[Ficlet Series] 문열어봐 (Here I Am) – THREE {Trauma Of Past}

artwork-70

ParkSeungRiHae storyline present

Title: 문열어봐  [Here I Am]

Subtitle: THREE – Trauma Of Past

Main cast: Oh Sehun and Kim Yerim (Yeri)

Length: Ficlet-Series

Rating: General – PG 13

Summary:

I’m still here, waiting for you

Poster by NJXAEM POSTER ART/ @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

Disclaimer: Sebagian besar ide cerita ini terinspirasi dari lagu ‘Here I Am’ yang dinyanyikan oleh Kim Jong Woon atau Yesung Super Junior yang jadi main song di album mini pertamanya. Selain dari garis besar lagu itu, cerita dikembangkan dari imajinasi author sendiri, jadi apabila ada kesamaan dengan cerita lain, jangan bilang aku plagiator karena aku juga jarang baca FF dan sekadar senang membuat FF doang.

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!! SHOW US SOME RESPECT! Tolong tuliskan komentar atau apapun itu di kotak komentar untuk membangun author menjadi lebih baik lagi karyanya. Gamsahamnidaa..

Love, Euri

HAPPY READING ^^

“Aku tidak pernah menikahi Jeon Jungkook, Oh Sehun. Mimpi indah kami, bukan aku rasa itu mimpi terburukku, hancur, lenyap, kala dia sama sekali tidak datang ke gereja saat acara pemberkatan akan dimulai. Dia sungguh membuat keluargaku malu.”

Sehun ternganga lebar. Dia seratus persen shock. Pemuda itu tidak dapat berkata-kata. Sehun merasakan nyawanya seakan tercabut tiba-tiba mendengar pernyataan Yeri yang sama sekali tidak masuk akal baginya.

Bagaimana bisa?

“Ke..kenapa?”

Yeri kembali tersenyum penuh kesakitan. “Karena dia telah mengkhianatiku, Oh Sehun. Dia tidak sebaik yang kau kira.”

“Kau yakin itu Jeon Jungkook? Dia sahabat terbaikku! Dia takkan mengkhianati cintanya sendiri!” pekik Sehun marah. Seakan marah Yeri menuduh Jungkook – sahabatnya – mengkhianati cintanya sendiri.

Yeri menggeleng lemah. “Tapi ini yang terjadi, Sehun-ah. Jika saja aku sudah menikah dengan Jungkook, bukankah harusnya ada cincin yang tersemat di jari manisku?”. Yeri menunjukkan tangan kanannya. Jari manisnya kosong tak bertuan.

Sehun menatap nanar Yeri. Jadi, selama ini rasa sakit hatinya sia-sia? Ternyata Yeri tidak menikah dengan Jungkook?

Sehun merasakan ada sesuatu yang mengganjal hatinya. Ada fakta yang tidak saling menyambung.., Sehun yakin semua kejadian ini menjadi janggal karena Sehun ingat betul bagaimana bahagianya Jungkook ketika mengunjunginya sehari sebelum pernikahannya dengan Yeri.

Maldo andwae.. (ini tidak mungkin), di pikiran Sehun kini dipenuhi oleh berbagai kemungkinan mengerikan yang bisa terjadi pada sahabatnya itu. Membuat pemuda itu bergidig sendiri.

“Bukankah kau sudah mempersiapkan segalanya dengan Jungkook? Kau bahkan sudah memilih cincin kawin kalian kan?”

Yeri mengangguk. Gadis itu heran melihat raut wajah Sehun berubah serius dan nampak berpikir keras. “Kenapa kau tidak jadi menikah dengannya?”

“Dia tidak datang ketika hari pemberkatan.”

“Tanpa kabar?”

“Tanpa kabar.” jawab Yeri mengangguk pasti. Sehun menghela napasnya dalam-dalam. Bagaimana bisa Jungkook meninggalkan Yeri begitu saja? Ini sama sekali bukan pribadi Jungkook yang ia tahu. Jungkook yang bertanggung jawab.

“Jadi, apakah aku bisa menikah denganmu?”. Yeri tiba-tiba kembali menanyakan hal itu.Dahi Sehun mengeryit. Ini bukan pertanyaan yang bisa langsung ia jawab.

“Nyonya Kim.. kau bisa tinggal di flatku sekarang.. Tapi, aku tetap tidak bisa menikahi putri Anda. Kim Yerim.”. Sehun berlalu melewati Yeri tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. Apa?! Dia masih bersikeras tidak mau menikahiku? Kemana Sehun yang aku kenal dulu?

Yeri yakin sekali, jika itu memang Oh Sehun yang dulu, pemuda itu pasti akan langsung mengiyakan pertanyaannya itu dengan senang hati. Tapi, ini? Apa ini?

“Baiklah. Terima kasih banyak, Nak.. Aku berhutang budi padamu..”

Sehun tersenyum meyakinkan. Raut sedih dan kagetnya menguap entah kemana.

“Yeri-ah, kita pulang sekarang.. Kita akan menjemput Hyorin dulu..”

Sehun mengerjapkan matanya. Yeri mempunyai saudara? Sejak kapan? Namanya Hyorin?

Tunggu, Jungkook? Hyorin? Yeri tidak jadi menikah? Oh ayolah, Sehun berpikir.. Ini pasti ada kaitannya.. Ya, ini semua ada kaitannya, Sehun memejamkan matanya berpikir keras. Hatinya yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan semua ini.

Yeri akhirnya melangkah di samping Sehun. Ayunan kakinya terhenti sesaat. Ia menoleh untuk menatap Sehun

“Kenapa kau berubah Sehun-ah?”. Nada suara Yeri tercekat. Sehun terhenyak mendengarnya. Pemuda itu berusaha memasang raut dinginnya. Ia menguatkan hatinya sendiri sekali lagi. Tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih pucat.

“Karena aku berusaha menepati janjiku sendiri, Yeri-ah.. Selamat tinggal.. Dan cobalah untuk mengerti perasaanku saat itu.”

Sehun berbalik dan melangkah masuk ke dalam kamarnya. Yeri mematung kembali melihat Sehun nampaknya sudah benar-benar dingin dan tak mempunyai perasaan barang sepeser pun untuknya lagi.

“Yeri! Cepat! Hyorin harus dijemput sekarang!”

“Aishh.. kenapa dia tidak naik taksi saja? Dasar manja!” rutuk Yeri kesal. Ia buru-buru memasukkan kakinya ke dalam sepatunya. Matanya melirik ke arah kamar Sehun sekali. Tak sengaja, dia melihat kepala Sehun menyembul dari balik pintunya. Tatapan elangnya memperhatikan seluruh gerak-gerik gadis itu.

Merasa ketahuan, Sehun buru-buru menghilang lagi di balik daun pintu bercat krem itu.


“Yeri-ah! Kau sudah mengepak semua bajumu?”. Teriakan Nyonya Kim dari bawah membuat Yeri mendesah frustasi. Dirinya sedang berusaha memasukkan seluruh bajunya ke dalam koper. Sudah ditekan, sudah diinjak, tetap saja seluruh bajunya tidak bisa muat ke dalam koper.

“Kita akan berangkat setengah jam lagi!”

“Ya ampun!! Bisakah kau tidak berteriak-teriak seperti itu, eomma?! Aku tidak tuli!!” protes Yeri kesal.

Ting.. tong..

Yeri mematung kala bel rumahnya berbunyi. Ia paling membenci suara bel rumahnya karena selalu mengingatkannya pada malam buta, hujan deras, yang membawa berita kematian ayahnya atau Tuan Kim.

“Dengan kediaman keluarga Kim?”

“Ne..”. Yeri menjawab sembari mengangguk mengiyakan. Tampak dua polisi pria di hadapannya, memandangnya dengan sedikit khawatir. “Apakah ibumu ada di rumah, adik kecil?”

Kuping Yeri memanas mendengar kata adik kecil. Tapi, nampaknya itu bukan masalahnya sekarang. Yeri menggeleng cepat. “Dia sedang ada di luar untuk sementara.”

Salah satu polisi itu seperti membisikkan sesuatu kepada rekannya. Yeri samar-samar dapat mendengar apa yang dia katakan. “Apakah kita harus memberitahunya sekarang?” yang mendapat jawaban anggukan dari rekannya.

“Nona Kim… Aku menyampaikan rasa belasungkawaku yang sebesar-besarnya atas kematian ayahmu atau Tuan Kim.”

Nyawa Yeri seakan direnggut secara paksa oleh malaikat maut. “Apa yang kau katakan barusan?”. Tangan Yeri meraih kerah baju polisi itu dan mencengkramnya erat-erat. “Katakan bahwa aku salah dengar!!!” teriak Yeri langsung histeris. Tangannya menggoncang-goncang kuat kerah baju sang polisi hingga menyebabkan dia nyaris tercekik.

“Nona! Nona! Tolong lepaskan dulu! Kami akan memberikan penjelasannya.. Tolong.. Kami mohon bersabar dan berbesar hatilah, Nona..” bujuk rekan si polisi yang sedang jadi korban amukan emosi Yeri. Perlahan, Yeri tersadar melihat tangannya yang masih mencengkram erat kerah si polisi.

Air matanya mengalir dengan deras tanpa dapat ditahan. Yeri tersedu hebat, ia menutup wajahnya sendiri.

“Lalu, dimana ayahku, Pak Polisi?” tanya Yeri susah payah menyeimbangi suara sedu sedannya agar kata-katanya bisa terdengar. “Dia ada di kamar jenazah Kepolisian Seoul sekarang.. Dia ditemukan di pinggir jalan terguyur hujan malam-malam seperti ini ketika kami sedang melakukan patroli.”

Mata Yeri membulat. Tangisannya kembali meledak. “Apa?! Di pinggir jalan??”. Yeri meraung-raung kembali mendengar kenyataan pahit dan sangat tidak manusiawi itu.

“Ada apa ini?”. Suara tenang Nyonya Kim agak bergetar melihat ada dua polisi di ambang pintu rumahnya. Ditambah lagi suara tangisan Yeri sudah didengarnya sejak memasuki halaman rumah.

Dengan cepat, Nyonya Kim segera memeluk Yeri yang masih menangis histeris. Matanya beralih menatap kedua polisi di hadapannya kini. Sinar matanya menunjukkan ketakutan dan rasa was-was yang tinggi.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

“Maafkan kami, Nyonya.. Karena kami datang pada saat seperti ini. Kami menemukan jasad suamimu di pinggiran jalan terguyur hujan kira-kira sejak dua jam yang lalu. Diperkirakan dia sudah meninggal beberapa jam sebelumnya. Ada bekas luka tembak di perutnya yang masih baru.” jelas si polisi cepat. Nampaknya ia sudah tidak tega akan membuat kedua wanita menangis bersamaan di depannya.

Nyonya Kim tertegun. Wanita itu berusaha mengumpulkan nyawanya sendiri yang sempat langsung terlepas mendengar berita mengagetkan itu. Ia berusaha untuk tetap tegar karena tidak mau membuat Yeri bertambah sedih.

“Di..dimana?”. Nyonya Kim berusaha keras menjaga agar suaranya tidak bergetar. Sayangnya, usahanya sia-sia.

“Di dekat coffee shop Liberty yang ada di kawasan Dongdaemun.”

Deg. Jantung Nyonya Kim berhenti berpacu. Air matanya mengalir perlahan. Ia ingin sekali menangis, meneriakkan seluruh rasa sedihnya, namun, hatinya terlalu ngilu, terlalu pedih untuk melakukan semua hal yang sudah seharusnya ia lakukan itu. Tenggorokannya begitu kering dan lidahnya menjadi kelu sekarang.

Nyonya Kim menundukkan kepalanya. Menyembunyikan air mata yang mulai membanjir deras. Wanita itu benar-benar kuat. Tegarnya tak terkira. Cepa-cepat, Nyonya Kim menyeka air matanya dengan ujung mantel panjangnya dan memulaskan sedikit senyum di wajahnya.

“Baiklah. Terima kasih atas kerja keras kalian ya.. Dimana kami bisa mengurus jasad suamiku?”

“Di kamar jenazah Kepolisian Seoul, Nyonya. Aku minta maaf telah membawa kabar buruk ini..”

Nyonya Kim tetap tersenyum hangat. “Tidak apa-apa. Seharusnya aku yang berterima kasih karena kau sudah repot datang kesini di tengah hujan deras yang hampir membuat badai ini..”

“Kami permisi dulu, Nyonya Kim. Semoga Tuhan memberkati keluarga kalian..”. Kedua polisi itu menundukkan kepalanya sejenak dan pergi ke luar pagar menerabas hujan. Setelah terdengar bunyi pintu ditutup, suara mesin mobil yang dinyalakan terdengar. Lama-lama menghilang karena tertelan bunyi derasnya tumpahan air dari langit.

Air mata Yeri kini sudah kering. Tidak ada lagi air mata yang bisa ia keluarkan. Hanya rasa perih tak terkira yang menusuk-nusuk hatinya membuat napasnya sungguh sesak.

Kenapa masalah terjadi begitu bertubi-tubi? Kenapa juga nyawa Ayah harus dicabut sekarang? Persis satu minggu setelah aku gagal menikah dengan Jungkook? Apalagi nanti? Apa masalah yang harus kuhadapi? Tuhan! Jawab!

Terdengar suara ribut-ribut di bawah. Membuat Yeri segera terbuyar lamunannya. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Aku tidak boleh larut dalam kesedihan lama lagi..

“Nyonya Kim.. Kau harus berangkat bersamaku..” ucap Sehun berada di ambang pintu dengan raut wajah khawatir. Kening Nyonya Kim berkerut heran. “Kenapa kau tiba-tiba ingin menjemput kami? Kami akan naik mobil sendiri diantar oleh Hyorin..”

Sehun langsung menggeleng kuat-kuat. “Jangan, kumohon jangan berangkat bersama Hyorin, anak Anda..”. Sehun lalu merendahkan suaranya.

“Anda dalam bahaya Nyonya.. Begitupun Yeri..”

Mata Nyonya Kim membulat sempurna. Apa maksudnya? Berusaha menakut-nakuti aku?

“Nak..”

“Aku tidak bergurau, Nyonya.. Kumohon turuti apa yang aku katakan..”

Yeri menuruni anak tangga perlahan, melongok penasaran ke arah pintu utama.

“Lalu bagaimana dengan Hyorin?” tanya Nyonya Kim khawatir.

“Dia dimana sekarang?”

“Dia sedang keluar membeli peralatan tambahan untuk dipasang di flatmu..”

Sehun nampak berpikir sejenak. Raut ragu-ragu memenuhi wajahnya. Aku harus segera berangkat sebelum Hyorin datang.. Jika memang rencana yang aku pikirkan akan berjalan sama..

“Baiklah, cepat kita berangkat sebelum Hyorin datang lagi kesini..”

Sehun langsung mengangkut beberapa koper besar yang sudah ditaruh Nyonya Kim di depan rumah. Namun, Nyonya Kim langsung menahan tangannya.

“Kita meninggalkan Hyorin begitu saja?”

Sehun berdecak kesal. “Ya ampun, Nyonya Kim.. Aku berusaha melindungimu. Tolong, turuti permintaanku kali ini.”

“Bagaimana jika kau ternyata orang jahat?” serang Nyonya Kim tiba-tiba. “Jika aku orang jahat, Tuan Kim takkan menyuruhku menjual flat kepada keluargamu sebagai tempat berlindung.. Jebal, cepatlah sedikit..”

Nyonya Kim mengangguk. Sehun berhasil meyakinkannya. “Geureom, aku akan bersiap.”

“Yeri!! Kim Yerim!! Bersiaplah!”

Ne, eomma! Aku sudah siap!” balas Yeri setengah berteriak lalu suara riuh rendah roda koper besar yang beradu dengan setiap anak tangga memenuhi rumah yang sudah dikosongkan itu. Suaranya memantul-mantul membuat bunyi berisik yang tak kunjung mereda.

“Cepat.” ujar Sehun dingin begitu Yeri sampai di pintu rumah. Yeri tersenyum kecut melihat Sehun malah semakin dingin seiring bertambahnya hari. “Kajja..”. Sehun menarik koper Yeri terburu-buru. Tak sengaja, ia juga menggenggam tangan pemiliknya sekaligus. Membuat pipi Yeri merona merah otomatis. Bagaikan tomat.

Sebersit senyuman tipis muncul di bibir pemuda itu melihat keadaan Yeri.

Ya ampun, bahkan dia menjadi lebih lucu sekarang. Hah, kau mencoba untuk membuatku kembali jatuh hati lagi, Kim Yerim?

“Oh! Hyorin datang..” celetuk Yeri ketika melihat sebuah mobil sedan putih membelok di tikungan depan. Sehun mendesis kesal. Kenapa perempuan itu datang di saat yang tidak tepat?

Bip.

Hyorin mengunci mobilnya lalu bergegas masuk ke dalam rumahnya. Matanya melebar sempurna melihat siapa yang sedang membantu adiknya beserta ibunya di depan rumah. Seketika, ia merasakan jantungnya jatuh ke dasar lambung. Rasa sesak kini memenuhi rongga dadanya bagaikan tak ada oksigen yang bisa digunakannya sekarang.

Disana, pemuda itu menatapnya dengan mata kelabunya yang dingin. Memancarkan aura permusuhan yang kuat. Memandangnya dengan menjijikkan seolah-olah Hyorin adalah wanita jalang yang busuk. Atau memang itu kenyataannya. Entahlah.

“Sehun-ah..”. Bibir Hyorin bergetar menyebut nama Sehun. Badannya seakan dipaku di tanah melihat Sehun semakin menatapnya benci seiring dengan langkahnya yang makin mendekat.

Suasana bahkan menjadi semakin dingin. Sehun juga seolah menjadi patung es yang hanya menatap ke arah Hyorin dengan tatapan ‘beraninya-kau-menyebut-namaku-lagi’. Cengkraman Sehun di tangan Yeri semakin mengerat. Yeri meringis kesakitan karena kekuatan besar pemuda itu cukup kuat.

Kedua alis Yeri langsung bertautan sesaat setelah mendengar Hyorin memanggil nama Sehun dengan akrabnya. “Eonni, kau mengenal Sehun?”. Yeri memecah ketegangan di antara Sehun dan Hyorin. Gadis itu menyadari ada aur permusuhan di antara Sehun dan Hyori yang begitu kuat. Ada yang salah, batin Yeri bingung.

Kenapa Sehun nampak sangat membenci Hyorin? Apalagi tadi Sehun menyuruhku dan eomma berangkat tanpa Hyorin? Ada apa sebenarnya? Ada apa antara Hyorin dan juga Sehun? Mereka mantan kekasih?

Pikiran absurd itu mulai berputar-putar di benak Yeri.

“Yeri, kajja. Kau dan Nyonya Kim tetap akan berangkat bersamaku. Kumohon, tepati perkataanku sekarang.”

“Yeri-ah..”. Nyonya Kim muncul di pintu depan. Senyumannya mengembang melihat Hyorin sudah ada di rumah. “Hyorin-ah! Cepat bantu eomma masukkan koper ke dalam mobil Sehun-ssi..”

“Tidak usah. Aku saja, eomeonim. Aku yang akan membereskan semuanya.” sela Sehun. “Dan panggil aku Sehun saja. Anggap aku sebagai anakmu sendiri.” tambah Sehun yang seketika membuat senyuman manis Nyonya Kim mengembang.

Arra. Maafkan aku karena telah membuatmu lelah.”

Ne, tidak apa-apa, eomeonim.”. Sehun menggangguk lantas menyeret koper Yeri beserta orangnya ke dekat mobilnya.

“Hyorin adalah kakakmu?”. Sehun langsung mencecar Yeri dengan pertanyaan itu ketika mereka sudah sampai di mobil. Yeri mengangguk seraya membantu Sehun memasukkan kopernya ke bagasi. “Em, dia gadis bersemangat yang manis. Kau pasti akan menyukainya.” jawab Yeri yakin. Namun, suaranya melemah ketika mengatakan kata ‘menyukainya’.

Sehun memejamkan matanya panik. Ayolah, Sehun.. Kenapa bisa kau bertemu Hyorin disini? Mimpi buruk apa kau semalam?

“Kau yakin dia adalah kakakmu? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku?”

“Eng, Hyorin sejak kecil dititipkan kepada Bibi kami yang ada di Amerika, jadi aku seperti tak merasa punya kakak. Baru saja 3 bulan yang lalu dia benar-benar pindah ke Korea.”

Good, Sehun. Kau tak salah orang..

“Sebelumnya dia pernah mengunjungi kalian?”

“Tentu saja. Tapi, dia paling lama berada di Korea hanya 5 hari. Bahkan tak pernah sampai seminggu. Dia sangat sibuk.”

Sibuk karena alasan lain, Yeri-ah.., rangkaian kejadian tak mengenakkan itu kembali terulang di benaknya.

“Kenapa kau terdengar panik ketika Hyorin eonni datang? Kenapa Hyorin eonni juga terlihat kaget melihat kedatanganmu? Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?”

Sehun diam. Ia memilih bungkam untuk pertanyaan Yeri yang satu ini. Sehun bergegas pergi dari sisi Yeri dan berjalan gusar menuju ke depan pintu lagi untuk mengangkat koper-koper yang masih bertumpukan.

Haloo!!! Komen juseyoo ^^ Gamsahamnidaa

Love, Euri {}

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s