[Ficlet Series] 문열어봐 (Here I Am) – FOUR {Piece by piece pt.1}

artwork-70

ParkSeungRiHae storyline present

Title: 문열어봐  [Here I Am]

Subtitle: FOUR – Piece by piece pt.1

Main cast: Oh Sehun and Kim Yerim (Yeri)

Length: Ficlet-Series

Rating: General – PG 13

Summary:

I’m still here, waiting for you

Poster by @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

Disclaimer: Ide awal cerita ini terinspirasi dari lagu ‘Here I Am’ yang dinyanyikan oleh Kim Jong Woon atau Yesung Super Junior yang jadi main song di album mini pertamanya. Selain dari garis besar lagu itu, cerita dikembangkan dari imajinasi author sendiri, jadi apabila ada kesamaan dengan cerita lain, jangan bilang aku plagiator karena aku juga jarang baca FF dan sekadar senang membuat FF doang.

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!! SHOW US SOME RESPECT! Tolong tuliskan komentar atau apapun itu di kotak komentar untuk membangun author menjadi lebih baik lagi karyanya. Gamsahamnidaa..

Love, Euri

HAPPY READING ^^

“Kau sudah mendapatkan Keluarga Kim, Jin?”

Seorang pria yang tergolong masih sangat muda yang dipanggil Jin itu menggeleng. “Animnida, Tuan Muda. Kami belum menemukannya.”

Brak.

Seorang pemuda yang duduk di ujung meja panjang itu menggebrak meja kuat-kuat melampiaskan rasa kesalnya. “Omong kosong apalagi, ini?!  Aku sudah memberikan uang, senjata, akomodasi, dan juga uang upah kalian dibayar di muka namun kalian masih belum bisa menemukannya?” teriaknya dengan seluruh tenaga yang ia punya.

‘Tuan Muda’ itu langsung jatuh terduduk di atas kursi kebesarannya. Tangan kanannya mengurut pelipis kuat-kuat. “Aku akan memberikan kau waktu 24 jam untuk menyelesaikan masalah ini. Pastikan semuanya beres dan bersih. Jangan sampai polisi bisa mengendus keberadaan kita. Arra?” ucapnya dingin.

Sekelompok pria dengan setelan serba hitam yang berdiri tegap patuh di depan ‘Tuan Muda’ langsung membungkukkan badannya. “Mengerti, Tuan Muda. Akan kami selesaikan.”

“Keluar kalian semua. Aku butuh istirahat.”

Dengan sigap serta patuh, semua orang bawahan ‘Tuan Muda’ itu keluar serentak dari ruang makan luas bergaya Eropa abad pertengahan tersebut. Pintu ditutup menimbulkan derit yang lumayan kencang dari kusen yang mulai dimakan usia itu.

“Tuan Muda, ada telepon untuk Anda.”. Kepala Jin menyembul dari balik pintu setinggi 5 meter itu. Pemuda itu mendengus kesal. “Arasseo. Sambungkan ke saluran 1.”

‘Tuan Muda’ meraih gagang telepon kuno yang terletak di pojok ruang makan yang menyerupai bar kecil yang antik.

What’s goin’ on?” tanyanya gusar. Pikirannya masih semrawut kemana-mana. Bagaimana pun juga, keluarga Kim harus secepatnya dibereskan.

“Red code. Aku tak bisa melakukan apa-apa. Eagle ada di samping mereka. Buntu.”

Ia mendesis kesal. “Bagaimana bisa?! Bisakah kau memikirkan jalan lain? Aku sudah menggajimu!” teriaknya.

“Kau tahu Eagle sulit sekali diperdaya. Bagaimana aku bisa memberikan celah bagi kalian untuk melakukan pekerjaan membersihkan jika seperti ini?”

“Aku tidak perlu tahu dan tidak mau tahu bagaimana kau akan melakukannya. Tim Alpha akan segera kesana dalam 24 jam untuk membereskan segalanya. Hanya 24 jam untuk waktumu atau kau akan berakhir di perkuburan kumuh di pinggir kota Manhattan. Apakah kau mengerti, Violet?”

Ne.. Algesseumnida..” ucap gadis bernama Violet itu dengan suara bergetar. Jelas sekali, dia sangat ketakutan dengan Sang Tuan Muda.

“Hem… Oh Sehun, kenapa kau mulai menganggu rencanaku lagi??” gumamnya sinis sembari memejamkan mata. Berusaha mengusir bayang-bayang rasa takutnya ketika tahu rencananya mungkin akan gagal jika Oh Sehun masuk ke dalam operasi ini.

Karena Oh Sehun adalah satu-satunya rintangan terbesar yang pernah ia hadapi.


Sehun bolak-balik dari mobil ke dalam flat sederhananya memindahkan segala barang kepunyaan Keluarga Kim. Pemuda itu sengaja menyuruh Nyonya Kim, Yeri, dan Hyorin agar tidak membantunya mengangkat-angkat koper yang bisa dibilang sangat berat itu. Ia menyuruh mereka beristirahat saja agar nanti bisa membereskan barang-barang mereka ke tempatnya.

Nyonya Kim tersenyum melihat betapa cekatannya Sehun dalam bekerja. Yeri di sebelahnya juga ikut memperhatikan dengan hati yang bergemuruh. Jika saja, pemuda tampan dan juga cekatan dalam bekerja ini masih bisa tersenyum tulus padanya, mungkin beban hidup Yeri akan menjadi sedikit lebih ringan.

Ia bahkan tak mengerti kenapa takdir membuatnya kembali terdampar disini bersama Sehun. Tinggal satu atap pula. Mimpi buruk apa Yeri semalam.

“Ah, dia sangat tampan jika dilihat-lihat lagi, benarkan Yeri?” ucap Nyonya Kim masih dengan raut terkesima. Netranya tak pernah lepas dari siluet jangkung pemuda itu.

Yeri tersenyum kecut. Sehun memang tampan. Dan salah satu faktor itu juga yang membuatnya jatuh hati di samping karena kehangatan hati pemuda itu. Ya, hatinya yang hangat merupakan faktor utama kenapa Yeri bisa begitu mencintai Sehun tanpa tergerus oleh aliran waktu.

Hyorin cemberut duduk di samping Yeri. Hatinya masih dag-dig-dug tidak keruan melihat kenapa Sehun bisa ada disana.

Sial! Dia mengetahui rahasia terbesarku..

Eomeonim, aku sudah memindahkan seluruh barangnya ke ruang tamu. Silahkan, kau bisa memulai menatanya sesuai yang kau inginkan. Asalkan kau tidak mengatur kamarku juga yang berantakan.”. Sehun tersenyum lebar ke arah Nyonya Kim menampilkan deretan gigi putih rapinya. Nyonya Kim tersenyum bahagia seolah-olah dia sudah mendapat jackpot. Nampaknya, wanita itu bahkan sudah menganggap Sehun sebagai menantunya.

Menantu?

“Ah.. jika saja kau mau menjadikan Yeri sebagai istrimu, aku akan sangat senang. Apalagi, kau akan memenuhi janjimu kepada suamiku juga..”. Nyonya Kim tertawa bahagia. Untuk kesekian kalinya hari ini, Sehun benar-benar bisa melihat seluruh pribadi Yeri nampaknya berasal dari ibundanya itu.

Menyenangkan, penuh kehangatan, suka meluapkan kegembiraannya, dan sangat manis di mata Sehun.

Nyonya Kim menepuk-nepuk bahu Sehun. “Aku pikir itu akan menjadi bahan pertimbangan yang bagus. Sepertinya, anakku Yeri juga menyukaimu..” bisik Nyonya Kim bermaksud bercanda. Namun, Sehun langsung mematung. Melihat Yeri kini menatapnya canggung dan malu disana, selayaknya tahu apa yang baru saja dibisikkan ibunya kepada Sehun.

Aku sudah tahu, Nyonya, jika Yeri memang masih menyukaiku.., bisik Sehun dalam hati membalas perkataan Nyonya Kim.

“Hyorin-ah! Bantu aku membereskan barang-barang..”

Hyorin menatap ibunya dengan tidak setuju. “Bagaimana dengan Yeri? Masa hanya aku?”

“Ahh.. anak nakal, sudahlah, biarkan Yeri lebih lama sebentar disini..”. Nyonya Kim mengerlingkan mata ke arah Yeri. Bermaksud menyuruh anaknya kembali berduaan dengan Sehun. Yeri menatap Sehun takut-takut.

Lagi, pandangan sedingin es itu menusuk hatinya langsung. Gadis itu meneguk ludahnya sendiri. Pandangannya beralih ke arah Hyorin yang sedang tersenyum masam dan melemparkan pandangan penuh kebencian ke arahnya.

Aduh.. usul eomma sangat bagus, tapi, Hyorin akan marah habis-habisan padaku..

Ani, eomma, biarkan Hyorin eonni yang beristirahat, aku sama sekali tidak lelah.” kilah Yeri seraya meringis karena dia telah membuat sebuah kebohongan. Hatinya seperti biasa langsung merasa sangat bersalah, apalagi ini dalam rangka membohongi ibunya sendiri.

Hyorin tersenyum penuh kemenangan. Alis Sehun bertautan melihat adegan di hadapannya. Kenapa Hyorin tampak seperti kakak tiri yang begitu jahat?, hal ini sungguh mengganjal hati Sehun.

“Ayo, ayo, Hyorin, kita harus bergegas.”. Nyonya Kim sama sekali tak menggubris alasan Yeri dan cepat-cepat mendorong Hyorin untuk masuk ke dalam rumah.

“Aku-tidak-mau-eomma!” teriak Hyorin menekankan setiap perkataannya. Membuat Nyonya Kim terkejut akan kelakuannya. “Ada apa denganmu!?”

“Aku akan menunggu disini berdua dengan Sehun. Aku dan Sehun saja.”

Nyonya Kim membulatkan matanya. “Kau menyukainya juga? Dia jauh lebih muda darimu, Hyorin..” marah Nyonya Kim. “Kenapa eomma hanya memikirkan Yeri saja? Tidakkah seluruh raut wajahku terbaca olehmu jika aku cemburu setengah mati melihat Yeri begitu kau banggakan di depan Sehun?”

Kilatan mata Nyonya Kim menyala-nyala bagaikan api yang berkobar. “Eomma! Sudahlah.. kumohon, kenapa kalian sekarang hampir bertengkar?? Aduh, aku baik-baik saja. Sudahlah, Hyorin eonni, kau beristirahat saja disini mengobrol dengan Sehun-ssi..”

Yeri buru-buru mendorong ibunya masuk ke dalam setelah sebelumnya tersenyum kikuk ke arah Sehun dengan maksud meminta maaf.


Sehun mematung di tempatnya. Tepat di sebelahnya, Hyorin berdiri dengan maksud sedikit menggoda Sehun. Yah, mungkin ini kebiasaannya sebagai wanita jalang.

“Apa yang kau lakukan disini, Hyorin?” ucap Sehun kaku. Hyorin malah semakin melingkarkan tangannya ke bahu Sehun dan mengelus dada bidang pemuda itu. Memprovokasinya.

“Lepaskan.”

“Kau yakin?”. Sungguh, nadanya yang serak basah itu cocok sekali membuatnya menjadi seorang gadis penghibur.

“Lepaskan tangan hinamu itu. Dasar gadis jalang!” bentak Sehun kasar. Hyorin menjengit kaget.

“Jaga kata-katamu, Oh Sehun!” ucap Hyorin setengah berteriak. Namun, buru-buru, Hyorin menelan kembali teriakannya setelah melirik takut ke arah dalam flat. Untung saja, Nyonya Kim dan Yeri tidak menyadarinya.

“Untuk-apa-kau-kesini?”. Sehun kini memotong-motong setiap perkataannya dengan penekanan nadanya tak main-main. Hyorin membulatkan matanya. Tatapan tajam Sehun sungguh membuat dirinya terintimidasi sekaligus terkagum.

Ya, Hyorin benar-benar jatuh cinta terhadap Sehun seperti apa yang telah ia katakan kepada ibunya dan Yeri tadi. Ia tidak main-main. Dan ia bersungguh-sungguh.

“Aku kakak Yeri.”

“Sejak kapan?”. Suara Sehun menjadi serak menahan amarah. Kilatan matanya penuh dengan kobaran emosi yang tak bisa padam. Sehun sungguh membenci gadis di hadapannya kini yang sedang menggodanya.

“Aku memang anak mereka.”

Liar.” kecam Sehun. Hyorin tersenyum miring. “Kau tak percaya?”

“Kau bukan anak keluarga Kim. Jika kau memang anak mereka, apa yang kau lakukan disana waktu itu?”

Hyorin membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin dia masih mengingat hal itu?

“Jangan kaget Nona Hyorin, ingatan seorang Oh Sehun memang sangat kuat. Jadi jangan kaget jika aku masih belum melupakan saat itu..”

“Sehun-ah, kemari..”

Sehun menuruti apa perintah Ayahnya dengan mendekat ke samping Ayahnya. Dalam pandangannya, terdapat dua orang wanita, yang satu masih muda dan yang satu kira-kira memasuki usia setengah abad.

“Kau sudah mengenal Nyonya Kim bukan?”

Sehun mengangguk. Ya, dia sudah mengenalnya. Ini Nyonya Kim yang mempunyai toko peralatan tulis di dekat sekolah. “Annyeong hasimnikka.” ucap Sehun dingin tak bersahabat Melihat ke dalam mata Nyonya Kim saja, Sehun bisa merasakan adanya unsur kelicikan yang kuat dipendam disana.

“Ini anakku..”

Gadis di samping Nyonya Kim mengangguk hormat. Sehun tersenyum sekenanya saja hanya untuk sopan santun. Tapi, tak Sehun sangka, efek senyumannya bisa dibilang lebih besar dari apa yang ia kira.

“Hyorin imnida.. Kim Hyorin.”. Gadis yang rupanya bernama Hyorin itu mengulurkan tangannya. Sehun menyambutnya secara cepat dan juga melepasnya dengan cepat.Hyorin merasakan ada kupu-kupu yang beterbangan di perutnya. Menggelikan namun juga menyenangkan. Tak ia rasakan, pipinya bersemu merah.

Sehun duduk di samping Ayahnya begitu mereka semua duduk. Hyorin diam-diam terus memperhatikan Sehun. Pemuda itu tahu dirinya sedang diperhatikan, tapi ia memilih untuk acuh. Hyorin sama sekali bukan tipenya. Hanya Yeri, satu-satunya gadis yang pernah ia sukai dengan segenap hatinya. Namun, sayangnya, dia bahkan sudah menjadi istri sah orang lain. Ironis memang.

“Anakku akan pindah kesini mulai bulan depan, dan aku menyekolahkan dia di Manhattan International School seperti Sehun. Aku hanya ingin mengenalkan Sehun pada Hyorin agar dia tak terlalu canggung disana nanti.”

Tuan Oh mengangguk-angguk dengan senyuman puas di bibirnya. Alis Sehun bertautan melihat tatapan Hyorin semakin intens memperhatikannya. Entah kenapa, itu membuat dirinya sangat risih.

“Dan, Je Hwa, aku.. akan membicarakan bisnis denganmu.”

Tuan Oh mengendikkan bahunya. “Silahkan saja. Sehun-ah, ajak Hyorin keluar jalan-jalan.”

“Ani. Biarkan mereka tetap disini. Karena bisnisku juga menyangkut mereka.”

Tuan Oh menaikkan sebelah alisnya bingung. “Ada apa kau menyeret-nyeret anakku?”

“Jika kau mau bisnis gelapmu itu tidak ketahuan oleh siapapun di negeri ini, kusarankan kau bersedia menikahkan anakmu dengan Hyorinku ini.”

Bisa dibilang, Tuan Oh dan Sehun benar-benar terkejut. Namun, keduanya mempunyai raut dingin alamiah mereka yang mampu menyembunyikan ekspresi hati mereka yang sebenarnya. Jadi, mereka tampak seperti bergeming saja mendengarnya.

Nyonya Kim memajukan posisi duduknya. “Buat Hyorin menjadi istri pewarismu selanjutnya itu.” ancamnya. Tuan Oh berpikir sejenak.

“Tidak bisa. Aku tidak bisa menyerahkan Sehunku kepada anakmu. Tidak, terima kasih.” tolaknya tegas. Sehun langsung bersyukur dalam hati. Sungguh, penampilan Hyorin yang serba terbuka itu membuatnya muak dan ingin muntah.

Nyonya Kim menggeram kencang. “Je Hwa! Bukankah kau bisa dibilang tak tahu terima kasih? Sudah berapa kali aku menyelamatkanmu dari meja interogasi polisi?”

“Tapi, aku tidak memintamu sama sekali, In Young.” balas Tuan Oh cepat.

Nyonya Kim membisu. Hyorin di samping ibunya berharap-harap cemas. Hatinya masih berdoa semoga saja Tuan Oh menarik ucapannya kembali.

“Aku sudah mengabdi kepadamu selama berpuluh-puluh tahun hingga membuatku pecah kongsi dengan suamiku sendiri! Dan ini caramu untuk tidak berterima kasih?”

Tuan Oh diam saja. Sehun angkat bicara. “Aku memang tidak ingin menikahinya jika bukan karena cinta. Jadi, jangan paksa aku, Nyonya.”

“Kau! Lancang sekali kau mengatakan itu kepadaku!”

“Aku hanya mengatakan apa yang aku rasakan sebenarnya.” tegas Sehun. Pemuda itu lalu langsung pergi melangkah keluar.

#skip

“Aku gagal menyelundupkan Hyorin ke dalam jaringan mereka. Apa yang harus aku lakukan?” bisik Nyonya Kim melalui telepon. Mereka berdua masih berada di beranda mansion Oh yang luasnya hampir setara dengan satu perumahan besar.

Tak mereka sangka, Sehun yang kebetulan lewat segera bersembunyi di balik pilar seraya memasang telinganya baik-baik. Jantungnya berpacu cepat.

Menyelundupkan?, Sehun kian memasang telinganya baik-baik.

“Membawa Hyorin kesana juga? Dia bahkan baru tiba..” lirih Nyonya Kim. Hyorin yang hanya diam di sampingnya mulai tampak ketakutan juga.

“Bawa dia untuk Tuan Muda?”. Suaranya tercekat. Matanya mulai berkaca-kaca.

Telepon ditutup. Hyorin menatap panik ibunya yang sudah menangis.

“Kenapa, eomma? Apa yang terjadi?”

“Kau harus melapor kepada Tuan Muda sekarang juga. Melakukan pekerjaan ‘kasar’.” terangnya tersendat-sendat diiringi sesenggukan. Hyorin menatap ibunya dengan tidak mengerti.

“Apa maksudmu dengan pekerjaan kasar?”

“Menjadi wanita penghibur bagi Tuan Muda.”

Glek.

Hyorin menelan ludahnya sendiri. Apa itu artinya…

“Menjadi wanita jalang?” tanya Hyorin serak. Ibunya mengangguk. Hyorin merasakan seluruh badannya melemas. Ia terduduk seraya terisak. Apakah masa depannya akan menjadi suram seperti ini? Kenapa ibunya sendiri malah layaknya menjualnya?

#skip

Sehun masih terus mengikuti Nyonya Kim dan Hyorin karena rasa penasarannya yang tinggi. Ia meminggirkan motornya begitu melihat mereka berdua menghentikan taksinya di depan sebuah bar.

Perlahan tapi pasti, Sehun melangkahkan kakinya ke dalam bar yang nampak mewah itu. Di depan pintu masuk, dia dicegat satpam. Sehun dengan tenang menyerahkan beberapa puluh ribu won ke dalam tangan si satpam dan ia dapat berlalu dengan mudah. Ironisnya dunia semua seakan bisa dibeli dengan uang.

Suara musik yang berdentum kencang bak akan memecahkan gendang telinga, suara racauan orang-orang yang sudah mabuk disana-sini, dentingan gelas beradu untuk orang yang banyak bersulang, kepulan asap rokok yang membaur, serta wanita-wanita… yah, kau tahulah, yang semacam itu.

Sehun meneguk ludahnya sendiri melihat para wanita berpakaian minim itu semua. Bagaimana pun juga, dia seorang lelaki yang pasti mempunyai nafsu yang sama dengan seluruh lelaki lainnya.

Matanya menyipit berusaha mencari keberadaan Hyorin beserta Nyonya Kim yang notabene memang orang kepercayaan Ayahnya. Sehun mengambil segelas wine merah yang diedarkan pelayan kesana kemari dengn sekali sabet. Ia berusaha nampak berbaur dengan yang lain namun pandangannya masih tak bisa lepas.

Nyonya Kim tampak menghampiri seorang pemuda berbadan besar dan kekar sehingga menjadikannya terlihat seperti raksasa, ia membisikkan sesuatu di telinganya. Pemuda itu langsung mengangguk-angguk kala Nyonya Kim baru selesai bicara dengannya.

Ia mengarahkan Nyonya Kim dan Hyorin masuk ke dalam sebuah ruangan lagi yang dijaga oleh beberapa bodyguard bertubuh besar. Dengan penasaran, Sehun mengintip dari sela-sela pilar yang menjaga bangunan itu tetap berdiri kukuh.

Apakah itu Tuan Kim yang memang menjadi musuh Ayah?, Sehun berusaha berpikir. Mengulang kembali ingatannya tentang beberapa hal penting terkait dengan usaha jaringan mafia kejam milik keluarganya itu.

Aku sebaiknya bergegas memberitahu Ayah bahwa Nyonya Kim telah berkhianat kepada kami..

Komen juseyoo.. Gamsahamnidaa..

Much love, Euri

 

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s