[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #11. Triangle Love

req-euri-by-laykim

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)/@Laykim INDO FANFICTION ARTS

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

PREVIOUS:

“Kau.. dipecat.”

“Astaga..” desah Jungsoo dan Seo Joon bersamaan. Yoona tersenyum tipis. “Baiklah. Maafkan aku, Donghae-ssi.. Senang bisa bekerja sama denganmu selama ini..”. Yoona menundukkan kepalanya sejenak dan pergi.

Gadis itu berjalan cepat keluar dari studio. Senyuman masih sempat dilukis Yoona ketika Seo Joon menatapnya dengan prihatin. Seakan memberitahu ‘nuna baik-baik saja’. Sayangnya, kenyataannya tidak seperti itu. 

Yoona berusaha menahan buliran bening yang sudah akan mengalir bebas ke bawah. Donghae mengepalkan tangannya erat-erat. Emosi di dalam dadanya masih bergemuruh. Dan rasa gemuruh itu bertambah kuat ketika ia melihat siluet Yoona menjauh. Rasa bersalah mulai menelisik hatinya. Dan mungkin rasa kekecewaan dan… kehilangan yang mungkin Donghae rasakan.


Jessica mengigit bibirnya. Berusaha menahan rasa sakitnya yang berdenyut cepat memenuhi kepalanya. Perkataan Siwon memenuhi benaknya. Pemuda itu seakan menghantuinya kini.

Tidak.. aku harus menghentikan semuanya.., Jessica berlari dengan panik menuju basement untuk pergi ke kafe dimana Yoona dan Donghae akan bertemu. Detak jarum jam seakan menerornya.

“Tidak, Hae!! Jangan temui dia sekarang!!” jerit Jessica putus asa seraya masuk ke dalam mobilnya dan mengemudikannya dengan kecepatan penuh.

“Kumohon..”. Teriakan Jessica berubah menjadi lirihan yang memilukan hati siapapun.


Seorang pemuda masuk ke dalam studio pemotretan dengan kepala tertunduk dalam.

Suzy mengangkat alisnya melihat kelakuan pemuda yang nampaknya belum pernah ia lihat di dalam agensi.

Tiba-tiba, terdengar suara isakan berat di samping Donghae. Pemuda itu menoleh dan menatap pemuda yang ada di sampingnya dengan bingung.

“Kenapa kau menangis disini?” tanya Donghae pelan, bingung.

“Ini soal jas itu.. Maafkan aku.. Aku yang membuatnya robek. Jasmu begitu keren dan aku mencobanya. Tak sengaja, bagian lengannya tersangkut slot pintu.. Maafkan aku..”

Donghae merasakan ia kehilangan seluruh tulang yang ia punya di dalam tubuhnya. Ruhnya seakan dicabut paksa mendengar semua pengakuan itu. Ekspresinya bertambah dingin. Pikirannya seketika itu juga kosong.

Jadi, ini bukan salah Yoona? Astaga.. Bagaimana bisa aku melakukan semua ini padanya? Bodoh! Donghae, kau bodoh sekali!

Moseun sori ige… (omong kosong apalagi ini?)” geram Sooyoung yang sudah kembali ke dalam studio. “Kau membuat Yoona nuna dipecat! Tak tahukah kau!!” teriak Seo Joon emosi. Pemuda itu tetap menunduk dan tidak mempedulikan teriakan-teriakan marah para kru yang mulai menyerangnya. “Aku hanya ingin mencobanya karena ingin terlihat keren seperti Donghae-ssi..” isaknya pelan.

Jungsoo gemas sekali melihat pemuda ini. “Siapa sebenarnya kau?”

“Dia adalah model baru agensi. Aku kira dia kesini untuk menyapa kita. Tak kusangka dia malah berbuat kesalahan fatal seperti ini..”. Sooyoung angkat bicara. Jungsoo bingung harus berbuat apa. Bagaimana pun juga, pemuda di hadapannya adalah anak baru. Ia kesal tapi bingung harus berbuat apa.

“Pergilah. Aku tahu sekarang siapa yang telah berbuat sefatal itu. Pergi. Aku memaafkanmu.” ucap Donghae lirih.

Jungsoo membulatkan matanya. “Apa yang kau katakan, Donghae-ssi? Bagaimana dengan Yoona?”

“Semuanya… silahkan pulang kerja sekarang. Pulanglah.”

“Tapi, bagaimana dengan pemotretannya?” potong Jungsoo kaget melihat temperamen Donghae berubah begitu cepat serta drastis. Mood pemuda itu kini benar-benar larut dalam kesedihan mungkin. Setelah tadi terlempar dalam emosi yang berkobar tak terkira batasnya.

“Pulanglah.”. Jungsoo mengalah mendengar Donghae seakan memohon-mohon padanya. Pemuda itu hanya menundukkan kepalanya sejenak, patuh.

Donghae mengurut pelipisnya. Rasanya hatinya ditusuk oleh bilah pedang tajam beribu kali. Ngilu, perih. Bayangan Yoona yang nampak menerima saja ketika ia tuduh sungguh membuatnya merasa bersalah sepuluh kali lipat.

Kenapa kau sama sekali tidak melawan, Manager Im??, erang Donghae putus asa. Ia benar-benar ingin menangis kali ini. Butiran bening di matanya mengalir jatuh bebas tanpa bisa ada yang menahan.

Kau membuatnya menangis, Donghae-ya.. Bagaimana bisa kau menyakiti hati lembut perempuan polos itu? Yang selalu bersabar merawatmu yang pemarah dan suka mengomel ini? Apakah kau belum cukup puas membuatnya kecewa?Apakah belum cukup kesabarannya menghadapimu selama ini? Dan kau malah memecatnya?

Donghae menggebrak meja tempat ia sedang duduk menenangkan hati tadi. Para kru terloncat dari tempatnya.

“Sial!”. Donghae membuang napasnya keras berkali-kali. Hatinya sungguh mendidih sekarang. Kali ini bukan rasa marah pada orang lain. Melainkan pada dirinya sendiri.

Temui dia dan minta maaf padanya. Sekarang!

Donghae mengeraskan rahangnya mendengar kata hatinya itu. Dengan jelas, otaknya menentang apa yang hatinya suruh. Kakinya sama sekali tidak bergerak untuk pergi dari studio tersebut. Donghae sama sekali tidak berniat menemui gadis itu untuk meminta maaf sekarang. Catat itu, sekarang. Semuanya masih terasa kacau di dalam benaknya. Ini bukan saat yang tepat untuk meminta maaf.

Donghae tidak mau menelan kembali perkataannya sendiri mentah-mentah kala kata-katanya baru saja dikeluarkan. Memalukan sekali.

Pemuda yang menyebabkan semuanya kacau tersebut keluar dari studio pemotretan. Menabrak Siwon yang baru saja hendak masuk. Alisnya terangkat sebelah melihat suasana yang terasa aneh ini.

“Ada apa ini? Kenapa suasananya terasa tidak mengenakkan seperti ini?” tanya Siwon cepat melihat seluruh raut wajah kru kaget sekaligus shock.

“Pemotretan Donghae ditunda sampai properti pemotretannya diperbaiki.” jawab Seo Joon lemas. Ia terlihat begitu kecewa. Siwon semakin bingung. Tidak, jelas sekali Seo Joon bukan kecewa karena pemotretannya diundur. Dia kecewa terhadap satu hal besar yang lain.

“Diperbaiki? Ada apa dengan jasnya?”. Kening Siwon mengkerut. Perasaannya berubah menjadi tidak enak. Setelah mengedarkan pandangannya ke sekeliling, Siwon semakin gelisah. Di pikirannya kini hanya terdapat satu nama.

“Dimana Im Yoona?”


“Angkat, Lee Donghae!!! Angkat!!”. Teriak Jessica serak. Ia sudah berkali-kali meneriakkan hal yang sama. Dengan kencang pula. Ia benar-benar putus asa.

“Izinkan aku mengungkapkan yang sebenarnya! Donghae-ya…” isak Jessica. Kepalanya melorot, menumpu ke atas kemudi mobil. Punggungnya bergetar naik-turun dengan cepat karena isakannya.

“Izinkan aku mengatakan semuanya dengan mulutku sendiri, Donghae-yaa.. aku minta maaf..” lirih Jessica. Suaranya benar-benar memilukan.

Tin.. tin..

Lampu hijau sudah menyala. Dan Jessica masih terisak di atas kemudi mobilnya. Ia benar-benar tidak kuat membayangkan apa akibat yang akan terjadi jika Yoona terlebih dahulu yang mengatakan segalanya.

Bukankah akan lebih buruk jika seluruh perbuatanmu yang licik ini terbongkar dengan cara seperti itu?

Kata-kata Siwon terngiang dalam kepalanya. Pemuda itu benar. Semuanya akan menjadi lebih buruk jika ia tidak segera melakukannya.

“Kenapa aku begitu egois dan bodoh masih saja melakukan semua ini!!!”. Jessica memukulkan tangannya sendiri ke atas stir mobilnya berkali-kali dengan kesal.

“Siwon-ah.. tolong aku..”. Bibir Jessica tak sengaja mengatakan hal itu. Entah kenapa, senyuman Siwon yang hangat terasa menenangkan hatinya.


Drrt.. drrt..

Suara getaran ponsel Donghae memecah keheningannya. Pemuda itu benar-benar seperti kehilangan nyawanya sendiri kini. Pikirannya melayang jauh, mengembara kemana-mana. Jika kau melihat keadaannya sekarang, yang kau lihat hanyalah tubuhnya saja dengan mata yang masih membuka dengan tatapan kosongnya. Seolah tak ada ruh yang mengisi tubuh sempurna milik seorang Lee Donghae.

Studio pemotretan yang sudah kosong membuat keheningan itu bertambah mencekam. Donghae tidak peduli. Ia hanya ingin sendiri. Hari ini saja. Berusaha mengevaluasi kesalahan fatalnya beberapa bulan belakangan ini.

Bayangan Manager Im yang selalu ia marahi tetapi tetap tersenyum melakukan apa yang ia suruh membuat pemuda itu semakin merasa telah berbuat sesuatu yang benar-benar tidak pantas.

Dia bahkan tak pernah mengomel ketika aku memberikannya setumpuk pekerjaan yang seharusnya bisa aku kerjakan sendiri. Ada apa denganmu, Donghae-ya? Apakah Yoona melakukan kesalahan yang begitu besar hingga kau layak memecatnya seperti itu?

Nama ‘Yoona-ya’ tertera acap kali layar ponselnya menyala karena panggilan masuk.

63 panggilan masuk tak dijawab.

109 pesan masuk

Semua itu tak lain perbuatan Jessica – ini Yoona yang dikenal Donghae – yang benar-benar panik karena seharian dia sama sekali tak bisa menghubungi Donghae.

“Aku memecat managerku sendiri karena dia mirip dengan cinta pertamaku. Apakah tindakanku salah?”

Kau mulai berulah lagi? Astaga, Donghae, aku sudah bilang agar kau memikirkan kembali seluruh tindakanmu dua kali. Alasan konyol apa lagi ini? Aku bahkan muak mendengarnya. Bagaimana bisa kau memecat managermu sendiri yang kau bilang akhir-akhir ini bahkan merawatmu sedemikian rupa?

“Aku.. aku benar-benar tidak tahu. Melihat dirinya yang terus bergantian dengan bayangan Yoona kecil sungguh membuatku gila! Dia seakan menari-nari dalam pikiranku! Membuat napasku sesak dan mentalku hancur begitu saja! Bisakah kau jelaskan bagaimana aku bisa mengatasi semua itu!” teriak Donghae putus asa. Ia hampir saja membanting ponselnya jika tidak mengingat psikiaternya ini bisa memberikan jalan keluar.

Hah… aku benar-benar bingung harus berbuat apa, Donghae-ssi.. Jika kau memang selalu terbayang oleh cinta pertamamu, kenapa kau tidak menemuinya saja?

“Aku sudah menemuinya. Bahkan aku berpacaran dengannya sekarang.” jawab Donghae pelan. Seakan tak yakin dengan jawabannya sendiri. Seakan dustalah yang keluar dari mulutnya.

Lantas apa yang membuatmu masih gelisah?

“Dia terasa asing bagiku.. Aku merasa seakan belum pernah mengenalnya. Dan Managerku yang bernama Im Yoona persis sama malah seakan menjadi Yoona kecil yang pernah aku kenal! Dan bukannya Yoona yang menjadi pacarku sekarang! Ini membuatku dilema!”

Itukah alasanmu masih terjebak dengan masa lalu? Mungkin dia memang sudah berubah, Donghae.. Dan untuk managermu itu, mungkin saja otakmu mengasosiasikan dia menjadi Yoona kecil yang pernah kau kenal karena kau merasa Yoona yang menjadi pacarmu seolah asing bagimu. Ya ampun! Kau membuatku pusing! Kenapa begitu banyak Im Yoona dalam kehidupanmu?! , erang si Psikiater kesal. Donghae hanya diam. Terdengar helaan napas pelan, nampaknya Psikiater Donghae bisa menguasai dirinya sendiri kembali.

 Aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu. Setiap orang pasti tidak akan tetap seperti itu, seperti apa yang kau kenal 10 tahun yang lalu, Lee Donghae. Berpindahlah ke suatu hal yang baru.

“Tapi, aku yakin, Yoona bukan orang yang mudah mengubah personalnya.”

Jika kau memang tetap keras kepala seperti itu, kau yang mempersulit masalahmu sendiri, Donghae. Aku tidak bisa mengatakan apapun lagi. Aku akan angkat tangan dalam masalah ini jika kau tidak bisa membantu dirimu sendiri.

Donghae memejamkan matanya sejenak. Berusaha untuk melupakan segalanya. Segala hal yang membuat dirinya resah dan stress. Apakah memang benar aku memecatnya hanya karena dia mirip Im Yoona yang pernah aku kenal?

Siapa sebenarnya kau, Manager Im?


Suara dering ponsel Jessica membuat gadis itu sontak terburu-buru mengangkat panggilan itu.

“Ya! Babo-ya!! Kenapa kau tidak mengangkat panggilanku!!” jerit Jessica histeris. Ia sudah kehilangan akalnya sendiri. Ia bahkan sudah tidak peduli bahwa ia sedang menyetir sekarang. Masa bodoh dengan peraturan tak boleh menelepon ketika berkendara. Jessica rasanya sudah tidak sayang dengan nyawanya sendiri lagi.

“Kau meneleponku?”

Jessica terkesiap. Mendengar suara siapa itu.

“Yoona-ya..” ucap Jessica bingung mendengar suara sahabatnya terdengar sangat sedih. Bukan Yoona yang periang seperti setiap kali dia meneleponnya.

“Sica-ya.. Aku.. dipecat oleh Lee Donghae.”. Yoona bersusah payah menahan dirinya sendiri agar tidak terdengar sedih. Namun, suaranya sudah terlanjur bergetar hebat dan juga matanya sudah digenangi oleh air mata.

“Dia menyuruhku agar tidak pernah menampakkan diri di depannya lagi. Dia menyuruhku pergi jauh-jauh darinya. Ya, aku dibuang begitu saja setelah usaha kerasku merawatnya beberapa bulan ini.. Lucu sekali..”. Suara Yoona makin bergetar hebat. Gadis itu menutup mulutnya sendiri untuk menahan isakannya yang perlahan keluar.

Moseun soriya? (omong kosong apa itu?) Kau dimana?” tanya Jessica panik. Dia paling tidak mau melihat Yoona menangis. Karena ia sudah pernah berjanji takkan membiarkan siapapun kembali membuat Yoona menangis setelah masa lalunya yang sudah kelam karena pembullyan.

Ia ingin melindungi Yoona sama seperti apa yang gadis itu lakukan padanya.

Tapi, apakah kau benar-benar telah melindunginya dari luka yang mungkin lebih dalam, Sica-ya?


Jessica melangkah perlahan menuju taman kota. Dari kejauhan dia sudah bisa melihat siluet Yoona sedang terduduk di salah satu bangku taman dengan gestur tubuhnya yang menunjukkan dia benar-benar sedang terpukul.

“Yoona-ya…” panggil Jessica pelan. Yoona menoleh. Senyuman tipis terulas di bibirnya.

“Waa.. uri Sica-ya.. Sicaku yang cantik susah payah datang mendatangi sahabatnya yang payah dan jelek ini..”. Kata-katanya terkesan menyindir Jessica. Tapi, Jessica tidak peduli. Silahkan saja, Yoona bahkan boleh memakinya sepuasnya, karena itu bukanlah apa-apa dibandingkan dengan apa yang sudah diperbuatnya pada Yoona beberapa bulan belakangan ini.

Jessica duduk di samping Yoona. Ia merapatkan tubuhnya ke sisi Yoona. Lalu menyandarkan kepalanya ke bahu sahabat sejatinya tersebut.

“Aku kira aku terlalu banyak termakan ilusi, Sica-ya.. Aku yakin hubunganku dengan Donghae mulai bertambah dekat kembali sejak perjalanan bisnis ke Gangwondo. Aku kira aku masih mengenal Donghae sama persis seperti Donghae yang aku kenal ketika masa kecilku.”. Yoona menarik napas dalam-dalam. Mengumpulkan sisa kekuatan hatinya yang masih ia punya untuk membicarakan Donghae.

“Ternyata aku salah. Aku salah menyangka jika kami bisa kembali seperti sedia kala. Berteman erat. Saling perhatian satu sama lain. Aku salah. Tidak seharusnya aku berpikir seperti itu hingga aku merasa sangat terpukul sekarang karena pikiran tidak masuk akalku itu.”

“Baru saja, aku akan menceritakan semuanya pada Donghae hari ini. Tapi.. yah, nasib tidak pernah ada yang tahu. Aku dipecat seperti ini. Tanpa alasan. Oleh Lee Donghae sendiri di depan banyak kru.”

Jessica menatap Yoona dengan sedih. Ia mengerti, sahabatnya pasti benar-benar terpukul saat ini.

Tapi, bukankah dengan begini Yoona tidak akan mengatakan segalanya, Sica-ya? Posisimu masih aman untuk sekarang. Kau masih bisa mengungkapkannya esok hari. Dan kau tidak akan ketahuan dengan cara yang begitu buruk oleh Donghae. Kau masih bisa memiliki Donghae untuk hanya beberapa saat lagi.

“Bagi Donghae, mungkin aku hanyalah seseorang yang bisa ia buang kapanpun dia mau. Aku terlalu bodoh untuk merasa antusias dengan apa yang terjadi belakangan ini. Aku terlalu bodoh untuk menganggap bahwa Donghae sudah kembali mengenalku seperti apa yang seharusnya dia tahu. Bukankah begitu, Sica-ya?”. Yoona menatap Jessica dengan raut mukanya yang awut-awutan, sedang tampak memikirkan sesuatu.

Jessica terbuyar pikirannya. “Ne? Kau bukan orang bodoh, Yoona-ya.. Bagaimana bisa kau bekerja dengan posisi setinggi itu jika kau bodoh? Donghae lah yang bodoh karena telah membuang dan menyia-nyiakanmu begitu saja! Dasar pemuda payah!”

Yoona sedikit tersenyum melihat kelakuan Jessica yang berapi-api hendak membalaskan dendamnya.

Sedetik berikutnya, hati kecil Jessica berbisik.

Yoona tidak akan menderita seperti ini jika saja Donghae tahu kalau dialah yang sebenarnya merupakan cinta lamanya. Dan kaulah penyebab semua ini. Kau tahu sendiri, Donghae sangat menyayangimu karena statusmu sebagai Yoona yang palsu. Kau tahu bagaimana sayangnya seorang Lee Donghae pada Im Yoona. Seharusnya kau sudah menghentikan semua ini sejak awal jika kau tidak ingin melihatnya menangis, Sica-ya.

Justru kaulah yang membuat hidup Yoona berantakan. Kau yang sama sekali tak punya hati untuk membalas segala kebaikan Yoona terhadapmu. Kau malah mengkhianatinya. Kau benar-benar jahat sekali, Jessica Jung.

Jessica terpukul mendengar kata hatinya sendiri. Ia begitu benci mendengar semua itu. Bagaimana bisa hati kecilnya juga ikut menyalahkannya? Mata Jessica mulai berkaca-kaca. Perlahan, Jessica mengulurkan tangannya memeluk Yoona.

“Maafkan aku, Yoona-ya.. Maafkan aku.” lirih Jessica. Suaranya tercekat. Apa gunanya kau meminta maaf jika semua ini sudah terjadi? Apa gunanya jika kau sama sekali tidak berniat menuntaskan semuanya?!, hati kecil Jessica kembali memarahi si empunyanya sendiri.

“Eng? Kenapa kau yang meminta maaf? Harusnya Donghae yang meminta maaf padaku..” tanya Yoona heran. Ia lebih heran lagi karena samar-samar mendengar suara isakan Jessica. Kenapa dia menangis?

“Aku benar-benar minta maaf, Yoona-yaa..” ucap Jessica lagi. Air mata sudah bersimbah memenuhi wajahnya.

Yoona menghela napasnya tak habis pikir. Dia melepaskan pelukan Jessica dan menatap gadis itu sembari memegang tangannya.

Aigoo.. kenapa yeoboku menangis??”. Yoona berusaha tersenyum. Ia tidak mau Jessica juga menjadi sedih karena dirinya sedang sedih juga. Ia tahu Jessica mudah terlarut emosinya jika melihat dirinya menangis, marah, senang, sedih. Mereka benar-benar bagaikan saudara asli yang merasakan apa yang saudaranya sendiri rasakan.

“Kau menangis ketika aku diterima bekerja di NCT Ent. dan kini kau juga menangis ketika aku dipecat? Kau menangis secara lengka, Sica-ya..” canda Yoona. Jessica malah semakin kencang menangis.

“Ini akan lebih bagus, Sica-ya.. Aku tidak akan diperbudaknya lagi. Aku tidak akan merasa tersakiti karena diperlakukan semena-mena oleh cinta pertamaku sendiri. Semuanya sudah berakhir. Bukankah dengan begitu aku tidak akan merasakan semua penderitaan itu lagi? Itu kabar baik bukan? Aku tidak perlu bersusah payah mengatur hatiku lagi hanya untuk menatap dan berbicara dengannya.”. Yoona memaksakan senyuman dua senti khas kepunyaannya.

Jessica bersusah payah menghentikan tangisannya tapi tidak bisa. Setiap kata yang diucapkan Yoona hanya semakin membuatnya merasa bersalah.

Seharusnya kau bisa berada di samping Donghae dengan bahagia, Yoona-ya, ini semua salahku. Sahabatmu sendiri yang tidak tahu diri. Harusnya kau bisa bahagia dengan Donghae sekarang. Tapi, aku..

“Jadi.. sudahlah.. Jangan menangis lagi. Wajah cantikmu akan hilang karena air mata tidak berguna itu. Tak ada gunanya kau menangisi nasib yang sudah terjadi. Nasibku pula. Sudahlah..”. Yoona menyeka air mata Jessica dengan kedua tangannya dan menepuk pipi Jessica pelan.

Ponsel Jessica berdering. Yoona menatap sekilas ke arah ponsel Jessica. Tapi, tidak sampai sempat melihat nama yang tertera di layarnya.

“Sudahlah. Angkat teleponmu. Siapa tahu ada masalah di kantormu..”

Jessica meraih ponselnya. Hatinya tertonjok kala melihat nama Donghae tertera disana. Jessica segera mematikan ponselnya.

Wae? Kenapa tidak kau angkat?”

“Aku tidak mau mengangkatnya. Aku tidak akan mengangkatnya.” ucap Jessica seakan tidak mau mengatakan hal lain selain tidak mau mengangkat panggilan tersebut.


*another side

Donghae menghela napasnya melihat panggilannya tidak dijawab oleh Yoona – maksudnya Jessica – walaupun sudah beberapa kali ia coba.

Matanya teralih ke arah meja kerja Yoona yang ada di pojok ruangan manager. Dia memang bermaksud untuk menemui Yoona disana. Pikiran yang bodoh, karena mana mungkin Yoona masih tetap keras kepala berada disana sedangkan dirinya sudah memecat Yoona terang-terangan di depan banyak kru.

Kakinya melangkah perlahan menembus ruangan manager yang penuh sesak. Sesekali, dia harus menyelinap di celah kecil di antara dua meja yang berdempetan letaknya.

Pandangannya menatap nanar meja Yoona yang sudah bersih. Kartu pegawainya juga gadis itu letakkan di atas meja bersama beberapa peralatan yang kantor pinjamkan pada setiap manager.

Tangan Donghae meraih kartu pegawai Yoona itu. Dengan segera, sebersit memori terputar ulang dalam otaknya. Perkataan Yoona yang terdengar polos dan apa adanya itu.

Ketika aku mencari pekerjaan untuk pertama kalinya, hal yang paling membuatku iri adalah kartu pegawai mereka. Itulah alasanku mengapa ketika aku melihat kartu pegawaiku sendiri, aku merasa sangat senang, bangga, dan berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk bekerja disini. Aku selalu merasakan semua itu.

Astaga.. kau menghancurkan impian indah Yoona, Donghae-ya.. Bagaimana bisa kau sangat jahat merusak impian orang lain?, Donghae mengeraskan rahangnya. Hati kecilnya tak henti-hentinya memarahi diri sendiri.

Yoona-ya, apa yang harus kulakukan untuk menebus kesalahanku ini?, bisik Donghae kecil sekali. Hatinya benar-benar teriris kala nama Yoona kembali terucap baik dari mulutnya maupun dari hati kecilnya.


*another side

Yoona-ya, apa yang harus kulakukan?, Jessica menatap Yoona yang masih berada di sampingnya dengan sejuta emosi berkecamuk di dalam iris matanya.

Apa yang harus kita lakukan agar semua ini bisa selesai? Tanpa ada yang tersakiti? Apakah ini mustahil untuk diselesaikan?, lirih Jessica di dalam hati. Ia kembali terisak di dalam pundak Yoona.

Yoona hanya membiarkan Jessica menangis sepuasnya. Karena takkan ada hal lain yang bisa membuat seseorang lega ketika bersedih selain menangis sepuasnya.

“Yoona-ya!! Tolong koreksi.. ah, matjayo (benar). Aku lupa dia sudah dipecat..”. Heenim segera membalikkan badannya kembali menuju meja kerjanya.

“Bukankah Lee Donghae benar-benar sudah keterlaluan?! Yoona eonni sama sekali tidak melakukan kesalahan dan dia langsung memecatnya begitu saja? Apakah kesabaran Yoona eonni dalam menghadapinya masih belum cukup? Dasar brengsek..” omel Sooyoung kesal. Walaupun dia adalah kru eksekutif Donghae sendiri, ia benar-benar merasa kesal terhadap Donghae. Sooyoung benar-benar merasa kehilangan Yoona.

Suzy tak sengaja menjatuhkan tumpukan kertas dari tangannya. “Ah astaga, jika saja Yoona disini dia pasti akan langsung membantuku. Aku heran bagaimana bisa dia tetap terlihat baik-baik saja setelah apa yang dia lewati selama ini?” keluh Suzy seraya mengumpulkan kertas-kertas yang berserakan di lantai.

“Astaga.. bagaimana bisa Yoona eonni mengerjakan semua ini sendirian sebelumnya?” keluh Hyoyeon yang sedang mengetik laporannya. Ia terbiasa dibantu oleh Yoona secara cuma-cuma.

Donghae menghentikan langkahnya. Tadinya, ia hendak masuk ke dalam ruangan manager tersebut. Namun, ayunan langkahnya terhenti di ambang pintu ketika mendengar semua manager mengeluh kehilangan Yoona. Dan ia yakin, semua manager pasti sudah menyumpahinya sejak tadi.

“Aku tidak mengerti apakah memang selalu ada pekerjaaan sebanyak ini. Bagaimana bisa Yoona eonni membantu kita sebanyak itu?”

Semua menghela napas berat. “Aku merindukan Yoona nuna. Apa yang sedang dia lakukan sekarang ya?” ucap Seo Joon sembari menerawang.

Siwon menatap tempat duduk Yoona dengan berbagai macam kecamuk perasaan di dalam iris cokelatnya. Ya, dia juga merindukan Yoona seperti apa yang Seo Joon rasakan. Tapi, sepertinya, rasa rindunya lebih kuat dibandingkan dengan Seo Joon.

Siwon lebih merasa kehilangan. Kehilangan. Tanpa Yoona disini, semuanya terasa hampa. Tak ada yang membuat harinya lebih berwarna. Dan hatinya kini terasa kosong. Ia mengutuk dirinya sendiri kenapa dia harus pergi saat itu dan tidak bisa membantu dongsaengnya itu.

Aku harus melakukan sesuatu.., bisik Siwon dalam hatinya.


Yeoboseyo.. Ah, ne… Annyeong hasimnikka.. Yoona imnida. Aku hendak melamar pekerjaan di tempat Anda. Tapi, ketika aku melihat persyaratannya, batas umurnya adalah 25 tahun. Aku 26 tahun dan aku ingin bertanya apakah aku masih bisa mengirimkan lamaran kerjaku.”

Yoona mengigit bibirnya dan menyilangkan kedua jarinya. Berdoa semoga saja bisa.

“Ah.. seperti itu ya.. Oh, baiklah.. Algesseumnida. Terima kasih sebelumnya. Nee.. Annyeonghi gyeseyo..”

Yoona meniup poninya sendiri dengan kesal. Jika saja, Donghae sialan itu tidak memecatku, aku pasti sekarang sedang mengerjakan proyek comeback terbarunya. Rasakan saja kalau dia tidak dapat manager baru.., umpat Yoona dalam hatinya.

“Ayolah Im Yoona.. Kau tidak boleh mengutuknya seperti itu.. Kau memang salah meninggalkan tanggung jawabmu seperti itu.. Sudahlah, Im Yoona! Kau bisa bekerja dengan baik dimana pun jadi jangan salahkan Donghae lagi. Geurae! Aku Im Yoona yang tidak akan menyerah!” teriak Yoona menyemangati dirinya sendiri. Namun, sedetik berikutnya raut penuh tekad gadis itu lenyap digantikan dengan wajah yang lesu seakan tak ada harapan.

“Ahh.. aku penasaran bagaimana comeback Donghae jadinya nanti..” gumam Yoona pelan setelah merebahkan kepalanya ke atas sandaran sofa, menerawang langit-langit.


Sajangnim! sajangnim!”

Tae Hee memutar kursinya yang tadi menghadap ke arah jendela kaca lebar yang terletak di sebelah kanan ruangan yang menampakkan panorama indah Seoul sore ini.

Wae geurae? Kenapa kau terlihat sangat panik?”

“Apakah kau sudah tahu Im Yoona dipecat?”. Mata Tae Hee menyipit segera. Apa maksudnya?

“Apa maksudmu. Tak ada waktunya bermain-main saat bekerja!” kecamnya dingin. Sekretaris Tae Hee itu berdecak kesal, namanya Hwang Miyoung.

“Aku serius, sajangniimm.. Bagaimana bisa aku berbohong pada Anda? Donghae yang memecatnya dan sekarang seluruh jadwal comebacknya seakan hancur! Dia membunuh dirinya sendiri.”

Tae Hee membulatkan matanya. Donghae berani-beraninya kembali membuat ulah seperti itu?

“Ada apa dengannya??” desis Tae Hee kesal. Ia segera bangkit dari tempat duduknya dan memakai mantel panjangnya. “Siapkan mobil untukku dalam 10 menit.”

Miyoung lantas saja mengangguk senang melihat bossnya akan segera bertindak. Walaupun Miyoung belum pernah bertemu Yoona secara langsung, ia senang sekali melihat Donghae segera berubah setelah Yoona menjadi manager baru artis keras kepala primadona label ini.


“Apa ini?!”

Donghae membanting seluruh proporsal para krunya dengan kesal.

“Apakah ini yang akan disebut sebuah comeback oleh para fansku nanti?! Bukankah itu akan mengecewakan mereka?” bentak Donghae penuh amarahnya itu. Seluruh kru langsung mengkerut di tempatnya.

Siwon mendengus kesal. Kenapa dia menjadi diktator seperti ini lagi?

“Apakah ada yang dapat mengusulkan ide yang tidak asal-asalan seperti dia?”. Donghae menunjuk Sooyoung yang bergetar ketakutan setengah mati melihat Donghae berubah menjadi setengah iblis seperti ini. Benar-benar di luar kendali dan batasnya. Amarah yang seharusnya tidak ia keluarkan malah keluar dan suaranya membentak tak keruan dengan suara yang keras.

Ia nampak frustasi.

Seperti kehilangan sesuatu yang besar.

Sepertinya Donghae kehilangan Yoona. Namun, pemuda itu sama sekali tak mau mengakui hal itu. Yang dianggapnya sebagai omong kosong belaka yang menggelikan.

Tak mungkin aku kehilangan Yoona.. Menggelikan. Aku sudah punya Yoona (Jessica), apakah aku harus kehilangan semua orang bernama Im Yoona? Gila!, bantahnya mentah-mentah dalam hati. Pemuda itu mengusap wajahnya sendiri lagi dengan frustasi.

Ia terjerumus dalam pikirannya dan hatinya sendiri. Mana yang harus ia ikuti. Donghae merasakan dirinya benar-benar bodoh karena terikat dengan dirinya sendiri serta tak bisa keluar dari pusaran masalah seperti ini.

“Bagaimana jika kau menyanyi sembari melakukan musikal?” ucap Siwon dingin sekali. Sebenarnya, suara Siwon itu penuh kebencian. Suasana seketika berubah menjadi lebih hening dan mencekam batin siapapun.

Donghae terkejut mendengar suara Siwon dengan usulan semacam itu. Donghae menatap Siwon dengan tatapan tajamnya. Death glarenya bekerja sempurna. Mencekam seluruh karyawan yang ada disitu. Semuanya takut Donghae akan mengamuk Siwon yang tidak bersalah sama sekali bagaikan orang kesetanan.

Tapi, Siwon sama sekali tak gentar. Bagaimana pun, rasa kebencian yang menumpuk dalam dadanya mengalahkan semua kemungkinan terburuk yang akan Donghae lakukan padanya.

Masa bodoh, aku hanya ingin memperjuangkan Yoona dengan caraku..

Dengan santai, Siwon bersandar pada kursinya. Tampak seperti Siwon seperti biasanya, yang takkan takut pada apapun.

“Emm.. ya bermain musikal. Kau akan menjadi pemeran utamanya dalam panggung comeback. Melakukan beberapa tarian dan akting bersama aktris muda label kita. Bedanya, kaulah yang menjadi peran jahat dalam lagumu sendiri. Dan aktris itu yang seolah menyanyikan lagumu. Apakah kau mengerti?”

“Berarti aku hanya menjadi sampingan?” sinis Donghae. Siwon menggeleng kuat.

Ani, justru kau yang menjadi pusatnya. Kau akan memerankan pemuda yang benar-benar menyakiti perasaan seseorang yang kau gambarkan dalam lagumu. Lagumu kan lebih menggambarkan perasaan seorang wanita dibandingkan bagaimana perasaan seorang pria yang kehilangan bukan?”

Donghae mulai tertarik walaupun ia sudah berusaha menjaga raut kesal dan dinginnya yang tidak tertoleran. Para kru pun menyimaknya berusaha menangkap ide Siwon yang gila dan brilian ini.

“Kau akan menjadi tokoh jahat disini, terlihat benar-benar kejam di depan seorang gadis yang kau cintai, tapi benar-benar terlihat kehilangan jika kau sudah merenung sendiri. Hatimu masih ada sisi baiknya. Dan reff lagumu yang menggambarkan kehilangan itulah yang menjadi highlight panggungmu. Bagaimana?”

Donghae terdiam, tampak sekali berpikir keras. Ia tidak memungkiri ide ini memang sangat bagus dan out of the box, tapi ia juga tidak mau terlihat sangat baik di depan Siwon yang notabene musuhnya akhir-akhir ini. Menjadi musuhnya karena Im Yoona.

“Itu ide yang bagus sekali.. Kau brillian, Siwon-ah. Kenapa kita tidak melakukannya saja? Belum pernah ada artis yang melakukannya.” sahut Jungsoo membela Siwon karena melihat Donghae nampaknya akan tidak setuju dan mengamuk-amuk tidak jelas lagi dan sleuruh jadwal comebacknya akan tertunda entah sampai kapan.

“Omong-omong, itu bukan ideku, sunbaenim.. Itu ide Im Yoona..”. Suara Siwon yang menusuk ditujukan ke arah Donghae. Donghae mengeraskan rahangnya mendengar Siwon seolah menyalahkannya. Tatapan tajam Siwon sukses membuat Donghae tergetar sedikit hatinya takut. Senyuman sinis langsung mengembang di sudut bibir Siwon.

Kini, seluruh orang yang ada di ruangan rapat benar-benar diam membisu. Tak sanggup mengatakan apapun lagi. Siwon benar-benar mengibarkan bendera perang ke arah Donghae.

Jungsoo menghela napasnya putus asa. Diam-diam, sebenarnya ia sudah tahu cinta segitiga di antara tiga orang ini. Dan ini cinta yang begitu rumit.

“Rapat sampai disini dulu. Sore nanti setelah aku datang ke SBS untuk mengatur jadwal, kita berkumpul lagi..”

Donghae melangkah keluar diiringi dengan hembusa napas lega disana-sini.

“Aku kira kita sedang berada di area perang. Ya ampun… kau hebat sekali, Siwon-ssi, masih berani mengatakan semua itu..” puji Suzy mengacungkan dua jempolnya. Siwon tersenyum samar. Ia juga tidak mengerti kenapa dirinya mendapat keberanian sebesar ini.

Ini pasti karena Yoona lah yang ada di benaknya. Siwon mengakui kalau Yoona memberikan efek positif yang sangat besar untuknya. Dan Siwon bersyukur pernah bertemu dengan Im Yoona, bahkan jatuh cinta pada gadis berhati lembut itu.


Siwon membuka pintu ruangan Donghae dengan sembrono.

Donghae berusaha untuk tidak terusik dengan ulah Siwon yang memang selalu memprovokasinya. Tatapan netranya tak pernah terlepas dari lembaran kertas yang ada di mejanya sekarang.

Brakk..

Siwon melempar sebuah buku catatan sedang berwarna biru muda ke hadapan Donghae dengan kasar. Mau tak mau, Donghae geram juga dan mendongakkan kepalanya.

“Apa ini?” tanya Donghae berusaha datar tanpa emosi.

Siwon tersenyum meremehkan melihat Donghae terprovokasi juga olehnya. Lemah. Hanya satu kata ejekan itu yang benar-benar tertanam dengan dendam kesumat dalam hatinya.

“Buka saja dulu..” ucap Siwon santai. Ia lelah berakting dingin. Sudahlah, pribadi aslinya yang cuek tak terkira sudah cocok untuk menghadapi orang keras kepala dan temperamen semacam Donghae. Tak usah lagi berakting untuk mengintimidasi lawannya.

Donghae mengulurkan tangannya untuk membuka buku biru muda itu. Entah kenapa, hatinya berdegup kencang. Ia bahkan tak tahu apa alasannya.

Donghae’s Comeback Plan ^^

Tulisan itu tertera di awal halaman. Donghae mengerutkan dahinya. Berusaha untuk tampak tidak peduli. Berusaha untuk menganggap buku yang diulurkan Siwon itu hanyalah sampah. Sampah.

“Aku sudah melihatnya. Lalu?” tanya Donghae tajam. Siwon memonyongkan bibirnya kesal.

“Buka lagi.. buka lagi.. Kenapa sih kau tidak sabaran?” keluh Siwon seraya membujuk Donghae. “Bukalah..”. Siwon menggerak-gerakkan tangannya seolah sedang membuka lembaran buku.

Donghae mendengus. Omong kosong apalagi kini yang dibawanya?

Georeooneun ne moseubeul damgoman sipeunde haruedo su baek beonssik

Eojjeodaga ireoke dwaenneunji teong bin nae maeumi sumeul swige haneun neoigie

I want to capture the image of you walking to me, hundreds of times a day

How did I become like this? You’re the one who makes my empty heart breathe

Note: Donghae bisa saja menyendiri di suatu tempat, menyalahkan dirinya sendiri kenapa bisa sekejam itu kepada si gadis. Oh astaga.. membayangkannya saja aku sudah tidak sanggup. Dia benar-benar jjang! Ya ampun, air mataku..

Aju jogeuman aswiumdo geu seounhamdeuldo arajuji motaenneunji

Nal yongseohae, nal yongseohae baby, nuni majuchineun oneureun kkok hal mal inneunde

But I didn’t know your smallest disappointments or sadness

Forgive me, forgive me baby, we’re locking eyes today and I have something to tell you

Note: Donghae berpegangan tangan dengan aktris wanitanya, menatap dia dengan penuh kecamuk kesedihan di wajahnya. Lalu koreografi dimulai.. Ayo, Lee Donghae! Halssu isseosseo! Dia pasti terlihat keren..

Kkumiramyeon jokesseo kkumiramyeon meomchwojwo

Don’t leave me, don’t leave me

Jadagado neol bulleo ajikdo apeunga bwa

Don’t leave me, don’t leave me

I wish this was a dream, if this is a dream, stop right there

Don’t leave me, don’t leave me

I call out to you even in my sleep, I’m still hurting

Don’t leave me, don’t leave me

(Don’t Leave Me – Super Junior)

Note: Ini bagian dimana Donghae dan juga gadis itu sama-sama akting terluka, hanya saja di tempat terpisah. Bagaimana pun, pencahayaan panggung harus menjadi temaram, menciptakan atmosfer yang sungguh menggugah hati.

Kening Donghae berkerut melihat tulisan-tulisan yang ada di dalam buku itu satu persatu.

“Siapa yang menulis ini?” tanya Donghae terkejut.

Tulisannya sangat mirip dengan tulisan Yoongie..

“Im Yoona.. Dia yang menulisnya. Itulah ide yang kusampaikan tadi siang di rapat. Jadi, apakah kau sekarang mengerti apa maksudku?” terang Siwon jelas.

“Aku berpikir idenya sangat brillian dan sangat sayang jika tidak kau gunakan. Aku yakin dia membuat seluruh rencananya dengan sangat detail menggunakan perasaannya yang lembut. Dan aku rasa kau harus membawa kembali Im Yoona jika kau akan menggunakan idenya ini.”

Mata Donghae nyalang. “Apa maksudmu dengan membawa Yoona kembali? Agar kau bisa berpacaran di tempat kerja, begitu?”

Siwon terkaget. Apa maksudnya? Dia mengira aku berpacaran dengan Yoona? Ya ampun, dia bahkan tidak tahu siapa yang disukai oleh Yoona.. Menggelikan sekali.

“Aku hanya berperan sebagai kakaknya saja. Kami tidak mempunyai hubungan apapun.” bantah Siwon. Diam-diam hatinya nyeri. Bagaimana bisa orang yang disukai Yoona malah menuduhnya seperti ini? Itu kau Donghae.. Dan hanya selalu kau orang yang Yoona sukai.

“Bukankah Yoona juga yang bilang ia takkan kembali bekerja disini?”

“Itu karena Jungsoo sunbaenim yang memintanya seperti itu. Aku tahu hatinya sangat terpukul karena dipecat mendadak seperti itu. Lagipula, bukan dia kan yang membuat jasmu robek? Tak ada salahnya kau memintanya kembali.. Setiap manusia pasti melakukan kesalahan..”

“Kau pikir pantas jika seorang artis meminta managernya sendiri yang sudah ia pecat terang-terangan untuk kembali dan mengemis-ngemis padanya agar dia kembali? Seolah tidak ada orang lain saja..” sinis Donghae. Siwon mengepalkan tangannya. Amarahnya sedikit melonjak mendengar Donghae seenaknya berkata begitu. Bukankah tak ada salahnya mencoba sekaligus meminta maaf?

“Kenapa kau sangat keras kepala?” ejek Siwon keras. Donghae membulatkan matanya. “Aku hanya bicara soal kenyataan, Siwon-ssi. Perusahaan mana yang akan meminta seseorang yang telah dipecatnya dan seolah-olah mengemis untuk kembali? Aku bahkan tak ingin minta maaf.” balas Donghae dingin.

“Lupakan konsep ini dan kita akan mencari konsep yang lain.”

“Aku pikir kau adalah orang yang sangat rasional dan langsung mengutarakan sesuatu yang kau anggap benar. Tapi, kenapa kau selalu bersikap tidak rasional hanya kepada segala sesuatu yang terkait dengan Im Yoona? Apakah ada sesuatu yang salah di antara kalian? Apakah ada masa lalu kelam di antara kalian?” sindir Siwon pedas. Donghae membelalakkan matanya kaget. Tidak mungkin dia tahu..

“Kau selalu bersikap berbeda jika menyangkut Im Yoona. Seperti ada satu perasaan berbeda yang ditujukan kepadanya. Entah dendam, suka, atau benci. Aku tidak tahu.” lanjut Siwon. Donghae mengeraskan rahangnya. Kenapa dia berani sekali menghakimiku?

“Dengar, Manager Choi..”

“Aku akan menanyakan satu pertanyaan lagi.” potong Siwon cepat. Tatapan matanya bertambah dingin dan tajam. Sisi lain Choi Siwon yang takkan muncul jika saja ini bukan menyangkut gadis yang disayanginya. Ya, disayanginya. Im Yoona, hanya gadis satu itu yang berhasil mendapatkan tempat di hati Siwon. Selamanya.

“Apakah jika asisten busana lain yang melakukan kesalahan sama seperti apa yang Yoona perbuat, kau akan tetap langsung memecatnya di tempat seperti itu? Di depan banyak karyawan lain, tanpa memikirkan perasaannya? Tanpa memakai pertimbangan? Sikapmu sungguh tidak wajar. Bukan seperti artis profesional. Kau dimainkan oleh perasaanmu sendiri.” kecam Siwon menusuk hati Donghae dan sedikit menyadarkan pemuda satu itu.

Donghae mematung. Ekspresi dinginnya semakin membeku. Tanpa ekspresi. Membuat Siwon agak mengeluh dalam hati kenapa pemuda di hadapannya begitu keras kepala. Apakah tabu jika kau mengakui perasaanmu sendiri? Apakah Yoona memang tidak sesuai dengan ekspektasimu?, omel Siwon gemas.

“Jika kau hanya ingin mengatakan omong kosong itu. Pergi sekarang juga.” ucap Donghae menyayat hati. Siwon tidak menyerah. Kedua mata mereka bertemu dan saling melempar kebencian yang teramat sangat. Aura permusuhan semakin menguat di antara mereka.

“Aku akan pergi setelah aku mendengar jawaban untuk pertanyaan yang satu ini.” ucap Siwon masih kokoh pada pendiriannya.

Siwon menelan ludahnya sendiri. Entah kenapa rasanya tenggorokannya menjadi kering sekali dan serasa mencekik dirinya ketika ia akan menanyakan hal ini. Feelingnya menjadi buruk kala Donghae semakin menatapnya dalam dengan kebencian yang memuncak.

“Apakah kau memang mempunyai perasaan lain terhadap Im Yoona? Kau menyukainya?”

Skak.

Donghae merasakan dirinya benar-benar terpojok. Sorot matanya menegang. Ia mengepalkan tangannya sendiri erat-erat tanpa mempedulikan rasa sakit yang diakibatkannya. Gemuruh emosi di dadanya sungguh membuat napasnya sesak sekarang. Dan seperti yang kau tahu, Donghae sangat membenci perasaan ini.

Bayangan Yoona kecil kembali menari-nari di dalam benak Donghae. Membuat dadanya menjadi lebih sesak lagi. Lagi dan lagi. Donghae kini bagaikan orang gila.

Tangannya mencengkram kepalanya sendiri. Setengah menjambak rambutnya frustasi. Siwon hanya diam. Tak berusaha untuk menghentikan kelakuan gila pemuda itu. Ia sekali lagi meneguk ludahnya sendiri melihat Donghae seperti benar-benar kesurupan di hadapannya. Donghae nampaknya memang mempunyai masalah untuk mengatur amarahnya sendiri.

Kenapa dia harus mengungkit Yoona lagi dan lagi?!!, jerit Donghae tidak tahan di dalam hatinya. Kini, seluruh memorinya bersama Yoona kecil memutar di dalam otaknya bagaikan rol film yang takkan bisa berhentu diputar. Seakan menjadi benang kusut yang takkan terurai yang berujung menjadi mimpi terburuknya yang kembali berulang.

Siwon menatap Donghae dalam-dalam, berusaha mencari apa yang kini sedang dirasakan pemuda itu ketika pertanyaan yang sedari dulu mengendap dalam hatinya, yang membuat Siwon menjadi resah gelisah, ditanyakan olehnya. Dan kini, satu perasaan tidak enak benar-benar menguasai Siwon. Tatapan Donghae benar-benar menjelaskan perasaan pemuda itu yang sebenarnya.

Terlihat jelas, hati Donghae sendiri bahkan tak bisa mengingkari jika ia mencintai Manager Im sepenuh hatinya. Kecamuk kesakitan, bingung, tidak terima, rindu, terpatri jelas dalam iris mata hitam yang indah itu. Siwon bisa melihat semuanya dengan jelas.

“Ketika hatimu ingin mengatakan O dan mulutmu malah mengatakan X, dan ketika hatimu berkata X tapi mulutmu berkata O, jika kau merasakan seperti itu, tandanya kau sedang bingung terhadap dirimu sendiri. Dan kau memang benar-benar bingung dengan perasaanmu yang sebenarnya sekarang, Donghae-ssi.”.

Siwon mengutip kata-kata Tae Hee yang baru saja didengarnya beberapa hari kemarin. Benar saja, sepertinya perkataan Siwon mengena di hati Donghae. Sorot matanya penuh dengan amarah yang membludak sekarang. Tapi, terasa mengawang dan kosong. Seolah pikirannya kini benar-benar tak bekerja dan hanya dikendalikan oleh amarah tak terkendali.

“Kau siapa hingga kau berani ikut campur dalam urusanku dengan Im Yoona?! Dan kau! Apa hakmu untuk selalu ikut campur dalam kehidupan gadis itu, hah?! Jawab aku, Manager Choi!” teriak Donghae tinggi. Suaranya yang besar itu kembali menggelegar seperti tempo hari yang terjadi di venue pemotretan.

Namun, Siwon sama sekali tak tampak takut. Baginya, gertakan Donghae hanyalah angin lalu. Tak mengandung apa-apa. Hanya omong kosong dilandaskan emosi belaka.

“Karena aku menyukainya. Ya, aku mencintainya. Dengarkah kau? Aku bilang aku menyukainya.”. Suara Siwon berubah menjadi serak. Kilat matanya terluka. Bagaimana tidak? Dia sudah tahu fakta sebenarnya. Fakta bahwa Im Yoona akan selalu mencintai Lee Donghae bagaimanapun keadaannya. Sekejam apapun perlakuan pemuda itu padanya, Yoona akan tetap kokoh pada pendiriannya. Karena ia yakin, secercah rasa sayang masih ada tersimpan jauh disana.

Rasanya hati Siwon bagaikan ditusuk-tusuk oleh bilah pedang tajam beratus-ratus kali secara bertubi-tubi. Perih. Sakit. Rasa ngilu juga menonjok ulu hatinya. Membuat napasnya menjadi pendek-pendek dan tak teratur. Rasa sakit itu sungguh tak tertahankan.

Siwon sungguh ingin menangis lalu menonjok pemuda itu berkali-kali tanpa jeda seraya mengatakan ‘Bangun, Bodoh!! Kau telah menyia-nyiakan seorang gadis berhati lembut nan baik, yang selalu menunggumu! Dan kau, juga membuat aku merasakan lukanya. Karena aku menyukainya namun tidak bisa memilikinya. Perasaan yang persis sama seperti apa yang Yoona rasakan.’

“Apakah jawaban itu sudah cukup bagimu, Tuan Lee? Aku bukan pengecut yang tidak mau mengakui isi hatinya sendiri.”. Siwon benar-benar menohok Donghae telak. Hanya saja, raut wajah Donghae yang tanpa ekspresi membuat Siwon tak bisa melihat kekalahan mental Donghae yang sangat telak.

“Aku pergi dulu.”. Siwon menundukkan kepalanya sejenak lalu pergi dengan hati yang hancur lebur. Hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk lagi. Rasa sakitnya sudah melebihi ambang batas. Sudah cukup.

Donghae menatap nanar Siwon yang berjalan keluar.

Kenapa, kenapa kata-kata Siwon.. menggetarkan hatinya?

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #11. Triangle Love

  1. Aigooo donghae,,, main oecat2 sgla, kasian yoona, tega amat si hae… Ayoo skakmat dh tu si hae, minta maaf dong gue am yoona…. Nyesss bgt,,, dtggu nextnya

    Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s