Love Is The Answer [Part 1]

love-is-the-answer

|| Title: Love Is The Answer || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Park Shin Hye | Kim Joon Myeon | Kim Ji Won|| Lenght: Ficlet series

Poster by Atatakai-chan @ EXO Kingdom FF [Gomawo ^^]

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Please Don’t Be Silent Reader! 

*** Happy  Reading ***

All I want is a sincere love

~0Oo~

“Mama… mama!”

Shinhye berlari ke tempat tidur ibunya dan kemudian memeluknya. “Aku di sini, Mama,” katanya. “Apa yang telah terjadi?”

Perlahan Nyonya Park memandang putrinya. “K—kau sudah… di sini… sayang,” sahutnya dengan suara yang bergetar. Shinhye kemudian duduk di tepi tempat tidur sambil memandang ibunya.

“Kau… kelihatan sakit, Mama!” serunya “Kenapa Mama tidak memintaku datang lebih cepat?” tanya Shinhye dengan mata yang berkaca-kaca.

Nyonya Park terlihat sangat kuyu, wajahnya yang pucat dan bibirnya yang kering membuat sang putri semakin khawatir dengan kondisi dirinya. “A—aku… ingin bertemu dengan di—dirimu sayang,” kata Nyonya Park kembali dengan nada yang masih  terbata-bata. Tak selang beberapa saat kemudian Nyonya Park kembali berkata. “S—sekarang kau telah a—da di sini… itulah yang kuinginkan.”

Shinhye menatap ibunya dengan perasaan yang cemas. Sejak kematian ayahnya, ibunya kelihatan pucat dan lemah. Dan selama itu pula ia melihat kesehatan ibunya mulai memburuk. Cukup lama Shinhye duduk di samping ibunya yang sedang mencoba beristirahat. Dada Shinhye semakin sesak karena ia tak dapat melakukan apapun untuk sang ibu.

Ia pun lalu bangkit berdiri dan berjalan menghampiri jendela untuk menutupi airmatanya yang sedari tadi ia bendung dari hadapan ibunya. Shinhye masih mengenakan seragam sekolah Rin yang berada di pusat kota New orland, di mana ia telah berada di sana selama hampir tiga tahun.

~OoO~

Saat bapak kepala sekolah memanggil dirinya, ia merasa heran.

“Saya baru saja mendapatkan surat dari ibumu, Shinhye-ssi,” katanya. “Beliau ingin kau segera menemuinya. Segera.” tambah pria paruh baya itu dan menegaskan nada di kalimat terakhir yang baru saja ia ucapkan.

“Segera?” sahut Shinhye. “Ada masalah apa?” tanya gadis itu dengan suara yang setengah berteriak karena terkejut. Sang kepala sekolah hanya dapat menjawabnya dengan gelengan kepala. Mendengar kabar itu Shinhye pun langsung berangkat menemui sang ibu di hari itu juga.

Shinhye tak habis pikir, bahkan sepanjang perjalanan panjang dari New Orland ke kota kecil bernama Chanyong, di mana ibunya tinggal, dirinya masih merasa binggung apa yang sedang terjadi kepada ibunya.

Begitu tiba di rumah, pengurus rumah tangga mereka memberi tahu kalau ibunya sedang sakit. Shinhye langsung bergegas menemuinya di kamar,  dan beberapa saat kemudian ia menyadari bila sang ibu bukan hanya sekedar sakit biasa, “Ia sekarat!” teriak batin gadis muda itu.

~OoO~

Angin dingin menerpa ke wajahnya serta  melambai-lambaikan gorden jendela saat ia membuka jendela. Shinhye berbalik dan kembali melangkah ke tempat tidur setelah dirinya telah lebih tenang. Saat ia menggengam tangan ibunya yang terlihat rapuh, ia merasakan dingin, sangat dingin. Di pandanginya wajah pucat pasi ibunya dengan perasaan iba kemudian berbisik lembut.

“Aku di sini, Mamaku sayang. Aku akan selalu di sisimu di hari ini maupun di hari yang esok-esoknya.”

Mendengar suara lembut putrinya, Nyonya Park pun membuka matanya. “Ada o—obat di a—atas meja… yang di berikan dokter. To—long ambilkan untuk mama, Shinhye-ah.” pintanya dengan suara yang lemah.

Tanpa banyak bicara Shinhye bangun dan mengambil obat yang dimaksudkan oleh sang ibu. Nyonya Park menarik napasnya dalam-dalam saat menenguk pil obat yang di berikan oleh anaknya, Shinhye.  Sepertinya obat itu manjur karena wajah sang ibu terlihat lebih baik daripada saat tadi.

“Aku … merasa lebih baik. Sekarang dengarlah, Sayang.” ucapnya lebih keras dari pada semula.

“Aku mendengarkannya, Maa..” sahutnya.

Dengan napas yang pendek, Nyonya Park mulai berkata kembali. “Aku ingin kau menyelesaikan pendidikanmu, Shinhye-ah… tapi…”

“Tapi kenapa, Ma?”

“Tapi sekarang .. kurasa tak ada waktu lagi.” ucap sang ibu.

“Tak ada waktu? Aku tidak mengerti apa maksud ucapanmu, Maa.” ulang Shinhye dengan suara yang tercekat.

Nyonya Park menarik napas panjang kemudian berkata, “Aku akan meninggal, anakku sayang… d—dan   tak ada yang bisa di perbuat oleh dokter untuk menyembuhkanku…” lirihnya. Shinhye berseru kaget, kemudian ia menghambur ke dalam pelukan ibunya sambil menangis seperti anak kecil.

“Aku mencintaimu… aku memerlukanmu untuk terus ada di sampingku, Mama!!!” serunya berulang-ulang. “Bagaimana mungkin kau… meninggalkaku, di saat aku bengitu memerlukanmu?” jeritnya kembali.

“Itulah… yang kucemaskan, Shinhye-ah…” sahut Nyonya Park, tapi sayangku… itu yang aku inginkan… bersama dengan Papa dan hal itu yang kuinginkan di atas segalanya.

Mendengar perkataan ibunya, tanpa sadar Shinhye mengigit bibirnya. Mestinya ia menyadari sejak kematian ayahnya dalam duel yang tolol dan sangat tidak berguna itu, ibunya amat terpukul dan tidak sanggup menjalani hidup ini. Bagi ibunya, sang ayah adalah segalanya. Shinhye tak sanggup berbicara gadis muda itu terus meremas jari jemari bundanya dan kemudian menciumnya.

“Sekarang… dengarkanlah… dengan seksama.” kata Lady Maria, “Karena aku telah … merencanakan segala sesuatunya dan kau harus berjanji padaku..” Nyonya Park terdiam untuk beberapa saat, “Untuk melakukan apa yang kukatakan.”

“Tentu saja, Mam,” sahut Shinhye, “Tapi apakah aku bisa melakukan itu semuanya tanpamu?” Lady Maria tersenyum dan kemudian berkata. “Kau tidak usah khawatir sayangku, semuanya sudah aku atur, dan jawabannya telah kusiapkan.”

Shinhye terpaku saat melihat raut wajah ibunya yang terlihat tenang, seakan wanita paruh baya itu yakin bila putrinya bisa melakukan itu semua dengan mudah.

“Kau harus pergi ke kampung halamanku. Aku telah menulis surat, meminta … Kim Of Nevelands yang baru untuk menjagamu.”

Shinhye menatap ibunya dengan  mata lebar. “Kim?” katanya. “Tapi…Mama, beliau akan menolak! Tidak seorang pun dari keluargamu yang mau bicara atau menulis surat sejak Mama melarikan diri bersama Papa.”

“Aku mengetahui itu, sayang.” sahut Nyonya Park. “Tapi kau harus tahu… sejak ayahku meninggal, beliau tidak punya pewaris, sedangkan ketiga saudara lelaki Mama terbunuh dalam dinas ketentaraan. Sedangkan saudara yang mewarisi gelar itu adalah… sepupu jauh Mama yang belum pernah kutemui. Aku pernah mendengar sekilas  dia bernama Kim Hyong Joon. Kemungkinan pewaris selanjutnya adalah Kim Joon Myeon, cicit dari putranya yang ketujuh yang telah wafat di medan perang.”

“Lalu mengapa dia harus menjagaku?” tanya Shinhye.

“Sebab, dia adalah kepala keluarga.” Jawab Lady Maria, “Dan sebagai kepala keluarga. Ia punya tanggung jawab terhadap semua anggota keluarga Neves… siapa pun dan di mana pun mereka berada.”

Shinhye ingin membantah ucapan bundanya namun Lady Maria langsung mencegaknya dengan gerakan tangan ke atas. “Begitu… aku tiada,” kata Lady Maria kali ini napasnya terdengar berat. “Dokter sudah menyiapkan semuanya, dari acara pemakaman dan peti jenaza untuk diriku, jadi lekaslah kau pergi ke Inggris.”

Nyonya Park menarik napas panjang, sebelum melanjutkan. “Sebenarnya aku tidak sampai hati melihatmu pergi seorang diri ke sana, Mama sangat mencemaskanmu. Jadi, Shinhyeku sayang… kau harus melakukan apa yang kukatakan.”

Lalu Nyonya Park melepaskan batu bermata ruby yang melingkar di jari manisnya dan setelah itu mengenakan cincin tersebut di jari manis putrinya, Shinhye. “Kenakanlah cincin perkawinan Mama. Kau akan berpergian sebagai ‘Nyonya Park’—dan kau akan mengenakan gaun serta topi hitam yang kupakai saat pemakaman… Papamu.”

“Aku mengerti, Ma…” kata Shinhye setelah itu Lady Maria diam beberapa saat. “Kau tidak menginginkan aku melakukan perjalanan seorang diri sebagai seorang gadis, kan Mama?” Lady Maria mengangguk membenarkan, dan berusaha sedikit tersenyum.

“Aku akan berusaha melakukan apa yang Mama inginkan jadi Mama tak perlu mengkhawatirkan aku.” sambung Shinhye.

“Ada sedikit uang di dompetku.” kata wanita paruh baya tersebut kepada putrinya namun nama suaranya terdengar serak. Pergunakanlah sehemat mungkin, karena tidak ada lagi yang tersisa.

Shinhye mulai angkat bicara lagi namun kali ini terkesan ragu-ragu. “Tak ada lagi?” dan langsung dijawab oleh sang ibu dengan anggukan kepala.”Itu tak penting, yang terpenting kau bisa tiba di sana dengan selamat.”

Kini Lady Maria merasa khawatir dengan keadaan putrinya itu, dan masa depannya. “Barangkali akan sulit untukmu di Inggris. Tapi Jika Kim yang baru menerimamu, maka semua keluarga akan mengikutinya.”

“Dan jika tidak, Mama. Aku akan mengurusi diriku sendiri,” kata Shinhye.

“Tidak!!!” seru Lady Maria. “Kau harus meyakinkan salah satu keluarga.. paling tidak salah satu dari mereka akan bersikap baik kepadamu… Tidak adil bila kau yang harus menanggung dosa-dosaku.” Shinhye tersenyum.

“Apakah sungguh suatu perbuatan dosa, Mama melarikan diri bersama pria yang kau cintai? Menurutku itu adalah hal yang romantis, dan kau sendiri merasa bahagia.”

“A—aku sangat bahagia… dan kebahagianku semakin sempurna saat kau hadir di dalam kehidupan kami berdua.” bisik Lady Maria.

Shinhye mencium pipi ibunya, “Jangan mencemaskanku, Mama. Aku yakin aku akan baik-baik saja dan Kim yang baru pasti akan menerimaku selakyaknya keluarga inti. Dan kuharap, suatu hari nanti aku dapat bertemu seorang lelaki yang seperti Papa.” Lady Maria tersenyum. “Itu yang selalu aku doakan untukmu.”

Lady Maria mulai menutup kedua matanya, dan terbaring lelah. Shinhye sesegera mungkin ke bawah untuk menemui pelayan yang selama ini merawat ibunya, ia meminta agar dokte keluarga datang untuk memeriksa ibunya. Dan perintah itu langsung dilaksanakan oleh pembantunya.

Setelah itu Shinhye bergegas kembali ke atas. Sebelum tiba di kamar ia bisa menyadari apa yang akan ia temui disana. Jantungnya berdebar amat kencang. Lady Maria telah berusaha sekuat tenang bertahan untuk bertemu dan berbicara dengan putri semata wayangnya dan menyampaikan sesuatu yang harus dilakukan oleh Shinhye.

Sekarang segalanya telah berakhir, ia telah pergi menemui pria yang dicintainya.

-TBC-

~OoO~

Anyyeonghaseon… ketemu lagi sama Phiyun di sini…

Aku membawakan cerita baru lagi nih, kebetulan penulisnya lagi seneng buat cerita yang bersetingan jangan victoria, gara-gara abis nonton pilem parfum di thriller… yang notabennya itu ceritanya pada mengusung spikopat malah diriku pingin buat romance, haha…

Cerita ini terinsprasi dari buku karangan Barbara Cartland, gabungan pilem-pilem yang pernah Phiyun tonton dan khayalan absurd penulis jadi kalau ceritanya rade gaje jangan bingung yah ><

dan di pastikan di part 2 nya si bang Suho pasti ketemu sama Shinhye… kira-kira Shinye tar di terima atau enggak yah jawabannya ada di part selanjutnya… Penasaran sama kelanjutannya?? Kalau gitu jangan lupa tinggalkan jejaknya di sini yah, biar Phiyun makin semangat lagi buat kelanjutannya ^^

See you next part 2  ❤

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s