Amarillis [Part 4]

Amarillis

|| Title: Amarillis || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kai || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Preview: Part 1 | Part 2 | Part 3

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

 

“Laki-laki yang menyebalkan!” umpatnya dalam hati. Yang pasti Jongin adalah pria paling tidak tahu aturan dan paling kurang ajar yang pernah ditemui oleh dirinya. Ia lebih brengsek, jauh lebih brengsek dari pada pacar-pacar Victoria. Setidaknya  mereka masih mengenal tata krama. Sang ayah mungkin memungutnya di salah satu pinggir pantai karena kasihan kemudian menjadikannya seorang mitra bisnisnya. Pikir Jiyeon.

“Cara menatapnya pun tidak sopan,” tambah Jiyeon sambil meraih sikat rambutnya.  Tak lama gadis itu membayangkan bagaimana rasanya saat ia berada di dekapannya. “Laki-laki itu tak lebih daripada seorang tukang main perempuan.” sembari menaruh sikat rambutnya di atas meja rias dengan pandangan mata yang berapi-api.

“Ia tidak lebih dari seorang tukang main perempuan yang arogan dan kurang ajar! Pria brengsek!” maki Jiyeon penuh emosi. Saat dirinya menatap cermin yang ada di depannya, sinar matanya seketika melembut di waktu gadis itu menyentuh bibirnya dengan jari-jemarinya. “Kau kan sudah pernah dicium sebelumnya.” ujarnya dalam hati tak lama gadis itu menggeleng-gelengkan kepala. “Tapi tidak seperti itu,” bantah sebuah suara kecil. “Belum pernah seperti itu.” perasaan Jiyeon semakin berkecambuk saat dalam hatinya mengakui bila ia terjerat akan pesona Jongin saat pria itu mencium bibir di pesawat.

“Persetan dengan Kim Jongin!” gertak gadis itu yang hampir saja membanting pintu saat meninggalkan kamar tidurnya.

~OoO~

Jiyeon terhenyak saat mendengar suara-suara maskulin. Baginya, suara itu merupakan sesuatu yang baru karena hampir separuh hidupnya jarang mendengar suara maskulin tersebut di asrama biara yang notabennya adalah para wanita, dan Jiyeon baru menyadari bila ternyata suara itu enak saat terdengar di telinganya. Suatu kombinasi irama bernada berat yang diwarnai oleh suara bariton milik ayahnya dan gumaman tertahan milik Jongin.

Jiyeon mendengar suara tawa, menggelegar  lepas, dan ia langsung mengerutkan keningnya begitu mengenali sebagian suara Jongin. Perlahan-lahan, Jiyeon menuruni anak tangga dan melangkah ke ambang pintu.

Suara tawa pria paruh baya itu sangat dalam sampai ke telinga Jiyeon, yang saat ini sedang masuk melewati ambang pintu. Mereka berdua tampak duduk dengan santai. Jongin sedang berbaring di atas sofa sedangkan ayahnya duduk di kursi tepat di sisi kanan pemuda tersebut. Asap pipa membumbung naik dari asbak di dekatnya.  Keduanya terlihat begitu akrab dan menikmati keberadaan satu sama lain sehingga Jiyeon merasa ingin pergi supaya tidak menggangu mereka.

Jiyeon merasa bila dirinya akan menjadi seorang pengacau dalam ruang lingkup mereka. Dengan sedikit rasa iri, ia menahan langkah kakinya. Gerakanya terlihat oleh Jongin. Sebelum ia sempat meninggalkan tempat itu, Jongin menatapnya sedemikian rupa sehingga ia merasa tertangkap basah. Jiyeon sudah mengganti setelan elegan yang dikenakannya dalam perjalanan itu dengan sehelai gaun biru muda yang sederhana dari koleksi busananya sendiri.

Tampa perhiasan dan make up, ia tampak lebih muda dan polos. Mengikuti arah tatapan tajam Jongin ia berjalan menghampiri mereka, tak selang beberapa lama pria paruh baya itu melihat Jiyeon kemudian pria itu langsung bangkit. Setelah ia berdiri, sikapnya yang santai berubah menjadi rikuh. “Halo, Jiyeon. Sudah merasa lebih nyaman sekarang?” sapa sang ayah.

Jiyeon memaksa dirinya mengalihkan perhatiannya dari Jongin ke ayahnya. “Ya, terima kasih.” kata gadis itu sambil membasahi bibirnya seolah mengisyaratkan bila  ia sedang merasa resah. “Ka—kamarnya menyenangkan sekali.” katanya, “Maafkan aku. Apakah aku menggangu?” ucapnya dengan tangan yang gemetar, dan gadis itu lalu menggengam kedua tangannya seakan dirinya bisa mengatasi semua kegugupan dirinya.

“Tidak… ehmm, masuklah dan duduk. Kami hanya berbincang ringan.” ujar sang ayah.

Jiyeon nampak ragu saat melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. “Kau mau minum sesuatu?” Pria paruh baya itu bergerak menuju bufet. Jongin masih tetap duduk diam dan belum membuka mulut.

“Tidak, tidak usah, terima kasih.” Jiyeon mencoba tersenyum. “Rumah Ayah bagus sekali. Aku bisa melihat pantai dari jendela kamarku.” sambil duduk dan gadis itu mencoba sebisa mungkin menjaga jarak dengan pria yang ada di sampingnya.

“Kau bisa berenang kapan saja kau inginkan, itu akan menyenagkan.” ucap sang ayahnya sambil kembali duduk ke kursinya, lalu mengetuk-ngetuk pipanya di asbak. “Tadinya aku masih suka menyelam, tapi belakangan ini Jongin yang lebih banyak melakukan itu.” Jiyeon menangkap nada hangat dalam suara ayahnya, dan merasakannya  lagi dalam senyumannya yang di tunjukan kepada lelaki yang duduk di dekatnya.

“Bagiku laut dan langit memiliki banyak kesamaan.” sahut Jongin, seraya meraih gelasnya dari atas meja. “Sama-sama menawarkan kebebasan dan tantangan.” Ia melontarkan senyuman kepada Tuan Park. “Aku memperkenalkan misteri kedalaman dan Kap. Mengajariku terbang.”

“Aku rasa, aku lebih cocok disebut mahluk darat,” balas Jiyeon, sambil memaksa dirinya untuk membalas tatapan Jongin. “A—aku memang tidak begitu berpengalaman di udara maupun di laut.”

Jongin menaruh gelas kristalnya dan kemudian memutarnya dengan santai, namun tatapannya menyiratkan tantangan. “Tapi kau bisa berenang, kan?”

“Lumayan…”

“Bagus.” Jongin  mengangkat gelasnya  dan kemudian meminum setenguk wine dari  dalam gelasnya. “Aku akan mengajarimu cara menyelam di tempat dangkal.” setelah itu meletakkan kembali gelasnya, Jongin kembali duduk dengan santai. “Besok. Kita akan mulai pagi-pagi.”

Sikapnya yang arogan membuat Jiyeon kesal. Nadanya menjadi dingin dan acuh tak acuh. “Aku tidak ingin menyita waktu anda, Tuan Kim Jongin-ssi.”

Tanpa memperdulikan ekspresi wajah Jiyeon, Jongin langsung berkata. “Jangan Khawatir, jadwalku masih kosong sampai sore.”

Saat Jiyeon hendak menolak tawaran Jongin tiba-tiba sang ayah berkata. “Kau akan senang, Jiyeon-ah. Jongin adalah penyelam yang handal dan ia mengenal perairan di sekitar sini.” seketika Jiyeon menutup matanya sebentar saat mendengar perkataan sang ayah.

“Aku yakin, anda tahu betapa aku menghargai waktu yang anda luangkan bagiku, Tuan Kim.” Jiyeon tersenyum sopan pada Jongin, sambil berharap laki-laki itu dapat membaca yang tersirat dibalik perkataanya.

Cara Jongin mengangkat sebelah alisnya menyatakan adanya saling pengertian yang tidak perlu di katakan di antara mereka berdua. “Tidak lebih daripada aku menghargai telah ditemani oleh anda, Nona Park.”

“Makanan sudah siap.” suara Yolanda yang tiba-tiba membuat Jiyeon terkejut. Ia menundingkan sebuah jari ke arah Jiyeon kemudian membuat gerakan seperti  seorang komandan. “Ayo makan, dan jangan main-main. Badanmu sangat kurus.” gumamnya sambil berlalu. Lengan Jiyeon digapit saat kedua lelaki mengikuti langkah-langkah Yolanda.

~OoO~

Jongin menahannya ketika mereka tinggal berdua di lorong. “Aku mengagumi cara kau masuk tadi. seperti sosok anak perawan yang masih murni.” Ucapnya penuh dengan nada sindiran.

“Aku yakin, kau akan segera mengorbankanku pada dewa gunung berapi yang terdekat, Tuan Kim, tapi siapa tahu kau akan membiarkanku menikmati makan malamku yang terakhir dengan tenang.”

“Nona Park.” dengan sopan yang dibuat-buat, pria itu membungkuk, sementara tangannya mencengkram erat pergelangan tangan Jiyeon dengan lebih keras. “Aku bahkan bisa mengendalikan diriku sekali-kali untuk mengawal seorang wanita baik-baik ke meja makan.” Seraya menuntun Jiyeon bersama dengan dirinya.

“Mungkin kalau anda lebih memperhatikan tata krama, anda dapat melakukannya itu tanpa harus meremukan lenganku!” Jiyeon menggertakan giginya saat mereka memasuki ruangan makan yang berdinding kaca.

Jongin menarik ke luar kursi Jiyeon. “Terima kasih, Tuan Kim.” gumamnya dengan nada yang dingin sambil duduk. “Menyebalkan!” teriak batin Jiyeon.

Jongin mengangguk sopan, mengitari meja kemudian menghempaskan tubuhnya ke atas sebuah kursi. “Hei Kap, pesawat kabin kecil yang kita pakai tempo hari ke Mor rupanya sedikit bermasalah. Aku akan memeriksanya hari ini.” kata Jongin penuh antusias.

“Hemm… menurutmu apanya yang salah?” tanya Tuan Park.

Kedua lelaki itu mulai mendiskuskan yang bagi Jiyeon terdengar terlalu teknis dan sulit diikuti. Yolanda muncul dengan sebuah pinggan berisi hidangan ikan yang masih mengepul-ngepul yang kemudian di letakannya persis di depan mukanya. Jiyeon sedikit bingung saat kedua matanya bertautan dengan wanita berkulit kecokelatan tersebut. “Tak mungkin kan, aku disuruh memakan semuanya?” pikir gadis muda itu. Gerak-gerik Jiyeon yang bingung langsung di sadari oleh Yolanda, sehingga beberapa saat kemudian wanita itu menaruh beberapa potongan daging ikan di atas piring makan Jiyeon sebelum dirinya pergi meninggalkan mereka bertiga.

~OoO~

Pembicaraan sudah beralih ke masalah bahan bakar setelah Jiyeon telah berhasil menghabiskan apa yang sudah di taruh oleh Yolanda di atas piring makannya. Ketenangannya selama makan nyaris mengimbangi keasyikan kedua lelaki itu dalam menikmati percakapan mereka. Saat memperhatiakan, Jiyeon menyadari bahwa sikap seakan acuh tak acuh dari ayahnya lebih disebabkan oleh kebiasaannya hidup sendirian selama bertahun-tahun dari pada disegaja.

Beberapa saat kemudian Jiyeon memutuskan bahwa ayahnya ternyata merasa lebih nyaman berada di antara kaum lelaki daripada cenderung merasa rikuh dengan keberadaan seorang wanita di sana. Meskipun Jiyeon merasa Jongin memang sengaja bersikap arogan pada dirinya, reaksi ayahnyalah yang membuat hatinya sedih.

“Kalian tidak keberatan jika aku duluan?” Jiyeon berdiri saat perbincangan terhenti sebentar. Gadis itu menyesal harus melihat kerikuhan yang membayang di mata ayahnya. “Aku lelah.” tambah Jiyeon seraya melengkungkan sudut bibirnya untuk tersenyum. Saat membelakangi meraka, nyaris terdengar olehnya helaan napas lega mereka. Dan itu membuta hati gadis muda itu semakin teriris.

~OoO~

Jam Sudah menunjukan pukul dua dini hari, Jiyeon sama sekali tak bisa tidur. Dadanya terasa sesak sedari tadi, sehingga ia memutuskan untuk menyelinap turun ke bawah dan melebur dalam kegelapan malam.

Saat berjalan tanpa tujuan yang pasti, ia menangkap suara burung-burung malam yang saling memanggil, memecahkan keheningan dengan irama yang terdengar asing dan aneh. Meskipun begitu, ia tetap menikmati suara deburan air laut, tak lama ia kemudian melepaskan alas kakinya untuk menyongsong hamparan pasir yang halus.

Malam ini begitu banyak taburan bintang menyelimuti langit yang berwarna biru pekat. Jiyeon menghirup napas dalam-dalam, menikmati  aroma laut. Tempat ini terlihat seperti surga namun firdaus ini bukanlah bagi dirinya. ia telah dikucilkan oleh Jongin dan ayahnya, kisah itu terulang lagi. Masih segar diingatannya betapa seringnya ia dikucilkan saat dirinya berkunjung ke rumah ibunya di Paris,

Menjadi seorang pengacau suasana lagi,” ungkap batinnya, sambil mempertanyakan apakah ia akan tahan atau memang mau terus memasang wajah tersenyum selama berada bersama ayahnya. Rupanya tempatnya tidak hanya bukan bersama Victoria tapi juga bukan bersama bersama sang ayah

Selang beberapa menit kemudian, Jiyeon menjatuhkan dirinya ke atas pasir, dan kemudian Jiyeon merapatkan lututmya ke dada dan mulai menangisi tahun-tahun yang telah dilewatinya sendiri. Tidak lama kemudian terdengar suara sesosok pria dari belakang punggungnya. “Aku tidak membawa sapu tangan, jadi kau harus bisa mengatasinya tanpa itu.”

Mendengar suara Jongin, tubuh Jiyeon mengigil. Gadis  itu semakin merapatkan lututnya. “Tolong tinggalkan aku sendiri.”

“Ada masalah apa, Tuan putri?” suaranya terdengar kasar dan memaksa. Seandainya Jiyeon lebih pengalaman, ia akan mengerti tentang kerikuhan kaum lelaki dalam menghadapi air mata wanita. “Kalau segalanya ternyata tidak berjalan sesuai rencana, duduk di pasir dan menangis tidak akan memecahkan permasalahan. Terutama bila tidak ada siapa-siapa di situ untuk bersimpati.” tambah Jongin.

“Tinggalkan aku,” ulang Jiyeon yang semakin membenamkan wajahnya. “Aku ingin kau tidak tidak menggangu aku. Aku ingin sendiri!”

Namun sayangnya pria itu tak mau mengikuti permintaan Jiyeon. “Tidak ada salahnya kau membiasakan dirimu untuk itu,” sahut Jongin. “Aku akan terus mengawasimu sampai kau kebali ke Eropa. Kap. Terlalu lemah dalam menghadapi tampang sok manis dan sok polosmu.”

Setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Jongin, Jiyeon langsung melompat berdiri, siap menyerang pria tersebut. Jongin melangkah mundur, ia sama sekali tak menyangka gadis itu akan bereaksi seperti itu terhadap dirinya.

“Dia ayahku, kau mengerti? Ayahku. Aku berhak berada bersamanya. Aku berhak mengenalnya!” Seru Jiyeon sambil memukul Jongin dengan membabi buta. Jongin menanggapinya dengan bingung sebelum akhirnya mencengkram lengan Jiyeon. “Wah, ternyata bisa panas juga dalamnya gunung es! Kau bisa mencoba mempermasalahkan soal tidak pernah menerima surat-suratnya itu akan mendukung usahamu. Tapi sayangnya itu tidak berlaku untukku.”

“Aku tidak mengharapkan belas kasihannya, kau dengar?!” Jiyeon berusaha meronta melepaskan dirinya dari cengkraman Jongin. “Aku lebih bisa mentolerir kebenciannya daripada sikap tidak pedulinya, tapi lebih baik ia bersikap acuh tak acuh daripada menaruh belas kasihan padaku!” teriak gadis itu kembali.

“Sudah, diam!” balas Jongin dengan nada yang lebih tinggi. Ya, pria itu mulai merasa tidak sabaran menghadapi Jiyeon. “Kau tidak boleh terluka.” Ujarnya dengan menatap kedua mata Jiyeon dalam.

“Aku tidak mau diam,” sahut Jiyeon. “Aku bukan seekor anak anjing yang terdampar basah di muka pintunya yang perlu dikeringkan, diberikan sebuah pojokan dan diusap-usap. Aku akan memperoleh dua mingguku, dan aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan itu.” ucap Jiyeon dengan deraian airmata. Namun sinar matanya lebih mengungkapkan kemarahan diripada kesedihannya. “Lepaskan aku! Aku tidak mau kau menyentuhku!” Jiyeon mulai meronta lagi dengan lebih agresif sehingga mereka berdua nyaris jatuh terjerembab ke atas pasir.

“Oke, cukup.” dengan sigap, Jongin menggunakan lengannya untuk memasung Jiyeon, dan mulutnya untuk membungkam gadis itu.

Laki-laki itu membuat Jiyeon hanyut dalam pusaran yang terus berputar, dan menenggelamkannya ke dalam keadaan yang tidak mengenal waktu atau pun tempat. Kehangatan mulai menjalari dirinya, dan ia berusaha melawannya untuk melepaskan diri dari pelukan pria itu.

Jongin mendekatkan bibirnya lagi, dan membangkitkan sesuatu yang sejauh ini masih asing baginya. Tiba-tiba Jiyeon kehilangan seluru daya untuk melawan. Seluruh kendali  dirinya. ketegangan tubuhnya mereda, bibirnya melembut dalam kepasrahan. Jongin menarik dirinya dan tanpa menyadari apa yang sedang dilakukannya, beberapa saat kemudian gadis itu menyandarkan kepalanya di dada Jongin. Tubuh Jiyeon bergetar saat merasakan usapan lembut dirambutnya, dan tampa ia sadari, dirinya semakin merapatkan tubuhnya ke Jongin.

Tiba-tiba ia merasa hangat dan tidak sendiri lagi. ia menitikan airmata saat kedua matanya terpejam dan membiarkan emosinya lepas.

“Siapakah kau sebenarnya, Park Jiyeon?” Jongin menarik dirinya lagi. dengan jarinya ia berusaha mengangkat dagu Jiyeon yang tetap bersikeras saat itu tidak mengangkat wajahnya. “Tatap aku,” perintahnya. Nadanya tegas, dengan mata yang menyipit, ia menatap Jiyeon.

Mata Jiyeon yang besar tampak berkaca-kaca. Air matanya yang akan bergulir turun ke pipinya masih menempel di bulu matanya. Seluruh sikap anggun yang tadi menyelimuti dirinya sudah ia tinggalkan, sehingga yang tinggal hanyalah ketidak berdayaannya. Penjajakan yang dilakukan oleh Jongin berakhir dengan umpatan.

“Mula-mula seperti gunung es, kemudian panas. Sekarang air mata. Tidak jangan,” perintahnya saat Jiyeon berusaha menundukam wajahnya kembali. “Aku sedang tidak berniat menguji sampai di mana batas kesabaranku.” Pria itu menghembuskan napasnya sambil menggeleng. “Kau cuma tukang bikin masalah, seharusnya aku sudah sadar dari awal. Tapi mengingat kau sudah ada di sini sekarang, sebaiknya kita membuat suatu kesepakatan.”

“Tuan Kim… tidak, Jongin-ssi, demi Tuhan. Sebaiknya kita jangan membuat situasinya lebih konyol lagi. Jongin-ssi…” ulang Jiyeon. ia mengeluarkan suara isakan dan langsung kesal pada dirinya sendiri. “Aku sedang tidak ingin melakukan itu saat ini, kalau kau mau melepaskan aku sekarang mungkin kita akan bisa menandatangani sebuah kontrak besok.”

“Todak, persyaratannya sederhana sekali, sebetulnya, karena aku yang mengajukan seluruhnya.” kata Jongin.

“kedengarannya masuk akal sekali.” balasnya dengan menghela napas.

Jongin lalu melanjutkan pekataannya. “Sementara kau di sini, kita akan terus membayang-bayangi. Aku akan menjadi malaikatmu sampai kau berangkat kembali ke Eropa. Kalau kau sampai membuat langkah yang salah dalam menghadapi Kap, aku akan langsung turun tangan sebelum kau sempat mengerjapkan mata ssok bocah polosmu itu.”

“Begitu rapuhnyakah ayahku sehingga ia membutuhkan perlindungan terhadap putrinya sendiri?” dengan gerakan kesal Jiyeon menghapus air matanya.

“Mana ada laki-laki yang tidak membutuhkan perlindungan dalam menghadapimu, Tuan putri.” sambil memiringkan kepalanya, Jongin mempelajari wajah lawan bicaranya. “Kalau kau seorang artis, permainanmu bagus sekali. Kalau tidak, aku akan meminta maaf padamu begitu waktunya tiba.”

“Kau boleh simpan itu untuk kau nikmati sebagai sarapanmu. Siapa tahu kau akan tersedak karenanya.” balas Jiyeon.

Jongin menggetakan kepalanya ke belakang dan tertawa, dengan nada yang sama seperti yang didengar Jiyeon sebelumnya. Darahnya bergolak menanggapi suara tawa itu. Tangannya naik, siap menampar wajah pemuda itu. “Oh, tidak,” ujar Jongin sambil mencengkram pergelangan milik Jiyeon. “Jangan coba-coba. Aku akan memukulmu kembali, dan tampangmu benar-benar luar biasa saat marah. Jauh lebih sesuai dengan seleraku dibandingkan dengan sikap dingin si Mademoiselle dari Paris.”

“Dengar, Jiyeon-ah.” Jongin berusaha menghentikan tawanya, sementara Jiyeon terenyak menghadapi reaksi dirinya begitu mendengar bunyi namanya dari bibir lelaki itu. “Bagaimana kalau kita mencoba berdamai, setidaknya di depan orang-orang. Saat hanya berdua, kita bisa saling memukul, dengan atau tampa dengan sarung tinju.”

“Kalau itu memang yang kau mau.” Jiyeon lalu melepaskan dirinya dari cengkraman Jongin yang mulai melonggar. “Situasimu memang jauh menguntungkan, mengingat besar tubuh dan tenangamu.” gumam gadis muda itu sambil kedua matanya menatap ke arah Jongin.

Jongin menyeringau kemudian menggerakan pundaknya. “Sebaikanya kau biasakan dirimu dengan itu. Ayo.” dengan lembut ia meraih tangan Jiyeon, yang menjadi tertegun melihat perubahan sikap itu. “Tidur, kau harus bangun pagi-pagi sekali besok. Aku tidak mau kehilangan waktu.”

“Aku tidak akan pergi denganmu besok,” sahut Jiyeon. sambil menepis tangannya dari cengkraman Jongin. Dan menjejakan kakinya yang telanjang di pasir “Siapa tahu kau akan berusaha menenggelamkanku, lalu menyembunyikan mayatku di salah satu gua.”

Jongin menghela napas kesal. “Jiyeon-ah, kalau aku sampai harus menyeretmu dari tempat tidur besok pagi, kau akan tahu bahwa kau akan belajar lebih banyak daripada sekedar menyelam, oke?” kali ini nada bicaranya terdengar mengancam.  “Jadi apakah kau akan berjalan sendiri kembali ke rumah sekarang atau aku harus membopongmu?”

“Jangan Harap!!!” bentak Jiyeon. Setelah mengatakan itu, Jiyeon langsung memutar badannya dan segera berlalu. Jongin mengawasinya dari belakang sampai kegelapan menyelubungi sosoknya yang putih. Kemudian ia membungkuk untuk mengambil sepatu gadis itu.

-TBC-

~OoO~

Yuhuuu… Reader’s semuanya, aku bawakan lagi nih update-tan fanfic amarillis buat kalian semua ^^

Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya setelah membacanya, biar daku lebih semangat lagi buat lanjutan ini Fanfic, hoho…

Sebelum dan sesudahnya mimin juga mau ngucapin terimakasih sama semua readers yang sudah mau meninggalkan komennya di part sebelumnya dan di sini…

See you next part 5…

Advertisements

20 thoughts on “Amarillis [Part 4]

  1. Makin gk ngerti dg sikapny kai, kadang baik kadang kasar, tp banyakan kasarny sih..
    Sedih liat reaksi ayahny jiyeon yg masih canggung dg anakny, jiyeonny kan jd ngerasa klu dy gk diharapkan..

    Liked by 1 person

    • Emang sikap jongin disini aku buat punya dua kepribadian, kadang bae, kadang nyebelin, kadang sikapnya gentel, kadang tuh orgnya songong, :D. di sini emang ayah jiyi sedikit canggung, mungkin karena udah berpisah selama 15 tahun jadi begitu deh…
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

  2. Kenapa lah kai itu cium” terus udah gitu ngatain pura” polos!!
    Jiyeon emng polos! Gak tau aja perjuangan jiyeon mau ketemu ayahnya. Tapi ayahnya msh canggung yg paling parah menghembuskan napas setelah jiyeon pergi. haduh ayah kenapa nggak banyak tanya jiyeon kan udah lama nggak ketemu
    Terus lanjutkan kakak
    ✊✊✊
    Semangat pantang mundur😊

    Liked by 1 person

    • Tau tuh dah nyosor mulu endingnya malah ngatain jiyi,.. trus jiyinya pasrah aja gitu… wkwk… authornya gaje banget yah buat ni cerita 😀
      Terimakasih atas semangatnya, ya dear ❤ n thikyu dah mampir kesini buat baca ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s