[Ficlet] Started

Started

By : Febby Fatma

Drama, Family, Romance,

PG-13

Ficlet

Cast:

Kim Taeyeon SNSD

Choi Yoojin CLC

Cho Kyuhyun Super Junior

 

Disclaimer : Aku hanya pemilik plot. Cast bukan punyaku. Mohon untuk tidak copy-paste atau plagiat. Sebelumnya terima kasih dan selamat membaca~

——————

Sebelumnya : [1]

——————

Mulai hari ini Taeyeon resmi bergabung sebagai salah satu karyawan di perusahaan periklanan tempat seorang temannya bekerja. Jangan salah paham tentang ini, teman Taeyeon itu hanya memberikan Taeyeon rekomendasi, tidak memberi bantuan tangan seperti melobi.

“Kim Taeyeon-ssi, anda dipanggil ke ruang direktur.” Taeyeon mengangguk patuh walau dalam hati dia mulai cemas. Baru hari pertama saja sudah di panggil ke ruang direktur, lalu bagaimana ke depannya?

Taeyeon terpaksa kembali merintis karirnya sebagai karyawan setelah hampir sepuluh tahun berhenti bekerja. Berkat temannya tadi, Taeyeon bisa mendapat kepastian tentang bagaimana hidupnya dengan Yoojin, putrinya. Karena sepeninggalan suaminya—Choi Siwon, Taeyeon sempat dilanda krisis moneter yang cukup mengkhawatirkan.

Tapi sepertinya doa Taeyeon semalam tidak benar-benar terkabul; doa memohon kemudahan dihari pertama kerjanya. Baru duduk mempelajari pekerjaannya sekitar sejam sebuah perintah untuk menemui pemimpin perusahaan langsung membuat Taeyeon cemas.

Umurnya sudah tidak muda lagi untuk ukuran karyawan baru—walau bisa dibilang cukup berpengalaman. Belum lagi di CV Taeyeon tidak menutupi fakta bahwa dia adalah seorang janda beranak satu. Mungkin pemimpin perusahaan ini terganggu dengan semua itu. Jadi selagi di dalam lift menuju lantai sepuluh tempat ruang direktur, berulang kali Taeyeon menormalkan nafasnya yang mulai aneh saking tegangnya.

Tok-tok-tok.

“Permisi. Saya Kim Taeyeon.”

“Silahkan masuk.”

Ruang khusus untuk seorang pemimpin perusahaan bukan lagi hal baru bagi Kim Taeyeon—setidaknya ruangan beraroma segar yang dimasukinya ini tidak akan membuatnya terkejut. Tapi justru seseorang yang ada di dalamnya yang membuat Taeyeon mati langkah bersamaan dengan tertutup kembali pintu ruangan itu.

“Aku menunggumu.”

“Ha?”

Mata pria paling tidak ingin Taeyeon temui di hadapannya itu melirik sebuat papan nama di meja kayu bercat coklat yang terkesan kokoh di sana. Tertulis nama si pria. Cho Kyu-hyun.

“Maaf. Aku harus kembali bekerja.”

“Apa maksudmu? Sekarang aku sedang memanggilmu untuk menemuiku, bukan?”

Kuku-kuku jari Taeyeon memutih karena terlalu kuatnya kepalan tangan wanita cantik itu.

“Jangan main-main denganku, Cho Kyuhyun!”

“Aku tidak main-main.” Pria itu mendekat, berdiri tiga langkah di hadapan Taeyeon dengan segaris senyum yang terpampang, seolah tebar pesona. “Aku sengaja memanggilmu, Tae. Aku ingin menanyakan beberapa hal.”

“Katakan, cepat.”

“Hei, kau harusnya lebih sopan dengan atasanmu.”

Taeyeon terdiam. Bagaimanapun, pria itu tidak mudah ditangani. Cho Kyuhyun yang berdiri di hadapannya ini benar-benar sosok paling keras kepala yang pernah Taeyeon kenal.

“Cepat katakan. Aku sudah benar-benar muak melihatmu.”

Perduli setan dengan tata krama, Taeyeon ingin cepat-cepat menghilang dari hadapan Kyuhyun saat ini.

Kalau tahu dari awal jika pria Cho itu adalah atasannya, Taeyeon tidak akan mendaftar di perusahaan ini dan memilih untuk kerja di pasar rakyat. Tapi sekarang sudah terlanjur. Taeyeon juga butuh uang dalam jumlah yang lumayan besar dalam waktu dekat untuk putrinya. Belum lagi kebutuhan hidup dan hutang yang menumpuk.

Bisa bekerja di perusahaan besar adalah anugerah bagi Kim Taeyeon—sebelum ia tahu Cho Kyuhyun adalah atasannya, tentu saja.

“Apa kabar Yoojin? Dia baik, kan?”

“Kau tidak punya hak untuk tahu kabar putriku.”

Kyuhyun tersenyum sinis—pahit mungkin jika senyum punya rasa.

“Kudengar di sekolahnya sedang ada pembangunan dan akan diadakan darma wisata ke Jeju, dia akan ikut, kan?”

Taeyeon diam.

“Aah~ aku ingin bertemu dia jika bisa. Aku ingin bersikap seperti ayahnya. Barang kali aku bi—”

Taeyeon berbalik dan langsung keluar ruangan itu. Tidak memperdulikan panggilan dari Kyuhyun yang (bahkan mengejarnya sampai ke depan lift) dengan tanpa bersalah justru menuding Taeyeon tidak punya sopan santun.

Syukur lantai sepuluh cukup tenang—jika tidak ingin dikatakan sepi—jadi Taeyeon tidak begitu khawatir tentang pikiran karyawan lain, tapi—

“Kau harusnya lebih sopan, Tae.”

—pria ini justru membuatnya semakin runyam dengan tetap mengejarnya. Bahkan menariknya menuju tangga darurat tepat di hadapan seorang office boy.

“Kumohon, Tae. Jangan seperti ini.”

“Maaf, Pak. Tapi saya punya banyak tugas dihari pertama kerja. Tolong jangan ganggu saya. Apalagi dengan melibatkan kehidupan pribadi.”

Taeyeon menghentakan tangan Kyuhyun kasar dan siap untuk pergi lagi jika saja tidak ditahan oleh Kyuhyun.

“Tae, tidak bisakah kau sedikit lebih hormat padaku?”

Taeyeon mengendus. Kesal karena Kyuhyun seperti gila kehormatan.

“Jangan berbicara tentang sopan santun seolah kau mengertinya dengan baik. Pergi bercermin sana! Siapa yang tidak sopan sesungguhnya mungkin akan kau lihat dipantulan cermin nanti.

“Lagi pula, aku sudah bilang untuk tidak menggangguku, kan? Kenapa tidak mengerti, sih? Aku ingin hidup tenang dengan Yoojin. Cukup kami berdua. Tanpa orang asing sepertimu.”

“Orang asing? Aku?” Kyuhyun menunjuk wajahnya sendiri dan langsung mendapat jawaban pasti dari Taayeon. “Tapi—”

“Bagiku—dan Yoojin juga—kau adalah orang asing. Ingat itu baik-baik. Kita sudah tidak kenal sejak sepuluh tahun lalu kau menghilang. Tidak ada ikatan apapun antara kau dan aku atau antara kau dan putriku. Jadi aku mohon dengan amat sangat, tolong jangan mengganggu hidupku dan putriku lagi. Bersikaplah seolah kita tidak saling kenal. Bisakan?”

“Tidak—aku tidak bisa.”

“Aku tidak perduli. Kau tahu aku akan tetap menolakmu.”

“Tapi, Tae.”

“Maaf. Saya pamit.”

Kali ini Taeyeon benar-benar pergi. Meninggalkan Kyuhyun yang justru terdiam di anak tangga ke tiga lantai tempat itu, kemudian turun menuju lantai sembilan. Dia memilih untuk naik lift dari lantai sembilan untuk turun. Lantai sepuluh termasuk daerah rawan baginya sekarang.

Sampai di meja kerjanya Taeyeon tidak bisa konsentrasi. Pekerjaannya selesai, tepat waktu pula. Tapi pikirannya mulai teralih pada direktur perusahan tempat kerjanya ini.

“Mulai sekarang hidupku mungkin akan semakin sulit.”

 

——————

——————

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s