[Vignette] Regret

Regret

Vignette by sweetheart

Starring– Lee Taeyong

| Family, Sadness, Crime | Teen | 

I just own the plot.

©swtheart 2016

 

Menjadi seorang yang dicari, dituduh melakukan hal yang tak dilakukan, bersembunyi pada kegelapan alam, seolah dirinya melakukan kesalahan, entah atas dasar apa ia bersembunyi.

“Ayah …, kenapa kita terus berada pada rumah kumuh di dalam hutan seperti ini?”

Pemuda dengan masker yang selalu menghias wajah itu berucap lemah; salah virus yang menggerogoti organ dalamnya. Ini terjadi akibat sang Ayah yang memaksa menggeret tubuh lemasnya dalam keadaan tak vit untuk masuk ke dalam hutan yang dipenuhi asap bakar, pun dengan kesehariannya yang sungguh kotor, berada di samping sang Ayah menjadi perokok pasif.

“Ayah lakukan ini, untukmu.”

Sepuluh tahun lalu. Ketika sang pemuda, Lee Taeyong, yang baru menginjak tujuh tahun, tinggal bersama sang Ayah di sebuah rumah sederhana pinggir jalan, suatu hari sang Ayah yang amat dicinta, kendati ia tahu bahwa sang Ayah selalu datang dalam keadaan mabuk, namun hati kecil dan rapuh miliknya selalu berucap; “Taeyong sayang Ayah.”

Lelaki paruh baya itu menarik paksa tangan mungil Taeyong, tanpa beralas kaki, tanpa mempedulikan ribuan pertanyaan yang dilontarkan sang buah hati. Melewati berbagai tanaman liar hutan, Taeyong menangis, tarikan sang Ayah terlalu kuat untuk ia lepas, entah sudah puluhan kerikil, batu, atau jarum yang sudah ia injak.

Bibir mungil milik Taeyong terus saja berucap lirih, “Ayah, sakit …,” tangan kiri yang bebas, ia gunakan untuk mengusap ratusan butir kristal yang jatuh berlomba membasahi wajah.

Kini, sudah sepuluh tahun mereka tinggal dalam hutan, mencari makan seadanya, melihat Taeyong yang semakin parah akan penyakit yang diidapnya, sesaat membuat si Ayah ingin keluar menerobos hutan, membawa tubuh anaknya ke dalam ruang ICU. Namun, ia berpikir akan tuduhan yang dialami.

Saat itu, ketika ia selesai dengan pekerjaan, menjadi seorang kasir supermarket. Tak lupa, membawa beberapa daging kesukaan Taeyong dalam plastik. Pupil miliknya menangkap seorang wanita yang tengah dijahili oleh beberapa lelaki berdosa. Membuat kaki jenjangnya, melangkah cepat membogem semua lelaki ditempat dalam sekali tendangan. Tak heran, karena ia pemegang sabuk hitam.

“Kau tak apa, Nona?”

Bukannya berterima kasih, wanita itu dengan berani merangkul Ayah Taeyong, tersenyum manis, ketika sang Ayah yang menjadi duda di usia yang terbilang cukup muda, sialnya, dia berhasil digoda oleh wanita licik di hadapan. Menghabiskan beberapa botol anggur dalam sekejap, tertidur setelahnya di atas meja samping supermarket miliknya bekerja. Ketika ia bangun, dirinya sudah berada di kantor polisi, diinterogasi dengan tuduhan pelecehan seksual.

Sungguh, ia tak ingat setelahnya, ia tertidur pulas saat itu. Mungkin, tergoda ia bisa, namun, dengan sumpah serapah yang dimilikinya, lelaki dua puluh sembilan tahun itu tak mungkin melakukan hal keji. Ia sadar akan Taeyong yang membutuhkan kasih dan sayang miliknya.

Di sinilah mereka hidup. Dalam keadaan sengsara. Taeyong selalu bertanya dan bertanya mengapa, namun sang Ayah selalu menjawab; “Sungguh, ini bukan salah Ayah, Tae.” Taeyong pun tak mengerti, ia hanya berpikir Ayah menyembunyikan sesuatu.

Kendati demikian, Taeyong bersyukur akan takdir yang menemukan mereka dalam hutan, selalu bisa bersama sang Ayah, menghabiskan sisa waktu berdua bersama Ayah yang amat disayanginya. Tanpa harus, melihat Ayah-nya pergi bekerja dan pulang malam dalam keadaan mabuk. Meski begitu, Taeyong tahu isi hati Ayahnya. Ia sangat tahu Ayah selalu menimang ketika ia masih balita, mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Tanpa harus iri kepada anak lainnya karena kasih seorang Ibu.

Taeyong punya Ayah. Taeyong punya Ayah yang tegar, dan kuat. Ia tahu Ayahnya melawan rasa lemah dalam dirinya ditinggal orang terkasih ketika melahirkan buah hati mereka. Ayahnya, tak pernah berpikir untuk memberi Ibu untuknya. Tak pernah berpikir untuk mengusir dirinya karena lelah mengurus. Meskipun Taeyong tak pernah mendengar; “Ayah menyayangimu, Taeyong.” keluar dari mulut Ayahnya. Tapi ia tahu, ia tahu semua isi hati Ayahnya.

Dan kini, jawaban dari semua pertanyaan yang terlontar dari mulutnya, terjawab sudah. Ia menanti jawaban ini sepuluh tahun lamanya. Tapi ia tak tahu, jawaban ini akan membuat hatinya hancur.

Setelah selesai membawa beberapa ubi di genggaman untuk makan malam, semuanya jatuh kacau ke tanah. Melihat dengan penuh tangis yang menghias wajah tampan miliknya. Mata mereka bertemu, tatapan itu kali pertama ditunjuk pada dirinya. Seolah berkata; Ayah-menyayangimu.

Kedua tangan rapuh itu dicengkram kuat dengan borgol yang menghias. Menatap sayu Taeyong sembari menggeleng pelan, meronta pada lima polisi di sekeliling.

“Tidak, Pak! Sungguh, bukan aku …,” bibirnya terus membeo. Ia tak sanggup ditangkap di depan anaknya. Tidak. Dia bahkan belum berkata masalah ini pada Taeyong. Dia bahkan, belum memberi kasih penuh kepada anak semata wayangnya.

Tanpa perintah, beberapa tetes kristal membasahi kulit putihnya, Taeyong menatap sang Ayah sembari menggeleng seolah berkata; “Aku tahu Ayah, sudah jangan seperti itu.”

Tangisnya semakin pecah kala sang Ayah berucap, “Baik! Aku akan ikut dengan kalian semua, aku akan! tapi sebelumnya, aku punya permintaan. Tolong, bawa anak saya ke rumah sakit. Dia sakit berat, kumohon …,” Ayahnya berucap dengan penuh keyakinan, dengan rasa yang amat dalam, menangis sambil berucap, memohon atas dasar ketidaksalahannya.

Taeyong berlari, berdiri di depan sang polisi, berlutut di hadapannya. “Tidak! Pak, percayalah, ini bukan kesalahan Ayahku. Aku tahu Ayahku, dia tak akan berbuat hal semacam itu. Dia Ayahku, Seseorang yang kusayangi sampai sekarang, walau aku tahu ia terkadang kasar, tapi semua itu ia lakukan untukku. Dia orang baik-baik, Pak. Kumohon, percayalah …,”

Salah polisi menyahut. “Masalah bersalah atau tidak, aku akan membawa Ayahmu ke kantor polisi. Hebat sekali dia bersembunyi dalam hutan selama sepuluh tahun. Dengan ini, kau mengelak Ayahmu berbuat semacam itu?”

Taeyong menunduk, sadar akan kebodohan sang Ayah. Jika ia tahu, sudah sejak dulu ia menyeret sang Ayah ke kantor polisi, membantah semua tuduhan palsu atas Ayahnya. Namun, ia tahu, itu hanya harapan belaka. Mereka bahkan tumbuh dalam hutan. Taeyong menangis, sakit, perih, juga kesal.

Dengan emosi yang tak terkendali dalam dirinya, kali pertama melihat Ayah diborgol, kali pertama melihat Ayah menangis, kali pertama melihat Ayah memohon, dan kali pertama ditinggal Ayah-nya pergi memasuki dunia yang berbeda.

Di sini, Taeyong, menatap lirih nisan bertuliskan “Lee Ki Woo”. Menangis hebat setelah tahu sang Ayah mendapat hukuman mati. menunduk mengucap doa untuk Ayah terkasih, Ayah yang amat dicinta, disayang, dibutuhkan, dirindukan, hingga akhir hayatnya.

Fin.

Bek bersama sweetheart^^ Maaf ya lama post, real life riweh :3 Buat yang mau baca dan comment, I say ‘thank you so much, guys. Lob you♥’

Salam, Ay.

Advertisements

One thought on “[Vignette] Regret

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s