R.E.A.P.E.R [Part 5]

reaper

|| Title: R.E.A.P.E.R || Author: Phiyun || Genre: Romance | School Life | Sad | Hurt | Fantasy | Thriller || Cast: Oh Sehun |Park Jiyeon | Kim Jongin | Park Chanyeol | Kim Ji Won ||

Poster Credit : Ravenclaw [Gomawo (^-^)]

 

Cerita ini hanya fiksi belakang. Cerita ini terinspirasi dari film mau pun buku yang pernah di tonton dan di baca oleh penulis.  Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Note: Nama pemain sewaktu-waktu akan berubah.

 Kalimat bergaris miring adalah isi dalam hati pemain cast, ya ^^

Privew: Privew: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

     *** Happy  Reading ***

*Chapter 5*

Satu tahun. Apakah itu sisa waktuku di sini ?

~OoO~

“Oh Sehun!” bentak Ray sambil mendorong Sehun sehingga laki-laki itu terjungkal ke daun pintu. “Dia bukan malaikat kegelapan, bodoh! Juga bukan malaikat baik. Dia tetap manusia, walaupun sudah mati. Mana mungkin ia bisa menjadi malaikat. Singkirkan benda itu sebelum kusimpan sampai menjadi barang karatan!” ancamnya.

“Ta—tapi itu kan batu malaikat kegelapan,” kata Sehun terbata-bata. Bahunya yang sempit kini menekuk. “Aku melihat sendiri dia merampasnya!”

“Dan gara-gara siapa dia sampai tahu benda apa itu, Huniie?” tanya Ray mengejek.

Sehun kembali memundurkan langkahnya sambil menunduk malu.  Jantung Jiyeon masih berdegub kencang selama ia berdiri di sudut ruangan sambil menggengam kalung tersebut dengan erat. begitu erat sampai-sampai jari-jarinya sakit. Ray memandangi Jiyeon dan Sehun secara bergantian dengan tatapan yang angkuh.

“Itu bukan lagi batu malaikat kegelapan sehingga si malaikat cukup kuat untuk meninggalkan bukti badaniah mengenai keberadaanya, atau…” Ray mengangkat satu tangannya agar Sehun tidak menyela, sebelum dirinya melanjutkan. “Memiliki alasan kembali untuk mengambil jiwa yang sudah mereka pilih. Gadis ini memiliki sesuatu yang lebih dasyat daripada batu malaikat, dan mereka akan kembali untuk merampasnya. Bersiap-siap saja..”

Sehun terdiam, nampaknya ia sudah bisa menguasai dirinya kembali. Tapi lelaki itu tetap terlihat cemas dan takut. “Lelaki itu berkata bila dirinya bukanlah malaikat pencabut nyawa, tapi kukira dia Cuma mau menakut-nakuti kami. Bagaimana kalau dai memang bukan malaikat maut?”

“Aku belum tahu. Tapi aku punya beberapa dugaan.” perkataan Ray mengatakan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa dan itu membuat Jiyeon semakin mengigil ketakutan. Ray mendesah saat tatapannya kembali ke arah gadis tersebut.

“Seharusnya aku mengawasi semua ini,” gumamnya. Lalu sambil mendonggak ke arah langit dia berseru. “Pakai memokan lebih bagus!” suara Ray menggema, memberi penekanan pada gumamnya. Jiyeon mulai tersadar bila kedua laki-laki ini bukanlah manusia sungguhan. Di pandangi ayahnya yang berdiri membeku selayaknya manekin. “Mereka tidak akan menyakiti ayahku, kan?” pikirnya.

 

Laki-laki tua itu berdiri sambil menghembuskan napas berat. Melihat ia bergerak, Jiyeon maju dari sudut dan kemenudian memosisikan dirinya diantara mereka dan ayahnya. Ray memandangi tangannya milik Jiyeon yang saat ini menggengam erat di lengan sang ayah.

“Aku tidak mau pergi dari sini!” kata Jiyeon tanpa bergeser dari depan sang ayah. Seolah dirinya sanggup berbuat sesuatu. “Dan kalian tidak boleh menyentuh ayahku. Aku  punya batu ini. se—sekarang wujudku padat dan aku hidup.”

Ray menatap dalam mata gadis itu. “Kau memang punya batu, tapi kau tidak tahu cara menggunakannya. Selain itu, kau bukan lagi manusia hidup. Khyalanmu berpura-pura masih hidup sungguh ide yang buruk. Tetapi, mengingat kau memiliki batu itu sementaa “mereka” mempunyai mayatmu…”

Seketika tatapan Jiyeon berpindah ke Sehun. Melihat ekspresinya yang gelisah, Jiyeon pun tahu ucapan Ray benar. “Kai menyimpan mayatku?” mendadak tubuh Jiyeon menegang. “Untuk apa?”

Ray mengulurkan tangan. Jiyeon terlompat ketika tangannya mendarat di bahu miliknya. Tangannya hangat, dan Jiyeon dapat merasakan ketulusannya.. “Untuk mencegahmu berpindah alam sehingga dengan begitu bisa memberikan batu itu kepada kami selamanya.” kata Ray.

Mata gelapnya dipenuhi sorot mengasihani. “Selama mereka menahan mayatmu, kau terjebak di sini. Batu yang kau ambil itu jelas benda penting. Sedikit sekalli batu yang bisa melakukan hal itu. biasanya, ketika seorang manusia memiliki batu malaikat, batu itu akan menghancurkan mereka menjadi butiran debu dengan kekuatan yang dasyat.”

Mulut Jiyeon ternganga. Ray mengangguk. “Memiliki benda ilahi padahal kau bukan makhluk ilahi adalah cara pasti untuk menghancur leburkan jiwamu sampai menjadi debu.”

Jiyeon berusaha merapatkan bibirnya agar tidak gemetar. “Kalau kami memilikinya.” tambah Ray, “Kemungkinan besar mereka rugi. Sekarang batu itu terlantar, seperti halnya dirimu, mirip koin yang berdiri berputar-putar.”

Ray menjauhkan tangannya. Dan Jiyeon merasakan semakin sendirian dan kecil, meskipun postur tubuh gadis itu lebih besar dan tinggi dari pada dirinya.”Selama kau tetap berada di sisi duniawi, mereka punya harapan bisa menemukanmu.”  Ray berkata kembali. Lelaki tua itu berjalan ke arah jendela luar. menatap dunia yang bergerak lambat sampai nyaris tidak bergerak sama sekali.

“Tapi, Kai tahu di mana aku?” Jiyeon bertanya dengan suara yang panik. Ray memutarkan tubuhnya lambat-lambat.

“Secara fisik iya, tapi dia meninggalkan tempat ini agak terburu-buru saat membawa mayatmu. Dia melintasi alam tanpa memiliki batu yang bisa membuatnya mengingat di mana persisinya kau berada saat ini. Akan sulit baginya menemukanmu kembali.”

Seketika kepalanya sakit. di dekapkannya satu tangan ke tubuhnya dengan tangan lain sambil berusaha mencerna kata-kata, Ray.”Dia pasti menemukanmu. Lalu membawamu dan batu itu bersamanya. Setelah itu apa yang akan terjadi?” sambil menggeleng-geleng, Ray kembali berputar menghadap jendela. Cahaya yang merembes masuk membuat garis luar tubuhnya berwarna keemasan. “Mereka akan melakuakan banyak hal-hal mengerikan tanpa berpikir, agar mereka bisa lebih maju.”

Denyut nadi milik gadis itu semakin bertambah cepat dan Jiyeon merasakan sentakan mengerikan. Sebelum kecelakaan Kai sempat bilang dirinya adalah tiket menuju jenjang yang lebih tinggi. Dia bukan Cuma menginginkan Jiyeon mati. Dia menginginkan dirinya juga. bukan batu yang telah dicuri oleh dirinya, melainkan tubuh dan raga gadis itu.

Jiyeon ingin mengatakan apa yang saat tadi Kai katakan pada dirinya, namun ketakutan membuatnya berubah pikiran. Sehun menangkap ekspresi ketakutan gadis itu yang mendadak. Tetapi Ray sudah berjalan menyeberangi kamar Jiyeon dengan langkah yang mantap dan memanggil Sehun. Tanpa suara Sehun mundur ke lorong. Mulutnya terkatup dan kepalanya tertunduk. Dengan seluruh kekuatan yang dimilikinya, Jiyeon mengekori dengan terhuyung-huyung mengikuti kedua lelaki tersebut.

“Satu-satunya yang bisa kita lakukan sekarang,” kata Ray, “Adalah menjaga kondisi dirinya tetap utuh sampai kita menemukan cara untuk menghancurkan kekuatan batu itu atas diri gadis itu tanpa mengakibatkan jiwanya hancur.”

Ray berhenti di ambang pintu. Sehun berdiri di belakangnya. Pemuda itu terlihat begitu terbebani dengan kecemasan yang terlalu besar di pundaknya.

“Kau tidak bisa mati karena kau sudah mati.” kata Ray menatap Jiyeon. “Tapi ada kabar yang lebih buruk.” Ray menoleh ke lelaki yang ada di sisi kananya. “Sehun,” panggilnya. Membuat Jiyeon terlompat karena merasa tengang dan begitu pula Sehun yang juga terkejut.

“Ya, Pak?”

“Selamat, kau naik jabatan menjadi malaikat pelindung.” Sehun mematung, lalu menatap Jiyeon. “I—itu bukan naik jabatan, itu namanya hukuman!” jeritnya.

“Sebagian masalah ini terjadi karena kesalahanmu.” ungkap Ray. Suaranya terdengar kasar dan dingin dibandingkan semyuman licik yang dihadiahkannya kepada Jiyeon. “Kemungkinan malah hampir semuanya salahmu.” wajahnya berubah serius. “Hadapi saja. dan jangan timpakan ini padanya.”

“Tapi ini kan tanggung jawab Jiwon!” protes Sehun. Pemuda itu terlihat kekanak-kanakan saat ia merenggek begitu.

Ray menghela napas. “Jiyeon baru tujuh belas,” kata Ray. Nada suaranya menegaskan dia tidak ingin dibantah. “Kau mengurusi remaja tujuh belas. Seharusnya  ini gampang.” Ia berbalik sambil berkacak pinggang. “Sebagai tambahan atas detail tugas penjagaan malaikat baik yang biasa kau jalani, kau akan menjadi malaikat pelindung Jiyeon. kurasa kita bisa menyelesaikan masalah ini dalam…” untuk beberapa saat Ray menjeda ucapannya seakan ia sedang berpikir dan menimbang-nimbang apa yang akan ia katakan selanjutnya. “Satu tahun.”  tambahnyanya dengan tatapannya menyorot tajam. “Bagaimanapun caranya.”

“Tapi, Pak!” seru Sehun sambil menghambur ke dapan Ray. Ray tidak suka protesan Sehun sehingga ia langsung mendorong Sehun agar pergi dari hadapannya dan otomatis  pemuda itu langsung tersandung ke dinding saat Ray mendorongnya. “Tapi, Pak, aku tidak bisa!” kata Sehun kembali. Dan itu membuat Jiyeon semakin merasa seperti beban yang tidak diinginkannya. “Aku tidak bisa menjalankan tugasku sambil menjaga dia. kalau aku pergi terlalu jauh, mereka pasti akan menangkapnya.”

“Kalau begtu bawa dia bersamamu saat kau bekerja.” Sambil  berjalan keluar pintu. “Dia perlu belajar cara menggunkan batu itu. Ajari dia sesuatu di waktu senggangmu yang melimpah-ruah itu. lagi pula, tugasmu bukan melindungi dia supaya tetap hidup, melaikan Cuma menjaga supaya koinnya tetap berputar. Sekali ini cobalah bekerja lebih baik,” kali ini suara Ray terdengar menggeram.

Sehun menggerutu. Ray berbalik dan tersenyum cemas pada Jiyeon. “Jiyeon,” panggilnya sebelum dirinya pergi. “Jaga batumu. Batu itu akan melindungimu. Kalau kau lepaskan, sayap hitam pasti menemukanmu. Dan malaikat kegelapan pasti menemukanmu.”

Sayap hitam, Sebutan itu membangkitkan sebentuk gambaran menakutkan di benak Jiyeon. “Sayap hitam?” tanya gadis itu.

“Mereka bisa mencium bau kematian yang keliru sebelum kematian itu terjadi dan akan berusaha mengambil secuil jiwa yang terlupakan. Jangan sampai malaikat kegelapan itu menyentuhmu. Karena kau sudah mati, mereka bisa merasakan kehadiranmu, tapi karena kau membawa batu itu maka mereka akan mengira kau adalah malaikat maut dan merkea tidak akan menggangumu,” Jiyeon mengangguk cepat.

“Charnies!” rengek Sehun sewaktu Ray kembali menuruni tangga pintu depan. “Tolong jangan lakukan ini padaku!”

“Pergilah cari udara segar dan bekerjalah sebaik-baiknya.” gumam Ray sesampainya di pijakan bawah dan terus berjalan ke pintu. “Cuma satu tahun, kok.”

Ray keluar dari ambang pintu. Cahaya matahari menyinari dan dia pun menghilang secara perlahan-lahan seiring nagian yang terkena cahaya mentari. Sinar surya mengalir ke dalam rumah tampak berkerlap-kerlip, lalu selang beberapa detik suara mesin pemotong rumput mulai berderu kembali.

Jiyeon menarik napasnya ketika dunia kelihatannya sudah kembali normal. Ada kicauan buurng, angin dan suara musik dari kejauhan.  Beberapa saat kemudian Jiyeon berjalan menuju embang pintu dan kemudian , ia berdiri kebingungan di sebelah Sehun.

“Apa maksudnya satu tahun?” bisik gadis itu. “Cuma segitukah waktuku?”

Sehun memandangi Jiyeon dari atas ke bawah. Pemuda itu terlihat kesal. ”Mana aku tahu?” degusnya.

Dari arah kamar Jiyeon terdengar suara seruan, “Jiyeon-ah, kau kan itu?”

“Yah!” sahutnya sambil berlari ke arah ayahnya yang keluar dari kamar. Sang ayah memeluk putrinya dengan gembira dan tersenyum saat menatap Sehun. “Kau pasti anak yang mengantar Jiyeon pulang kemarin. Kai, betul?”

Jiyeon tersentak kaget saat menatapi sang ayah. “Bukannya Ayah sudah bertemu dengan Sehun sebelumnya? Lalu mengapa sikap ayah begitu ramah  padahal tadi ia begitu marah saat ingin melindungiku dari kedua pria tadi? Bagaimana soal kecelakaan yang kualami. Rumah sakit, atau mobil yang hancur? Bagaimana tentang kabar bahwa aku sudah meninggal?” ungkap gadis itu dalam hati.

Sehun memindahkan bobotnya dari kaki ke kaki dengan gerak-gerik seperti merasa malu, lalu melesatkan tatapannya ke arah Jiyeon seakan dirinya menyuruh gadis itu tetap menutup mulutnnya, ketika melihat mulut Jiyeon terganga.

“Bukan, Sir. Aku Sehun. Teman Jiyeon juga. semalam aku juga bersama dia, setelah Chanyeol pulang. Senang bertemu anda, Sir.” Tuan Park Masih terus menatap Sehun dalam bisunya. Merasa suasanya menjadi canggung, Sehun kemudian angkat bicara lagi. “A—aku mampir ke sini hanya ingin tahu apakah… Jiyeon mempunyai waktu luang untuk hari ini.”

Sang ayah terlihat senang dan bangga saat putri semata wayangnya berhasil mendapatkan teman tanpa bantuannya, Tuan Park berdehem seolah hendak memutuskan bagaimana cara memperlakukan pacar pertama putrinya. Padahal sesungguhnya Tuan Park tidak tahu siapa sebenarnya pemuda yang ada di hadapannya.

Tuan Park menjabat uluran tangan Sehun, Jiyeon berdiri memandangi dengan takjub saat mereka bersalaman. Sepertinya semua peristiwa barusan sudah di hapuskan dari ingatan Tuan Park.

“Apakah Anda punya makanan di sini?” tanya Sehun sambil mengosok-gosokkan tangan ke tengkuknya. “Aku merasa seperti sudah bertahun-tahun tidak makan.”

Seperti sihir, Tuna Park berubah ke mode orangtua yang sangat ramah dan baik hati. Lelaki paruh baya itu berbicarakan tentang waffel sambil menuruni anak tangga. Sehun bersiap menyusul ayah gadis itu namun terkesan ragu-ragu ketika Jiyeon menarik sikunya agar berhenti.

“Jadi ceritanya adalah Kai membawaku pulang dan sepanjang malam aku menonton televisi?” tanya Jiyeon. “Ayahku tidak tahu bila diriku jatuh dari atas jurang dan meninggal di sana?” Gadis itu terlihat sangat penasaran dengan jawaban dari lawan bicaranya.

Tak lama Sehun membalas semua pertanyaan Jiyeon dengan anggukan, “Siapa saja yang akan ingat tentang kejadian tadi malam? Semua orang, kah?” imbuh gadis itu kembali.

“Tidak satu manusia hidup pun,” sahut Sehun. “Ray melakukannya dengan perlhan-lahan dan  sangat berhati-hati agar teliti. Aku pikir dia pasti sangat menyukaimu.” Tatapannya turun ke batu yang menggantung di leher Jiyeon. “Atau barangkali dia hanya menyukai batu barumu yang cantik itu.”

Seketika Jiyeon merasakan lagi perasaan rikuh, ia lalu melepaskan kemeja pria itu dari gengamannya. Dan setelah terlepas, Sehun lalu menyusul ayah Jiyeon yang saat ini sedang meneriaki nama mereka berdua dari dapur. Jiyeon pun lalu meluruskan gaun, menyusurkan tangannya di rambut yang acak-acakan, lalu dengan langkah lambat dan hati-hati turun menyusul Sehun.

~OoO~

-Pov Jiyeon-

Satu tahun. Mungkin itu lah sisa waktuku. Paling tidak aku punya waktu satu tahun. Boleh-boleh saja aku sudah tidak hidup, tapi demi Tuhan, aku juga tidak ingin mati. Akan kucari cara bagaimana menggunakan batu yang kurebut ini agar aku bisa tetap berada di duniaku, di sini. Tempatku seharusnya. Bersamah ayahku. Lihat saja.

-TBC-

 

Advertisements

8 thoughts on “R.E.A.P.E.R [Part 5]

  1. Woah,apakah sehun n jiyeon akan saling jtuh cnta???haha..sehun akn jd plindung jiyeon slama setahun..seru bgt nie…apapun sehun kok gemas bgt ya,bila dia kesal d’minta ra. jd plindung nya jiyeon..keke.q tunggu lnjutannya..:)

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s