Complicated Fate Part 7 [Why It’s Happen to Me?] – by HyeKim

image

Title : Complicated Fate Part 7

Subtitle : Why It’s Happen to Me?

Genre : Family, Romance, AU, Sad, Tragedy

Lenght : Multi Chapter

Rating : PG-15

Author : Kim Hyerim

Cast :

-Hyerim (OC) as Oh Hyerim

-Luhan EXO-M as Xi Luhan

-Sehun EXO-K as Oh Sehun

-Sulli F(x) as Choi Jinri

-Subin Dal Shabet as Park Subin

-Yoonjo Hello Venus as Shin Yoonjo

-Jonghyun CNBLUE as Lee Jonghyun

Backsound : SM The Ballad Vol.2 – When I was where u were | Hello Venus – Same

Luhan menatap dalam gadis didepannya sekarang, tubuhnya terasa kosong saat gadis itu menyarankan untuknya memacari Jinri.

“Utgida! Ahaha utgida! (lucu)” ucap Luhan sembari tertawa

Nan nongdam ahniya! (aku tidak bercanda)”  ucap Hyerim tegas.

Luhan hanya menundukan kepalanya, ia menghembuskan nafasnya kasar, pikirannya berkecamuk sekarang. Sementara Hyerim, entah kenapa, hatinya seakan sakit, dan tergores sebuah pisau dan meninggalkan bekas sobekan yang amat dalam, setelah ia mengatakan itu pada Luhan.

Luhan kembali menatap gadis itu, yang entah mengapa matanya sudah memerah seakan menahan tangis. Luhan meraih tangan kanan Hyerim yang berada diatas meja, Hyerim spontan menatapnya dan air mata tiba-tiba mengalir begitu saja dari kedua mata indahnya.

Entah keberanian dari mana, Luhan berdiri dari duduknya dan mendekatkan wajahnya ke wajah Hyerim. Hyerim hanya memejamkan matanya, dan air mata terus mengalir.

“Tuhan, kenapa ini terasa sakit sekali?” gumam Hyerim dalam hati

Hyerim sendiri tidak tahu kenapa ia merasa sangat sakit saat ia melepas Luhan begitu saja dan memberikannya pada Jinri, walau belum benar-benar Luhan berasama dengan Jinri, tetapi membayangkannya saja membuat hati gadis itu sesak seakan tidak bisa bernafas.

Lalu, Hyerim merasakan benda lembut menyentuh bibirnya. Bibir Luhan sudah mendarat mulus dibibir Hyerim, Luhan melumat bibir itu perlahan, sementara Hyerim hanya diam dan membuka matanya, ia tidak merespond sama sekali perlakuan Luhan. Lalu, Luhan melepaskan bibirnya dan menatap Hyerim lekat dan tangan kanannya menghapus buliran air mata yang hendak keluar lagi dari mata indah gadis itu.

Uljima, aku tidak suka saat kau menangis.” ucap Luhan lalu memeluk Hyerim erat, dan perlahan tangan Hyerim terangkat untuk membalas pelukan Luhan.

“Tapi kumohon, berhenti mencintaiku, bersamalah dengan Jinri,” bisik Hyerim dan seketika membuat Luhan lemas tetapi ia menangguk pelan, dan masih memeluk Hyerim.

****

Akkhh!! Apa yang kulakukan dengan rusa menyebalkan itu di kedai bubble tea barusan!?” pekik Hyerim sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.

Gadis itu menghempaskan tubuhnya ke kasur empuk miliknya, ia menarik nafasnya dan menghembuskannya begitu kasar. Untung saja, tempatnya dengan Luhan melakukan hal bodoh tadi tidak terlalu ramai dengan para pengunjung. Kalau ya, bisa-bisa Hyerim terlibat skandal lagi dengan pria itu.

Hyerim beranjak dari tempat tidurnya, ia berjalan ke arah meja riasnya dan bercermin. Ia dapat melihat jelas kantung matanya, semenjak ia mengambil job syuting lagi, dia memang kurang tidur, apalagi tugas kuliahnya yang terkadang menumpuk itu.

Tiba-tiba Hyerim merasakan kepalanya pusing, ia mencoba mengabaikan rasa pusingnya itu. Sampai akhirnya ia seperti kehilangan fungsi tubuhnya, hampir saja ia terjatuh kalau ia tidak memegang meja riasnya untuk menahan tubuhnya.

“Ada apa denganku?” gumamnya.

Seakan rasa pusing itu belum juga menyiksanya, tiba-tiba rasa sesak terasa didada kiri Hyerim membuat gadis itu mengerang kesakitan karena dada kirinya terasa benar-benar sakit.

Akhhh!! Ummma, appaa!! Sehunnie… Tolong akh…akhuuu,” erang Hyerim sembari meremas dada kirinya.

Keringat dingin membasahi tubuh Hyerim, ia teringat sesuatu, dulu ia pernah merasakan ini, saat dirinya berumur 14 tahun, saat penyakit menyeramkan itu menyerangnya.

Saat ia menyadari betapa berharganya dirinya yang sehat, betapa berharganya waktu yang harus ia lalui, tetapi itu sudah berlalu. Tapi kenapa semua rasa ini mengingatkan Hyerim akan kenangannya yang menyedihkan itu?

Umma…” lirih Hyerim, lalu air mata mengalir begitu saja.

****

Jinri menatap langit malam yang bertaburan bintang, ia merasa moodnya hari ini benar-benar hancur. Ia masih kesal karena perbuatan Semi di kampus tadi dan ia masih merasa Hyerim seperti menghinanya tadi, seakan menghina dirinya yang tak mungkin memiliki Luhan.

Cish! Siapa dirinya itu? Jangan mentang-mentang dirinya dikagumi banyak orang, jadi aku harus tunduk padanya!” desis Jinri saat ia mengingat Hyerim.

Tiba-tiba Jinri merasakan sakit yang amat dalam pada dada kirinya, seakan ada yang menggoreskan pisau disana, dan meninggalkan bekas luka yang sangat dalam.

Ishh!! Ada apa dengan diriku?” ucap Jinri dan lalu memegangi dada kirinya, karena entah mengapa dada kirinya terasa sangat sakit.

Aakkhh!!” erang Jinri dan lalu air matanya menetes begitu saja.

Ia tidak tahu ada apa dengan dirinya, ia seakan merasakan kesakitan seseorang, seakan ada telepati yang mengirimnya kesakitan ini, seakan ada ikatan batin yang menguatkannya dengan orang yang sedang kesakitan itu.

“Ada apa ini?” ucap Jinri dan lalu ia mulai menangis, walau ia sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

****

Luhan termenung di meja kantin, hari ini ia menjadi gloomy kembali. Tetapi ia ingat, tujuannya ke Korea selain beasiswa adalah mencari adiknya, bukan terlibat kisah cinta dengan seorang actress bernama Oh Hyerim.

Ish!” desis Luhan, lalu ia mengambil ponselnya dan menekan layar touch screennya

Eoh! Jongdae-ya!” seru Luhan saat sambungan telepon itu tersambung.

Wae?” suara Jongdae dari sebrang sana terdengar.

“Aku ingin mencari adikku, aku dengar ada panti di daerah Jamsil.”

“Kamu ingin aku menemanimu? Sepertinya aku tidak bisa, aku ada urusan keluarga di Busan,”

Luhan hanya mengerucutkan bibirnya saat mendengar respond Jongdae, selama di Korea, ia merasa sahabatnya itu jadi tidak sering bersamanya walau mereka tinggal di gedung appartement yang sama. Mungkin karena keluarga besar Jongdae tinggal di Korea, jadi lebih banyak acara berkumpul keluarga karena selama bertahun-tahun ia tinggal di China.

“Baiklah, tak apa, aku akan pergi ke sana sendiri.” ucap Luhan

“Kenapa tidak dengan Hyerim?” Jongdae berusaha menggoda Luhan dan malah membuat pria itu kembali menjadi gloomy.

Yak! Jangan sebut namanya!” Luhan berteriak berusaha terlihat sebal

“Ouuuhhh, baiklah. Sampai jumpa kekasih ehek mantan kekasih Hyerim.” ledek Jongdae lalu memutuskan sambungan tersebut, Luhan hanya berkomat kamit mengucapkan sumpah serapahnya pada sahabatnya itu.

Hyung!!!” teriakan Sehun terdengar dan lalu ia duduk disebelah Luhan.

Ehhh? Sehunnie?” Luhan sedikit terkejut akan kehadiran Sehun, Sehun hanya mengembangkan senyum manisnya.

“Sendiri saja?” tanyanya dan Luhan hanya mengangguk.

“Sehunnie, kau ingin ikut aku tidak? Aku ingin mengunjungi panti asuhan di daerah Jamsil,” ucap Luhan dan Sehun mengangguk semangat sebagai jawaban.

****

Eoh, Jinri-ya! Kau hebat sekali!” ucap Sunyoung, salah satu teman Jinri.

Suara riuh mendominasi cafe yang terletak di kawasan Apgeujong tersebut, tampak beberapa remaja sedang bercanda gurau dan berbincang-bincang sembari menyeruput minuman yang mereka pesan.

“Ahahah, kamu bisa saja, Sunyoung-ah.” ucap Jinri sedikit merendah lalu ia mengambil tas silvernya dan mamerkannya pada teman-temannya.

“Kalian tahu? Tas silver ini hasil dari gajiku menjadi actress, tas ini sangat limited.” pamer Jinri sembari tersenyum bangga dan teman-temannya hanya menatap tas itu dengan berbinar.

Semua remaja perempuan pasti menginginkan tas silver yang berada digenggaman Jinri tersebut, selain berharga mahal dan bermerk, tas tersebut juga sangat menarik dimata, intinya interesting.

“Heh, apa kalian tahu? Aku sudah mentanda tangani kontak kerja dengan Dream House Entertainmet, sebagai actress dari agensi tersebut.” ucap Jinri lagi sembari tersenyum mamerkan gigi putihnya.

Wah! Jinri-ya! Aku sungguh iri denganmuuuuu!!!” teriak Johee salah satu temannya, sementara Jinri hanya tersenyum penuh arti.

Oh cam! Jinri juga selain mentraktir kita di sini, dia ingin mengajak kita menonton konser TVXQ hari ini.” ucap Soojoong sembari tersenyum.

Eoh? Jinjjayooo!!!??? Aahhhh!” teriak teman-teman Jinri heboh.

Keurae! Kajja, kita langsung saja pergi ke Jamsil, konsernya akan dimulai jam 5 sore di Jamsil arena.” ucap Jinri lalu ia mengiring teman-temannya keluar dari cafe, setelah membayar bill dan menuju Jamsil.

****

“Anak-anak di sini sangat lucu-lucu ya, hyung,” ucap Sehun saat ia dan Luhan berada di salah satu panti terpencil di daerah Jamsil.

Luhan hanya tersenyum melihat wajah Sehun yang bahagia melihat anak-anak panti yang masih berumur 4 tahunan yang sangat lucu-lucu itu, entah mengapa, melihat Sehun tersenyum sudah membuatnya tenang dan tidak risau lagi dengan adiknya yang hilang.

Hyung, kalau kau punya anak dengan Hyerim nuna, kau harus membuat anak yang lucu-lucu seperti anak-anak di sini,” ucap Sehun.

Luhan langsung menjitak kepala Sehun, tidak habis pikir bagaimana bocah satu itu sudah berpikir sejauh itu. Sehun hanya mengelus-elus kepalanya yang dijitak Luhan, dan lalu memandang Luhan dengan kesal.

Yak! Hyung! Kenapa menjitakku!? Aku kan hanya menginginkan ponakan yang lucu-lucu.” ucap Sehun

Yak! Jangan bicarakan anak seperti itu ishh!” ucap Luhan pelan, lalu ia kembali menatap pintu ruang kepala panti, menunggu sang kepala panti keluar dari ruangan tersebut.

Lalu ruang kepala panti itu terbuka dan menampilkan seorang pria paruh baya berkacamata minus menghampiri Luhan dan Sehun.

Annyeong.” sapa pria tua itu

Annyeong haseyo ahjussi.” ucap Luhan dan Sehun lalu membungkuk hormat.

“Kalian ingin apa?” tanya pria tua tersebut ramah.

“Melihat daftar anak panti di sini.” jawab Luhan

“Oh boleh, silahkan,” ucap pria itu lalu ia mengiring Luhan masuk kedalam ruangannya, sebelum benar-benar masuk ruang kepala panti, ia menatap Sehun seakan berkata “Ingin ikut tidak?”

Sehun hanya menggeleng sebagai jawaban ia memilih menunggu saja di luar, Luhan hanya tersenyum lalu ia masuk ke dalam ruang kepala panti.

****

Hyerim mengelap keringatnya dengan handuk kecil berwarna putih. Hari ini, sehabis kuliah ia memilih untuk olahraga di salah satu gym di daerah Cheongdamdong.

Huah! Lama sekali tak berolahraga!” ucap Yoonjo, yang juga berolahraga sekaligus menemani Hyerim.

“Tubuh jadi terasa kaku,” ucap Hyerim, lalu meneguk air mineralnya sampai setengah habis.

Tiba-tiba, Hyerim merasakan rasa sakit itu lagi, entah kenapa, dada kirinya tiba-tiba sangat nyeri seperti kemarin malam. Hyerim berjongkok sembari memegangi dada kirinya, nafasnya memburu, keringat dingin bercucuran, matanya pun berair.

Yak! Kamu kenapa?” ucap Yoonjo sedikit keras karena panik, ia ikut berjongkok di hadapan Hyerim, ia menatap sahabatnya itu khawatir.

Haahh…haahhh…haahhh…” Hyerim mengatur nafasnya yang pendek-pendek itu, seakan ia sulit sekali bernafas karena rasa sesaknya itu.

“Hyerim!” ucap Yoonjo setengah berteriak karena ia sudah khawatir setengah mati melihat wajah sahabatnya itu sudah pucat pasi.

Hahhh..Yoonjo-aahhhh, ak..uuu..hahhh,” ucap Hyerim, nafasnya tidak teratur sama sekali, tiba-tiba ia merasa lemas, kepalanya pusing dan lalu semuanya menjadi gelap baginya.

“Hyerimmm!!!” teriak Yoonjo panik. Lalu ia langsung menelpon ambulan untuk membawa Hyerim ke rumah sakit.

****

Di ruangan yang di lengkapi oleh perlengkapan medis itu, terbaring seorang gadis yang tampak tak sadarkan diri dengan selang infus di tangan kanannya dan selang pernafasan.

Perlahan gadis itu membuka matanya dan menatap kesekitar, ia dapat melihat sahabatnya duduk di kursi dekat ranjangnya sembari menatapnya khawatir.

“Dokter! Hyerim sudah sadar!” teriak Yoonjo saat melihat gadis itu yang tak lain Hyerim sadar dari pingsannya.

Lalu datanglah dokter ber-name tag Shin Won Ho, memasuki ruangan tersebut. Yoonjo langsung berdiri dari duduknya dan menyingkir, agar Dokter Shin bisa memeriksa keadaan Hyerim.

Dokter Shin tersenyum kearah Hyerim saat ia sudah selesai memperiksa pasiennya tersebut, lalu ia membuka selang pernafasan Hyerim. Hyerim langsung bangkit dan duduk bersandar pada kepala ranjang.

“Ada apa denganku?” tanya Hyerim sembari menatap Dokter Shin, dokter tersebut hanya tersenyum lemah dan lalu menjawab.

“Penyakit itu kembali.”

Mendengar jawaban tersebut, membuat Hyerim merasa dihantui oleh masa lalunya yang kelam itu, disaat ia merasa setiap waktu nyawanya bisa diambil begitu saja.

“Jantung koroner?” gumam Hyerim pelan, dan Dokter Shin mengangguk, lalu ia menyerahkan suatu dokumen yang ia bawa pada Hyerim.

Hyerim langsung menyambarnya dan membacanya secara seksama, sementara Yoonjo yang mendengar itu tak kalah terkejutnya, dan mendekat pada Hyerim untuk membaca dokumen yang diberikan Dokter Shin, dokumen tentang kesehatan Hyerim sekarang.

“Kenapa penyakit ini kembali? Bukannya penyakit ini sudah hilang? Kenapa harus kembali!?” ucap Hyerim setengah berteriak, air matanya mengalir begitu saja, dokumen yang ia baca sudah terjatuh di lantai.

Yoonjo yang melihat sahabatnya begitu rapuh, langsung memeluknya dan ikut menangis. Ia tahu bahkan sangat tahu, dulu saat Hyerim berusia 14 tahun, ia memiliki riwayat mengidap jantung koroner, penyakit yang menurun dari almarhum kakeknya yang meninggal karena penyakit tersebut.

Saat itu Tuan dan Nyonya Oh sangat panik, mereka mencari solusi untuk menyembuhkan putri mereka, bahkan mereka terkadang mengabaikan putra bungsu mereka, Sehun. Sampai akhirnya Dokter Shin Won Ho mengatakan ia bisa menahan penyakit tersebut dengan pemasangan cincin.

Tuan dan Nyonya Oh langsung menyetujuinya dan pemasangan cincin pun di laksanakan. 1 tahun berlalu dan beranjak ke 2 tahun, penyakit itu tidak kembali. Tetapi pada nyatanya, penyakit itu kembali lagi sekarang.

Baksanim! (Dokter) marhaebwa! (Beritahu aku) wae? Naega wae? (Kenapa aku?) Apa salahku? Kenapa penyakit ini kembali lagi?” ucap Hyerim sembari terisak dipelukan Yoonjo.

Dokter Shin tampak menghembuskan nafasnya kasar.

“Kau tahu sendirikan, pemasangan cincin bukan untuk menyembuhkan penyakitmu, fungsinya untuk melebarkan pembuluh darah dengan menekan atau mendorong plak agar pembuluh darah menjadi lebar dan aliran darah menjadi lancar, bukan untuk membuang plak. Dan setelah 5-7 tahun, secara alami penyumbatan dan serangan jantung koroner akan kembali. Dan ini sudah 7 tahun berlalu sejak pemasangan cincin itu,” jelas Dokter Shin.

Hyerim makin histeris dalam pelukan Yoonjo, Dokter Shin hanya melihatnya dengan prihatin lalu keluar dari ruangan tersebut.

“Hye-ah,” panggil Yoonjo lalu membelai rambut sahabatnya dari kecil itu dengan penuh kasih sayang.

Gwenchana, gwenchana,” ucap Yoonjo, tangisan Hyerim mulai mereda tetapi ia masih sesegukan dalam pelukan Yoonjo.

“Yoonjo-ah, jangan beritahu appa, umma, Sehun, atau siapapun tentang ini. Aku tidak sanggup melihat mereka harus bersedih lagi,” ucap Hyerim dan dengan ragu Yoonjo menganggukan kepalanya.

****

“Anak berusia beberapa hari pada tanggal 16 April 1995? Ah kurasa aku tidak menerima anak sama sekali saat itu.”

Luhan mengehela nafas saat pencariannya kali ini gagal lagi, ucapan Sang Kepala Panti terus terngiang diotaknya. Ia lalu menoleh pada Sehun yang tertidur di sofa ruang tunggu yang berada di luar ruang kepala panti, Luhan tersenyum dan seakan bebannya terangkat begitu saja melihat lelaki itu, dan lalu ia menuju ke arah Sehun.

“Sehunnie, ireona.” bisik Luhan tepat di telinga Sehun.

Sehun terbangun dari tidurnya, ia tadi mengantuk karena terlalu lama menunggu Luhan. Sehun menggosok-gosokan matanya dan menguap lebar.

Hyung! Kau lama sekali,” rengek Sehun sembari cemberut dan Luhan hanya tertawa kecil melihat ekpresi Sehun.

Minhae, Sehunnie, kajja, kita pulang,” ucap Luhan sembari mengacak-acak rambut Sehun, lalu keduanya keluar dari panti asuhan tersebut.

Sunbae,

Saat Luhan dan Sehun melewati Jamsil arena yang dipadati oleh beberapa orang yang sebagian besar penggemar berat boyband terkenal TVXQ. Sebuah suara perempuan memanggil Luhan, Luhan menoleh dan mendapati Jinri tersenyum lebar padanya. Jinri dan teman-temannya sedang mengantri untuk menonton konser TVXQ yang di selenggarakan di Jamsil arena, dan konser akan dimulai setengah jam lagi.

Eoh? Jinri? Annyeong.” Luhan menyapa Jinri dengan senyum manisnya.

Jinri tersenyum lebar, lalu berlari kearah Luhan, dan bergelayut manja ditangan kanan pemuda itu. “Sunbae, kau ingin ikut menonton tidak?” tanyanya.

Luhan merasa risih akan sikap Jinri, sementara Sehun hanya memasang wajah datarnya.

“Ah aku..—”

“Sehunnie.” panggil seorang gadis dari arah belakang dan memotong ucapan Luhan barusan.

Mereka bertiga menoleh kebelakang dan mendapati Hyerim keluar dari mobilnya bersama dengan Yoonjo. Penampilan Hyerim sedikit berantakan, wajahnya juga agak kurang ceria, tetapi ia tetap memasang senyumannya dan melangkah perlahan menuju Sehun.

“Kenapa Hyerim ada di sini?” bisik Luhan pada Sehun.

“Tadi aku meng-smsnya untuk datang ke sini menjemputku.” jawab Sehun, sementara Jinri hanya menatap dongkol Hyerim.

“Ayo kita pulang,” ajak Hyerim hendak menarik tangan adiknya, tetapi malah ditahan oleh Luhan.

Hyerim hanya berdesis dan lalu menatap tajam ke arah Luhan. “Apa maumu?” tanyanya sinis

“Aku yang akan mengantarkan Sehun pulang, aku yang mengajaknya ke sini, dan aku yang akan membawanya pulang juga.” ucap Luhan tenang sembari tersenyum.

Sebenarnya Hyerim malas sekali berdebat dengan Luhan, ia benar-benar pusing, dan tidak mau membuang tenaganya dan lalu menyebabkan penyakit jantungnya yang kembali lagi itu kambuh. Hyerim tahu apa penyebab ia pingsan ditempat gym tadi, karena ia terlalu over saat berolahraga dan akhirnya ia pingsan karena penyakitnya. Jadi sekarang, ia tidak ingin pingsan untuk kedua kalinya hari ini karena berdebat dengan pria itu.

“Urusi saja pacar barumu itu, Lu,” ucap Hyerim lemah, tidak seperti biasanya dan lalu ia meraih tangan Sehun dan menariknya.

“Hyerim-ah!” teriak Luhan, menghentikan langkah Hyerim maupun Sehun. Hyerim menoleh lagi padanya.

“Apa?” ucap Hyerim

Luhan tampak memejamkan matanya lalu membukanya kembali, ia menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia menatap Hyerim seakan berkata “Aku akan menunjukannya sekarang.”

Hyerim hanya menaikan sebelah alisnya, Jinri yang masih melingkarkan tangannya pada tangan kanan Luhan hanya memandang pria itu. Luhan lalu menatap Jinri dalam dan tersenyum secara paksa.

“Maukah kau menjadi pacarku, Choi Jinri?” ucap Luhan.

Membuat Jinri, Yoonjo, Sehun, dan teman-teman Jinri yang sedari tadi menyaksikan apa yang terjadi hanya memandang Luhan dengan terkejut. Tanpa ragu sekalipun Jinri mengangguk sembari tersenyum senang.

“Aku mau,” jawabnya semangat.

To Be Countinued

Sorry for late update ahahah beberapa kali ini aku lagi dilanda males share FF sorry ya^^. And last don’t forget RCL

Advertisements

3 thoughts on “Complicated Fate Part 7 [Why It’s Happen to Me?] – by HyeKim

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s