[Twoshoot #2] Antara Om dan Brondong

Antara Om dan Brondong REAL

deliadeaa

present

«Starring»SM Rookies Lami │ NCT U Mark

mentioned NCT U Taeyong

#2 contain ± more than 500 words

Previous story #1

PG-13│ Teen│ Ngabsurd │ failedFluff

«Disclaimer» Storyline and poster murni milik owe, castnya juga /digeplak/

 

“Namaku Kim Lami, ahjusshi.”

“Cium…”

Selamat bagi Mark yang sukses mengotori otak mungil Lami dengan pikiran-pikiran aneh. Kejadian kemarin agaknya berdampak besar pada psikologis Lami yang semurni air jernih, belum tercemar limbah. Tidak seperti Mark, dibalik wajah imut-imutnya itu tersimpan polutan yang menumpuk di saraf neuronnya. Dan, umm, Mark rupanya sedikit canggung akibat kejadian kemarin.

“Lami-ya, sampai kapan kita akan berdiri di sini?” Mark memberanikan bertanya duluan. Setidaknya itu lebih baik daripada berdiri seharian di depan pintu rumahnya sendiri bak seorang idiot.

“Oh? Kenapa kita di sini? Ayo masuk..” sahut Lami seraya melangkah memasuki rumah. Keduanya duduk manis di sofa setelahnya. Sejenak suasana canggung menggerogoti atmosfer. Mark memutuskan untuk beranjak, mengambil beberapa camilan.

Baru pertama kalinya Lami menginjakkan kaki di rumah seorang laki-laki, yang tidak ada hubungan darah sama sekali dengannya. Mark adalah orang yang pertama. Terus terang Lami sangat gugup tatkala pria itu kembali dengan beberapa camilan, lantas kembali lagi membawa sebuah alat.

“Haruskah kita mulai sekarang?”

“Hmm…”

“Aku sudah memasang preparatnya, bisa kau amati?”

JDER!

Otak Lami rasanya bolong saat itu juga.

Hal-hal semacam ini memang pernah diajarkan guru biologi, namun ia tetap tidak paham. Siapa suruh dirinya asyik mengobrol dengan teman sebangkunya sendiri, Koeun, saat Cho Seosangnim menjelaskan tata cara penggunaannya panjang kali lebar. Mau tidak mau, Lami harus menyelamatkan harga dirinya dan beringsut menuju benda yang bahkan ia tidak tahu sama sekali cara menggunakannya.

Yang ia ingat hanya memutar diafragma. Dulu ia sempat diomeli plus ditertawai seisi kelas karena menukar bagian memutar diafragma dengan memutar meja. Tidak lupa Jeno juga menyebutnya keledai dungu waktu itu, mentang-mentang dirinya anak kesayangan semua guru di sekolah. Ugh. Lami muak mengingatnya.

Mark tersenyum melihatnya, seakan mengeri apa yang dipikirkan Lami. Perlahan bocah itu mendekat, mengajari Lami cara melihat objek dengan benar. Meskipun mikroskop itu masih di bawah kuasa Lami. Masa bodoh dengan cermin, revolver, ataupun perbesaran objek. Fokus Lami hanya tertuju pada pemuda bersurai coklat yang kini tengah serius mengutak-atik benda itu.

Ternyata Mark kalau dilihat dari dekat, jujur saja, dia terlihat lebih tampan –sangat tampan malah. Meskipun hidungnya tidak terlalu mancung, namun itu lebih baik daripada hidungnya yang masuk kategori pesek. Ada satu bagian yang paling menarik atensi Lami.

Bibir.

Lengkungan kurva yang terpahat dengan sempurna. Sungguh indah mahakarya Tuhan, batin lami.

Mark tidak sengaja memergoki Lami memperhatikannya dan ikut-ikutan salah fokus. Keduanya bersitatap, cukup lama. Entah bagaimana awalnya, kini jarak mereka sudah sangat dekat. Lami bisa merasakan hembusan napas pria itu, begitupun sebaliknya. Lami terpejam. Tak bisa membayangkan apa yang terjadi selanjutnya. Sebelum akhirnya suara deheman menginvasi kegiatan mereka.

Kenapa orang menyebalkan itu selalu muncul di momen-momen seperti ini?

Tahu mereka berdua tertangkap basah, Lami mendadak salah tingkah. Ia membetulkan posisi duduknya. Kedua pipi lembutnya bersemu merah. Ia yakin saat ini pasti dirinya persis seperti kepiing rebus.

“Ah! Lami di sini rupanya..”

Bukan hanya karena kejadian tadi, melainkan melihat wajah pria itu juga menyumbangkan rona merah di pipinya. Pun Mark yang kini wajahnya terlihat memerah.

“Kita belum berkenalan. Aku Lee Taeyong.”

Lami menyambut tangan Taeyong kikuk, “Namaku Kim Lami, ahjusshi.”

Taeyong gabut. Tunggu, barusan Lami menyebutnya apa? Mark diam-diam terkikik, tak sanggup menahan kekonyolan ini.

“Lami, aku belum setua itu. Aku hyungnya Mark…”

“Ta-tapi Mark bilang anda adalah om-nya, ya kan, Mark?”

Ini tidak baik.

Aura gelap pencabut nyawa perlahan mendominasi ruang bercat putih itu.

Sekon selanjutnya, terjadi pertumpahan darah di rumah keluarga Lee. Dengan Lami sebagai penonton.

“YA!!! KUNYUK! BOCAH TENGIK! KEMARI KAU!!!!!!”

Taeyong bersumpah akan mengubur adiknya itu hidup-hidup jika sampai tertangkap.

“Maafkan aku om, eh –hyung…”

Masa bodoh. Yang penting hepi.

Fin

Akhirnya FF absurd ini selese juga…

Makasih yang udah mau baca apalagi komen di lapak garing ini.

Bye.

Advertisements

4 thoughts on “[Twoshoot #2] Antara Om dan Brondong

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s