The Village’s Secret [A Little Hope] – HyeKim

the-village-secret

The Village’s Secret Chapter 5

└ A Little Hope ┘

©2016 HyeKim’s Fanfiction Story

Starring With : Girls’ Generation Yoona as Im Yoona || Super Junior Siwon as Choi Siwon || Ladies Code Sojung as Lee Sojung || Girls’ Generation Seohyun as Lee Seohyun

Genre : Mystery, Horror, Crime, Romance, AU || Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 || Inpiration : Korean Drama The Village : Achiara’s Secret

Poster by : Xchee @Poster Channel

Summary :

Im Yoona baru saja datang di Achiara setelah 21 tahun lamanya tinggal di Amerika. Tinggal di desa tersebut bukannya menciptakan kedamaian, tapi Yoona malahan menemukan sebuah mayat misterius. Dibantu oleh Choi Siwon, Yoona berusaha mengungkapkan pembunuhan pelik tersebut serta rahasia terkait dengan Desa Achiara

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


Setitik harapanpun datang untuk kasus pelik ini.


PREVIOUS :

                          TEASER+FOREWORD+PREVIEW+PROLOG || #1  || #2  || #3  || #4

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Setelah berhasil menetralkan perasaannya. Yoona pun memilih meneriwa tawaran yang Siwon baik hati sodorkan untuknya. Tinggal bersama lelaki tersebut. Jujur, Yoona sendiripun dikerubungi perasaan takut lantaran sosok yang mengejarnya di koridor beberapa waktu lalu. Kaki jenjang Yoona memasuki appartementnya kemudian meraih saklar lampu hingga cahaya di dalam petak ruangan yang ia tinggali itu terlihat. Sambil terus berusaha membuang jauh-jauh perasaan kalutnya, Yoona merajut langkah ke kamarnya kemudian memasukan beberapa barang ke kopernya yang selalu sedia di bawah kolong tempat tidurnya.

“Appartement yang kutempati sangat luas. Bisa dibilang ummm, appartement elite yang ada di Achiara. Aku tidak berniat sombong…” Siwon akhirnya buka suara sambil memperhatikan Yoona dengan setengan badan bertumpu pada tembok pintu kamar wanita itu, Yoona sendiripun masih sibuk menyesaki kopernya dengan barang miliknya. Maka dari itu, Siwon melanjutkan ucapannya. “… aku mengatakan hal ini agar kau tidak khawatir untuk kamar yang akan kau tempati, Yoona-ssi.”

Secara bersamaan kegiatan Yoona memasuki barang-barangnya pun selesai, wanita dengan mantel coklat itu memutar tubuh sambil menarik tarikan kopernya. Wanita bermarga Im itu melempar senyum yang mengakibatkan Siwon menelan ludah langsung dan menegapkan badannya.

“Terimakasih, Siwon-ah.” Yoona mengatakannya dengan lembut. Namun bukan hal tersebut yang mengakibatkan mata Siwon membola, tetapi panggilan akrab wanita di hadapannya ini. Terlihat Yoona menjelitkan bahunya. “Lebih baik panggil aku secara informal. Agar terkesan lebih nyaman.”

Kepala Siwon pun mengangguk-angguk dengan mulut terbuka serta wajah lugunya. Yang mana kekehan dengan tangan menutupi mulutnya, Yoona aksikan ditambah kepalanya yang sedikit menunduk. Siwon yang merasa atmosfer jadi agak berbeda pun meloloskan dehemannya sambil menempatkan kedua tangannya ke saku celana lalu mengetuk lantai dengan ujung sepatunya. Hal tersebut berhasil menarik kembali fokus seorang Im Yoona padanya.

“Kalau begitu…” kepala Siwon bergerak ke  arah luar, hal tersebut pun dipahami oleh Yoona. “Mari kita pergi ke appartementku.”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

‘Cklek!’

Suara tersebut berasal dari saklar yang dijamah oleh sebuah tangan kekar seorang lelaki. Sontak menciptakan cahaya lampu yang menerangi kegelapan yang menyapa appartement yang luas tersebut. Yoona mengedarkan pandang sebentar ke appartement Siwon. Lelaki itu tidak bergurau perihal kata elite yang dilabelkan untuk tempat tinggalnya saat ini. Pemilik rumah yang tak lain Siwon pun sudah melepas sepatunya setelahnya dirinya membalikan badan ke  arah Yoona yang langsung balik menatapnya, merasa tak enak bila ketahuan sedang meneliti tempat tinggal lelaki tampan itu.

“Buka sepatumu dan masuklah, Yoona-ssah,” kata Siwon diselipkan pita suara ragu untuk panggilan pada Yoona. Mendengar Siwon yang sedang menggaruk tenguk dengan risih dan gigi menyatu yang terlihatkan dari mulutnya yang terbuka, memanggilnya dengan begitu kikuk itu membuat Yoona mengulum senyum geli.

Yoona melangkah selangkah kemudian membuka sepatu berhak tingginya sambil sedikit membungkuk. Melihat wanita bermarga Im itu sibuk membuka alas kakinya, inisiatif muncul dalam diri Siwon yang langsung sigap mengambil koper berwarna abu-abu milik Yoona. Kepala Yoona sedikit tortoleh dan tersenyum mengisyaratkan terimakasihnya.

“Terimakasih, Siwon-ah. Kamu banyak sekali membantuku.” akhirnya alas kaki Yoona terlepas dan bergabung dengan jejeran sepatu Siwon yang lainnya di rak. Yoona pun menggerakan tungkainya memasuki ruang tengah appartement Siwon dan mengambil alih kembali kopernya.

Siwon yang merasa malu akan ucapan terimakasih Yoona pun menampilkan cengiran khasnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. “Ehehehe, tak masalah, Yoona-s—ah.” Siwon memejamkan mata sejenak diiringi hembusan napas pelan karena selalu saja salah tingkah untuk memanggil Yoona lebih akrab. “Kalau begitu, aku tunjukan kamarmu,”

Siwon langsung ambil tindakan lain dibanding makin terlihat layaknya orang bodoh. Anggukan Yoona pun mengawali Siwon menuntunnya ke sebuah ruangan yang berada di dekat dapur berinterior mewah, membuat Yoona berdecak—mengeluarkan kekaguman akan nalurinya sebagai seorang wanita yang suka bergulat di dapur. Dirasakan langkah Siwon berhenti di sebuah pintu berwarna coklat tua, Yoona pun memandangi pintu itu setelahnya menatap wajah Siwon yang tersenyum dan membukakan pintu tersebut hingga terbuka celah yang menampakan isi ruangan. Kepala Yoona pun bergerak guna mencuri pandang untuk melihat isi ruangan.

“Ini kamarmu, semoga dirimu nyaman,”

Tangan Siwon terulur untuk mempersilahkan Yoona masuk. Sebelum benar-benar masuk, Yoona menggumam terimakasih yang direspon Siwon dengan ringisan malunya. Setelah itu, Yoona meletakkan koper dan duduk di atas ranjangnya, kepalanya mengadah menatap langit-langit kamar. Tatapannya tersirat sendu namun hatinya yang semulanya kedinginan mulai menghangat dikarenakan dirinya menyadari sedang bersama seorang pria yang sedia melindunginya.

“Choi Siwon.” Yoona melafalkan nama tersebut dengan senyum merekah.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Pagi hari menyapa membuat sercercah cahaya memasuki kamar yang ditiduri seorang Im Yoona. Cahaya tersebut sangat majur membuat Yoona menarik diri dari alam mimpinya. Erangan keluar dari bibir Yoona kemudian dirinya merenggangkan tubuh serta mengusap-usap matanya. Mulut Yoona menguap setelahnya ia mulai menurunkan diri dari atas ranjang dan merajut langkah keluar kamar untuk berjalan ke kamar mandi.

“Kamar mandinya mana ya?” ujar Yoona masih dengan wajah bangun tidurnya, kepalanya tertoleh ke sana-ke sini namun tak juga menemukan apa yang dicarinya. Dengan tangan terangkat menggaruk kepalanya serta air muka yang linglung, Yoona meniatkan diri bertanya pada Si Empunya Appartement yakni Siwon.

Tatkala berada di depan pintu berwarna kecoklatan itu, tangan Yoona melayang memberikan ketukan pada benda mati tersebut. Bibir manisnya pun melafalkan, “Siwon-ah, kamar mandinya di mana ya?” tangan Yoona berhenti mengetuk menanti jawaban tetapi harapannya tak terkabul membuat Yoona kembali mengetuk dan berkata, “Siwon, apa kau ada di dalam?” namun tetap tak ada jawaban.

Napas Yoona terhela lalu tanpa sengaja dirinya menarik gagang pintu, mukanya lantas terkejut bukan main dikarenakan pintu kamar Siwon yang tak diamankan oleh kunci membuatnya terbuka. Dengan ragu, Yoona menengokan kepala ke dalam dan mulai melangkah masuk walau dirinya tahu ini sedikit melanggar privasi.

“Siwon…” panggil Yoona lalu mulai memasuki kamar Siwon lebih dalam.

“Lalalala…” senandungan suara seorang pria menarik perhatian Yoona. Dengan badan membungkuk dirinya melangkah menuju suara tersebut, seketika badan Yoona kaku seluruhnya melihat pemandangan di depannya, matanya mutlak membola sementara Si Objek Utamanya masih bersenandung ria dengan earphone yang terpasang sambil bergoyang-goyang. “…. nanana—eh?”

Tubuh lelaki yang beranama Siwon itu memutar sambil memakai baju dalamnya—dirinya tadi sedang menari-nari mengikuti irama musik. Sekon ini, wajah Siwon melongo melihat Yoona yang menatapnya tanpa ekspresi. Mata Yoona mengedip beberapa kali karena disajikan dengan tubuh Siwon yang toples. Alam sadar Siwon langsung kembali, dengan gerakan rusuh dirinya berbalik badan dengan muka merah merona dan cepat-cepat melepas earphone dan memakaikan tubuhnya dengan baju dalamnya yang berupa kaus oblong. Kejadian secepat kilat itu menyadarkan sosok wanita bernama Im Yoona itu, salivanya tertelan gugup lalu kepalanya berpaling dari Siwon yang sedang memejamkan mata dan membuang napas berulang kali.

“Ad… aaa… ap…a?” pertanyaan Siwon lolos walau lelaki itu belum mau membalikan badan guna bertatapan langsung dengan Yoona.

Tak jauh berbeda, muka Yoona pun memerah lalu ujung matanya melirik Siwon yang sedang menggerak-gerakan bahu tak jelas—seakan meminalisir rasa gugup yang menggerogoti seluruh organ kerjanya. Yoona menyunggingkan senyum canggung walau tak bisa Siwon saksikan.

“Hanya ingin bertanya, di mana kamar mandi. Maaf aku melangkahi privasimu.” Yoona berkata gugup. Siwon yang lagi-lagi menghela napas pun membalikan badan dan melempar senyum kakunya.

“Ah, tak apa kok, eheheheh,” ucap Siwon diiringi tawa kakunya membuat Yoona melihatkan senyum malunya. Tangan Siwon menggaruk kepalanya sambil obsidiannya menerawang ke lantai. “Kamar mandinya memang berada di sudut appartement. Mari kuantar, Yoona-ya.”

Gerakan tubuh kikuk Siwon pun terlihat, ia pun bergerak mengiring Yoona keluar kamar untuk memandu ke kamar mandi berada. Dengan senyum gelinya, Yoona pun mengekori Siwon di belakangnya. Walau kejadian beberapa waktu lalu sangat memalukan, Yoona merasa lucu akan reaksi Siwon. Diam-diam dirinya melirik pria yang beberapa jengkal di hadapannya itu, menatap profil lelaki tersebut yang sedikit bisa ia lihat wajahnya.

“Tampan,” gumaman itu lolos dalam hati Yoona yang sedang tersenyum kasmaran.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Nuna,” ketukan dan panggilan tersebut terpecah di lorong rumah mewah tersebut. Sosok Lee Sehun lah yang mengetuk pintu kamar kakak kembarnya sambil memanggilnya. “Nuna tidak mau sarapan? Kita sudah terlambat.” Sehun kembali buka suara dengan nada lembut yang ia pertahankan walau dalam hati jengkel juga akan sikap Seohyun yang suka bertindak seenaknya.

Ruangan yang di dalamnya menampung Lee Seohyun itu melihatkan anak gadis tersebut menatap penuh arti meja yang terdapat beberapa sesajian di atasnya. Dirinya tak mengidahkan panggilan Sehun yang terus mengetuk pintu kamarnya. Tangan milik Seohyun bergerak mengambil korek api kemudian dirinya menyalakan korek tersebut hingga menciptakan api di tengah kamarnya yang gelap. Api tersebut dituntunnya ke sebuah lilin berukuran cukup besar berwarna kuning hingga akhirya api tersebut tersalurkan di atas lilin tersebut. Tiupan dari bibir Seohyun pun menyebabkan api dari korek api yang ia nyalakan padam, menyisakan api yang terpancar dari lilin. Seohyun mengambil dua menyan yang mengeluarkan asap tersebut. Tangannya mengantup sambil memegang menyan yang mengeluarkan bau kurang bersahabat dihidungnya, namun Seohyun malah membungkuk sebanyak empat kali sambil merapalkan suatu mantra.

“Kepada penguasa langit dan bumi juga penjaga arwah yang bergentayangan. Tolong biarkan aku bertemu sosok itu,” bibir Seohyun berucap demikian dengan mata terpejam.

Seketika rambut kuduk Seohyun berdiri. Angin berhembus kencang menyebabkan kibaran dadakan pada horden putih yang menggantung di jendela kamar Seohyun, jendela yang tertutup dan membiaskan cahaya mentari pagi itu seketika menjeblak terbuka. Tangan Seohyun gemetar bukan main, namun tetap memegang dua menyan itu walau ini bukan kali pertamanya melakukan acara spiritual memanggil arwah bahkan untuk bertatap muka dengan seorang arwah lantaran ia memiliki indra keenam yang selalu membiaskan aura gelap dari dirinya. Kepala Seohyun tertoleh ke sumber aura terkuat, matanya memebalalak dengan mulut terbuka. Menyan yang ia pegang jatuh bahkan lilin yang ia nyalakan langsung redup lantaran angin yang makin berhembus kencang.

Sosok berwajah gosong habis mengenakan gaun berwarna putih penuh darah hadir di sebelah Seohyun yang menggeleng-geleng pelan. Tangan yang juga gosong itu terulur, rambutnya yang acak-acakan menutupi sebagian wajahnya itu sesekali terkena angin membuat helaian rambut kusut itu bergerak.

“Im Yoona selamatkan aku,” ucapan bernada seram berefek tubuh merinding itu terdengar dari mulut arwah tersebut.

Tubuh Seohyun makin bergetar dengan keringat yang sangat banjir dipermukaan kulitnya, jantungnya berdentum keras sementara angin dingin yang membuat jendela kamarnya bergerak tertutup dan terbuka berulang kali memenuhi backsound suara berisik dari jendela tersebut.

Nuna,” Sehun memanggil lagi dengan pita suara putus asa dan wajahnya tercetak memelas. Hingga hadir sosok Ahreum yang mendatanginya dengan muka heran.

“Si Bocah itu belum mau keluar? Empat puluh lima menit lagi kalian harus berangkat,” seketika Ahreum mencetuskan ucapan kelewat dingin nan menusuknya. Dirinya memalingkan wajah dan menyarangkan tatapan bengis dengan wajah tak kalah bengis diiringi senyum miringnya.

Mendeteksi akan hadirnya Ahreum, kepala Sehun menoleh lalu mengadahkan tatapannya kepada Ahreum yang sedikit lebih tinggi darinya. Bola mata milik Sehun berkilat dengan tangan yang melayang di depan pintu warna putih milik Sehun bergetar, otaknya mengingat kembali isi pesan singkat diponsel Ahreum. Tubuhnya bergetar ketakutan, pembunuh Lee Sojung. Bibir Sehun bergetar menilik wajah Ahreum yang menepis tangan Sehun meggantikannya untuk mengetuk pintuk kamar Seohyun keras, jauh berbeda dengan Sehun yang perlahan.

Ya! Seohyun! Keluar kau!” teriak Ahreum menggebu-gebu. Sementara Sehun seakan menulikan organnya dan dipenuhi wajah Sojung walau sebenarnya menatap Ahreum yang wajahnya memerah marah. “Lee Seohyun!”

“Pembunuh,” gumam Sehun dalam hati dengan wajah pucat pasi.

Gambaran Sojung yang tersenyum padanya membuat Sehun naik pitam, kornea matanya memerah pertanda menahan amarah. Dan Ahreum sendiri makin mengetuk pintu kamar Seohyun yang tak kunjung meresponnya.

“Akhhhh!” namun semua kekalutan dalam diri orang-orang di sana  hilang bagai tersapu angin yang tadi menghinggapi dalam kamar Seohyun ketika teriakan yang memekikan telinga itu pecah.

Di dapur pun terlihat sosok Soona—Ibu Seohyun dan Sehun, sedang mengatur meja pun tersentak kaget mendengar suara putri sulungnya. Dengan wajah panik dirinya pun mengatur langkah untuk berjalan ke  arah kamar Seohyun.

“Seohyun-ah,” panggilan Sang Ibunda pun terdengar khawatir.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Acara mengguyur badan dengan air segar dari shower pun terselesaikan oleh Im Yoona. Sosok wanita jelita itupun tengah mengatur meja makan di appartement milik Siwon. Dirinya bersenandung agar pekerjaannya seakan sangat santai ia lakukan. Tubuh Yoona pun berbalik ke counter yang terletak di belakangnya setelahnya mengiring tangannya kepada sebuah lemari di atas counter tersebut, lemari itu pun terbuka serta menampilkan jejeran gelas bening yang berjajar rapi. Sayang, tempat gelas tersebut agak tinggi untuk Yoona membuatnya harus berjinjit mengambilnya.

Dari arah lain, munculah sosok Siwon yang sudah memakai seragam polisinya dengan rapi. Kemudian kelereng hitamnya menangkap sosok Yoona yang kesulitan menggapai gelas di lemari counter. Dengan cekatan, Siwon merajut langkah lebar hingga sampai di sebelah Yoona. Tubuhnya yang jangkung memudahkannya mengulurkan tangan tanpa berjinjit dan menaruh dua buah gelas di meja counter. Kehadiran Siwon sempat membuat Yoona terkejut, wanita itu pun berbalik dan langsung terkejut karena wajah Siwon tepat didepan wajahnya.

Muka kedua orang tersebut langsung memerah apalagi ketika Yoona mengangkat wajah, kedua bibir mereka pun nyaris menyapa. Ludah masing-masing keduanya terteguk masuk diiringi degupan jantung yang layaknya lari marathon.

“Emmm… Siwon, terimakasih,” akhirnya Yoona berkata juga dengan bola mata sebisa mungkin menghindari tatapan Siwon. Dirinya sedikit menunduk serta berusaha agar rona merah dipipinya tersamarkan oleh helaian rambut panjangnya.

Siwon pun menegapkan tubuhnya lalu mundur dua langkah agar ruang lingkup Yoona bergerak tak terbatas karena ada tubuhnya yang berdiri di belakang wanita itu. Setelah itu, deheman lolos dari bibir Siwon, kepalanya pun mengangguk-angguk kaku.

“Ya, mari kita sarapan saja sekarang,” ajaknya direspon dengan anggukan Yoona dengan senyum bak bidadarinya.

Singkatnya, keduanya pun sarapan dengan tenang dan duduk saling berhadapan. Berulang kali Siwon mencuri kesempatan melirik Yoona namun langsung mengalihkan pandangan berlakon fokus terhadap piring makannya saat terlihat ancang-ancang Yoona akan menangkap basahnya. Dilain sisi, Yoona terus menunduk dengan diam. Jantungnya masih karap bertalu-talu karena kejadian barusan, rona wajahnya tak kunjung memudar.

Ditengah suasana canggung itu, Siwon meletakkan sumpitnya lalu mengambil gelas yang ditampungi setengah air mineral yang sudah ia teguk lalu dirinya pun meneguk sebagian air mineral itu hingga habis tak tersisa. Di depannya, Yoona juga menelan sisa makanan yang terkurung dimulutnya lalu mengambil selembar tisu untuk mengelap mulutnya dengan gerakan anggun yang khas. Tubuh Siwon pun dibawanya berdiri juga tangannya membenarkan seragam polisinya itu, kemudian matanya menyarangkan tatapan pada Yoona yang sedang menyetor air mineral masuk ketubuhnya.

“Yoona-ya,” setelah bergulat dengan rasa gugup juga malunya, pada akhirnya Siwon berani memanggil nama Yoona yang langsung balik menatapnya dengan bola mata mengisyaratkan pertanyaan. “Bagaimana bila kita berangkat bersama?” adalah kata-kata Siwon berikutnya dihiasi oleh senyum gugupnya.

Sebentar Yoona bergeming lalu menarik ujung bibirnya tersenyum, kepalanya pun memberikan persetujuan dengan sebuah anggukan singkat. Seakan kupu-kupu berterbangan diperutnya, Siwon mendadak sangat bahagia akan ajakan yang disetujui oleh Yoona. Berangkat bersama cinta pada pandangan pertamanya. Hingga akhirnya Siwon pun mengantar Yoona dengan sepedah miliknya. Yoona pun duduk diboncengan sepedah tersebut dengan senyum indahnya. Rambutnya agak berkibar lantaran angin sejuk Achiara. Sesekali Siwon menyapa warga yang ia kenal dan Yoona yang di belakangnya pun tersenyum.

Mata Yoona pun memandangi punggung Siwon yang ada di depannya, senyumnya makin merekah sempurna hingga tangannya makin mengeratkan pelukan dipinggang Siwon diiringi tubuh Yoona yang menyender pada punggung tersebut menyebabkan rasa hangat tersebar diantara Siwon juga Yoona hingga jantung keduanya memompa kembali membentuk sebuah irama indah.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Setelah melewati pagi yang penuh akan kebunga-bungaan, Yoona pun ditarik kepada suatu realita pahit kembali. Surat. Ya, surat dari kakaknya yang diberikan bibinya kemarin tengah ia pandangi saat ini. Sekon ini, Yoona sedang duduk di mejanya yang berada di ruang guru pada jam istirahat. Tangannya memegang amplop putih berisikan lembaran surat dari kakaknya, Im Yoonmi. Napasnya terhela lalu dirinya mulai membuka amplop tersebut dan menarik isinya. Cukup agak lama Yoona memandangi lipatan rapi kertas tersebut. Hingga finalnya, Yoona pun mengkomando tangannya membuka lipatan surat tersebut hingga netranya disuguhi deretan hanggul yang ditorehkan melalui pena berwarna hitam.

‘Untuk Im Yoona, adikku yang sangat kukasihi…’

Bait pertama menimbulkan efek bergetar direlung hatinya, mata Yoona terpejam mencoba kuat untuk membaca surat dari sosok yang timbul muncul dalam ingatannya saat ini. Kakaknya yang terkasih. Perlahan kelopak mata Yoona terbuka kembali untuk membaca surat Yoonmi.

‘Apa kabar Yoonggie-ya? Apa Virginia sangat indah sampai kamu tidak mau menjengukku di Korea? Aku iri padamu yang bisa tinggal di Amerika. Kamu harus tahu, Achiara itu tempat yang damai untuk tinggal. Maka dari itu ke sinilah dan kunjungi aku. Aku bekerja di Haewon’s School Group, sesuai aku mengirimkan alamat surat ini…’

Yoona perlahan memberhentikan kegiatan membacanya lantas melirik amplop suratnya. Ya, dirinya baru ingat bahwa kakaknya mengirimkan surat dengan alamat  Haewon’s School Group yang tak lain tempat kerjanya saat ini. Dengan perasaan mengebu, Yoona kembali menelisik surat Yoonmi lantaran kebetulan yang sangat lebar ini.

‘Achiara adalah tempat tinggalku. Banyak sekali kebusukan di sini…’

Kening Yoona berkerut bingung disertai paras herannya. Kebusukan? Apa maksud Yoonmi? Dengan gerakan mata liar, Yoona pun mengebut membaca deretan tulisan tangan Yoonmi.

‘Aku lelah di sini. Kuharap kamu datang.

Saudara yang kau lupakan,

Im Yoonmi.’

Surat tersebut mencapai finishnya. Ekspresi Yoona sulit diartikan setelah membaca surat kakaknya. Tangannya menurunkan surat tersebut dengan lesu. Pikirannya semeraut tak menentu. Pertanyaannya adalah, di manakah kakaknya saat ini? Setelah akhirnya berdiam diri dengan pikiran semerautnya, Yoona mengangguk mantap akan tekadnya yang muncul. Badannya ia bawa berdiri lalu ia membalikan badan serta merajut langkah yang terburu-buru menuju ruang admnistrasi. Selama perjalanan dirinya bertemu dengan beberapa siswa yang karap menyapanya namun Yoona hanya memberi tanggapan berupa senyum tipis. Rajutan langkahnya selesai mencapai tempat tujuannya yakni ruang administrasi, tanpa perasaan ragu menyelimuti Yoona memasukinya hingga dirinya berdiri di sebuah meja panjang yang berisikan seorang staff administrasi berkacamata minus dan rambut pendek yang sibuk dengan komputernya. Jari telunjuk Yoona mengetuk perlahan meja panjang tersebut menyebabkan antensi staff berambut pendek itu beralih pada Yoona yang memberikan senyuman padanya. Staff dengan tag nama Lee Soonkyu itu membenarkan posisi kacamatanya setelahnya memicingkan matanya seakan mengintimidasi Yoona.

“Ada yang bisa saya bantu Guru Im?” itulah pertanyaan Soonkyu yang malah terdengar penasaran bukannya lapang dada menanyakan bantuan.

Walau sejujurnya Yoona tidak nyaman, dirinya menarik kursi dan duduk di hadapan wanita yang terus melempari tatapan intimidasinya. “Aku hanya ingin bertanya…” sesuai dugaan, Soonkyu melakukan penggerakan pada badannya yang langsung agak condong dengan mata membulat dan telinga siap terpasang. Tangan Yoona saling menyatu di atas rok panjangnya sampai akhirnya bibirnya bergerak guna mengatakan, “… apa ada pekerja di sini yang bernama Im Yoonmi?”

Kerutan bingung tercipta diwajah Soonkyu. Kepalanya bergerak-gerak juga jari tangan kanannya yang ada di atas meja. “Tunggu sebentar,” ucapnya kemudian memutar kursinya untuk menghadap komputer di samping kirinya, mulai dirinya menjelajahi data-data di komputer tersebut demi mencari nama Im Yoonmi.

Selang beberapa menit dengan perasaan penasaran dan jantung berdentum keras dalam diri Yoona, akhirnya Soonkyu balik meliriknya dengan tatapan sangat-sangat penasaran membuat Yoona menatapnya penuh harap.

“Tidak ada yang bernama Im Yoonmi di sini, Yoona-ssi,” ujar Soonkyu dingin terselipi rasa penasaran akan Yoona yang menanyakan nama asing yang pernah berkerja di sini atau tidak.

Mulut Yoona melihatkan sedikit celah dengan wajah tak percaya. Kepalanya bergerak-gerak tak jelas, lalu matanya terpejam berusaha memutar ucapan Bibi Geunyoung kemarin. Ucapan bibinya perihal kakak yang masih samar diingatannya.

“Yoonmi lahir pada tanggal 3 september 1988,”

Sehabis ucapan tersebut berputar kembali, mata Yoona terbuka dan sedikit membelalak menatap Soonkyu yang masih menyarangkan tatapan penasarannya. Yoona pun akhirnya buka suara lagi dengan nada memohon. “Kumohon, bisakah kau cari lagi? Staff perempuan yang lahir 3 september 1988.”

Terlihat Soonkyu mendengus pelan lalu tanpa niat karena rasa penasarannya tak terjawab, dirinya menjelajahi lagi komputernya mencari apa yang Yoona inginkan. Ditengah menunggunya, Yoona pun harap-harap cemas dengan tangan mengatup didepan dada dan berharap dirinya menemukan jawaban yang ia inginkan. Mungkin saja Yoonmi mengganti nama atau apapun, tapi setidaknya dengan sedikit informasi akan kakaknya Yoona pun bisa sedikit menemukan titik terang mencarinya. Setelah penantian dengan harap-harap cemas tersebut, Soonkyu kembali berbalik kepadanya membuat mata Yoona melebar dengan binarnya yang penuh harap.

“Kau tahu…” kata-kata Soonkyu menggantung menyebabkan Yoona sedikit berharap lebih dengan mata yang makin melebar. “… hanya Lee Sojung yang lahir dibulan September dan kebetulan juga tanggal 3 pada tahun 1988.”

Ucapan dingin Soonkyu berefek akan tubuh Yoona yang menegang. Wajahnya berubah tanpa ekspresi. Tangannya perlahan turun hingga meremas ujung bajunya. Pandangan matanya turun ke  arah lantai dengan menerawang. Lee Sojung? Bukankah mayat wanita itu yang Yoona temukan?

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Ini lokasi yang dekat dengan hutan Achiara,” ucapan seorang polisi bernama Shindong itu terdengar. Dirinya menoleh pada lelaki yang sama-sama menggunakan seragam polisi sepertinya, Choi Siwon.

Siwon dan Shindong sedang berada di sebuah padang ilalang yang sekitarnya terdapat rumah yang berjejer rapi namun hanya satu rumah yang berdiri kokoh tepat di dekat padang ilalangnya langsung. Keduanya menyapu rapi pandangan ke sekitar mana terdapat jejeran pohon rimbun menandakan tempat tersebut adalah hutan Achiara, tempat jenazah Sojung ditemukan.

“Mungkinkah Lee Sojung melewati tempat ini sebelum kematiannya?” ucap Siwon masih menatap ke sekeliling.

Anggukan rekan di sebelahnya pun terlihat dan Shindong pun menambahkan, “Mungkin juga pembunuhnya membawa jenazah Sojung melewati tempat ini.”

Kepala Siwon mengangguk-angguk beberapa kali lalu pandangannya jatuh pada rumah sekitar padang ilalang tersebut. Dengan tangan yang berkacak pinggang Siwon menyarangkan tatapan penuh pada rumah-rumah tersebut.

“Mungkin diwaktu kejadian ada sebuah rekaman, bukannya harusnya begitu?” ujaran yang lolos dari mulut Siwon membuat Shindong menoleh padanya.

“Ya harusnya itu mempermudah penyelidikan, tapi di daerah ini tidak ada CCTV,”

Jempol dan telunjuk Siwon menjetik dengan muka yang mencetak wajah puas. “Cocok sekali! Sangat cocok untuk lokasi menghilangkan jejak pembunuhan!” ansumsi jenius Siwon dihadiahi anggukan setuju dari Shindong namun lelaki itu menyimpan rasa heran pada Siwon yang malah tersenyum penuh misterius saat ini. “Tapi pembunuh tersebut tetap payah!”

Mutlaklah Shindong tidak mengerti arah pikiran Siwon karena ucapannya. Payah? Bila payah mungkin pembunuh tersebut sudah terborgol dan membusuk di penjara. Harusnya begitu. Siwon pun peka akan ketidak mengertian rekannya dan dirinya pun menatap Shindong dengan senyum misteriusnya itu.

“Payah? Bagaimana bisa?” akhirnya Shindong bertanya dengan keheranannya yang menjulang ke langit. Tampak tangan Siwon ia lipat didepan dada dengan dadanya yang sedikit membusung sombong.

“Tentu saja, daerah ini banyak rumah yang berjejer rapi. Dan kulihat rata-rata penghuninya mempunyai mobil. Mobil tersebut kemungkinan mempunyai black box yang merekam kejadian yang terjadi dan bisa saja mobil tersebut terparkir disaat kejadian pembunuhan Sojung terjadi.”

Shindong membuka mulut takjub sementara Siwon terus saja memasang wajah sombong. Kepala Shindong mengangguk-angguk namun detik berikutnya wajahnya berubah sedikit ragu membuat Siwon menatapnya keheranan.

“Tapi bagaimana bila tidak ada mobil yang terparkir saat kejadian?” tanyanya agak putus asa. Raut sombong Siwon pun luntur dengan wajah agak hilang harapan. Benar, bagaimana bila ansumsinya akan mobil yang terparkir tidak ada sama sekali.

Dengan raut agak frustasi dan hilang arah, Siwon pun memandang liar ke sana-ke sini hingga terhenti di sebuah rumah yang sangat dekat dengan padang ilalang. Dirinya menangkap sesuatu di rumah tersebut, matanya membola dan perlahan tangannya menepuk bahu Shindong menyebabkan pria itu menoleh padanya dengan bingung. Wajah Siwon pun sangat antusias kemudian dirinya menatap Shindong dengan wajah penuh kegembiraannya.

“CCTV! Kita menemukannya!” pekik Siwon dengan wajah antusiasnya. Terlihat Shindong melongo tak mengerti hingga akhirnya tangan Siwon terangkat menunjuk satu objek yang diikuti oleh kepala Shindong untuk menatapnya, langsung saja mata Shindong membola melihat objek tersebut.

“Itu…” Shindong tak sanggup berfrasa sangking gembiranya. Dirinya menatap kembali Siwon yang mengangguk-angguk yakin. Keduanya pun lalu menatap dalam objek yang membuat mereka gembira bukan main. Ya di rumah dekat padang ilalang tersebut terpasang sebuah CCTV. Setitik harapanpun datang untuk kasus pelik ini.

—To Be Continued—


Aku tau kalian nunggu lama buat FF ini, aku tau juga banyak pembaca lari tapi mau gimana lagi moodku teralih ke sana-sini dan laptopku sempet sakit. Ugh nyebelin! Padahal aku suka banget nulis FF genre kayak gini, buat orang kepo itukan asik LOL. Sekali lagi, udah 2 bulan lamanya FF ini terbengkalai. Ya Allah, mau mewek rasanya. Mana nanti tanggal 13 UAS. Mau selelet apalagi.

Aku emang suka pilih kasih buat fanfic yang castnya bukan pasangan top di lapakku (bahkan mereka aja muncul di FF ini -_- /tengok Hyerim-Luhan/) jadi maafin aku T^T aku lanjutin ini karena aku sayang kalian, karena aku tau digantungin itu sakit jadi aku lanjut walau lama dibanding gak lanjut, aku tau kalo discontinued itu lebih menyakitkan.

Oh ya tadinya gak mau TBC di situ masih mau lanjut tapi gimana yaa… sirkon FF yang kubawa plotnya malah kalau dilanjut jadi panjang dan gak jelas, terkesan FF ini diburu-buru. Dan masih inget TBC di chapter yang digembok kemarin? Seohyun yang di appartement Yoona itu loh /bocorin dikitlah biar siders tobat agar dapat passwordnya karena kepo/plok/ nah di Chapter depan akan aku beberin lebih lanjut akan Seohyun pas itu.

Lalu di sini udah ada YW moment tuh! Asikkkk!! >,< puas gak sama YW momentnya yang emes? Semoga puas ya 🙂

Selalu kuingatkan jadi pembaca yang baik ya sayang maka dari itu komen jangan lupa ^^

CLICK PICTURE TO VISIT MY BLOG!
CLICK PICTURE TO VISIT MY BLOG!

Advertisements

4 thoughts on “The Village’s Secret [A Little Hope] – HyeKim

  1. Cie..cie..cie.. ada yg salah tingkah nich 🙂
    Lucu banget sich yoonwon saat lagi salah tingkah bareng tapi lebih banyak kan siwon yg salah tingkah nya 🙂
    Itu seohyun kenapa yach kok bisa sampai teriak gitu
    Mungkin kah sebenarnya lee sojung itu im yoonmi ? Tapi kalau iyach kenapa dia merubah indetitas nya ?
    Hmmm semoga ajach siwon dan shindong bisa nemuin sedikit banyak bukti di cctv itu
    Makin penasaran sebenarnya dimana kakaknya yoona dan siapa sebenarnya mayat yg ditemukan yoona itu ?

    Ditunggu lanjutannya
    Btw jangan lama2 donk
    Fightinggg 😉

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s