[Multi-Chapter] Mokpo – 02. This Is the Beginning

mokpo

Mokpo – This Is the Beginning

[Yoona & Siwon | Multi-Chapter | PG-15 | Drama & Romance]

“Dikala rasa kembali menguak luka.”

Read First: Mokpo – Prolog


Tak kusangka, musim dingin di Korea begitu mengerikan, hampir dibawah minus tujuh. Untungnya Polandia telah mengajarkanku bagaimana cara bertahan hidup dalam udara dingin setiap harinya, ya, kau tahu tentunya, negara kecil itu berbatasan langsung dengan laut Baltik, bahkan aku hampir tak mengenal musim panas menyentuh kulitku sedikitpun. Setiap harinya aku terus mengenakan palto besar lengkap dengan jaket dua rangkap, itu saja belum cukup menjadi benteng pertahanan, bisa kau bayangkan betapa dinginnya Polandia kan?

Kukira Korea menjadi sebuah perapian kecil, namun sepertinya aku salah, lagi-lagi aku harus mengenakan palto, bedanya aku tak perlu merangkap jaket hingga dua atau tiga lapis. Aku berjalan menyusuri jalan kecil yang dibuat dengan tanah dan batu kerikil, setiap kasarnya menggelitik alas kakiku, yah, aku tinggal di Mokpo, namun di bagian yang lebih terpencil darinya, San-Il. Daerah ini memiliki panorama yang begitu indah, kau dapat berdiri di Bukit Seok-Gu yang menghadap persis ke wajah Pantai Sheizou ketika matahari terbenam, sangat indah, aku selalu menghabiskan setiap sore berdiri hingga lutut bergeming waktu itu.

Aku menebar senyuman pada setiap orang yang kulalui, ada nenek tua yang menggendong tas berisi buah-buahan, seorang ibu yang tengah mengurus anaknya, semuanya, wajah mereka terlihat sumringah walau hidup kadang menghianati mereka, tak banyak orang di Mokpo yang mampu berpergian ke luar negeri seperti diriku, ya bisa dibilang aku termasuk orang yang beruntung.

“Taeyong-ya! Tunggu aku!”

Suara anak kecil menggema di sepanjang jalan, aku senang melihatnya. Ketika melihat wajah polos mereka, aku bak dibawa kembali pada kenangan masa kecil. Dulu, aku hidup sebagai gadis dengan kuncir kuda, tak banyak gadis memiliki rambut panjang dan diikat seperti diriku, kebanyakan dari mereka lebih menyukai trend rambut pendek. Oh iya, rumahku terletak tak jauh dari bibir Pantai Sheizou, setiap malam aku berdiri menghadap laut, mendengar dersik yang berirama setiap waktu.

“Auw!” ceroboh, aku terbuai dengan kenangan hingga tak menyadari akan kedatangan seorang pria jangkung yang kini tengah berdiri dengan tatapan nyalang padaku. Wajahnya nampak tidak segar dengan jambang dan kumis tipis yang tumbuh di dagunya, aku mengusap kepalaku.

“Hei, apa kau tidak bisa jalan dengan baik, huh?” gerutunya.

Aku menatapnya dengan gusar, apa ini cara berbicara dengan seorang wanita? Tidak berpendidikan. Namun aku tak membalas, dari tatapannya aku tahu ia bukan orang baik, terlebih nada suara yang melekat padanya menciptakan image kasar.

“A-aku, u-um…” ia mengangkat kedua alisnya, aku tertunduk malu, “Mian, aku tidak sengaja.”

Ia menggeleng kemudian berlalu dengan sinis, sepertinya ia tidak asing bagiku, yang aku ingat adalah wajahnya yang masih sama. Siapa? Semakin aku mengingat, semakin sulit mendapatkan bayang jelas, ah sudahlah, San-Il itu kecil, setiap hari kami selalu bertatap muka dengan orang yang sama.

Eomma! Appa!” aku mengetuk pintu gerbang berwarna cokelat pias, dimana mereka?

Aku mendengus kesal, kebiasaan! Eomma dan appa begitu pikun sebab faktor usia. Pintu gerbang terbuka setelah aku menunggu hingga duapuluh menit, astaga!

“Yoona? Ini Yoona kan?” seru appa seperti tak percaya dengan kehadiranku, tentu mereka bingung, sebab aku tidak mengabari terlebih dulu jika aku ingin datang ke Mokpo. Dari dalam seorang perempuan paruh baya tergopoh-gopoh penasaran.

“Yoona? Kenapa kau…” eomma membulat, wajahnya terlihat lucu.

Appa, dia siapa? Apa asisten baru disini?” selorohku pada eomma. Ia mencubit kedua pipiku gemas.

“Dasar kutu! Masuklah.” kami tertawa bersama, ah, aku rindu suara mereka. Kedua orang tuaku yang telah berjasa membesarkan diriku hingga sekarang.

Kami tinggal di sebuah rumah kecil yang terbuat dari kayu jati, kami masih memegang erat prinsip tradisionalitas Korea. Ketika Seoul mulai merambah menjadi tanah bercakrawala, kami masih berpegang teguh dengan budaya. Aku tak masalah, rumah kami memiliki taman kecil dengan kolam yang di tengahnya berdiri shishi-odoshi khas Jepang, appa memang suka mengakulturasi antara budaya Korea dengan Jepang, maklum, dia masih menuruni darah Jepang, appa memiliki nama asli Ken Akihabara sebelum menikah dengan eomma, kini ia mengganti namanya menjadi Im Joo-Heon.

“Yoongie, kenapa kau pulang? Waktu itu kau bilang akan pulang musim semi nanti, oh eomma tahu! Pasti kau di drop out oleh universitas kan? Haha.”

Aku menjerit, dasar eomma! “Ih, eomma ini! Tidak, aku um…mengambil cuti. Penat dengan perkuliahan, lagipula skripsi sudah di depan mata.” mereka mengangguk paham, memang benar, aku sangat letih dengan kuliah, ditambah job mengisi teater terus mengalir. Aku seorang pemain biola, mengisi teater menjadi usaha kecil di samping kuliah, lumayan untuk mengisi kekosongan uang setiap akhir bulan.

Malam ini begitu dingin, rasanya meminum secangkir frappe sangat cocok, sayang, eomma sudah tidak membeli persediaan frappe semenjak diriku pergi ke Polandia. Maka, aku memutuskan untuk berkeliling mencari kafe kecil yang masih buka.

“Yoongie, kau benar ingin pergi keluar sendirian? Tidak ingin eomma atau appa temani?”

Aku tersenyum simpul, “Tidak, eomma. Aku sudah terlalu besar untuk berjalan bersama kalian, lagipula aku hanya sebentar saja.”

Eomma mengangguk, ia percaya.

Mokpo ketika malam hari tak begitu indah menurutku, ia bersolek dengan lampu-lampu temaram yang berjajar di setiap sudut jalan. Terlalu gelap, aku tak suka. Mataku menggeliat mencari-cari setiap kafe yang masih hidup, kebanyakan dari mereka telah menutup ‘pintu besi’nya, aku hampir menyerah hingga mataku menangkap sebuah tempat kecil di ujung jalan yang masih berkedip. Tanpa basa-basi aku langsung menuju kesana, kuharap masih banyak orang yang berkunjung atau setidaknya sebagai teman bicara.

Kosong, tak ada siapapun, namun masih ada seorang pria yang berpakaian ala bartender berdiri di balik konter. Aku segera memesan segelas frappe dan duduk di kursi yang paling pojok.

Tak lama, frappe itu telah berada di tanganku. Mengusap mug mengalirkan sedikit aliran panas ke dalam tubuh.

“Tentu, sayang. Tidak akan ada yang menggantikan dirimu.” sebuah suara orang tengah bercengkrama mengusik pendengaranku, aku menoleh, ya Tuhan. Ada seorang laki-laki tua berkacamata tengah bermain cinta dengan seorang gadis yang kurasa terpaut jauh darinya.

Aku mendelik, temaramnya San-Il menjadi sebuah kesempatan untuk kegiatan seperti ini. Kurasa tempat ini adalah tempat kegiatan prostitusi, namun aku menghilangkan semua halusinasi yang tak berbentuk itu, mencoba berpikir rasional bahwa mereka adalah seorang suami istri.

Lelaki itu berhenti dan menatap diriku, astaga, apa yang ingin dia lakukan?

Ia tersenyum genit, “Halo, cantik. Oh, aku tidak tahu jika Siwon memiliki gadis secantik dirimu.” ia mencoba mengusap pipiku, aku menepisnya. Benar-benar kurang ajar!

“Tuan Kim, pergilah. Dia bukan gadisku.” sebuah suara memekik dari balik kursi yang kududuki, pemilik suara itu tak ayal adalah lelaki yang tadi pagi kutabrak.

Pria yang bernama Tuan Kim itu mendengus, “Ayolah Siwon, kau jangan bercanda. Ia begitu cantik, lagipula…”

“Tutup mulutmu! Aku bilang, dia bukan gadisku!” Tuan Kim berdiri dengan gusar, ia merasa tersinggung dengan ucapan kasar Siwon. Oh, jadi pria itu bernama Siwon? Pria kasar yang tadi pagi telah menabrakku dan berbicara tidak sopan.

Setelah Tuan Kim pergi, lelaki bernama Siwon itu duduk dengan menindihkan satu kakinya ke atas kaki yang lain. Di tangan kananya terselip sebuah rokok yang menyala, sesekali ia menyesapnya dan menyemburkan asap bernikotin tersebut. Aku benci rokok!

“Lebih baik kau cari kafe lain yang lebih pantas untukmu, gadis frappe.” aku bergeming sembari menghabiskan sisa kopi yang masih bertandang pada mug putih ini. Dibalik sikapnya yang dingin, terselip sebuah rasa kepedulian walau sedikit.

“Terima kasih atas kopinya, pria dingin.” ucapku sembari tersenyum simpul padanya, kemudian berlalu dan tak menghiraukannya.

Di bawah malam yang bertabur bintang, aku berjalan sembari tersenyum, ternyata pria itu memiliki nama yang tak seiras dengan perangainya, Siwon. Aku suka namanya, tapi aku tak menyukai ia sama sekali, mungkin aku akan kembali kesana untuk beberapa kali, untuk frappe tentunya.

Oh, Mokpo. Kini aku telah kembali, apa yang akan terjadi untuk beberapa bulan kedepan bahkan aku tak sanggup untuk memikirkannya.

-TO BE CONTINUED-

Note: Hei! Hei! Aku bawa lanjutannya biar kalian gak lama nunggu. Oh iya niatnya ini bakal aku update dua atau satu hari sekali kalau lagi gak males. Tetep stay tune ya! 😊

Advertisements

13 thoughts on “[Multi-Chapter] Mokpo – 02. This Is the Beginning

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s