[Oneshot] 하루 (Sequel) – Eunhyuk’s Story

Haru Eunhyuk.jpg

ParkSeungRiHae Storyline present

Title: 하루 [Sequel] – Eunhyuk’s Story

Cast: Lee Hyukjae, Kim Hyoyeon, Cho Kyuhyun

Rating: PG 15

Cover by: ParkSeungRiHae artline

Summary:

“Ya!! Pakailah matamu, Gadis Gila!!” teriak seorang pemuda dengan marah karena seorang gadis sukses membuat segunung tumpukan buku di tangannya berhamburan kemana-mana.

“Ah,choisonghaeyo,aku benar-benar tidak sengaja. Aku harus buru-buru maafkan aku..”

Pemuda itu mendengus kesal begitu melihat gadis yang menabraknya tadi pergi begitu saja tanpa tanggung jawab.

“Cih, dasar gadis serampangan.”

~ 하루 [Sequel] START~

“Omo.. aku terlambat.” keluh seorang gadis yang berpenampilan tomboy itu.

Dia berlari sekencang mungkin menuju halte bus karena melihat bus yang akan dinaikinya sudah datang. Bus itu akan meninggalkannya jika setengah menit kemudian tidak ada yang naik.

“Oh, astaga!!” teriaknya putus asa. “Ahjussi!!! Tunggu!!”

Supir bus itu tanpa hati meninggalkan Hyoyeon yang terengah-engah di halte bus. “Eish.. hidup ini tidak adil.” keluhnya.

Drrt.. drrt..

Yeoboseyo?”

“Ya!! Kim Hyoyeon!! Apa yang kau pikir sedang kau lakukan sekarang hah??!” teriak orang di seberang sana. “Operasi akan segera dimulai dan dokter anestesi kita malah belum datang!! Bagaimana bisa kau melalaikan nyawa seorang pasien??”

Mianhada, Hyukjae-nim. Aku akan segera kesana. Aku ketinggalan bus dan sekrang aku sedang…” Hyoyeon berusaha menjelaskan.

“Aku tidak peduli!! Bagaimana pun juga,kau harus datang sekarang!”

Tut… tut..

“Hehhhhh… aku bisa gila!! Biasakah dia tidak berteriak padaku dan memperkeruh suasana? Dasar dokter gila!”

Drrt.. drrt..

Hyoyeon memutar matanya dengan kesal.

“Apa lagi?!” teriak Hyoyeon kesal.

“Em, Hyoyeon-ssi..”. Hyoyeon mengerutkan alisnya bingung. Ia menatap layar ponselnya sejenak. Matanya membulat kaget.

“Ah,choisonghamnida, Kyuhyun-ssi.. aku terlalu emosional pagi ini.” Hyoyeon merasakan jantungnya mulai berpacu berirama.

Ani, gwaenchanayo.. kulihat kau terlambat ya?”

“Ah,ne.. aku sedang mencari taksi.”

“Tidak usah. Kau naik saja ke mobilku.”

Ne?”

Sebuah sedan hitam menepi ke pinggir jalan tepat di samping Hyoyeon. Gadis itu  sesaat termangu. Namun, detik berikutnya, mulutnya menganga sempurna seperti ikan mas koki.

Kajja, aku akan mengantarmu.”. Hyoyeon mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ah.. Kyuhyun-ssi.. bagaimana bisa anda disini?”

“Aku hanya kebetulan lewat dan melihatmu berjalan begitu saja seperti orang hilang.”

“Ah, kau menyelamatkanku, Kyuhyun-ssi. Cepat, aku akan terlambat untuk operasi.”. Kyuhyun terkekeh. Tadi, Hyoyeon benar benar rikuh sekali dan tiba tiba memerintahnya sebagai supir pribadi. Dia benar benar langka.


“Ah, aku masih sempat.” ujar Hyoyeon begitu sampai di depan ruang operasi.

“Apanya yang masih sempat?” ujar seseorang di belakang Hyoyeon dengan nada mencekam. Hyoyeon memejamkan matanya sendiri. Ia tahu suara siapa ini.

“Hyukjae-nim.. senang bertemu dengan anda pagi ini. Aku sudah mempersiapkan sega..”

“Operasinya sudah selesai.” ucapnya dingin. Hyoyeon menganga. “Su..suda..sudah selesai??” tanya Hyoyeon tidak percaya. “Apakah semua berjalan dengan lancar?”

Hyukjae berjalan meninggalkan Hyoyeon setelah melemparkan tatapan dinginnya tanpa sepatah kata lagi.

Hyoyeon menatap dengan sedih punggung Hyukjae yang semakin menjauh darinya.

Apakah aku selalu menimbulkan masalah untuknya?

“Kau masih tetap akan mencintainya, huh?”

Hyoyeon menoleh dengan cepat. Ia bisa melihat senyuman miris pemuda di depannya.

“Aku sudah bilang padamu kalau dia tidak punya hati sama sekali.”

Arasseo.. aku akan tetap mencintainya Kyuhyun-ssi, walaupun dia selalu memaki, memarahiku, melemparkan tatapan sinis padaku. Mungkin itu yang namanya keajaiban cinta.”

#skip

Tik. Tok. Tik. Tok

Jarum jam terus berdetak mengisi keheningan rumah sakit malam itu. Hyoyeon terlelap dengan damainya di atas meja kerjanya. Operasi seharian tadi membuat ia begitu kelelahan.

Krieett…

Tap.. tap..

“Hyoyeon-ah..”

Sebuah tangan kekar menyentuh wajah Hyoyeon dengan pelan. Berusaha merapikan anak rambut yang begitu halus membingkai wajahnya. Ia menatap beberapa lama wajah Hyoyeon yang damai dan cantik itu.

“Kenapa kau harus datang dalam kehidupanku, Hyoyeon-ah? Apakah aku harus selalu menyakitimu? Astaga.. kenapa aku hatus menyelinap malam malam begini.” desahnya perlahan. Helaan napasnya menandakan ia begitu putus asa.

“Kau harus menjaga dirimu baik baik. Aku tidak akan pernah menganggumu lagi, Hyo-ah.. Saranghanda. Mianhago..”

Terakhir.

Dia mengecup pipi Hyoyeon pelan. Pemuda itu menyentuh bibirnya pelan lalu tersenyum hangat. Senyuman yang tak pernah ia tunjukkan dan tujukan kepada Hyoyeon yang ia tahu akan mencintainya sampai kapanpun.


“Eng? Kenapa dia belum juga datang?”

Hyoyeon celingukan kesana kemari mencari Dokter Lee Hyukjae. Tangannya mengenggam erat sebuah cup kopi dengan uap yang masih mengepul.

“Dia tidak biasanya terlambat..” gumam Hyoyeon pelan. Pandangannya beralih ke cup kopi yang ada di tangannya. Apa mungkin dia menghindariku?

“Dokter Kim? Apakah kau mencari seseorang?” sapa seorang suster yang mengagetkan Hyoyeon.

“Ah.. aniyo..

Suster itu tersenyum dan menundukkan kepalanya sendiri dan pergi meninggalkan Hyoyeon.

“Ah..jeogiyo.. (maaf)”

” Ne, ssaem?”

“Apakah kau melihat Dokter Lee yang spesialis penyakit dalam?”

“Oh.. Dokter Lee Hyukjae sudah pindah dari sini, Dokter Kim.”

Mwo?? Pindah?? Kau bercanda denganku kan?” ujar Hyoyeon shock. Suster itu menggeleng. “Aku tidak bercanda,ssaem.”

“Pegang ini.” Hyoyeon memberikan cup kopi itu kepada suster tersebut yang menerimanya dengan bingung. Hyoyeon tidak mempedulikan lagi pertanyaannya. Ia segera berlari dengan sekuat tenaga yang ia punya.

“Ayo angkat, Lee Hyukjae.. kau tidak boleh pergi tanpa berpamitan denganku kau Pemuda Gila!!” teriak Hyoyeon dengan putus asa. Bibirnya bergetar menahan tangis. Bagaimanapun juga, Hyukjae adalah cinta pertama dan terakhirnya.

Nomor yang Anda tuju tidak bisa dihubungi cobalah beberapa saat lagi..

“Huah.. aku bisa gila!!!”

Hyoyeon dengan lesu masuk ke dalam kantor para dokter. Matanya menatap dengan lesu meja kerja Hyukjae yang sudah bersih tanpa selembar berkas pun.

Tangan mengelus meja kerja Hyukjae yang sudah bersih itu.

Memori dalam benaknya otomatis mengulang apa saja yang pernah dilakukan Hyukjae ketika bekerja di meja itu.

Hyoyeon bisa melihat betapa damainya wajah seorang Lee Hyukjae yang tertidur di atas meja itu dengan posisi telungkup.

“Bagaimana bisa dia meninggalkanku tanpa mengatakan apapun?”


Sudah beberapa bulan, hidup Hyoyeon benar-benar hampa. Tanpa Si Galak Lee Hyukjae.

“Hyoyeon-ssi, kita harus segera mengoperasi seorang pasien.”. Suara Kyuhyun memecah lamunan Hyoyeon. Gadis itu langsung menoleh. “Ne? Eoh, baiklah..”

Kyuhyun memandang Hyoyeon dengan prihatin. Ia begitu mengerti perasaan Hyoyeon. Namun, ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantunya. Walaupun ia tahu, kemana Hyukjae pergi.

Jangan katakan padanya dimana aku berada. Aku sudah bicara kepada seluruh staff dan juga para dokter dan suster. Hanya tersisa kau yang mungkin sekali akan membocorkannya pada Hyoyeon. Aku memohon kepadamu kali ini. Biasanya aku takkan sudi meminta dan memohon apapun padamu, Kyuhyun-ssi.

Kenapa kau melakukan ini?

Aku harus pergi menjauhi Hyoyeon. Aku hanya akan membuatnya terluka lebih lagi. Aku akan menikahi anak presdir Rumah Sakit Heenam satu bulan lagi.

Kenapa kau melakukannya??, ujar Kyuhyun shock. Hyukjae tersenyum dengan miris ke arahnya. Karena dengan begitu, aku akan meraih apa yang telah diharapkan ibuku padaku bertahun-tahun yang lalu sebelum ia meninggal. Presdir akan mewariskan rumah sakit itu padaku jika aku menikahi putrinya,  Lee Ji Eun.

Semakin kau menjauhinya, kau akan membuatnya lebih menderita, apakah kau tahu itu??

Kyuhyun menghela napasnya berusaha meredakan amarah yang menggelegak dalam hatinya. Apakah kau menyukainya?, pertanyaan klise, tapi Kyuhyun merasa harus menanyakannya. Hyukjae memandang Kyuhyun dengan ragu sejenak. Apakah kau memang perlu tahu hal itu?

Tinggal katakan, atau aku tidak akan melakukan apa yang kau minta.

Hyukjae menyerah. Aku mencintainya lebih dari yang kau tahu.

Kenapa kau tidak berusaha melakukan sesuatu untuk membahagiakannya walaupun hanya satu hari? Setidaknya, kau bisa memberikannya kenangan manis tentang cinta pertama dan terakhirnya.

Aku tidak bisa, itu akan membuat hatiku semakin tersakiti. Aku juga tidak ingin membuatnya begitu bahagia lalu langsung menjatuhkannya begitu saja di akhir hari. Aku tidak akan melakukannya.

Kyuhyun menatap Hyukjae dengan tajam. Setidaknya, beritahu dia kalau kau pernah menyukainya. Jangan biarkan dia terus menjadi seorang pelaku cinta sepihak!

Apakah itu akan berpengaruh? Kurasa sama sekali tidak. Sudahlah, jika kau tidak mau melakukannya.

“Kenapa kau menatapku seperti itu? Cepatlah, kita harus bergegas. Jangan membuat pasien bertambah stress.”

Hyoyeon menarik tangan Kyuhyun dan berlari menuju ruang operasi.

Lampu operasi menyala. Hyoyeon sempat melihat seorang gadis yang seusia dengannya duduk di kursi tunggu di depan ruang operasi. Mengepalkan tangan di depan dadanya. Matanya menutup dengan rapat. Aliran air mata terlihat dengan jelas di pipi putihnya. Mulutnya merapalkan beberapa doa untuk keselamatan seseorang yang ia cintai.

“Kumohon, selamatkan dia..”

NAMA PASIEN: LEE DONGHAE


Suasana pemakaman hari itu benar-benar mendung. Cuaca yang gelap berawan benar-benar menggambarkan hati para pengiring peti jenazah yang akan dikuburkan.

Hyoyeon berjalan mengikuti rombongan di paling belakang dengan pelan. Kakinya melangkah dengan berat. Matanya sudah mengabur sejak pertama berangkat dari rumah sakit.

Entah kenapa, untuk pasien yang satu ini, Hyoyoen merasa begitu emosional. Ini adalah pasien pertama yang meninggal setelah Hyukjae pergi. Biasanya, Hyukjae akan bersamanya, menghiburnya dan mengatakan bahwa kematian pasien bukanlah kesalahannya. Melainkan sebuah takdir.

Upacara pemakaman selesai dilaksanakan. Langit mendung sekarang berwarna hitam. Hembusan udara dingin meniup lebih kencang. Hyoyeon menatap dengan nanar nisan bertuliskan ‘Lee Donghae’ yang begitu besar.

“Hyo-ah, sebaiknya kita pulang…”

Kyuhyun menyentuh pundak Hyoyeon dengan lembut. Gadis itu terlihat begitu rapuh sekarang. Hyoyeon menggeleng.

“Aku akan disini dulu sementara. Ini adalah pasien terakhir Hyukjae sebelum dia pindah. Dia begitu kejam meninggalkan pasiennya begitu saja sebelum selesai prosedur pengobatannya.”

“Biarkan aku sendiri.” lanjutnya. Kyuhyun tidak bisa melakukan apapun. Hyoyeon memilki pendirian yang sangat teguh dan Kyuhyun tahu dia tidak bisa menganggunya.

Kyuhyun mengerutkan dahinya. Baiklah, jika itu memang kemauannya.

“Aku akan menunggumu di gerbang keluar pemakaman. Cepat selesaikan urusanmu, sebentar lagi hujan pasti turun..”

Hyoyeon mengangguk pelan. Langkah Kyuhyun yang terdengar menjauh benar-benar membuat suasana menjadi hening. Hyoyeon merasakan air matanya mulai mengalir dengan deras. Ia tahu Hyukjae begitu bekerja keras untuk menyembuhkan penyakit Donghae.

“Kenapa kau begitu jahat meninggalkannya, Hyukjae-ya? Dia menitipkan beberapa pesan untukmu. Dia bilang, dia benar-benar sangat berterima kasih padamu karena kaulah alasan dia bertahan. Dan kau malah pergi ketika operasi terakhirnya dijalankan? Kau begitu kejam.. Ah, astaga.. tidak baik menangisi orang yang tidak tahu diri.”

Hujan mulai turun. Benar-benar langsung turun dengan deras. Membanjur seluruh tubuhnya tanpa kecuali.

“Donghae-ya, maafkan aku. Aku tidak bisa mengabulkan keinginan Seung Ri yang begitu mencintaimu. Ini salahku. Apa yang harus kulakukan?”

Hyoyeon mengusap air matanya yang sudah berbaur dengan air hujan. Suara sesengukan tangisnya mengisi keheningan pemakaman. Membuat aura tempat itu benar-benar terasa menyedihkan.

Tap.. tap…

Suara langkah kaki menyibak jalan yang tergenang dengan air beberapa mili.

Hyoyeon tidak peduli. Ia hanya ingin menumpahkan selurh rasa kesal dan sedihnya yang selama ini menumpuk dan akhirnya menjadi bom waktu baginya yang meledak juga.

Hujan masih turun. Hyoyeon masih bisa melihatnya dengan jelas. Ia masih sadar.

Tapi, kenapa hujan tidak kunjung kembali membasahinya?

Hyoyeon menoleh ke belakangnya. Sepatu pantofel hitam terlihat di depannya. Ini bukan mimpi. Lalu siapakah pemilik sepatu ini?

Hyoyeon menengadahkan kepalanya perlahan.  Matanya mulai kembali berair semakin ke atas ia melihat. Jas panjang berwarna cokelat itu.. ia mengenalnya. Kemeja putih itu. Ia mengenalnya. Dasi itu. Ia mengenalnya. Bibir itu, ia mengenalnya.

Mata mereka bertemu. Seulas senyuman tipis kembali membuat Hyoyeon yakin ia tidak pernah salah mengenali orang yang satu ini.

“Ah… ternyata Gadis Gila yang kukenal masih belum berubah juga… aku dengar kau kembali menyalahkanku. Kau memang sudah gila, menumpahkan perasaanmu di depan pusara seseorang.”

Hyoyeon membisu. Matanya menatap nanar tidak percaya seulas wajah di hadapannya.

Ini pasti efek akan hipotermia

“Bangun.”

Suara itu begitu jelas. Hyoyeon menatap Hyukjae sekali lagi dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Hatinya menangis.

Tangan Hyukjae terjulur di depan wajah Hyoyeon. Gadis itu menatapnya lagi.

“Astaga.. kenapa sekarang kau berubah menjadi Gadis Bisu?? Cepat tanganku pegal.” Hyukjae menggoncangkan tangannya dengan tidak sabar.

Hyoyeon dengan ragu menyambut tangan Hyukjae. Begitu Hyoyeon menyentuh telapak tangannya, Hyukjae langsung menarik badan gadis itu dengan cepat.

Tangannya begitu dingin.., Hyukjae menatap Hyoyeon dengan sedih. “Bagaimana bisa Kim Hyoyeon menjadi lemah seperti ini?” omel Hyukjae. Hyoyeon tidak mempedulikannya. Biasanya ia akan langsung mendebat Hyukjae. Namun,  ia tidak ingin merusak momen.

“Bagaimana bisa kau ada disini?” ujar Hyoyeon lemah. Bibirnya sudah berwarna putih.


Hyukjae menatap jalanan di depannya dengan tidak tenang. Di sampingnya, Hyoyeon meringkuk di balik selimut tebal dalam diam. Gadis itu benar benar membisu.

Cepat peri ke pemakan. Lee Donghae pasien terakhirmu itu sebelum kau pindah meninggal dunia. Kim Hyoyeon… dia membutuhkanmu sekarang.

Hyukjae sesekali melirik ke arah Hyoyeon melalui sudut matanya. Hyoyeon nampak sedang memikirkan sesuatu yang benar-benar membuatnya gelisah.

Gwaenchanhayo?”

Hyoyeon benar benar membeku. Rasanya sulit sekali untuk mengeluarkan kata-kata yang tersangkut di dalam kerongkongannya.

“Aku tidak baik baik saja.” ucap Hyoyeon patah patah.

Apakah aku harus mengatakannya sekarang?, dalam benak kedua orang itu terdapat pemikiran yang sama.

“Aku…”. Mereka berdua lantas terdiam.

“Kau dulu.”

“Kau dulu.”

Hening….

“Aku.. menikah dua bulan lagi.”

Hyoyeon membelalakkan matanya sesaat. Ia berusaha menyembunyikan raut terkejutnya sebelum Hyukjae sempat melihatnya.

“Ah.. chukhahae..” Nada suaranya berisikan rasa sakit. Suaranya tercekat. Hyoyeon memaki dirinya sendiri. Bagaimana bisa kau masih mengharapkannya, Hyo-ah? Dia jelas jelas tidak akan mencintaimu..

Hyukjae memegang stir mobilnya dengan erat. Berusaha menahan gejolak emosinya sendiri. Berulang kali dia menarik napas dengan dalam. Hyukjae bisa dengan jelas melihat raut Hyoyeon yang terluka.

Berikanlah dia memori baik tentang cinta pertamanya. Jangan buat dia kembali menangis hanya karenamu. Jika kau.. memang.. mencintainya.

Kata kata Kyuhyun kembali terngiang. Bagaimana tidak? Sejak Kyuhyun mengatakan itu,bayangan wajah Kyuhyun yang menyeramkan terus membayanginya.

Tangan Hyukjae berusaha memegang punggung tangan Hyoyeon yang masih kedinginan. Hyoyeon menghempaskan tangan Hyukjae. Bagaimana pun hatinya sedang terluka.

“Hyo-ah. “

Geuman. Sudah cukup. Aku sama sekali tidak mau mendengarkan suaramu lagi. Turunkan aku.” perintah Hyoyeon dengan dingin. Hyukjae benar bebar terkejut. Apakah gadis ini sudah gila??

“Jangan menjadi Gadis Gila sekarang, Kim Hyoyeon!!” bentak Hyukjae keras. Hyoyeon tidak mempedulikannya. Bentakannya ia anggap angin lalu saja.

“Tu-run-kan a-ku.” Setiap suku katanya ia tekankan dengan nada yang mengancam. “Tidak mau!” seru Hyukjae kesal. “Biarkan aku mengantarmu ke rumah untuk yang terakhir kalinya.”. Hyukjae berbisik pelan.

Hyoyeon berusaha mengesampingkan akal sehatnya. Dengan nekat, ia membuka pintu mobil Hyukjae dan berusaha turun.

Hyukjae mendelik melihat apa yang dilakukan oleh Hyoyeon. “Apa yang kau lakukan?!!!!” teriak Hyukjae dengan histeris.

Terlambat.

Bruk… suara berdebam keras terdengar begitu tubuh Hyoyeon mencium badan jalan beraspal yang kasar. Naasnya, mobil Hyukjae sedang melaju dengan kecepatan tinggi.

Hyoyeon merasakan pandangannya mengabur. Lelehan sesuatu yang hangat di pipinya bisa Hyoyeon rasakan. Gadis itu mencium sesuatu yang tidak asing bagi seorang dokter. Bau darah.

Hyukjae spontan mengerem mobilnya dan menepikannya ke pinggir jalan.

“Hyoyeon-ah..”. Hyoyeon merasakan matanya begitu berat. Kesadarannya mulai menghilang. “Kyuhyun-ah..” lirihnya pelan. Gelap. Tidak mendengar suara apapun.

Darah segar mengalir dari sudut mata dan bibir Hyoyeon. Beberapa luka parut di wajahnya dan juga kaki serta tangannya. Air hujan dengan cepat membuat darah itu mengalir ke bawah bercampur dengan air hujan.

“Kim Hyoyeon!! Bangun!!” Kyuhyun dengan kalut menepuk nepuk pipi Hyoyeon. “Hyoyeon-ah!!!”. Perut Hyoyeon terlihat datar. Tidak kunjung naik-turun-naik-turun. Kyuhyun buru buru melakukan pernapasan buatan.

Bukkk…

Baru saja Kyuhyun menempelkan bibirnya ke bibir Hyoyeon, sebuah pukulan mentah melayang ke rahang sebelah kirinya. Kyuhyun tersungkur ke atas jalan dengan keras.

“Apa yang kau pikir kau lakukan hah??? Beraninya kau!!”. Kyuhyun menatap tajam Hyukjae. Pemuda itu tidak menghiraukan apapun yang dikatakan Hyukjae. Ia segera bangkit kembali. Dan kembali melakukan apa yang memang dimaksudkannha tadi.

“Kau gila!!” maki Hyukjae dengan geram. Hyukjae berusaha mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dari atas tubuh Hyoyeon. Kyuhyun masih kalut melihat dada Hyoyeon tidak kunjung naik turun kembali.

“Bisakah kau diam?! Sebagai seorang dokter harusnya kau mengerti apa yang sedang kulakukan!!! Bagaimana bisa kau menyebut dirimu sebagai dokter??” Kyuhyun memompa dada Hyoyeon dengan cepat.

“Kim Hyoyeon!! Bertahanlah! Kau tidak boleh menyerah sekarang!!”


“Berikan aku pisau bedah..”. Suara Kyuhyun terdengar rendah karena mulutnya tertutup oleh masker. Tangannya yang terselubung sarung tangan karet putih bergerak dengan cekatan membelah beberapa bagian tubuh Hyoyeon yang harus dibedah.

Sarung tangan karet itu sudah berubah menjadi merah. Suara mesin ECG yang mendeteksi detak jantung Hyoyeon mengiringi proses operasi itu..

#skip

“Apakah dia baik-baik saja?” tanya Hyukjae serak. Harga dirinya benar benar jatuh di depan Kyuhyun. Bagaimana pun juga Kyuhyun adalah rival terberatnya.

“Dia baik baik saja untuk sementara.”. Suara Kyuhyun benar-benar tidak bersahabat. Mereka berdua diam mematung di tempat mereka masing masing berjarak beberapa meter.

Kyuhyun membuka seluruh pakaian bedahnya dan memasukannya ke tempat seperti tong sampah untuk pakaian bekas operasi.

“Untung saja kau tidak melanjutkan tindakan bodohmu untuk berkelahi denganku. Jika saja Hyoyeon tidak terluka waktu itu. Aku akan dengan senang hati melanjutkan akibat dari pukulanmu. Aku ingin sekali melihatmu mati di tanganku.”

Hyukjae menelan ludahnya sendiri. Ia memang salah. Menuduh Kyuhyun macam macam. Kyuhyun melangkah ke arahnya dengan mata yang penuh amarah. Aura hitamnya keluar dengan jelas.

“Dia mungkin akan mengalami kebutaan dan juga komplikasi yang lain karena ulah bodohmu!! Bagaimana bisa kau menyakiti Hyoyeon sampai seperti ini hah?!”. Kyuhyun memegang erat-erat kerah baju Hyukjae. Membuat pemuda itu tercekik.

“Aku bisa mengampunimu ketika kau bilang akan menikah hanya karena agar kau bisa mendapatkan posisi tinggi disana. Oke, aku masih bisa menerimanya dengan akal. Tapi, semakin kesini, aku menyesal telah mengampunimu karena Hyoyeon benar-benar kehilangan jiwanya setelah kau pergi! Jadi, bagaimana bisa aku mengampunimu untuk yang kedua kalinya?! Jelaskan padaku!!”

Wajah Hyukjae benar-benar memucat. Tapi,pemuda itu sama sekali tidak melawan cengkraman Kyuhyun yang semakin mengerat.

“Aku akan membuktikan kalau aku masih bisa kau maafkan..”


*3 weeks later

Dimana aku?, Hyoyeon membatin sendiri. Gelap. Dimana-mana gelap.

Apakah mati lampu?, Hyoyeon berusaha melihat ke sekitarnya. Harusnya, walaupun mati lampu juga, masih bisa mengenali beberapa benda secara samar bukan? Tapi kenapa Hyoyeon tidak bisa melihat apa-apa??

Maldo andwae…, Hyoyeon meraba matanya sendiri.

“Hyo-ah..” Hyukjae yang sedari tadi mengamati Hyoyeon dari luar kamar. Pemuda itu segera bergegas begitu melihat Hyoyeon panik.

“Hyukjae-ssi??” tanya Hyoyeon dengan suara bergetar. “Apakah memang sedang mati lampu?”

Hyukjae menggeleng dengan lemah. Ia menutup matanya sendiri sembari memaki dirinya sendiri. Dialah yang menyebabkan kenapa Hyoyeon seperti ini.

Pemuda itu sudah membulatkan tekadnya. Ia akan melakukan sesuatu untuk menebus segalanya.

“Ani.. Hyo-ah, disini terang benderang.”

Hyoyeon membeku. Bibirnya bergetar hebat menahan tangis. Ia bahkan sudah tidak sanggup menanyakan sesuatu yang akan menguatkan sangkaannya.

“Jadi, apakah aku..”. Perkataannya terputus karena air matanya langsung mengalir begitu saja.

Hyukjae hanya bisa merengkuh bahu gadis itu dan mendekapnya dalam diam. Hyukjae bisa merasakan punggung Hyoyeon yang bergetar hebat. Suara isakan Hyoyeon yang selama ini hanya samar samar selalu ia dengar ketika ia hendak masuk ke ruangan para dokter, bisa ia dengar dengan jelas.

Kajja..”. Hyukjae menarik tangan Hyoyeon. “Kau mau kemana? Aku tidak boleh keluar, Hyukjae-ssi..”

“Kyuhyun tidak akan memperbolehkanku. Aku akan disini saja.”

“Jangan pedulikan apa kata Kyuhyun saat ini. Bertahanlah. Aku akan melepas selang infusmu dulu.”. Dengan hati-hati, Hyukjae menahan tangan Hyoyeon dan mencopot selang infus dari tangan gadis itu perlahan.

Senyuman gadis itu mengembang perlahan. Walau pun Hyukjae yang membuatnya seperti ini, cinta mengalahkan akal sehatnya

“Ayo..”


*@townpark

“Apakah kau masih bisa merasakan silau matahari?”

Hyoyeon mengangguk. “Mendongaklah ke atas.”

Hyoyeon bisa merasakan silaunya cahaya. Matanya mengerut.

Hyukjae tersenyum. Setidaknya, tidak semua saraf mata gadis itu rusak. Aku akan melakukannya, melihat seluruh gerak gerik Hyoyeon tekadnya semakin bulat.

“Hyo-ah, apakah kau tahu selama ini aku mencintaimu?”

Hyoyeon benar benar terkejut. Bagaimana bisa?, Hyoyeon berusaha melihat Hyukjae. Sia-sia. Matanya memang sudah tidak berfungsi lagi.

Tangannya meraba wajah Hyukjae secara perlahan. Ia mengenali hidung lancip itu, tegasnya rahang yang selalu menjadi favoritnya. Dan juga bibir tebal itu.

Hyukjae memindahkan tangan Hyoyeon ke dadanya. “Kau bisa merasakan betapa cepatnya jantungku berdegup bukan? Aku tidak main-main. Selama ini aku mencintaimu. Jadi, apakah pengakuanku terlambat?”

Hyoyeon menggeleng. “Apakah kau menyatakan ini hanya untuk membuatku tersenyum lagi?”

Hyukjae terkejut. “Kau akan tetap menikah dengan Ji Eun. Aku tahu itu. Sudahlah. Aku memberi restu kalian.”

Hyukjae membeku. Apaka Hyoyeon tidak mempercayainya?, Hyukjae menggenggam tangan Hyoyeon dengan erat. Hyoyeon melepaskannya dengan perlahan. “Tenang saja. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun. Akulah yang terlalu bodoh untuk mencintaimu. Tenanglah. Menikahlah dengan bahagia dan lupakan gadis yang sudah tiak berguna sepertiku..”

Hyukjae menggertakkan giginya dengan geram. “Kau tidak mempercayaiku?”

Hyoyeon menggeleng. “Aku percaya padamu. Hanya saja, ini bukan sesuatu yang harus aku yakini dan percaya.”


*1 month later.

Keadaan Hyoyeon bahkan bertambah buruk setelah Hyukjae menyatakan semuanya. Nampaknya kondisi psikis gadis itu malah bertambah buruk sehingga fisiknya juga memburuk.

Kyuhyun menatap ke dalam ruang ICU dimana Hyoyeon dirawat. Pandangannya sekarang terpaku pada alat bantu berupa selang-selang banyak ditancapkan ke beberapa bagian tubuh gadis itu. Matanya menyimpan begitu banyak kepedihan.

Aku harus berbuat sesuatu.., Mata Kyuhyun membelalak begitu melihat layar monitor yang menampakkan detak jantung Hyoyeon mulai mendatar. Dengan sekali buka, Kyuhyun menyeruak masuk. Tangannya gemetar dengan panik memegang tangan Hyoyeon untuk mengecek nadinya. Tangannya yang satunya berusaha menggapai tombol darurat yang menghubungkan ke ruang perawat.

“Tolong aku!! Kim Hyoyeon sedang dalam keadaan kritis!!” teriak Kyuhyun lewat speaker. “Siapkan ruangan operasi!!!”

Ne, ssaem..” jawab seorang suster yang berjaga takut mendengar suara galak Kyuhyun.

Kyuhyun membuka pintu ICU dan menarik ranjang Hyoyeon sendirian menuju ruang operasi yang ada di ujung lorong.

Tatapan para pasien yang lain tidak dipedulikan Kyuhyun. Ia tidak peduli dengan penampilannya yang sudah seperti orang kesetanan saking kalutnya.


Yeoboseyo?”. Eunhyuk mengangkat panggilan dalam ponselnya dengan sebelah tangannya. Tangan yang lain memegang kemudi.

“Hyukjae-ssi..”

Hyukjae mengerutkan alisnya. Sejak kapan Kyuhyun sudi meneleponnya?

“Kim Hyoyeon dalam kondisi kritis. Dia mengalami gagal jantung. Sepertinya stress membuat penyakitnya lebih buruk. Aku perkirakan itu karena dirimu.” Nadanya dingin mengancam.

“Kenapa aku?”

Hatinya mulai merasakan keadaan Hyoyeon benar benar ada yang tidak beres.

“Aku akan segera kesana.”

“Percuma saja. Jika kau hanya datang kesini, dia takkan terselamatkan. Sudahlah. Aku hanya akan memberitahumu hal ini…. dia hanya membutuhkan seseorang yang akan mendonorkan jantungnya segera..”

“…………..”

Hyukjae mengerem mobilnya dengan mendadak. “Apakah kau sudah gila!!!” teriak Hyukjae panik.

“Hiduplah dengan bahagia, Hyukjae-ssi. Hanya itu harapan Hyoyeon padamu.”ucap Kyuhyun perlahan namun pasti.

Tut.. tut..

Sambungan terputus. Hyukjae benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja Kyuhyun katakan padanya.


*3 weeks later.

Hyoyeon mengerjapkan matanya beberapa kali. Semua yang ia lihat dari awal adalah putih. Semua putih. Secercah cahaya perlahan memasuki mata Hyoyeon membuat pandangan gadis itu menjadi jelas.

Hyoyeon mengucek matanya dengan kedua tangannya. Apakah aku tidak bermimpi??

Semuanya jelas. “Aku bisa melihat lagi!!!!”

“Aku harus memberitahu Kyuhyun.”. Hyoyeon bangun dengan hati-hati dan menyeret infusnya keluar kamar.

“Waa… joheun achim imnida, Hyoyeon ssaem. Selamat datang kembali.”. Seorang suster yang kebetulan lewat menyapa Hyoyeon. Gadis itu hanya tersenyum. Apakah aku koma selama itu?

Hyoyeon bergegas pergi ke ruangan Kyuhyun. Bersih. Kemana dia?, Hyoyeon memiringkan kepalanya heran. Hyoyeon segera menutup pintu Kyuhyun kembali.

“Oh, Hyoyeon-ssi. Anda kembali!!”. Hyoyeon lantas menoleh begitu mendengar suara melengking yang begitu ia kenali.

“Ah, Sulli-ssi, kenapa kau kesini?”

“Aku sedang kontrol lagi. Bekas operasiku sudah mulai membaik. Tadinya, aku mau menjengukmu juga. Katanya kau sudah koma beberapa minggu ya?”

Hyoyeon mengangguk pelan. “Ah, apakah kau akan berkonsultasi dengan Dokter Cho?”

Raut wajah Sulli berubah drastis. Mendung. Hyoyeon mengerutkan alisnya. “Kenapa Sulli-ssi? Ada yang tidak beres?”

Sulli ingat apa yang dikatakan Suster Eun Ji tadi waktu ia masuk.

“Ada yang tidak beres?” tanya Hyoyeon ulang. Sulli tersadar. “Ani, aku mau pergi dulu, Hyoyeon-ssi. Senang melihatmu kembali.”

Hyoyeon merasakan hatinya mulai tidak enak. Apakah terjadi sesuatu dengan Kyuhyun?

Gadis itu segera melesat ke ruangan para perawat biasa berkumpul.

“Ah.. annyeong hasimnikka, sunbae.. Kapan Anda sadar? Jika kami tahu, kami pasti akan menyiapkan pesta perayaan untuk menyambutmu kembali.”

Hyoyeon mengangguk dengan cepat. Matanya menyapu ruangan mencari Eun Ji – salah satu sahabat dekatnya.

“Eun Ji-ssi! Kemana Dokter Cho pergi? Kenapa ruangannya kosong?”

Suasana ruangan perawat yang tadinya riuh rendah langsung menjadi sunyi senyap. Benar-benar ada yang tidak beres, Hyoyeon menatap Eun Ji dengan tajam melihat gadis itu nampaknya begitu enggan memberitahunya soal Kyuhyun.

“Eun Ji-ya! Katakan padaku apa yang terjadi dengan Cho Kyuhyun!!” teriak Hyoyeon panik. Eun Ji malah semakin tergagap.

“Aku..”. Eun Ji kembali menghentikan kata-katanya. “Cepat katakan!” Ledakan emosi Hyoyeon keluar.

“Dia.. sudah pergi ke surga, Kim Hyoyeon-ssi..”

Hyoyeon menoleh dengan cepat ke arah kepala perawat disitu – Seo Joo Hyun.

“Mwo?! Katakan sekali lagi!! Apa yang kau bilang!!”

“DIA SUDAH PERGI!! DIA MENINGGALKAN KITA SEMUA KARENA MENYUMBANGKAN JANTUNG DAN JUGA KORNEA MATANYA UNTUKMU!! JADI BISAKAH KAU TIDAK BERTERIAK KEPADA KAMI!!” marah Seohyun dengan berurai air mata. Bagaimana tidak, Seohyun adalah salah satu orang yang benar-benar mencintai Kyuhyun.

Hyoyeon menatap Seohyun dengan tidak percaya. Seketika pandangannya kosong. Ia menatap Eun Ji dengan matanya yang seolah tidak bernyawa lagi. “Apakah itu benar Eun Ji-ssi?”

Bukan hanya Eun Ji, seluruh perawat yang ada di ruangan itu mengangguk. Hyoyeon terduduk lemas di lantai. Dinginnya marmer sungguh membuat hatinya bertambah beku.

“Eun Ji-ssi!! Bagaimana jika kita pergi ke pernikahan Dokter Lee…” teriak salah seorang perawat yang baru masuk dan langsung mendapat tatapan diam-kau!. Perawat itu melebarkan matanya mendapati Hyoyeon terduduk beberapa senti di depannya.

Gadis itu salah tingkah dan memilih memasukkan tasnya ke dalam loker.

“Ah, ya.. hari ini pernikahan Hyukjae. Eun Ji-ssi, bagaimana jika kau mengantarkanku kesana?” ujar Hyoyeon lemah. Semua perawat prihatin melihat nasib Hyoyeon yang begitu buruk. Mereka merasa, Hyoyeon seperti dicabut nyawa dua kali. Gadis itu benar-benar mengawang sekarang.

Eun Ji menggeleng. “Shock akan membuat keadaanmu sekarang akan memburuk lagi.”

“Biarkan aku pergi, Eun Ji-ssi..” paksa Hyoyeon. Seohyun memberikan tanda kepada Eun Ji agar menuruti saja apa kemauan Hyoyeon.

Arra.. aku akan mengantarkanmu sekarang.”

Hyoyeon bangkit dibantu dengan uluran tangan Seohyun dan Eun Ji. “Ini, Kyuhyun meninggalkan surat ini sebelum ia pergi mendonorkan jantungnya..”. Seohyun menyodorkan sepucuk surat beramlopkan biru dengan tulisan khas Cho Kyuhyun yang selalu merendah. Hyoyeon bahkan bisa mencium aroma parfum pemuda itu menempel dengan kuat di kertas suratnya.

“Terima kasih. Aku turut berduka untukmu, Seohyun-ah. Maafkan aku..”

Seohyun hanya mengangguk lemah. Ia hanya bisa merelakan Kyuhyun pergi. Ia tahu bagaimana sayangnya Kyuhyun kepada Hyoyeon sebagai seorang kakak – walaupun bukan kakak kandungnya.

Ya, Kyuhyun melakukannya bukan karena ia menyukai Hyoyeon. Melainkan, dia mengorbankan semuanya karena Hyoyeon lah yang telah menjadi kakaknya selama ini, yang selalu merawatnya setelah hak asuhnya selalu dilempar kesana-kemari ketika orang tuanya sudah bercerai. Kyuhyun mendiami kediaman keluarga Kim dimana Hyoyeon berasal.

Ini sebagai bentuk balasan budiku untuk keluarga Kim yang telah merawatku. Aku sangat berterima kasih. Nuna, aku melakukan ini karena aku tahu keluargamu sangat mencintaimu dan membutuhkanmu. Keluarga Kim juga yang telah mengorbankan segalanya untukku. Jadi, inilah giliranku untuk membayarnya.

Air mata Hyoyeon berlinang mengingat apa yang tadi baru saja dibacanya di kamar rawat. Kini, ia sedang berada di samping Eun Ji yang sedang menyetir menuju gereja tempat Hyukjae menikah. Ia akan menagih semuanya pada Hyukjae. Dialah yang menyebabkan dirinya seperti ini.. Tapi, kenapa Hyukjae juga yang membuatnya kehilangan adik kesayangannya?

Eonni.. kau baik-baik saja?” tanya Eun Ji hati-hati melihat gestur tubuh Hyoyeon yang sepertinya sedang menangis. Hyoyeon terkejut dan menyapu sudut matanya dengan cepat. Ia berusaha tersenyum ke arah Eun Ji yang memandangnya dengan prihatin.

“Kita sudah sampai. Kau yakin akan masuk kesana?” tanya Eun Ji khawatir lagi. Hyoyeon memegang tangan Eun Ji dengan erat – meyakinkan gadis yang sangat peduli padanya itu bahwa ia tidak apa-apa.


Hyoyeon menghela napasnya begitu kakinya menginjak tangga gereja. Pintu gereja terbuka mendadak. Menampilkan sesosok pemuda dalam balutan tuxedo warna putih yang membuatnya begitu menawan. Di sampingnya ada gadis mungil berparas cantik yang mengenakan gaun putih berenda yang panjang. Keduanya tersenyum dengan bahagia menatap satu sama lain.

Iring-iringan itu terhenti begitu sang mempelai pria terlonjak melihat Hyoyeon berdiri di depan gereja.

“Hyo-ah..”

Hyoyeon tersenyum getir. Sudah ia duga, Hyukjae sangatlah menawan dalam balutan busana pengantin pria. Sayangnya, bukan dia yang berada di sampingnya. Si mempelai perempuan nampak tidak nyaman karena prosesi pernikahan mereka terganggu karena ada seorang gadis dengan tampang yang awut-awutan berdiri di tangga gereja menghalangi iring-iringan mereka.

“Hyukkie.. kenapa kita tidak terus saja? Kenapa kau mempedulikan gadis yang tersesat itu?”

Hyoyeon berusaha tidak menampakkan wajah emosinya. Gadis tersesat? Cih! Hyukjae tidak memberitahunya soal seorang Kim Hyoyeon?

Air mata di pelupuk mata Hyoyeon sudah menggenang dan siap tumpah. Gadis itu memberanikan dirinya mengatakan satu kalimat yang sejak tadi tersangkut di kerongkongannya.

“Selamat menikah, Hyukjae.. Kuharap, kau akan menjalani kehidupanmu dengan bahagia..”

Hyoyeon segera membalikkan badannya dan masuk ke dalam mobil Eun Ji. Hyukjae begitu shock mendapati Hyoyeon ada disana. Sudah sembuh.

Aku akan melakukannya untuk Hyoyeon. Aku akan mendonorkan jantungku. Sudah tidak ada waktu lagi.

Astaga, Si Gila Kyuhyun benar-benar melakukannya, Hyukjae segera mengejar Hyoyeon yang sudah berada dalam mobil. Mata hitam legam khas kepunyaan Kyuhyun langsung Hyukjae kenali begitu Hyoyeon menatapnya. Kyuhyun benar-benar melakukan apa yang sudah menjadi tekadnya.

“Jalan, Eun Ji!!” teriak Hyoyeon panik, kesal, marah, sedih, dan kecewa. Eun Ji melihat ke arah spion. “Tapi, Dokter Lee menuju kesini..”

“Cepat jalankan mobilnya!!” teriak Hyoyeon frustasi. Ia sudah menangis berat. Eun Ji akhirnya melakukan apa yang Hyoyeon minta. Meninggalkan Hyukjae yang sepertinya susah payah mengejar kecepatan mobilnya.

Kisah cinta tak selamanya berakhir dengan baik. Terkadang, ketika kau mengharapkan sesuatu yang lebih dari orang yang kau sayangi, justru itu datang dari orang lain. Kadang, kita harus menyadari apa yang sedang terjadi dalam kehidupan nyata dan tak boleh terlarut dalam fantasi kita sendiri.

Walaupun dia mencintaimu, bukan berarti kau bisa memilikinya selamanya secara sah bukan? Cinta tidak membatasi seseorang. Perasaan memiliki hanya dimiliki oleh orang yang benar-benar tulus mencintai seseorang.

Selamat tinggal Hyukjae, semoga kau bahagia dengan kehidupanmu. Jika bahkan kau bilang kau mencintaiku, aku benar-benar paham saat kau berkata itulah, aku tahu aku takkan bisa memilikimu seutuhnya – Kim Hyoyeon.

Ketakutan kita untuk mengungkapkan perasaan, membuatmu malah semakin tersakiti. Dan, inilah akhirnya. Inilah hasil dari ketakutanku selama ini. Aku takut menyatakannya. Dan semuanya terlambat. Yang lebih fatal adalah aku tidak berani untuk menolak Ji Eun untuk mendapatkan Hyoyeon. – Lee Hyukjae.

Note: Maaf gantung dan agak gajelas… Hehe.. maklum. Masih amatiran.. Semoga kalian tetap suka!! Jangan lupa vote sama comment kalian ditunggu!!

Much love, Euri

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s