[Twoshoot] You’re My Angel – part 2

You’re My Angel

“I Found You in Devil Nest”

By : Febby Fatma

Drama, Romance, Crime, Hurt/Comfort, Fluff

Cast :

Lee Donghae Super Junior

Nam Jihyun 4Minute

Eunhyuk Super Junior

Nona Nay (OC)

Hyuna 4Minute

Gayoon 4Minute

∴∴∴∴

“Kukira semua orang yang sepertimu itu iblis. Ternyata ada juga malaikat di sarang iblis.”

∴∴∴∴

Donghae dan Jihyun sampai di apartement Donghae saat tengah malam. Dan mereka langsung pergi tidur.

Donghae benar-benar serius saat dia mengatakan tidak akan meminta Jihyun menemani tidurnya. Karena saat sampai di apartementnya Donghae langsung menyuruh Jihyun untuk tidur di ranjangnya, sedangkan dia memilih untuk tidur di sofa depan TV.

Oppa kau yakin?” Tanya Jihyun memastikan.

“Kau ingin aku berubah pikiran?” Jihyun menggeleng. “Ya sudah tidur saja.”

Jihyun hanya menurut dan langsung bebaring di ranjang milik Donghae. Dia bersyukur malam ini dia terbebas lagi dari pekerjaan sial ini.

Dalam hatinya wanita itu berdoa pada Tuhan dan berterima kasih atas segala sesuatu yang Tuhan berikan padanya malam ini.

Donghae sendiri sibuk dengan ponselnya mengetik sebuah pesan untuk adiknya yang sekarang ini ada di Jepang. Mengurus cabang bisnis keluarga mereka yang ada di sana.

Barulah setelah selesai dengan pesan itu, Donghae mendekati Jihyun yang sudah benar-benar tertidur. Donghae tersenyum, dia terlalu senang melihat wanita ini.

Wanita cantik juga baik. Itu bagi Donghae.

Dalam hatinya Donghae juga berjanji kalau dia akan menjaga wanita ini. Wanita cantik yang memberinya sebuah senyum baru.

Karena mendengar Jihyun kemarin Donghae jadi tersadar kalau dia bukan satu-satunya manusia yang mendapat cobaan dari Tuhannya. Itu sebabnya dia ingin membuat wanita itu senang dan ingin menjaganya juga.

∴∴∴∴

 

Setelah malam itu, setiap malam Donghae selalu datang ke Bar itu dan meminta Nona Nay menyuruh Jihyun untuk menemaninya. Tapi Donghae benar-benar tidak menyentuh wanita itu. Dia hanya mengajak Jihyun jalan-jalan dan setelah itu mengajak Jihyun menginap di apartemntnya. Tidak lebih.

Oppa..” Jihyun memanggil Donghae saat Donghae barus aja ingin keluar apartementnya. Pagi ini Donghae harus melakukan presentasi di depan ayahnya. Jadi dia sangat buru-buru.

“Jihyun-ah, kita bicara nanti malam saja ya? Aku harus berangkat pagi-pagi.” Ucap Donghae yang langsung menjelaskan bahkan sebelum Jihyun menahannya lebih dari hanya sekedar panggilan.

“Tapi..”

“Baiklah nanti sore aku akan menjemputmu lebih awal. Aku janji, tapi tidak pagi ini.” Setelah itu Donghae pergi keluar. Meninggalkan Jihyun yang bahkan masih terduduk di ranjang milik Donghae.

Ini sudah sebulan penuh Donghae memperlakukannya seperti ini. Menyewa Jihyun untuk menemani malamnya tapi sama sekali tidak menyentuh Jihyun.

Jihyun bersukur. Sangat bersukur bahkan. Tapi dia bingung dengan semua ini. Ada apa dengan pria itu? Kenapa dia membuang uangnya hanya untuk membebaskan Jihyun dari pekerjaan sialnya ini?

Dan, memangnya Donghae benar-benar sedang mencoba membebaskannya?

Jihyun bingung. Dia sama sekali tidak tahu jawabannya. Dan dia penasaran apa jawabannyanya.

∴∴∴∴

 

“Kudengar kau selalu meminta wanita yang sama saat datang ke Bar itu. Apa itu benar?” Donghae mengangguk pada Eunhyuk, sahabatnya yang saat ini sedang merangkap menjadi supirnya.

“Kenapa memang dengan wanita itu? Dia selalu memuaskanmu?” Donghae diam karena sibuk mengirimi Jihyun pesan singkat untuk bersiap dijemput olehnya.

Eunhyuk kembali bertanya karena tidak dijawab. “Boleh sekali-kali aku memakainya?”

Pertanyaan yang kali ini berhasil membuatnya di dengar oleh Donghae. Sahabatnya itu langsung memandang Eunhyuk dengan tatapan tidak suka, atau bahkan benci.

“Jangan harap!”

Hanya seperti itu yang Donghae katakan sebelum dia kembali sibuk dengan ponselnya dan pesan-pesan dari Jihyun juga Kyuhyun.

“Kau jatuh cinta pada wanita itu?” Donghae kembali tidak menjawab pertanyaan Eunhyuk sekalipun dia mendengarnya.

“Kau tahu dengan pasti apa yang akan ayahmu katakan kalau kau berhubungan dengan wanita seperti itu.” Eunhyuk memperingatkan.

Donghae menoleh sebentar dan kembali pada ponselnya. “Dia tidak ada hak untuk menentukan siapa yang ingin aku nikahi. Anaknya itu Kyuhyun, bukan aku.”

Eunhyuk tertawa geli mendengar itu. Ini kali pertamanya dia mendengar Donghae membicarakan ayah tirinya itu dengan nada seperti itu.

Selama ini Donghae yang Eunhyuk kenal adalah Donghae yang selalu pasrah, tapi sepertinya wanita itu berhasil mengenalkan cara memberontak pada sepupu sekaligus sahabatnya itu.

“Jadi kau sudah berniat untuk menikahi wanita itu?” Tanya Eunhyuk curiga.

“Aku tidak bilang seperti itu.” Sahut Donghae.

“Kau bilang.” Ucap Eunhyuk tidak mau kalah. “Kau bilang ayah tirimu tidak berhak menentukan siapa yang ingin kau nikahi. Itu berarti kau ada niatan untuk menikahi wanita itu.”

Donghae diam sebentar dan coba mengingat-ingat kata-katanya tadi. Mencoba mencernanya. Baru setelah itu dia sadar kalau dia memang salah berkata seperti itu.

“Tapi aku bingung. Kenapa kau selalu meminta wanita itu?”

Donghae hanya tersenyum dan tidak menjawab hingga mereka sampai di Bar itu lagi. Donghae langsung menemui Nona Nay dan meminta Jihyun untuknya lagi. Sedangkan Eunhyuk hanya meminta disiapkan yang terbaik.

Sementara menunggu Donghae dan Eunhyuk mengobrol, membicarakan Kyuhyun juga Joohyun yang sekarang sudah tidak pernah memberi kabar pada mereka.

“Donghae oppa,” sapa Jihyun saat dia datang bersama salah satu temannya yang juga cantik dan sexy.

Donghae langsung menggeser tempatnya, mempersilahkan wanitanya itu untuk duduk di dekatnya. “Jihyun-ah, malam ini aku tidak pulang. Kita menginap di hotel saja ya?”

Jihyun mengangguk dan memeluk lengan Donghae manja. Karena sudah punya hubungan yang lumayan dekat, Jihyun sudah berani bersikap manja pada Donghae, dan Donghae sendiri tidak keberatan untuk itu.

Eunhyuk yang mendengar dan melihat adegan di depannya itu hanya bisa membelo. Donghae dengan wanita di sebelahnya itu sedang saling bermanjaan?

Mungkin ini mimpi Eunhyuk. Yah, mimpinya terkabul karena akhirnya Donghae bisa melupakan sosok Joohyun yang dulu sangat dicintai Donghae. Tapi karena Kyuhyun dan ayah tirinya, Donghae harus mengalah dan menyerahkan cintanya itu untuk Kyuhyun.

∴∴∴∴

 

“Kenapa oppa melakukan hal ini?” Jihyun mengulangi pertanyaannya untuk yang kesekian kalinya dan Donghae masih tidak menjawabnya juga.

Saat ini mereka sedang dalam perjalanan menuju hotel.

“Nanti aku jawab kalau kita di hotel saja.” Akhirnya Donghae bersuara. Mungkin dia mulai tidak betah dengan semua ocehan Jihyun.

“Kenapa harus di hotel? Apa susahnya menjawa sekarang?” Jihyun menggerutu sambil memanyunkan bibirnya. Membuat Donghae yang sempat menoleh sebentar jadi tertawa geli melihatnya.

“Kalau aku jawab sekarang kau bisa saja kabur.” Jihyun menatap Donghae penasaran karena jawaban itu.

Jihyun akhirnya mengalah dan memilih untuk menunggu sampai di dalam kamar hotel baru kembali bertanya pada pria yang selalu menyelamatkannya dari pekerjaan sial ini.

Di dalam kamar hotel, Donghae menonton TV sementara Jihyun mengganti bajunya dengan baju tidur di kamar mandi. Baru setelah itu Jihyun kembali mengulangi pertanyaan yang sama.

“Kau benar-benar ingin tahu apa alasannya?” Jihyun mengangguk antusias. “Yakin tidak akan menyesal?”

“Memang apa sih? Oppa jangan bikin penasaran dong.” Donghae tertawa dan kembali mengusap kepala Jihyun membuat Jihyun harus menata ulang rambutnya itu.

Donghae menghirup napas dan menghembuskannya baru menjawab. “Aku hanya ingin menjadi malaikatmu.”

Karena Jihyun hanya diam, Donghae memilih untuk melanjutkan kata-katanya.

“Aku ingin membebaskanmu. Menjagamu layaknya seorang malaikat. Bolehkan?”

“Tapi kenapa?” Jihyun balik bertanya. Di wajahnya terlihat dengan jelas kalau wanita ini kaget dengan apa yang baru saja dia dengar.

Donghae mengangkat bahunya. “Aku juga tidak tahu. Aku hanya merasa itu harus bagiku.”

Jihyun diam sebentar sebelum akhirnya dia kembali berkata. “Oppa tidak akan bisa melakukan ini terus-menerus. Suatu saat nanti oppa pasti berkeluarga, oppa tidak mungkin bisa menolongku seperti ini.”

“Tentu saja bisa. Aku hanya tinggal membawamu pergi dari tempat ini jauh-jauh.” Sahut Donghae bangga, Donghae merasa kalau pemikirannya adalah pemikiran yang sangat cerdas.

“Aku tidak bisa lepas dari Nona Nay. Aku masih harus bekerja untuknya sampai lima tahun ke depan.”

“Kenapa tidak bisa?”

“Karena aku terikat kontrak dengannya. Aku terikat kontrak yang mengharuskan aku bekerja untuknya sampai umurku dua puluh delapan tahun. Kalau tidak aku harus membayar denda yang sangat besar.” Jelas Jihyun yang sekarang sudah menunduk sedih. Menyembunyikan wajahnya dari Donghae.

Lebih tepatnya menyembunyikan matanya yang mulai basah.

“Kontrak apa? Perkerjaanmu juga ada kontraknya?” Jihyun mengangguk lemas.

“Kami yang bekerja dengan Nona Nay sudah menandatangani perjanjian kontrak kerja yang semuanya berakhir saat umur kami dua puluh delapan tahun. Dan itu masih lima tahun lagi bagiku.”

Donghae menggeleng tidak percaya dengan apa yang dia ketahui saat ini.

“Berapa denda yang harus kau bayar?”

“Seratus juta.” Mata Donghae membelo mendengar itu. Nona Nay memang pintar mencari bisnis yang menguntungkan baginya. Tidak di ragukan lagi otak bisnis wanita tua satu itu.

Donghae mengendus kesal karena jawaban Jihyun barusan, tapi dia bisa apa? Dia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri. Jadi dia harus merelakannya.

“Baiklah, besok kau batalkan perjanjian itu. Aku yang akan bayar uang ganti ruginya.” Gantian Jihyun yang membelo kali ini.

Oppa serius?” Donghae menangguk pelan. “Tapi seratus juta itu bukan nominal yang kecil oppa.”

Donghae tidak menjawabnya lagi dan malah menarik Jihyun menuju ranjang yang ada di belakang mereka. “Kau tidak usah memikirkan itu. Sekarang ayo tidur.”

Jihyun hanya berdiri saat melihat Donghae juga naik ke atas ranjang itu. Biasanya Donghae akan tidur di sofa dan membiarkan dia yang tidur di ranjang sendirian.

“Badanku sakit tidur di sofa terus. Aku juga ingin tidur di sini. Kau tenang saja, aku tidak akan menyentuhmu.”

Walau ragu Jihyun naik ke ranjang itu dan berbaring di samping Donghae. Matanya memandang langit-langit karena ini kali pertamanya dia tidur bedua dengan Donghae.

“Sebenarnya, sekalipun kau menyentuhku, aku juga tidak bisa menolakmu. Itu pekerjaanku.” Gumam Jihyun sebelum dia membaringkan tubuhnya tadi.

Deg-deg-deg Deg-deg-deg

Jihyun memejamkan matanya mencoba untuk menormalkan detak jantungnya yang tidak karuan saat ini. Jihyun tidak ingin Donghae mendengernya.

“Tidurlah, dan besok pagi-pagi kita temui Nona Nay. Akan aku bayar besok pagi. Kau tenang saja.”

Jihyun tahu kalau Donghae punya banyak uang. Tapi yang jadi masalah setelah itu Jihyun harus apa? Setelah Donghae membelinya dari Nona Nay, dia harus berbuat apa untuk Donghae? Pria ini saja tidak mau menyentunya.

Karena memikirkan itu berulang kali otak Jihyun jadi lelah dan lambat laun wanita cantik itu tertidur di samping Donghae yang masih belum bisa tertidur.

Dalam kepala Donghae dia sedang memikirkan alasan apa yang bisa dia gunakan agar ayah tirinya tidak marah. Tapi akhirnya dia memutuskan untuk tidak perduli dengan itu. Toh, dia bukan anak kandungnya.

“Jihyun-ah, kalau kau mau tahu. Bagiku kau jauh lebih mahal dari hanya sekedar seratus juta.” Donghae mengelus pelan kepala Jihyun yang tertidur di sebelahnya.

Jujur saja, sebenarnya selama ini Donghae selalu menyentuh Jihyun setiap kali wanita itu sudah tertidur. Donghae suka sekali saat dia bisa mengelus pipi lembut Jihyun dan rambut coklat kemerahan Jihyun itu.

Wanita ini cantik, dan Donghae tahu kalau hati wanita ini jauh lebih cantik. Dia hanya kotor karena pekerjaannya yang hina ini. Hanya itu.

∴∴∴∴

 

“Kau ingin membelinya?” Donghae mengangguk menjawab pertanyaan Nona Nay.

Saat ini mereka ada di Bar milik Nona Nay. Karena masih pagi Bar ini masih tutup, tapi karena Donghae datang dengan Jihyun, Nona Nay mau menerima mereka.

“Kau tahu berapa harganya?” Lagi Donghae mengangguk.

“Seratus juta dan aku sudah bawa ceknya.” Jawab Donghae yang masih bertahan dengan gaya Stay Cool-nya.

“Kau serius ingin membelinya?” Donghae mengangguk saat Nona Nay menunjuk Jihyun yang duduk di sebelahnya.

“Aku jatuh cinta padanya. Aku ingin membuatnya hanya menjadi milikku. Bolehkan Nona Nay?”

Nona Nay mendesah dan kemudian menjawab. “Tentu boleh kalau kau membayar dendanya.”

“Tapi kau harusnya sudah tahu kalau dia bukan lagi seorang gadis. Dia sudah bekerja di dunia seperti ini dua tahun. Aku hanya ingin mengingatkanmu agar kau tidak menyesal.” Donghae menyimak perkataan Nona Nay.

“Aku tahu. Jihyun sudah menceritakan semuanya. Dan aku bisa menerima semua itu.” Donghae merangkul Jihyun yang sedari tadi hanya menunduk. “Aku mencintainya. Itu alasan paling kuat untuk aku bisa menerimanya.”

Nona Nay menggelengkan kepalanya, tidak percaya dengan apa yang Donghae lakukan saat ini. Tapi saat dia ingat kalau Donghae mencintai Jihyun dia tesenyum. Dia pikir yang ada di sarang iblis hanya iblis saja. Tapi nyatanya Donghae bisa menemukan malaikat di sarang iblisnya ini.

“Baiklah, aku akan ambil surat perjanjiannya.” Nona Nay pergi menuju runagannya meninggalkan Donghae dan Jihyun berdua.

Jihyun menggenggam tangan Donghae kuat-kuat seolah ini adalah sesuatu yang sulit dia lakukan. “Kenapa oppa bilang kalau oppa mencintaiku? Nona Nay tidak mungkin mudah dibohongi.”

“Itu satu-satunya alasan yang masuk akal untuk saat ini.” Sahut Donghae yang kini balik menggenggam kuat tangan Jihyun. Berharap kalau Jihyun tidak terlalu tegang lagi.

Tidak lama Nona Nay datang dengan sebuah map yang Jihyun kenali. “Ini kertas perjanjiannya. Kau bisa mengambilnya setelah kau berikan aku uangnya.”

Donghae mengambil cek dari saku dalam jasnya. Sambil tersenyum senang dia berikan cek yang sudah dia tanda tangani dan tertulis nominal yang besar di sana.

“Aku tunggu undangan pernikahan kalian nanti.” Itu kata tertakhir Nona Nay sebelum Donghae dan Jihyun pergi dari Bar itu.

“Mulai sekarang kau milikku.”

∴∴∴∴

 

“Mulai sekarang kau milikku Nam Jihyun.” Donghae datang dan memeluk Jihyun dari belakang.

Pulang dari Bar tadi Jihyun langsung di antar ke apartement Donghae dan di suruh tinggal di sana sampai Donghae pulang. Dan sekarang saat Donghae pulang, dia datang lalu memeluk Jihyun dan mengatakan pengakuan itu lagi.

Jihyun tidak bermasalah dengan itu. Pada kenayataannya dia memang sudah dibeli oleh pria yang memeluknya saat ini.

Merasa Jihyun yang hanya diam Donghae mempererat pelukannya pada Jihyun. “Kau tidak dingin berdiri di balkon seperti ini?”

Jihyun menggeleng. Wanita cantik itu masih memikirkan apa alasan yang masuk akal hingga Donghae mau membeli wanita macam dia.

“Ayo masuk. Kalau kau sakit besok kita tidak bisa menemui appa dan eommaku.” Mendengar itu Jihyun langsung melepas pelukan Donghae. Menatap pria itu heran dan tidak percaya.

“Untuk apa kita menemui orang tuamu?”

Donghae kembali mengacak-acak rambut wanitanya itu. “Aku ingin mengenalkanmu pada mereka. Aku ingin mereka merestui hubungan kita.”

Oppa bercanda?”

Donghae menggeleng. “Memangnya aku terlihat seperti sedang bercanda?”

Jihyun diam. “Dan kau pikir uang seratus juta itu layak untuk bermain candaan seperti ini?”

Jihyun masih diam. Dia tidak percaya dengan semua ini. Donghae membelinya untuk menjadikan wanita seperti Jihyun menjadi istri? Apa pria ini bodoh?

Jihyun senang bisa terbebas dari perkerjaan laknatnya itu. Dia senang Donghae mau menjadi malaikat yang membebaskannya. Dia juga senang karena Donghae menyayanginya, walau Jihyun tidak tahu apa yang membuat Donghae begitu sayang padanya.

Tapi apa ini masuk akal? Donghae ingin memperkenalkan Jihyun pada orang tuanya? Dia ingin Jihyun menjadi istrinya?

Oh, atau mungkin Donghae ingin Jihyun di kenal sebagai temannya. Iya itu ada benarnya. Harusnya Jihyun memikirkan alasan itu sedari tadi.

“Aku yakin mereka pasti menyukaimu. Sekalipun tidak, mereka tidak bisa melarangku untuk menikahimu.” Mata Jihyun membelo.

“Menikah?”

“Iya, aku ingin kau menjadi istriku. Kau keberatan?”

Jihyun harus jawab apa sekarang? Dia tidak memiliki hak apapun untuk menolaknya tapi dia masih tidak yakin dengan segala sesuatu yang Donghae katakan padanya.

Donghae mendekat lagi pada Jihyun dan memberikan jaketnya agar Jihyun tidak terlalu kedinginan. “Kau tahu? Sepertinya Tuhan sangat menyayangimu. Karena dia langsung mengebulkan permintaanmu setelah kau berdoa malam itu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau meminta seorang malaikat, dan Tuhan memberimu aku. Seseorang yang jatuh cinta padamu karena doa yang kau minta pada Tuhan.”

Jihyun diam. Memang dia bisa apa? Dia bahkan tidak bisa berbuat banyak hal. Itu sebabnya dia ada di dunia kelam itu selama dua tahun.

Perlahan mata Jihyun yang sudah mulai memanas meneteskan air matanya yang sebenarnya ingin Jihyun tahan. Tapi gagal.

“Kau boleh menangis malam ini, tapi tidak untuk besok dan seterusnya. Kau harus bahagia, karena kau memiliki aku sebagai malaikatmu.” Jihyun mengangguk dan memeluk Donghae. Membiarkan air matanya jatuh dalam pelukan Donghae.

Donghae sendiri hanya mengelus lembut kepala Jihyun. Dia tidak tahu apa yang membuatnya melakukan semua ini. Dia hanya mengikuti apa yang hatinya inginkan. Hanya itu.

Meminta Jihyun menemaninya setiap malam, tidak menyentuh Jihyun sama sekali, dan membayar uang denda yang menjerat Jihyun dan ingin menikahi wanita ini. Semua itu dia lakukan karena hatinya yang memerintahnya.

Baru kali ini Donghae bersyukur saat otaknya tidak bisa berpikir dengan baik dan hatinya yang mengambil kendali atas semua tindakannya.

“Kau malaikatku. Malaikat yang aku temukan di sarang iblis.”

∴∴FIN∴∴

 

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s