It’s Love? [Part 3]

its

|| Title: It’s Love? || Author: Phiyun || Genre: Romance | Hurt | Sad || Cast: Im Yoona | Choi Siwon ||Rating : 17+ ||

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Cerita ini juga terinspirasi dari film maupun buku yang pernah penulis tonton dan baca. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

No Bash, Plagiat, Copypaste! Dont forget Like & Comment ❤

Preview:  Part 1 | Part 2 |

*** Happy  Reading ***

*Chapter 3*

Aku benar-benar sudah gila! Dan kau adalah orang pertama yang harus disalahkan karena telah membuatku seperti ini.

~~~ooo~~~

“Kau akan mendapatkan barang-barang Shinee untuk pemakaian sepuluh tahun gratis,” Jung Shinyoong berkata seakan dia memberikan Yoona dunia ini. Lelaki itu terus bergerak mundar-mandir di ruangan.

“Bila ada jabatan yang cocok di kantor, kami akan memanggilmu nanti. Sementara itu kau akan mendapatkan bonus untuk masa kerjamu.” ujarnya dengan suara yang melengking.

“Kebaikan yang kosong!” jerit Yoona dalam hati. “Aku tahu kau tidak akan menggunakan wajah ini di dalam kantormu. Setiap wanita yang bekerja untukmu semuanya merupakan iklan hidup bagi Shinee.” ada percikan api di mata Yoona saat berkata pada pria tersebut.

Yoona menunggu respon apa yang akan ia lihat dari lawan bicaranya namun sayangnya pria itu enggan membicarakan permasalah itu kepadanya. Hingga beberapa saat kemudian Shinyoong angkat bicara. “Seohyun akan mengambil alih tugasmu. Untunglah masih ada dia di sana.” dia berhenti lalu melirik Yoona. “Aku akan menyuruhnya menemuimu agar kau dapat memberikan beberapa petunjuk.”

Mata Yoona mendelik saat mendengar perkataan pria yang saat ini sedang berdiri di hadapannya. Yoona berusaha menatap tatapan dingin lelaki itu dan menahan amarahnya atas kemalangan yang ia peroleh/ gadis itu juga mengerahkan seluruh kekuatan mentalnya yang telah terlatih bertahun-tahun. ia tidak ingin mengulurkan tangan kepada manusia yang tidak berperasaan ini.

“Jangan berharap aku akan menolongmu, Shinyoong. Aku akan meninggalkan Seoul segera,” ucapnya tegas.

Dengan sebelah alis yang terangkat, Shinyoong menghampiri sisi ranjang dan menatap Yoona. Yoona lebih ingin menjadi buta saat itu agar dirinya tidak melihat gaya dan pandangan lelaki itu saat menatap dirinya.

“Kau menolak untuk membantu walaupun apa yang telah kuberikan padamu?”

“Ya. Sebagaimana kau menolak untuk menolongku karena kecelakaan yang menghancurkan penampilanku. Biarkanlah Seohyun belajar dari bawah sepertiku dulu.” Nadanya meninggi walau ia sudah berusaha untuk tenang. “Aku sudah mengerahkan semua kemampuanku dan memberikan waktuku lima belas jam setiap hari selama sepuluh tahun, Shinyoong. Aku telah mendapatkan pengalaman sepuluh tahun dan wajah codet. Apa yang telah Seohyun peroleh?” desis Yoona, matanya yang menyala bak api menatap tajam Jung Shinyoong.

Dengan entengnya pria itu membalas. “Dia memperoleh kecantikan alami yang membuat iri setiap wanita yang melihatnya.” ucapnya dingin. “Aku akan membayar untuk waktumu yang kau pakai dengan dia. Seohyun gadis yang cerdas, dia akan belajar dengan cepat.”

“Kau tidak akan mampu membayarnya, Shinyoong.”

“Jangan kau bersikap begitu sarkastis kepadaku, Yoona-ah. Apa kau lupa dengan siapa kau berbicara. Kau masih membutuhkan surat keterangan kerja dariku untuk dirimu agar kau bisa bekerja lagi.”

Mendengar penuturan dari pria itu membuat Yoona naik pitam, “Jangan mengancamku, Jung Shinyoong! Kau tidak mempunyai kepandaian! Usahamu akan merosot dalam setahun maupun dua tahun mendatang karena kau tidak bisa menganalisa keadaan pasar sekarang dan kau tidak bisa melihat sesuatu dibalik wajah cantik. Sekarang keluar di sini!!!” pekik Yoona.

Yoona bisa melihat tubuh Shinyoong yang menegang. Namun kata-kata lebih tajam daripada tangannya bila dipergunakan untuk menampar Yoona. “Dan siapa kau sekarang, Yoona-ah? Kau sekarang hanyalah sebuah papan codet. Tidak ada barang kosmetik yang dapat menolongmu dan kau tidak akan bekerja dibidang kosmetik lagi, camkan itu baik-baik!”

“Mungkin tidak. Tapi aku mempunyai rencana sendiri!” gadis itu langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang. “Sekarang pergilah!” Dia berteriak. Kepalanya terasa sakit, berdenyut-denyut nyeri.

“Kau akan menyesal untuk ini.” suara lelaki itu menembusi kepusingan di kepala milik Yoona, menambah kacau otaknya.

Tak lama pintu pun terbentang. “Apa yang…? Siapa kau?” Siwon menuntut begitu dia mencapai sisi ranjang dengan tiga langkah yang panjang. Tangannya terkepal, seakan mencoba menahan untuk tidak menggunakannya.

“Aku bekas Bosnya, bila hal ini menjadi urusanmu. Bos yang terakhir yang ia miliki dalam bidang kosmetik bahkan mungkin Bos yang terakhir dalam segala bidang.”

Merasa tersinggung dengan perkataan pria tersebut membuuat Siwon meradang. Kedua tangannya langsung mencengkram pundak Shinyoong  dan memutarkan badannya. “Hai bung, kau mungkin tidak mengetahui bahwa kau nyaris kehilangan gigi-gigimu.” Ada ancaman disinar matanya dan Shinyoong menyadari itu.

Perasaan panik menyelimuti Yoona. Untuk beberapa saat ia merada akan pingsan. SIwon dan Shinyoong—berkelahi? Shinyoong mencoba menghempaskan tangan yang mencengkramnya, dan Siwon membalikannya ke pintu dengan suatu hempasan yang kuat.

“Lepaskan tanganmu! Kau tidak tahu akibatnya nanti!” suara keangkuhan dari Shinyoong seketika lenyap dan berganti dengan rengekan.

“Dengarkan dengan seksama, karena aku hanya mengatakannya untuk sekali saja. Aku akan datang ke kantormu satu jam lagi untuk mengambil upah dan haknya. Siapkanlah semuanya. Kau masih beruntung, karena aku tidak mematahkan kedua kakimu. Sekarang, enyahlah!” suatu hentakan dari tangannya yang kuat melempar Shinyoong ke luar.

Yoona tidak mendengar pintu tertutup atau langkah-langkkah kaki, ia masih berbaring meram dengan tubuh yang tertutupi oleh selimut. Rasa pedih dari kata-kata Shinyoong menusuknya dalam dan berulang-ulang. Codet…codet…codet… ia telah mengalami kekejaman hidup sebelumnya, tetapi tidak pernah senestapa dan senista ini.

Ia merasa tdak adil atas kemalangan yang menimpa dirinya.  Air mata mulai mengalir deras. Ia merasa selimutnya ditarik, namun dalam keadaan histeris itu, ia masih cukup sadar dan dengan cemas ia menarik kembali selimut tersebut. untuk pertama kalinya juga ia merasa putus asa dalam menjalani hidup.

“Jangan menangis… Yoona-ah. kehilangan pekerjaanmu bukanlah akhir dunia ini. Shh… jangan menangis.” Suaranya memohonm tetapigadis itu tidak bisa dihibur. Yoona menolak tangan yang menyentuh pundaknya, mencoba menepisnya walau tersa nyeri menusuk dadanya yang luka.

“Pergilah,” ia tersengguk. “Pergi! Jangan melihatku!” ia menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.

“Baiklah. Aku tidak akan melihatmu bila kau tidak menghendaki. Tetapi janganlah menangis. Si brengsek itu tidaklah berharga setetespun dari air matamu.”

“Kau tidak mengerti. Pergilah.” Kali ini suaranya terdengan pilu dari balik selimut.

“Aku tidak bisa meninggalkanmu sperti ini, Yoona-ah.” tak lama kemdudian Siwon mengeluarkan kata-kata yang menggambarkan kemarahannya kepada Shinyoong. “Aku bisa mematahkan lehet bangsat itu, jika kau inginkan.” Setelah itu ia membelai punggung tangan Yioona. “Jangan menguatiri pekerjaanmu yang hilang. Semuanya akan beres, aku berjanji.”

“Aku tidak memperduliakan pekerjaan itu.” ucapnya gemetar. “Aku tidak peduli lagi dengan… pekerjaan sialan itu.” lirihnya dengan deraian air mata.

“Lalu apa? Apa yang membuatmu sakit hingga membuatmu menangis?” balas Siwon seraya berbisik di telinganya. “Biarkan aku membantumu, Yoona-ah.” suaranya begitu dalam penuh rasa simpatik.

“Jangan mengasihani diriku!” bentak Yoona. “Aku tidak membutuhkanmu—atau siapa pun.” Yoona mencoba menghempaskan tangan SIwon, namun sayangnya jari-jarinya itu memegang lebih kencang.

“Kau tidak ingin orang lain mengasihani dirimu. Apakah dia kekasihmu? Itulah sebebnya hingga kau tenggelam dalam perasaan pengasihani diri sendiri?”

Mendengarkata-kata Siwon yang seperti itu, Yoona langsung menghentakakn selimutnya dari mukanya. “Tidak! Aku tidak akan tidur dengan kodok buduk itu! Walaupun dia orang terakhir di dunia sekalipun!” pekiknya.

“Bagus. Aku pikir juga dia bukanlah tipemu.”

Yoona lalu melirik ke arah Siwon dan berkata. “Kau juga bukan tipeku, tuan.” sahutnya ketus.

“Kau harus belajar membagi kekecewaan dan kesengsaraanmu kepada yang memperdulikanmu, sayang.”

“Bila kau pikir kau akan pergi berjuang untukku, tuan, lupakanlah! Aku dapat menempuhnya sendiri.” tungkasnya.

Dengan senyum yang mengembang Siwon pun angkat  bicara kembali. “Aku tidak meragukan itu, sayang. Tetapi akan jauh lebih baik bila kau berjuang di sisiku.”

“Hentikan!” matanya menyorot kesal ke arah Siwon. Kemudian ia berpaling darinya. “Aku ingin kau tidak pernah datang lagi ke sin!”

“Sepertinya itu tidak bisa, karena itu sudah ditakdirkan untuk terjadi.”

Yoona berbalik menatap Siwon dengan tajam. Dan kemudian menyeringai lebar. “Jangan menguliahi dengan segala ocehan reinkarnasi. Aku tidak akan menanggapinya. Seandainya… aku betul mempunyai kehidupan lain, aku mungkin menjadi Cleopatra dan kau ular cobra yang menggigitku!” kata-kata itu keluar begitu saja dari bibirnya yang kaku.

Siwon tertawa keras saat mendengar perkataan lawan bicaranya. “Dan aku senang menggigiti payudaramu yang empuk.”

“Aku senang kau terhibur.” ejek Yoona.

“Paling tidak aku telah mendapatkan perhatianmu.” Kemudian mengambil selembar tisu dari atas meja yang ada di samping Yoona dan lalu ia menyeka air mata gadis itu.

“Baiklah, kita sekarang sudah berhasil melompati rintangan ini, jadi mari kita selesaikan sampai tuntas.”

“Rintangan ap..” belum sempat Yoona menyelesaikan perkataannya, Siwon langsung memotong. “Shh… dengarkan. Aku akan pergi ke kantormu dan mengambil hak-hakmu. Apakah kau mempunyai barang-barang pribadi yang ingin aku ambilkan untukmu?”

“Kau tidak perlu melakukan itu.” suaranya sudah tidak begitu sinis lagi. “Aku bisa meminta Taeyeon mengambilkan barang-barangku itu.”

“Benarkah?” sahut Siwon dengan nada mendesak.

Merasa Siwon terkesan memaksa, Yoona pun mau tak mau menegaskan kembali. “Ya. Kim Taeyeon, adalah kepala kantor jadi ia akan membereskan mejaku.”

Tak selang beberapa saat kemudian Siwon mengangkat telepon dari meja di sisi ranjang. “Berapa nomornya?” Yoona lalu memberitahukannya dan lelaki itu mulai menekan angka yang di ucapkan oleh lawan bicaranya.

“Halo, Taeyeon. Ini Choi SIwon, tunangan Im Yoona.” Sambil menutup mulut Yoona dengan tangannya ketika tarikan napas protes keluar dari bibir Yoona. “Kau tidak tahu ya, ia sudah bertunangan? Aku heran mengapa dia tidak memberitahukanmu. Sudah berapa lama kami bertemu? Kami sudah saling mengenal lama, bertahun-tahun.”

Seratus tahun, Siwon membisikkan kepada Yoona, dan bibir Yoona mengerut marah. “Aku pikir sudah waktunya ia meninggalkan pekerjaannya. Karena dalam waktu dekat ini kami akan berumah tangga segera setelah ia sembuh.”

Beberapa saat kemudian gagang telepon itu pun di tutupnya setelah ia meminta tolong kepada sahabat Yoona untuk mengemasi barang-barang milik Yoona.

“Kau… tidak mempunya hak untuk berkata demikian!” Yoona membentak. “Kita belum bertunangan! Aku belum mengenalmu dengan baik!”

“Ia tidak mengetahuinya, Cleo.” ujarnya dengan lembut.

“Tetapi aku mengetahuinya, K—kau… K—kau … cobra!”

“Apakah aku harus menggigitmu kembali?” tangannya mencari tangan Yoona dan dengan lembut digengamnya.

“Oh, Siwon! Jangan lakukan ini kepadaku.” Yoona menekan bibirnya dengan kuat menahan untuk tidak tersenyum. “Tidakah kau mengerti. Aku tidak ingin tertawa. Aku ingin serius dan garang. Aku merasa sangat buruk sekali. Kumohon pergilah dan biarkanlah aku menyelesaikannya sendiri.”

“Kau boleh segarang-garangnya minggu depan, tetapi jangan hari ini atau besok.”

“Mengapa minggu depan?” tanyanya heran.

Dan Siwon pun menjawab. “Karena akku tidak akan berada di sini. Aku akan pergi se Swiss selama kira-kira seminggu. Keluarkanlah perasaan amarahmu selama aku pergi. Apakah kau akan merindukanku nanti?” suaranya hampir merupakan bisikan di telinga Yoona ketika dia menundukan dekat wajahnya.

Yoona menutup matanya seakan dirinya sedang menganalisa apa yang telah terjadi saat ini, lalu membuka matanya lebar-lebar  ketika ia merasakan sentuhan lembut bibir Siwon dipipinya.

“Ssshh…hh…” suaranya menenagkan Yoona. Bibirnya menari di pipinya yang tidak tergores. “Apakah aku membingungkanmu? Terlalu cepatkah?”  katanya dengan suara yang dalam. “Aku tidak main-main Yoona. Bila aku menginginkan sesuatu, aku akan berjuang untuk memperolehkannya.”

Suaranya yang mantap dan berani ini, keangkuhannya, memberikan kesenangan kepada Yoona walaupun pikirnya masih menentangnya.

“Biarlah perpisahan sementara ini memberikan kau kesempatan untuk berpikir, aku tidak mau membuat kau tergesa-gesa, tetapi bila aku kembali nanti biarlah kita mempunyai keputusan yang tetap.”

Kebingungan merayapi Yoona, sementara pikirannya yang kacau bergelut mencari jawabannya. Ia lalu merebahkan kepalanya di atas bantal dengan sikap tak berdaya. Siwon mengawasi perubahan-perubahan pada wajah Yoona. “Aku alan berbicara dengan dokter Kim sekarang, lalu mengambil barang-barangmu dan membawanya ke flatmu. Aku juga akan menyetorkannya bila kau memberikanku kertas setoran Flatmu.”

Ketika Siwon meninggalkannya, dia melangkah dengan tegap ke arah pintu, menoleh dan melemparkan senyuman manis sebelum lenyap dari pandangan Yoona. Yoona berbaring tenang sambil memikirkan kata-kata lelaki itu. Bila aku menginginkan sesuatu, aku akan berjuang untuk memperolehkannya…

Yoona sadar bila dirinya belum pernah dalam ketidak berdayaan. Apakah karena lelah fisik dan mental sehingga ia membiarkan orang lain yang bisa di katakan orang asing yang mengambil alih urusannya semua?

~OoO~

–keesokan harinya-

Siwon akan pergi ke Swiss hari senin. Dia datang untuk kunjungan singkat pada minggu malam, dan Yoona mencoba menjelaskan isi hatinya.

“Aku akan keluar dari sini pada saat kau kembali. Terima kasih untuk segalanya. Kau benar-benar telah banyak menolong. Aku sangat menghargai semuanya, namun setelah hari ini  aku bisa menempuhnya sendiri. Aku sudah terbiasa dengan kondisi seperti ini.” ungkap Yoona dengam posisi duduk dikursi di samping ranjang. untuk pertama kalinya ia dapat memandang Siwon dari tempat yang sejajar. Namun dia tetap kelihatan jauh lebih besar, dan lebih yakin akan dirinya.

“Bila kukembalikan kita akan berbicara kepada dokter itu dan mencatat waktu-waktu pemeriksaan nantinya. Apakah itu bisa menjadi alasan untuk kita tetap berhubungan? Lagipula setelah kau keluar dari rumah sakit, aku ingin membawamu ke rumahku. Aku yakin kau pasti akan menyukainya.”

“Tuan Choi! Hentikan! Aku sudah bosan mendengar kau terus mengatur rencanaku. Sudah kukatakan berulang kali dan aku tahu kau bukanlah orang dungu!”

“Tidak, Yoona, aku tidak dungu, hanya teguh.” Seru lelaki itu.

Siwon duduk di ujung ranjang  ia mengagumi dadanya yang bidang dan otot-ototnya yang kekar. Lelaki itu menonjolkan kejantannya lebih daripada pria-pria yang ia telah temui. Tangannya yang kokoh mencapai dan menggenggam lengannya dan di sentakkannya keluar dari sakunya.

“Mengapa kau selalu menyembunyikan tanganmu?” dia mengusap-usap punggung tangannya.

“Kau kan tidak buta. Kau bisa mengerti mengapa!” pekik Yoona pada Siwon mencoba menarik baling tangannya, tetapi dia tidak mau melepaskan.

“Apakah kecantikan luar begitu penting bagimu?” tanyanya.

Dengan wajah yang datar Yoona menjawab. “Apakah kau kira aku seorang wanita dungu? Kuberitahukamu, Tuan Choi SIwon, seorang wanita harus menggunakan cara apa saja untuk mempertahankan hidupnya. Selama lebih dari sepuluh tahun aku mencari nafkah dengan kedua tanganku ini. aku telah emnjaganya seakan barang antik. Sekarang, lihatlah! Bagaimana kelihatannya bila tangan-tangan ini memegang botol skin lotion atau pun botol-botol kecantikan

 

“Maaf aku tidak pernah memikirkan hal itu.” suaranya yang penuh perhatian dan tatapannya yang ikut sedih dan merasakan perasaan yang sedang berkecambuk di dalam hati gadis itu membuat Yoona akhirnya menyerah. “Sialan! Bagaimana dia bisa begitu mengerti?” jerit batin gadis itu.

Pria ini telah masuk dalam hidupnya dan ikut merasakan kesusuhannya, memberikannya pertolongan dan pengertian, lebih dari siapa pun sejak kematian ibunya, Yoona tidak tahu harus bagaimana menghadapi kehidupannya yang akan datang.

“Apakah kau masih makan pil penahan sakit?”

“Tidak. Aku tidak mau makan lebih dari yang diperlukan.”

“Gadis baik! Perkiraanku tepat.”

Dia berdiri perlahan dan menghampirinya. Yoona tidak mau menengok ke atas mukanya. “Pikirkanlah tentang tinggal di rumahku. Ketika kukembali kita akan membicarakannya lagi.”

“Aku bisa memutuskannya sekarang juga. Jawaban dari semuanya adalah tidak! Aku bukan orang meralat. Aku tidak membutuhkan amal keluarga Choi. Tidak, terima kasih.” Katanya dengan tegas.

Siwon duduk kembali ke ranjang. “Kebanggaan itu bagus tetapi kau membawanya bagaikan suatu perisai. Singkirkanlah, Yoona. Tidak ada tempat bagi kebanggaan diri diantara kita.”

“Aku yakin kepalamu masih ada di zaman kegelapan, Tuan. Dimana wanita-wanita dicambuk untuk tunduk ketika mereka menolak untuk berjalan di belakang tuan-tuan mereka. Ini alalah abad ke dua puluh dan aku mungkin seorang gadis yang malang, tetapi aku tidak memerlukan bantuanmu selanjutnya.” desisnya. ”Tidak ada alasan bagimu untuk merasa bertanggung jawab untukku. Tiada alasan pula bagi kita untuk bertenggar mengenai masalah ini. Kita adalah orang asing satu sama lain dan kupikir lebih baik membuatnya tetap seperti demikian. ”

Tangannya yang terkepal kaku dan matanya yang menyempit mendadak memperingatkan Yoona bahwa ia geram dan menghenyikan dirinya dari pengucapan apapun lagi. “Itu tidak benar, Yoona-ah, dan kau mengetahuinya,” katanya lembut. “Untuk saat ini aku tidak mau berdebat tentang hal itu sekarang.” suaranya yang tajam menyentuh syaraf-syarafnya. Yoona tidak bisa mencegah tubuhnya mengigil sebentar. Aneh, pikirnya, bagaimana mungkin suara yang sama dapat begitu lembut menghibur disuatu saat dan begitu garang dalam kejantanannya pada saat yang lain. Sungguh seorang yang sangat rumit.

Suaranya halus namun berbahaya, sekarang.”Aku ingin pergi pergi dengan perasaan yang lebih baik di antara kita, tetapi tampaknya kau tidak memungkinkan hal itu. Jadi kau akhirnya bingung.”

Keheningan itu membuat Yoona lebih malu karena dirinya telah  mengeluarkan kata-kata itu, Yoona merasa bahwa dirinya harus meminta maaf kepada lelaki itu. “Maafkan aku, Siwon,” Yoona berpaling dengan mata berkaca-kaca, membenci dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri. A—aku… sedang mencoba untuk mengatasi perubahan ini dalam hidupku. susah sekali bagiku untuk menangani hal ini.

Jari-jari hangat membelai pipinya dan mengelus telingannya sementara mata yang kelam sedang meneliti dirinya. “Aku mengerti perasaanmu, tetapi akan lebih baik bila kau berhenti menentangku… dan dirimu sendiri. Kita tidak akan membicarakan lagi tentang hubungan kita. Aku akan kembali lagi tujuh hari lagi untuk membantumu keluar dari sini.”

Yoona bersandar di kursi sehingga ia dapat memandang ke atas, ke muka Siwon. “Berdirilah, Yoona.” Ia berkata setengah menahan napas dengan matanya menatap tajam ke wajah Yoona. “aku ingin melihatmu berdiri sebelum kupergi.”

Yoona tanpa sadar mematuhinya, ia merasa lemah di lutut, tetapi berhasil berdiri tegak dengan mata melekat ke wajahnya. Yoona dapat merasakan kehangatan tubuh lelaki itu, terlalu dekat, dan seketika kehangatan darah miliknya menjalar ke wajahnya. Yoona sesegera mungkin menunduk untuk menyembunyikan perasaannya itu.

Jari-jarinya yang kekar memegang dagunya dan menegadahkan kepalanya ke atas dan matanya melekat dengan mata dirinya. “Aku ingin melihat kau berdiri di sisiku.” Siwon berkata lembut. “Apayang sebenarnya ingin aku lakukan adalah memelukmu, tetapi aku kuatir akan menyakitimu.” Pria itu meneliti mimik lawan bicaranya. Tiada sesuatu kecuali bila dirinya terpesona oleh ekspresi wajah Yoona. “Mengapa kau terkejut?”

Yoona melongo, tetapi tiada suara yang keluar. Yang bisa ia lakukan hanyalah membasahi bibirnya yang kering. “Kau … lebih tinggi dari yang kuperkirakan,” akhirnya yoona berkata.

“Kau juga, dan aku senang. Aku tidak perlu terlalu membungkuk bila menciummu.” Kata-kata itu begitu halus hingga hampir tak terdengar. “Kau seorang penipu, sayangku. Di luar kau nampak sebagai wanita yang sangat berpikiran kuat, tetapi di dalam begitu lembut dan lemah dan membutuhkan sandaran seseorang untuk membagi suka dan duka. Aku ingin menjadi orang itu bila kau berkenan menerimanya.” Siwon tersenyum. Senyuman itu begitu menggoda.

“Mengapa kau selalu mengatakan sesuatu yang membuatku marah!” balas Yoona dan ia berharap bahwa Siwon tidak mengetahui betapa gugupnya dan senangnya dirinya.

Pria itu  tertawa perlahan, wajahnya nampak berseri-seri. Tangannya mengelus leher jenjang yang tertutupi oleh rambut yang bergelombang milik gadis tersebut. “Sandarkanlah kepalamu di atas pundakku untuk sejenak dan rasakanlah kenyamanannya. Aku tidak tahan memelukmu keras, walau ingin.” Suaranya lembut bagaikan musik dan Yoona mendapati dirinya mematuhi perintah itu.

“Apakah payudara ini yang terluka?” ujung jarinya menyentuh lembut di atas dada berbalut itu mengiringi pertanyaannya itu.

“Ya,” gumamnya perlahan.

Mereka berdua berdiri cukup lama, pipinya yang kian bersandar di pundaknya, tangannya yang besar membelai lebut punggungnya. Yoona memejamkan matanya dan membiarkan indara lainnya yang mengambil alih. Ia merasakan kain kemejanya yang lembut, mendengar deburan jantung dia, mencium bau yang intim dari napasnya. Sungguh menyenangkan, dirankul di dalam lengan yang kuat, terlindungi…

Seketika matanya gadis itu terbuka saat menyadari bila ini tidaklah baik untuk dirinya maupun untuk pria tersebut. Yoona tidak bisa membiarkan dirinya bergantung pada orang ini atau siapa pun!

“Tidak…tidak…” Siwon berkata lembut ketika ia merasakan penolakannya. “Diamlah di sini dan ciumlah aku. Ayo, cium aku. Kau akan mempunyai waktu sepekan untuk berpikir apakah kau menyukainya atau tidak.”

Tampak berpikir, Yoona memejamkan matanya, mengangkat wajahnya dan menyodorkan bibirnya. Bibirnya menekan lembut mulut Yoona. Yoona menyambutnya hangat. Mulanya gemetar dalam kulumnya.

Matanya bersinar menatap Yoona. Lalu sekali lagi bibir mereka bertaut. Mereka berlangkulan demikian tampa menyadari waktu. Dan dengan berat hati Siwon melepaskan bibrinya dari atas mulut Yoona yang lembut.

“Jagalah dirimu sementara aku pergi.”

“Kau, juga,” balas Yoona sambil tersipu-sipu.

Siwon tersenyum dan mengecup sekilas bibirnya sekali lagi, sebelum berpaling cepat dan meninggalkan dirinya. Sorot mata Yoona menatap pintu yang tertutup dan mengherani kegilaan aneh yang telah mempengaruhinya ketika ia bersama dengan Siwon.

“Yaa… Kau memang benar-benar sudah gila Im Yoona…”

-TBC-

Haloo… ketemu lagi sama Phiyun di sini :3

Akhirnya aku bisa juga publish lanjutan Fanfic ini, maap kalau kelamaan updatenya soalnya waktu author mulai berkurang buat manteng di depan lappy…

Curhat dikit yah… aku mau ngasih tau nih, kalau aku berencana akan hiatus selama tiga bulan ke depan kira-kira di mulainya di bulan depan di karena diriku di mulai di sibukkan oleh semina dan pelatihan yang akan di selenggarakan selama dua bulan bahkan lebih, dan aku gak yakin bisa meluangkan waktuku buat nulis epep… soalnya pasti dah keburu tepar pas balik ke rumah, hehe…

Doa’in yah semoga semuanya berjalan dengan lancar. Jadi kemungkinan besar mulai bulan september aku hanya publish satu atau dua ff tapi itu semua belum termasuk dengan FF ku yang lain.. hehe… soalnya sebenernya jari-jariku suka gatel kalo gak ngetik buat nulis fanfic jadi aku gak menutup kemungkinan kalau aku bakalan gagal hiatus, wkwkw 😀

Untuk kapan tepatnya aku hiatus, bakalan aku beri tahukan tiga atau lima hari sebelumnya  di blog pribadiku. Jadi jangan heran ya kalau aku jarang update ke depannya…  Mohon pengertiannya yah guys… Untuk Enemy dan ff Yoonwon yang lainnya bakalan aku usahankan update-tin kelanjutannya sebelum aku hiatus… See you next time… ❤

Advertisements

39 thoughts on “It’s Love? [Part 3]

  1. Tunangan?? Siwon bisa aja nech..mang ngarep bs dapetin yoona ya…hayuh yoona mantapkan hatimu selama seminggu dtinggal siwon maw terima atau menolak…ngarepnya sech dterima yee…mereka b2 selalu bikin hati ser…seran deh… hhehehehh…next ya…

    Fighting n gomawo ya…

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s