[Ficlet-Series] PROMISE (1)

ir-req-promise

Title: PROMISE

Sub title: New Guy – A Foreign Guy

Main cast: Kim Jiyeon, Kim Jongin, Xi Luhan

Rate: G – PG 15

Cover by @IRISH Poster Channel

Note: Annyeong hasimnikka, ini adalah FF kolaborasi pertamaku jadi mohon dukungannya yaa ;). Kolaborasi sama my bestie, nama penanya xxipixi, bisa temuin dia di wattpad pribadinya di @xxipixi.

Alur dan plotnya merupakan ide dari @xxipixi dan aku hanya memperpanjang idenya dia aja. Jadi, maaf kalau kurang dapet feel sama inti ceritanya.

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!!

Previous part: PROLOG

HAPPY READING GUYS ^^

Seoul, 2014

“Yak! Kim Jongin! Bangunnn! Aish, kau benar-benar membuat kesabaran Jung Jiyeon habis sia-sia. Bangun pemalas! Kita bisa telat Jong…” teriak Jiyeon dengan nada tingginya.

Raut cantik Jiyeon sudah dibuat kesal oleh Jongin yang masih tertidur pulas padahal waktu sudah menunjukan waktu 07.40 itu artinya 20 menit lagi gerbang di tutup. Jiyeon masih mencoba membangunkan Jongin dengan memukulkan tangannya beberapa kali secara keras. Pemuda itu malah semakin masuk ke dalam selimutnya yang hangat.

Jiyeon mendengus kesal. Ya ampun, pemuda macam apa sampai bisa bermalas-malasan seperti ini? Apakah dia tidak gila jika mendapatkan hukuman Shin ssaem?

Buk. Buk. Buk.

Karena kehilangan akal, Jiyeon menendang Jongin secara terus menerus hingga badan besar pemuda itu terjatuh dari atas tempat tidurnya. Menimbulkan suara berdebam yang keras.

Jongin meringis kesakitan mengelus pinggangnya yang kemungkinan menjadi encok akibat tendangan Jiyeon yang tanpa belas kasihan. Matanya masih setengah menyipit melihat ke arah Jiyeon untuk menemukan pelaku yang membuatnya jatuh pagi-pagi.

“Ya Tuhan.. Kim Jongin, akhirnya kau bangun juga.” ucap Jiyeon selagi terengah sedangkan orang yang ditatapnya hanya diam seperti batu. Nampaknya ia masih belum sadar sepenuhnya.

“Sekarang jam berapa?” tanya Jongin santai dengan muka bangun tidurnya. “Jam 07.45” jawab Jiyeon datar. Mendengar itu Jongin terloncat kaget dan langsung lari menuju kamar mandinya. Setelah Jongin selesai dengan segala kegiatannya ia lalu turun ke bawah dengan dasi di tangannya. Rambutnya yang masih setengah basah terlihat awut-awutan. Jelas sekali, pemuda itu terburu-buru.

“Jung-ah”. Jongin memanggil Jiyeon yang sedang memakan roti yang disediakan Nyonya Kim. Mengerti dengan panggilan Jongin, ia langsung menghampiri pria itu sambil membawa roti lalu memasukan satu tangkup sekaligus ke dalam mulut Jongin tergesa.

“Kapan kau akan belajar memakai dasimu sendiri Kim Jongin?” desah Jiyeon heran masih dengan mulut setengah penuh oleh roti lalu mengambil dasi yang dipegang Jongin lantas memasangkannya cepat. “Aku tak perlu mempelajarinya aku tau kau akan selalu memakaikannya.” Jongin menjawab dengan mantap lalu mengelus pipi Jiyeon. Membuat gadis itu kena serangan jantung ringan. Jiyeon tersedak sisa makanan yang ada di mulutnya. Buru-buru, Jongin menyodorkan segelas air minum ke dalam genggaman Jiyeon.

Gomawo.” sahutnya pendek. Jongin tersenyum samar. Setelah reda, Jiyeon langsung menatap tajam Jongin.

“Berhenti menggodaku Kim Jongin, ayo kita berangkatt. Eomeonim, kami berangkat ya..” ucap Jiyeon manis seperti biasanya lalu pergi menarik paksa Jongin yang masih meneguk sisa susu di gelasnya.


Mereka pun sampai di gerbang sekolah. Jiyeon memaksa Jongin untuk ikut serta berlari pagi dengannya menuju kelas karena tangan Jongin masih terkunci rapat dalam genggaman kuat Jiyeon.

Gadis itu membungkuk kelelahan begitu sampai di depan pintu kelas. Pandangannya membulat mendapati kelas masih agak kosong. Jongin terkekeh pelan. “Kau salah mengatur jam tanganmu huh?” ejeknya. Jiyeon merengut. “Ani.. ini harusnya sudah masuk!” protes Jiyeon kesal setengah mati. Ia sudah kelelahan seperti ini dan apa hasilnya? Sekolah bahkan masih relatif sepi.

“Hai, Jiyeon” sapa Baekhyun dengan senyum lucunya setengah mengagetkan Jiyeon. “Halo, Byunbaek.”. Jiyeon menjawab Baekhyun, senyuman indahnya merekah sempurna.

“Berhentilah kalian sangat menjijikan” ucap Jongin gusar menatap mereka tajam. “Bilang saja kau cemburu” ucap Chanyeol tiba-tiba yang langsung diikuti dengan tawa dari teman lainnya yang sudah datang.

Di tengah pelajaran, Shin seonsaengnim membawa seorang pemuda putih tampan masuk. Segera saja semua mata menuju padanya. “Perkenalkan dirimu.” ucap Shin seonsaengnim. Pemuda itu tersenyum penuh daya pikat lalu angkat bicara.

Annyeong hasimnikka. Xi Luhan imnida. Mohon bantuannya.”. Ia pun segera membungkukkan badannya sembilan puluh derajat beberapa kali.

Semua wanita memperhatikannya tak terkecuali Jiyeon yang menatapnya tanpa kedip hingga seseorang menutup matanya.

“Kau bisa saja menumpahkan ilermu, Nona Jung” sindiran pedas itu membuat Jiyeon cemberut ke arah orang yang duduk di seberang mejanya itu. Ya, orang itu Jongin.

“Kau bisa duduk di sebelah Nona Jiyeon” ucap Shin seonsaengnim yang langsung diikuti tatapan iri para gadis. Luhan berjalan ke arah Jiyeon dan memberi senyumannya.

Jiyeon terpaku melihatnya dan ada debaran di hatinya sungguh abnormal. Gadis itu memegang dadanya sendiri berusaha menormalkannya, takut-takut Luhan akan mendengarnya nanti. Ia menatap horor bangku kosong di sebelahnya.

Luhan yang melihat ekspresi gadis itu tersenyum kikuk. “Ah, Nona Jiyeon, apakah aku tidak bisa duduk di sebelahmu?” tanyanya pelan. Sontak, pikiran Jiyeon buyar seketika mendengar suara halus nan jernih itu sampai ke telinganya.

“Ah.. animnida.. Silahkan duduk dengan nyaman..”cicit gadis itu panik. Jiyeon berusaha tersenyum tapi malah menjadi ringisan aneh. Luhan menaikkan sebelah alisnya bingung melihat ekspresi Jiyeon yang sungguh aneh. Tapi, diam-diam, rasanya ia ingin sekali tersenyum melihat rautnya yang lucu dan menggemaskan itu.

Oh, ya ampun, manis sekali.., puji Luhan kagum dalam hatinya. Jongin mencibir melihat adegan di seberangnya itu. “Hah, astaga.. panas sekali..” gumam Jongin keras. “Permisi, Tuan Xi, bisakah kau minggir sedikit? Kau menghalangi aliran angin dari AC.” ketus Jongin.

Luhan mengerjapkan matanya. “Ne?”

“Bisakah kau segera duduk saja dan tak bertele-tele seperti itu?”. Jongin memperjelas maksudnya.

“Wooohoo.. Jongin cemburu…” teriak Chanyeol dari sudut kelas. Langsung, saja semua anak kelas menyindirnya habis-habisan. Chanyeol adalah pentolan kelas, jadi maklum saja jika semua anak langsung melakukan apa yang dia lakukan. Jongin langsung mengeluarkan death glarenya ke arah Chanyeol yang tersenyum menggodanya.

Jiyeon menatap ke arah Jongin bingung. “Ya! Sudahlah..” bisik Jiyeon keras melerai Chanyeol dan Kai.

“Sudahlah!! Tenang!! Apakah kalian tidak ingat masih ada guru di depan??”. Teriakan Shin seonsaengnim menggelegar membuat seluruh siswa diam membisu seketika. Shin seonsaengnim tersenyum puas. Tak pernah ada satupun siswa yang berani melawannya.

“Baiklah, buka halaman 42. Dan kau, Nona Jiyeon!! Berhenti menatapku dengan tatapan kosongmu itu!”

Jiyeon terbatuk-batuk kecil mendapat peringatan langsung dari Shin ssaem. “Ne, ssaem.”

“Senang bertemu denganmu.” bisik Luhan kecil. Jiyeon membeku. Deg deg. Ya ampun, ada apa denganmu, Jung Jiyeon??, Jiyeon menjambak rambutnya sendiri frustasi.

Jongin memandang ke arah meja sebelahnya itu dengan ekspresi yang tak dapat ditebak. Entah apa yang dirasakannya sekarang.


“Jung Jiyeon!”

Jongin memanggil Jiyeon begitu gadis itu melewati tempat basket indoor. Jiyeon memundurkan kakinya beberapa langkah dan kepalanya langsung menyembul di balik pintu dengan lucu.

Ne?”

“Ayo, kemari.. Aku ingin berbicara sesuatu denganmu..”

Jiyeon mengendikkan bahunya dan lantas masuk mengikuti apa yang Jongin suruh. “Wae geurae?

Jiyeon duduk di samping Jongin yang sedang beristirahat di tepi lapangan basket indoor. Keringat bercucuran dari sekitaran dahi dan juga lehernya. Membuat pemuda itu benar-benar menawan. Wangi keringatnya yang tak asing untuk Jiyeon, membuat gadis itu tenang sesaat.

Kini, Jongin memposisikan duduknya menghadap ke arah Jiyeon lalu menatap gadis itu dalam-dalam. Jiyeon mengerutkan dahinya. “Apa yang kau cari di mataku?”. Jiyeon bertingkah lucu dengan melebarkan matanya sebisanya. Jongin tersenyum samar. Namun, ia masih menatap Jiyeon dengan serius. Seolah ada sesuatu yang benar-benar mengganjal hatinya.

“Nona Jung, jawab pertanyaanku..”. Jiyeon terkekeh mendengar nada Jongin yang dibuat-buat layaknya detektif yang akan menginterogasinya.

Ne, Tuan Kim..”

“Kau jatuh cinta pada anak baru itu kan? Siapa namanya? Xi.. xi.. Lu.. Ran?”

“Eish, Luhan. Xi Luhan.” potong Jiyeon tak sabar. Jongin nyengir tapi langsung kembali ke dalam mode interogasinya.

“Kau menyukainya bukan?”

“Kau berbicara apa? Aku sama sekali tidak mengerti..”

“Nona Jung.. jangan bercanda denganku…”. Jongin mencubit pipi Jiyeon kesal. Gadis itu menggembungkan pipinya bingung. “Apa jawaban yang kau harapkan dariku, Jong?” tanya Jiyeon pelan melihat perubahan air muka Jongin.

“Jawab saja.”

“Aku tidak tahu.” jawab Jiyeon pendek. Gadis itu lalu berdiri. “Aku harus bertemu Cha ssaem. Bye!”. Jiyeon buru-buru kabur sebelum Jongin siap menahannya. Ia berlari sekuat tenaga menuju pintu keluar.

Jongin menghela napasnya berat. Kenapa perasaannya menjadi tidak nyaman seperti ini? Perasaan apa ini? Sungguh, Jongin sedang kesal berat sekarang melihat Jiyeon bersama Luhan. Tapi kenapa? Tak ada alasan kuat dia harus merasa kesal bukan? Jadi perasaan macam apa ini?


“Hai, Jung..”

Jiyeon menahan napasnya terkejut mendengar suara itu kembali menyapanya. Langkahnya seketika terhenti otomatis. Apalagi mendengar namanya dipanggil seperti itu.. Hanya Jongin yang biasa memanggilnya seperti itu.

“Hei, kau baik-baik saja?”. Luhan mengibaskan tangannya di depan wajah Jiyeon yang lagi-lagi mendadak kosong. Ya ampun, Jiyeon.. kendalikan dirimu! Kau tak bisa selamanya menjadi seperti ini!

“Ah.. gwaenchanha..” gagap Jiyeon. Genggamannya mengerat pada map biru yang sedang ia dekap sekarang. Tak bisa dipungkiri, gugup ekstrem menjalari setiap bagian tubuhnya sekarang. Seakan siap melumpuhkan tubuhnya kapan saja.

Luhan tersenyum lagi. Astaga.. Kuatkan hatimu Jiyeon.. Kenapa dia harus tersenyum seperti itu?

“Kau mau kemana?” tanya Luhan pelan. Melihat lagi-lagi Jiyeon nampaknya begitu kaku jika bersama dengannya tak seperti jika ia bersama pemuda bernama Jongin yang duduk persis di meja sebelahnya.

“Aku ingin ke ruangan Cha ssaem. Wae geurae? Ada yang bisa aku bantu, Luhan-ssi?”

“Panggil aku Lu.. Emm, sebenarnya aku ingin berkeliling sekolah ini, tapi tak ada satupun yang bisa aku ajak bicara selain kau. Aku ingin kau menjadi pemandu tur sekolah pertamaku..”

Jiyeong sekarang bersumpah merasakan kakinya lemas. “Tur sekolah?”. Gadis itu mengerjapkan matanya sendiri. Terlalu banyak lorong, ruangan, tempat, dan spot yang harus dikunjungi di sekolah ini. Bahkan Jiyeon saja baru benar-benar mengelilingi tempat ini setelah setahun bersekolah. Berarti aku harus bersamanya lama sekali?

“Bagaimana jika sepulang sekolah nanti?” usul Luhan. Jiyeon mengangguk bak orang bodoh. Luhan tersenyum lebar melihat Jiyeon mengiyakan ajakannya. “Geureom, aku akan mengantarkanmu ke ruangan Cha seonsaengnim. Aku juga ingin mengetahuinya..”. Jiyeon lagi-lagi hanya bisa mengangguk.

Luhan lalu segera mengenggam tangan kiri Jiyeon ke dalam tangan kanannya.

Deg.

Jiyeon kena serangan jantung ringan untuk kedua kalinya hari ini. Gadis itu bisa merasakan pipinya memanas.

Jongin keluar dari tempat basket indoor seraya mengelap peluhnya dengan handuk yang melingkar di lehernya. Tangan kanannya memegang kaleng minuman dingin yang baru saja dibelinya di tempat penjualan otomatis. Matanya menyipit kala melihat gestur Jiyeon yang tak asing di depan sana. Sedang bersama seorang pemuda. Ya, pemuda itu lagi.

Cengkramannya kian menguat hingga kaleng minuman itu penyok sebagian.

Jongin, ada apa denganmu?, keluhnya sendiri melihat kenapa emosinya naik secara tak terkendali seperti ini.

“Jongin-ah..”. Chanyeol menepuk bahu Jongin hingga pemuda itu tak sengaja menjatuhkan kaleng minumannya sendiri. “Hei, Jong.. aku rasa ada yang tidak beres denganmu hari ini..”. Chanyeol merangkul pemuda itu dan menyeretnya berjalan bersamanya. Jongin menaikkan bahunya. “Aku juga tidak mengerti dengan diriku sendiri hari ini, Chan..”


 

Advertisements

3 thoughts on “[Ficlet-Series] PROMISE (1)

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s