Amarillis [Part 5]

Amarillis

|| Title: Amarillis || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kai || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Preview: Part 1 | Part 2 | Part 3 | Part 4

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

Pagi itu terasa cerah. Seperti biasa, Jiyeon sudah bangun pagi-pagi. Sesaat ia mengerjab-gerjabkan matanya yang bingung. Dinding-dindingnya yang berwarna biru langit menggantikan dinding kamarnya yang putih. Namun suasan hening itu lah yang paling membuat dirinya bingung. Tidak ada suara cekikikan maupun suara langkah kaki di luar pintunya. Keheningan itu dipecahkan hanya oleh seekor burung yang menyanyikan kicauan paginya di luar jendelanya.

Daya ingatnya sedikit demi sedikit kembali. Sambil menghela naapas, Jiyeon teringat bila dirinya bukan di asrama. Ia lalu merebahkan kepalanya ke atas bantal untuk sekedar membaringkan tubuhnya sejenak. Kebiasaannya bangun pagi-pagi sudah tertanam terlalu dalam rupanya. Tak selang beberapa saat kemudian, ia bangkit dari atas ranjangnya, mandi setelah itu berpakaian.

Seorang teman akhirnya berhasil membujuk dirinya menerima pinjaman pakaian renangnya. Setelah mempelajari potongan pakaian yang tampak kecil itu, Jiyeon mengenakan apa yang telah dideskripsikan sebagai setelan bikini yang sopan. Nuansana biru keperakan memang indah sekali, dan menekan lekuk-lekuk lembut tubuhnya, namun sepertinya masih belum cukup menutupi dirinya. Jelas bahwa pakaian itu memperlihatkan lebih banyak daripada yang ditutupinya.

“Aneh sekali, ah,” ujar Jiyeon sambil membenahi letak tali atas bikininya itu untuk terakhir kalinya. “Mereka memakai ini di mana-mana sekarang, dan potonganku bisa dibilang bukan yang biasanya pasti akan banyak orang yang memandang kepadaku.”

Kurus, Jiyeon menyeringai begitu diirnya teringat akan penilaian Yolanda. Jiyeon mencoba untuk terakhir kalinya memperbaiki penampilannya. Setelah lama berkutat dengan pakaiannya, Jiyeon memilih celana jins putih dan atasan berwarna hitam berkerah rendah.

Saat Jiyeon menuruni anak tangga, Jiyeon menangkap suara –suara yang biasa terdengar di sebuah rumah di waktu pagi. Ia bergerak dengan hati-hati sekali. Jiyeon merasa khawatir bila dirinya akan menggangu rutinitas yang sudah ada. Di dalam ruang makan, sinar matahari yang membias masuk melalui jendela-jendela, menyemburatkan nuansana keemasan. Jiyeon menikmati pemandangan indah yang  begitu hangat dan ia tak mau merusak suasana tersebut.

“Kau sudah siap sarapan?” sapa Yolanda yang muncul dari arah dapur.

“Selamat pagi, Yolanda.” Jiyeon memberikan senyuman terbaiknya di pagi ini kepada Wanita berpostur tubuh besar tersebut.

“Duduklah, aku akan membawakan makanan dan menambahkan sedikit danging di tubuh kurusmu.” dengan penuh wibawa, sambil menepuk-nepuk punggung sebuah kursi dan Jiyeon mematuhinya.

“Yolanda, kau sudah lama bekerja untuk ayahku?”

“Sepuluh tahun.” Yolanda menggeleng-gelengkan kepala lalu menuangkan teh panas ke dalam sebuah cangkir. “Terlalu lama untuk seorang laki-laki hidup tanpa seorang istri, ibumu,” lanjutnya sambil memicingkan matanya yang berwarna gelap. “Apakah dia juga kurus?”

“Ehh?? Tidak, menurutku… maksudku…” Jiyeon berusaha memenuhi bayangan yang akan dianggap ideal dipandangan Yolanda. Suara tawa menggelegar lepas dari mulut Yolanda. “Kau mau bilang ia belum apa-apanya dibandingkan dengan Yolanda, benar kan?”

Jiyeon langsung menyelusuri pinggulnya yang penuh dengan tangannya. “Kau cantik sekali,” ujar Yolanda yang tiba-tiba menyentuh rambut ikal milik Jiyeon. “Tapi matamu terlalu muda untuk kelihatan sedih ” saat Jiyeon mengangkat wajahnya, gadis muda itu tercengang menanggapi kehangatan yang tidak biasa diterimanya, Yolanda menarik napasnya. “Aku akan menyediakan sarapan untukmu, dan kau harus memakan apa saja yang telah kusajikan padamu.”

“Sediakan untuk dua orang, Yolanda.” Jongin berjalan masuk, kulitnya yang kecokelatan dan ia nampak percaya diri dalam celana pendek denim dan baju kaus putih polosnya. “Pagi, yang mulia. Tidurmu nyenyak?” lalu menjatuhkan dirinya ke atas sebuah kursi di seberang Jiyeon, dan mengisi sendiri cangkirnya dengan teh panas.

Gerak-geriknya begitu santai dan luwes, tanpa meninggalkan kesan masih mengantuk, tapi matanya tampak awas. Jiyeon menyimpulkan bahwa Kim Jongin termasuk salah satu di antara sedikit orang yang langsung segar begitu bangun tidur. Selain  itu juga terlintas dalam pikirannya tiba-tiba, bahwa Jongin bukan hanya laki-laki paling menarik yang pernah dikenalnya, tapi juga yang paling suka memaksa kehendaknya sendiri. Sambil berusaha menekan keresahan yang mendadak ia rasakan, Jiyeon mencoba menempatkan diirnya dalam posisi yang tepat.

“Selamat pagi, Tuan Jongin. Tampaknya hari ini akan menyenangkan kembali.” kata Jiyeon yang menyaratkan kesinisan.

“Kita akan memiliki banyak peluang untuk itu di belahan pulau ini.”

“Belahan pulau ini?” Jiyeon mengawasinya saat laki-laki itu menelusuri rambutnya dengan sebuah tangan, dan menjadikannya tampak lebih menarik lagi.

“Mmm… di bagian belerang yang banyak kena angin hujan turun hampir setiap hari.” Jongin menghabiskan hampir setengah isi cangkirnya sekali minum dan Jiyeon memperhatikan jari-jari pria itu yang panjang dan kecokelatan. Kesannya begitu kuat saat memegang cangkir yang berwarna krem. Tiba-tiba Jiyeon teringat saat dagunya di sentuh oleh jari-jari itu. “Kenapa?” tanya Jongin.

“Eh… A—apa??” sambil mengerjabkan matanya, Jiyeon mengalihkan perhatiannya kembali ke wajah lelaki itu. “Tidak, aku hanya sedang berpikir… aku harus mengelilingi pulau ini sementara aku berada di sini,” sahutnya berimprovisasi. “A—apakah…  rumahmu di dekat-dekat sini?”

“Tidak begitu jauh.” Jongin mengangkat cangkirnya lagi, dan mengawasi Jiyeon melalui tepinya.

Jiyeon mulai mengaduk-aduk tehnya sendiri sesekali seakan apa yang dilakukannya membutuhkan konsentrasi yang tinggi. Sebenarnya ia tak berniat meminumnya, iya melakukan itu agar Jongin tidak terlalu berpikir bila ia sedang memperhatikan lelaki itu.

“Sarapan pagi tiba.” seru Yolanda, sambil memasuki ruangan dengan sebuah nampan yang penuh. “Kau harus makan.” dengan tampang yang serius, ia mulai memenuhi  piring Jiyeon. “Dan sesudah ini kau harus keluar supaya aku bisa membersihkan rumah. Dan Kau!” Yolanda menggerakkan sebuah sendok besar ke arah Jongin yang sedang mengisi piringnya sendiri dengan antusias. “Jangan masuk membawa tanah mengotori lantai-lantaiku.”

Jongin memberikan jawaban pendek dalam logat daerah pulau tersebut, kemudian menyeriangai. Suara tawa Yolanda menggema ke mana-mana saat ia bergerak dari ruang makan itu menuju dapur.

“Jongin-ssi… ” ujar Jiyeon, sambil menatap jumlah makanan yang tersaji di atas piringnya. “Aku tidak mungkin dapat menghabiskan ini.”

Jongin menyendok makanan yang ada di piringnya  sendiri dan kemudian mengangkat kedua bahunya. “Lebih baik kau mulai makan, Yolanda sudah memutuskan menambah berat badanmu bahkan bilau kau marasa kau tidak membutuhkan itu,” tambahnya, sambil mengolesi sepotong roti panggang dengan selai cokelat. “Yolanda bukan jenis yang suka diajak berkompromi. Anggap saja itu Spageti atau escargot.” bagian nada terakhirnya sinis.

 Jiyeon langsung menjadi tegang dan mengambil ancang-ancang untuk membela diri. “Aku tidak mempermasalahkan kualitas makanan ini, melainkan kuantitasnya.” dan Jongin mengangkat bahunya kembali. Itu membuat Jiyeon kesal.

Acara makan itu berlangsung tampa percakapan, tiga puluh menit kemudian sambil mengerahkan seluruh daya yang dimilikinya, Jiyeon berusaha mengangkat sendoknya. Setelah mengekpresikan ketidaksabarannya, Jongin bangkit dari kursinya.

“Tampangmu seperti seluruh isi perutmu bakalan keluar begitu kau memakan sesuap lagi. akan kubantu kau sebelum Yolanda datang ke mari.”

Jiyeon menggertakakn giginya, dengan harapan itu akan membuatnya lebih dapat mengendalikan dirinya. “Terima kasih.”

Saat Jongin menarik Jiyeon melintasi ruang muka menuju pintu depan, Tuan Park menuruni tangga. Mereka bertiga berhenti melangkah saat lelaki tua itu mengalihkan pandangannya dari yang satu ke yang lain. “Selamat pagi. Hari yang bagus untuk kau belajar menyelam, Jiyeon-ah.”

“Ya, aku sudah tak sabar.” Jiyeon tersenyum. Ia berusaha bersikap wajar meskipun itu sulit baginya.

“Bagus, Jongin memang ahlinya untuk itu.” senyum pria tua itu menghangat saat ia berpaling ke lelaki yang berdiri di dekat Jiyeon. “Kalau kau sudah kembali nanti siang, coba kau periksa mesin yang baru itu. Menurutku modifikasinya sudah cukup baik.”

“Tentu. Aku akan menyetel sedikit pesawat kabin itu. Tolong upayakan agar tingker tidak menyentuhnya, oke?” Kap. Tertawa menanggapi lelucon yang hanya dimengerti oleh mereka berdua. Kketika ia  kembali berpaling kepada Jiyeon, masih ada sisa senyum di wajahnya dan ia mengangguk formal. “Kita akan bertemu lagi nanti malam. Bersenang-senanglah.”

“Ya, terima kasih.” Jiyeon mengawasi  sementara pria tua itu bergerak menjauh. Dan saat itu hatinya terasa akan melambung. Ketika berpaling kembali, Jiyeon mendapati Jongin sedang memperhatikan dirinya. Ekspresinya tidak jelas.

“Ayo,” ajak lelaki itu tiba-tiba sambil meraih tangannya. “Kita berangkat.” Ia memungut sebuah tas tali panjang yang warnanya sudah pudar dan menyelempangkannya di pundaknya saat mereka melewati pintu depan.

“Mana pakaian renangmu?”

“Sudah kupakai.” sahutnya, Jiyeon memilih berlari kecil daripada di seret, Jiyeon berusaha mengimbangi langkah-langkahnya. Jalan setapak yang diambil Jongin rupanya sudah sering di lewati oleh orang. Di sana-sini tampak banyak bunga dan tanaman pakis. Warna-warna itu terkesan begitu marak. Kuntum-kuntum bunga yang beraroma vanila menambah kesejukan udara laut. Jiyeon dan Jongin tetap berjalan dalam keheningan, sementara matahari bersinar begitu terik di atas mereka.

Setelah lima belas menit berlari-lari kecil, dengan napas yang tersenggal-senggal, Jiyeon berkata, “Kuharap tidak begitu jauh lagi sekarang. Sudah lama sekali aku tidak berlari seperti ini.” Jongin menoleh, dan Jiyeon menyiapkan dirinya untuk mendengar ejekannya. Namun ternyata pria itu mulai mengatur langkahnya sehingga lebih mudah diikuti.

Merasa senang, Jiyeon hampir saja tersenyum. Ia bahkan mulai merasa kemenangan kecil atas Kim Jongin sebagai satu prestasi.

~OoO~

Teluk itu ternyata letaknya terpencil, terlindungi oleh pohon-pohon palem dan ditumbuhi oleh tanaman kembang sepatu dengan kelopak-kelopak bunga yang seperti satin. Dalam keindahan pulaiu ini, tempat itu bak permata yang amat berharga. Airnya begitu bening. Seakan airnya baru saja turun dari atas langit. Berkilau dan bersinar bak air hujan segar dalam warna-warna kristal.

Sambil mengeluarkan pekikan antusias, Jiyeon mulai menarik tangan Jongin menerobos rimbunan pohon-pohon palem menuju tengah-tengah panas matahari dan hamparan pasir berwarna putih. “Oh, cantiknya!” Jiyeon berputar cepat dua kali seakan untuk memastikan bahwa ia telah melihat keindahan yang memesona itu. “Bukan main, betul-betul bukan main!”

Jiyeon melihat senyum mengembang laki-laki itu yang tersikap angin yang menghalau kemurungannya. Dan sesaat timbul saling pengertian yang menggantikan rasa tegang di antara mereka. Namun itu tak bertahan lama karena selang beberapa saat kemudian wajah Jongin berubah menjadi serius kembali, ketika ia berjongkok untuk merongoh isi dalam tasnya. Ia mengeluarkan perangkat menyelam.

“Menyelam di tempat yang dangkal amat mudah begitu kau menguasai cara rileks di dalam air dan bernapas sebagai mestinya. Yang penting adalah santai dan selalu waspada.” Jongin mulai memberikan pelajarannya dengan menggunakan istilah-istilah yang sederhana. Ia menjelaskan cara bernapas, sambil menyetel masker oksigen Jiyeon.

“Kau tidak perlu mengajari aku seperti aku ini orang bodoh!” kata Jiyeon pada akhirnya, jengkel menanggapi nada bicara dan tampang Jongin yang sok serius. “Otakku masih bekerja. Kau tidak perlu mengulang-ulang empat sampai lima kali sebelum aku dapat menangkap maksudmu.”

“Oke.” Jongin menyerahkan perangkat selam pada Jiyeon. “Kita coba di dalam air.” Ia melepaskan baju kaosnya, dan menjatuhkannya ke atas tasnya. Sambil berdiri ia menyetel masker oksigennya sendiri.

Dadanya yang kecokelatan di tumbuhi oleh bulu-bulu gelap yang tipis. Permukaan kulit yang menutupi tulang-tulang rusuknya  tampak kencang, dan membentuk lekukan ke bawah mengikuti garis pinggangnya yang ramping. Celana denimnya yang belel mengantung rendah di pinggul. Entah mengapa Jiyeon merasa sesuatu di perutnya yang terus menjalarkan rasa hangat ke seluruh tubuhnya.

Ia mengalihkan pandangannya ke bawah dan mulai mempelajari permukaan pasir secara intensif.  “Buka pakaianmu.” mata Jiyeon melebar. Ia melangkah munudr dengan cepat. “Kecuali kau akan berenang mengenakan itu,” tambah Jongin. Ia mencibir bibirnya sebelum memutar tubuhnya dan bergerak ke arah air.

Salah tingkah, Jiyeon berusaha mengimbangi sikap acuh pria itu. perlahan-lahan, Jiyeon melepaskan atasannya setelah itu menurunkan celana jinsnya, ia melipat pakaiannya kemudian menyusul Jongin yang sedang menuju teluk. Laki-laki itu sedang menunggu dirinya. sementara air menerpa pahanya. Matanya menjajaki setiap inci bagian tubuh Jiyeon yang terbuka sebelum akhirnya berhenti di wajahnya.

“Jangan jauh-jauh dariku.” perintahnya begitu Jiyeon sampai di dekatnya. “Kita akan coba di atas permukaan dulu sebentar untuk membiasakan dirimu.” Ia membetulkan letak masker Jiyeon. dengan santai mereka bergerak di tempat dangkal, Di sana sinar matahari menyentuh sampai ke dasar permukaan laut dan tanaman yang tumbuh di sana tampak berayun-ayun kesana-kemari.

Lupa akan intruksi yang telah diberikan oleh Jongin kepadanya, Jiyeon menghirup air dan bukan udara. Terbatuk-batuk kepalanya muncul di atas permukaan air.

“Kenapa?” tanya Jongin, sementara Jiyeon berusaha mengembalikan napasnya. “Kau harus memperhatikan  apa yang sedang kau kerjakan.” ujarnya mengingatkan. Setelah memberi satu tepukan mantap di pundak Jiyeon, ia memasangkan kembali masker gadis itu.”Siap?” tanyanya.

Jinyeon mulai menarik napasnya yang dalam selama dua, tiga kali dan kemudian menjawanya. “Ya.” Ia masuk lagi ke dalam air.

Sedikit demi sedikit, ia menjajaki tempat yang lebih dalam, dengan berenag di samping Jongin. Ia bergerak di air seperti seekor burung di udara, dengan luwes dan penuh percaya diri. Dalam waktu singkat, Jiyeon belajar menginterpretasikan isyarat tangan di bawah air Jongin dan mulai mengimprovisasi kode-kodenya sendiri. Mereka mulai ditemani oleh ikan-ikan yang tampak ingin tahu. Saat menerawangi mata-mata yang bulat dan tidak berkelopak itu, Jiyeon bertanya-tanya sebenarnya siapa sebetulnya yang sedang mengamati siapa.

Matahari mengedipkan cahayanya yang abadi, memberikan kehidupan kepada rumput-rumput laut dan membuat kulit-kulit kerang dan bebatuan tampak berkilau. Jari-jari tanaman koral bernuansa merah muda mengelompok membentuk tempat persembunyian bagi ikan-ikan berwarna biru terang. Jiyeon mengawasi dengan terpesona saat seekor kerang menyelinap keluar dari cangkang pinjamannya kemudian buru-buru pergi. Sepasang bintang laut berwarna jingga menempel dengan mesra pada sebuah batu.

Jiyeon menikmati keberadaanya dengan lelaki yang tempramen yang aneh ini. Namun ia tidak mencoba menjajaki sampai seberapa jauh ia dapat berbagi rasa dengan laki-laki itu. perubahan suasana yang terjadi berlangsung dengan begitu saja dan cepat. Saat Jiyeon sedang asik menyelam ia meraih sebuah kulit kerang berbentuk kerucut yang besar dan sepertinya sudah lama ditinggalkan oleh penghuninya. Setelah mengacungkannya kepada Jongin, Jiyeon langsung berenang menyongsong kilau cahaya di atas permukaan.

Begitu kepalanya muncul di atas, ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan menciprati masker Jongin dengan percikan air. Dengan tertawa ia menarikkan maskernya sendiri ke atas ubun-ubunya dan berdiri di kedalaman yang mencapai batas pinggang.

“Oh, serunya! Aku belum pernah melihat  yang seperti ini.” sambil menyibakkan juntaian rambutnya yang basah ke belakang telinganya. “Warna-warna itu, berbagai nuansa biru dan hijau saling melebur. Rasanya… rasanya tidak ada apa-apa lagi di atas bumi ini selain dirimu sendiri dan tempat kau sedang berada di sana.”

Antusiasmenya membuat pipinya merona, matanya sebiru laut itu sendiri. Rambutnya gelap , menempel bak sebuah penutup kepala yang mulus di atas kepalanya. Kini, tanpa ikal—ikal halus lagi, lekuk-lekuknya lebih sensitif. Jongin yang mengawasinya tersenyum, menyibakkan maskernya  ke atas kepalanya.

“Belum pernah aku mengalami sesuatu seperti ini. Aku bisa tinggal di bawah sana selamanya. begitu banyak untuk dilihat, begitu banyak untuk disentuh. Lihat apa yang kutemukan, bagusnya.” Gadis itu memegangi sebuah kulit kerang itu dengan kedua tangannya, dan mulai mengusap guratan-guratannya yang berwarna bara. “Apa ini?” tanya Jiyeon.

Jongin menggengam kulit kerang itu sesaat, membalikannya dalam telapaknya sebelum mengembalikannya kepada, Jiyeon. “Kerang spiral. Kau akan menemukannya berbagai jenis kerang di sekeliling pulau ini.”

“Boleh kusimpan? Apa ada yang memiliki tempat ini?”

Jongin tertawa, geli mellihat Jiyeon begitu antusias. “Ini sebuah teluk pribadi, tapi aku kenal yang punya. Aku rasa ia tidak akan keberatan.”

“Apakah aku bisa mendengar laut dengan ini? kata orang kan bisa.” Jiyeon mendekatkan kerang itu ke telinganya. Mendengar suara gema rendah yang mendayu-dayu, matanya melebar dengan takjub. “Oh, c’est incroyable!” karena terlalu senang, Jiyeon berseru dalam bahasa Prancis.

Matanya menatap Jongin sementara satu tangannya menahan kerang itu di telinganya dan tangannya yang lain bergerak mengikuti kata-katanya. “Jongin, ecoute.” Ia menyodorkan kerang itu, untuk berbagi penemuan barunya. Jongin tertawa dalam nada seperti ketika ia tertawa bersama ayah Jiyeon. ”Maaf, Tuan putri, tapi aku tidak mengerti.”

“Oh, maaf. Aku lupa. Bila aku bukan di Prancis.” Jiyeon menyibak rambutnya, kemudian melontarkan sebuah senyum pada Jongin. “Luar biasa, aku bisa mendengar suara laut.” suaranya menghilang melihat perubahan ekspresi di mata Jongin. Entah mengapa warnanya yang menjadi gelap membuat Jiyeon tereyak dan jantungnya berdegup lebih cepat.

Alam bawah sadarnya meneriakinya agar dirinya segera menarik diri, namun tubuh dan hatinya langsung luluh begitu Jongin merengkuh dirinya ke dalam pelukannya. Seakan dengan sendirinya bibirnya tertengadah ke arah laki-laki itu dengan pasrah.

Untuk pertama kalinya Jiyeon merasakan tangan seorang lelaki menggerayangi bagian tubuhnya yang terbuka. Tak ada apa-apa lagi di antara mereka kecuali air yang mengalir dari tubuh mereka. Di bawah cahaya matahari yang keemasan, hati Jiyeon membuka, dan ia menyerahkan dirinya. Ia menyambut apa yang disampaikan oleh bibir laki-laki  itu, Ia bergerak mengikuti alur belaian tangannya, sehingga ia merasakan seakan mereka tidak mungkin terpisahkan lagi.

Dengan perlahan-lahan Jongin merenggangkan pelukannya, seakan sebetulnya ia enggan melepaskannya. Desahan Jiyeon mengungkapkan perasaan senang sekaligus cemas akan kehilangan mementum yang merupakan  pengalaman baru bagi diirnya.

“Aku berani bertaruh,” gumam Jongin, sambil menatap ke dalam mata Jiyeon, “Bahwa kalau kau bukan seorang aktris kelas satu, kau pasti baru saja keluar dari sebuah biara.” dalam sekejab, ekspresi putus asa membayang di wajah Jiyeon, dan ia segera memutar tubuhnya ke arah pantai.

“Tunggu!” Jongin mencengkram lengannya, dan memaksa Jiyeon berhadapan dengannya. Alisnya mengerut saat ia mempelajari rona kemerahan di pipi gadis itu. “Sudah bertahun-tahun aku tidak melihat akting seperti ini. Tuan Putri, kau benar-benar mencengangkan. Sengaja  atau tidak,” lanjutnya, sementara senyumannya tampak mengejek, meskipun sikapnya tidak sesinis sebelumnya. “Kau mencengangkan aku. Sekali lagi.” ujarnya kemudian sambil menarik Jiyeon ke dalam pelukannya.

Kali ini Jongin mencium Jiyeon lebih lembut dan lebih intim. Jiyeon pun hampir tak berdaya menghadapinya, dan anehnya tubuhnya mematuhi setiap intruksi yang diberikan pria itu.  Tangannya yang mencengkram pundak Jongin, menjajaki otot-ototonya, sementara lelaki itu menciuminya tampa ampun. Tanpa menyadarinya, Jiyeon telah menjadi si penggoda dengan segala kepolosan yang dimilikinya. Jongin menarik dirinya dan mengamati dengan serius sinar mata dan bibir Jiyeon yang tampak merekah.

“Sepertinya kita tidak bisa pulang sekarang!” ujarnya pada akhirnya sambil mengembuskan napas. “Ayo kita duduk berjemur sebentar.” tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, Jongin langsung menarik tangan Jiyeon dan mulai bergerak ke arah pantai.

-TBC-

~OoO~

Haloo… Reader’s semuanya, aku bawakan lagi nih update-tan fanfic amarillis buat kalian semua ^^ Maap kalau banyak typo yang bertebaran, soalnya miminya cuman manusia biasa, hehe 😀

Penasaran sama kelanjutannya? Kalau gitu jangan lupa tinggalkan jejaknya ya setelah selesai membacanya, biar daku lebih semangat lagi buat lanjutan ini Fanfic, hoho…

Sebelum dan sesudahnya mimin juga mau ngucapin terimakasih sama semua readers yang sudah mau meninggalkan komennya di part sebelumnya dan di sini…

See you next part 6…

 

Advertisements

26 thoughts on “Amarillis [Part 5]

  1. ka kapan mau nerusin amarillis sumpah deh gw kejebak banget sama ini cerita stiap hari gw cek terussss….. sedih pas gak ada yg baruuuuuuuu 😢😢😢😢

    pokoknya di tunggu banget ini ceritanya
    penggemar setia ini kaaa
    semangat kaaa ✊✊✊💓💓💓

    Liked by 1 person

    • wuah… seneng na ada yang nungguin kelanjutan ffku… kalau gak ada aral melintang ada kok ffku yang bakalan ku up minggu ini ditunggu aja ya… mian bikin kamu n readers yang lain nunggu lama… soalna beberapa bulan ini aku lagi hiatus karena lappyku rusak alhasil kelanjutan na kepending karena aku harus ngetik dari awal lagi plus mencari mood yang baik, heheee… sekali lagi makasih buat semangatnya ^^

      Like

  2. lanjutan ni ff yg paling q tunggu..
    penasaran dgn apa yg diperbuat jiyeon..
    itu tebakan jong in atau benaran yah
    tetap kasian jiyeon kalau berhadapan dg ayahnya..
    serba salah..

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s