[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #13. 돌아와줘요 (Please, Comeback)

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

“Idemu di dalam buku ini. Aku ingin menggunakannya untuk comebackku nanti.”

Yoona melirik sekilas buku birunya yang berada dalam tangan Donghae.

“Dan aku membutuhkanmu di label untuk bisa melakukan semua ini.”

Yoona menggeleng pelan. Raut wajahnya berubah menjadi keruh dan sedih lagi. Semua aura kegembiraannya lenyap seketika.

Ani, aku tidak akan kembali ke label. Tapi, kau bisa memakai ideku.”. Yoona mengangguk lagi membenarkan ucapannya sendiri.

Donghae mulai kehabisan akal. Ia ingin membujuk Yoona kembali, tapi tidak secara terang-terangan. Harga dirinya juga perlu ia jaga. Gengsi artis tentu saja tinggi.

“Waktu itu, aku terlalu sensitif, aku mengakui aku sudah kelewatan. Pikiranku sedang benar-benar kacau. Karena itu, choisonghaeyo. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu seperti itu.”. Suasana benar-benar canggung hingga rasanya Donghae ingin ditelan ke dalam bumi saja. Ia benar-benar malu mengatakan semua ini.

“Ah, aku pikir kau tidak akan minta maaf. Haha..” tawa Yoona palsu. Donghae merasa kian bersalah.

Jebal, kembalilah sebelum comeback ku akan dimulai, Yoona-ssi. Aku mohon.”

Aniyo. Aku tidak akan kembali walaupun kau akan mengorbankan segalanya.”. Yoona sama sekali tidak menatap ke arah Donghae ketika mereka mengobrol walaupun mereka duduk bersebelahan seperti ini. Donghae benar-benar kehabisan akal sekarang.

Lalu apalagi yang harus kuperbuat untuk membuatmu kembali, Yoona-ya? Ketika kau tidak ada disini, aku bahkan menjadi lebih gelisah dari sebelumnya. Seperti ada sesuatu yang hilang.

“Jujur saja, aku merasa sangat tidak nyaman bekerja sama denganmu, Donghae-ssi. Lagipula, aku akan segera mendapatkan pekerjaan kembali lewat bantuan temanku.”. Donghae terkejut. Jika begini, kemungkinan Yoona untuk kembali semakin sempit.

“Im Yoona-ssi..”. Yoona mengabaikan panggilan Donghae dan segera berdiri sebelum pendiriannya berubah karena merasa trenyuh oleh sikap Donghae. Ia lebih ingin menangis terharu karena Donghae sampai datang kesini untuk membujuknya kembali. Tapi, bagaimanapun juga, Yoona punya harga diri.

Ia sudah bertekad untuk menujukkan kepada Donghae bahwa dia bukanlah gadis yang mudah dipermainkan olehnya begitu saja.

“Bagaimanapun juga, aku sangat berterima kasih karena kau sudah repot-repot datang kesini, Donghae-ssi.”. Yoona membungkukkan badannya dalam-dalam di depan Donghae. Sontak, pemuda itu berdiri dan merasa lebih tidak enak hati lagi.

Geureom, annyeonghi gyeseyo (selamat tinggal)..”. Yoona membungkukkan badannya kembali. Pandangan mereka saling memaku sejenak seakan tak rela melepas masing-masing. Hanya saja Yoona tidak mengerti maksud pandangan Donghae seperti yang seharusnya. Yoona hanya harus tahu jika Donghae juga sulit untuk melepaskannya entah kenapa.

Yoona langsung membalikkan badannya pergi sebelum air matanya benar-benar turun di hadapan Donghae langsung. Donghae mengeraskan rahangnya.

Kenapa aku bahkan tak bisa memintanya untuk kembali? Sepayah itukah aku di matanya?

Pandangannya masih belum bisa lepas dari punggung Yoona yang semakin menjauh dan akhirnya hilang di balik tikungan jalan di depan sana.


“Kenapa teman Jessica belum juga meneleponku?” ucap Yoona gelisah. Sedari tadi tangannya sudah bersiap di atas layar ponselnya untuk menjawab panggilan masuk.

Ponselnya bergetar. Yoona terkejut lantas langsung mengangkatnya dengan senyum sumringah di bibirnya.

Yeoboseyo?”

“Im Yoona-ssi? Aku Henry Lau, teman Jessica.”

“Ah, ne..”

“Emm.. aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya.”. Sorot mata Yoona meredup. Perasaannya mulai tidak enak. “Ada apa?”

“Kemarin, ketika aku menanyakan kepada temanku lagi, ternyata posisi yang kujanjikan itu sudah terisi oleh orang lain.”. Yoona mendelik.

“Tapi kau bilang ini hal yang pasti!” marah Yoona.

“Aku juga tidak tahu kenapa mendadak bisa seperti itu. Dari awal dia sudah sepakat denganku untuk bisa memasukkanmu ke dalam jabatan yang kau inginkan itu.. Choisonghamnida…” ucapnya masih dengan logat Amerika yang kental. Yoona mengurut pelipisnya sendiri. Kepalanya mendadak pening.

“Ah, geuraeyo, kau tidak bersalah. Terima kasih sudah meluangkan waktumu untukku. Ne.. gamsahamnida..”

Yoona melempar ponselnya kesal ke atas sofa di seberangnya. “Ya ampun! Kenapa nasibku menjadi lebih sial setelah keluar dari NCT Entertainment? Aku bisa gila!”. Yoona menimpuki kepalanya sendiri menggunakan bantal sofa.

“Ah.. apa yang harus kulakukan sekarang?” gumamnya sendiri bingung.

Kraukk..

Perut gadis itu memberontak meminta jatah makan siangnya. Yoona mendengus. “Kenapa aku mudah sekali menjadi lapar sejak menjadi pengangguran?” gerutunya seraya berjalan ke dapur.

Mwoya? Nasinya habis?” ujarnya ketika melihat rice cookernya kosong. “Baiklah aku akan memasaknya dulu..”. Ia beranjak menuju tempat penyimpanan beras. “Eiii? Berasnya juga habis?”. Yoona langsung jatuh terduduk lemas di atas lantai.

“Huaaa.. eomma. Bagaimana ini??” rengek Yoona tak ada harapan.


Donghae membuka pintu ruangan para manager perlahan. “Jungsoo-ssi, apakah Im Yoona sudah datang?” bisiknya.

Jungsoo melepas kacamatanya bingung. “Dia kan sudah dipecat olehmu, Donghae-ssi. Bagaimana kau ini?” tanya Jungsoo balik. Donghae meringis.

“Atau kau sudah memintanya untuk bekerja kembali?”

Ani! Bagaimana mungkin aku memintanya kembali? Konyol sekali seakan-akan tak ada manager lain!” bantah Donghae cepat-cepat dengan gugup. Jungsoo mengendikkan bahunya. “Siapa yang tahu?”. Pria itu lalu lanjut mengerjakan pekerjaannya tanpa mempedulikan Donghae yang masih saja berdiri di ambang pintu.

Matanya terpaku pada gelas berisikan bawang bombay di atas meja Yoona. Jadi, gadis itu tetap merawatnya?


Yoona mengumpet di balik tiang listrik di dekatnya begitu melihat Ayahnya masih bekerja di toko roti milik keluarganya di depan rumah. Ia kira bukan giliran Ayahnya yang berjaga hari ini karena Yoona ingin memberikan kejutan kepada orangtuanya. Kehadirannya di rumah saja sudah merupakan suatu kejutan bagi keluarga Im karena Yoona yang jarang sekali pulang itu.

Ia memperhatikan Ayahnya yang sedang makan disana. Pria tua itu tampak sedang menikmati jjangmyeon dengan uap yang masih mengepul di sana.

Jjajangmyeon lagi? Ayah masih mengirit makanannya sendiri? Kenapa dia tidak makan makanan yang lebih bergizi lagi? Dan aku kesini untuk minta makan karena menjadi pengangguran? Memalukan sekali!

“Tuan Im! Mana cake untuk putriku? Kenapa belum kau antarkan juga?” bentak seorang pria muda yang tiba-tiba datang ke toko kecil itu sembari membawa amarah. Yoona tersentak melihat Ayahnya datang dengan tergopoh-gopoh melayani.

“Ah, maafkan aku. Aku belum sempat mengirimkannya sekarang. Aku sedang istirahat makan siang. Para pekerjaku sedang mengambil cuti sehingga harus aku sendiri yang melakukan semuanya.”

“Ahh.. tak ada alasan! Bagaimana bisa kau bersikap tidak profesional seperti ini? Pesta ulang tahun anakku akan dimulai 15 menit lagi dan cakenya belum datang! Konyol sekali pesta ulang tahun malah tak ada cakenya!”

Tuan Im membungkukkan badannya yang sudah renta itu berkali-kali untuk meminta maaf. Yoona mengepalkan tangannya sendiri erat-erat melihat peristiwa di hadapannya. Geram sekali rasanya melihat ada anak muda yang tak tahu diri seperti itu.

“Baiklah. Aku akan segera mengantarkannya..”

Pemuda itu pergi meninggalkan toko kue Keluarga Im dengan langkah menghentak tak sopan.

Yoona menghela napasnya pelan. Perlahan, jarinya mengetuk layar ponsel menekan beberapa nomor yang sudah ia hapal di luar kepala.

“Eo.. Appa..”

“Ah, uri ttal-iya.. (anak perempuanku..)” sahut suara di seberang sana begitu bahagia. Yoona tersenyum miris. Bahkan Ayahnya masih menyambutnya dengan suara riang itu seolah tak ada masalah yang baru saja menghampirinya.

“Kau makan dengan baik?” tanya Yoona tercekat. Gadis itu bisa melihat ayahnya mengangguk dengan bersemangat disana seraya masih terus tersenyum bahagia. Seolah ditelepon oleh Yoona merupakan suatu keajaiban yang bisa membuat seluruh kepenatan hidupnya menguap.

“Ya, aku makan dengan baik.” jawab Tuan Im.

Yoona menghela napas lagi. Ayahnya masih sempat berbohong untuk tidak membuatnya khawatir. Kenapa dia menutupinya?

“Kau tidak makan jjajangmyeon lagi kan untuk makan siangmu?”

“Hahaha.. tenang saja anakku.. Aku makan dengan baik. Ibumu memasak beragam makanan yang sangat menyehatkan. Aku sedang menyiapkan pesanan sekarang. Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

Air mata Yoona meleleh perlahan. Kenapa nada bicara Ayahnya yang sangat tulus, tanpa penuh amarah bahkan setelah dia secara tidak langsung direndahkan oleh konsumennya seperti itu?

Kenapa Ayah begitu sabar dan tidak ingin membuatku khawatir sama sekali? Dan aku? Datang kesini untuk meminta makanan, malah akan membuat mereka berspekulasi yang tidak-tidak. Mereka pasti akan kecewa sekali jika tahu aku sudah dipecat disini.

Yoona menggigit bibirnya, menahan isakannya keluar dari mulutnya. Disana, Yoona masih menatap nanar Ayahnya yang dengan senyuman yang terpatri lekat di wajahnya itu, memberikan kehangatan bagi siapapun yang melihatnya. Membuat Yoona malu karena telah menyerah begitu saja.

“Makanlah dengan baik Ayah..”

“Eoh? Kenapa suaramu terdengar sedih seperti itu? Apakah kau ada masalah?”

Yoona mengusap pinggir matanya menggunakan punggung tangan. “Ani.. tak ada masalah.”. Suara Yoona bergetar otomatis mendengar ketulusan Ayahnya yang langsung menyentuh tepat di hatinya. Aku tidak bisa membuatnya khawatir dan kecewa seperti ini.. Im Yoona, kau harus berjuang untuk orang yang kau cintai!

“Bekerjalah dengan baik, arra? Ayah harus mengantar pesanan ke pelanggan dulu. Telepon dan mampir jika kau sempat.. Wah, mendengar suaramu saja seperti ini memberikanku banyaak sekali energi baru. Terima kasih.”

Yoona mengangguk dalam diam. Seolah menganggap Ayahnya bisa melihat anggukannya saat itu.

“Sama-sama,appa.. Ah! Donghae-ssi meneleponku, aku pergi dulu.” ucap Yoona buru-buru kala merasakan rasa sesak dalam dadanya tak tertahankan lagi. Isakannya akan benar-benar tidak bisa ditahan lagi.

Ne, uri-ttaliya..”

Trek.

Sambungan terputus. Yoona tersedu sedan pelan. Melihat Ayahnya yang bekerja sangat keras seperti itu membuatnya sungguh malu. Ia tidak mau membuat Ayahnya menjadi khawatir ketika pria tua itu bahkan rela mengorbankan kesehatannya sendiri untuk bekerja tanpa banyak pikiran aneh.

Yoona harus berjuang demi Ayahnya, demi keluarganya yang selalu mendukungnya, berjuang untuk tidak membuat mereka kecewa.


Yoona mengigit bibirnya gugup. Seraya mengayunkan badannya ringan di atas ayunan favoritnya di depan komplek apartemen kecilnya.

Netranya dengan bimbang menatap satu kontak di atas layar ponselnya. Bimbang apakah harus meneleponnya atau tidak. Apakah masih pantas dia menghubunginya atau tidak.

Ani, Im Yoona, kau harus melakukannya demi Appa. Apakah kau mau membuatnya kecewa begitu saja?”. Yoona berusaha menggapai semangatnya sendiri lagi. Gadis itu meniup anak rambut di keningnya dengan bersemangat. “Halssu isseo..” gumamnya sekali lagi. Namun, tinggal beberapa mili lagi layarnya tersentuh, gerakan telunjuknya berhenti otomatis.

Aku tidak akan kembali bahkan jika kau sampai mengorbankan segala yang kau punya.

Yoona melongo sendiri menyadari betapa konyolnya dirinya mengatakan hal egois semacam itu. Ya ampun, masa aku harus menarik kembali ucapanku sendiri? Ini tidak lucu sama sekali!

Ani, ani.. kau harus melakukannya untuk appa, Yoong.. Kau tidak ingin melihatnya kecewa bukan?”. Yoona berusaha terus menguatkan dirinya sendiri.

Bekerja bersamamu sungguh menyiksaku. Bekerja bersamamu membuatku tidak bisa menjadi diriku sendiri. Bagus sekali aku sudah bisa bebas dari semua siksaan itu..

“Oh astaga!! Eotteohke?? Aku benar-benar gila dan marah ketika mengatakannya. Ya ampun, jika begini keadaannya bagaimana bisa aku mengatakan akan kembali kesana? Harga diriku hancur lebur.. Oh astaga!!”.

Yoona menutup seluruh wajahnya yang mulai memerah dengan kedua tangannya. Pipinya saja sudah terasa panas membayangkan bagaimana malunya dia bahkan hanya untuk menatap mata Donghae saja sepertinya ia tidak akan kuat.

Ponsel yang Yoona pegang bergetar dua kali. Menandakan pesan masuk.

Gadis itu melirik sebentar melihat notifikasinya. Matanya membulat kala melihat ‘Donghae’ tertera disana. Dengan jemari yang bergetar, perlahan, ia mengetukkan jarinya ke atas layar ponselnya.

Pemuda itu mengirim foto bawang bombay yang ada di meja kerja Yoona. Bawang bombay yang masih Yoona rawat dengan baik karena ia mengira jika itu pemberian Donghae. Dan perkiraannya memang benar, hanya saja Yoona masih belum tahu siapa pengirim bawang itu sampai sekarang.

Alis Yoona mengerut kala melihat bawang bombaynya diberikan ekspresi menangis. Seingatnya, ia hanya menggambar mata dan sebuah senyuman.

Di bawah foto itu, Donghae menuliskan sebaris pesan kecil.

Ia menangis karena ditinggal oleh pemiliknya. Bisakah kau kembali?

Hati Yoona bergetar. Donghae masih berusaha mendapatkannya kembali. Jika seperti ini, mungkin saja pemuda itu sudah melupakan seluruh perkataan tidak mengenakkannya saat itu.

Apakah sebaiknya aku memang kembali?

Yoona mengayunkan ringan dirinya sendiri di atas ayunan yang sedang dinaikinya sekarang. Menjejak tanah dengan sedikit tenaga untuk mendorong tubuhnya. Merasakan semilir angin dingin menerpa lembut wajahnya. Setidaknya, itu membuat hatinya lebih tenang dan pikirannya bisa jernih.

Ponsel Yoona kembali bergetar. Kali ini getarannya beberapa kali. Menandakan panggilan masuk. Mata gadis itu kembali membulat ketika melihat nama Donghae tertera disana. Gadis itu panik untuk sesaat. Ia menarik napas dalam-dalam dan berusaha mempersiapkan suaranya agar tak terdengar gugup.

Yeoboseyo? Donghae-ssi?”

“Akhirnya kau mengangkat teleponku. Apakah kau sudah menerima pesanku?”

“Em..”

“Jadi, apakah kau tetap tidak berminat untuk kembali?”

Hening sejenak. Yoona membiarkan suara gemerisik dedaunan mengisi hatinya. Jadi, apakah aku harus kembali?


Aigoo.. aku benar-benar membutuhkan Yoona eonni sekarang juga!” keluh Suzy kesal melihat laporannya berulang kali ditolak oleh Donghae. Jungsoo menghela napasnya mendengar omelan Suzy yang berulang itu sudah lebih dari sepuluh kali.

“Suzy-ah, bisakah kau menghentikan omelan yang sama itu? Aku sudah bosan mendengarnya..” ucap Jungsoo pelan. Kepalanya benar-benar pening sedari tadi mengurusi berkas untuk comeback Donghae yang semakin dekat. Kepala manager memang menjadi posisi tersibuk jika salah satu artis akan comeback.

Suzy merengut mendengar komentar Jungsoo. Tapi ia diam saja. Jungsoo memang benar.

Siwon menghela napasnya pelan. Menatap meja kosong Yoona dengan berbagai perasaan bercampur aduk dalam iris matanya. Lagi dan lagi, rasa rindu pemuda itu benar-benar menyesakkan hati.

Kring.. kring..

Suara gaduh telepon dari salah satu meja manager yang kosong membuat semua mengerang kesal.

“Bisakah seseorang mengangkatnya?! Itu sudah berdering lebih dari lima kali!!” teriak Jungsoo marah.

Ne, dengan NCT Entertainment disini. Manager Im imnida.. Ada yang bisa saya bantu?”

Sontak, segala riuh rendah yang terjadi di ruangan itu terhenti. Digantikan keheningan yang penuh tanda tanya.

Manager Im?, batin semua orang.

Suzy menjatuhkan berkasnya sendiri saking kagetnya. Jungsoo membenarkan letak kacamatanya heran. Heenim terdiam dingin melihat ke arah gadis itu.

Siwon. Satu-satunya pemuda yang benar-benar shock dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. “Do-dong-saeng?”. Siwon tergugu di tempat duduknya. Rahangnya spontan jatuh ke bawah. Mulutnya menganga lebar. Terkejut melihat betapa berubahnya gadis di hadapannya sekarang.

“Apa itu benar-benar kau, Yoong?” gagap Siwon sekali lagi. Yoona hanya tersenyum cerah. Ya, ini memang dirinya. Kembali lagi ke dalam NCT Entertainment. Dengan tekad yang berbeda.


Donghae bergegas lari menuju ruangan para manager karena rumor itu telah beredar.

Kembalinya Im Yoona kesini.

Entah dorongan apa yang membuat Donghae mendadak langsung ingin berlari ke sana. Padahal, ia sedang berada di tengah-tengah persiapan kostum untuk comeback dua hari lagi. Membuat para stylist berdecak kesal pakaian yang telah mereka siapkan diabaikan begitu saja oleh pemuda itu.


*@Manager’s room

“Kau bertambah cantik saja, Yoona-ssi.. Aku jadi benar-benar ingin mendapatkan gadis sepertimu.” puji Heenim seraya tersenyum. Senyuman langka dari seorang Heenim yang nyentrik. Yoona nyengir saja menanggapi perkataan Heenim. Seluruh manager mengangguk menyetujui pendapat Heenim.

Nunaa!! Aku sangatt merindukanmuu…”. Seo Joon langsung berlari ke arah Yoona dan memeluknya. Yoona balik memeluknya layaknya seorang kakak dan adik yang sudah lama tidak bertemu dengan senyuman ringan merekah di bibirnya. Suzy mengerucutkan bibirnya melihat pemandangan menyebalkan itu.

“Ya! Seo Joon! Bukankah itu terlalu berlebihan?” potong Suzy cemburu dan melepaskan tangan Seo Joon segera dari tubuh Yoona. Yoona terkekeh pelan melihat tingkah Suzy yang menunjukkan jelas kecemburuannya.

Arra, Bae Suzy, tenang saja, aku tidak akan merebut Seo Joon darimu..” bisik Yoona yang segera ditimpali gadis 22 tahun itu, “Ya! Yoona-ssi, aku tidak menyukai Seo Joon!”. Tapi muka Suzy merah padam.

Yoona mengendikkan bahunya dan langsung pergi ke meja kerjanya. Membuat Suzy menekuk wajahnya lagi. Merasa diabaikan.

Siwon yang benar-benar belum sepenuhnya sadar dari rasa keterkejutannya menatap takjub wajah Yoona yang kini benar-benar mulus halus bagaikan porselen.

“Yoongie..” lirih Siwon melongo sempurna memperhatikan setiap inci wajah gadis itu. Yoona berdecak kesal. “Ya! Kenapa kau ini??”

“Kau bertambah jelek! Aku menyukai dirimu yang apa adanya! Dengan bintik-bintik kecil di pipimu itu.. Itulah kecantikan Im Yoona sesungguhnya!” protes Siwon tak terima.

“Eii.. kau ini ada-ada saja. Semua orang bilang aku bertambah cantik. Hanya kau saja yang aneh. Bukannya senang aku bertambah cantik kau malah sewot seperti ini..” omel Yoona panjang pendek. Siwon masih terlongong di samping Yoona. Gadis itu mulai risih juga diperlakukan seperti itu.

“Aish, oppa! Aku ingin bekerja.. Kembalilah sana!”. Yoona mendorong kursi kerja Siwon kuat-kuat ke arah meja pemuda itu. Siwon masih dengan gaya terbengongnya itu tetap menatap ke arah Yoona walaupun kursinya sudah membentur meja kerjanya.

Mata Yoona tiba-tiba terhenti pada tanaman rawatannya. Bawang bombay itu.

Aigoo.. Kau sudah besar yaa.. Pasti ada seseorang yang mengganti airnya ketika aku pergi bukan?” ucap Yoona gemas. Ia tiba-tiba teringat foto itu. Perlahan, ia membalik bawang itu dari tadinya tersenyum menjadi menangis. Benar, ini memang foto bawang yang dikirim Donghae. Pemuda itu yang masih sempat merawatnya.

Untuk apa dia merawatnya?

“Manager Im?”

Yoona tersentak. Buru-buru, ia berdiri dan membalikkan tubuhnya sekaligus membungkukkan badannya 90 derajat. “Annyeong hasimnikka, Donghae-ssi. Bangapseumnida..”

Donghae tersenyum samar melihat tingkah laku Yoona. “Arrasseoyo. Kutunggu kau di ruanganku nanti setelah jam makan siang.”

Yoona tersenyum senang. “Ne.. Algesseumnida..” sahut Yoona bersemangat seperti biasanya.

Semuanya akan tetap lancar, Yoongie-ah.. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan..


“Yoongie, ayo kita minum kopi..” ajak Siwon ketika coffee break. Yoona meregangkan tubuhnya yang terasa kaku padahal baru beberapa jam duduk menghadap monitor. Mungkin karena sudah lama tidak melakukan rutinitas ini.

Aniyo.. Aku malas sekali oppa.”

“Ayolah.. Kau pasti mau..”. Siwon setengah memaksa Yoona bangkit dari tempat duduknya. Gadis itu mengerang malas. “Ambilkan aku kopinya saja, oppa..” rengek Yoona.

Shireo. Kau harus ikut denganku. Ayolah aku yang mentraktir. Kafe di dekat kantor?”

Mata Yoona berbinar seketika. “Kajja!”. Gadis itu malah berjalan cepat mendahului Siwon. Siwon tersenyum geli. Hatinya menghangat melihat kelakuan aneh Yoona lagi. Yah, setidaknya, rasa rindunya terbayarkan.

*@rooftop

Yoona duduk di samping Siwon, memegang sebuah cup kertas berisikan coffee latte dari kafe kesukaannya. Siwon memilih melakukan takeaway dibandingkan menghabiskan waktu di dalam kafe untuk mengobrol dengan Yoona. Alasannya sederhana. Atap kantor adalah tempat yang lebih sempurna untuk menghabiskan waktu bersama gadis yang disayanginya.

Disayanginya.

“Kau kembali karena Donghae datang menemuimu? Memintamu kembali? Apakah kau kembali karenanya?” cecar Siwon begitu Yoona selesai bercerita. Kening gadis itu langsung mengerut tidak suka.

“Aish. Bukan karena itu.”

“Lalu? Hanya itu satu-satunya kemungkinan yang ada. Ketika aku memintamu kembali, kau menolaknya bukan? Karena aku bukan siapa-siapa?”. Siwon terdengar sebal sekali. Yoona menghela napasnya melihat Siwon bertingkah kekanakan jika sudah menyangkut Donghae.

“Aku kembali karena Ayahku. Aku merasa sangat rendah ketika melihat Ayahku bahkan bekerja keras untuk mengantarkan kue kami ke tempat-tempat yang jauh dengan transportasi umum. Aku bertekad membelikannya sebuah mobil untuk delivery toko kuenya. Aku akan bekerja keras dan tidak akan mengeluh lagi. Aku tidak akan memikirkan masalah pribadiku yang sebenarnya sangat sepele itu.” tekad Yoona bulat. Nadanya terdengar tidak main-main.

Siwon mengangguk-angguk paham walaupun dia tidak sepenuhnya percaya dengan ambisi Yoona itu. “Ya! Kau masih tidak percaya padaku?”

Siwon menyeringai aneh. “Jika begitu ceritanya, kau perlu mentor yang sangat hebat dan berpengalaman yang akan membantu pekerjaanmu menjadi lebih baik lagi.” ucapnya serius.

Mwo?”. Yoona tidak mengerti arah pembicaraan Siwon. Ia menatap pemuda itu penasaran.

“Mentor itu adalah aku!” seru Siwon seraya menyeringai senang berhasil mengerjai Yoona yang sudah sangat serius itu. Yoona menekuk wajahnya sebal. “Kau masih saja suka mengerjaiku!”

“Tentu saja.. Karena reaksi Yoongieku takkan tergantikan oleh siapapun.” jawab Siwon jujur. Yoona terdiam. Ya, ia yakin Siwon merindukannya di saat dia tidak ada. Seorang kakak yang terus menungguinya dengan sabar. Entah itu benar sebagai kakak atau perasaan yang lebih.


*@Donghae’s room

“Ini..”

Donghae menyodorkan buku jurnal berwarna biru muda kepunyaan Yoona ke depan gadis itu. Yoona ternganga tidak percaya.

“Di akhir buku, kau menuliskan aku akan mempunyai banyak keberuntungan jika mengembalikan buku ini ke pemiliknya setelah membaca seluruh isinya.”

Donghae tersenyum hangat. Membuat Yoona merasakan pipinya memanas. Matanya sudah tidak sanggup melihat ke dalam mata Donghae.

“Dan yah, aku rasa sudah banyak keberuntungan yang menghampiriku sejak aku selesai membaca jurnalmu. Idemu untuk semua comeback ku benar-benar out of the box. Sesuatu yang lain, yang belum pernah kru lain ajukan. Aku yakin, aku bisa mendongkrak penjualan setelah comeback ini. Maafkan aku jika terlalu lancang.”

Yoona sumringah mendengar sanjungan Donghae. Pemuda itu lagi-lagi tersenyum amat manis ke arah Yoona. Entah kenapa, senyuman yang sudah lama tidak muncul itu kembali muncul lagi setiap kali ia menatap wajah Yoona. Aura gadis itu yang berbeda dari gadis yang lain. Aura yang sama dengan gadis cinta pertamanya dulu.

Donghae menatap Yoona terlalu lama. Membuat suasana menjadi agak canggung. Yoona berdehem pelan untuk memecah konsentrasi pemuda itu.

“Ah, mian. Dan satu lagi, Yoona-ssi..”

Yoona menghentikan langkahnya dan berbalik. “Ne?”

“Ini.. hadiah untuk kembalinya kau ke label ini..”

Donghae kembali menyodorkan sebuah kotak kado berwarna cokelat tua. Yoona menautkan alisnya. Ragu-ragu. “Bukalah.” perintah Donghae seolah tahu gadis itu ragu-ragu menerimanya.

Yoona perlahan membuka tutupnya. Matanya berbinar melihat apa yang terdapat di dalamnya.

“Kartu pegawaiku..”. Senyuman otomatis merekah sempurna di bibirnya. Donghae juga tersenyum senang karena ternyata hadiah kecilnya sanggup membuat senyuman yang ia sukai itu merekah tanpa gadis itu sadari.

“Semoga kau menyukainya. Aku sudah membelikan tempat kartunya agar itu terlihat lebih bagus. Dan aku memberikannya bukan sebagai atasanmu. Tapi temanmu.”. Donghae menunjuk tempat kartu berbahan kulit tipis yang sudah dipasang. Yoona mengangguk antusias.

“Sebagai teman?”

Donghae mengangguk meyakinkan. Lagi-lagi, Yoona tersenyum sempurna. Hatinya benar-benar bahagia sekarang.

“Aku akan memakainya dengan baik. Terima kasih, Donghae-ssi.”

Ne, cheonmanyo. Bekerjalah dengan giat!”. Donghae memberikan semangat. Yoona masih tidak bisa melenyapkan senyumannya. “Ne! Algesseumnidaa!”

Yoona bergegas mengambil buku dan juga kartu pegawainya dan melenggang pergi.

“Ah, satu lagi, Im Yoona!”. Satu kalimat Donghae kembali menahan gadis itu pergi.

Ne?”

“Aku sangat senang kau bisa kembali. Dan welcome!”. Donghae mengangguk-angguk canggung seperti membenarkan ucapannya.

“Terima kasih atas sambutannya, Donghae-ssi. Aku permisi dulu.”

Hari ini merupakan hari paling bahagia dalam hidupku. Ternyata dia tidak main-main memintaku kembali. Ini merupakan hari paling bahagia dalam hidupku. Dimana Donghae seolah menyambutku datang kembali ke dalam kehidupannya..

KOMEN JANGAN LUPAA!! DON’T BE SIDERSS!!

WARM HUG, EURI ^^

Advertisements

7 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #13. 돌아와줘요 (Please, Comeback)

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s