It’s Love? [Part 1]

its

|| Title: It’s Love? || Author: Phiyun || Genre: Romance | Hurt | Sad || Cast: Im Yoona | Choi Siwon ||Rating : 17+ ||

No Bash, Plagiat, Copypaste! Dont forget Like & Comment ❤

*** Happy  Reading ***

*Chapter 1*

Apakah aku mampu menghadapi semua ini?

~~~ooo~~~

Dari kejauhan terdengar suara teriakan seseorang. Suara itu terdengar begitu halus sehingga pada mulanya Yoona tidak jelas apa yang ia telah dengar. Suara itu datang terputus-putus dan terengah-engah seperti orang habis berlari jauh.

~OoO~

“Adakah seseorang di sana?” rintih gadis itu. kedengarannya aneh bagaikan dirinya sedang di bekap. Sehingga ia berusaha mengeluarkan suaranya lebih keras dari sebelumnya. Beberapa saat kemudian pikiran Yoona mulai jernih. Tapi di saat itu juga, ia merasa takut ketika menyadari bahwa suara sengngau itu adalah suara dirinya sendiri. Gadis itu mulai meraba wajahnya. Tidak terasa sakit, kecuali rasa… baal. Mulutnya serasa kering dan lidahnya kelu. Dicobanya untuk menggerakan kepala, tetapi tidak bisa bergerak.

Iya merasa semakin bingung. Bila ia memang sudah sadar mengapa ia tidak dapat melihat apa-apa? Semuanya gelap gulita. “Apakah mataku terbuka?” ia bertanya dengan suara yang keras, memaksa mulutnya untuk terbuka.

“Aku tidak bisa melihat!” kali ini suaranya terdengar panik dan di detik itu juga ketakutan mengerayangi tubuhnya.

“Sshh…. berbaringlah tenang.” suara seorang pria yang dalam dan berat. “Jangan kaget. Kau tidak bisa melihat karena matamu di balut.” suara yang halus itu menenangkannya kembali.

Tak selang beberapa menit kemudian, pria misterius itu berkata. “Kau berada di rumah sakit, namun sebentar lagi kau akan sembuh.”

“Tetapi, aku tidak bisa melihat!” seru Yoona kembali.

Sang pria yang berada di sisi kanannya mencoba menenangkan kepanikannya. “Kata dokter balutan itu akan segera di buka.” katanya. “Kau mendapat gegar otak, maka kau tidak boleh menggerakan kepala dulu.” tangan Yoona digenggam dengan lembut. “Juga lenganmu. Masih perlu di infus.” lelaki itu mengembalikan lenganya dengan lembut ke sisi tubuh Yoona.

“Mengapa…???” Yoona berusaha berkata tetapi terhalang sesuatu yang lembut dan besar menutupi hidungnya.

“Kau mendapatkan kecelakaan. Dokter akan segera datang dan beliau yang akan menerangkan sendiri  luka-lukamu, jadi kau tidak perlu takut. Aku…” tiba-tiba suara itu bergerak pergi.

“Jangan tinggalkan aku!!!” teriak Yoona sambil mencoba mengangkat lengannya ke atas, tetapi dipaksa turun dengan halus.

“Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku akan memengang tanganmu terus agar kau tahu aku di sini.” balasnya.

Yoona mengangguk seolah menyetujui ucapan orang asing tersebut. Namun beberapa menit kemudian, Yoona mengingat sesuatu. “Oh, aku ingat!” serunya. “Aku di jalan aya. Dan kabut itu…”

“Jangan pikirkan itu dulu.” selanya, namun sayangnya Yoona tidak mau mematuhinya. Gambaran itu kembali masuk ke dalam ingatannya.

Ia mengingat di kala pekikannya keluar lalu suara-suara hiruk-pikuk dari pecahan kaca. Benturan logam… suara tulang kering yang patah dan  remuk. Lalu semuanya menjadi hening dan dunia berubah gelap.

“Oh, Tuhan! Adakah seseorang… terbunuh?” kata-kata itu keluar dalam senggukan.

“Tidak ada yang meninggal.” suara itu menerangkan dengan tenag. “Jangan menangis,” katanya kemudian melap lembut hidung dan airmata yang mengalir di kedua pipi Yoona, dan mencoba bergurau. “Sampai kau bisa menyeka ingusmu sendiri.”

Cukup lama pria itu dapat menenangkan perasaan Yoona yang ketakutan. Setelah setengah jam berlalu, Yoona merasakan kering di terongkokangnnya. “Aku haus.”

“Aku akan mengambilkan segelas air untukmu. Takutkah kau bila aku tinggal sebentar?” seketika tangan itu menggengam erat lengannya.

“Jangan pergi!” teriak Yoona.

“Sebentar saja, tidak sampai setengah menit. Aku berjanji.” tangannya melepas dan Yoona mulai memasang kuping agar dapat mendengarnya membuka pintu, tetapi tak terdengar suara, karena pintu itu hanya dibukanya sedikit. Kemudian Yoona mendengar suara yang berat dan dingin.

“Mengapa kau meninggalkanya seorang diri? Dia ketakutan setengah mati, tahu kau!”  bentaknya.

“Saya hanya pergi sebentar saja. Aku….” suara wanita yang gemetar menjawabnya.

Tapi lawan bicaranya tidak mau mendengar alasan wanita itu sampai selesai. “Kau dibayar untuk menjaganya.” suara yang biasa halus tidak lagi terdengar halus. Suara itu berganti dengan suara yang kasar dan menuntut.

“Maafkan saya…”

“Tidak cukup hanya minta maaf. Panggilkan dokter sekarang. Dia perlu penjelasan dan ..” pria itu menambahkan dengan nada mengancam. “Dia haus.”

“Dia boleh minum sedikit-sedikit.” sahut wanita itu.

“Baiklah, aku akan melakukannya sementara kau memanggil dokter.”

Kembali hening dan kemudian Yoona merasakan tangan itu kembali ke atas lengannya.

“Nona Im..??”

“Yoona. Setiap orang memanggilku Yoona.” kata gadis itu.

“Baiklah, Nona Yoona. Kau boleh minum sedikit. Aku akan menaruh ujung sedotan ini di sudut mulutmu. Minumlah setenguk saja hingga kau merasakannya mengalir turun dulu baru setelah itu kau boleh meminumnya lagi. ” suaranya begitu halus dan tenang seakan tiada sesuatu yang bisa membuatnya marah, tetapi berlawanan sekali dengan suara tadi ketika menghardik perawat itu.

Air ini terasa dingin dan menyejukan tapi sulit sekali untuk menyedotnya ke dalam mulut . sedotan itu ditariknya kembali dan kemudian ia mengecapnya dengan ujung lidahnya.

“Ada sepotong es kecil di sini, apakah kau ingin mengulumnya?”

“Ya, tolonglah.” Ia berbisik, merasa lelah sekarang.

“Berhati-hatilah agar tidak terselak.” Yoona lalu membuka mulutnya dan sepotong kecil es di taruh di antara kedua bibirnya. Begitu kecil sehingga bongkahan es kecil itu langsung mencair, dengan meninggalkan kesejukan di mulutnya.

Setelah bongkahan es kecil itu melumer di dalam mulutnya, Yoona pun berkata. “Apakah kau seorang dokter?”

“Bukan namaku, Siwon.”

Yoona merasa kecewa, lalu suara yang lain menyentuh telinganya.

“Selamat malam.” tangan hangat itu seketika melepaskan lengannya.

Tak beberapa lama kemudian seseorang suara pria yang lainnya menyapa Yoona. “Nona Im, saya adalah Dokter Kim. Bagai…”

“Tolong lepaskan balutan ini dari mataku!” Yoona berkata cepat sebelum dokter itu menyelesaikan kalimatnya.

Dokter muda itu menghela napas panjang sebelum dirinya membalas permintaan Yoona. “Tunggu sampai besok. Ada luka sepanjang dahimu dan kelopak matamu membengkak.” suara itu tenang namun terdengar dingin, tidak sehangat pria tadi. “Kau harus berbaring tenang tanpa banyak gerak untuk selama dua puluh empat jam lagi. Saya akan memberikanmu obat penenang.” tambahnya dengan konontasi nada yang sama.

“Tidak!!” pekik gadis itu. “Ada apa denganku? Tangan-tanganku juga dibalut juga. Dan aku merasa baal di sekujur tubuhku. Ya, Tuhan!!! Apakah kakiku masih ada?” Yoona berteriak nyaring dengan suara sengaunya.

Sang Dokter berusaha menenangkannya dengan memberitahu kan Yoona bahwa kedua kakinya masih menempel di tubuhnya, namun banyak jahitan pada kaki-kaki milik gadis tersebut.

“Aku tidak mempercayaimu!” jeritnya kembali. “Dimana orang itu? Hei! Di mana kau?!”

“Aku di sini, Yoona-ah.” suara hangat tersebut sekarang terdengar di sisi ranjang dan tangannya melingkar di lengannya. “Dokter itu berkata benar. Luka-luka itu harus di jahit, tetapi kakimu akan sembuh.”

“Terasa sakitkah?” Dokter itu bertanya.

“Tidak semuanya baal,” jawabnya kali ini sedikit tenang. “Aku harus mengetahui… tentang wajahku! Tolong beritahu dia, kalau aku ingin melihat wajahku.” rintih gadis itu sambil memohon kepada pria yang ada di sisi ranjangnya. Gengaman tangan Yoona mengeras di atas lengan pemuda itu. Beberapa saat kemudian terdengar suara senggukan di balik balutan itu. Namun pria itu tetap terdiam, tidak menjawab.

“Nona Im! Nona Im!” kata Dokter itu lebih keras dan lebih tegas. “Tenanglah, kalau tidak akan kuberikan obat penenang.”

Dokter Kim berusaha menerangkan kembali keadaan Yoona, bila dirinya mengalami luka di sisi kelopak matanya. Dan tim medis akan menyembuhkan luka itu sehingga hanya meninggalkan sedikit goresan yang halus kelak. Sayangnya Yoona tidak mau mendengar perkataan Dokter tersebut dia malah semakin tak sabaran dan perkataannya terus menuntut kepada sang dokter. “Tetapi… mengapa seluruh tubuhku dibalut?”

“Mobilmu menabrak belakang truk yang sedang membawa kaca-kaca. Dan ujung ekor truk itu menghancurkan kaca mobilmu. Hanya beberapa inci lagi ujung truk itu akan meremukkan kau… tapi kau tak luput dari pecahan-pecahan kaca yang terbang mrnghujani tubuhmu.”

Mendengar penjelasan Dokter Kim, membuat tubuh Yoona mengigil. Tangannya menggengam  kencang lengan pria yang masih berdiri di sisi ranjangnya. “Luka-luka itu telah dijahit dan kau telah diberikan obat penahan sakit, itulah sebabnya kau merasakan tubuhmu mati rasa.” ucap  pria bersuara hangat tersebut kepada Yoona.

“Lebih baik, anda beristirahat,” kata Dokter Kim. Dia menepi ketika perawat itu membawa alat injeksi. Ia mengangkat lengan Yoona, menggelengkan kepala ketika tak dijumpainya tempat untuk menusukkan alat injeksi itu di antara jaringan luka-luka yang terjahit tersebut.

Pemuda yang ada di sisi ranjang Yoona pun menatap Dokter Kim saat dokter tersebut sulit memberikan obat kepada Yoona. Kemudian dokter itu mengangkat selimut untuk membuka bagian paha Yoona. Perawat itu segera membungkuk untuk menginjeksikan jarum itu.

“Aku berharap untuk dapat membuka balutan matamu besok.” katanya tenang sambil menatap ratusan luka-luka pada paha dan kakinya yang telah menyita waktunya selama sepuluh jam lebih untuk membersihkan kaca-kaca dari dagingnya dan menjahitnya dengan rapi di atas tubuh yang indah itu.

“Bagaimana reaksinya nanti bila ia melihat untuk pertama kali?“ bisik batin pria tersebut. Ia langsung menggelengkan kepalanya yang keabu-abuan. Ia harus hidup dengan akibat dari kecelakaan itu untuk waktu yang lama, namun demikian beruntunglah bahwa ia masih hidup, pikir sang dokter saat dirinya melihat kedua mata Yoona yang masih terbalutkan perban.

“Hai, apakah kau masih di sini?” suara yoona terdengar samar ketika dirinya bergelut untuk mempertahankan kesadarannya. “Siwon-ssi??”

Suara menghibur itu datang dari dekat Yoona. “Kau tidak aka di tinggal sendiri, Yoona-ah, tidurlah.”

“Berapa… lamakah aku telah berada di sini?” tanya Yoona kembali.

“Hampir dua puluh empat jam. Aku juga telah mengabari ayahmu dan ia akan datang menjengukmu dalam beberapa hari ini.”

“Bagaimana… kau…??” suara Yoona mulai melemah.

“Tak penting untukmu darimana aku tahu, yang terpenting saat ini adalah kondisimu jadi  beristirahatlah.” Dia membelai-belai bagian lengannya yang terbebas luka. “Kau tak perlu megkhawatirkan apa pun semua sudah aku beres kan.” imbuhnya kembali.

“Tetapi… siapakah kau?” Yoona berjuang untuk dapat mendengar jawaban atas pertanyaannya, namun obat itu telah berjalan untuk memperlihatkan pengaruhnya dan beberapa saat kemudian Yoona pun akhirnya tertidur pulas.

~OoO~

-Keesokan harinya-

 

 Yoona tersadar ketika ia merasakan sesuatu menyentuh mulutnya. Ia merasakan seakan-akan ribuan jarum masuk ke dalam dagingnya, dan ia tidak tahan akan nyeri kecil yang timbul dari tenggorokannya yang kering.

Seluruh wajahnya terasa nyeri yang tak tertahankan dan kelopak matanya seperti terlekat tak bisa dibuka. Susah sekali membukanya walaupun hanya sedikit. Yoona melihat bayangan jendela yang sebagian terbuka. Ia mulai menangis. Air mata mengalir ke hidung dan mulutnya.

Melalui embangan air matanya, Yoona melihat sebuah botol yang dibalik dengan selang yang menembus tubuhnya. Ia memutar kepalanya sedikit. Seorang juru rawat berkerudung putih sedang membungkuk di atasnya.

“Akhirnya kau bangun juga!” kata gadis muda itu ceria. “Apakah mulutmu kering? Tadi aku membasahkan bibirmu dengan kain basah ini.”

Yoona membuka mulutnya untuk berbicara, tetapi yiada kata –kata yang keluar. Ia mencoba lagi dan berhasil mengatakan satu kata. “Air.”

Sebuah tabung kaca di tempelkan dimulutnya. Ia menghirupnya. Air itu enak sekali, sejuk dan ia dapat merasakannya mengalir ke dalam tubuhnya. Gelas itu di singkirkan setelah Yoona merasa cukup untuk minum. Dan Yoona mencoba membuka lebar kedua matanya. Perawat iru tersenyum kepadanya. Ia sangat manis. Yoona berpikir ia akan cocok untuk menjadi model peragaan kosmetika, kulitnya jernih dan halus.

“Jam berapa ini?” tanyanya, sambil mengangkat tangannya untuk melihat arloji yang biasa dipakainya. Yoona tersentak kaget saat melihat sebelah lengannya yang terdapat garis-garis memanjang berwarna kehitaman bwkas jahitan. Kuku-kukunya di potong tumpul tanpa cat kuku. “Oh, Tuhan!” pekiknya seraya menahan napasnya dan mencoba mengangkat sebelah tangannya yang lain. Tetapi perawat itu segera menahannya kencang di ranjang.

“Sudah jam dua. Saya akan di gantikan oleh perawat lain segera. Namun kita bisa berkenalan dengan baik sebelum saya pergi.”

Yoona menatap kosong pada perawat itu, rasa takut membuatnya dia seribu bahasa. Tangannya sudah hancur! Jari-jarinya yang biasa memegang botol harum. Jari-jari yang halus mulus yang biasa mengoles cream kemuka ratusan model-model yang cantik jelita selama peragaan kosmetika Shinne, tampak seperti jari-jari nenek sihir!

Yoona segera tersadar saat tubuhnya terbaring telanjang di bawah selimut. Sambil merintih, ia mencoba mengangkat selimut itu. Tangannya mencengkram dengan cemas ketika ia menunduk agar dirinya bisa melihat tubuhnya.

“Aku harus melihatnya! Tolonglah…” pinta Yoona kepada juru perawat untuk membantunya mengangkat selimut yang saat ini melekat di atas tubuhnya.

“Ya, tentu saja.” perawat tersebut mencoba menghiburnya. “Berbaring saja dulu. Kau telah sembuh dengan cepat.” sambil mengangkat selimut itu. Perkataan perawat itu tak dipedulikan oleh Yoona.

Yoona memandangi balutan di atas dadanya dan ratusan luka yang menutup perut, pinggul dan pahanya. Jantungnya memukul keras dan ia membelalakan ke arah perawat tersebut.

“A—aku terluka di sekujur… tubuh?!” katanya termegap-megap. Ia mengangkat tangannya yang bebas dan merapa balutan dimukanya. “Buruk sekalikah?” lirihnya.

“Balutannya besar.” kata perawat itu menenangkan dan berusaha menghibur dengan becandanya.. “Para dokter jahat suka memakai balutan besar-besar, tetapi wajahmu sempurna tiada goresan.”

Sayangnya Yoona tak percaya dengan ucapan juru perawat tersebut. “Kau bohong!! Aku ingin melihat semuanya!” jerit Yoona. Gadis itu sudah membayangkan hal yang mengerikan saat kedua tangannya meraba perbukaan wajahnya yang terbalut oleh perban.

“Aku tidak punya cermin. Kau harus mempercayai kata-kataku. Dr. Kim akan datang segera dan juga Tuan Choi pasti segera datang.” dan di akhir kalimatnya, juru perawat itu mencoba mengalihkan pembicaraan di antara mereka. “Apakah kau mau minum lagi?”

Yoona tak menjawab. Gadis itu memejamkan kedua matanya dan kemudian berpaling. Air matanya mengucur dari kelopak matanya yang bengkak. Ia merasa jadi tua, seakan-akan hidupnya akan segera berakhir. Bagaimana ia bisa menghadapi seminar kecantikan dengan wajah dan tangan yang berparut seperti ini?

Ia telah bekerja sepuluh tahun dengan perusahaan kosmetik Shinne dan menjadi salah satu seorang konsultan kecantikan ternama. Jung Shinyoong, adalah atasannya yang selalu menuntut kesempurnaan.

Hidup merupakan perjuangan sejauh yang ia ingat. Ayah dan ibunya telah bercerai sejak ia kecil dan ibunya meninggal dunia mendadak ketika ia di SMA. Yoona pun harus merelakan melepaskan pendidikannya unutk dapat melanjutkan hidupnya. Bermacam-macam pekerjaan sudah ia lakonin., seperti tukang koran, tukang pengantar susu, tukang pencuci piring di sebuah rumah makan, dan akhirnya ia mendapatkan pekerjaan yang baik saat dirinya pindah kebagian kosmetika dari sebuah toko serba. Ketika bekerja di sana ia berkenalan dengan barang-barang kecantikan Shinne. Sekarang setelah sepuluh tahun ia kembali dengan suatu cacat.

Yoona tidak pernah membanggakan dirinya, tetapi orang-orang lain mengagumi kepribadiannya di samping kecantikannya. Tinggi semampai dan luwes dengan rambut hitam bergelombang dibawah bahu. Alis dan bulu matanya yang indah. Mukanya yang berbentuk oval dengan hidung yang indah dan bibir yang lemut berisi. Yoona puas dengan dirinya.

Ayahnya memasuki hidupnya kembali lima tahun silam dan kebencian atas ayahnya saat dirinya kecil telah pudar ketia ia menyadari bertapa rapuh dan tua saat meliha pria tersebut. Ayahnya adalah seorang yang tampan simpatik walaupun seorang penggoda. Itulah sebabnya sang ibunya tergila-gila pada dirinya.

~OoO~

“Nona Im, apakah anda baik-baik saja?” tanya juru perawat tersebut. Yoona menjawabnya dengan anggukan lemah. “Kau telah banyak kemajuan. Dokter Kim benar-benar hebat.” Tambah perawat tersebut.

Yoona menelungkupkan kepalanya ke bantal, ia tampak ketakutan dan tak berdaya, tetapi dihinggapi kebencian pula. “Jangan ceritakan kepadaku hal itu lagi!” jerit batin Yoona. Tak selang beberapa saat kemudian perawat muda itu pergi digantikan oleh seorang wanita gemuk setengah baya.

Selang dan botol itu tealah disingkirkan. Yoona berbaring dia, pikirannya sepedih lukanya. “Apa yang harus aku lakukan? Apakah ada lowongan di Shinne yang tidak harus bertatap muka?” tanya dalam hatinya. Ia tidak mengerti pekerjaan kantor. Peragaan adalah bidangnya. Apakah Tuan Jung akan memakainya yang saat ini dirinya tidak merupakan gadis cantik lagi bagi perusahaannya?

~OoO~

-Sore harinya-

Dokter itu telah datang dan berdiri di kaki ranjang. dia memakai jubah dan penutup mulut diikat kebelakang kepalanya. Matanya tampak ramah dibalik kacamatanya.

“Haloo, saya Dokter Kim.” sapanya.

Yoona mendongak. “Kaulah yang telah melakukan pekerjaan hebat ini.” kata-kata itu meluncur keluar dengan pahit tanpa disadari oleh Yoona.

“Tidak hebat sama sekali, namun kami telah menutup rapi semua luka.” kata pria berjubah putih tersebut dengan tenang dan Yoona membencinya untuk itu. Ia pindah ke sisi tempat tidur dan duduk di atasnya. Perawat itu pun diam-diam keluar ruangan.

“Aku telah meminta sebuah cermin, tetapi mereka tidak memberikannya.” air mata gadis itu mulai membasahi bulu matanya.

“Kau tidak bisa melihat apa-apa, hingga nanti bila kubuka balutannya dalam beberapa hari lagi. Aku akan katakan apa saja yang kau ingin ketahui.”

“Bagaimana… kah keburukannya?” kata-kata yang paling mengenaskan yang ia harus tanyakan. Dokter itu menghela napas. “Kau mendapat goresan dalam di dekat rambutmu sebelah atas mata kananmu dan memanjang ke sisi kanan wajahmu. Sebagian dagingnya terkelupas dan… sebagian kuping  kananmu…”

Yoona langsung berpaling menatap dokter itu dan menangis terisak-isak. “Akan memakan waktu berbulan-bulan untuk pemulihan. Dan kupingmu akan kembali seperti semula saat kita melakukan pembedahan plastik.” tambah Dokter Kim dengan tenang dan mantap.

“La—lalu bagian lainnya?” Yoona harus tahu, “Tanganku??”

“Kau akan dapat menggunakannya dengan sempurna. Tiada tulang yang patah maupun urat yang terpotong.”

“Tapi codetnya!!” pekik Yoona kembali sambil meremas kecang selimut yang menutupi tubuhnya.

“Itu akan memudar dengan berlalunya sang waktu.”

Yoona menyadari saat nada bicara sang dokter mulai tak sabaran terhadap dirinya. Tetapi persetan! Dia menggunakan tangannya untuk mencari nafkah, demikian pula dirinya.

“Kau berpikir aku pesolek, dokter. Tetapi tangan dan wajahku adalah penting dalam bidang pekerjaanku. Aku adalah seorang ambasador untuk sebuah perusahaan kosmetika dan…” Yoona tidak dapat melanjutkan, saat mengingat sepuluh tahun karyanya telah berakhir.

Dokter itu berdiri. “Aku mengerti, Nona Im.” matanya lebih ramah, sekarang. “Tuan Choi mendesak kami untuk mendatangkan Dokter. Charles, seorang ahli dalam bidangnya. Kau mungkin ingin berbicara kepadanya tentang payudaramu. Ia…”

“Payudaraku?” sela Yoona.

“Kami melakukan sebaik mungkin, tetapi…”

“Tetapi apa?” nada suara dokter itu membuat Yoona semakin frustasi.

“Terluka dalam oleh pecahan kaca.”

“Ya, Tuhan! Apa lagi ini?” pekik Yoona sambil menggerak-gerakan kepalanya ke sana dan ke mari dengan sikap yang cemas.

Di saat Yoona sedang mencemaskan kondisi tubuhnya, Dokter Kim berkata kembali. “Kau beruntung masih hidup. Tuan Choi membawamu ke mari tepat pada waktunya kalau tidak kau akan mati kehabisan darah.”

“Terima kasih, kau memberi tahukan semuanya.” sahut Yoona pelan  dengan nada yang pasrah.

~OoO~

Yoona sendirian sekarang di kamar yang sunyi. Ia tidak suka ditemani oleh juru perawat sehingga perawat itu pergi keluar pintu, tetapi juru perawat itu berkata tegas pada Yoona bahwa Yoona harus mau di temani karena itu sudahlah tugas sang perawat untuk tetap menjaganya. Sayangnya Yoona menolak untuk membicarakan hal itu untuk saat ini.

Pintu terbuka dan Yoona mengeluh di hati. Kesendiriannya tidak berlangsung lama. Karena seorang pria masuk dan menutup pintu. Ia  melihat suatu figur yang tinggi berambut hitam yang segera tiba di sisi ranjangnya.

Yoona memperhatikan orang itu. Sulit untuk mengatakan setampan apakah sosok lelaki itu. rambutnya yang hitam, demikian juga matanya. Mata itu menatap tajam dirinya seakan sedang membaca pikirannya. Dia tampak seperti seorang pengusaha dari pada seorang dokter.

“Apakah kau dokter itu, yang akan memulihkan diriku?” Yoona bertanya pada akhirnya.

“Bukan, Saya adalah Siwon, Choi Siwon.”

Yoona terkejut. Inilah suara yang menghiburnya ketika pertama kali sadar.

“Siapakah anda?” tanyanya kembali.

Pemuda itu menatap Yoona dengan simpatik. “Bolehkah aku duduk?”

Gadis iru mengangguk, terheran dengan pertanyaanya. Matanya mengikuti dia, ketika pergi mengambil kursi di dekat pintu masuk. Gaya dan sikapnya begitu sempurna. Suara, mata, dan caranya bergerak. Yoona nyaris terpesona dengan diri pemuda itu.

Pemuda itu duduk sambil melipat kakinya, kakinya yang bersepatu bot itu terayun-ayun di atas dengkulnya. “Apakah kau akan memberitahukanku siapa kau?” Yoona bertanya. “Tidak. Biar aku menebaknya. Kau seorang pemeriksa ansuransi?”

“Salah, aku adalah orang yang menubruk belakang mobilmu sehingga terdorong ke truk yang sedang membawa jendela.” matanya yang tajam menatap fokus ke arahnya seolah menanti reaksi apa yang akan di keluarkan oleh Yoona.

“Apa yang harus aku katakan? Terima kasih untuk menghancurkan hidupku?” katanya dingin.

“Aku ingin kau mengetahuinya, Yoona-ah, bahwa aku menyetir dengan hati-hati malam itu, dan aku tidak melihat mobilmu hingga detik-detik sebelum aku menyentuhnya. Pastilah kabut terlalu tebal sehingga menutupi sinar lampu mobilmu.”

“Memang kabut sangat tebal sekali,” sahut gadis itu. “Aku berjalan perlahan-lahan waktu itu.” sebenarnya Yoona sudah diperingati untuk tidak melewati jalan raya itu karena terjadi kabut tebal di daerah tersebut, tetapi sayangnya gadis itu tak menggubrinya.

“Itu bukan salahmu. Aku juga tidak akan mengambil jalan itu dalam kondisi demikian.” Yoona berubah kesal saat menatap kondisi tubuh pria yang ada di depannya tidak nampak sedikit pun luka gores. “SIALAN!” umpat batinnya.

Beberapa saat kemudian, Yoona pun berkata, “Apakah kau akan heran bila aku akan menuntutmu?” celoteh Yoona tampa berpikir panjang.

“Aku tidak memikirkan hal itu. Apakah kau bermaksud demikian?”

Merasa malu, Yoona memejamkan kedua matanya sejenak, membukanya kembali dan menatapnya. “Tidak!” air matanya menyelinap keluar dari sudut matanya dan kemudian mengalir begitu saja di kedua pipinya.

“Ayahmu akan tiba dalam satu atau dua hari. Aku menemuinya di Orlando. Seharusnya ia sudah tiba hari ini, tetapi airport Orlando di selimuti oleh kabut tebal sehingga penerbangannya tersebut di delay.

“Baik sekali kau, apakah atasanku juga sudah diberitahu.” celetuk gadis itu.

Dengan pelan namun mantap, pria itu menjawab. “Tentu. Aku berbicara dengan dirinya di telepon. Dia pergi ke Inggris hari ini, tetapi ia mengatakan akan menjengukmu segera setelah kembali. Mobilmu remuk, untungnya dompet dan surat-surat dirimu ditemukan.” ungkapnya dengan nada yang lega.

Suara itu membuat hati Yoona tergelitik untuk menanyakan kembali, mengapa pria itu begitu baik terhadap dirinya. “Mengapa kau lakukan semua ini untukku? Apakah kau…”

“Aku melakukannya karena aku menghendakinya, Yoona-ah.” ucapan blak-blakannya membuat Yoona tercengang.

Siwon menatapnya dengan perhatian baru setelah itu dia mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya dan kemudian menaruhnya ke dalam tangan Yoona. Gadis itu mengusap hidungnya, dan memegang sapu tangan itu dengan gemetar. Siwon mengambil kembali sapu tangannya. “Biarlah aku yang mengelapkannya.” dengan lembut ia mengusap mata Yoona, lalu hidungnya. Kelembutannya gerak itu menyebabkan hatinya semakin terasa hangat.

”Dokter itu bilang kau telah menyelamatkan hidupku dengan membawaku segera ke rumah sakit. Terima kasih.”

Siwon tersenyum, sinar matanya menggoda saat Yoona menatap maniknya yang berwarna hitam pekat. “Kembali.” katanya. “Apakah dia memberitahukanmu bahwa kau memperoleh sebagian darahku dipembuluh darahmu? Untunglah jenis darah kita sama.”

“Aku berhutang dua kali padamu.” gumam gadis itu.

Mendengar kalimat terbut, tiba-tiba Siwon membungkukkan badannya sehingga wajahnya begitu dekat kemukanya. “Tidak, Yoona-ah. Aku tidak ingin kau merasa berhutang sesuatu.”

“Te—tetapi kenyatanyanya begitu, Siwon-ssi.” Yoona berkata pelan.

“Jangan berkata apa-apa lagi.” suaranya berat dengan ekspresi wajah yang tiba-tiba serius. “Aku tahu ketika aku mengangkatmu dari reruntuhan itu. Kau adalah seorang yang istimewa bagiku. Aku ingin kita lebih saling mengenal, Yoona-ah.” pemuda itu berdiri dan Yoona berpikir kembali betapa tingginya dia.

“Aku tidak bisa datang ke mari selama dua hari ke depan, tetapi aku akan tetap menghubungi terus.” Matanya yang gelap menatap lekat kepada dirinya. “Apakah kau percaya akan reinkarnasi?”

“Aku tidak tahu.” sahut Yoona dengan suara yang bergetar sedikit.

Tak lama kemudian pemuda itu angkat bicara kembali. “Aku percaya. Aku percaya sebelum kehidupan ini kita saling berpautan dan aku ingin demikian juga dalam kehidupan yang sekarang.”

Yoona mencoba berpikir dan menghayati makna kata-katanya. Senyuman menghiasi wajah pria itu dan kemudian ia membungkuk untuk mengecup lembut bibirnya. Tenang dan mantap sekali ciumannya, tidak tergesa-gesa. Tekanan bibirnya begitu hangat, begitu mesra. Ketika dia menengakkan kembali punggungnya, ia masih tetap tersenyum.

“Kau gila!!” teriak Yoona termegap-megap. “Aku tidak mengenalmu…”

Lelaki itu tertawa. Suara itu begitu ringan dan sinar matanya kelihatan bahagia. “Kau tidak usah mengkhawatirkan sesuatu. Para dokter dan perawat akan merawat kau dengan baik selama aku pergi. Cepat sembuhlah agar aku bisa segera membopongmu keluar dari sini.” tambahnya, dan setelah itu ia pergi berlalu. Yoona tertegun dengan kalimat terakhir yang di ucapkan oleh Siwon.

 

“Membopongnya?? Lalu ia mau membawaku kemana???” tanya dalam hati Yoona sambil menatap belakang punggu Siwon yang semakin pudar dari pandangannya.

-TBC-

~OoO~

Halo…haloo…haloo… ketemu lagi kita di sini…

Mudah-mudahan kalian gak bosen yah, ketemua ma aku terus, heehe 😀

Aku membawakan cerita baru lagi nih, untuk kalian semua, karena kebetulan beberapa ff yang ongoing akan aku selesaikan di bulan-bulan ini, kalau bisa, hoho…

Oh iya, cerita ini terinspirasi dari novel  Sandra Brown yang berjudul fire love, jadi jangan heran kalau alurnya hampir sama, Dan ada beberapa adegan-adengan yang aku ganti dengan imajinasiku sendiri. Jadi maap kalau ke depannya cerita ini bakalan absurd, sama kaya yang buat kaga jelas, wkwkw 😀

Woke deh, sekian cuap-cuapnya dariku… penasaran sama kelanjutannya? Kalau begitu jangan lupa tinggalkan jejaknya di sini yah setelah selesai membacanya… See you next part 2… ❤

 

Advertisements

80 thoughts on “It’s Love? [Part 1]

  1. Kasihan bgt yoona kecelakaannya parah bener..hampir smua tubuhnya kena serpihan kaca…mudah2n bs pulih seperti semula.lg deh….untung siwon ga kabur n maw nyelamatin yoona…siwon bener2 bertanggung jawab…next chapter selanjutnya..

    Fighting n gomawo ya…

    Liked by 1 person

  2. yampun yoona.kecelakannya parah banget.. sampai seluruh tubuhnya luka

    mksud siwon reinkarnasi apa.ya ? lalu siwon beneran ada rasa sama yoona atau hanya salah satu pertanggung jawaban siwon..

    Liked by 1 person

  3. awal yang menarik jadi siwon ada dalam insiden penyebab kecelakaan yoona,,,
    ap siwon pernah ketemu sama yoona seblumnya
    momentnya manis moga mereka jadi pasangan

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s