R.E.A.P.E.R [Part 4]

reaper

|| Title: R.E.A.P.E.R || Author: Phiyun || Genre: Romance | School Life | Sad | Hurt | Fantasy | Thriller || Cast: Oh Sehun |Park Jiyeon | Kim Jongin | Park Chanyeol | Kim Ji Won ||

Poster Credit : Ravenclaw [Gomawo (^-^)]

 

Cerita ini hanya fiksi belakang. Cerita ini terinspirasi dari film mau pun buku yang pernah di tonton dan di baca oleh penulis.  Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Note: Nama pemain sewaktu-waktu akan berubah.

 Kalimat bergaris miring adalah isi dalam hati pemain cast, ya ^^

Privew: Privew: Part 1 | Part 2 | Part 3

     *** Happy  Reading ***

*Chapter 4*

Aku baik-baik saja?

~OoO~

“Yah!” seru gadis berambut hitam pekat tersebut.

Jiyeon berdiri di pintu depan yang terbuka. Jantungnya masih berdebar-debar saat menyibak keheningan dari rumah yang dijaga sang ayah agar selalu berada dalam keadaan rapi dan teratur. Kabut keemasan yang merembes masuk tampak berkilau di lantai dari kayu keras dan tingkatan anak tangga yang mengarah ke atas. Sebelum dirinya tiba di kediamannya, gadis muda itu berlari sepanjang jalan sambil memakai sepatu bertumit tinggi dan gaun yang sudah compang-camping. Banyak mata yang terus menatap ke arah dirinya di sepanjang jalan. Namun hampir beberapa jam ia berlari, ia tidak pernah merasakan sedikit pun rasa lelah dan itu membuat Jiyeon merasakan ngeri. Ia bisa merasakan denyut nadinya meningkat bukan karena sehabis memforsir tenanganya, melainkan karena ketakutan.

“Yahh!!” panggil Jiyeon untuk yang kedua kalinya karena ia tidak melihat sang ayahnya dari tadi.

Gadis muda itu langsung berlari ke dalam. Matanya mulai memanas oleh emosi ketika dari lantai atas terdengar suara sang ayah yang bergetar dan terdengar ragu-ragu, “…Jiyeon-ah?” dengan cekatan gadis muda itu menaiki anak tangga dua-dua sekaligus. Saat melangkah ke tangga terakhir langkah Jiyeon tersandung dengan gaunnya sehingga ia harus merayap untuk sampai  ke puncak tangga.

Dengan kerongkongan tercekik, Jiyeon mengayun langkah bergemersik sampai akhirnya berhenti di ambang pintu kamarnya. DI sana terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di lantai, di antar kardus-kardus kepunyaan putrinya yang sudah terbuka tapi isinya tidak pernah ia bongkar.

Manik Jiyeon menatap wajah ayahnya yang terlihat tua. Wajah pria itu kurus dan cekung akibat penderitaan batin. Jiyeon tak mampu bergerak, dan tidak tahu apa yang mesti ia lakukan. Kedua mata pria paruh baya itu melebar seakan sosok gadis yang ada di hadapannya tidak ada.

“Kau tidak pernah membongkar barangmu?” bisiknya.

Air mata panas yang entah dari mana asalnyya mengalir turun sampai ke daku milik lawan bicaranya. Melihat sang ayah seperti ini, membuat diirnya sadar bahwa ayahnya membutuhkan kehadirannya untuk mengingatkan dia pada hal-hal baik. Karena sebelum ini tidak ada seorang pun yang membutuhkan dirinya.

“A—aku minta maaf, Ayah,” Jiyeon berhasil mengucapkannya sambil tetap berdiri tak berdaya di depan pintu kamarnya.

Pria paruh baya itu menarik napas lalu menghembuskannya kuat-kuat. Emosi memancar dari wajahnya. Tuan Park berdiri dengan gerakan sebat. “Kau masih hidup?” tanya sang ayah. Jiyeon menahan napasnya ketika pria paruh baya itu maju tiga langkah untuk mendekatinya dan kemudian merangkul dengan pelukan yang nyaris meremukan tubuh putrinya, Jiyeon. “Mereka bilang kau sudah tewas.”

“Aku baik-baik saja.” sahut Jiyeon sambil terisak-isak di dada ayahnya. Kelegaan yang mendera hati Jiyeon begitu kuat sampai terasa menyakitkan.

~OoO~

Seperti biasa tubuh ayah berbau minyak dan tinta seperti lab tempatnya kerja, tapi bagiku belum pernah ada aroma sewangi ini. air mataku tak mampu kuhentikan. Aku sudah meninggal – kurasa begitu. Aku memang punya jimat, tapi aku tidak tahu apakah aku akan mampu bertahan. Ketakutan akan pemikiran itu membuat rasa ketidak berdayaanku membesar.

“Aku tidak apa-apa,” kataku lagi. “Hanya saja ada kesalahan.”

Sambil tertawa ayah mengorongku sampai ia bisa menatap wajahku. air matanya berkilau di kedua matanya namun ia tetap tak bisa berhenti tersenyum. “Ayah sudah ke rumah sakit,” katanya. “Aku melihatmu di sana.” ingatan akan kepedihan itu kembali lagi di matanya. Ayah kemudian membelai rambutku dengan tangannya yang gemetaran, seolah hendak meyakinkan dirinya bahwa aku ini nyata. “Ternyata kau baik-baik saja.” katanya kembali. “Aku sudah mencoba menghubungi ibumu tapi aku tak sanggup mengatakan bila kau…” untuk sesaat ayah terdiam. Ia nampak enggan melanjutkan kalimat terakhir.

“Sudahlah, yang penting kau sudah ada di sini dan kau baik-baik saja, benar kan?” kerongkonganku tercekik. Kuhembuskan napas kuat-kuat. “Kalung ini tidak akan kuserahkan. Tidak akan pernah.

“Maafkan aku, yah..” ucapku sambil terus menangis. “Seharusnya, aku tidak pergi bersama pria itu. maafkan aku, maaf!” seruku.

“Ssshh…” Ayah kembali meraihku ke dalam dekapannya, tapi tangisanku justru semakin menghebat. “Sudahlah, yang penting kau tidak apa-apa,” katanya menenangkanku sambil mengelus-elus puncak kepalaku. “Tetapi, Ayah tidak tahu kalau aku sudah meninggal!” teriak batiku.

Tak selang beberapa saat kemudian, ayah menjauhakan diriku dari pelukannya. perasaan dingin seketika menjalar di sekujur tubuhku saat ayah memandangiku secara keseluruhan membuat air mataku berhenti mengalir dalam seperkian detik.

“Kau sungguh tidak kenapa-kenapa,” katanya takjub. “Tergores pun tidak!”

Aku tersenyum gugup. “Yah, aku harus memberitahu kan mu sesuatu. Aku—”

Belum sepat aku mengatakan kebenarannya kepada ayahku, tiba-tiba terdengar suara seretan pintu terbuka dengan lembut. Kedua tatapan ayah langsung bergerak melewati atas bahuku. Aku pun penasaran apa yang sedang di lihat oleh dirinya, aku menoleh dan di sana aku melihat Sehun berdiri kikuk di sebelah pria tua yang pendek yang berpakaian ala jendral perang. Pakaian itu terlihat sangat longgar sehingga membuat tubuh pria tua itu semakin terlihat kecil. Pria tua itu berdiri tegak, ekspresi wajahnya terkesan dingin dan kulitnya sangat gelap. Matanya yang biru pekat dan kedua sudutnya dihiasi banyak sekali garis. Rambut keriting halusnya yang berwarna kelabu di atas pelipisnya menegaskan bila lelaki itu sangat tua.

“Maaf,” ucap ayah sambil menarikku ke sampingnya. “Kalian yang membawa putriku pulang, ya? Terima kasih.”

Aku tidak menyukai seringai di wajah Sehun. Aku harus menahan diri agar tidak terlalu terlihat sedang bersembunyi di balik belakang punggung ayahku. Aku ingin segera berlari pergi, tapi tangan ayah masih menggengam erat tanganku, dan di saat itu juga hatiku berkata lain. “Aku tidak mau pergi dari sisinya. Aku belum mau mati. Ini tidak adil!” jerit batinku.

Pria tua itu memasang ekpresi sendu saat menjawab pertanyaan ayah. “Bukan,” sahutnya. “Hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia bisa pulang ke sini.”

“Bukan mereka yang membawaku pulang.” Kataku gugup. “Aku tidak kenal mereka. Alu pernah bertemu dengan laki-laki muda itu,” imbuhku. “Tapi aku tidak kenal dengan pria tua ini.”

Ayahku tetap tersenyum, berusaha tenang di posisi netral. “Apa kalian dari rumah sakit?” tanya ayah dengan rahang yang mengeras. “Siapa yang bertanggung jawab atas kabar bahwa putriku sudah meninggal?”

Sehun bergeser, sedangkan pria tua yang berada di sampingnya mendengus kasar. “Kami belum menyampaikan penjelasan yang sebenarnya, Tuan.” Mata Sehun menjelajahi seisi kamarku, memandangi dinding-dinding berwarna merah muda, perabotan putih dan kardus-kardus terbuka yang isinya tidak pernah dibongkar. Diakhir penjelajahannya kedua manik berwarna kecolatan itu mendarat tepat kepadaku. membuatku bertanya-tanya kesimpulan apa yang sudah dia dapatkan. Karena hidupku berakhir begitu mendadak, “Urusanku belum selesai di sini!

“Kita perlu bicara, Nak.” kata pria tua itu membuat tubuhku mengigil gemetar. Tubuhku langsung kaku ketia pria tua itu maju satu langkah memasuki kamarku.  “Ya Tuhan. Dia mau aku ikut dengannya.”

Kugengam erat-erat kalung yang melekat di leherku, sementara ayah mempererat gengamannya. Ayah melihat mataku yang ketakutan dan akhirnya mengerti ada yang tidak beres. Ayah menggeserkan tubuhnya untuk memosisikan tubuhnya di antara aku dan kedua orang yang berdiri di ambang pintu .

“Jiyeon-ah… telepon polisi!” perintah ayah, segera ju raih gagang telepon yang ada di atas meja kecil yang ada di samping ranjangku.

 “Berikan kami waktu sebentar Tuan Park.” kata laki-laki tua itu.

Perhatianku bergerak ketika  pria tua itu menggangkat satu tangannya  dan kemudian memetiknya.

“Clikk…”

Dengungan suara telepon pun terputus. Kupandangi telepon yang ada di gengamanku dengan perasaan terguncang. Ayahku masih berdiri di antara aku dan kedua orang itu. dia tidak bergerak sedikit pun. Kedua lututku terasa lemas. Sesegera mungkin aku berlari kembali menghampiri ayah. Ayah terlihat baik-baik saja, kecuali bahwa ia sekarang menjadi mahluk tak bergerak. Laki-laki tua itu menghela napas panjang, membuat perhatianku tersentak ke arahnya. “Aku tidak sudi ikut mereka tanpa perlawanan.”

 

“Lepaskan, ayahku,” pintaku dengan suara gemetar. “Atau aku a—akan… Aaa—kan…”

Bibir pemuda itu bergerak memperlihatkan kebiasaan khasnya sementara laki-laki tua menaikan kedua alisnya yang menaungi sepasa mata berwarna kehijauan. Aku berani bersumpah tadi warna matanya berwarna biru.

“Kau akan apa?” tanya Sehun sambil memperkokoh posisi berdirinya di atas permadani dengan kedua tangan menutupi dada.

Aku terpaku memandangi ayahku. “A—aku akan berteriak!” gertakku.

“Silakan saja. Tak seorang pun akan mendengarmu.”

Kutarik napas yang panjang untuk mencoba berteriak. Namun laki-laki tua itu menggeleng-geleng.. napasku terpompa cepat saat ia mendadak menghambur masuk ke kamarku. ternyata dia tidak ingin menangkapku. Karena ia menarik kursi putih milikku dan kemudian menghenyakkan tubuhnya yang kecil miring ke satu arah. Ia juga menompak siku ke puncak sandaran lalu menempelkan tangannya ke dahinya seperti orang kelelahan.

“Kenapa jadi sulit begini, ya?” gumamnya sambil mempermainkan jari jemarinya di boneka porselen milikku. Tak lama kemudian ia berkata kembali. “Kau pikir lucu? pasti sekarang di dalam hatimu sedang terbahak-bahak melihat ini, iya kan?”

Aku menoleh ke pintu. Sehun menggeleng untuk memperingatkan. “Ayahku tidak apa-apa?” tanyaku sambil memberanikan diri menyentuh lengannya. Sehun mengangguk . laki-laki tua itu mengembalikan tatapannya padaku. Sambil meringis seolah sudah membuat keputusan, dia mengulurkan tangan. Kupandangi tanpa menyambut.

“Senang bisa berkenalan denganmu.” katanya pelan namun tegas. “Namamu, Oark Jiyeon, kan? Orang memanggilku Ray.” Aku cuma memandanginya tanpa berkata apa pun. Perlahan-lahan Ray menurunkan tangannya dan sekarang matanya sudah berwarna biru lagi.

“Sehun sudah memberitahu yang sudah kaulakukan,” katanya. “Boleh kulihat?”

Aku terkejut, bercampur panik. Jari-jariku meluncur meninggalkan lengan ayahku. “Lihat apa?”

“Batumu,” kata Ray. Kecemasan tersirat dalam warna suaranya

“Laki-laki tua ini menginginkannya. Ray menginginkan batuku, padahal hanya ini satu-satunya benda yang bisa membuatku tetap hisup. Atau bisa dikatakan, tidak benar-benar mati.”

 

“Kurasa tidak boleh,” sahutku. Pria tua itu terlihat tidak suka dengan jawaban yang kukatakan pada dirinya.

“Jiyeon-ah,” kata Ray menenangkan sammbil berdiri. “Aku cuma ingin melihatnya.”

“Tidak! Kau mau mengambilnya!” teriakku dengan jantung berdegub kencang. “Cuma ini yang bisa membuat wujudku tetap padat. Aku tidak mau mati. Ini gara-gara kalian. Seharusnya aku belum mati. Ini salah kalian!!!” jeritku kembali dengan deraian air mata.

“Betul, tapi kau sudah mati,” kata  Ray.

Tarikan napasku tercekat ketika dia menjulurkan tangannya. “Biar kulihat dulu.”

“Tak akan kuserahkan!” bentakku.

“Park Jiyeon, Jangan! Jangan bilang begitu!” Ray balas berteriak sambil berusaha meraihku.

“”Ini milikku!” pekikku sambil menggengam erat-erat batu tersebut. Kakiku terus melangkah ke belakang dan beberapa saat kemudian punggungku memberntur dinding. Ray tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ekpresi cemasnya terlihat lebih jelas di paras tuanya.

“Jiyeon-ah…” gumamnya. “Kau seharusnya tidak melakukannya.”

Napasku terpompa kuat dari tubuhku yang berdiri membeku menyandari dinding. Kupandangi Ray dengan jantung yang berdebar-debar. Pria tua itu menatapku sedih, tampak murung dan tertekan dalam jubahnya. Aku takut bergerak. Batu dalam gengamanku terasa berbeda. Batu itu mengeluarkan percikan-percikan aneh. Rasanya mirip sengatan listrik. Aku bisa mendengar denyut nadiku bergema di dalam tubuh. Detakannya berasal dari dalam gengaman tanganku yang saat ini mengepal eat batu tersbut. Tanpa sanggup menahan diri kubuka jari-jariku untuk melihatnya. Rahangku langsung menegang. Batu jimat itu kini tidak lagi sama.

~OoO~

“Lihat!” kata Jiyeon polos. “Batunya berubah.”

Punggung Ray membungkuk. Dia menghenyakkan tubuhnya ke kursi sambil mengumamkan bisikan. Jiyeon mulai ketakutan, sehingga gadis itu menurunkan kalung itu dengan memengang tali kalungnya.

“Bukan seperti ini waktu pertama kali aku mengambilnya.” Kata gadis muda itu. Tubuh Jiyeon seketika merasa dingin saat melihat sorot mata sedih milik lelaki tua itu, sedangkan di belakangnya, Sehun bahkan nyaris memperlihatkan ekspresi ngeri. Wajahnya pucat pasi dan matanya membelalak.

“Kau benar sekali,” kata Ray dengan nada pilu.  “Kami sempat berharap mengakhiri situasi ini dengan cara baik-baik sampai kau merampar batu itu. Nah, sekarang batu itu milikmu.” Matanya menatap dalam manik milik Jiyeon di sertai sorot muak. “Selamat.”

Perlahan-lahan tali kalung itu pun di turunkan oleh Jiyeon. “Batu ini miliku? Pria tua itu bilang sekarang benda ini milikku.”

“Itu kan batu malaikat jahat,” kata Sehun. Nada ketakutan dalam suaranya membuat Jiyeon beralih menatap dirinya. “Mahluk ini bukan malaikat tapi dia memegang batu malaikat. Sekarang dia jadi malaikat jahat!”.

Bibir gadis itu terbuka. “Wuaahh, tunggu dulu!”

“Dia jadi malaikat jahat! Mereka semua harus di musnakan!” teriak Sehun.

Rahang Jiyeon ternganga melihat Sehun menguncang-guncangkan kemejanya lalu mengeluarkan sabit besar bergagang panjang, persis milik Kai. Pemuda itu menghambur masuk ke ruangan tersebut dan tak lama kemudian Sehun  melompat ke antara Jiyeon dan Ray.

-TBC-

~OoO~

Advertisements

15 thoughts on “R.E.A.P.E.R [Part 4]

  1. Jadi sekaranh jiyeon jadi pengganti kai ya,, dan sehun uda mau musnahkan jiyeon,, kyaknya bakalan panjang ni cerita,,, kasian appanya jiyeon terpukul banget anaknya uda gak ada

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s