[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You My Love) – #9. Secret Confession

req-euri-by-laykim

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @Laykim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

“Pagi, Yoona..”

Yoona yang sedang meregangkan tubuhnya kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Ah, pagi juga, Donghae-ssi..”. Donghae tersenyum. Tersenyum dengan begitu hangat dan manis. Yoona merasakan darahnya berdesir. Lalu pemuda itu segera berlalu mendahuluinya.

“Astaga.. dia berubah..” gumam Yoona sendiri. Ia bahkan tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.


“Nah, itu saja yang ingin aku sampaikan. Apakah ada yang tidak mengerti?” terang Donghae.

Tidak ada yang menggeleng. “Bagus.. Baiklah, terima kasih atas kehadiran dan perhatian kalian semua. Sugohaesseumnida.. Fighting!”. Donghae mengepalkan tangannya tanda semangat di depan wajahnya.

Seluruh dancer pribadi Donghae melongo. Apa yang baru saja dilakukan artis mereka? Memberi semangat?

“Ye! Sugohaesseumnida.. Fighting!!” teriak Yoona dari ujung ruangan rapat yang langsung diberi senyuman terima kasih dari Donghae.

“Ye! Sugohaesseumnida.. Fighting!!” ulang para dancer dengan semangat yang membara. Donghae tersenyum senang. Jadi, ini rasanya jika ia menghormati orang lain. Tidak buruk. Malah cenderung menyenangkan.

Yoona tersenyum puas ke arah Donghae. Inilah yang selalu ia berusaha lakukan pada Donghae. Agar pemuda itu mau menghormati orang lain dan berterima kasih.

“Kau melakukan kerja yang bagus..” bisik Yoona dari jauh. Donghae mengangguk. “Terima kasih..” bisiknya juga..


Yeoboseyo? Ne, Yoona-ya..”

Jessica menghirup napasnya dalam-dalam.. Memberanikan dirinya hanya untuk mendengar suara Donghae setelah semalaman rasa bersalah begitu menghantuinya. Kenapa ia begitu jahat menikam dari belakang sahabatnya sendiri?

“Bagaimana perjalanan bisnismu? Aku tidak bisa menghubungimu terus.”. Hanya kata itu yang terlintas dalam benak Jessica.

“Ah, itu.. aku sibuk selama disana.”. Donghae berbohong. Ia tidak sesibuk itu. Tapi, yang jelas, Im Yoona – sang managernya – lah yang menyita banyak waktunya. Tapi juga, Donghae menikmati waktunya bersama Manager Im.

“Donghae-ssi, ada beberapa wartawan yang akan melakukan interview..”. Kepala Jungsoo menyembul di balik pintu. Donghae memberikan kode agar Jungsoo menunggunya sebentar.

“Yoona-ya, aku harus pergi. Jadwal comebackku akan segera tiba. Mianhada, aku akan meneleponmu lagi nanti.. Mian..”

“Donghae-ya!! Hae-ya!!” teriak Jessica putus asa. Ia melempar ponselnya ke atas sofa dengan kasar. Jessica mengurut pelipisnya dengan pelan. Bagaimana aku bisa menjelaskan semuanya jika keadaannya menjadi bertambah sulit seperti ini?

Tok.. tok..

“Nona Jung, editor buku biografimu ingin menemui Anda. Dia menunggu di lobby.. Ia ingin membahas beberapa hal sebelum ia menyerahkan naskah buku Anda ke penerbit.”

“Ah, geurae. Aku lupa. Terima kasih..”. Jessica memaksakan senyumannya. Pintu tertutup.

Ayo, Jessica.. Kau bukan perempuan lemah yang hanya akan terpuruk oleh seorang pemuda.. Fighting!


“Annyeong hasimnikka..”

Seluruh perhatian para manager segera tertuju kepada sesosok pemuda yang sedang membungkukkan badannya hormat di bagian paling depan ruangan.

Jungsoo melepas kacamatanya dengan heran. Sejak kapan dia begitu hormat seperti itu?

Yoona tersenyum-senyum sendiri. Siwon menatap ke arah Yoona dengan heran. Masih terlihat sedikit raut cemburu di wajahnya.

Ne, aku Lee Donghae. Aku ingin mengumumkan kepada seluruh manager yang terlibat pada proyekku kali ini agar segera menyiapkan segala sesuatunya. Jadwal comebacknya akan dimajukan satu minggu lebih cepat.”

Mwo?!”. Teriakan kaget Suzy membuat seluruh kepala tertoleh ke arahnya. Suzy menutup wajahnya sendiri dengan frustasi. “Aishh.. karena kakiku, aku tidak bisa mengerjakan segala sesuatunya dengan benar..” keluh Suzy. Seo Joon menatap gadis itu dengan raut tanpa ekspresi. Tapi, kilatan matanya mengandung sebauh emosi. Entah apa itu.

“Show caseku yang pertama adalah SBS Inkigayo. Jadi, harap mempersiapkan layout panggung yang sesuai disana bagi para manager yang bertugas sebagai dekor. Terima kasih atas perhatian kalian.. Sugohaesseumnida..”. Donghae membungkukkan badannya lagi dan langsung mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh para manager yang ternganga akan perubahan sikap Donghae

Jelas sekali, sekali lagi, Yoona begitu puas. Eun Ji menyikutnya. “Ya! Kau bagaimanakan manusia dingin itu, eoh?” goda Eun Ji. Yoona hanya tersenyum-senyum senang. Siwon terdiam. Dirinya tidak terlarut dalam euforia ini. Hatinya cemas. Jika Donghae mulai berubah maka.. Yoona..

Aish, sudahlah. Lupakan Yoongie.. Kau sudah takkan mendapatkan kesempatan apapun.

Tapi, aku masih sangat menyayanginya, eotteohke?


“Tunggu, Donghae-ssi!”

Langkah Donghae terhenti begitu ia mendengar suara Yoona yang lembut memanggilnya.

Yoona tersenyum ketika dirinya sudah ada di hadapan Donghae.

“Ini berkasmu yang tertinggal..”. Yoona mengulurkan tangannya. Donghae tersenyum menatap Yoona. “Gomawoyo..”

Yoona mengangguk. Kakinya mengetuk dengan hentakan tak menentu.

“Em, Donghae-ssi, maaf, bisakah kau meluangkan waktu segera setelah agenda photoshoot besok? Aku ingin ganti rugi masalah kotak kaca yang ada di apartemenmu itu, yang menyimpan papan permainan monopoli itu. Apakah kau ada waktu? Untuk makan malam saja..”

“Aku juga.. ada sesuatu yang ingin disampaikan.”

Donghae terlihat berpikir sejenak.

Siwon yang sedang berjalan melintas lorong menghentikan langkahnya begitu melihat Yoona dan Donghae terlihat sedang membicarakan sesuatu yang nampaknya serius. Ia segera bersembunyi di balik pilar-pilar yang ada di pinggir lorong. Tatapan putus asa dan sedih kembali terpancar dengan jelas. Siwon benar-benar kehilangan dirinya sendiri yang periang karena Yoona, entah kenapa, menjadi begitu sulit diraihnya akhir-akhir ini.

“Geurae.. 콜! (setuju!)”. Yoona bertepuk tangan sendiri karena antusias dan gembira. Kesempatannya untuk mengungkapkan segalanya telah datang juga. “Gomawoyo, Donghae-ssi..”. Yoona membungkukkan badannya 90 derakat dan segera berlari-lari kecil menuju kembali ke ruangan manager.

Dongha tersenyum kembali. Nampaknya, semangat, keceriaan, dan ketulusan hati Yoona benar-benar membuatnya tersentuh dan berubah. Ia menyadari sekarang, bahwa tak ada gunanya menjadi orang yang begitu egois, dingin, tak tahu berterima kasih dan sebagainya. Yoona kembali mengajarkannya satu pelajaran hidup.

Donghae meneruskan perjalanannya. Masih dengan senyuman di wajahnya, ia menyapa Siwon yang berpapasan dengannya. Siwon terlihat masam. Ia hanya mengangguk sekadarnya. Napasnya terdengar memburu.

Mwoya? Kenapa dia menatapku dengan begitu benci?, Donghae mengendikkan bahunya. Ia juga tidak tahu kenapa Siwon menjadi seperti itu. Bukan masalah, selama bukan Yoona yang membencinya.


“Yoongie, apa yang kau katakan pada Donghae ketika di lorong tadi?”

Yoona membulatkan matanya sembari menyumpitkan beberapa naengmyeon ke dalam mulutnya. Ia memberikan kode agar Siwon menunggunya sebentar agar ia bisa menelan makanannya dulu.

“Aku berkata padanya agar meluangkan waktu untukku setelah agenda photoshoot selesai. Aku juga akan mengatakan sesuatu padanya.” jawab Yoona setelah menenggak beberapa air minum.

“Oh, jinjja?”

Yoona sedang memenuhi permintaan Siwon yang pertama yaitu mentraktir pemuda itu semangkuk naengmyeon dan donkatsu. “See? Aku tidak melanggar janjiku padamu, oppa..” oceh Yoona sembari terus memakan naengmyeonya dengan nikmat. “Kau juga menyukainya..”

Siwon membuang napasnya dengan kasar. Kenapa hatinya begitu sakit?

Yoona mendongak mendengar Siwon begitu sedih. “Apakah aku mengingatkanmu pada adik kecilmu dulu?”

Ani, sebenarnya, ibuku.. Tapi, itu bukan alasan utamaku terlihat sedih Yoong.. Itu kau..

Siwon terus menatap Yoona. Entah memikirkan apa, Siwon terlihat begitu serius memperhatikan Yoona. Lagi-lagi, ia terus membuang napasnya dengan kasar. Sorot matanya.. terluka..

“Kenapa kau menatapku terus seperti itu?”. Yoona sudah tidak tahan lagi. Suasana menjadi sangat canggung, terlebih, Siwon sama sekali tidak bercanda seperti biasanya. Yoona khawatir. Apakah aku melukainya dengan mengatakan hal-hal tentang Donghae? Dia serius menyukaiku?

Yoong, aku benar-benar menyukaimu. Aku bersumpah aku tidak bercanda saat ini.

Yoona menelan ludahnya sendiri. Ia benar-benar memandang remeh Siwon. Sekarang, Yoona merasa, Siwon benar-benar serius dengan ucapannya kala itu.

Siwon tersentak ketika Yoona menanyainya. “Kenapa? Apakah kau mendengar pertanyaanku?”

Siwon membuang mukanya dan kembali menghela napas dengan berat. Kenapa ini begitu berat untuk melepaskan perasaan bodohku, Yoongie? Kenapa kau begitu… membuatku takkan bisa melepaskanmu?

“Ah, caramu memandangku.. Sungguh mengingatkanku pada seseorang.”

“Apakah pada adik kecilmu?”

Siwon terdiam. Tidak menggeleng ataupun mengangguk.

“Yang jelas, kalian berdua sangat mirip.”

Siwon segera memasang senyuman lebarnya. Berusaha menghapuskan kekhawatiran yang terpancar jelas dari kedua mata Yoona. “Sudahlah, makan yang banyak, dongsaengku tersayang..”

Ne! Siap, oppa!”

Yoona menyeruput mienya dengan perasaan berkecamuk. Siwon oppa jelas menyembunyikan sesuatu dariku. Apakah itu.. ah, tidak.. Siwon oppa takkan pernah serius dengan perkataannya yang seperti main-main itu. Dia takkan pernah menyukaiku. Benar bukan?


“Kenapa kau begitu murung hari ini oppa?”

Yoona berjalan pelan di samping Siwon. Ia nampak masih memikirkan sesuatu yang begitu berat.

“Apakah ada yang begitu menganggumu?”

Siwon diam.

“Apakah kau tidak menyukai makanannya?”

Siwon menghentikan langkahnya. “Ah, aku rasa itu alasannya..”.

Matanya yang jernih menatap Yoona dengan sungguh-sungguh. Yoona membulatkan matanya. “Apakah makanannya tidak enak?”

“Bukan.. Yoongie, aku kira, aku benar-benar telah terlanjur menyukaimu.”

Yoona terhenyak karena terlalu terkejut. Pikirannya seketika kosong. Apa yang baru saja dia katakan?,Ne?”

“Kau bilang kau akan mengatakan semuanya pada Donghae, dan aku pikir aku sangat tidak menyukai gagasanmu itu. Aku takut, kalian akan saling menyukai lagi sejak kau mengungkapkan segalanya. Dan bahkan, ketika kau pergi, ketika aku melihat makanan kesukaanmu, aku langsung memikirkanmu tanpa alasan.”

“Selama ini, aku terus bertanya-tanya, apakah aku memang menyayangimu lebih dari sebagai kakak. Sekarang aku mengetahui semuanya dengan jelas. Pernyataan perasaanku di awal bukanlah main-main. Jadi, yang terucap dariku ketika awal kali pertama kita bertemu adalah perasaanku dari hati yang paling dalam. Aku tidak menyangka, aku bahkan sudah menyukaimu sejak pertama kali kita bertemu. Karena kau begitu lain dari yang lain.”.

Siwon menarik napasnya dalam-dalam. Ia berusaha mengumpulkan keberaniannya, mengatakan kata-kata yang begitu menjijikkan baginya.

“Yoongie, aku menyukaimu. Ani, aku mencintaimu. Begitu mencintaimu.”

Yoona menatap Siwon dengan bingung. Ini, momen ini yang begitu ia takutkan. Yoona kembali speechless dan tidak bisa mengatakan apapun.

“Kau bercanda lagi bukan?”. Yoona tertawa kikuk. Namun, pandangan Siwon yang begitu memaku matanya, membuat Yoona yakin, kali ini, Siwon sudah benar-benar menyukainya.

Yoona memejamkan matanya sejenak. Berusaha mengusir rasa bingung dan canggung di antara mereka sekarang. Potongan seluruh kebaikan hati Siwon yang telah dilakukan pemuda itu untuknya. Terpatri dengan jelas dalam memori Yoona. Dan sekarang, seluruh memori itu memutar bagaikan rol film.

“Tapi, aku tahu kau masih mencintai Donghae dengan sangat. Aku bisa melihat itu setiap kali kalian berbincang. Aku rasa pengakuanku memang sia-sia, tapi setidaknya, aku bisa merasa lega karena telah mengatakannya padamu. Ya, aku lebih lega sekarang.”

Yoona terdiam. Ia merasa sangat bersalah. Matanya berkaca-kaca. Hatinya juga ikut merasakan perihnya apa yang mungkin dirasakan Siwon ketika melihat dirinya bersama Donghae. Siwon begitu baik.. astaga, Yoona-ya, apakah yang telah kau lakukan??

Ja, dongsaeng! Sudahlah, tidak usah memikirkan perasaanku yang aneh itu, eoh? Fokuslah pada Donghae. Aku akan mendukungmu sebagai seorang kakak.. Geurae?”

Siwon merangkulkan tangannya di bahu Yoona dan setengah menyeret gadis itu agar langkah mereka sama. Hangatnya tangan Siwon melingkari Yoona. Gadis itu memaki dirinya sendiri. Apakah aku akan tetap nyaman berada di dekatnya setelah melakukan semua hal jahat ini padanya?

Mata Siwon menyipit, melihat sesuatu yang benar-benar tidak disangkanya akan terjadi lagi.

Donghae kembali berjalan bersama sahabat Yoona bernama Jessica itu. Mereka bergandengan tangan. Jelaslah sudah, bahwa mereka sudah berpacaran.

Kajja, dongsaeng, aku akan mengantarmu sampai ke rumah..”

Yoona hanya mengangguk sementara Siwon semakin mempercepat langkahnya berharap Yoona takkan melihat pemandangan menyakitkan itu..


*@Donghae’sapartment

Donghae masuk ke apartemennya dengan tergesa-gesa. Ia juga mencopot semua atribut ‘penyamarannya’ seperti masker, kacamata hitam, topi dan juga syal yang semuanya serba warna hitam.

“Akhirnya, kau datang juga!”. Siwon keluar dari lemari – tidak tempat penyimpanan baju Donghae yang begitu luas ketika ia melihat pemuda itu masuk ke dalam.

“Astaga! Kau mengagetkanku..”

Donghae masih melotot tidak percaya melihat Siwon berdiri di hadapannya.

“Kau pulang terlambat.” jawab Siwon tidak nyambung dengan apa yang dikatakan Donghae.

“A..apa. apa yang kau lakukan disini, Manager Choi?”

“Ah, aku kebetulan melintas lewat dan aku teringat aku belum mengembalikan celana dalammu yang kau pinjamkan padaku. Jadi, aku mengembalikannya padamu. Tenang saja, aku sudah menggantinya dengan yang baru dan persis sama.. Kau mempunyai banyak baju bagus, Donghae-ya..”

“Kenapa kau datang kesini hanya untuk itu? Aku bilang aku memberikannya untukmu.. Kembalikan kartu kunciku..”

Donghae menodongkan tangannya di depan wajah Siwon. Pemuda itu melengos dan menatap Donghae dengan agak.. benci.

“Kau habis pulang dari kencankah? Kau tampak begitu bahagia..”

“Apa urusanmu?” tanya Donghae gusar. Ia mengguncangkan tangannya di depan Siwon menagih kartunya dengan gigih.

“Apakah kau benar-benar mengenal siapa pacarmu sebenarnya? Kau yakin dia tidak menyembunyikan sesuatu darimu?”

Kening Donghae mengerut tidak suka. “Apakah kita teman dekat sehingga aku bisa menceritakan hal pribadiku padamu?”

“Ah, jadi benar, kau memang berpacaran. Rumormu berpacaran dengan seorang gadis cantik sudah terendus beberapa bulan yang lalu.”

Donghae mulai tampak marah. “Apa yang sebenarnya mau kau katakan padaku Manager Choi? Jangan berbelit-belit dan membuang waktuku.”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu tapi aku menahannya dulu. Aku tidak bisa memutuskan kepadamu apakah benar jika aku mengatakan hal itu kepadamu secara terang-terangan.. sebentar..”

Siwon memejamkan matanya berusaha mengambil keputusan, mengatakan tentang Yoona yang sebenarnya atau tidak. “Baiklah, aku pergi.. Selamat malam..”

Siwon berlalu setelah menepuk bahu Donghae beberapa kali.

Apakah keputusanku benar? Apakah lebih baik jika Yoona sendiri yang mengungkapkan semuanya?


Ne, yeoboseyo, Donghae-ya.. Kenapa kau meneleponku pagi hari?” ucap Jessica pelan nyaris berbisik. Masalahnya adalah Yoona ada di apartemen atau rumah mereka berdua sekarang.

“Apakah kita perlu berkencan lagi hari ini setelah pulang kerja?”

“Em, ada satu film yang begitu ingin aku tonton. Bagaimana jika kita ke bioskop hari ini? Hari ini adalah hari penayangan terakhirnya..”

“Baiklah jika begitu..”

“Saatnya sarapan!! Sica-ya, kenapa kau menelepon begitu pagi?” tanya Yoona dengan suara yang keras. Namun, mata gadis itu membulat ketika melihat Jessica gelagapan menanggapinya.

“Apakah itu pacarmu?” bisik Yoona dengan gembira. Jessica membulatkan matanya. Tidak, Yoona tidak boleh tahu mengenai hal ini.., pikiran itu segera memenuhi otak Jessica.

“Selamat atas hubungan kalian!! Aku senang sekali akhirnya Sica mempunyai pacar yang benar-benar dicintainya.. Jaga dia baik-baik..” teriak Yoona bermaksud hendak menyampaikannya pada orang yang berada di sambungan yang tak lain adalah Donghae.

Jessica membelalakkan matanya. Bagaimana jika Donghae mengenal suara Yoona?

Jessica langsung memutuskan hubungan teleponnya dengan jemari yang bergetar.

Yeoboseyo?” tanya Donghae mendapati panggilannya diputus begitu saja. Alisnya naik sebelah. Kenapa suara tadi terdengar amat familiar di telinga?Mirip sekali dengan suara Manager Im..

Jessica dengan gugup menaruh ponselnya di atas meja rias. Yoona tersenyum usil menggoda sahabatnya.

“Apakah dia sudah kembali dari luar negeri? Jika dihitung ini sudah hampir 6 bulan..”

Jessica mengigit bibirnya dengan bingung. Apa yang harus aku katakan?

“Ayo, kita makan. Jangan bengong seperti itu..”

Yoona keluar dari kamar Jessica namun menyembulkan kepalanya kembali. “Jessica, ingat ini.. Aku akan mendukung cintamu bagaimana pun juga.. Jinsimiya.. (aku bersungguh-sungguh – dengan sepenuh hati)”. Yoona menepuk dadanya dengan muka bertekad. Membuat Jessica tersenyum getir.

Aku bahkan sudah melanggar janjiku untuk hanya berada di samping Donghae selama 2 bulan. Kini, bahkan ketika 6 bulan hampir terlewati, aku masih belum merasa puas untuk merasakan bahwa aku memiliki Donghae. Ini tidak benar, bagaimana bisa kau membiarkan Yoona tersenyum disana dan bahkan mendukung hubunganmu dengan Donghae, Sica-ya? Apakah itu tidak terlalu kejam?

Kajja, kau takkan bergerak selama 2 jam jika aku tidak menyeretmu ke ruang makan. Tenang saja, sarapan yang aku buat sehat dan takkan membuatmu gemuk sama sekali. Jadi, hentikan dietmu yang menyiksa itu.. Kau sudah terlalu kurus. Ppali!”

Yoona menyeret Jessica ke ruang makan. Tapi, entah kenapa, selera makan Jessica hilang begitu saja melihat dirinya sedang mengkhianati ketulusan hati Yoona.


Senyuman cerah terulas di bibir Yoona menatap bawang bombaynya yang masih terawat dengan baik. Yoona merasa hubungannya dengan Donghae kian membaik. Dan itu sudah cukup membuatnya sangat senang mengetahuinya.

Omo.. kau harus tetap tumbuh, bawangku tersayang (?).. Eng?”

Yoona melihat ke arah sol sepatunya. Copot. Pantas saja terasa aneh ketika dipakai. “Astaga, rasanya aku harus menempelkan solnya kembali..”. Yoona yang memang begitu irit memilih memperbaiki sepatu usangnya dibanding membeli yang baru. Kebiasaan iritnya terpaksa ia lakukan sejak ia kehilangan Ayahnya ketika masih menginjak bangku SMP.

“Kenapa ini begitu sulit??” . Keluhan disana-sini riuh rendah membuat ruangan manager menjadi sangat gaduh. Yoona mengerucutkan bibirnya heran ada apa sampai ricuh begitu.

“Aku memilih A, tempatnya lebih bagus..” ucap Suzy.

“Heenim?”. Jungsoo menoleh ke arah Heenim. “Ah, kenapa itu begitu sulit.. Aku dilema..” ucap Heenim menggaruk kepalanya dengan tongkat seperti biasa jika ia sedang kebingungan.

Jungsoo berdecak. “ Jika kita memilih A, maka B akan terbuang dengan sia-sia.. Dia mempunyai bakat yang benar-benar bagus.”

Yoona masuk ke dalam gerombolan rekannya berusaha melihat apa yang tertempel di papan mading. Yoona mengangkat alisnya melihat beberapa foto model tertempel disana. Melihat wajahnya yang masih begitu muda, pasti ini masalah memilih siapa yang akan didebutkan menjadi aktor terlebih dulu.

Siwon berada di samping Yoona juga tampak sedang begitu bingung.

“Keduanya mempunyai proporsi yang begitu bagus.. Apa yang harus kita lakukan?”

Signore e signora.. (Tuan dan Nyonya)”

Seluruh manager terlonjak mendapati suara Tae Hee yang sangat kencang muncul di antara perdebatan mereka.

Amore mio.. (astaga) apa yang sebenarnya kalian bingungkan?” Tae Hee mendadak kumat bahasa Italianya karena baru saja datang berlibur dari negara itu.

Suzy menujuk ke arah papan. Tae Hee memperhatikannya sebentar. “Kalian kesulitan memilih?”. Pertanyaannya disambut dengan anggukan di seluruh penjuru.

“Ja, aku akan menanyakan satu pertanyaan pada kalian..”. Semuanya menunggu dengan penuh ekspetasi terhadap atasan mereka yang sangat cemerlang dan banyak ide mengejutkan.

“Kau harus menjawabnya dalam 1 detik. Ani, setengah detik. Arra? Itu peraturan yang tidak boleh dilanggar.”. Semuanya mengangguk patuh dan memperhatikan setiap kata Tae Hee dengan cermat.

“Bayangkan, kita semua sedang berada di restoran. Dan kau harus memilih memesan antara Jjampong (mie pedas) dan jjajangmyeon (mie saus kedelai hitam). Siap?”

Semuanya mengangguk lagi.

Tae Hee menunjuk dari sebelah kiri mulai dari Suzy, Seo Joon, Heenim, Jungsoo, Eun Ji, Siwon dan terakhir Yoona.

Jjajang.”

Jjampong.”

Jjajang.”

Jjampong

Jjampong.”

Jjangjamyeon-jjampong.” jawab Siwon nyengir jahil.

“Gagal..” tolak Tae Hee cepat.

Jjajang.” jawab Yoona pada akhirnya.

“Aku sedang diet jadi aku tidak menjawab oke?” ucap Tae Hee, semuanya mengangguk.

“Ja, sekarang lihat ke depan. Antara A dan B. Aku memilih A. Jawab sekarang!”. Tae Hee langsung menunjuk mereka bergantian dengan cepat agar mereka mengatakan jawaban mereka sekarang.

“A.”

“A.”

“A.”

“A.”

“B.”

“B.”

“A.”

Geurae! Mari kita pergi dengan model A. Bagaimana?”

Semuanya terkesiap. Tae Hee tersenyum mendapati wajah para managernya penuh kebingungan dan tanda tanya.

“Ketika hati kita ingin O tapi mulut kita berkata X dan ketika hati kita ingin berkata X tapi mulut kita malah berkata O, kita menjadi bingung sendiri. Itu maksudku melakukan semua ini.”. Semuanya masih saja mengangguk-angguk seperti boneka mengiyakan perkataan Tae Hee walaupun belum sepenuhnya mengerti perkataannya yang bersayap itu.

“Kenapa itu terjadi? Karena terkadang kita tidak mengerti isi hati kita sendiri. Pada saat itulah, kau tidak sengaja mangatakan apa yang mulutmu tidak inginkan, padahal itulah yang sebenarnya kau inginkan dari hatimu yang paling dalam.” lanjut Tae Hee lalu tersenyum penuh kemenangan.

Wajah-wajah di hadapan Tae Hee langsung berubah menjadi cerah seluruhnya. Inilah yang dimaksud dengan kehebatan Tae Hee, wanita itu menyelesaikan masalah dengan cara antik serta unik tetapi masuk akal.

Arasseo, aku pergi.. Ciao!”. Tae Hee menghilang di balik pintu dengan cepat bagaikan hantu.

“Wuah.. wanjeon daebak.. Dia memang tak pernah bisa diduga..” seru Suzy geleng-geleng kepala karena masih juga kagum.

Haloo!!! Jangan lupa meninggalkan jejak yaa… Euri comeback setelah sekian lama.. Terima kasih atas perhatian para readers!! :**

MUCH LOVE, EURI

 

Advertisements

4 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You My Love) – #9. Secret Confession

    • Annyeong!!! Halo dear.. aku suka bangett kl ada reader baru yang kenalan diri kayak kamu hhe.. Wah makasi banyakk ❤ sip tolong ditunggu yaa… Semoga tetep suka dan makin suka heheh

      MUCH LOVE, EURI

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s