The Village’s Secret Chapter 3 [Another Death Case] – by HyeKim

the-village-secret

The Village’s Secret Chapter 3

└ Another Death Case ┘

A fanfiction Written by HyeKim ©2016

Starring With : Girls’ Generation Yoona as Im Yoona || Super Junior Siwon as Choi Siwon || Ladies Code Sojung as Lee Sojung || Girls’ Generation Seohyun as Lee Seohyun

Genre : Mystery, Horror, Crime, Romance, AU || Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 || Inpiration : Korean Drama The Village : Achiara’s Secret

Poster by : Xchee @Poster Channel

Summary :

Im Yoona baru saja datang di Achiara setelah 21 tahun lamanya tinggal di Amerika. Tinggal di desa tersebut bukannya menciptakan kedamaian, tapi Yoona malahan menemukan sebuah mayat misterius. Dibantu oleh Choi Siwon, Yoona berusaha mengungkapkan pembunuhan pelik tersebut serta rahasia terkait dengan Desa Achiara

Disclaimer :

This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


Ya, pembunuh berantai yang terkenal di Achiara telah kembali beraksi.


PREVIOUS :

TEASER+FOREWORD+PREVIEW+PROLOG || Chapter 1 [Comeback to Korea] || Chapter 2 [Mysterious Corpse] || (NOW) Chapter 3 [Another Death Case]

HAPPY READING

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║ 

Angin sepoi-sepoi menyapa kulit putih bersih milik Im Yoona. Wanita yang diberi jabatan sebagai guru bahasa Perancis dan Inggris itu tampak duduk di kursi panjang di halaman belakang sekolah. Kasus yang seketika menggempurkan Desa Achiara kali ini sedang dikupas sedemikian rupa oleh pihak kepolisian. Dikelubungi rasa penasaran kenapa dirinya dihubungkan oleh kasus pelik tersebut, Yoona mencoba menumpahkan rasa kalutnya dengan duduk-duduk di halaman ketika jam kosong seperti sekarang.

“Guru Im?” briton berat khas lelaki menerobos masuk gendang telinga Yoona. Wanita itu pun langsung menoleh serta melemparkan senyumannya.

“Ya?” ujaran tersebut keluar dari bibir Yoona diiringi lelaki yang Yoona yakini sebagai guru di tempat yang sama dengannya duduk di sebelahnya.

“Saya dengar anda yang menemukan mayat yang katanya guru Lee,” topik pembicaraan memasuki garis startnya ketika lelaki dengan tag nama Lee Hyukjae itu mengangkat tema yang sudah Yoona pastikan, mayat Lee Sojung.

Yoona mengangguk kemudian menyahut, “Entah siapa yang mengirimkanku surat-surat tersebut,”

“Surat anonim rupanya.” Hyukjae menegakan badan dan mencondongkannya sedikit ke arah Yoona yang langsung dengan sigap mengangguk. “Menarik,” komentar lelaki Lee itu sembari mengusap ujung dagunya.

Anu… boleh aku bertanya?” Yoona berfrasa dengan sedikit ragu dan terlihat jelas dari pancaran matanya. Senyum terlemparkan dari Hyukjae dengan anggukan kepalanya juga. “Sojung-ssi itu… orangnya seperti apa semasa hidupnya?” akhirnya pertanyaan yang terus mengganjal dalam diri Yoona ia tumpahkan pada lelaki di hadapannya ini.

“Lee Sojung adalah seorang pendatang di Achiara, dia wanita yang ramah serta menjadi favorit para murid Haewon. Namun dirinya mendapatkan caci maki dari warga desa,” Yoona langsung mengerutkan kening kala mendengar fakta seorang Lee Sojung yang ia yakini wanita baik-baik harus mendapatkan caci makian. “Kau bingung kan? Kenapa dirinya dicaci maki? Mudah saja, ibunya adalah istri simpanan pengusaha Haewon. Keluarga Lee yang merupakan pemilik Haewon adalah keluarga harmonis sampai Ibu Sojung datang dan menghancurkannya. Maka dari itu dengan kekuatan yang dimiliki Nyonya Lee juga, Sojung dicaci maki sebagai anak jalang, anak penghancur rumah tangga orang, dan yang lainnya.”

Hyukjae menjelaskannya secara rinci seakan tahu apa isi otak Yoona yang sangat penasaran akan Lee Sojung. Ketika keduanya masih asyik bercengkrama, sebuah suara memekikan telinga terdengar. Yoona dengan was-was menoleh ke belakang dan langsung disuguhkan sebuah kaca di lantai tiga pecah ditandai dengan kursi murid yang terlempar dari sana.

“Ya ampun! Apa yang terjadi?” seru Yoona yang langsung ambil langkah berdiri dan menuju lantai tiga, Hyukjae yang tertular rasa panik Yoona pun mengekor di belakang wanita itu.

 

“Lee Seohyun, turun dari sana!” titahan terdengar dari Park Inyoung yang menjabat sebagai guru matematika. Ruangan yang memecahkan kaca karena kursi yang terlempar adalah ruangan kelas Seohyun yang mana gadis remaja itu sedang berdiri di dekat jendela dengan melayangkan tatapan tajam ke seluruh penjuru kelas.

“Itu bukan Sojung imo! Bibiku masih hidup! Mayat itu bukan dia!” teriakan Seohyun menggelegar membuat seluruh murid kelasnya ketakutan. Inyoung saem masih berusaha membujuk gadis manis itu untuk turun sembari mengulurkan tangan kanannya untuk diraih oleh Seohyun.

Nuna, jangan begini. Turunlah,” kali ini sudara kembar Seohyun yang tak lain Sehun angkat bicara dengan raut wajah khawatir.

Gelengan mutlak Seohyun berikan dengan mata berkaca-kaca, “Kalian tidak bisa mengatakan bibiku sudah mati! Tidak bisa!!” Seohyun berteriak kembali sambil menunjuk-nunjuk asal ke seluruh penjuru kelas.

“Lee Seohyun, kumohon tenanglah. Turun dari sana,” suara sayu nan lembut milik Im Yoona lah yang turun tangan kali ini untuk membujuk anak gadis itu. Yoona mengulurkan tangannya sambil menatap Seohyun lembut menggunakan obsidian indah miliknya. “Polisi masih menyelidiki, jadi turunlah. Bibimu belum tentu mayat yang aku temukan.” Yoona berujar dan Seohyun hanya menatapnya dengan napas menderu disertai kristal bening dipelupuk matanya.

Namun seakan sihir, Seohyun pun meraih tangan Yoona dan meloncat turun dari tempatnya. Semua napas terhela lega, dan langsung saja Sehun menghampiri kakak kembarnya itu lalu memeluknya, berusaha menenangkan melalui batin saudara kembar yang mengikat keduanya. Yoona hanya tersenyum lelah memandang Seohyun yang sekarang sesegukan karena menghentikan tangisannya.

Seperkian sekonnya, Yoona menolehkan kepala kepada Hyukjae yang juga memperhatikan kedua anak kembar itu. “Hyukjae-ssi, aku ingin menanyakan beberapa hal padamu. Bolehkan?” kepala Hyukjae pun berganti haluan pada Yoona, dengan tatapan linglungnya dia pun mengangguk kemudian membawa Yoona ke tempat yang lebih layak untuk berbicara.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Lee Sojung, Lee Sojung, Lee Sojung…” Siwon terus menggumamkan sepenggal nama itu dengan raut resah. Ditangannya terdapat sepedah yang ia gunakan khusus berpatroli yang sedang ia geret kala ini, di sebelahnya pun berdiri Donghee yang menatapnya sambil geleng-geleng akan obsesi Siwon pada kasus Sojung.

“Apa semenarik itu kasus pembunuhan ini untukumu?” tanya Shindong dengan raut penasarannya, Siwon tak menjawab dan malah mengigiti ujung jempolnya disertai pikiran lari ke mana-mana. Lagi-lagi, kepala Shindong menggeleng. “Lebih menarik kasus ini atau wanita yang menemukannya?” kali ini pertanyaan Shindong diunsuri godaan pada mantan detektif itu, mendengarnya membuat Siwon mengalihkan intensi yang semula tertunduk menatap tanah ke arah Shindong yang sedang tersenyum menggodanya, lantas Siwon salah tingkah.

“Ahhh, kamu ini apa-apaan. Memang Yoona-ssi itu cantik, ta…tapi, ka..sus ini lebih menarik,” Siwon mengatakannya sambil tergagap mengakibatkan tawa meledak dari Shindong.

“Terserah dirimu saja,” sahut Shindong masih setia dengan kekehannya, lalu kepalanya tertoleh ke depan, tatkala itu pula obsidian miliknya menangkap sosok Hyerim yang berjalan seusai jam sekolah─ditandai dengan seragam yang masih melekat ditubuh rampingnya. “Eh, bukannya gadis SMA itu yang pingsan ketika mayat Lee Sojung ditemukan? Yoona-ssi memberitahumu kan akan hal itu.” Shindong berbisik diikuti tubuh yang mendekat kewajah Siwon

Polisi bermarga Choi itu semulanya menunduk dan menggaruk belakang kepala salah tingkah─akibat godaan Shindong. Namun mendengar bisikan rekannya yang bertajuk pada sosok Kim Hyerim, membuat Siwon dengan sekali detik mengangkat kepala serta memfokuskan pandangan pada gadis remaja itu.

“Ya, dan aku sudah menyelidikinya. Dia adik dari seorang teman dekat mendiang Lee Sojung, aku lupa nama kakaknya yang katanya sudah tidak tinggal di Achiara,” Siwon merespon Shindong dengan berbisik juga.

Tanpa sadar, kedua polisi itu memperhatikan sosok Kim Hyerim yang berjalan melewati keduanya dan ekor mata mereka pun mengikuti arah gerak gadis bermarga Kim itu. Hingga saat Hyerim ingin menghilang di persimpangan jalan, sosok Luhan hadir dengan lari terburu-buru menghampiri Hyerim lalu meraih tangan kanannya menyebabkan Hyerim membalikan badan serta menatapnya.

“Apa maumu?” Hyerim langsung bertanya sebal.

“Apa ingatanmu sudah kembali?” Luhan balas bertanya membuat Hyerim memutar bola matanya jengah.

“Apapun ingatanku itu, itu tidak berarti untukmu. Ingatanku hanya tentang kakakku yang menghilang dan dihari itu juga ingatanku bunyar,”

“Tapi dihari itu juga aku jatuh cinta padamu,” jawab Luhan santai dengan wajah dan senyum polosnya membuat Hyerim mendengus dan balik arah kembali untuk pulang, namun lagi-lagi Luhan mencegatnya. “Sayang, biar aku antarkan pulang.” Luhan berujar membuat Hyerim memandangnya kembali dengan jengkel.

“Sayang? Apa-apaan kamu ini…”

Hyerim terus mengomel dan berusaha melepaskan diri dari cengkraman Luhan, namun lelaki itu bersikukuh untuk tetap mengantarnya pulang walau sudah ditolak beberapa kali hingga yang terparahnya Hyerim memukuli kepalanya dengan tas selempang berisi buku-buku tebalnya. Sedaritadi Shindong dan Siwon memperhatikan juga mendengarkan kedua sejoli itu bertukar suara menyahuti satu sama lain.

“Bukannya Hyerim pingsan di dekat hutan?” gumam Siwon masih tetap memandangi gadis itu dan Luhan. “Yoona mengatakan itu padaku. Tapi bila begitu, kakaknya juga menghilang di hutan Achiara?” Siwon dilanda kebingungan sambil mengelus-ngelus ujung dagunya seraya berpikir.

Lalu Shindong kembali mendekat kepada Siwon, lantas berbisik sambil menatap Hyerim yang sekarang sudah digeret paksa oleh Luhan untuk berjalan bersama. “Siwon-ah, masukan Kim Hyerim sebagai daftar saksi atau apapun yang bersangkutan dengan kasus Lee Sojung. Aku yakin, dia mengetahui sesuatu.”

Dan tepat, Siwon juga memikirkan hal itu, Hyerim bisa jadi mengetahui sesuatu. Kepala Siwon pun mengangguk mantap memandangi tempat Hyerim menghilang tadi bersama Luhan, dirinya setuju akan pemikiran Shindong barusan.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Di bawah pohon maple tersebut duduklah Im Yoona bersama Lee Hyukjae, lengan keduanya dipenuhi oleh cangkir kopi pilihan merea yang sempat singgah ke mini market. Hyukjae tampak meniup-niupkan kopinya sebelum ia minum, berbeda dengan Yoona yang hanya memegang cupnya sambil menunduk seakan memikirkan sesuatu.

“Guru Im…” lelaki di depannya ini memanggil dan Yoona pun mendongakan kepala sembari melempar senyum. “Katanya ada yang ingin anda tanyakan padaku.” Hyukjae berucap seraya menampilkan kedua ujung bibir tertarik menampilkan senyuman.

Yoona pun berdehem dan menatap Hyukjae penuh harap, hingga bibirnya pun berfrasa. “Bisakah anda memberitahu latar belakang Lee Sojung? Maaf, bukannya lancang, hanya aku….” kalimat Yoona mengatung dengan gerakan mata resah, ragu-ragu untuk menanyakan lebih lanjut. “Hanya aku penasaran.” lanjut Yoona dengan air wajah ragu-ragu.

Hyukjae tampak membetulkan posisi duduknya lebih tegap dilengkapi kepala mengangguk-angguk. Lelaki itu menyesap kopinya lantas mendesis nikmat ketika cairan pekat itu menyelusuri tubuhnya, obsidian milik Yoona tak lepas dari gerak-gerik lelaki Lee itu yang sudah tersenyum kepadanya lagi.

“Sojung adalah wanita teramah di sekolah ini, anak murid pun banyak yang menyukainya. Termasuk Lee Seohyun yang merupakan keponakannya,” Hyukjae memulai ceritanya dengan iris mata menerawang ke depan seakan bayangan Lee Sojung semasa hidup berkeliaran diotaknya. Yoona hanya bergeming mendengarkan dan tidak terkejut akan Sojung yang merupakan bibi Si Kembar karena Yoona sudah mengetahui info itu dari Siwon. “Namun ada satu hari yang membuat Sojung layaknya orang mengerikan, itu sebelum dia menjadi guru sebenarnya. Lebih tepatnya saat dia masih menjadi siswi SMA Haewon.”

Yoona melebarkan bola matanya dan mulai mencodongkan kepala penasaran kepada Hyukjae, lelaki itu tersenyum tipis kemudian mulai mendongeng kembali. “Jadi saat itu Sojung dan saudara tirinya Lee Ahreum…”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Dasar kau anak jalang! Jauhkanlah tanganmu dariku!” teriakan siswi berseragam SMA Haewon dengan name tag Lee Ahreum terdengar.

Ahreum tengah berada di ruang kesenian yang sudah berantakan, tubuhnya bertumpu pada laci kayu jati di belakangnya. Lehernya dicekik kuat oleh seorang gadis sebayanya yang diname tagnya tertera nama Lee Sojung. Tampak Ahreum mulai merasa napasnya tercekat dan Sojung makin mencekiknya dengan napas menderu.

“Iblis!” seru Sojung penuh akan rasa kebencian dengan bola mata berkilat. Ahreum hanya menampilkan senyum meringis.

“Daripada dirimu, pelacur,” balas Ahreum yang kemudian melayangkan tangan menjambak ujung rambut Sojung yang diikat.

Kepala Sojung tertarik ke belakang dan suara rintihan terdengar. Juga tawa Ahreum mendominasi ruangan kesenian itu. Dengan sisa tenaganya, Sojung makin mencekik Ahreum namun saudari tirinya itu meraih sebuah pot bunga di sebelahnya yang kemudian memukulkan pot tersebut sampai pecah kesisi kepala Sojung.

“Akh! Iblis!” teriak Sojung keras dicampur oleh rasa sakit didalamnya. Cekikannya pada Aherum terlepas membuat Ahreum tersenyum penuh kemenangan, namun hal tersebut mengundang Sojung untuk menamparnya.

Tangan Ahreum terangkat memegangi pipi sebelah kirinya yang ditampar Sojung, gadis itu lantas menatap Sojung yang bagian sisi kepalanya sudah berdarah. “Beraninya kau menamparku dengan tanganmu yang menjijikan!” seru Ahreum dengan binar mata marah serta Sojung menatapnya dengan binar yang sama diiringi napas menderu.

“Iblis, lebih baik kau mati,” dan dengan kekuatan penuhnya, Sojung mendorong tubuh Ahreum hingga bertabrakan dengan dinding.

Rasa sakit dipunggung Ahreum belum juga sembuh, akan tetapi Sojung belum merasa puas dan dengan teganya menjedotkan kepala Ahreum ke dinding. “Mati!” teriakan Sojung memenuhi ruangan diiringi irama jedotannya yang makin membabi buta sampai pandangan Ahreum melebur seketika.

“Lee Sojung!” suara pintu yang menjeblak terbuka diikuti teriakan Guru Ahn terdengar. Beliau dibantu oleh Guru Jung pun memisahkan Sojung serta membawa Ahreum yang sudah tak sadarkan diri.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Suara gesekan antara ban juga aspal dingin itu terdengar. Dengan pikiran bunyar namun fokus akan jalanan yang melebar luas di depan, Yoona masih memikirkan tentang Sojung yang berkelahi hebat dengan Ahreum semasa keduanya masih menyandang status siswi. Lee Ahreum, mungkin wanita itu bisa jadi tersangka kuat kasus pembunuhan ini. Benci tak lekang oleh waktu, apalagi hasil akhir pertikaian hebat dimasa lampau dimenangi oleh Sojung. Maka tak menutup kemungkinan Ahreum adalah tersangka urutan pertama.

Yoona menghembuskan napas kelewat lelah. Dirinya bingung kenapa harus terjangkit kasus pelik seperti ini. Akhirnya Yoona kembali memfokuskan diri, dirinya pun sekarang berniat mengurus sesuatu di Kantor Pemerintahan Seoul. Yoona harus mengurus kartu tanda penduduk, surat izin mengemudi, dan yang lainnya perihal dirinya untuk tinggal menetap di Korea. Hanya butuh dua jam setengah untuk berkendara ke Seoul dan butuh empat puluh menit mencapai tempat tujuannya yakni Kantor Pemerintahan.

Decitan ban mobil sedan bermerk BMW i8 hybrid berwarna merah milik Yoona terdengar, mobil yang ia kargo khusus dari Virginia untuk menemaninya di Korea. Pintu mobil terdengar ditutup diiringi kaki jenjang nan mulus Yoona turun dan segera mungkin berjalan memasuki area perkantoran.

Sillyehamnida (permisi),” Yoona berkata demikian di depan meja panjang berwarna coklat yang menjadi pembatasnya dengan wanita bersangul yang sedang sibuk berteleponan.

Sedikit diturunkan oleh wanita berlipstik merah menyala itu gagang telepon yang ia pegang. Dirinya pun bertanya, “Ya Nona, ada apa?” setelah itu dirinya mengucapkan salam perpisahan pada Si Penelepon sebelum Yoona berkata lagi, sesudahnya Si Wanita terfokus pada Yoona lagi ketika sudah meletakan gagang telepon ke tempatnya.

“Ada yang bisa saya bantu?” wanita tersebut bertanya lagi disertai senyum ramahnya.

Yoona pun menjelaskan kedatangannya ke mari, setelah itu Si Wanita berlipstick merah menyala itu menuntunnya untuk mentanda tangani beberapa dokumen yang berhubungan akan kedatangan Yoona ke sini. Yoona pun mengerakan tangan mentanda tangani semua dokumen tersebut, tinggal lama di luar negri memang menjadi hal merumitkan tatkala kembali ke negara asal.

“Untuk masalah KTP dan SIM anda bisa diurus di kantor kepolisian setempat. Dan untuk masalah warga negaraan mungkin membutuhkan waktu agak lama. Sementara ini anda masih berwarga negaraan Amerika dan memakai visa tinggal di sini.” wanita berbeda dengan rambut kecoklatanlah yang mengatakan hal ini pada Yoona sambil menarik dokumen yang ditanda tangani oleh Yoona.

Yoona pun sedikit membungkuk sambil mengucapkan kata terimakasih. Setelah itu, Yoona hendak melangkahkan kaki menyingkir dari kantor tersebut. Namun karena ketidak fokusannya juga kecerobohan gadis SMA di depannya, Yoona menabrak gadis SMA dengan rambut panjang bergelombang berwarna hitam itu. Gadis SMA itu berjongkok memunguti dokumen yang berserakan di lantai, Yoona pun turut membantu setelah sebelumnya mengucapkan kata maaf.

“Terimakasih, agashi,” ucap gadis tersebut sambil membenarkan tata letak kertas-kertas yang berada di dalam map berwarna light yellow tersebut.

“Terimakasih kembali,” sahut Yoona dengan senyum tipis dan menatap gadis yang pastinya terpaut usia jauh dibawahnya. Tak disangka gadis itu kembali menatapnya namun dirinya langsung melebarkan mata dengan mimik terkejut.

“Yoona unni?” pekik Im Nayeon, namanya bisa Yoona lihat diname tag seragam SMA Hanlim yang melekat ditubuh ramping Nayeon.

Terlihat sekali air wajah Yoona kebingungan karena gadis bernama Nayeon yang menatapnya antusias kali ini, mengenal namanya. Dengan perlahan dan garukan dibelakang kepalanya, Yoona berdiri dengan raut linglungnya. Nayeon pun turut berdiri masih dengan raut antusias tercampur terkejutnya.

Unni lupa denganku? Oh astaga, Bibi Clara pasti tidak berusaha keras agar ingatanmu kembali,” desah Nayeon sambil membuang wajah ke samping dengan raut putus asanya akan Yoona yang tak mengingatnya, kemudian Nayeon kembali menatap Yoona yang tambah bingung karena Nayeon menyebutkan nama mendiang bibinya yang merupakan blasteran Korea-Amerika itu.

“Ini aku, Nayeon. Putri tunggal Paman Im Insung dan Bibi Han Geunyoung.” Nayeon mulai membeberkan identitasnya serta tak segan-segan membocorkan nama lengkap kedua orang tuanya.

Pupil mata Yoona seketika melebar karena kepingan memori akan Nayeon melekat kembali diotaknya. Nayeon adalah sepupunya yang terpaut usia lima tahun dibawahnya. Yoona sering bermain bersama dengan Nayeon yang masih berusia beberapa bulan dan bahkan belum bisa berjalan dan itu dulu sekali sebelum kecelakaan yang Yoona alami membuat dirinya kehilangan kedua orang tua serta ingatannya. Ingatan Yoona hilang karena kegangguan mentalnya yang syok akan kejadian tersebut membuat Bibi Clara membawanya jauh ke Virginia.

“Nayeon-ie?” panggil Yoona dengan tatapan tak percayanya. Senyum lebar tercetak diparas ayu Nayeon karena yakin Yoona sudah kembali mengingatnya. “Kenapa kamu bisa ada di sini? Dan kenapa memakai seragam? Apa kamu masih SMA diusiamu yang kedua puluh satu?” pertanyaan demi pertanyaan terlontar dari mulut Yoona.

Nayeon tampak terkekeh kemudian menjawab dengan raut riang. “Aku disuruh ibu mengurus sertifikat tanah. Dan hari ini ada reuni SMAku yang mengharuskan menggunakan seragam kita semasa sekolah,” Yoona pun mengangguk dan mengacak pelan rambut Nayeon, tak menyangka gadis itu sudah tumbuh sedemikian rupanya. “Dan kenapa unni ada di sini? Bibi Clara juga mana?” gantianlah Nayeon bertanya dan tampak Yoona menghela napas dengan mimik sedih membuat dahi Nayeon berkerut.

“Aku pindah ke Korea karena Bibi Clara sudah meninggal,”

Air wajah terkejut tak dapat dicegah Nayeon yang langsung mengungkapkan belasungkawannya. Dirinya pun memaklumi Yoona yang tidak menghubungi kerabat di Korea karena gangguan ingatannya tersebut, juga Bibi Clara semasa hidupnya tidak pernah berusaha membuat Yoona mengingat kembali ingatan yang hilang itu. Alasannya agar Yoona hidup tenang tak terbebani masa lalu kelam tersebut, maka Yoona hanya pernah sekali atau dua kali mengunjungi psikiolog tentang trauma yang membuat ingatannya bunyar.

“Tapi yang penting kita sudah bertemu. Aku dulu masih sangat balita jadi tidak bisa mengingatmu unni. Senang akhirnya bisa bertemu denganmu,” ucap Nayeon lalu berhambur memeluk Yoona untuk melepas rasa rindu dan senang karena akhirnya bisa melihat sosok asli Yoona yang selalu ia lihat sebatas difoto. Tangan Yoona perlahan terangkat membalas pelukan Nayeon. Setidaknya dirinya tahu masih mempunyai kerabat di negri ini.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Aku dengar bahwa mayat di hutan itu adalah Lee Sojung,” gunjingan ibu-ibu yang sedang berbelanja di pasar pra-modern itu terdengar. Sambil memilah sayur-sayuran, mereka masih saja asyik membicarakan topik hangat di Achiara saat ini.

“Dasar anak jalang, baguslah bila mayat itu dirinya. Dia pantas mati tidak terhormat seperti itu,” sahutan pedas dari salah satu ibu-ibu tersebut terdengar.

Ternyata perkataan pedas itu menerobos telinga Choi Bina yang sedang memilih beberapa wortel dan tomat. Ujung matanya melirik ibu-ibu tersebut yang mengangguk-angguk setuju atas sahutan pedas temannya. Diam-diam Bina memperhatikan mereka.

“Lee Sojung tidak pernah mengenal namanya malu, masih saja mau menampilkan raut ramah dan menjijikannya padahal sudah jelas dirinya pelacur tak tahu diri seperti ibunya,” ucapan salah satu ibu-ibu dari kelompok yang sama juga terdengar, yang mengucapkan kata-kata itu adalah Nyonya Jung yang merupakan pemilik toko bunga terkenal di Achiara. Beliau dikenal sebagai salah satu orang yang sangat membenci Sojung berserta ibunya.

“Benar, dia pantas mati dan harusnya guru baru itu tidak menemukan mayatnya,” sahut Nyonya Ahn yang merupakan pemilik toko serba guna terbesar di Achiara, dirinya salah satu teman curahan hati Nyonya Lee─ibu tiri Sojung, dan tokonya juga merupakan langganan dari Nyonya Lee. Wajar dirinya juga sangat tidak suka dengan Sojung berserta ibunya.

“Iya, dan lebih baik kasusnya secepatnya ditutup karena pembunuhnya tak pantas dihukum. Lebih pantas pembunuhnya mendapat penghargaan karena membasmi salah satu hama di desa kita,” balas Nyonya Jung lagi. Oknum ibu-ibu itu mengangguk-angguk dengan wajah benci yang tertuju pada Sojung juga ibunya.

Ternyata Bina sudah menjadi penguping dadakan daritadi. Kepalanya pun terangkat kemudian netranya langsung  disuguhkan sosok Lee Hyukjae yang beberapa meter di depannya. Hyukjae yang sedang membeli beberapa daging pun menoleh pada Bina dan langsung melempar senyum padanya. Bina dan Hyukjae saling bertukar pandang, dengan bola mata Bina yang sangat tajam. Keduanya berpandangan diantara sekumpulan manusia yang memadati pasar.

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

Pagi yang cerah menyapa Achiara kembali. Ditemani mentari hangat yang menyinari desa tersebut, Luhan berjalan dengan raut riang dengan menarik Hyerim yang berada digenggaman tangannya. Tampak gadis itu merengutkan bibir dengan paras wajah kesalnya. Lelaki tak waras ini main menariknya dan datang ke rumahnya pagi-pagi sekali, sangking tidak warasnya, Luhan meminta izin pada ayah juga ibu Hyerim untuk mengajak kencan gadis tersebut.

“Kau benar-benar tidak waras,” desis Hyerim namun Luhan mengacuhkannya. Lelaki itu malah menoleh sebentar ke arah Hyerim masih dengan senyum riangnya.

“Ini kencan kesepuluh kita, darling. Nikmati saja, oke?” sahut Luhan yang lalu mencubit pipi Hyerim dan gadis itu langsung memekik kesakitan. Kencan kesepuluh yang dimaksud Luhan itu bermakna penculikan paksanya pada Hyerim bagi gadis manis tersebut.

Dengan wajah tanpa dosa, Luhan membawa Hyerim kembali berjalan beriringan. Seketika kepala Hyerim memandang ke arah lain karena kesal akan aksi Luhan, sekon itu pulalah Hyerim mendapati sosok Seohyun menatapnya lekat dengan binar mata mengkilat seakan ketakutan. Alis Hyerim menyatu disertai dahi berkerut lantaran bingung akan Seohyun. Hyerim sangat tahu bahwa adik kelas sekaligus putri pemilik sekolah itu memiliki keanehan dari sikap juga karena indera keenam yang dimilikinya. Namun kenapa gadis remaja itu harus menatap Hyerim ketakutan?

“Lihat, toko bunga Jung ahjuma belum buka padahal aku ingin membelikanmu bunga,” gerutuan Luhan terdengar membuat Hyerim tersadar bahwa dirinya sudah berhenti melangkah dari awal dirinya mulai mendapati sosok Seohyun di ujung jalan di depannya.

“Hyerim sayang, aku ingin mengedor dulu toko bunga Jung ahjuma karena aku harus membelikanmu bunga. Tunggu di sini, oke?” ucap Luhan dan Hyerim pun memalingkan wajah menatapnya yang sedang menyunggingkan senyum konyol. Dan dengan tidak sopannya, Luhan mendekatkan wajahnya kewajah Hyerim guna mengecup bibir gadisnya sekilas, Hyerim tampak melebarkan mata kaget.

“Sinting!” umpat Hyerim dengan tatapan marahnya pada punggung Luhan yang sedang berjalan masuk ke dalam toko bunga dengan langkah riangnya.

Hyerim melipat tangan didepan dada memperhatikan Luhan, tak beda jauh dengan Lee Seohyun yang juga memperhatikan ke objek yang sama dengan Hyerim. Namun Seohyun lebih terfokus pada toko bunga yang terdapat barner besar ‘Jung’s loveable Florist’ di atasnya. Sedaritadi Seohyun menatap lekat toko tersebut dengan binar iris yang pekat,  dirinya merasakan hawa aneh di sekitar dan bulu kuduknya berdiri tegang tatkala mengingat kejadian semalam saat dirinya melihat sosok itu di sekitar lokasi ini.

Sementara itu, Luhan sudah berada di depan pintu toko bunga dan mulai mengetuknya. “Ahjuma, buka pintunya. Aku ingin membeli bunga secantik Kim Hyerim.” Luhan berkata demikian dan masih dengan unsur manis yang membuat perut Hyerim melilit mendengarnya. “Ahjuma!” pekik Luhan mulai kesal kemudian dengan jengkelnya mendorong pintu toko dan ternyata pintu tersebut tidak terkunci membuat Luhan keheranan.

“Jung ahjuma.” Luhan kembali memanggil Si Pemilik Toko, lelaki bermarga Lu itu mulai menyisir dalam toko lalu ia pun menemukan sesuatu di lantai toko tatkala dirinya melihat itu langsung melebarkan pupil matanya. “Hyerim-ah!” pekikan intonasi panik Luhan mengakibatkan Hyerim tersentak dan menatapnya kaget saat lelaki itu berlari keluar toko dengan air wajah pucat luar biasa.

“Ke…kenapa?” Hyerim bertanya takut-takut apalagi keringat dingin mulai membanjiri raut lelaki yang sangat menyukainya ini. Luhan meraih tangan Hyerim dan menangkupnya, kepalanya menatap kembali toko di belakangnya dengan raut was-was.

“Panggilkan polisi kumohon, ada─”

“Ada apa anak muda?” perkataan Luhan terpotong lantaran ucapan Siwon yang kebetulan lewat dengan sepedahnya. Luhan menelan ludah meminalisir rasa takutnya, sementara Siwon yang sedang patroli pagi pun turun dari sepedah yang sudah ia geret dilengkapi raut penasaran menghampiri Luhan.

“Bibi Jung… telah… dibunuh,” ucap Luhan sedikit tersendat mengakibatkan netra Hyerim melebar kaget. Dan wajah terkejut Siwon tercetak sangat jelas.

Dengan langkah lebar, Siwon memasuki toko bunga milik keluarga Jung itu. Matanya langsung menyambut darah yang bercucuran di lantai berwarna kecoklatan tersebut, ujung cairan pekat tersebut berpusat pada tubuh Bibi Jung atau Nyonya Jung yang tergeletak tak bernyawa dengan kepala penuh darah dan mata terbuka atau lebih tepatnya melotot serta wajah kaku. Siwon merasa napasnya berhenti melihat tubuh tak bernyawa tersebut apalagi ketika melihat sayatan-sayatan yang tertoleh dipergelangan tangan mayat Bibi Jung, sayatan itu bertulisan ‘dirinya pantas mati’. Membuat Siwon bergidik ngeri dengan bulu kuduk berdiri merinding. Sudah diduga kasus ini ialah pembunuhan. Di luar toko, tampak Seohyun tengah gelisah dengan bola mata bergerak-gerak liar, gadis itu pun dengan segera menggayuh sepedah merah jambunya pergi dari depan toko bunga. Dan di belakang Siwon, Luhan juga mengekor masuk dengan Hyerim. Raut pucat Hyerim terpampang jelas karena jelas dirinya trauma akan penampakan seperti ini. Karena masalah ingatan gadis itu yang hilang, Hyerim trauma akan hal seperti ini, itulah yang Luhan ketahui.

“Jangan dilihat,” Hyerim yang semula digenggam oleh Luhan pun langsung ditarik pria itu kedekapannya, kemudian dirinya menutupi kedua mata Hyerim dengan telapak tangan kanannya dan tangan kirinya merengkuh tubuh gadisnya. Terlihat Hyerim meremas kuat ujung baju Luhan dengan banjir keringat dingin.

“Siapa gerangan pembunuhnya?” desah Siwon yang memejamkan mata sebentar lalu menatap lekat mayat Nyonya Jung dengan frustasi. Ya, pembunuh berantai yang terkenal di Achiara telah kembali beraksi.

─To Be Continued─

─Preview Next Chapter─

Pembunuh berantai mulai beraksi kembali. Dirinya langsung membabat dua korban yang tak lain Nyonya Jung Hyein dan Nyonya Ahn Yookyung,”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Di CCTV terlihat sosok penampakan Lee Sojung di koridor appartemen Im Yoona-ssi,”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Aku berada di appartemenku ketika malam pembunuh berantai beraksi. Saat itu ada yang mengetuk pintu appartemenku, saat dibuka ternyata…”

║ ♫ ║ ♪ ║ ♫ ║ ♪ ║

“Yoona-ssi, bukannya aku lancang. Namun lebih baik anda tinggal denganku,”


Hallo all, how about ur day? I know it’s late update, jangan bilang lagi dan maafkan aku yang suka sekali pilih kasih sama fiksi-fiksi yang kubuat, maaf banget apalagi sama YoonWon. Maafkan aku, ini udah 1 bulan tapi dibanding gak sama sekali lebih baik dilanjut kan meskipun lama.

Karena mungkin keleletan aku akan update, maka makin banyak silent readers, jadi aku putuskan menggembok Chapter 4, bukan apa-apa ya hanya biar ini ff terdeksikan untuk pembaca yang masih setia sama karya-karyaku.

Untuk dapat password chapter 4 kalian bisa ke page ini  (klik aja) untuk liat bagaimana tata cara dapet password dan absen di sana sesuai formatnya ya 🙂 alangkah lebih baiknya dari sekarang kalian absen ke page itu

Oh ya, di sini ada pereviewnya ya. Oke karena kalian pasti ruyeng banyak misteri. Aku jelasin ‘dikit’. Yoona di sini emang kehilangan ingatan secuil karena syok akibat kecelakaan. Lalu untuk chapter ke depan akan mulai ada adegan romens (kayaknya) soalnya aku buat Siwon-Yoona tinggal serumah LOL XD aku emang sengaja ngasih preview biar tambah kepo /plak/

Bila kalian mau menebak-nebak, jangan sepelakan support cast di FF ini, serius. Hyerim, Bina, Seohyun. Udah detail kan mereka seakan tahu sesuatu. Ya dan untuk masalah pembunuhan lain, ini gak nyimpang dari pokok masalah kok. Inget Chapter 1 pas Bina bilang ke Yoona untuk hati-hati karena selalu ada pembunuhan saat malam kamis berhujan? So… bisa dibilang Si Pembunuh Berantai beraksi lagi dan bisa jadi mayat yang diketahui Sojung ini dibunuh juga sama pembunuh berantai ini.

Aduh aku banyak celoteh banget ya? Ahahahah, curcol is ma life la jadi susah kwkwkwk.

Jadi yang mau minta pw ke sini aja ya [ https://hyekim16world.wordpress.com/get-a-secret-key/ ]

Tuh kubeberin lagi linknya. Aku gak mau janji karena janji harus ditepati dan aku takut gak bisa nepatinnya. Jadi semoga dengan banyaknya yang minta pw, aku gaspol nulis Chapter 4nya 🙂

Btw, jujur loh pas nulis FF ini aku lagi parno jadi ya gitu deh -____-

Ditunggu respon kalian ❤

-HyeKim-
Advertisements

17 thoughts on “The Village’s Secret Chapter 3 [Another Death Case] – by HyeKim

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s