut ramalan golongan darah A itu tidak cocok dengan golongan darah B? Kenapa bisa begitu?” tanya Mark polos.

Irene pun membalasnya dengan tersenyum. “Entahlah, mungkin itu cuman mitos, hahaha…” kekehnya.

Tak terasa mereka berdua telah sampai di depan rumah Irene. Saat kekasihnya, Irene hendak masuk ke dalam, tiba-tiba Mark menarik lengan gadis itu dan lalu berkata.

“Besok kita pergi ke taman hiburan, yuk Irene.”

“Kalau begitu kita buat jadwal rencana baru dong?” sahutnya.

Mark mengangguk. “Ok! Tapi untuk rencana besok kamu tidak usah memikirkannya, aku sudah membuat jadwal rencana kita.” Lalu ia memberikan sebuah lembaran kertas pada orang tercintanya. Di sana tertera rencana apa saja yang akan mereka lakukan disana, seperti naik bianglala, jet coaster, dan lain-lainnya.

Hati gadis berambut kecoklatan itu terhenyuh saat membaca daftar list yang sudah di buat oleh Mark.

“Mark-ah…” dengan mata yang berbinar-binar.

“Bagaimana, menurutmu?”

“Aku suka! Tapi rencana ini harus aku perbaiki, kan kamu mau pergi ke pameran otomotif.” ujarnya kembali.

“Aah… pameran itu? Acara itu bisa nanti-nanti kita pergi kesananya…” kemudian mengacak-acak lembut puncak kekasihnya, Irene kemudian memekuknya.

Irene sangat senang dengan apa yang sudah di siapkan oleh Mark untuknya.

“Mark –ah, aku percaya kalau hubungan golongan darah A maupun golongan darah B pasti cocok, sama seperti kita, benarkan Mark-ah.”

“Maksudmu?? tanya Mark dengan dahi yang berkerut.

Sang gadis tersenyum dan kemudian menjelaskan kepada orang yang dicintainya. “Iya… seperti kau dan aku. Aku yang bergolong darah A dan kau yang bergolong darah B.”

“Golangan darah B??”

Irene mengangguk “Hemm! Kita tetep cocok kok.”

“Tapi, Irene-ah…” Mark terllihat ragu saat menatap kembali Irene, sebelum ia menyelesaikan ucapannya. “ Golongan darahku A kok, kata siapa B?”

Kedua mata gadis cantik itu terbelalak lebar saking terkejutnya bahkan mulut gadis itu pun terganganga di  waktu yang bersamaan saat dirinya  mendengar pengakuan dari kekasihnya, Mark.

-The End-

Kesimpulannya: Ramalan golongan darah itu tidak dapat dipercaya.

~OoO~

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet] Forecast!

    • Kebetulan posternya aku buat sendiri euri, aku buat jadi bentuk gif lewat photoshop.

      Poster buatanku gak keren kok, aku masih tahap belajar. Ini aja aku di ajarin ma kk ku cara gabungin gambar ke 2 sampe gambar seterusnya dalam satu frame 😊

      Thinkyu ya dah nyempetin mampir kesini ^^

      Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s