[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #8. Wrong Feeling

req-euri-by-laykim

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Main cast: Lee Donghae, Im Yoona, Choi Siwon, Jessica Jung

Poster by: @Laykim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Perasaan apa ini? Kenapa aku sangat merindukannya? – Choi Siwon

*@NCT Entertainment

Siwon menghembuskan napasnya dengan berat berkali-kali. Ia memejamkan matanya rapat-rapat. Berusaha mengusir kegelisahan di dalam hatinya.

Heenim merasa heran. Biasanya, Siwon sangat jahil dan begitu periang di antara mereka. Tapi, kenapa ia begitu pemurung hari ini?

Heenim mendekati Siwon dengan tongkatnya.

Siwon membuka matanya dan langsung berteriak begitu melihat mainan cicaknya berada tergantung di tongkat kepunyaan Heenim.

Pletakk.. Heenim memukul kepala Siwon dengan tongkatnya. “Sudahlah. Tidak usah berteriak. Aku hanya ingin mengembalikan ini..”

Siwon mengusap kepalanya yang masih berdenyut nyeri. Tiba-tiba, Sooyoung muncul di hadapannya dengan senyuman lebar.

“Oh, Choi Sooyoung, kenapa kau tidak pulang kantor?” tanya Siwon malas-malasan.

“Apa maksudmu pulang kantor? Ini baru saja jam 4 sore, sunbaenim..”. Kedua alis Sooyoung bertautan dengan bingung. “Apa maksudmu baru jam 4 sore?”. Siwon melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. “Ah, benar. Ini baru jam 4 sore. Aku kira ini sudah jam pulang kantor..” desah Siwon lemas – pemuda itu benar-benar terlihat kehilangan semangat hidupnya.

“Bukankah waktu hari ini berjalan sangat lambat hari ini, Sooyoung-ah?” keluh Siwon. Pikirannya benar-benar tidak bisa lepas dari Yoona yang kini sedang bersama Donghae. Pikiran aneh terus-menerus melintas di benaknya membuat hatinya ngilu.

Sunbaenim, kalau kau tidak sibuk, bisakah kau…”. Sooyoung langsung membisu karena Siwon mendadak memeluknya. “Aku akan keluar menghirup udara segar.”. Tapi, tetap saja, yang namanya Choi Siwon, bukan wataknya jika bukan jahil. Tangan kirinya melemparkan mainan cicaknya begitu selesai memeluk singkat Sooyoung. “Kyaaa! Sunbaenim!”

Siwon tidak mempedulikannya. Bagaimana pun, ia harus mengusir pikiran anehnya tentang apa yang akan terjadi pada Yoona.


“Aish.. kenapa dia tidak menjawab teleponku?”. Siwon mengetuk-ngetukkan kakinya dengan resah. Nada sambung sungguh membuat hatinya bertambah gelisah.. “Ayo, Yoongie..”

Siwon menatap layar ponselnya dengan tidak sabar. Ia berusaha menelepon Seo Joon.

Yeoboseyo? Park Seo Joon! Bagaimana keadaannya?” tanya Siwon tergesa-gesa.

“Keadaan apa, sunbaenim?” tanya Seo Joon balik.

“Yoongie.. Ani, maksudku, Im Yoona.” potong Siwon.

“Ah, sunbaenim. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak tahu keadaannya. Aku dan Suzy bahkan belum mencapai setengah dari perjalanan dan dia mendadak sakit.” lapor Seo Joon.

“Maksudmu?”. Siwon mulai merasa ada yang tidak beres.

“Ya, Yoona nuna sudah kesana terlebih dahulu dengan Donghae-ssi. Mereka berdua menuju ke Gangwondo terlebih dulu.”

“Hanya mereka berdua?”. Siwon berusaha menahan dirinya agar tidak terdengar histeris.

“Ya, hanya mereka berdua.”

“Seo Joon-ah!! Cepat… aku sudah tidak bisa bertahan lagi!! Cepat!!”. Teriakan Suzy membuat kening Siwon berkerut. “Seo Joon-ah! Aku..”

Tut.. tut..

Siwon terdiam dengan shock. Tunggu, berarti Yoongie hanya berdua dengan Donghae?, kegugupan Siwon memuncak.

Tapi, perjalanan ini kan semalaman? Mereka akan bermalam bersama?

Di pikirannya terbersit bahwa Yoona dan Donghae akan berciuman dan melakukan ‘sesuatu’ yang seharusnya tak terjadi. Siwon menggelengkan kepalanya sendiri. Ia menghirup napas dalam-dalam berusaha mengusir kekhawatirannya. Memejamkan matanya sejenak.

Tapi, pikiran itu kembali terbersit dan bahkan menampilkan hal-hal yang lebih parah.Siwon langsung membelalakkan matanya dengan panik.

Tidak!! Ini tidak boleh terjadi pada Yoongieku!


Donghae duduk di tepian pantai sembari menggambar sesuatu. Dengan tenang dan mimik wajah serius, dia menekuni buku gambarnya dan tatapannya ke arah pemandangan laut di depannya tak pernah lepas.

Yoona berjingkat mendekati Donghae. Ia mengamati sejenak apa yang sedang dilakukan pemuda itu dengan kagum. Gadis itu terpesona sejenak.

“Kau bahkan menggambar rancangan apa yang akan kau lakukan nanti sendiri?” tanya Yoona dengan kagum. Matanya terlihat berbinar melihat apa yang sedang dikerjakan Donghae.

“Ya, aku hanya menggambarkan apa yang aku pikirkan barusan.”. Donghae mengendikkan bahunya. Yoona masih terkagum-kagum dengan betapa detailnya gambar Donghae.

“Em, Donghae-ssi. Bolehkah aku mengetahui apa konsepmu kali ini?”

Donghae menoleh ke arah Yoona dengan cepat. Wajah mereka berjarak beberapa senti terlalu dekat sehingga Yoona dengan terkejut memundurkan badannya beberapa senti lagi. Donghae salah tingkah. Ia berdehem pelan.

“Ah, kau belum mendengarkan lagunya?”. Terdengar kecewa. Setidaknya itu yang didengar Yoona. Dengan gelagapan Yoona membantahnya, “Ani! Tentu saja tidak! Aku sudah mendengarkannya. Aku jatuh hati dua kali pada musikmu.”. Yoona menyembunyikan wajahnya yang merona. Donghae tersenyum tipis.

“Yah, aku akan membuat videonya sesuai dengan lagu yang kubuat. Tentang seseorang yang kesepian dan ingin sekali orang yang disayanginya bisa menemaninya sekarang disini. Menikmati seluruh keindahan pemandangan dan semilir angin yang menyejukkan. Dia ingin berbagi suasana ini dengan orang yang ia sayangi.”

Yoona mengangguk. Memang itu isi lagu Donghae. “Ah, aku pikir akan lebih bagus lagi kalau ada lentera dan juga sepucuk surat di atas meja ini…” usul Yoona sembari menunjuk gambar Donghae. Pemuda itu mengangguk-angguk menandakan ia akan mempertimbangkan hal itu. “Tidak buruk.” komentarnya.

“Tapi, kenapa harus surat?” tanya Donghae penasaran. Ia mulai membenarkan posisi duduknya menghadap ke arah Yoona yang nampaknya antusias akan segera menjelaskan idenya. Yoona tersenyum mendapati Donghae sepertinya benar-benar akan mempertimbangkan usulnya. Dan bukan langsung menolak mentah-mentah seperti biasanya.

“Yah, walaupun kau sendirian, kau pasti ingin sekali membagi suasana yang benar-benar bagus yang sedang kau rasakan saat itu. Rasanya, menulis surat lebih bisa menggambarkan perasaanmu dibandingkan dengan mengobrol langsung menyampaikan apa yang kau rasakan saat itu. Itu tampak lebih romantis. Apalagi, musikmu mengatakan ketika dia datang ke tempat ini, dia akan memikirkan orang yang ia sayangi seandainya bisa juga pergi bersamanya.”

Donghae tercenung. Ia bisa memikirkan konsep yang Yoona bayangkan.

“Tapi, karena dia menulis surat itu, dia tak terlalu merasa kesepian karena dia pasti yakin bahwa orang yang ia sayangi itu bisa ia ajak lain kali. Dia merasakan bahwa seolah-olah gadis itu akan terus berada di sampingnya sepanjang ia berada di tempat itu.” lanjut Yoona dengan senyum seolah dia sudah merasakan semua itu – dan memang itu kenyataannya.

“Ah, maafkan aku! Aku terlalu sok tahu ya? Ah, eotteohke..”. Yoona menepuk bibirnya sendiri.

Senyuman perlahan terukir di bibir Donghae. Yoona senang sekali bisa melihat senyuman lain Donghae. Akhirnya, gadis itu bisa melihat senyuman tulus Donghae yang orang lain takkan pernah bisa membuatnya seperti itu.

“Aku kira, aku juga pernah merasakan saat seperti itu. Kau mengingatkanku pada masa laluku. Lagu ini memang lagu yang kubuat berdasarkan perasaanku akhir-akhir ini. Perasaanku yang sudah terkubur sejak lama. Entah kenapa mulai terkuak kembali setelah aku bertemu seseorang..”. Donghae menerawang jauh. Sepertinya, ia mengingat benar apa yang dirasakannya kala itu. Perasaan yang melekat di dalam hatinya. Memiliki sejuta makna yang takkan tergantikan.

Apakah orang itu aku?, Jantung Yoona berpacu dengan cepat.

“Masa dimana aku sangat antusias dengan surat.”

Donghae menghela napasnya pelan. Nampaknya hal itu sangat berat baginya untuk diutarakan.

“Ketika aku kecil, keluargaku pindah ke Amerika. Disana, aku sama sekali tidak paham dengan bahasa mereka sehingga aku sama sekali tidak bisa memahami apa yang mereka mau dan apa yang mereka maksud. Aku menjadi bahan bullyan sehari-hari. Sehingga aku pun tidak punya teman sama sekali.”

Yoona ikut menerawang seperti Donghae. Ia paham rasa itu. Yoona pun pernah merasakannya. Diejek sebagai  gadis gendut yang buruk rupa. Kini? Rasanya semua pria bahkan berebut untuk mendapatkan dirinya.

“Tapi, aku tidak pernah merasa sendiri. Karena aku selalu mendapatkan surat dari Korea yang ditulis oleh teman lamaku. Teman yang selalu mengerti apa yang aku rasakan.”

Yoona menahan napasnya. Itu..

“Aku memikirkan banyak hal sebelum membalas suratnya. Aku hanya ingin dia tahu bahwa keadaanku baik-baik saja, bisa membaur dengan baik, karena dengan begitu dia takkan merasa khawatir.”

Yoona mengangguk. Donghae memang mengirimkan semua suratnya dengan diawali bahwa ia baik-baik saja dan Yoona tidak harus mengkhawatirkan keadaannya.

“Aku sangat berterima kasih padanya. Karena dengan semua suratnya yang penuh semangat, aku selalu menjadi merasa lebih baik dan lebih ceria. Ya, aku berterima kasih padanya.”

Sebersit senyum kembali muncul. Yoona begitu bahagia. Jadi, ini yang selama ini Donghae rasakan setiap kali menerima suratnya dulu. Syukurlah… aku begitu beruntung bisa melakukan semua untukmu, Hae.., Yoona menatap siluet tegas Donghae dari samping. Yoona sadar kini ia begitu kagum pada Donghae.

Kawan masa kecilnya yang dulu begitu kurus kering dan pucat, selalu menjadi bahan bullyan, kini menjadi seorang pemuda yang tangguh dan menjadi idola banyak perempuan yang sepertinya dulu bahkan menjadi musuhnya.

Yoona tersenyum tanpa ia sadari. Sebuah senyuman manis yang hanya Donghae bisa membuatnya.

“Tapi, pada satu saat, dia tak pernah mengirimiku surat lagi. Harus kuakui, aku mengalami masa yang sangat sulit untuk waktu yang lama.”. Donghae tersenyum. Senyuman yang begitu palsu. Ia sama sekali tidak bermaksud tersenyum.

Deg. Nada suara pemuda itu begitu berat.. lebih terasa menyakitkan. Yoona menatap Donghae dengan bersalah. Yoona ingat, kala itu dia pindah rumah dan berpikir bahwa Donghae takkan mengharapkan suratnya lagi sehingga Yoona memutuskan dengan berat hati tidak melanjutkan kebiasaan menulis suratnya pada Donghae.

“Eoh, jadi kau punya pengalaman seperti itu..”. Yoona berusaha menghilangkan rasa bersalah dan canggung yang seketika menyergapnya. Ia tidak tahu Donghae akan menjadi sangat sedih ketika ia tak lagi mengirimkan surat pada pemuda itu.

“Ah, akhirnya, konsep MV nya akan menjadi lebih menghangatkan hati. Ide bagus, Yoona-ssi..”

Donghae tersenyum ke arah Yoona dengan hangat dan mengulurkan tangannya, hendak melakukan tos. Yoona dengan ragu menatap Donghae. Dengan perlahan, Yoona mengulurkan tangannya dan menempelkannya ke tangan Donghae. Senyuman Donghae kembali merekah. Pemuda itu nampak begitu bahagia.

Tapi, itu hanya beberapa saat, nampaknya pemuda itu segera tersadar dan langsung berdehem tidak nyaman. “Aku harus segera melanjutkan sketsanya.”. Donghae bergegas menyibukkan dirinya dengan buku sketsanya untuk menghilangkan rasa canggung yang diakibatkan oleh dirinya sendiri.

Yoona buru-buru bangkit dan berlarian di tepi pantai mencari spot yang kira-kira akan lebih bagus jika Donghae gunakan nanti.

“Wa… lucu sekali anjingmu, Nona..”. Yoona segera berlutut begitu seekor anjing jenis Golden Retriever melewat di depannya. Dengan penuh kasih sayang, Yoona mengelus dan menepuk-nepuk kepala anjing itu.

Donghae yang sedang memotret pemandangan di sekitarnya dengan kamera DSLR. Tanpa sadar, dia menangkap siluet Yoona yang sedang berlutu disana dengan senyumannya yang begitu lucu dan menggemaskan.

Senyuman Donghae mengembang. Lagi-lagi, senyuman itu.. tanpa pernah Donghae sadari.

Ckrek…

Yoona bangkit. Matanya memandang laut biru yang begitu jernih menghampar di hadapannya. Deburan ombak seketika menenangkan hatinya. Aku ingat, Donghae bilang suara debur ombak akan membuat hati tenang. Dia tidak berbohong.

Yoona berpaling ke arah Donghae. Donghae tertangkap basah.

Ckrek..

Yoona dan Donghae sama-sama langsung memalingkan wajah mereka masing-masing dan memutar mata mereka salah tingkah.

Tidak mungkin dia memotretku bukan, Yoona menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran yang sebetulnya membuat hatinya agak gembira.

“Hei! Im Yoona! Cepat kesini dan kita pergi dari sini!” teriak Donghae dari kejauhan. Yoona mengangguk.

Im Yoona? Bukankah dia selalu memanggilku Manager Im atau Yoona-ssi?, senyuman Yoona merekah dengan sempurna. Perjalanan ini tidak seburuk yang ia bayangkan.


Donghae serta Yoona makan malam di kafe hotel terdekat yang terdapat disitu.

Donghae dan Yoona masing-masing mulai mengangkat sumpitnya untuk makan. Yoona mengerutkan dahinya begitu melihat Donghae belum menyentuh makanannya sama sekali dan terlihat seperti mengumpulkan sesuatu.

Mata Yoona membulat. Kacang polong! Donghae tidak menyukai kacang polong sama sekali sedari kecil. Segera terbayang olehnya, Donghae kecil yang begitu kurus dan pucat duduk di hadapannya sedang menyisihkan kacang polong yang ada dalam makanannya.

“Hihi..”. Yoona terkikik sendiri menyadari kenangan masa lalunya masih begitu utuh. Donghae kecil yang begitu lucu dan membuatnya jatuh hati.

“Kenapa kau tertawa sendiri?” sindir Donghae. “Kau menertawakanku?”

“Ani! Kau.. ah sudahlah.. Kau mirip sekali dengan temanku. Dia juga tidak menyukai kacang polong dan tersiksa harus menyisihkannya dulu sebelum memakannya.”

Donghae tersenyum tipis. Pengakuan Yoona begitu polos.

“Oh! Rubik!”. Tangan Yoona langsung menjangkau benda itu dan mulai mengotak-atik memainkannya. Baru menyelesaikan satu sisi, gadis itu sudah berteriak heboh. “Wa!! Aku menyelesaikannya! Aku pasti jenius..”

Senyuman sinis di bibir Donghae muncul. “Kau tidak jenius bodoh! Ini baru saja satu sisi..”. Donghae memukul pelan kepala Yoona dan segera mengambil alih rubik yang ada di tangan Yoona.

“Aku bisa menyelesaikannya dalam waktu 30 detik.”. Yoona yang polos dan benar-benar tidak berprasangka apapun mengiyakan saja.

Dengan tangannya yang cepat, Donghae mengotak-atik rubik itu. “Wa.. kau sangat cepat, Hae-ssi..”

Brakk.. Donghae membanting rubik itu ke atas meja. Mainan kotak itu malah terlihat lebih buruk dari sebelumnya. Seluruh warnanya campur aduk tidak karuan.

“Ah, tidak berhasil! Rubik ini aneh.. Biasanya aku bisa menyelesaikannya hanya dalam 15 detik.” kilah Donghae menutup kegagalannya. Yoona merengut merasa dibohongi.

“Pantas saja.. Kau juga tidak terlalu jenius seperti yang aku pikirkan.. Ini memang butuh kecerdasan tingkat tinggi. Sangat mengagumkan jika kau memang bisa melakukannya.” gumam Yoona dengan dongkol.

“Aku pintar dalam segala permainan yang menggunakan otak!” bantah Donghae mati-matian menjaga imagenya. Yoona mencibir.

“Aku pintar dalam permainan yang ada balok-balok berjatuhan ketika kita mulai memencet tombol start, kau harus membuat satu garis lurus agar bisa terus melanjutkan permainan. Balok-balok itu harus pas satu sama lain Ah, aku bahkan tidak bisa mengingat namanya..”. Donghae mengerutkan alisnya. Berusaha berpikir keras.

Bahkan permainan itu saja dia tidak tahu.., sungut Yoona kesal.

“Tetris.” sahut Yoona pendek memecah usaha keras Donghae. Pemuda itu terlihat tersinggung namun tidak berupaya menyelamatkan harga dirinya lagi.

“Ya, itu Tetris.”

“Du du ti tiri ri ti tiri ri ti..”. Yoona berusaha menyamakan suaranya dengan alunan lagu standar tetris. Donghae membulatkan matanya. “Ya! Lagu itu.. Ah, sudah lama sekali aku tidak mendengarnya..”. Donghae tersenyum senang. Yoona juga. Membuat Donghae bisa dalam mood yang baik saja, Yoona sudah bersyukur.

Mereka malah asyik mengobrol dan makanan mereka tidak tersentuh.

“Girl group yang kau sukai?”

“1.2.3. S.E.S! (Girl group tahun 90-an)”

“Drama yang kau sukai?”

“1,2,3, You From Another Star! (Kim Soo Hyun drama)”

Teriakan gembira dan tertawa lepas setelahnya mengisi waktu makan malam mereka tanpa rasa canggung. Donghae bahkan tidak menyangka dirinya bisa dengan cepat begitu akrab dengan Yoona dalam satu hari.

“Wah, aku tidak menyangka kau memiliki selera yang begitu mirip denganku. Kau pasti seorang fans beratku..”

Yoona membulatkan matanya tak setuju. “Animnida! Aku bukan fansmu..”

Aku hanya mengingat masa lalu yang sudah kita lalui bersama, Hae.., bisik Yoona begitu kecil dalam hatinya. Donghae masih tetap tersenyum.

“Kau fansku..” paksa Donghae keras kepala. “Ani.. aku..”

“Permisi, Tuan, Nona, kafe kami sudah akan tutup. Bisakah kalian menyelesaikan makan malam kalian?”

Donghae dan Yoona sama-sama tersentak. Tutup? Memangnya jam berapa?

“Astaga! Sudah jam 10 lebih!” teriak Donghae dan Yoona serempak. “Maafkan kami, ya.. Kami terlalu asyik mengobrol..” ujar Donghae dan segera mengeluarkan senyumannya yang begitu tebar pesona. Pelayan di hadapannya bungkam melihat seorang super star berada di hadapannya.

“Ne..”

#skip

Donghae dan Yoona berjalan beriringan di tepi pantai. Menikmati sejuknya hawa laut pada malam hari. Tiba-tiba, sebuah sepeda datang begitu cepat dan hampir menyerempet Yoona. Untung saja, Donghae segera menarik bahu gadis itu dan membuat Yoona segera menyingkir.

Yoona tertegun. Apa yang baru saja terjadi? Donghae.. menyelamatkannya?, terdengar berlebihan tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa Yoona begitu bahagia.

Yoona menatap Donghae kosong. Membuat Donghae berdehem canggung kembali.

“Kau masih flu?” tanya Yoona dengan polos. Donghae yang malah kaget mendengar pertanyaan yang begitu aneh itu.

“Tidak.. Aku hanya tersedak sesuatu. Haaahh..”. Donghae memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Sesekali, lewat sudut matanya, ia bisa melihat Yoona yang terus-terusan memandangnya.

“Ah, masalah flu. Aku menjadi teringat sesuatu. Aku belum berterima kasih padamu.”

Ne?”

“Ketika hujan turun dan aku malah keluar dari mobil kala itu. Kau ada disana memayungiku dengan jaketmu dan kau sendiri juga malah ikut mandi hujan.”

“Oh..”. Yoona menghela napas pelan. Mengingat hal itu..

“Terima kasih..” ucap Donghae begitu tulus. Membuat Yoona kaget. Ini.. Kali ini.. Yoona bisa merasakan ketulusan hati Donghae dalam nada suaranya yang begitu lembut.

Uri eomma (ibuku).. meninggal pada saat aku berumur 12 tahun. Pada saat itu, hujan turun dengan deras dan kami berada di dalam mobil bersama-sama.”

Donghae menelan ludahnya sendiri mengingat bayangan memori terburuk dalam hidupnya kembal terputar dengan jelas. Donghae memejamkan matanya sendiri. Berusaha kembali mengumpulkan keberaniannya lagi untuk bercerita. Entah kenapa, ia ingin berbagi cerita suram itu dengan Yoona.

“Sejak saat itu, aku tidak benar-benar bisa menyetir mobil. Aku terus berpikir bahwa kecelakaan yang terjadi waktu itu, yang membuat ibuku meninggal, akan kembali terjadi jika aku sedang menyetir mobil.”

Yoona terhenyak. Nyonya Lee meninggal? Karena kecelakaan mobil?, fakta yang cukup membuat hati Yoona bergetar. Ia bisa merasakan kesedihan Donghae yang begitu mendalam. Yoona tahu, Donghae begitu menyayangi ibunya.

“Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa seperti itu pada saat kau menemukanku. Padahal, biasanya aku bisa menyetir dengan lumayan baik.”

“Ahh.. kenapa aku memberitahumu hal seperti ini ya?” lanjut Donghae sembari mengembuskan napas keras-keras. Yoona hanya terdiam.

“Ayo kesana..”. Donghae menunjuk ke arah dermaga. Yoona mengangguk.

Donghae menunjuk ke arah langit yang bertaburan dengan bintang. Yoona mendongak dan merasakan dirinya begitu terpesona dengan keindahan kerlap bintang di langit yang berwarna gelap agak kebiruan itu.

Senyuman mereka sama-sama terbit.

Sejenak, Yoona menatap kembali siluet tegas Donghae dari samping. Pemuda itu masih sibuk menatap langit dengan senyumannya yang begitu indah dan damai bagaikan anak kecil mendapatkan mainannya.

Aku berpikir, kau telah berubah sepenuhya dari orang yang pernah kukenal dulu. Aku pikir, temanku, Donghae yang kurus dan pucat, telah hilang entah kemana. Tapi, aku rasa kau tetaplah kau. Donghae yang aku kenal.

Jika saja, aku tidak begitu bodoh untuk tidak mengakui bahwa akulah Yoona yang dia kenal dulu dan sekarang malah bersembunyi darinya, dan sekarang selalu berada di sampingmu tanpa kau tahu siapa sebenarnya aku, kita pasti bisa terus tertawa dan berbincang dengan nyaman seperti hari ini. Dan aku akan selalu bisa mendampingimu – seperti yang kau ucapkan tadi – dalam masa-masa sulitmu. Benarkan?

Donghae-ya, jika saja, jika hari-hari biasanya tetap seperti hari ini, mungkin aku bisa mengatakan semuanya, bahwa aku adalah teman lamamu yang kau cari, Im Yoona. Aku merasa, aku bisa mengatakan seluruh kenyataannya kepadamu sekarang. Mungkin bisa aku lakukan, jika itu adalah hari ini.


Ne, Donghae-ssi. Aku rasa, aku dan Suzy tidak akan bisa melanjutkan perjalanan kesana. Kaki Suzy terkilir dan dia tidak bisa menyetir. Sedangkan aku, aku belum mempunyai SIM sehingga tidak berani menyetir ke jarak yang lebih jauh lagi. Aku sedang berada di salah satu rumah petani yang berada di dekat sini, agara Suzy bisa diantar ke klinik terdekat.”

Donghae menghela napasnya dengan berat. “Arasseo, aku mengerti. Jaga Suzy baik-baik.”

Ne, Donghae-ssi. Algesseumnida.. (Aku mengerti)”


“Donghae-ssi, aku ingin memberitahumu sesuatu..” ucap Yoona pelan dan tidak pasti. Langkah Donghae melambat. Mereka berada di salah satu taman hotel yang akan menjadi tempat mereka menginap.

“Mungkin, kau akan saaa-ngaat terkejut ketika mendengarnya. Kau tahu ada ungkapan yang mengatakan lebih baik memori masa lalu yang menjadi kenangan manis. Kenangan masa lalu akan terasa lebih indah jika mereka membeku bersama dengan waktu. Aku mempercayai hal itu. Dan aku mungkin berpikir itu tidaklah benar sepenuhnya sekarang.”

Donghae mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tatapannya tak pernah lepas dari Yoona yang tampak resah.

“Apa itu, Im Yoona?”

Yoona menghentikan langkahnya dan menghadapkan tubuhnya ke arah Donghae. Manik matanya yang hitam legam menatap Donghae dengan sedikit takut – takut jika ia mengungkapkannya, Donghae malah akan semakin dingin padanya karena kelakuan pengecutnya.

“Jujur saja, aku…”

DONGSAENG!!”

“Jujur saja, aku.. eh?”. Yoona segera menoleh mendengar suara yang tak asing itu memanggilnya. Hanya satu orang yang punya suara seperti itu, dan hanya orang itu juga yang memberinya panggilan semacam itu.

“Choi Siwon??” pekik Yoona tertahan. Bagaimana bisa dia ada disini??

Aku, Im Yoona, berjanji akan memenuhi tiga permintaan Choi Siwon apapun yang terjadi!!!

Yoona membelalakkan matanya. Ia menatap cepat ke arah Donghae dengan malu. Matanya menghujam tajam Siwon yang tersenyum santai di depannya.

“Lihat, kau belum memenuhi permintaanmu untuk membelikanku semangkuk naengmyeon. Bagaimana bisa kau pergi begitu saja?” ujarnya.

Donghae menghela napasnya kesal melihat Siwon tiba-tiba datang menganggu waktunya bersama Yoona lagi. Tapi, kenapa dia harus kesal? Apakah… itu tidak akan terjadi..

“Siapa yang sampai datang ke Gangwondo hanya untuk semangkuk naengmyeon??” bisik Yoona keras histeris. “Aku, Choi Siwon yang melakukan itu..” bisik Siwon dan tersenyum meyakinkan serta mengangguk-angguk – gayanya yang khas jika dia puas dengan kelakuannya yang tak terduga berhasil mengejutkan Yoona.

“Aishh…” keluh Yoona kesal. Ia mencak-mencak sendiri.

Siwon melihat Donghae yang masih membuang pandangannya, dia terlihat kesal, ya kesal. Setidaknya itulah ekspresi kentara yang bisa Siwon lihat dari wajah pemuda dingin tak berhati itu.

“Aku pergi kesini karena Seo Joon tadi meneleponku dia tidak bisa melanjutkan perjalanan. Jadi, aku yang menggantikannya kesini. Lagipula, Dara adalah tanggung jawabku..” sela Siwon melihat Donghae yang menganggap dirinya angin lalu.

“Aku tidak mengira kau punya semangat kerja seperti ini, Siwon-ssi..”

Siwon tersenyum aneh. “Ayo kita masuk..” ajak Donghae dengan nada kaku. Ia melangkahkan kakinya terlebih dulu menuju hotel.

“Aku baru saja datang, Donghae-ssi.. Bukankah sebaiknya kita minum-minum dulu sebelum masuk ke dalam?”. Ucapan Siwon membuat Donghae menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya dengan cepat.

“Aku tidak bisa minum alkohol, Siwon-ssi. Kau tahu itu.” kecam Donghae, pemuda itu berusaha. Siwon mengendikkan bahunya.

“Baiklah, jika begitu kami akan pergi minum. Kajja, dongsaeng..”. Siwon merangkulkan bahunya ke bahu Yoona. Donghae mendelik tanpa sadar.

Kajja, kita pergi membeli minuman dan makanan ringan..”. Donghae malah berjalan mendahului Siwon dan Yoona. Siwon menaikkan sebelah alisnya. Pemuda itu semakin yakin, Donghae pasti memendam perasaan pada Yoona bagaimana pun juga.

#skip

“Ah, ini sangat menyenangkan bisa berjalan-jalan keluar dari Seoul..” ucap Siwon sembari melemparkan senyuman yang begitu manis ke arah Donghae – lebih tepatnya seperti provokasi. Donghae hanya melengos melihat kelakuan pemuda di hadapannya yang begitu menyebalkan.

“Aku terlalu terburu-buru kesini sehingga lupa mengemasi barang pribadiku terutama panty. Donghae-ssi, bisakah kau meminjamkanku beberapa?”

Yoona yang sedang minum minuman kaleng langsung tersedak begitu mendengar kata-kata Siwon yang terlalu vulgar itu.

Siwon terkekeh senang melihat Yoona begitu terkejut dan Donghae yang berusaha menyembunyikan rasa malunya dari Yoona. “Kenapa kau ini?!! Ketika kau bertemu denganku kau selalu saja mengemis panty kepadaku, apakah aku penjual pakaian dalam??” pekik Donghae kesal. Jelas, dia malu sekali.

“Ah, jika kau tidak meminjamkan kepadaku… Bagaimana aku akan menggantinya? Padahal aku selalu hanya memakai panty jika tidur.. Bisa bayangkan jika aku tidak memakainya?”

Yoona langsung menyemburkan minuman yang masih ada dalam mulutnya karena membayangkan sesuatu yang aneh akan terjadi.. “Ah, choisonghamnida..”. Yoona menundukkan kepalanya sembari membereskan kekacauan yang dibuatnya.

Siwon tertawa ngakak melihat raut shock Yoona dan langsung menepuk-nepuk bahu Yoona. “Tenang saja, Yoongie.. Takkan terjadi apapun..”. Yoona mendelik ke arah Siwon.

“Yoongie, ada sesuatu di wajahmu..”. Siwon mendekatkan wajahnya dan mengelus pipi kanan Yoona seolah ada sesuatu disana padahal tidak ada apapun. Hanya salah satu bentuk provokasi Siwon terhadap Donghae. Sesuai dengan kemauan Siwon, Donghae terlihat begitu dongkol melihat kedekatan Yoona dan Siwon. Ia terlihat begitu kesal dan canggung karena harus terus menjaga sikap dinginnya.

“Ah tidak ada apa-apa..”. Siwon memundurkan kembali posisinya. Matanya sekilas menatap Donghae dengan tatapan apakah-kau-bisa-melakukannya-?

Donghae mengeraskan rahangnya. Ia tahu dengan jelas kalau Siwon hanya memprovokasinya. Tapi, kenapa juga dia harus terpancing? Apakah dia menyukai Yoona?

Yoona berusaha membuka bungkus makanan ringan dengan susah payah hingga harus mengigit-gigit bungkusnya. “Ah, dongsaeng, sini biar oppamu yang membukakan..”. Siwon mengambil bungkus makanan di tangan Yoona sembari menggenggam tangan gadis itu. Donghae benar-benar sudah tidak tahan.

“Ja! Begini caranya.. Nah, silahkan dimakan, dongsaeng..” ujar Siwon dengan ceria dan mengacak rambut Yoona. Yoona hanya tersenyum sekilas. Gadis itu menyodorkan bungkus makanan itu ke arah Donghae. Donghae mengerutkan dahinya dengan heran melihat Yoona dan Siwon kini malah bertambah semakin dekat dari apa yang pernah diketahuinya dulu.

Siwon melihat raut muka Donghae. Pemuda itu bisa membaca pikiran Donghae. “Kami menjadi kakak dan adik ketika di luar jam kerja, bukan begitu, dongsaeng?”. Siwon menatap Yoona. “Ne, oppa..”

“Oh, oppa dan dongsaeng.. aku lupa. Kau sudah mengatakannya padaku lampau.”. Donghae tersenyum kaku dan mengangguk-angguk seolah paham. Siwon tersenyum misterius.

“Oh ya, aku mempunyai kado untukmu dari Seoul..”. Yoona menoleh cepat. Matanya berbinar. “Apa itu, oppa?”

Siwon merogoh kantongnya dan memasukkan ‘kado’ itu ke dalam genggaman tangan Yoona dan mengatupkan kembali telapak tangan gadis itu.

“KYAAAAA!!!!!!” teriak Yoona histeris begitu melihat mainan cicak Siwon berada di tangannya. Dasar Yoona yang memang fobia, dia terus menerus berteriak tanpa berusaha menyingkirkan benda itu dari tangannya. Siwon tergelak puas. Dia akhirnya mengambil benda kejahilannya dari tangan Yoona.

“Nah, itulah reaksi yang seharusnya.. Ah, aku begitu merindukan reaksimu itu, Yoong..” ucap Siwon yang terlihat puas. Yoona masih melotot ke arah Siwon.

“Bagaimana bisa kau melakukan hal itu?? Aku begitu terkejut..” pekik Yoona setengah menangis karena ketakutan. Siwon mengenggam tangan Yoona erat-erat begitu lama untuk menenangkan hati gadis itu. Bahkan pemuda itu menggoncang-goncangkan genggamannya, seakan kembali memprovokasi Donghae.

Donghae mengepalkan tangannya sendiri, tidak tahan melihat Yoona dipermainkan seperti itu. Ia menyesap sedikit kaleng bir yang beralkohol tinggi – satu-satunya minuman yang tidak bisa diminumnya barang 1 mili pun.

PAKK..

Siwon mengerjapkan matanya mendapati apa yang baru saja terjadi. Siwon menatap ke arah Donghae dengan kaget. Donghae baru saja menepuk – tidak lebih tepatnya memukul – dahi Siwon dengan begitu kencang sehingga kepala Siwon sampai terantuk ke belakang.

“Ah, itu.. di dahimu ada nyamuk..”

Yoona menatap Donghae dengan tidak mengerti. Siwon apalagi. Dari wajahnya, pemuda itu syok berat sekaligus heran.

“Ahaha, nyamuk musim gugur..” tawa Donghae salah tingkah. Dia meniup tangannya seolah hendak membersihkan bangkai nyamuk yang disebabkannya. Membuat alis Siwon naik begitu tinggi. “Kenapa kau melakukan itu, Donghae-ssi?” interogasi Siwon tidak terima.

“Kau nampak begitu acak-acakan..” ucap Donghae.

“Hah?” tanya Yoona dan Siwon bersamaan.”Acak-acakan?” ulang Siwon..

“Iya, acak-acak…. zzz… zzz…”. Kepala Donghae mendadak terantuk ke belakang dan tertidur.

“Astaga.. dia mabuk.. Eng? Bukankah dia minum yang tidak beralkohol?” Yoona mengecek kaleng minumannya. “Aissh.. astaga.. Pantas saja..”

Wae?” tanya Siwon sembari menepuk pipi Donghae memastikan bahwa pemuda itu benar-benar tertidur.

“Dia minum yang ada kadar alkoholnya.” gumam Yoona pelan.


“Ya begitu, turunkan dia disini, oppa..”

Siwon meletakkan Donghae yang ada di punggungnya sementara Yoona membereskan bantal dan juga seprai yang ada di tempat tidur..

“Yoongie… Ambilkan aku segelas air..” perintah Siwon masih dengan ngos-ngosan. Yoona berdecak. “Ambillah sendiri.. Aigoo, kenapa dia tetap saja minum walaupun tahu dia sama sekali tidak tahan? Ahh, jeongmal..” omel Yoona sibuk menyelimuti Donghae. Pandangan Siwon meredup. Ya, Yoongie-nya masih terlihat sangat peduli dan menyayangi Donghae sebagai cinta pertamanya.

“Kau tidak mau mengambilkan oppamu satu gelas air saja??”

Yoona berhenti dan berkacak pinggang di depan Siwon. “Aku sedang sibuk mengurusnya. Kenapa kau begitu rewel?”. Yoona langsung kembali sibuk mengurus apa-apa saja yang mungkin akan Donghae butuhkan nanti.

Siwon terdiam. Hatinya ngilu.

Ia memandang Yoona yang begitu cepat bergerak kesana-kemari mengerjakan segala sesuatunya. Pandangannya begitu sedih. Siwon tahu selamanya, ia takkan bisa menggoyahkan pendirian gadis itu, tapi, tidak ada salahnya untuk memperjuangkannya bukan?

“Yoong, apakah aku terlihat begitu menyedihkan di hadapanmu? Dengan penampilan acak-acakan dan nyentrik seperti ini?” tanya Siwon perlahan. Yoona menoleh karena menangkap satu nada suara Siwon yang terdengar ganjil. Ini bukan Siwon, kakaknya, yang ia kenal. Kesedihan sepertinya datang untuknya.

Yoona menatap dalam-dalam Siwon beberapa saat dan memperhatikan penampilannya.

“Wajahku tidak semenyedihkan seperti apa yang Donghae punya bukan?” tanya Siwon sekali lagi melihat Yoona hanya mematung menatapnya. Nada suaranya begitu ganjil. Terdengar sedih dan menyayat hati Yoona.

Yoona terhenyak. Ia menggelengkan kepalanya sebentar. Berusaha mengusir perasaan tidak nyamannya. “Aku akan mengambilkanmu segelas air saja.” putus Yoona yang benar-benar tidak tahu harus menjawab apa.

Yoona buru-buru keluar kamar Donghae dan berjalan menuju pantry. Gadis itu tidak bisa memungkiri perasaan bersalah. Yoona tahu Siwon masih menyayanginya sebagai lebih dari sekedar adiknya saja. Yoona tahu Siwon ingin mereka lebih dari ini.

Siwon yang sepertinya tampak begitu kesepian, pribadinya yang misterius dan nyentrik, dan kebaikan hatinya yang tak terbalaskan adalah kombinasi sempurna untuk menjadikan pemuda itu pantas menjadi pujaan hati para wanita.

Dan aku malah membuangnya begitu saja hanya karena Donghae?, pertanyaan yang bahkan tak bisa Yoona jawab sendiri muncul begitu saja.

Siwon menatap ke sekeliling kamar Donghae. Matanya berhenti begitu melihat sebuah kamera DSLR kecil tergeletak di buffet. Rasa penasaran Siwon yang selalu muncul, mendorong pemuda itu untuk mengambilnya dan melihat apa saja isinya.

“Ja, mari kita lihat hasil potret seorang bintang bernama Lee Donghae..”. Siwon tersenyum mengejek. Namun, sesaat, senyuman itu langsung menghilang. Kedua alisnya bertemu. Keningnya berkerut. Sorot matanya menjadi aneh.

Mwoya ige? (Apa ini?)”. Suara Siwon tercekat. Matanya menatap dengan nanar foto-foto yang muncul ketika ia menggerakkan jarinya di atas layar.

Amarah bukan rasa cemburu agaknya mengambil suasana hati Siwon ketika melihat apa yang didapatnya di dalam kamera itu..

#skip

Siwon berlari-lari mengitari hotel dengan kecepatan yang dibilang tidak biasa. Ia melampiaskan segala rasa cemburu dan marahnya dengan cara yang positif. Ia bukan tipe orang yang suka memulai pertikaian hanya karena suatu masalah sepele. Bayangan banyaknya hasil jepretan Donghae dengan objek seluruhnya Yoona kembali terputar di benak Siwon terus-menerus.

Untuk apa pemuda itu memotret Yoona?

Kenapa dia harus memotretnya diam-diam? Yoona terlihat tidak sadar jika dirinya sedang menjadi objek..

Lalu, kenapa juga, Donghae terluhat terprovokasi ketika aku sedang memegang tangan Yoona atau bermanjaan dengannya?

Dentuman musik yang begitu keras mengalir dari headphonenya. Siwon ingin membuat dirinya melupakan – benar-benar melupakan perasaan bodohnya terhadap Yoona. Sudah tidak ada kesempatan lagi. Jika mereka berdua saling mencintai, lalu apa yang bisa diperbuatnya? Dirinya hanyalah orang baru yang muncul diantara mereka berdua. Dan hanya akan menjadi orang ketiga yang memutuskan hubungan mereka.

Siwon tidak ingin seperti itu. Pemuda itu berusaha membuang jauh-jauh perasaannya kepada Yoona yang lebih dari sekadar menjadi kakaknya. Siwon tidak mau gadis itu menjauhinya karena tahu dirinya begitu mencintai Yoona.Yoona pasti akan kecewa jika mengetahui bahwa kebaikannya selama ini sebenarnya didorong oleh rasa cinta yang lebih dari seorang kakak.

Itu salah.

Perasaan yang Siwon rasakan tidak tepat.

Siwon sadar akan hal itu.

Dia hanya bisa berdoa agar secepatnya bisa melupakan Yoona sebagai orang yang ia cintai dan kembali menyayanginya sebatas kakak saja.

Siwon memaki dirinya sendiri.

Kenapa aku terlena dengan permainan yang bahkan aku ciptakan sendiri? Aku yang memintanya menjadi adikku, dan kami bertambah begitu dekat dan akrab. Aku tahu semua perasaannya untuk Donghae. Kenapa aku malah menjadi mencintainya?

Perasaan itu timbul begitu saja dan aku tidak bisa mencegahnya. Ia terlalu baik untuk disia-siakan oleh pemuda seegois Donghae. Rasanya, mungkin karena alasan itu aku diam-diam mencintainya. Tapi, setidaknya, sekarang aku bisa tenang. Karena aku tahu, Donghae pasti diam-diam telah mencintai Yoona kembali..

Kau hanya harus menjadi seorang kakaknya saja dan konflik takkan terjadi, Siwon-ah.. Masa bodoh dengan perasaanmu. Yang penting, biarkan Yoona bahagia dengan cinta pertamanya. Kau menyukai senyumannya bukan?

Advertisements

3 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #8. Wrong Feeling

  1. hohohoohoho….. cemburu cemburuan dimulai… udh hae ngaku aj klo kmu pnya perasaan ke yoona…. sbnr ny yoona mw blg ap sm hae. ap mw blg klo yoona adlh tmn masa kecilnya.. aigooo siwon dtg dwktu yg gx tepat.. dtggu nextnya

    Liked by 1 person

    • wokss…. kamu pintar juga menebak 😉 yahhhhh sepertinya hal hal yang kamu sebutkan masih lama terjadinya wkwkwkwk :)) so, tunggu aja yaaa… Btw, makasihhh banyak yaa udah komenn ^^

      LUV LUV, Euri

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s