[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #10. Who Are You?! [Frustrated]

req-euri-by-laykim

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

Sub title: #10. Who Are You?! [Frustrated]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @Laykim INDO FANFICTION ARTS

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

“Ja, dongsaeng! Biarkan aku membawanya.”. Siwon menyabet beberapa kantung tas dari tangan Yoona yang begitu kewalahan. Yoona membelalakkan matanya. “Tidak apa-apa, biarkan aku saja..”. Yoona berusaha merebut kembali tasnya.

Siwon masih tetap berusaha menjauhkan tas-tas itu dari jangkauan Yoona. Gadis itu berhenti mendadak merasakan sepatunya menjadi ganjil.

“Ah, astaga.. itu copot lagi! Sol sepatuku…” gumam Yoona kesal dan mengambil sol sepatunya yang tergeletak tak berdaya di lantai. Siwon tertawa terbahak-bahak. Ia menyabet sol sepatu yang ada di tangan Yoona dengan raut wajah berusaha menghentikan tawanya yang meledak.

“Ahahaha.. bagaimana bisa kau memakai sepatu sampai seperti ini, dongsaeng?”. Siwon melambaikan-lambaikan benda itu di depan wajah Yoona. Membuat gadis itu bertambah kesal.

Yoona kembali menyabet solnya dari tangan Siwon dengan merengut. “Aku bisa menempelkannya kembali dan memakainya sampai tahun depan.” ucapnya.

Siwon berusaha menahan tawanya lagi mendengar pengakuan Yoona yang terdengar polos dan sederhana.  Yoona kembali melanjutkan langkahnya dengan menghentakkan kakinya keras-keras ke lantai. Menimbulkan bunyi gaduh. Mukanya ditekuk sebal.

Siwon menghentikan tawanya. Tidak.. jangan sampai adiknya kembali marah padanya.

Siwon buru-buru mendahului Yoona dan langsung berjongkok di depan Yoona. “Naik ke punggungku.”

“Tidak, aku bisa berjalan sendiri.” jawab Yoona ketus. Gadis itu kembali melanjutkan langkahnya. Siwon menghela napas.

“Ayolah, Yoongie.. Maafkan aku..”. Siwon berjongkok lagi di depan Yoona. “Kau kan sudah dengar, aku bisa berjalan sendiri.”. Yoona melanjutkan langkahnya lagi.

“Yoongie, na..”

Kreekkk..

Mwoya? Suara apa itu?” tanya Yoona kaget dan geli. “Oppa, apakah kau kentut?”

Siwon panik. Dia malu sekali. “Yoongie, kau kini benar-benar harus naik ke punggungku..” bisik Siwon keras. Yoona memiringkan kepalanya heran mendengar nada suara Siwon berubah begitu drastis.

Wae?”

“Aku rasa celanaku robek.” jawab Siwon pelan sekali. Yoona membulatkan matanya. “Mwo?! Robek?” teriak Yoona kencang. Siwon segera menaruh telunjuknya di mulut. “Jangan berteriak seperti itu!”

Yoona menutup mulutnya sendiri. “Lihat, apakah benar-benar robek..”. Siwon menunjukkan pantatnya. Yoona histeris. “Ya! Ini robek begitu besar..”

Kajja, naik, dongsaeng.. Kau harus naik..” Nada suara Siwon meninggi karena rasa malunya mulai merasuki seluruh tubuhnya. Mau tidak mau, Yoona naik dengan menahan tawanya yang pasti akan meledak sewaktu-waktu. Siwon langsung menggendong Yoona pergi dari situ setelah gadis itu naik ke punggungnya. Mereka nampak manis bersama.


Ne, gamsahamnida..”. Jessica tersenyum sopan ke arah pelayan yang memberikannya dua cup popcorn berserta cola dingin. Ia duduk di ruang tunggu di luar teater pemutaran film. Gadis itu melirik jam tangannya. Kemana Donghae?

Mereka sudah membuat janji untuk menonton bersama hari ini. Tapi, kemana pemuda itu?


“Apa yang kau bawa?”. Siwon buka suara setelah mereka berjalan dalam keheningan melintasi sekitar dua blok dari gedung tadi. Rasa malunya juga sudah surut. Itu berkat Yoona yang sama sekali tidak menertawakannya sepanjang perjalanan. Siwon merasa kejam telah menertawakan gadis itu tadi. Mungkin karma berlaku cepat terhadap pasangan kakak-adik ini.

Yoona tersenyum, ia membenamkan kepalanya di bahu Siwon. Nyaman sekali. Dengan leluasa, gadis itu bisa mencium aroma parfum Siwon yang maskulin. Yoona bisa merasakan hatinya menghangat perlahan.

“Oh, itu make up, properti, dan juga perlengkapan yang dibutuhkan Donghae untuk photoshoot besok.”

“Kenapa begitu banyak?”

“Aku juga tidak tahu. Donghae yang menyuruhku membawa semua ini.”

Siwon mengerutkan dahinya. Kenapa Donghae sangat tidak punya hati membiarkan Yoona membawa tas yang sampai bergenteyongan di tangan kanan dan kirinya padahal dia tahu Yoona harus naik kendaraan umum?

“Yoongie-ya.”

Ne?”

“Terakhir kali kita makan bersama, kau bilang kau akan mengungkapkan segalanya pada Donghae. Apakah itu masih tetap akan kau laksanakan?” tanya Siwon tercekat. Sayangnya, Yoona tidak menyadari hal itu. Senyumannya malah merekah dengan lebar.

Ne, dia bilang kami akan makan malam setelah photoshoot besok.” jawab Yoona gembira. Namun, detik berikutnya senyumnya lenyap dan dia merengut sebal ke arah Siwon.

“Ah, jika saja kau tidak datang ketika perjalanan bisnis itu, aku pasti sudah memberitahunya semua yang ingin aku ucapkan.. Kau sungguh tidak membantu apapun..” Yoona menggerutu panjang pendek. Pemuda itu diam saja. Hatinya masih terasa agak – ya, hanya agak – ngilu.

“Kau ingin menemukan Donghae hanya sebagai teman masa kecilmu saja atau menemukan teman masa kecilmu sebagai seorang pria dan wanita dan ingin memiliki hubungan yang lebih dari sekadar teman setelahnya?”.

Siwon terdengar sarkatis. Dia memang sudah putus asa. Yoona bungkam. Dia tahu dirinya salah bicara. Kenapa lagi-lagi mengobrolkan Donghae di hadapan orang yang jelas-jelas menyukainya?

Ketika hati kita ingin O tapi mulut kita berkata X dan ketika hati kita ingin berkata X tapi mulut kita malah berkata O, kita menjadi bingung sendiri.

Kenapa?

Karena terkadang kita tidak mengerti isi hati kita sendiri. Pada saat itulah, kau tidak sengaja mangatakan apa yang mulutmu tidak inginkan, padahal itulah yang sebenarnya kau inginkan dari hatimu yang paling dalam

Perkataan Tae Hee segera terngiang di dalam benak Yoona. Ya, kenapa selalu seperti itu? Yoona bahkan bingung terhadap perasaannya sendiri. Apakah dia masih benar-benar mencintai Donghae atau tidak?

Yoona terguncang pelan setiap kali Siwon bergantian melangkahkan kakinya. Membuat Yoona terlena dalam pikirannya sendiri. Kenapa aku justru melukainya?, pertanyaan itu terus berulang acap kali dia bersama Siwon.

“Kau yakin 100 % kalau kau mencari teman masa kecilmu tanpa perasaan lain? Kau yakin akan itu, dongsaeng?” ucap Siwon sekali lagi, memastikan. Hatinya tergenang air mata. Siwon tahu pertanyaannya ini begitu menyakitkan baginya. Tapi, entah kenapa, dia malah ingin sekali mengetahui hal itu.

Meskipun, Siwon tahu, jawaban gadis itu hanya akan membuat luka di hatinya semakin menganga lebar.


Donghae memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Matanya melirik jam yang ada di dashboardnya. Sebentar lagi filmnya akan segera diputar dan Yoona – yang dimaksud adalah Jessica – pasti sudah menunggunya di bioskop. Donghae menyalahkan dirinya sendiri karena selalu membuat Yoona – yang ia tahu – khawatir dan menunggu.

Donghae melemparkan pandangannya ke sekeliling untuk mengusir kegundahannya.

Namun, pandangan Donghae tiba-tiba terpaku pada satu sosok. Yoona – Manager Im – yang sedang digendong oleh Siwon. Raut wajah mereka berdua muram.

Hati Donghae terusik  melihat Siwon melakukan hal itu terhadap managernya itu. Donghae bahkan tidak bisa melepaskan pandangannya dari kedua orang itu. Yang tampak nyaman bersama. Walaupun pikiran mereka masing-masing sedang mengembara jauh. Memikirkan sesuatu yang memberatkan hati mereka selama ini.

Tanpa pemuda itu sadari, ekor matanya terus mengikuti kemana perginya Yoona dan Siwon. Sampai Donghae benar-benar lupa kalau ia masih menyetir mobil.

BRAKK..

Kepala Donghae terantuk ke depan dengan kencang. Beruntung, dia masih sedikit bisa menahan dirinya untuk terantuk lebih keras lagi.

Ia tersadar sepenuhnya. Ia bagaikan terbius ketika melihat Siwon dan Yoona bersama. Terbius oleh satu perasaan yang tidak suka teramat sangat. Cemburu?

Donghae menggelengkan kepalanya. Tidak, aku sudah mempunyai Yoona (maksudnya Jessica).. tapi, kenapa dia terlihat sangat mirip dengan Yoona yang pernah kukenal? Sedangkan Yoona yang aku kenal sekarang, dia bahkan seperti orang yang sangat asing bagiku.. Bukankah itu aneh? Apakah semua ini benar adanya?

“Yaa!!! Bisakah kau menyetir dengan matamu, Tuan?!” marah pengemudi mobil yang baru saja ditabrak Donghae. Donghae meringis. Gawat, masalah artis mengalami kecelakaan lalu lintas akan panjang sekali masalahnya.

Pengemudi mobil itu tercengang ketika melihat siapa yang menabrak mobilnya. “Donghae-ssi, kau mabuk?” tanyanya pelan.

Donghae membulatkan matanya. “Suzy-ssi.. Ani.. Aku tidak mabuk. Maafkan aku.” jawab Donghae kaget.

Suzy menghela napasnya pasrah. Ia tahu kalau kecelakaan seperti ini jika ia panjangkan masalahnya akan berdampak buruk bagi karir artis di hadapannya ini. Apalagi, jadwal comebacknya tinggal sebentar lagi. Suzy tidak sampai hati berbuat sejahat itu.

Arasseoyo, aku tidak akan melaporkanmu pada polisi, Donghae-ssi..”

Donghae langsung saja menghembuskan napasnya dengan lega. Senyuman dua sentinya mengembang. Untung saja Suzy yang ditabraknya. Ia sungguh bersyukur keberuntungannya masih berjalan. Melirik ke arah jam lagi, Donghae segera memacu mobilnya sembari berteriak. “Aku akan mengganti mobilmu dengan yang baru, Suzy-ah!!”

Suzy mengerucutkan bibirnya. “Astaga.. dia sombong sekali.. Nah, sekarang aku harus pulang dengan apa?”. Suzy menggaruk kepalanya sendiri bingung.

Tin.. tin..

Suzy menoleh kaget karena suara klakson menyerbunya dengan tidak sabar. “Kajja, masuk ke dalam.”. Gadis itu mengalami shock berat melihat siapa yang mengajaknya pulang.

“Park Seo Joon.. Bagaimana bisa kau ada disini?”

Seo Joon berdecak. “Sudahlah, masuk. Atau aku akan jalan lagi.”.

Tentu saja, Suzy tidak mau ditinggal begitu saja di pinggir jalan. Mau tak mau, dia langsung masuk. Hatinya begitu senang. Sebuah kebetulan yang menyenangkan.

“Terima kasih, Donghae-ssi..” bisik Suzy penuh rasa syukur. Senyumannya mereka sempurna. Karena tanpa adanya kecelakaan tadi, mungkin Suzy takkan pernah pulang bersama Seo Joon seperti ini.


Jessica buru-buru bangkit saat melihat Donghae datang dengan wajah yang lesu dan pucat. Tatapannya terlihat kosong dan shock.

“Kau kenapa? Kenapa kau terlambat? Apakah kau baik-baik saja?”. Jessica bertanya bertubi-tubi. Donghae diam sejenak. Ia menatap Jessica yang masih ia kenal sebagai Yoona.

Jika dia bukan Yoona, dia takkan panik seperti ini.. Tapi, kenapa wajahnya sangat asing bagiku? Siapa sebenarnya yang benar?

“Aku baik-baik saja. Aku hanya mengalami kecelakaan kecil tadi.”

“Kecelakaan?”. Jessica mendadak histeris. “Kajja, kita ke rumah sakit. Jangan menundanya.. Kau membuatku sangat khawatir…”. Jessica hampir menangis.

Donghae langsung memeluk Jessica tanpa aba-aba. Merengkuhnya begitu dalam.

“Aku minta maaf. Aku tidak akan berbuat hal lain yang akan membuatmu kembali khawatir. Maafkan aku.. Aku berjanji..”. Terasa datar dan tanpa penyesalan. Donghae.. sama sekali tidak merasa bersalah telah membuat Jessica khawatir. Membuatnya kembali bertanya pada dirinya sendiri. Apakah aku memang mencintainya?


*@NCT Entertainment

Donghae tertegun.

Baru saja, dia mengecek hasil fotonya selama perjalanan bisnis.

Dia tertegun. Melihat foto Yoona berada di laptopnya. Gadis itu terlihat sangat cantik dan polos. Matanya yang berbinar menyiratkan ketulusan hatinya yang tak bertepi.

Dan yang paling penting, sanggup membuat hati pemuda itu bergetar. Entah kenapa.

Pandangan Donghae menatap lekat garis wajah Yoona, pipinya yang halus bersemu kemerahan, dia terlihat begitu.. menawan hati. Ini perasaan yang berbeda ketika ia melihat Yoona yang ia tahu – alias Jessica.

Ini berbeda. Hanya terasa berbeda. Donghae lagi-lagi harus mengakui itu walaupun otaknya menolak.

Tok.. tok..

“Donghae-ssi.. Ini jadwalmu hari ini. Dan aku juga membawakanmu sarapan..”

“Aku tidak biasa makan sarapan.”. Entah kenapa, dia menjadi sedikit sentimental ketika melihat Yoona berada di depannya. Perasaan di dalam dadanya berkecamuk dan membuatnya sesak. Donghae benci hal itu.

Sebenarnya siapa kau?

“Tapi..”

Tok.. tok…

“Ini hasil interviewmu kemarin. Apakah harus ada yang aku edit?” tanya Heenim sembari menggosok kepalanya dengan tongkat saktinya itu.

“Ambil sarapan ini, Manager Kim.. Kau belum sarapan bukan?” tanya Donghae tanpa melepaskan pandangannya dari layar laptopnya. Yoona mengigit bibirnya. Kenapa dia terdengar marah?

“Aku sudah sarapan, tapi aku belum makan dessert. Baiklah, aku akan makan ini. Terima kasih, Donghae-ssi..”. Heenim berlalu. Yoona menatap ke arah Donghae dengan tidak percaya. Sorot matanya terluka. Kenapa Donghae berubah lagi?

Donghae tahu, Yoona menatapnya seperti itu. Pemuda itu berusaha menguatkan hatinya menghadapi hatinya yang juga bergolak melihat Yoona sepertinya sedih dan terluka. Ia tidak tega melihat gadis sebaik Yoona terluka karena kelakuannya yang aneh.

Waeyo? Kenapa kau masih ada disini? Ada hal lain yang harus kau sampaikan?” tanya Donghae tajam. Yoona tergugah. Ia menggelengkan kepalanya cepat.“Ah, aniyo.. Aku pergi.”. Yoona menundukkan kepalanya sejenak.

Gadis itu berlalu dengan perasaan tidak keruan. Kenapa lagi dengannya? Apakah terjadi sesuatu?

Donghae menggebrak mejanya sendiri dengan frustasi. Kenapa bayangan Yoona kecil selalu mengikutinya setiap kali Manager Im menatapnya?

Dengan kalap, Donghae menghapus beberapa foto Yoona yang ada dalam filenya. Pikirannya benar-benar kacau. Pemuda itu mengaduh sendiri. Ia menopang kepalanya yang mendadak berat dan pusing.


Jessica menatap langit-langit kamarnya dengan perasaan yang bimbang.

Hari ini, Donghae khusus menyewa satu teater di bioskop untuk memutar kembali film yang ingin ditontonnya kemarin.

Tapi, pemuda itu tidak terlihat senang seperti biasanya. Dia tampak sedang banyak pikiran berat.

Kau tidak menyukainya?, tanya Jessica memperhatikan raut wajah Donghae yang suram.

Ani, aku sangat menyukainya. Apalagi aku menonton film ini bersamaku, kilah Donghae. Raut wajahnya menunjukkan dia benar-benar sedang tidak fokus saat ini. Dan Jessica tidak bisa dibohongi hanya dengan omongan Donghae semata.

Bukankah scene yang ada di lift sangat bagus?, tanya Jessica sengaja menguji pemuda di hadapannya yang kembali termenung. Kembali memikirkan sesuatu.

Donghae terdiam sejenak. Pemuda itu benar-benar blank mendengar pertanyaan Jessica. Dia memang sama sekali tidak menonton film itu. Pikirannya tadi dipenuhi oleh bagaimana miripnya Manager Im dengan cinta pertamanya Im Yoona. Tapi, pikirannya selalu kembali menolak. Im Yoona, cinta pertamanya, selalu tepat berada di sisinya. Jadi, mana mungkin Manager Im adalah cinta pertamanya?

Donghae-ya.., suara Jessica memecah lamunan Donghae.

Ah, scene lift.. Oh, itu sangat bagus. Aku menyukainya.

Jessica terdiam melihat gerak-gerik Donghae yang serba kaku hari ini. Ada apa sebenarnya?

Pertanyaan besar itu menghantui Jessica. Ada apa sebenarnya, Hae?, mendadak hatinya merasa gelisah. Perasaan tidak enak menyusup ke dalam hatinya.


Yoona membolak-balik agenda pekerjaannya dengan serius. Langkahnya terhenti begitu lampu penyebrangan jalan masih berwarna merah. Matanya tidak pernah lepas memperhatikan apa saja yang harus dikerjakannya hari ini, dan bagaimana dia bisa mengefektifkan waktu kerja Donghae agar pemuda itu moodnya akan lebih baik.

Yoona sadar, sepertinya Donghae sedang dalam keadaan yang buruk. Entah karena hal apa. Setidaknya, Yoona ingin meringankan beban pemuda itu dengan mengatur ulang semua jadwalnya agar menjadi lebih ringan.

Donghae menekuni tabletnya dengan sangat serius. Seperti apa yang selalu dilakukannya jika sedang bersama dengan gadgetnya.

Ting.. tong.. Lampu penyebrangan berubah menjadi hijau.

Yoona mendongak. Senyuman khasnya muncul. “Oh! Gasioda! (Jalan!)”

Donghae yang biasanya sangat konsentrasi terhadap apa yang sedang dilakukannya, buyar. Teriakan khas itu. Dan hanya satu orang yang biasa melakukannya. Cinta pertamanya yang takkan bisa ia lupakan.

Donghae menoleh ke sekelilingnya dengan panik. Takut kehilangan orang yang baru saja meneriakkan satu kata itu.

Yoona yang berbalut dalam mantel panjang kremnya dan juga celana jeans ketat yang menampakkan kaki jenjangnya dan juga rambut panjang kecoklatannya yang terurai segera menjadi objek Donghae. Gadis itu melangkahkan kakinya dengan cepat menyebrangi jalan.

Donghae bergegas mengejar Yoona. Apakah memang dia?

Sett..

Donghae menarik tangan Yoona dengan sekali tarik. Yoona membelalakkan matanya dengan kaget.Tertegun. Beberapa detik kemudian, dia tersadar.

“Donghae-ssi! Joheun achim imnida.. (selamat pagi..)” sapa Yoona bersemangat.

Donghae tidak mampu berkata-kata. Kenapa dia lagi? Kenapa dia terus mengulang masa laluku bersama Yoona? Yoona yang kukenal bukanlah kau!!, jerit batin Donghae.

Pemuda itu terus diam. “Donghae-ssi? Auww.. astaga.. kau kenapa?” pekik Yoona kesakitan karena tanpa sadar Donghae mencengkram pergelangan tangan Yoona dengan erat sebagai pelampiasan emosinya yang bergejolak hebat dalam hatinya.

“Oh ya! Hari ini setelah photoshoot, apa yang harus aku pesan untukmu? Aku tidak tahu kau harus makan apa untuk makan malam karena kau pasti sedang dalam diet untuk comeback. Aku mohon jangan terlalu mahal. Kau tahu berapa gajiku kan?” tanya Yoona takut-takut. Donghae hanya menatapnya kosong.

“Tapi, tidak apa-apa, sejak aku akan menggantikan barangmu senilai 1.000.000 won itu, tidak masalah jika kau memesan makanan yang mahal.” sambung Yoona cepat-cepat melihat Donghae sama sekali tidak bereaksi dan masih menatapnya dengan datar.

Ponsel Donghae berdering.

“Kau sepertinya mendapat panggilan masuk. Geureom.. Kita bertemu di kantor nanti. 갈게요.. (aku pergi..)”

Yoona melambaikan tangannya sembari tersenyum manis dan berlari kecil ke arah kantor. Semata-mata demi menyelamatkan jantungnya yang sudah over dalam berdetak.

Donghae menatap Yoona masih dengan berbagai perasaan bercampur dalam hatinya. Irisnya mengatakan itu semua. Kenapa harus dia?

Donghae melihat layar ponselnya. Tulisan ‘Yoona-ya’ tercetak disana dengan jelas. Apa ini? Sebenarnya, mana Yoona yang aku kenal?


“Yoongie-ya.. mari kita makan malam bersama setelah photoshoot selesai..” ucap Siwon yang bergegas membantu Yoona mengangkat beberapa kardus minuman ringan untuk konsumsi para kru.

“Aish.. kau tahu kan hari ini begitu penting bagiku?” tanya Yoona balik.

“Oh, masalah itu. Bisakah kau tidak melakukannya? Ani, maksudku melakukannya sekarang. Kau kan bisa melakukannya besok. Ayolah, demi oppamu ini..” mohon Siwon dengan putus asa. Ia mendukung Yoona menemukan cinta pertamanya agar bahagia. Itu tekad awalnya, tapi rasanya tekadnya itu tidak berlaku sekarang. Tetap saja, ia tidak rela Yoona akan bersama Donghae begitu saja.

Ia menyayangi Yoona lebih dari apa yang Donghae lakukan. Siwon berani bertaruh seluruh hidupnya untuk hal itu.

“Eii. kenapa kau terus membujukku untuk tidak melakukannya? Tidak bisa. Aku sudah berjanji padanya. Dan aku takkan melanggar janjiku sendiri.”

Siwon mengurut pelipisnya dengan putus asa. Yoona begitu keras kepala. Dan memang itu sifat aslinya. Mau bagaimana pun juga, nampaknya tak ada jalan lain untuk membendung kemauan kuat Yoona.

“Urus saja urusanmu sendiri, Manager Choi.. Dan jangan membicarakan hal itu lagi, oke? Aku akan tetap menemuinya..”


“Wa… jas ini begitu keren. Aku yakin, Donghae akan sangat tampan ketika memakai ini..” ucap Eun Ji begitu melihat hasil jepretannya di depan manekin yang memakai jas yang akan menjadi properti Donghae dalam photoshoot.

“Aku akan menguploadnya di SNS..” ucap Suzy senang..

“APA YANG KAU PIKIR AKAN KAU LAKUKAN!!!”. Seluruh perhatian orang-orang yang berada dalam studio foto itu teralih pada sosok yang nampaknya sedang tersulut amarah yang berkobar.

“Apakah kau tidak memikirkan akibat setelah kau mengupload foto bodohmu itu di SNS? Jawab!! Apakah kau akan bertanggung jawab atas karirku karena kau membocorkan hal ini dan membuat entertainment pesaing kita tahu dan bergegas menyiapkan comeback yang lebih baik dariku? Jawab aku, Nona Bae Suzy!” teriak Donghae penuh amarah. Tatapannya tajam menusuk Suzy yang gemetaran karena suara Donghae yang kencang tak terkira dengan amarah di setiap katanya.

“Bawa properti itu ke ruang ganti. Sekarang!”. Donghae terus menerus berteriak. Nampaknya ia sama sekali tidak bisa tenang hari ini.

Ya, Donghae begitu takut akan bayang-bayang artis pendatang baru Lee Hyukjae atau Eunhyuk yang sukses mengalahkannya di comebacknya sebelumnya dan selalu membuatnya dalam posisi kedua. Dan hari ini, Eunhyuk meneleponnya untuk memprovokasinya bahwa semua bocoran comebacknya sudah tersebar di SNS.

Siap-siap saja menjadi bayang-bayangku, Lee Donghae.., ucap Eunhyuk sinis.

Donghae mengusap wajahnya sendiri dengan frustasi. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

“Aku akan membawa ini..” ucap Sooyoung sembari menyentuh manekin itu.

“STOP!” jerit Donghae lagi. Sooyoung membulatkan matanya. Ada apa?

Donghae mencengkram tangannya dengan erat dan mengguncangkannya dengan kasar.

“Mana ada kru eksekutif seorang artis yang sama sekali tidak paham dengan aturan memegang properti hah?! Kenapa kau tidak melepas semua gelang dan jam mu?! Kau tahu itu akan menjadi fatal karena properti bisa menjadi rusak oleh aksesoris bodohmu itu!”

“Aku lupa melepasnya tadi. Maafkan aku..”. Sooyoung menundukkan kepalanya tidak berani menatap mata Donghae yang menyala akibat amarah.

“Kau.. keluar dari sini. Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi!”. Bibir Donghae bergetar menahan amarahnya.

Sooyoung menatap Donghae dengan tidak percaya. “A..”. Sooyoung tidak sanggup melanjutkan kata-katanya karena air matanya sudah meluncur deras. Ia berlari keluar studio dengan menutup seluruh wajahnya.

“Kenapa ini?” tanya Jungsoo heran ke arah Suzy yang masih mengigil ketakutan. Ditambah lagi, Sooyoung melewatinya dengan keadaan menangis berat.

“Kau lihat kan? Donghae sedang berada dalam mood yang tidak baik..” bujuk Siwon sekali lagi. Pemuda itu meletakkan kepalanya dengan manja di lengan Yoona.

Yoona tercenung. Tadi, sekilas, dia melihat bagaimana grafik penjualan albumnya berada dalam bayang-bayang Eunhyuk yang merupakan artis pendatang baru yang bisa menyainginya.

“Ayolah.. ini hari ulang tahunku..”. Siwon tidak menyerah begitu saja. Yoona tidak boleh pergi makan malam bersama Donghae hari ini dan semuanya terungkap. Egois memang, tapi… Ia tidak bisa memungkiri bahwa mungkin ia akan terpuruk nantinya jika Yoona menghilang dari kehidupannya.

“Waaah.. kau berbohong lagi padaku. Aku sudah melihat profilmu dari kantor administrasi perusahaan. Kau bahkan lebih muda dariku walaupun kita lahir di tahun yang sama. Kau lahir setelah aku dan aku tahu ulang tahunku masih akhir bulan Mei.” sewot Yoona. Gadis itu tersenyum sinis dan seolah berkata apa-lagi-kali-ini-leluconmu-?

Siwon membulatkan matanya. “Benarkah?”

“Harusnya kau yang memanggilku nuna dan bukannya aku yang memanggilmu oppa.”

“Tapi, kau memanggilku oppa karena bersedia menggantikan posisi adikku bukan? Ini bukan masalah umur!” potong Siwon rada kesal.

“Im Yoona-ssi?”

Yoona menengok mendapati Jungsoo menatap ke arahnya serius. “Ne, sunbaenim?”

“Pindahkan propertinya ke ruangan ganti dan jaga itu. Jangan sampai Donghae kembali mengamuk-amuk tidak jelas seperti itu.”. Yoona mengangguk patuh.

Siwon menghela napasnya dengan kesal. Apakah benar-benar tidak ada jalan lain untuk menghentikan niat Yoona? Pikirannya melayang kepada Jessica. Hanya gadis itu, kunci semua masalah ini. Jika saja, gadis itu tidak melakukan hal aneh dan gila seperti ini untuk menusuk temannya dari belakang, semua ini takkan terjadi.


“Apa yang kau lakukan disini?” sengit Suzy melihat Yoona santai-santai saja dan tidak mendapat amukan Donghae sama sekali. “Aku sedang menjaga properti Donghae disini.”

“Cih, menjaga properti? Lelucon macam apa itu? Kau takut aku akan tetap menguploadnya ke SNS seperti apa yang Donghae katakan?”

Yoona menggeleng kuat. “Aku sama sekali tidak memikirkan hal itu, Suzy-ssi. Jangan berprasangka buruk.”

“Daripada kau hanya disini seperti orang bodoh, ini, parkirkan mobilku yang masih ada di luar ke dalam basement gedung. Aku malas sekali melakukannya mengingat lahan yang terlalu sempit. Lakukan!” perintah Suzy seraya melemparkan kunci mobilnya ke arah Yoona.

“Tapi, aku..”

“Kerjakan, sekarang.. Apakah kau hanya terlihat suci jika banyak orang di sekitarmu? Jadi kau hanya berpura-pura baik untuk mendapatkan perhatian mereka? Walaupun kau lebih tua darimu, akulah yang lebih senior disini, jadi, kau harus menuruti permintaan sunbae-mu.”. Suzy tersenyum licik dan mengejek harga diri Yoona.

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Yoona dengan wajah merah padam menahan amarah. Kenapa Suzy menuduhnya dengan tidak berdasar seperti ini.

“Kau merebut semuanya! Perhatian semua orang, bahkan semua orang menyukaimu! Aku tersisihkan. Bagaimana bisa hal itu terjadi? Aku lebih cantik darimu dan malah hanya dianggap angin lalu? Tak masuk akal..”

Yoona diam saja. Ia memilih berlalu melewati Suzy dibandingkan terus menerus berdebat atas hal yang bahkan Yoona tak ingin melakukannya. Ia tidak ingin semua orang memperhatikannya. Itu terjadi begitu saja dan Yoona tidak bisa menanggung apapun.


“Em.. semoga kau berhasil mengalahkan Eunhyuk nanti.. Idda bwa..”

Jessica mematikan ponselnya. Gadis itu mengaduh kala sakit di kepalanya kembali berdenyut. Ia mencengkram kepalanya sendiri berusaha meredakan sakitnya. Begitu pula dengan perutnya yang rasanya seperti dipelintir kuat. Benar-benar campuran sensasi menyakitkan yang tidak terkira.

“Jessica-ssi, ada yang bisa aku bantu? Sepertinya kau sedang sakit..” sapa Eun Bi – sekretaris pribadi Jessica. Ia menggeleng. “Tidak, aku baik-baik saja, tenang saja..”

Eun Bi mengangguk dan kembali melanjutkan langkahnya.

Siwon terdiam di ambang pintu masuk Jung Magazine Corp. Matanya lekat menatap Jessica yang kepayahan hanya untuk berjalan.

Benar saja, detik berikutnya, Jessica tersungkur ke atas lantai mendadak. Siwon mendelik. Kenapa lagi dengannya?, Siwon berlari dengan cepat dan berusaha mengangkat tubuh gadis itu. Eun Bi membelalakkan matanya mendengar kegaduhan di belakangnya.

“Nona! Tolong tunjukkan aku dimana ruangannya..” teriak Siwon pada Eun Bi. Buru-buru, Eun Bi berjalan mendahului Siwon menunjukkan jalan.

#skip

Jessica mengerjapkan matanya sesaat serta kembali mengaduh. Kepalanya masih berdenyut hebat. Matanya menyipit ketika melihat Siwon ada di ujung ruangannya. Persis lurus di depannya.

“Apa yang kau lakukan disini, Manager Choi?” tanya Jessica pelan. Rasanya tenaga yang ia punya terkuras habis setelah jatuh tadi.

“Kau. Hentikan semuanya terlebih dulu.”. Tatapan Siwon yang tajam mengintimidasi Jessica. Pemuda itu tampak begitu serius. Ada sedikit amarah dan rasa jijik di matanya. Belum pernah Siwon bersikap seperti itu sebelumnya. Ini pertama kalinya. Tanpa mengindahkan fakta bahwa gadis di hadapannya sedang sakit.

Siwon benci sekali melihat Jessica terlihat merasa tidak bersalah padahal dia jelas-jelas telah menikung sahabat baiknya yang selalu menemaninya dan merawatnya bagaimana pun juga. Siwon benci Jessica memanfaatkan kepolosan Yoona terhadap perasaannya pada Donghae.

Menurut Siwon, Jessica begitu licik.

“Apa maksudmu?” tanya Jessica heran bercampur kaget.

“Hentikan permainanmu, Jessica Jung. Menjadi Im Yoona.”

Jessica membelalakkan matanya kaget. Bagaimana dia bisa tahu?


*@rooftop

Jessica terus menundukkan kepalanya. Matanya tak berani menatap Siwon yang terlihat kecewa. Entah kecewa karena apa.

“Jadi, Yoona menjadi manager Donghae yang aku tahu?” kilah Jessica masih berusaha menutupi kesalahannya. Siwon menghela napasnya dengan berat. Kenapa dia tidak langsung mengakuinya saja?

“Kenapa kau masih tidak mengakuinya? Kau jelas-jelas tahu, Donghae yang Yoona kenal, dan Donghae yang kau kenal adalah orang yang sama. Kenapa kau masih mencoba berbohong padaku?”

“Jessica Jung, tatap mataku.”. Siwon memegang erat bahu Jessica dengan kedua tangannya yang kokoh.

“Kenapa kau melakukan semua ini?”

“Kenapa kau ikut campur dalam urusanku dengan Yoona? Jelaskan!” teriak Jessica kesal. Gadis itu benar-benar sudah putus asa. Ia meratapi takdirnya yang terlalu buruk baginya.

“Karena aku tidak mau melihat Yoona dan kau terluka berat satu sama lain. Apakah kau tahu bagaimana sayangnya Yoona terhadapmu? Dia bahkan sering mengoceh padaku soal dirimu. Bagaimana besarnya dia mengkhawatirkanmu, bagaimana besarnya dia iri padamu karena Yoona pikir kau mempunyai segala yang dia inginkan, bagaimana ia ingin kau mendapatkan kehidupan yang baik. Apakah kau tidak sadar kau akan membuat luka besar di jalinan persahabatan kalian?”

“Aku tidak bisa diam melihat Yoongieku tersakiti oleh sahabatnya sendiri.” lanjut Siwon. Pandangan memaku Jessica. Yang bisa Jessica lihat dalam mata Siwon ketika membicarakan Yoona adalah rasa cinta yang tulus. Tulus sekali, bahkan bisa menyentuh hati Jessica.

Kenapa selalu Yoona yang mendapatkan orang yang kusukai?, itulah kata-kata iri Jessica yang menyelubungi hatinya. Menjadikannya melakukan semua perbuatan nistanya ini.

Jessica tercenung. Semua itu memang benar. Jessica sudah tahu semua akibatnya. Ia hanya tidak bisa menghentikan dirinya sendiri dari semua ini. Gadis itu sudah terjerumus terlalu dalam di dalam permainan yang ia buat sendiri. Ia sudah sampai pada tahap tidak bisa melepaskan Donghae walaupun itu untuk sahabatnya sendiri, walaupun itu untuk orang yang semestinya mendapatkan Donghae, yang bernama Im Yoona.

“Jessica Jung, mereka berdua.. akan bertemu malam ini.. Dan Yoongie, ani, maksudku Yoona, dia akan mengatakan segalanya kepada Donghae. Bahwa dialah sahabat masa kecil yang dicari Donghae selama ini. Bahwa sebenarnya mereka selalu sedekat itu untuk tidak saling mengenal satu sama lain.”

Jessica menatap Siwon tidak percaya. Yoona bahkan sudah mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan semua itu?

“Bukankah akan lebih buruk jika seluruh perbuatanmu yang licik ini terbongkar dengan jalan seperti itu?”

Air mata Jessica sudah memenuhi pelupuk mata. Rasa ngilu dalam hatinya sudah tidak tertahankan lagi. Siwon menusuk-nusuk hatinya dengan segala macam fakta yang memang benar adanya. Bahwa yang dilakukannya memang salah dan kejam.

Jessica mengigit bibirnya sendiri berusaha menahan isakannya. Siwon ikut prihatin melihat kondisi Jessica. Pemuda itu tahu pasti gadis di hadapannya sedang hancur-hancurnya.

“Jadi, aku pikir, jalan terbaik yang bisa kalian tempuh, untuk meminimalisir rasa sakit yang akan disebabkan oleh semua masalah ini, untuk memperkecil rasa sakit di antara kalian bertiga, adalah dengan kau membuka semua kartumu dulu. Mengakulah terlebih dahulu sebelum Yoona melakukan semuanya hari ini..”

“Dan kalian semua sendiri yang bisa menghentikan semua masalah cinta segitiga ini dalam tahap yang wajar dan tidak menyakitkan. Aku mohon padamu. Aku tidak tega melihat Yoona akan sangat terluka. Aku juga tidak tega melihat tali persahabatan kalian putus mengenaskan seperti ini.”

Bulir bening hangat mengalir dari mata Jessica perlahan, turun ke pipinya. Siwon terhenyak. Jessica menutup wajahnya sendiri, ia tidak mau orang lain melihatnya menangis. Jessica tidak mau orang lain menganggapnya lemah.


“Astaga, dingin sekali..”. Yoona buru-buru masuk kembali ke studio seraya menggosok-gosokkan telapak tangannya ke lengan sweaternya untuk mendapat sedikit kehangatan.

“Suzy-ah, ini kunci mobilmu..”. Suzy menoleh. Seketika, tawanya meledak. Yoona menyipitkan matanya. “Ada apa?”

Nuna… rambutmu..”. Seo Joon menunjuk ke arah rambut Yoona yang mengembang dan acak-acakan. “Rambut?” ulang Yoona  bingung.

Yoona menoleh ke arah kaca yang ada di sudut ruangan. “Astaga! Rambutku… Ya ampun, aku lupa..”

Suzy masih terkikik geli. Yoona tidak mempedulikannya. Seo Joon hanya ternganga takjub.

“Rambutku memang mengembang jika terkena hujan seperti ini.. Tenang saja, disisir sebentar juga pasti akan kembali seperti semula..” ucap Yoona sembari nyengir lebar. Seo Joon hanya mengangguk-angguk mengerti.

Donghae menautkan alisnya mendengar perkataan Yoona yang lumayan kencang diucapkan itu.

“Ah! Rambutmu!”

Yoona menatap Donghae tidak mengerti. Donghae menunjuk-nunjuk rambut Yoona yang mengembang seperti jamur karena terkena siraman air hujan. Yoona meraba rambutnya sendiri.

“Astaga! Aduh.. aku lupaa..” desah Yoona sebal. Donghae meringis. “Kenapa bisa seperti itu?”

“Ini rambut keturunan dari ayahku.. Ayahku memiliki rambut ikal yang lebat bahkan nyaris keriting.”. Donghae hanya tersenyum samar dan mengangguk-angguk.

“Maafkan aku.. Kau tidak seharusnya keluar dari bus tadi. Apalagi sampai memayungiku dalam hujan seperti itu..” ucap Donghae pelan. Yoona malah tersenyum lebar. “Tak masalah. Aku sangat senang bisa berteman denganmu setelah sambutanmu yang tidak hangat ketika aku pindah beberapa bulan yang lalu. Kau tidak seburuk yang aku kira..”

Senyuman Yoona menghangatkan hati Donghae kecil. Ia terpana sesaat.

Ini tanggal 13.

Tanggal dimana Donghae mendapatkan sahabat pertamanya. Yang akan menjadi cinta pertamanya. Selama-lamanya.

Donghae menatap nanar Yoona yang terlihat canggung. Kenapa? Kenapa dia mengingatkanku pada Yoona? Siapa sebenarnya kau?, jerit Donghae dalam hati melihat Yoona diam saja – yang sebenarnya dibully – seperti itu.

Sama seperti Yoona yang ia kenal dulu. Dia sama sekali tidak membalas kala mendapatkan ejekan dari teman-temannya.

Mereka berdua memang terkenal sebagai bahan bullyan ketika kecil. Tapi, Yoona – yang sudah menjadi bahan bullyan – bahkan masih membela Donghae yang dalam kesulitan dan otomatis mendapatkan bullyannya dua kali lipat.

Kenapa dia mengingatkanku pada Yoona?, ratap Donghae putus asa. Namanya memang persis sama seperti Im Yoona yang aku kenal, tapi apakah itu memang dia? Apakah benar itu dia?

“Donghae-ssi, silahkan masuk ke dalam venue pemotretan..”

Donghae tergugah. Pandangannya yang penuh emosi segera hilang. Pemuda itu mengusap wajahnya dengan frustasi. Ia memberikan kode agar para kru menunggunya sebentar, Donghae ingin menata hatinya dulu.

“Astaga!! Donghae-ssi!! Ada apa dengan pakaianmu?” seru Jungsoo kaget melihat jas yang dipakai Donghae robek sedikit di bagian bahunya dan juga punggungnya.

Mwo?!” pekik Donghae mendengar perkataan Jungsoo. Dadanya bergemuruh melihat propertinya memang robek. Pemuda itu menepuk dahinya sendiri melihat sepertinya rencana pemotretan akan gagal kali ini. Dan Eunhyuk akan lebih mudah menyalipnya jika seperti ini.

“Siapa yang menjaga propertiku? Siapa? Katakan padaku sekarang!!!!”. Teriakan Donghae menggelegar memenuhi seluruh penjuru studio pemotretan. Wajah pemuda itu merah padam. Benar-benar merah meradang. Para kru mengkerut melihat artis mereka kembali dalam amarah besar. Yoona membelalakkan matanya.

Robek? Bagaimana bisa?

Jeoyo.. Itu saya, Donghae-ssi..”. Yoona menyeruak kerumunan yang ada di depan Donghae dan berdiri menatap Donghae sungguh-sungguh. Matanya sama sekali tidak menyiratkan ketakutan. Donghae menatap Yoona dengan emosi yang lain berkecamuk dalam bola matanya.

Neoya? Tto neoya? (Kau? Kau lagi?)”. Suara Donghae bergetar.Penuh emosi yang menahan rasa sesak. Para kru terdiam melihat adegan ini. Seo Joon berdecak kesal ke arah Suzy. “Kau menyebabkan semua ini pada nuna..” bisiknya keras. Suzy merengut. “Tapi, ini bukan sepenuhnya salahku, Seo Joon-ah..” ucap Suzy masih berusaha membela dirinya sendiri.

Seo Joon membuang mukanya kesal. Kesal sekali kenapa harus Suzy yang menjadi penyebabnya. Kesal karena dia sama sekali tidak bisa merasa marah pada gadis beraut imut tersebut.

“Kenapa itu selalu kau?”. Donghae menahan air matanya agar tidak keluar. Gemuruh emosi dalam dadanya sungguh menyesakkan. Bayang-bayang Yoona kecil kini menari-menari di matanya bergantian dengan Yoona – Manager Im – yang ada di depannya sekarang.

“Kenapa kau? Siapa kau? Kenapa kau selalu saja berada dalam kegelisahanku seperti ini!!!! Kenapa kau selalu berada di sekelilingku, berputar-putar seolah mengejek seluruh usahaku!!”. Amarah Donghae yang sesungguhnya meledak. Benar-benar sampai puncaknya. Tingkat kemarahan dan kalut yang tak pernah dilihat oleh siapapun. Yoona menelan ludahnya sendiri. Dia sama sekali tidak tahu kenapa masalah menjadi rumit seperti ini.

“Maafkan aku.. Aku tidak berhati-hati dalam menjalankan tugasku..”. Yoona membungkukkan badannya dalam-dalam beberapa kali. Donghae berusaha menahan amarahnya. Tapi, dia sama sekali tidak berdaya. Setiap kali tatapannya bersarang dalam mata jernih Yoona, gemuruh dalam dadanya kembali datang. Manager Im bagaikan mimpi terburuknya.

Membuatnya bingung terhadap siapa sebenarnya Yoona yang ia kenal.

“Pergi.”

Seketika, seluruh kru menahan napasnya. Apakah ini artinya..

“Pergi. Berhenti membayangiku dan membuatku selalu marah seperti ini. Pergi.”. Donghae terdengar begitu memohon. Memohon seolah tak ada jalan lain yang bisa ia lakukan untuk mengakhiri semua ini. Semua hal yang membuat dadanya menjadi sesak karena perasaannya bercampur aduk.

Apa ini?, Itulah pertanyaan yang memenuhi seluruh orang yang ada dalam ruangan itu. Jungsoo memandang tidak tega pada Yoona yang terlihat sekali sedang berusaha menguatkan hatinya.

“Pergi dari sini dan jangan pernah muncul di hadapanku lagi..” ujar Donghae pelan, nyaris berbisik. Entah kenapa, hatinya hancur melihat Yoona kini berkaca-kaca memandangnya. Walaupun emosi sama sekali tidak nampak dalam pandangan gadis itu yang terus memakunya.

“Kau.. dipecat.”

Wah wah.. btw, Euri comeback lagi dengan FF kesukaan… nah, ini merupakan episode palinggg emosional. Bener-bener adegan kesukaan Euri sendiri sebagai author. Bagi kalian yang udah nonton dramanya, mungkin tau bagian ini. Semoga, tulisan ini bisa membawa serta feel serta emosi yang diperanin Park Seo Joon yaa.

VOTE AND COMMENT IS A MUST GUYS! DON’T BE SIDERS!

MUCH LOVE, YOURS TRULY, EURI

Advertisements

5 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #10. Who Are You?! [Frustrated]

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s