Freelance – My Boyfriend is A Ghost [Chapter 4]

MBIAG

Previous :

Chap 1 | Chap 2 | Chap 3

Author & Cover by:

Milleny (@MillenyBFVIP07)

Cast :

Kim Jong In/Kai (EXO)

Jung Han Ra (You/OC)

Lee Tae Min (SHINee)

Kim Ki Bum/Key (SHINee)

Support cast :

Song Geum Heun (OC)

Mrs. Song (Geum Heun’s mother)

And other…

Genre :

Fantasy, Angst, Romance, School-life, Hurt, Sad, Tragedy (?)

Rating :

Teen

Length :

Chaptered (Chapter 04)

Disclaimer :

Semua cast punya Tuhan dan orangtua/orang-orang terkasih. Jung Han Ra dan FF punya saya seutuhnya. Plis jangan diplagiat. Ini udah ancur, plis jangan plagiat kacian tauk T_T #plak :v. FF ini terinspirasi dari drama 49 Days dan film horor Indonesia kuntilanak :v.

Warning! : FF ini sebelumnya pernah di post di Note FB saya, tapi karena saya sudah punya blog pribadi dan ingin share juga di sini, saya akhirnya share kembali. Dan ini saya revisi kembali. Cerita seutuhnya masih sama seperti dulu, namun ada yang saya tambah+kurangi.

FF sudah dipost di akun pribadi :

https://milleny165.wordpress.com/2015/05/10/fanfiction-repostchaptered-my-boyfriend-is-a-ghost-chapter-04/

Terima kasih selamat membaca~

***

“Kai…?”

Laki-laki di depannya tersenyum. Sangat menawan. “Apa kabar… Jung Han Ra?”

***

“Baiklah semua, sudah siap? Periksa seluruh barang-barang kalian, jangan sampai ada yang tertinggal. Jika sudah, segera masuk ke dalam bus. Kita akan segera pulang,” ujar salah seorang guru. Ia berbicara lewat speaker sehingga seluruh siswa bisa mendengarnya.

Semua anak-anak kembali memeriksa barang bawaan mereka. Meski sedikit cemas kalau-kalau ada yang tertinggal, mereka tetap melakukannya. Bahkan ada yang meneliti barang bawaan mereka sampai sepuluh kali. Setelah kepulangan dari sini, Tae Min merasa lega. Ia tidak perlu merasa bersalah terhadap masa lalunya. Bagaimanapun, itu sebuah kecelakaan. Siapa yang bisa menghentikan kematian? Hanya Tuhan yang bisa.

Seorang anak laki-laki dengan tinggi 180 senti yang berdiri di sebelah Tae Min, Kim Ha Woo mengangkat tangan. “Seonsaengnim, saya dari tadi pagi tidak melihat Jung Han Ra.”

Semua perhatian anak-anak langsung tertuju padanya. Ada yang sampai membelalakkan mata mereka. Tae Min membelalakkan matanya. Sementara itu, Geum Heun diam-diam tertawa penuh kemenangan dalam hati. Dan, Seo Won, ia hanya bisa diam dan mengunci bibir rapat-rapat. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya. Rasa ketakutan mulai menjalari tubuhnya.

Guru wanita itu menatap Kim Ha Woo dengan alis menyatu, “Benarkah?” lalu ia menatap seluruh siswa-siswinya bergantian. “Benar-benar tidak ada yang tahu? Bagaimana dengan tim Han Ra?”

Tiba-tiba An Na mengangkat tangan tinggi-tinggi, “Kemarin, terakhir kali saya melihat Han Ra, dia sedang berjalan menuju hutan.”

Tangan Seo Won gemetar. Kakinya lemas.

“Hutan?” guru itu semakin mengerutkan alisnya. “Dia bilang sesuatu?”

Ne, dia bilang dia akan jalan-jalan, lalu… saya sudah tidak tahu lagi.”

Raut wajah guru itu menjadi cemas. Ia berdiri dengan gelisah di tempatnya. Bagaimana tidak? Salah satu siswinya sedang hilang di tengah hutan. Tidak tahu ia sedang dimakan binatang buas atau tersesat sekarang. Meskipun Han Ra belum mati atau sudah mati sekalipun, ia harus bisa menemukannya.

“Baiklah, kita akan mencari Jung Han Ra,” ujar guru itu kemudian, dengan speaker. Ia menatap anak-anak satu persatu, hendak untuk membagi tim. Namun, tatapannya terhenti pada salah seorang siswanya yang sedang diam dengan tubuh bergetar hebat. Choi Seo Won.

Guru itu mendekati Seo Won dengan penuh curiga. Saat, guru itu mendekat, jantung Seo Won serasa mau copot. Sekarang ia sangat takut. Sangat ketakutan. Ia berharap kalau bumi menelan tubuhnya selama-lamanya sekarang.

“Choi Seo Won.”

Seo Won berdiri dengan tegang. Tubuhnya bergetar hebat.  “N-ne?”

“Kenapa kau menjadi panik?” tanya guru itu penuh selidik.

Bukankah seharusnya Seo Won tidak takut? Hahaha tentu saja tidak perlu takut. Bukan Seo Won yang membunuh Han Ra. Bukan laki-laki itu yang mendorong Han Ra hingga terjatuh ke jurang. Bukan salah laki-laki itu. Jadi, tidak apa apabila ia membocorkan segala kebusukan Geum Heun malam itu, kan?

Benar, ia akan melakukannya kalau saja Geum Heun sialan itu tidak mengancamnya.

Itu yang membuat anak laki-laki ini takut. Karena ia tahu, Geum Heun tidak akan pernah main-main dengannya.

“Choi Seo Won.

Seo Won terdiam. Ia kenal suara ini. Sangat mengenalnya dengan baik. Celaka, ini.. ini.. ini… suara Geum Heun.

Takut-takut, Seo Won membalikkan badan. Kakinya gemetaran. Wajah Geum Heun disaat gelap benar-benar mengerikan. Seo Won juga bodoh tidak membawa senter. Tapi, disenteri atau tidak, Geum Heun tetap menyeramkan.

“Apa yang kaulakukan disini?”

Jantung Seo Won berdetak tidak karuan. Seperti sedang ada lomba maraton di dalam sana. Detak jantungnya berdentum dengan irama sangat cepat, bahkan wajahnya sudah basah karena keringat. Ia benar-benar takut suatu hal akan menimpanya sekarang juga.

Mata Geum Heun tiba-tiba melebar.  “Ja-jangan-jangan! Kau melihatku dan Han Ra?!” 

“Kenapa kau membunuhnya?!” tiba-tiba Seo Won berteriak. Perasaan takutnya berubah menjadi amarah. Entah mengapa. Padahal hampir saja ia tergagap tadi.

“Kau tidak perlu ikut campur!” Geum Heun membalas.

“Tentu saja aku harus! Apa kau tidak merasa bersalah sudah memperlakukannya seperti pembantu di rumah maupun di sekolah? Kau tidak merasa kasian?! Bagaimanapun juga harta yang kau miliki adalah miliknya! Kau tidak berhak!”

“Itu karena dia merebut Tae Min dariku!” Geum Heun merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah pisau lipat. Kapan dia memilikinya? Tidak bisa dipercaya kalau Geum Heun bisa menyimpan benda berbahaya seperti itu. Rupa-rupanya, Geum Heun benar-benar sudah merencanakan ini.

“Kau merencanakan ini semua?” Seo Won hampir tidak memercayai apa yang ia lihat sekarang. Geum Heun… ia benar-benar iblis.

Geum Heun menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring. Tidak ada rasa takut pun di dalam dirinya. Apalagi untuk orang-orang sok ikut campur layaknya Seo Won, ia siap kapan saja untuk mengakhiri hidup laki-laki itu. Geum Heun membuka lipatan pisau dan mencondongkannya tepat di depan dada Seo Won yang berbalut kaus abu-abu.

“A-Apa yang kau lakukan?” tanya Seo Won gelagapan. Ketakutannya mulai muncul lagi. Pelipisnya kembali memproduksi keringat dingin. Sangat banyak.

Ya, Choi Seo Won, aku tahu kau menyukai Han Ra. Tapi, kalau kau benar-benar akan membocorkan rahasia ini” Geum Heun menempelkan pisau itu tepat di depan dada Seo Won, tapi tidak menusuknya. “…kupastikan kau mati. Kapanpun itu.”

Anieyo, saem. Aku hanya…hanya…”

Guru itu menaikkan alis menunggu Seo Won melanjutkan kata-katanya.

“—aku mempunyai penyakit mag karena hari ini tidak sarapan!” Seo Won memegangi perutnya dan seolah-olah merintih kesakitan. “Jadi… biasanya sampai gemetaran.”

Dari jauh, Geum Heun tersenyum miring. Anak itu… ternyata ia sama sekali tidak punya keberanian. Baguslah, setidaknya. Geum Heun langsung menghampiri Seo Won dan gurunya. Tanpa aba-aba, Geum Heun langsung menarik lengan Seo Won.

Seonsaengnim, aku punya roti di tas,” Geum Heun melirik Seo Won yang saat itu wajahnya pucat pasi. “Kajja, Choi Seo Won.”

Geum Heun menarik tangan Seo Won ke sebuah batu yang bisa diduduki. Seo Won duduk di depan Geum Heun yang sedang mengeluarkan roti dari dalam tasnya. Geum Heun menyodorkan roti itu. Saat menyadari Seo Won hanya diam menatap roti yang dipegangnya, Geum Heun mengerti.

Arasseo. Kau tidak lapar, kan?”

Seo Won mengangguk dalam diam.

“Biarpun begitu makanlah…” Geum Heun menyodorkannya. Seo Won menerimanya tanpa menatap Geum Heun. “…agar mereka tidak curiga.”

Tangan Seo Won yang membuka bungkus roti terhenti. Ia meneguk ludah untuk sekian kalinya. Seo Won lalu mengangguk. “Ara.”

Geum Heun menarik sudut bibirnya. “Good job.”

***

“Aku ingin pulang,” kata Han Ra ingin menangis. Rasanya terjebak di dalam sebuah hutan bersama hantu yang sangat tampan yang sedang memakan singkong bakarnya. Bukankah ini sangat menyebalkan? Ia dan Kai bahkan tidak sejenis. Ia manusia dan Kai hantu.

“Jangan pulang. Aku tidak memiliki teman,” ujar Kai santai dengan mulut yang dipenuhi banyak singkong.

“Tapi aku rindu mereka semua…” Han Ra mulai menangis. Bibirnya bergetar.

Kai menoleh dan mendapati Han Ra sedang menangis. Matanya mengerjap berulang kali. Mulutnya terbuka, hingga sisa-sisa singkong di mulutnya berjatuhan ke pangkuannya. Hahh…. manusia memang cengeng, pikir Kai. Tapi, setelah melihat Han Ra menangis, ia menjadi iba. Benar juga, ia harus pulang. Bagaimanapun dunianya dan Han Ra berbeda.

“Tapi, bukankah kelurgamu menginginkan kau mati?” Kai bertanya dengan sangat hati-hati.

“Setidaknya aku masih memiliki seorang teman.”

Kai berpikir. Oke, dia akan mengizinkan Han Ra pergi, dan tentu saja dengan syarat. Syaratnya simpel saja. Ia sangat yakin Han Ra bisa memenuhinya. Kai sudah merasa bosan hidup disini. Sebenarnya ia bisa pergi, tapi ia kan mati disini, jadi ini sudah jadi rumahnya. Kecuali ia pindah alias jasadnya ditemukan dan dipindah. Tapi… pindah sementara waktu tidak apa-apa, kan?

“Baiklah,” kata Kai sukses membuat Han Ra secepat kilat menoleh ke arahnya.

Han Ra tersenyum senang lalu menghapus air matanya. “Gomawo, Kai!” Han Ra memekik lalu hendak memeluk Kai. Sayangnya Kai dengan cepat mengangkat sebelah tangannya, sehingga kegiatan memeluk yang hendak dilakukan Han Ra pun terhenti.

“Dilarang menyentuh! Kita berbeda,” kata Kai kembali lalu mulai menggigit singkong bakarnya lagi.

Cih… apa-apaan manusia ini… mau main peluk saja. Mendadak, Kai terdiam. Sesuatu yang entah apa itu membuatnya seakan tersengat listrik. Ia merasa aneh Han Ra akan memeluknya. Tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang tak asing di dalam sana. Sesuatu yang… seperti ketika Kai melihat sebuah objek yang ia suka.

Jangan-jangan…

Tidak boleh! Ini tidak boleh terjadi! Kai menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Han Ra manusia Kai. Kalian berbeda.  Jelas sekali berbeda. Tidak! Perasaan ini tidak boleh ada!

“Kenapa, Kai?”

Kai berdeham, mengalihkan pembicaraan, “Tapi dengan satu syarat, baru kau boleh pergi dari sini.”

Han Ra menatap Kai dengan dahi berkerut, “Syarat?” Kai mengangguk, “Bawa aku bersamamu.”

Mata Han Ra terbelalak. Apa tadi katanya? Mengajaknya? Mana bisa mengajak Kai? Nanti semua orang pingsan kalau tahu Han Ra berteman dengan hanti. Kai memang tidak jahat. Tapi pasti semua orang berpikir kalau hantu itu sama saja. Mengerikan.

“Tidak bisa,” Han Ra berkata dengan cemas. Han Ra menggigit bibir bawahnya sembari menunggu respon Kai.

Kai mengerjapkan mata. “Kenapa?”

Han Ra menggeleng. “Pokoknya tidak bisa.”

“Kalau begitu ya sudah. Jangan pergi. Kalau kau pergi, aku akan ada di mimpimu. Setiap hari!” Kai mengancam sambil menirukan gaya singa yang mengaum dengan tangan yang siap mencakar dan menghabisi mangsanya. “Rarrrr!”

Meski hal itu terlihat konyol, Kai tetaplah hantu di mata Han Ra. Dengan wajah pucat pasinya ketika mengaum, Kai memang terlihat mengerikan walau hanya bercanda. Han Ra ingin pulang, tapi, Kai bersikap begitu. Kai bukan manusia, ia bisa saja melakukan hal yang disukainya, termasuk memenjarakan Han Ra ditempat ini selamanya bersama Kai. Baiklah. Ini hanya karena terpaksa.

“Baiklah, asalkan kau tidak membuat teman-temanku takut.”

Kedua mata Kai berbinar. Ia langsung mengacungkan jempol tepat di depan wajah Han Ra. “Oke!”

“Oh, iya, Kai, kau bisa makan?” Han Ra hanya bisa menatap Kai bengong saat hantu itu menggigit dan mengunyah sedikit demi sedikit singkong bakarnya.

“Aku bisa melakukan hal apa saja yang aku mau. Meskipun dengan makan aku tidak akan kenyang atau bertambah gendut.”

***

Han Ra mendapat bantuan dari Kai. Hanya dengan sebuah kekuatan yang entah itu kekuatan apa, Han Ra bisa naik dari dalam jurang ke permukaan. Setelah berhasil berdiri dengan baik, Han Ra lalu berjalan di depan Kai. Kai hanya menguntit di belakangnya.

“Maaf.”

Han Ra berlari ke arah panitia dan guru. Semua perhatian orang tertuju padanya. Geum Heun membuka mulutnya lebar-lebar. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang bisa membawa Han Ra kesini. Yang dia tahu, ia sudah mendorong Han Ra ke dalam jurang, sudah pasti gadis itu mati. Tapi… tapi kenapa? Tidak bisa dipercaya.

“Han Ra-ya! Kau begitu membuatku cemas!” Tae Min berlari ke arah Han Ra dan langsung memeluknya. Perasaan bahagia mengalir di dalam lubuk hatinya. Baru saja hatinya sangat sesak saat mengetahui Han Ra hilang. Tapi, sekarang semuanya baik-baik saja. Han Ra ada disini. Han Ra di depannya. Dan sekarang ada di dalam pelukannya.

Han Ra mengelus punggung Tae Min. “Gwaenchanayo, seonbaenim.”

Kai yang melihat kedua manusia yang tengah berpelukan itu hanya dapat menelan ludah dalam-dalam. Ada suatu benda yang mengganjal di dalam dirinya dan membuatnya merasa lemas. Astaga, bahkan menelan ludah saja sangat susah sekarang. Apalagi berdiri di samping Han Ra sementara gadis itu berpelukan dengan laki-laki lain.

Eum, lupa mengatakannya. Kai telah mengatur kekuatan bahwa hanya Jung Han Ra yang bisa melihat sosoknya, dan tentunya hantu yang lain kalau-kalau ia bertemu dengan yang ‘sejenis’ dengannya di luar sana.

Han Ra melepaskan pelukannya lalu mendongak menatap Tae Min yang lebih tinggi darinya. “Gomawo seonbaenim, kau sudah mengkhawatirkanku.” Han Ra tersenyum tulus.

Tae Min balas tersenyum. Lalu saat ia menatap wajah Han Ra, ia baru sadar kalau wajah gadis itu kotor. Tae Min memandang Han Ra dari atas kepala hingga ujung kaki. Han Ra hanya dapat mengernyit, tidak mengerti.

“Kenapa seonbae menatapku begitu?”

Tae Min merapikan rambut Han Ra, menyibakkannya di belakang telinga gadis itu. Tae Min lalu mengambil dedaunan kering yang tersangkut di poni Han Ra. Tae Min menunjukkan daun kering itu.

Han Ra hanya dapat menggaruk-garuk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal. “Itu…”

Tae Min menaikkan alisnya, “Itu apa?”

“Itu…” Han Ra menggigit bibir bawahnya. Ia tahu kalau Geum Heun juga sedang ada disini dan menatapnya. Han Ra tidak ingin celaka untuk yang kedua kalinya, meskipun ada Kai yang siap menolongnya kapanpun.

“Itu, aku kemarin sewaktu jalan-jalan mengantuk dan tertidur. Bangun-bangun aku malah berada di dalam hutan, bukannya di tenda. Begitu.” Han Ra tertawa garing sambil mengangguk-angguk.

Tae Min hanya dapat mendesah. “Keurae, kita sebentar lagi pulang. Segera bereskan barang-barangmu.”

Han Ra mengangguk kaku. “Ne.”

***

“Han Ra-ya, kau duduk denganku saja. Eottae?”

Han Ra hanya dapat diam. Bagaimana ini? Apa ia harus mengiyakan tawaran Tae Min? Mengingat alasan Geum Heun begitu membencinya tadi malam sebelum anak itu benar-benar mencelakai dirinya. Ia takut Geum Heun akan marah padanya.

Kalau bisa, ia harus menolak.

“Tapi seonbae—“

Sebelum sempat menolak, Tae Min keburu menarik tangannya, “Kajja. Kita duduk di barisan paling depan!”

Han Ra hanya dapat pasrah dan diam ditarik oleh Tae Min. Sementara hatinya was-was.

Kai hanya dapat mengikuti Han Ra dan Tae Min dari belakang. Semua siswa siswi berlarian menembus tubuh Kai. Kai hanya dapat berdiri di tengah-tengah bus, di samping bangku Han Ra. Kai sudah memberitahu Han Ra kalau hanya dirinya yang bisa melihat Kai. Semua orang tidak akan bisa melihatnya. Kai sudah mengatur itu. Dan Han Ra tidak perlu cemas.

Kai hanya bisa melihat nanar Han Ra yang sedang tertawa dan bercanda bersama Tae Min. Tae Min terlihat menggoda Han Ra, begitupun sebaliknya, Han Ra merasa senang digoda Tae Min. Kai hanya dapat menghela napas dan terpaksa harus menonton kedua orang yang mesra itu dengan perasaan tak karuan.

Selama dua jam perjalanan, hingga bus mereka sudah sampai di lokasi, yaitu di sekolah. Seluruh orang keluar dari bus dan segera pulang ke rumah masing-masing. Sekarang hanya tinggal Geum Heun dan Han Ra yang tersisa. Mereka sedang menunggu ibu untuk menjemput mereka. Jujur saja, Han Ra takut jika harus berada bersama Geum Heun lagi. rasa trauma menggerogotinya.

“Jung Han Ra.”

Kai dan Han Ra menoleh kepada gadis tinggi yang memiliki wajah dewasa tapi cantik itu. Geum Heun mendekati Han Ra dan bertepuk tangan. Lalu Geum Heun tertawa dengan sangat keras. “Selamat. Kau berhasil melampauiku. Aku heran, bagaimana bisa kau hidup?” Geum Heun memainkan rambut panjang Han Ra. Kai yang berdiri di samping Han Ra hanya bia menatap Geum Heun dengan tajam. Kai kan hantu, jadi ia pasti tahu apa isi hati manusia dan asal-usulnya. Kai juga dapat membaca pikiran manusia.

“Itu karena Tuhan berpihak padaku,” Han Ra memberanikan diri menjawab pertanyaan Geum Heun. Sebenarnya tubuh Han Ra kaku menegang saat Geum Heun dengan asyiknya memainkan rambut panjang Han Ra.

Keurae? Tapi, tunggu saja kau nanti,” Geum Heun menoleh ke belakang ketika mendengar suara klakson mobil, lalu Geum Heun kembali menoleh kepada Han Ra, “Eomma sudah datang. Kajja.”

***

Eomma, aku masuk dulu. Aku lelah.”

Han Ra keluar dari dalam mobil dan mengeluarkan seluruh barang-barangnya dari bagasi lalu membawanya ke dalam rumah. Kai tidak mengikuti Han Ra. Kai lebih memilih diam di dalam mobil dan mendengarkan percakapan antara anak dan ibu jahat itu.

“Bagaimana bisa dia masih hidup? Kau benar-benar bodoh,” ucap ibunya menatap Geum Heun dengan mata yang berkilat-kilat.

“Aku sendiri juga tidak tahu, eomma! Aku sudah mendorongnya ke jurang! Tapi, aku sendiri juga tidak tahu kenapa dia masih hidup,” Geum Heun tertunduk, “Mianhaeyo, eomma.”

“Kau benar-benar,” ibunya berdecak. “Bagaimana kalau dia nanti melaporkanmu ke polisi?!”

Geum Heun mendongak menatap ibunya. Tiba-tiba matanya menyipit dan bibirnya menarik sebuah senyuman miring. Tangan Geum Heun mengepal. “Tenang saja, omma.”

“Apa maksudmu?” tanya ibunya tidak mengerti.

“Aku masih memiliki senjata. Dia bisa menolong kita.”

“Apa? Siapa?” ibunya semakin tidak mengerti. Senjata apa pula.

“Choi Seo Won.”

Choi Seo Won? Kai bertanya dalam hati.

To Be Continued…

Terimakasih telah membaca FF yang nggak nyambung ini dari chapter satu 😀 mohon tinggalkan jejak kalian. Oh ya maap ya kalau Key belum muncul-muncul juga T_T, tapi pasti dia nanti kebagian peran kok :v. Nantikan di chapter selanjutnya ya :D.

-Milleny-

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s