[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #12. Second Wish

artwork-67.jpg

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Siwon menggoyangkan-goyangkan badannya bosan di depan apartemen kecil Yoona. Sudah hampir setengah jam dia menunggu di depan kafe yang memang terletak menempel di depan apartemen kecil yang Yoona dan Jessica huni.

Berulang kali, pemuda berpostur jangkung dengan senyuman manisnya itu melihat jam tangan yang melingkar di pergelangannya kemudian mendesah pelan. Tidak biasanya, Yoona belum keluar untuk beraktivitas.

Atau jangan-jangan, dia sudah putus asa? Gantung diri? Ya ampun!, Siwon bergidig ngeri membayangkan apa yang mungkin terjadi.

Siwon melirik malas-malasan ke arah jalan setapak satu-satunya yang menghubungkan apartemen kecil di belakang kafe itu dengan jalan besar. Namun, matanya segera membulat begitu melihat sesosok gadis bersweater khaky melenggang santai sembari tersenyum manis seperti biasanya. Tak tampak sama sekali raut stress di wajahnya.

Membuat Siwon bisa menghela napasnya lega, selega-leganya.

“Yoongie!” panggil Siwon refleks. Yoona menoleh kaget mendapati suara Siwon memanggilnya. Senyuman bahagianya mengembang kala melihat Siwon disana melambaikan tangannya bersemangat ke arahnya.

Michin oppa!!! (Kakak yang gila!!)” seru Yoona senang lantas segera berlari ke arah Siwon. Lalu memeluknya erat-erat. Membuat Siwon salah tingkah. Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup hebat.

Ya ampun, Yoongie.. Jangan begini.., keluh Siwon putus asa. Aku hampir saja bisa melupakan perasaanku padamu, Yoongie-ah..

“Ah, ya ampun, maafkan aku Manager Choi..”. Yoona buru-buru melepaskan pelukannya ketika sadar apa yang sedang dilakukannya. Siwon hanya tersenyum tipis. Tangannya terulur untuk mengacak poni Yoona. Kilatan sakit itu masih berada tersirat di iris matanya.

“Apakah kau serindu itu padaku, huh?” canda Siwon setengah hati. Hatinya lagi-lagi berdenyut sakit melihat gadis di depannya dipecat begitu saja oleh orang yang selama ini ditunggu oleh Yoona sendiri.

Yoona merengut. “Ani! Bagaimana aku bisa merindukan orang yang selalu mengerjaiku, hah? Hidupku lebih tenang sekarang asal kau tahu. Dasar narsis!” cibir Yoona cemberut.

Siwon terkekeh pelan melihat gadis yang dikerjainya masih serupa reaksinya. Mengambek dengan gaya yang sangat menggemaskan. “Kau sama sekali tak berubah.” lirih Siwon tanpa bisa ia tahan, tercenung. Hening. Menjadi canggung. Yoona berdehem pelan.

“Em, oppa, apa yang kau lakukan disini?” tanya Yoona menjadi kikuk sendiri.

“Ah, ne?”. Siwon tersadar. Niatnya kesini adalah untuk mengajak Yoona jalan-jalan. Siapa tahu bisa sedikit menghibur hatinya. Siwon pikir Yoona sekarang bagaikan zombie putus asa yang sama sekali seperti tak punya masa depan yang cerah. Agak berlebihan, tapi sepertinya biasa saja bagi fantasi Siwon yang absurd. Nyatanya, keadaan gadis itu sangat bertolak belakang dengan bayangannya. Syukurlah..

“Eoh, aku sedang mencari jalanan tradisional khas Korea yang kira-kira indah untuk tempat shooting mini dramanya Dara dan Donghae.”

Mendengar nama Donghae disebut, senyuman Yoona langsung lenyap. “Ah, jika begitu, teruskan saja pekerjaanmu, Siwon-ssi..”. Mendadak, mood Yoona hilang. Siwon meringis sendiri. Aduh, bodoh sekali aku, kenapa harus memakai alasan itu? Astaga…

Yoona membungkukkan badannya dalam-dalam serta langsung berlalu dari pandangan Siwon tanpa berucap sepatah kata pun lagi. Siwon meringis sendiri memikirkan alasan apa yang harus ia pakai untuk menahan gadis itu pergi.

“Yoong!!”. Siwon buru-buru mencegat Yoona dengan berhenti di depan gadis itu dan merentangkan tangannya memblok jalan gadis itu. Yoona menatap Siwon malas. “Ada apa? Bukannya kau harus bekerja?”

“Bisakah kau membantuku?”

Raut wajah Yoona bahkan malah bertambah redup. Siwon merutuki dirinya sendiri lagi. Yoona menarik napasnya dalam-dalam. “Aku juga harus mencari pekerjaan, Siwon oppa. Mian, aku tidak bisa menemanimu..”

“Tapi..”

“Aku sudah bukan pegawai NCT Entertainment lagi, oppa. Jadi, bukankah dengan membantumu akan sangat sia-sia? Aku harus mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidupku..” jelas Yoona datar. Ia terlihat benar-benar malas berbicara lagi dengan Siwon.

“Aish… Kenapa kau tidak kembali saja? Donghae memecatmu hanya karena dia salah paham, aish, dia hanya , ya ampun! Lagipula kau kan tidak salah! Kenapa kau mau ditindas begitu saja olehnya?? Hanya karena dia cinta pertamamu??” omel Siwon panjang lebar setengah kesal melihat apa yang terjadi di antara dua orang yang sangat keras kepala ini.

Yoona tersenyum paksa. Siwon mengusap wajahnya frustasi. Sejenak, tadi amarahnya meluap begitu saja. Sungguh, ia tidak tega melihat Yoona diperlakukan tidak adil seperti itu, hanya karena masa lalu mereka, sepertinya.

“Kembalilah Yoong, kumohon.. Semua orang menunggumu.” pinta Siwon memelas.

Ani, oppa, jangan membuatku dalam keadaan yang sulit seperti ini. Donghae sudah tidak menginginkanku lagi, jadi apa yang harus kulakukan? Aku cukup punya harga diri. Lagipula, aku merasa lebih nyaman sekarang tanpa harus melihat wajah menyebalkannya lagi.”.

Yoona kembali tersenyum pedih. Tapi, ia terlihat sudah membulatkan tekadnya. Benar-benar tekad yang kuat dan tak dapat diganggu gugat lagi. Apalagi, sifat keras kepala gadis itu muncul.

Siwon lalu memasang tampang memohon. Ia menggengamkan kedua tangannya di depan dada, nampak seperti berdoa memohon (?). Tiba-tiba, sebersit ide cemerlang terlintas dalam benaknya kala Yoona sudah siap menepis tangannya ke samping agar bisa melanjutkan langkahnya lagi.

“Ah! Sebenarnya aku sedang berniat menyewa seseorang. Itu bagus bukan? Kau bisa menjadi asisten satu hariku..” tawar Siwon cepat-cepat. Ayunan langkah Yoona mendadak berhenti mendengar kata ‘menyewa’. “Ne?”

“Im Yoona, aku dengar kau pernah bekerja di sebuah perusahaan majalah.” ucap Siwon dengan raut serius kini seolah dia memang benar-benar mencari seseorang untuk pekerjaan baru.

“Em, perusahaan milik Jessica. Wae?”

“Ehm.. baiklah, kau diterima sebagai asisten satu hariku. Ayo berangkat.”. Siwon menarik tangan Yoona menuju tempat ia memarkirkan motor antik kesayangannya, tanpa persetujuan Yoona dulu apakah ia mau atau tidak. Yoona langsung menggoncangkan tangannya melepaskan genggaman Siwon.

“Eii.. berhenti bercanda denganku, oppa. Kau tahu leluconmu sangat keterlaluan..” kecam Yoona sadis. Siwon membelalakkan matanya. “Kau kira aku bercanda?”

“Sudahlah, biarkan aku pergi mencari kerja oke?”. Kini, giliran Yoona yang meminta dengan agak sedikit gusar. Ia sudah siap menerobos pertahanan tangan Siwon.

Siwon tentu saja tak kalah akal.

Aku, Im Yoona, berjanji akan memenuhi tiga permintaan Choi Siwon apapun yang terjadi!!!

Yoona membelalakkan matanya mendengar rekaman suaranya itu terdengar lagi. Siwon memutar-mutar ponselnya di hadapan Yoona dengan gayanya yang menyebalkan.

“Aku akan menggunakan permintaan keduaku untuk ini. Jadilah asistenku selama satu hari.”

Yoona terdiam. Ia sama sekali tidak bisa mengelak. Itu janjinya, dan seorang Im Yoona takkan melanggar janji yang pernah ia buat sendiri. Gadis itu memejamkan matanya seraya menghembuskan napas pelan. Apa yang sungguh harus diperbuatnya.

“Maafkan aku oppa, biarkan aku melanggar janjiku sekali ini. Kau bisa menggunakan permintaan keduamu untuk hal yang lain. Aku sama sekali tak ingin terlibat dengan NCT Entertainment lagi.”

“Tapi, aku dengar sepertinya ada seseorang (baca: Siwon) yang akan memberikan bayaran yang sangat tinggi untuk hari ini..” bisik Siwon menggoda Yoona. Gadis itu langsung membulatkan matanya.

Eolmanayo? (Berapa banyak?)” sahutnya antusias. Siwon tersenyum penuh arti. Ya, selamanya, Yoona hanya gadis polos yang ingin kemauannya terkabul.


Setengah jam kemudian, pasangan kakak beradik itu sudah berjalan beriringan dengan wajah yang gembira menoleh kesana-kemari melihat suasana Pedesaan Bukchon yang tentram damai. Senyuman Yoona kini merekah sempurna memperlihatkan paras cantiknya yang tiada tara itu.

“Ah.. joayo..” gumam Yoona. Ia merentangkan tangannya, kebiasaannya jika sedang menikmati satu atmosfer yang ia sukai. Senyuman di wajah cantiknya itu seakan tidak bisa pudar sekarang.

Siwon tersenyum samar seraya memotret beberapa objek disana-sini. Syukurlah, jika Yoona menjadi ceria seperti ini lagi, bisik Siwon dalam hati.

“Yoongie, fotografermu kehausan..”. Siwon lalu memonyongkan bibirnya seperti hendak menyedot minuman. Yoona terkekeh pelan. Ia menyodorkan sebotol minuman yang memang ia bawa setelah membelinya di ujung jalan tadi.

“Masuk, Nak..” ucap Siwon serius di depan sebuah gerbang rumah kuno. Yoona mengeryit. “Ayo, Masuk..”. Suara Siwon dibuat-buat seolah ia menjadi kakek-kakek. “Apa aku harus menari seperti ini agar kau mau masuk?”

Siwon lalu menari-nari konyol di depan Yoona. Menarikan gerakan para pemabuk berat. Yoona berdecak kesal. “Ah, kau menyakiti mataku..” serunya kencang lalu kabur dari Siwon seolah-olah dia berhadapan dengan penjahat mengerikan.

“Ya! Yoongie! Eodiga?? Ya ampun, fotografer ditinggal asisten sendiri. Malangnya nasibku..” ucap Siwon pura-pura sedih sendiri. Namun, senyumannya langsung mengembang ketika melihat siluet Yoona semakin menjauh. Setidaknya, gadis itu masih bisa tertawa tadi. Dan masih bisa menanggapi candaannya kembali seperti biasa.

Ya, inilah sosok Yoona yang selalu membuat Choi Siwon rindu. Sungguh, takkan ada gadis yang persis sama seperti Yoona, yang bisa mengisi hati Siwon seperti ini.

“Ah, dengan begini aku bisa memilikimu selama satu hari, Yoona-ah. Sebagai oppa yang akan selalu kau sayangi.. Dan kau sebagai orang yang kucintai.”


“Yoona-ah, kemari..”. Siwon duduk di pelataran rumah sederhana di samping sebuah tangga batu kecil di pinggir desa. “Eng?”

“Apakah kau tahu ada mitos tentang tangga ini??”

Yoona menggeleng cepat. “Katanya jika kau bisa menuruni tangga batu ini sampai ke bawah sana dengan hanya menggunakan satu kaki dan tanpa terjatuh, harapanmu akan terkabul.”

Yoona memonyongkan bibirnya. “Wa.. jinjja? Kau berbohong lagi.” ucap Yoona pura-pura antusias lalu turun drastis menjadi datar.

Siwon membulatkan matanya lalu tertawa meremehkan. “Geotjimal aniji.. (aku tidak berbohong) jika kau tidak percaya, di internet sudah banyak sekali video semacam itu yang tersebar.” ucap Siwon ngotot mempertahankan pendapatnya. Yoona mulai tampak penasaran sementara Siwon semakin asyik dengan bualannya. Ya, bualan.

“Aku tidak mungkin berbohong pada Yoongie yang pengangguran sekarang.”. Yoona cemberut mendengar Siwon menyebutnya ‘pengangguran’.

Jinjjayo?” tanya Yoona memastikan lagi.

Ye.. kalau tidak percaya, jangan lakukan. Kau yang rugi. Geunyang (kalau begitu), kita pergi saja.”

“Dapat pekerjaan. Pekerjaan. Pekerjaan. Im Yoona harus dapat pekerjaan lagi. Berhenti jadi pengangguran.”. Yoona berteriak-teriak menyuarakan isi hatinya sembari meloncat-loncat konyol menuruni tangga batu itu hanya dengan satu kakinya saja seperti apa yang dikatakan Siwon. Tawa pemuda itu meledak kala melihat Yoona benar-benar melakukannya. Rasanya dia sampai ingin mati tertawa melihat tingkah Yoona yang konyol sekali.

“Apakah dia gila?”

“Ya ampun, apa yang dia lakukan?”

“Jangan dekat-dekat.”. Beberapa orang yang lewat berbisik-bisik dengan kata seperti di atas. Yoona membulatkan matanya merasakan ada yang tidak beres. Jika ini mitos yang terkenal, kenapa mereka mengataiku gila?

Segera saja ia menoleh ke belakang. Emosinya memuncak mendapati Siwon di atas sana sedang menertawakannya hingga sakit perut. Siwon memegangi perutnya sendiri karena kram tertawa terlalu puas.

“Yak! Choi Siwon!!! Neo.. Jugeotda!! (Mati kau!)” teriak Yoona penuh amarah. Tanpa ambil waktu, Yoona buru-buru naik lagi ke atas untuk memberikan pelajaran pada pemuda kurang ajar satu itu. Siwon membelalakkan matanya mendapati Yoona sepertinya akan benar-benar menghabisinya kali ini.

#skip

“Choi Siwon!! Kau bilang kau hanya akan mencari spot yang bagus tentang jalanan khas Korea untuk Dara dan Donghae! Kenapa kau ingin pergi ke tempat lain lagi? Gyeonggido tak ada apa-apanya!!” teriak Yoona berusaha melawan suara deru angin yang memburu. Siwon tersenyum samar.

“Gyeonggido sangat dekat dari sini! Sayang jika kau tidak mengunjunginya, Yoongie!! Pegangan yang erat!” perintah Siwon lalu mulai memacu motor antiknya itu. Yoona berteriak kegirangan entah kenapa beban di hatinya sedikit terangkat dengan hadirnya Siwon disini.

“Waaa...jeotdaa..” seru Yoona gembira begitu mereka sampai di kebun bunga yang terkenal di Gyeonggido. Seperti biasa, gadis itu merentangkan tangannya kembali, merasakan sejuknya semilir angin melalui setiap celah jarinya.

Siwon tersenyum lagi. Puas. Ya, rencananya untuk membuat gadis itu gembira lagi berhasil.

Setidaknya, jika tidak bisa memiliki Yoona, aku bisa menghiburnya dan selalu berada di sisinya kapanpun dia membutuhkanku, itu pemikiran hati Siwon yang tulus.

Pemuda itu bukan tipe pemuda yang mudah sakit hati jika ditolak lalu membenci orang itu. Dia justru tetap akan berlaku seperti biasanya. Seolah tak terjadi apapun walaupun sebenarnya perhatiannya terselubung dalam berbagai tindak tanduknya.

“Yoongie! Mari kita ambil foto yang bagus..”. Siwon menarik Yoona mendekat dan langsung mengatur kameranya untuk berselfie. “Aku akan membuat Yoongieku semakin cantik..”

“Ja, han, dul, set!”. Setiap kali mereka berfoto, Siwon pasti melakukan ekspresi yang aneh-aneh, menggelikan, dan membuat wajah tampannya terlihat buruk. Namun, itu bukan soal bagi Siwon yang cuek bebek. Prinsipnya hari ini adalah tak masalah menempuh berbagai cara asalkan ia bisa melihat senyuman manis Yoona itu kembali.

#skip

Siwon dan Yoona berjalan beriringan mengililingi taman bunga. Setiap kali gadis itu melihat beberapa kuntum bunga yang cantik, ia pasti akan berhenti dan memperhatikannya baik-baik sebentar. Siwon hanya bisa menunggu gadis itu puas melihatnya.

Mereka menghentikan perjalanan mereka sejenak di jembatan kecil di atas danau. Yoona menumpukan badannya pada pinggir jembatan seraya menghela napas kecil. Siwon berhenti tepat di sampingnya. Ia bingung melihat raut wajah Yoona kembali redup.

Oppa..”

“Em?”

“Kau pernah bertanya kepadaku apakah aku memang benar-benar ingin menemukan Lee Donghae hanya sebagai teman 100 persen tanpa perasaan lain bukan?” tanya Yoona yang disambut anggukan Siwon. Pemuda itu menyiapkan hatinya sendiri.

Walaupun ia sudah tahu Yoona memang benar-benar mencintai Donghae, tak bisa dipungkiri, hatinya masih saja berdegup cepat menanti jawaban gadis itu. Dan sering kali, ia masih merasakan ngilu setiap kali Yoona menjawabnya bahwa ia memang menyukai Donghae.

“Ketika aku memikirkan pertanyaanmu kembali, aku rasa itu tidak benar. Aku tidak mungkin mencari Donghae hanya karena dia temanku. Maksudku, tanpa perasaan lain seperti yang kau katakan, oppa.”

Siwon meringis sedikit merasakan hatinya kembali ngilu mendengar jawaban Yoona. Tapi, hanya sedikit. Sedikit.

“Aku pikir, aku memang menganggapnya lebih dari teman. Aku menganggapnya sebagai pria yang aku sukai.”

Siwon menghela napasnya pelan. Yoona juga melakukan hal yang sama. Ah, kenapa ini masih terasa menyakitkan?, pertanyaan itu berada dalam benak mereka masing-masing. Pertanyaan yang sama.

“Kau tahu ada istilah cermin yang tidak bisa dilihat pantulannya dari luar namun bisa melihat pantulannya dengan jelas dari dalam? (peribahasa Korea, idk.)”. Lagi-lagi, Siwon hanya mengangguk dalam diam. Ia tidak mau menganggu penjelasan Yoona.

“Yah, aku rasa, cermin itulah yang selalu ada diantara kami. Aku bisa melihat diri Donghae dengan jelas. Semua sifatnya, semua perilakunya, semua kebaikan hatinya. Tapi, tidak dengan Donghae. Dia sama sekali tidak bisa melihatku seperti aku melihatnya. Mungkin karena alasan itu, dia tak pernah berlaku baik padaku. Dia masih tidak tahu siapa aku yang sebenarnya..”

Siwon membisu. Dalam setiap kata Yoona, ia bisa merasakan kesedihan gadis itu yang begitu dalam. Ia tahu rasanya tidak dikenali orang yang ia sayangi. Ia tahu bagaimana sakitnya dianggap remeh oleh seseorang yang tidak bisa membuatnya berpaling dari masa lalu. Yang jelas, kelakuan Donghae sangat brengsek di mata Siwon.

“Bukan salahnya dia tidak mengenaliku sebagai Im Yoona yang pernah ia kenal. Ini salahku karena aku terlalu takut mengatakannya. Ya, ini akibatnya.” gumam Yoona pelan.

“Terkadang, aku selalu ingin bersembunyi agar Donghae tidak mengenaliku. Tapi, di sisi lain, aku juga ingin Donghae mengenaliku terlebih dulu tanpa harus aku yang mengungkapkannya.”

Geuraeseo.. aku pikir, itulah yang membuat semua ini lebih menyakitkan daripada yang aku kira. Kebodohanku membuat diriku sendiri terluka.”

Yoona lalu tersenyum ke arah Siwon. Pemuda itu terkesiap. Entah kenapa dengan senyuman itu, Siwon merasa… gadis ini benar-benar tersakiti.

“Untung saja aku bisa bertemu denganmu, oppa. Aku juga mendapatkan rekan kerja yang menghiburku walaupun mereka tidak tahu apa yang sedang terjadi sebenarnya di antara aku dan Donghae. Aku sangat-sangat bersyukur mendapatkan kakak yang bisa memperhatikanku sampai seperti ini.” Yoona mengangguk-angguk sendiri seolah membenarkan apa yang baru saja dikatakannya.

Siwon balas memaksakan senyumannya. “Oppa, aku juga tahu kau sengaja berbohong mencari spot itu.. Kau datang ke apartemenku untuk mengajakku jalan-jalan bukan? Untuk membuat perasaanku lebih baik?”

Siwon terkejut, hanya saja tidak mencoba membantah.

Dari raut terkejutnya saja, Yoona kini mengerti. Siwon benar-benar menyayanginya sepenuh hati. Sayangnya, Yoona merasa ia hanya bisa membalas kebaikan hati oppanya ini sebatas adik saja. Yoona tidak bisa memaksakan perasaannya untuk menyukai Siwon, walaupun seluruh pengorbanan Siwon sudah jelas ditujukan untuknya.

Cinta memang rumit bukan? Kau malah menyukai orang yang jelas-jelas tidak akan membalas cintamu, sedangkan kau malah membuang orang yang sudah jelas juga menyayangimu dengan sepenuh hati.

Tapi, satu kalimat klisenya, cinta tidak bisa dipaksakan bukan?

Gomawoyo, oppa. Jinsimiya.. (dengan sepenuh hati). Terima kasih sudah memberikan perhatian kepada yeodongsaengmu yang tak tahu diri ini. Maafkan aku karena telah menyakiti perasaanmu selama ini.”

“Ah.. jika kau memang merasa bersyukur kenapa kita tidak berkencan saja?” ucap Siwon lalu tersenyum menggoda. Yoona melengos.

“Ya! Kau bercanda lagi! Aku menarik ucapanku. Aku masih membencimu!” sela Yoona cepat-cepat. Siwon terkekeh. Sebenarnya, perkataannya itu bukan candaan. Tapi, tidak masalah selama Yoona kini bisa kembali seperti semula.


Donghae masih termenung dalam diam di balik meja kerjanya. Jelas sekali, pemuda itu seperti kehilangan dirinya sendiri semenjak Yoona dipecat olehnya. Ia kalang kabut mengurusi semua hal untuk comebacknya. Ia berbohong pada semua orang bahwa Yoona sama sekali tidak berarti untuknya. Dan kebohongannya jelas membawa kesengsaraan berarti.

Matanya terhenti di atas buku biru muda yang tadi siang diberikan Siwon padanya. Perlahan, jemarinya membuka lembar demi lembar buku itu.

Semua rancangan akting untuk comebacknya di atas panggung nanti memang sangat mengesankan. Yoona merancang semuanya dengan sempurna. Ia bak menjadi sutradara di balik layar kesuksesannya nanti. Donghae yakin akan semua itu.

Pemuda itu yakin, comebacknya akan sukses jikalau dia mengikuti saran Siwon untuk melakukan ide yang ditulis Yoona untuknya.

Aku pikir kau adalah orang yang sangat rasional dan langsung mengutarakan sesuatu yang kau anggap benar. Tapi, kenapa kau selalu bersikap tidak rasional hanya kepada segala sesuatu yang terkait dengan Im Yoona?

Apakah kau memang mempunyai perasaan lain terhadap Im Yoona? Kau menyukainya?

Perkataan Siwon kembali terulang di benaknya. Kenapa pertanyaan pemuda itu mengusik hatinya? Seolah-olah dia melakukan sebuah kebohongan besar dan apa yang diucapkan Siwon adalah kebenarannya. Hatinya seolah menyuruhnya untuk mengakui segalanya.


Yoona pulang menggunakan bus seperti biasanya. Tadi, Siwon menurunkannya di depan NCT Entertainment, dia bilang dia masih punya urusan di kantor saat itu juga sehingga tidak bisa kembali mengantar Yoona pulang ke rumah.

Gadis itu mengiyakan saja. Sudah sangat bagus, Siwon membuat harinya kembali berwarna lagi. Ia sudah sangat bersyukur bisa membuang beban hatinya hari ini. Mulai hari ini, gadis itu bertekad akan membuang bayangan Donghae jauh-jauh dan kembali mendapatkan kehidupannya yang tenang seperti sebelum dia bekerja sebagai manager Donghae.

Donghae menunggu di dalam mobilnya. Ia memarkirkan mobilnya itu tepat beberapa meter setelah halte dimana Yoona selalu turun. Pemuda itu memegang erat buku biru muda yang ada digenggamannya sekarang. Entah kenapa, dia merasakan gugup yang sangat ekstrem hanya untuk meminta Yoona kembali bekerja bersamanya.

Ya, dia sudah memutuskan. Dia memang benar-benar membutuhkan gadis itu sebagai pendampingnya. Ani, jangan salah paham dulu, hanya sebagai pendamping kerjanya dan bukan pendamping hidupnya (wkwkwk).

Matanya membulat begitu ia tak sengaja melihat Yoona turun dari bus ketika ia sedang mengedarkan pandangannya ke sekitar.

Buru-buru, pemuda itu membuka pintu mobilnya dan mengikuti Yoona dari belakang. Tampak, gestur gadis itu sangat rapuh jika dilihat dari belakang. Donghae tersenyum kecut sendiri, ia tidak tahu Yoona akan menjadi seburuk ini ketika ia memecatnya beberapa minggu yang lalu.

Donghae berani bersumpah kalau ia tidak sengaja memecat Yoona tempo hari. Itu hanya karena ia tidak bisa mengendalikan emosinya dengan baik. Itu saja alasannya. Mungkin saja, jika emosi tak pernah mengendalikan dirinya seperti ini, Donghae takkan menjadi orang yang temperamental seperti ini.

Dengan hati-hati, Donghae terus mengekor di belakang Yoona. Sungguh, Donghae merasa sangat takut ketahuan. Agak pengecut memang.

“Waa.. Gongju-nim.. Kenapa kau terikat dengan rantaimu sendiri lagi seperti ini?” seru Yoona penuh kasih sayang ketika melewati toko kecil yang memelihara seekor anjing mungil lucu. Anjing itu menyalak-nyalak nyaring kala Yoona lewat tadi. Menyuruh gadis itu untuk membantunya melepaskan diri dari rantai lehernya sendiri. Tentu saja, otomatis, Yoona menghadap ke belakang tubuhnya ketika berjalan tadi untuk membantunya.

Donghae buru-buru bersembunyi di gang kecil yang ada di dekat situ. Pemuda itu menahan napasnya sendiri takut-takut suara helaan napasnya terdengar. Dia benar-benar dalam keadaan yang konyol sekarang. Kenapa ia merasa tidak siap bertemu dengan Yoona sekarang? Padahal tadi dia sudah membulatkan tekadnya.

Ya ampun, kenapa aku menjadi pengecut seperti ini?, keluh Donghae dalam hati.

Perlahan, seraya terus mengusap bulu halusnya, Yoona memutar belitan rantai itu keluar hingga anjing itu kini bisa bergerak bebas sepuasnya. “Ja, sudah selesai. Jangan berputar-putar mengelilingi tiang itu lagi atau kau akan terjerat untuk kedua kalinya. Arra?” nasihat Yoona seolah-olah anjing itu memang mengerti seluruh perkataannya. Anjing itu menyalak menjawab ucapannya. Gadis itu tersenyum manis seraya mengusapnya lagi.

Annyeong.. Jangan lupa kata-kataku..”

Manager Im manis sekali.. Dia memang baik hati.., batin Donghae tanpa bisa ditahan.

Donghae buru-buru mengikuti langkah Yoona lagi perlahan-lahan memastikan gadis itu tidak mengetahui keberadaannya.

Yoona duduk di atas ayunan kesukaannya di taman yang ada di depan apartemen kecilnya. Ia memejamkan matanya sembari mengayunkan tubuhnya ringan di atas ayunan tersebut. Berusaha menenangkan pikirannya. Ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kelakuan gilanya bersama Siwon hari ini. Sungguh, Yoona merasa sangat beruntung pernah mengenal Choi Siwon yang bahkan sampai menyayanginya sampai taraf seperti ini.

Donghae memandang Yoona yang hanya tinggal beberapa langkah di depannya dengan ragu. Keraguan kini menguasai hatinya.

Ketika gadis itu menoleh ke belakang, sontak, Donghae refleks berjongkok untuk bersembunyi di balik semak-semak yang untungnya ada persis di depannya.

Yoona mengeryitkan keningnya merasakan sedari tadi sebenarnya ada yang mengikutinya dan memperhatikannya. Gadis itu memiringkan kepalanya bingung. Apakah aku yang terlalu banyak menonton film horor selama menganggur?, tanya Yoona polos.

Yoona akhirnya berjalan santai menuju apartemennya. Donghae mengendap di belakangnya. Lagi, Yoona tiba-tiba menoleh ke belakang. Donghae lagi-lagi langsung panik bersembunyi di salah satu perosotan yang ada disitu. “Ya ampun, kenapa bulu kudukku merinding semua?”. Yoona menggosokkan tangannya ke tengkuk seraya bergidig ngeri.

“Aish… kenapa aku terus bersembunyi seperti ini??” desah Donghae kesal pada dirinya sendiri. Donghae berniat masuk ke dalam lorong perosotan itu untuk beristirahat sejenak tanpa ketahuan. Sayangnya, ia tidak tahu itulah perosotan yang sebenarnya.

Sruuttt…

Pemuda itu meluncur cepat ke bawah dengan posisi tertelungkup kepala lebih dulu. “Aaaaaaa…” teriaknya panik.

Bruk. Bukunya terlebih dulu jatuh.

Bruk. Kini, setengah badan Donghae mencium tanah dengan keras.

Sepasang sepatu cokelat yang biasa dipakai Yoona kini bisa dilihat Donghae hanya berjarak beberapa mili dari wajahnya. Pemuda itu kaget setengah mati. Ia menahan napasnya sendiri agar tidak memekik terkejut. Betapa konyolnya jika itu terjadi.

“Donghae-ssi?” tanya Yoona bingung. Glek. Donghae menelan ludahnya sendiri gugup.

Donghae melemparkan pandangannya ke langit. “Wah.. bulan bersinar sangat terang hari ini.”

Pemuda itu lalu mendongak seolah baru menyadari ada orang tepat beberapa mili di depannya. “Ah, Manager Im, bangapda (senang bisa bertemu lagi denganmu).” ucap Donghae berusaha santai yang sebenarnya canggung setengah mati. Yoona hanya bisa melongo melihat artis kenamaan itu sekarang sedang berada dalam posisi paling konyol untuk menyapa seseorang.

ANNYEONG HASEYO!!!

AKHIRNYA FF INI BISA KEMBALI DILANJUT SAMA EURI.. SEMOGA SUKA YAA!! AS USUALLY COMMENT JUSEYO ><

WITH LOVE, EURI

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #12. Second Wish

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s