[Multi-Chapter] Mokpo – 05. C’est Fini

mokpo

Mokpo – C’est Fini

[Yoona & Siwon | Multi-Chapter | PG-15 | Drama & Romance]

“Dikala rasa kembali menguak luka.”

Read First: Mokpo – Fate

Note: Hai, semoga gak bosen baca “Mokpo” ya. Di chapter ini, ada sebuah cerita kecil tentang hubungan Yoona dan Siwon, dan dari sinilah luka yang tak berbentuk itu bermula. Ok deh, happy reading! Jangan lupa komen yang panjaaaang dan like 😀


Aku tak pernah melihatnya begitu emosional seperti ini hanya untuk membela diriku, jujur aku terkesan dengan sikapnya itu, pasalnya hanya ada satu dalam hidupnya yang selalu ia bela mati-matian; Yoojin. Aku tak pernah bertemu dengan adik kandung Siwon itu secara tatap wajah, aku hanya pernah melihatnya sekilas dan itu sudah sangat lama sekali.

Perempuan yang kerap Siwon panggil Stella itu memang kurang ajar, aku sama sekali tak mengenalnya, yang kutahu ia adalah satu dari penjaja cinta milik Siwon. Aku tak masalah dengan ucapannya yang mengolok-olok diriku sebagai seorang pecundang, yang pasti ia cemburu dengan kedekatanku dan Siwon, karena Siwon pernah bercerita bahwa gadis dengan rambut pirang itu menaruh hati padanya.

Kulihat Siwon telah kembali stabil, aku menepuk bahunya mencoba untuk menetralisir titik tempramen dalam dirinya.

“Jujur, aku tak masalah jika Stella memanggilku pecundang. Karena aku tak mengenalnya, lagipula kenapa kau yang emosi?”

Siwon terdiam, larut dalam kebimbangan dan ketidakpastian. Aku membiarkannya untuk larut semakin dalam. Frappe yang kupesan asapnya telah hilang bercampur dengan udara, aku menatap gulungan air yang berlarian merindu akan pasir pantai, buih-buihnya seakan menjadi tanda akan jalinan kasih yang terikat antara mereka.

Jika aku menerawang, aku dan Siwon memiliki sebuah ‘keterkaitan’ yang lebih dari sekadar seorang sahabat. Aku kembali teringat akan sebuah cerita yang pernah kami alami semasa SMA, sungguh, hal itu memiliki sebuah ‘bumbu’ yang cukup membuat diriku harus menguak luka.

TamanMokpo.
Januari 2005.

Kisah tentang Violetta yang berjuang melawan penyakitnya tak pernah membuatku bosan, aku tak ingat berapa kali tanganku membolak-balik halaman di buku setebal tiga senti itu. Jika ada waktu senggang, aku selalu mengunjungi taman ini sembari membaca buku Violetta dibawah rindangnya pohon Aspir.

“Yoona!”

Suara Siwon memecah konsentrasi.

Aku menutup buku Violetta dan meletakkannya kembali di dalam tas kecil. Ketika wajah putih itu dihiasi senyum, aku turut melempar senyum kembali padanya. Kami telah berjanji akan bertemu di Taman Mokpo untuk merayakan kelulusan dengan segelas es krim.

Sebenarnya kami berbeda sekolah, namun hari kelulusan kami sama. Ia mengajakku untuk menikmati secangkir gelatto, cocok sekali di musim panas seperti ini menyantap es krim sembari menikmati sengatan matahari dan indahnya kilauan ombak pantai Sheizou dengan semilir anginnya.

Semenit kemudian Siwon telah menggenggam dua buah cangkir gelatto, kami memilih untuk duduk di tepi pantai, spot yang cocok untuk menghabiskan sore di musim panas.

Kami berbincang dan sesekali berkelakar, Siwon memang selalu memiliki selera humor yang menurutku spesial. Jika mengingat waktu, aku benar-benar harus menelan ludah pahit. Siwon menatapku dengan penasaran.

“Oh, kuharap aku dapat kembali bertemu Mokpo.”

Siwon menautkan kedua alisnya, “Kenapa kau berbicara seperti itu?”

Aku menghela napas berat, mungkin ini saat yang tepat untuk memberitahu semuanya.

“Sebenarnya, aku telah diundang untuk melanjutkan studi oleh sebuah universitas di Polandia, Siwon.”

Sontak, gurat wajah Siwon berubah, aku tahu ia pasti terkejut mendengar pengakuanku. Tapi inilah kenyataan, memang benar apa yang dikatakan pepatah jika kebenaran sangatlah pahit. Namun pria itu mengulas sebuah senyum yang seakan dipaksakan.

“Bagus, aku turut senang mendengarnya.” ada sebuah nada kekecewaan pada kalimat yang diucapkan Siwon, aku tak ingin berpisah namun disisi lain aku pun telah lama mendambakan untuk melanjutkan studi di luar negeri, ini adalah sebuah kesempatan satu kali seumur hidup.

“Ah sudahlah, ayo kita berkeliling untuk merayakan kelulusan.”

Setelah es krim kami tandas, aku mengajak Siwon untuk berkeliling kota Mokpo. Aku menyuruhnya untuk mengendarai sepeda milikku, sebab aku sangat malas untuk mengayuh pedal. Akhirnya aku duduk di bangku belakang sebagai penumpang.

Mokpo memang kota yang indah, setiap incinya selalu menjadi daya pikat tersendiri. Ia tak hanya terkenal akan produksi makanan laut yang melimpah, namun keindahan panoramanya pun tak mau kalah tersaingi. Kami berkeliling hingga senja turun.

“Terima kasih karena telah membuat hari ini begitu spesial, Siwon.”

Ia tersenyum kecut, aku menatapnya dengan perasaan tidak enak. Mungkin aku terlalu cepat mengungkapkan, seharusnya aku tidak usah memberitahunya.

“Um, baiklah. Aku pulang dulu.” tak sempat aku berjalan, Siwon menarik lengan kananku lebih cepat sepersekian detik.

“Yoona, aku tahu ini gila. Tapi…” kulihat air muka Siwon berubah, nampaknya ada sesuatu yang ingin ia utarakan, “Kau tahu, telah lama aku menyimpan perasaan ini, sudah lama aku mencoba untuk memberi tahu akan sebuah rasa yang terpendam…”

Sungguh? Benarkah? Apakah Siwon juga memiliki sebuah perasaan yang sama?

“A-aku, m-mencintaimu Yoona…” mataku membulat, apakah ini mimpi?

“M-maukah, kau menjadi bagian dalam hidupku?”

Ternyata Siwon menyukai diriku, kami ternyata memilki sebuah ketertarikan yang sama. Ini pahit, kenyataan yang sangat pahit. Kenapa kau tidak melamarku sebelum Polandia datang dalam kehidupan? Sungguh Siwon, aku mencintaimu lebih dari cintaku terhadap biola, namun kenapa kau melamarku tepat setelah aku dipanggil untuk bersekolah di sana?

Pupil mataku membesar, tiba-tiba saja pelupuk mataku basah, perasaanku begitu campur aduk, diantara bahagia dan sedih. Spontan aku memeluk tubuh atletis Siwon dengan erat, seluruh mataku telah basah, aku menangis.

“S-Siwon, a-aku, bahagia mendengarnya, aku juga mencintaimu. Namun bagaimana? Hubungan ini pasti akan kandas, aku yakin itu…”

Tangisanku terus mengalir, aku semakin memeluk erat Siwon seakan tak ingin lepas dari aroma parfum dan tubuhnya. Tiba-tiba aku merasakan sebuah usapan lembut tepat di atas kepala, tangan kokoh Siwon memberikan sebuah sentuhan tenang pada diriku.

“Tidak apa, aku hanya ingin memberitahumu yang akan perasaanku yang sebenarnya,” jelas Siwon dengan sebuah senyum terpaku dalam bibirnya, “Cinta tak harus memiliki, walaupun kita berada dalam jarak yang terpaut sangat jauh, namun kita telah terikat dalam hubungan yang sudah dibangun sejak lama.”

Siwon merengkuh kedua pipiku dan mengusap air mata yang masih tersisa, “Aku akan tetap mencintamu dalam jarak sejauh apapun.”

Mata kami saling bertaut, aku merasakan sebuah sensasi berdesir ketika sebuah kecupan melayang pada bibirku, aku memejamkan mata ketika Siwon melekap tubuhku erat, aku menikmati setiap detik yang berjalan jika berada di dekatnya. Setiap kali kulit kami bersentuhan, terasa ada semacam aliran listrik yang bergulir, aku semakin mencengkeram dengan kuat tangan kokohnya.

Matahari menunduk malu menatap kami berdiri di bawah permadani langit, semburat jingga menghiasi horizon cakrawala Mokpo. Awan-awan berarak kembali setelah menggembala di bawah perintah mentari, aku harus melepas Siwon sebab senja telah menggantikan peran siang.

“Aku harus pergi.”

Ia mengangguk pasrah, mungkin besok aku tak akan lagi mendengar suara basnya yang khas atau lelucon yang selalu ia lontarkan untuk mencairkan suasana. Terima kasih Siwon karena kau telah menjadi pelengkap dalam kehidupanku.

Aku tersadar ketika kenangan itu telah berhasil menggores sebuah luka yang telah kering, kejadian itu berlangsung bertahun-tahun yang lalu, seharusnya pantas untuk dikunci di dalam peti kenangan. Hari ini, aku kembali mendapat sebuah kejutan yang akan menjadi isi halaman buku kehidupan yang terus berlanjut.

“Siwon, terima kasih atas frappe yang lezat ini. Aku…harus pergi.”

Pria itu hanya diam seribu bahasa, aku berbalik dan tak mengindahkannya lagi. Kali ini, ketenangan adalah sahabat yang cocok untuknya.

Kulangkahkan kakiku dari kafe kecil itu, aku sebenarnya khawatir akan kondisi mentalnya. Tapi sudahlah, ia adalah seorang pria dewasa yang mampu mengendalikan emosi dan tempramen. Jalanan di San-Il mulai diramaikan dengan hiruk pikuk penduduk, aku tersenyum pada mereka, rasanya kejadian yang kurang pantas tadi telah hilang separuh dalam pikiran.

-TO BE CONTINUED-

10 thoughts on “[Multi-Chapter] Mokpo – 05. C’est Fini

  1. Jadi sebernanya mereka saling suka toh. Mudah2han aja mereka masih bisa meneruskan kisah Cinta yg tertunda hehehehe
    Nextnya bnyakin moment yoonwon nya ya

    Like

  2. Waaahhh…ternayata mereka dahulu memang saling mencintai n dah menyatakan perasaan masing2 toh…cm ga sempet jadian keburu yoona ke polandia… nah sekarang nech waktunya melanjutkan kisah kasih yg tertunda…biar tambah bnyk sweet momen yoonwoonnya….next ya thor..

    Fighting n gomawo ya…

    Liked by 1 person

  3. Tuh kan bener sebenarnya mereka udah saling suka dari dulu…tapi knpa won oppa bersikap seolah tidak pernah punya hubungan dengan yoona eonni ketika dia baru pulang dari polandia…???
    Semoga rasa cinta itu masih ada dan tumbuh kembali d antara mereka….
    Next ya thor….

    Liked by 1 person

  4. Siwon Yoona telah sama2 mengungkapkan perasaan cinta mereka sblm Yoona brngt ke Polandia.Berarti mereka telah menjalin hub sblmnya??tp apakah hub itu telah berakhir??saat mereka bertemu stlh kembalinya Yoona dari Polandia pertemuan mereka seolah2 tdk terlihat bahwa mereka masih memiliki hubungan….Semoga sj perasaan mereka msh sm.

    Liked by 1 person

  5. Akhhhhhh benar kan mereka dulu memiliki perasaan lebih dari sahabat hanya saja perasaan itu tidak bisa diungkapkan dengan hubungan nyata hanya melalui kata2 saja bisanya, yach walaupun sedih tapi bahagia juga 🙂
    Jadi yoona belum pernah berinteraksi langsung dengan yoojin, kenapa yach ? Apa karna siwon ?
    Semoga ajach perasaan diantara keduanya masih tetap sama yach walaupun sangat yakin perasaan itu masih ada ditempat yg sama, dan semoga ajach kali ini mereka bisa mewujudkan apa yg tidak bisa mereka wujudkan dimasa lalu 🙂
    Ditunggu lanjutan nya
    Dan terima kasih untuk kejutan menyenangkan nya 😉
    Fighting 🙂 🙂

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s