[Chapter] Distance – #4. Between Love And Your Future

artwork-69.jpg

Title: Distance

ParkSeungRiHae storyline

Cover by:  @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

Main cast: Cho Kyuhyun, Bae Irene, Kim Taehyung/V (BTS)

Disclaimer: Seluruh cast yang ada di sini merupakan milik Tuhan Yang Maha Esa dan juga kedua orang tuanya. Seluruh plot dan ide cerita FF ini murni berasal dari imajinasi saya dan bukan merupakan FF remake atau apapun itu.

DON’T BE PLAGIAT! DON’T BE SIDERS! Show us some respect..

Thanks, Euri

HAPPY READING, GUYS! ^^ AND HAPPY IED MUBAROK!!

Marriage is not all about love, Kyuhyun-ah.. – Cho Hye Kim (Bibi Cho)

 Seulgi menggigit bibirnya sendiri dengan gugup kala melihat layar plasma raksasa yang ada di kawasan Gangnam menampilkan fotonya dengan Kai yang tadi diambil oleh teman-teman pengkhianatnya. Fotonya ketika sedang dicium kilat oleh pemuda brengsek yang dipuja-puja banyak gadis itu. Menyebalkan sekali. Dan lebih parahnya, jantungnya sukses copot berkat ciuman pemuda itu. Kekesalannya menumpuk dua kali lipat sekarang.

Sekarang, semua rekan kerjanya memperlakukannya bagaikan tersangka pembunuhan yang tak pantas diajak bicara sama sekali. Kejam sekali. Padahal, ini bukan masalah yang ditimbulkan olehnya. Melainkan karena ulah Kai yang tidak ia duga sama sekali.

Menyebalkan! Sekarang apa yang harus kulakukan?

Detak suara argometer yang merangkak naik meneror Seulgi. Apalagi bangunan K Entertainment sudah nampak di depannya.

Datang ke kantor kami sekarang juga, Nona Kang.. Ada beberapa hal yang harus kami urus denganmu terkait skandalmu bersama Kai.

Sialan! Kenapa pemuda itu menyimpan dendam yang begitu besar? Harusnya aku menyalahkan Heenim sunbaenim. Dia biang kerok semuanya. Hah! Dia bahkan tak membelaku sama sekali terkait skandal ini. Menyebalkaaannn!!!!, darah Seulgi rasanya mendidih dan kepalanya mau pecah terdorong emosi yang membludak.

Begitu taksi berhenti, Seulgi bergegas keluar dan membanting pintu taksinya tanpa ampun. Ia pun membayar biaya taksi dengan uang 1.000 won serta tidak mengambil kembaliannya padahal harga yang harus ia bayar cuma 400 won. Dia sudah gila dengan amarah yang meronta untuk meledak dalam dirinya.

Blam!

Seulgi membuka pintu ruangan yang diberitahukan resepsionis padanya secara kasar. Tampak wajah terkejut menyambutnya lalu berubah menjadi dingin dan menyeramkan. Seulgi tak takut sama sekali. Ia yakin wajahnya juga tidak kalah menyeramkan karena dibutakan oleh amarah.

“Bagus sekali. Kau sudah datang Nona Kang… Silahkan duduk.” ucap pria paruh baya di belakang meja besar tersebut. Kai atau Kim Jong In sudah duduk disana dengan melayangkan tatapan misteriusnya. Seulgi berusaha tidak menghiraukannya.

Seulgi duduk tanpa sepatah kata pun dan menusuk pandangan pria tua yang ia tahu adalah CEO Entertainment ini.

“Apakah kau tahu sekarang skandalmu sedang jadi hot issue, Nona Kang?” tanyanya tajam. Seulgi mengangguk pasti.

“Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya?”

“Kai-ssi kemungkinan akan dicabut izin kerjanya di entertainment ini sementara atau malah diberhentikan total dan kehilangan pekerjaannya.”

“Kau memang wartawan sejati. Kalau kau tahu seperti itu, kenapa kau tetap melakukannya?”

“Kai-ssi yang melakukannya terlebih dahulu. Dia datang ke kantorku dalam keadaan setengah mabuk dan marah-marah tidak jelas padaku. Untung saja dia tidak terlibat kecelakaan lalu lintas karena mabuk.”. Kai menatap Seulgi marah. Bagaimana bisa dia mengatakan semua hal jelek itu di depan sang CEO?

Seulgi tak peduli. “Dengarkan aku, Tuan Oh, aku bukanlah wartawan yang ingin mengeruk popularitas dengan cara seperti ini. Dan penyebab skandal ini bukanlah aku. Bisakah kau mengerti?”

Tuan Oh – sang CEO – terdiam sejenak. Tiba-tiba, dia mendapatkan sebuah ilham.

“Bagaimana jika skandal ini kuteruskan untuk menutupi skandalmu yang sebelumnya bersama Krystal, Kai-ssi?”

Pandangan Tuan Oh tertoleh ke arah Kai yang masih menatap Seulgi penuh emosi sedangkan gadis itu tampak tidak acuh sama sekali.

“Bagaimana bisa?” protes Seulgi kesal. Ia bersumpah tidak ingin terlibat dengan artis lagi setelah skandal ini berlalu. Gadis itu sudah berharap masalahnya akan berakhir cepat. Tapi, apa-apaan dengan ide gila sang CEO ini?

“Aku akan mengumumkan bahwa sebenarnya kalianlah pasangan yang sesungguhnya.” ucapnya dalam dan pasti.

“APA?!”. Teriakan Seulgi dan Kai memekakkan telinga Tuan Oh. Kai lebih cepat menguasai diri dibanding Seulgi. Wajahnya berangsur rileks.

Seulgi menghirup napasnya tak beraturan. Kenapa pemuda ini sukses membuatnya berada dalam pusaran masalah dan emosi yang tidak habis-habis?

“Apakah kalian berdua setuju?”

Kai menimang-nimang sebentar. Sesaat kemudian, dia tersenyum penuh makna ke arah Seulgi. Sebenarnya, seringaian usil berserta evil smirknya. “Baiklah, Tuan Oh. Aku menyetujuinya.”

Seulgi melotot ke arah Kai yang nyengir senang karena dia merasa telah menang mengerjai gadis bertemperamental buruk itu. “Baiklah, kau juga setuju bukan, Seulgi-ssi?”

“Bagaimana jika aku menolak?” potong Seulgi berusaha mempertahankan diri. Sebenarnya, menjauhkan dirinya dari musibah tak dikira ini.

“Aku akan membuatmu tidak bisa bekerja lagi di bidang jurnalisme dengan tuntutan mencemarkan nama baik seorang artis besar.”

Seulgi merasakan seluruh badannya lemas dan kehilangan tulang belulangnya mendengar nada Tuan Oh yang memaksa sekaligus mengancamnya. “Aku akan menjaga agar pekerjaanmu tetap bisa dilakukan. Kau hanya perlu muncul di konferensi pers ketika Kai membutuhkannya.” tawar Tuan Oh yang membuat telinga Seulgi berdiri.

“Kau serius, Tuan?”. Seulgi amat mencintai pekerjaannya ini dan sungguh tidak ingin melepaskannya. Tuan Oh mengangguk meyakinkannya. Seulgi menghela napasnya pelan.

“Aku akan membuat dokumen perjanjian dulu.”

Seulgi dan Kai mengangguk serempak kala Tuan Oh berlalu kemudian. Seulgi menatap Kai penuh emosi.

“Ya! Bagaimana bisa kau menyeretku lebih jauh dalam masalah ini!! Bukan aku yang menyebabkan skandal itu!!” teriak Seulgi mencak-mencak. Kai hanya tersenyum kecil melihat kelakuan Seulgi yang kekanakan itu.

“Lalu siapa? Jelaskan padaku, Nona Kang..”

“Heechul! Kim Heechul!! Editor majalahku.. Dia yang menyuruhku untuk menulis artikel itu!!”

Kai mengendikkan bahunya tidak peduli. “Tapi, artikel itu kan ditulis atas namamu. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Nasi sudah menjadi bubur, Seulgi-ah..”

“Seulgi-ah??” pekik Seulgi bertambah marah. “Apa-apaan kau ini?! Jangan memanggilku seolah kau pernah mengenalku! Aku tak sudi sama sekali pernah kenal denganmu.”

“Tidak ada gunanya marah. Semua sudah terjadi. Dan ini akibat ulahmu sendiri..” ucap Kai tenang.

Seulgi menjambak rambutnya sendiri frustasi. “Astaga.. aku tidak percaya ini..”


“Pagi, Yeri..”

Taehyung menyapa gadis yang sedang duduk santai di kursi resepsionis itu dengan senyuman dua senti kepunyaannya merekah sempurna.

“Ah, Taehyung-ah..” balas Yeri. Taehyung lalu langsung melanjutkan langkahnya tergesa.

“Taehyung! Tunggu!”

Pemuda itu membalikkan badannya dengan segera dan menemukan gadis itu sedang berlari menyongsongnya. Pipinya yang kemerahan akibat terengah-engah membuat Yeri semakin cantik saja, setidaknya itu pendapat Taehyung tentang sahabat kecilnya itu.

Wae geurae? Ada apa?”

“Kyuhyun-ssi.. Dia belum datang. Irene juga. Dia belum datang.”

Seketika, wajah cerah Taehyung berubah mendung. Senyumannya raib ditelan bumi. Digantikan dengan rahangnya mengeras sempurna.

“Apa katamu?”. Sorot matanya berubah menjadi gelap. Yeri meringis melihat Taehyung berubah drastis seperti itu. Seharusnya dia tidak mengatakan itu tadi..

“Ah, itu, sudahlah, jangan dipikirkan..”

Taehyung mencengkram erat tangan Yeri. “Katakan padaku apa yang mungkin terjadi..”

Yeri gemetaran melihat sosok Taehyung menjadi menyeramkan seperti ini. Dia tahu Taehyung memang bisa berubah seketika karena penyakitnya itu. Penyakit skizofrenia yang dideritanya. Taehyung pasti sudah membayangkan berbagai macam ilusi yang aneh karena penyakitnya itu.

“Tidak akan terjadi apapun, Taehyung-ah.. Semuanya akan baik-baik saja..”. Yeri berusaha melepaskan diri dari cengkraman erat Taehyung. “Tae! Sadarlah! Itu hanya ilusimu!!”. Yeri memukul pipi – artinya menampar – Taehyung, salah satu cara paling ampuh untuk menyadarkannya.

Benar saja, dengan segera awan hitam yang menyelimuti pandangan Taehyung lenyap seketika. Yeri menghela napas lega. Taehyung melepaskan cengkramannya kaget. “Kau baik-baik saja, Yeri-ah?”

Yeri mengangguk. Senyuman terbit di wajahnya. “Setidaknya, kau masih bisa sadar dengan cara lama.”. Gadis itu tertawa kecil dan meninggalkan Taehyung sebab dia dipanggil Sooyoung untuk segera kembali bekerja.

Taehyung mengurut pelipisnya pelan. Sudah lama penyakitnya tidak kembali kambuh. Tapi, kenapa sekarang, setelah ia menemui Irene kembali, dengan mudah, penyakit itu kembali muncul.


*@hospital

Irene mengerjapkan matanya beberapa kali berusaha membiasakan matanya dengan cahaya silau yang menyusup ke dalam matanya. Ia menutup matanya dengan tangannya untuk mengurangi sedikit cahaya yang menerpa matanya.

Gadis itu meraba keningnya sendiri, mengecek suhu tubuhnya sendiri. “Ah lega sekali, aku sudah sehat sekarang..”. Senyumannya mengembang sendiri. “Aku akan kembali bekerja besok. Aku harus memberitahu Taehyung sekarang..”

Irene meraih ponsel di nakas tempat tidur rawat inapnya.

“Apakah kau harus memberitahu Taehyung dulu dibandingkan dengan atasanmu?”

Sontak, Irene menjatuhkan ponselnya ke lantai. Terkejut mendengar suara dingin dan tajam itu menyapanya di pagi hari seperti ini.

“Sa..sa…”. Irene tergagap tidak percaya melihat Kyuhyun ada di depannya sekarang. Memperhatikannya dengan manik mata hitam legam kepunyaannya. Irene terlalu terkejut sehingga seluruh kata-katanya terasa tersangkut di tenggorokannya.

“Oh astaga.. Kau membuatku terkejut..”. Irene mengelus dadanya. Matanya melirik ke arah lain menghindari tatapan Kyuhyun yang semakin menusuknya.

“Ponselku!!” pekik Irene menyadari ponselnya sudah terpecah belah di lantai berserakan kemana-mana. Hatinya menangis melihat ponselnya satu-satunya itu hilang begitu saja.

“Oh, astaga.. Lihat apa yang kau lakukan terhadapku, Tuan Cho!!” omel Irene sembari memunguti bagian-bagian ponselnya yang tersebar ke penjuru arah. Kyuhyun diam saja, tidak membalas kata-kata pedas Irene dan bergerak dari tempatnya lalu berjongkok membantu Irene memungut semuanya.

“Terima kasih.” ucap Irene pendek. Gadis itu terlihat mengambek seraya memperbaiki ponselnya sendiri.

Hening. Lama-lama, Irene merasa canggung juga. Apalagi Kyuhyun yang biasanya penuh dengan kata protes benar-benar membisu saat ini. Apakah ada yang salah?, gadis itu mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun yang terduduk santai di pojok ruangan di dekat jendela besar yang memungkinkan banyak cahaya masuk ke dalam ruangannya.

“Kyuhyun-ssi.. kenapa kau ada disini?” tanya Irene berhati-hati ketika melihat Kyuhyun sedang tercenung memikirkan sesuatu.

Ne?”

“Kenapa kau ada disini?”

Kyuhyun terhenyak sesaat. “Aku datang menjengukmu.”

Darah Irene berdesir. Menjenguk?, “Kenapa kau repot-repot sekali? Aku tidak sakit parah.”

“Maafkan aku.”

Irene mengerjapkan matanya kaget berkali-kali. “Maaf? Untuk apa?”

“Karena aku terlalu kejam padamu. Memberikan banyak pekerjaan padahal kau sedang sakit. Ini pasti karena Yuri menceburkanmu ke dalam kolam tempo hari kan? Jika memang karena hal itu, aku minta maaf. Akulah yang membuatmu terjerumus dalam hal bodoh ini.” ucap Kyuhyun kaku. Matanya bahkan tidak berani menatap Irene yang memperhatikannya dengan saksama.

Pipi Irene memerah. Hatinya menghangat. Irene terdiam sesaat karena masih terlalu kaget menerima permintaan maaf dari seorang Cho Kyuhyun. Gadis itu terus terdiam hingga Kyuhyun memecah lamunannya.

“Apa aku mengatakan hal yang salah?” tanya Kyuhyun khawatir. “Eoh? Ani, aku hanya tersentuh dengan permintaan maafmu..” jawab Irene polos yang mau tak mau membuat Kyuhyun terkekeh.

“Sebesar itukah efek permintaan maaf dari seorang Cho Kyuhyun, eoh?”

Irene merengut. “Tentu saja tidak.” balasnya galak. Kyuhyun menyeringai jahil. “Kau memang sudah sembuh. Galakmu kambuh..”. Ucapan Kyuhyun sukses membuat Irene melemparkan bantal ke arah pemuda itu. Kyuhyun terkekeh puas lagi. Mengerjai Irene merupakan hal yang sudah sangat lama tidak ia lakukan.

Ternyata, ia sangat merindukan polah gadis itu juga. Sebesar apapun usaha Kyuhyun membenci Irene untuk tetap mempertahankan niat awalnya untuk membuat jarak di antara mereka, nampaknya akan luluh juga.

Taehyung terdiam mematung di depan pintu kamar Irene. Dari jendela pintu, ia bisa melihat Irene sedang bercanda dengan Kyuhyun begitu akrab. Senyuman lepas dari kedua orang itu pun terlihat sangat manis. Taehyung mengepalkan tangannya sendiri. Berusaha menahan gemuruh dalam dadanya yang memuncak.

Jelas.. jelas sekali, Cho Kyuhyun akan menjadi rivalnya dalam perebutan Irene ini..

Jelas sekali, pemuda bertubuh lebih tinggi darinya itu mencintai Irene. Tatapan matanya tak bisa berbohong.

Ponsel Taehyung bergetar. Menandakan panggilan masuk. Nama Kim Yerim tertera disana dengan jelas.

Yeoboseyo?”

“Taehyung-ah.. cepat kemari.. ini gawat..” ucap Yeri terpatah-patah dengan suara bergetar. Taehyung menaikkan sebelah alisnya. “Ada apa?” tanyanya cepat.

“Datang saja. Sekarang!!”. Teriakan panik Yeri memutus sambungan telepon. Taehyung mengeryit menatap ponselnya. Perasaan tidak mengenakkan menilisik hatinya. Tanpa pikir panjang, pemuda itu segera berlari menuju basement rumah sakit untuk kembali ke kantor.


“Aku sebenarnya kesini untuk memberitahu sesuatu padamu..”. Irene menoleh mendengar nada suara Kyuhyun berubah serius. Gadis itu turun dari tempat tidurnya dan duduk di samping Kyuhyun. Bersiap mendengarkan perintah pemuda itu.

“Apalagi?”

“Hari ini, Bibiku mengundang kau untuk makan malam.”. Irene membelalakkan matanya.

Mwo? Aku?”. Irene menunjuk dirinya sendiri dengan raut kaget setengah mati. Kenapa Kyuhyun hari ini membawa terlalu banyak kejutan untukku?

Kyuhyun mengangguk pelan. “Malam ini merupakan agenda makan malam keluarga. Bibi bilang jika kau memang pacarku, kau harus datang malam ini. Dan dia tidak menerima alasan apapun jika kau tidak datang.”

“Aku.. tidak mau datang.” jawab Irene cepat dengan takut-takut. Kyuhyun memandangnya panik.

“Kau harus ikut.. Atau aku akan terpaksa menikahi Kwon Yuri!! Aku tidak mau melakukan itu.. Kau harus membantuku!” paksa Kyuhyun agak kekanakan. Seperti anak kecil yang merengek dibelikan mainan baru.

Irene diam sebentar. Menimang-nimang apakah pantas jika dia datang dengan pakaian yang serba seadanya. Lagipula, hari ini juga merupakan jadwal ibunya kemoterapi. Irene biasa mengunjunginya setiap kali Nyonya Bae selesai di kemo. “A..ak..aku ada janji dengan ibuku hari ini..”. Irene beralasan.

Kyuhyun mengerutkan dahinya. “Janji? Janji apa? Kau baru saja sakit dan ibumu masih memaksamu menunaikan janjimu pada ibumu sendiri?”

Irene mengerang. Ia lupa Kyuhyun sulit sekali untuk diperdaya dan diberikan alasan sesederhana itu.

“Aku.. aduh, aku memang punya janji dengan ibuku..”

Aku tidak ingin kau tahu bagaimana buruknya keluargaku setelah perusahaan kami diambil alih oleh keluargamu, Kyuhyun-ah.. Semuanya hancur berantakan. Bibimu pasti tahu siapa aku sebenarnya..

“Kau berbohong.” ucap Kyuhyun pasti melihat bola mata Irene yang tidak bisa diam menatapnya, terlihat gelisah.

“Baiklah.. Aku merasa tidak mempunyai baju yang pantas untuk datang ke rumahmu. Baju paling pantas yang kupunya hanya pakaian kerja ini.”. Irene menunjuk bajunya yang tergantung di sudut kamar.

Kyuhyun menyipitkan matanya. “Apakah kau berusaha memerasku?”

Irene membulatkan matanya. “Bukan itu maksudku! Aku juga kan tidak ingin menjelekkan kau di depan keluargamu sendiri. Bahwa kau mempunyai selera yang buruk dalam memilih wanita.”

Kyuhyun terbahak mendengar perkataan Irene yang memang sangat polos. Kenapa seluruh perkataannya terasa sangat polos?

Arra.. Kau sangat baik sampai berpikir sejauh itu.. Bagaimana bisa aku malah tidak memikirkannya?”

Karena aku sudah tahu kriteria wanita yang kau idamkan seperti apa sejak kita masih bersekolah, Kyu.. Kau hanya sudah melupakan semuanya. Semua yang kita lewati bersama.

“Ja, kata dokter, kalau kau sudah merasa baikan hari ini, kau boleh pulang.”

Jinjjayo?” tanya Irene gembira. Badannya terasa pegal semua karena terlalu lama berbaring di ranjang rumah sakit yang keras. Ia rindu dengan tempat tidurnya sendiri walaupun hanya sebuah springbed kecil kuno yang sederhana.

“Waa… akhirnya aku bisa keluar dari sini..”. Irene bergegas bangkit dan membereskan barangnya. “Panggilkan perawat sekarang, Kyu-ah.. Aku sudah sembuh.”

Kyuyun tersenyum kecil mendengar Irene langsung berbicara dengannya menggunakan bahasa banmal. Ia tidak mempermasalahkannya, toh, mereka juga pernah bersahabat erat dulu.

Tidak, Cho Kyuhyun.. Kau tidak boleh kembali mencintainya.., senyumannya terpaksa Kyuhyun lenyapkan seketika.

Kajja, aku akan membelikan baju untukmu nanti malam. Dengan syarat.”. Suara berat Kyuhyun membuat Irene menoleh dengan raut bingung. Kenapa terasa menjadi sangat serius lagi?

“Syarat?”. Irene menatap Kyuhyun disana dengan raut misteriusnya. “Kau harus tetap berada di sisiku sampai semua permainan ini berakhir.” ucap Kyuhyun kembali dingin. Irene memiringkan kepalanya mendengar perubahan emosi dalam suara Kyuhyun.

Kenapa seketika dia berubah menjadi dingin lagi? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?

Irene menatap siluet Kyuhyun yang tegas dari samping. Apakah selamanya kita takkan pernah kembali seperti dulu, Kyu?


Taehyung berlari kecil memasuki lobi Cho Corp. Matanya membelalak begitu melihat beberapa kreditor utama yang menyokong dana perusahaan sedang berkumpul mengelilingi resepsionis. Sekilas, Taehyung bisa melihat Yeri tampak ketakutan.

“Yeri-ah!!”

Yeri terloncat dari tempat duduknya. Ia sangat lega bisa mendengar suara Taehyung sekarang. “Permisi, Tuan-tuan..”. Taehyung menyentuh pelan bahu salah satu orang yang bergerombol disitu.

“Aku Kim Taehyung, sekretaris CEO disini. Ada yang bisa aku bantu?”

Seringaian sinis segera terlukis di seluruh wajah orang-orang yang ada di hadapan Taehyung. Mata mereka yang menusuk tajam seperti elang membuat Taehyung menelan ludahnya susah payah untuk menghilangkan rasa takutnya.

“Dimana Cho Kyuhyun sekarang? Kami harus membuat perhitungan dengannya.” ucap salah satu dari mereka dingin.

“Tapi, Tuan Jo, Cho sajangnim sedang tidak ada disini. Dia sedang ada urusan di luar.”

Urusan di luar? Hah! Dia bersenang-senang bersama Irene sementara aku disini menggantikan posisinya setengah mati?, maki Taehyung kesal. Pemuda itu memejamkan matanya untuk meredam amarah di hatinya yang mulai membakar.

“Silahkan ikuti aku.”. Taehyung dengan sopan mempersilahkan mereka untuk naik ke lantai atas tempat ruangan tamu berada. Taehyung memberikan kode pada Yeri. “Siapkan beberapa makan siang untuk mereka. Dan setelah kau melakukan apa yang kusuruh, susul aku di ruang tamu. Aku membutuhkan juru ketik. Oke?”

Yeri membentuk sinyal oke dengan tangannya. Taehyung mengerlingkan sebelah matanya. Membuat detak jantung Yeri berpacu lebih cepat lagi setelah tadi berpacu cepat karena ketakutan. Sesaat, dia terhipnotis oleh kelakuan Taehyung. Cepat-cepat, Yeri menggelengkan kepalanya dan memukul kepalanya berkali-kali.

“Ayo, Kim Yerim!! Ini waktunya fokus, bodoh!”. Yeri mengepalkan tangannya memberikan semangat pada diri sendiri.

“Sooyoung eonni!! Aku perlu bantuanmu!” panggil Yeri kala melihat Sooyoung berjalan tergesa melintasi lobi.


Suasana hening menyelimuti kabin mobil Kyuhyun. Irene tidak bersuara sama sekali. Begitu pun dengan Kyuhyun. Hati mereka masing-masing sedang porak poranda tidak keruan.

Aku bersamanya lagi setelah beberapa lama.. Aku sudah berusaha membencinya, tapi, kenapa ketika aku menatap matanya itu, pertahananku seakan luluh begitu saja? Ayolah, Cho Kyuhyun, kau adalah pemuda yang akan menepati janjimu sendiri. Apakah karena Irene kau tidak bisa menepatinya? (Kyuhyun’s thought)

Ah.. Berada tepat di samping Kyuhyun membuat memori dalam otakku berputar seperti rol film. Kenapa dia seakan membuatku jatuh hati lagi? Aku sudah bertekad takkan pernah menyukainya sejak dia mempunyai pacar dulu. Aku tidak ingin hubungan kami sekarang akan lebih buruk lagi. Mungkin saja, Kyuhyun menjauhiku karena dia tahu aku menyukainya.

Banyak orang berpendapat, tak seharusnya kau jatuh cinta pada sahabatmu sendiri. Tapi, aku juga tidak tahu kenapa itu malah tidak berlaku padaku. Aku harus mengakui, Kyuhyun yang penuh pesona ini memang memikat hatiku sejak pertama kali aku melihatnya. Sama seperti wanita lain. Tapi, ayolah.. Jika saja aku tahu hasilnya akan seperti ini, kami dipisahkan oleh jarak yang membuatku tersiksa, aku takkan pernah jatuh cinta padanya.

Seandainya saja waktu bisa diputar kembali.. (Irene’s thought, semua paragraf setelah Kyuhyun’s thought)

Irene menghela napasnya berat. Ia menumpukan kepalanya pada sebelah tangannya. Matanya terasa berat.

Kyuhyun mencengkram stir mobilnya dengan erat. Pandangannya tak pernah lepas dari jalanan yang ada di hadapannya. Degup jantungnya yang tidak berpacu dengan normal membuat Kyuhyun putus asa.

Sudah kubilang, Cho Kyuhyun!! Kau tidak boleh kembali menyayanginya, atau semuanya akan kembali menjadi rumit. Kau akan hidup dalam penyesalan seumur hidupmu.

Kyuhyun tidak tahan. Sebelah tangannya mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut memusingkan kuat-kuat.

“Irene-ah, kita sudah sampai.” ujar Kyuhyun keras setelah memarkirkan mobilnya di tepi jalan. Di depan butik pakaian langganannya.

Tidak ada jawaban. Kyuhyun menoleh. Irene. Tertidur di sampingnya. Dengan rautnya yang sangat polos dan cantik. Bagaikan malaikat kecil yang tertidur dalam mobilnya. Kyuhyun menelan ludahnya sendiri melihat bagaimana cantiknya saat ini.

Sial! Bae Irene!! Kenapa kau terus berusaha membuatku kembali jatuh hati padamu?

Tangan Kyuhyun terulur tanpa ia sadari. Jemarinya yang tampak kokoh menelusuri garis wajah Irene yang tegas. Kulit gadis itu terasa begitu lembut di saraf jemarinya. Membuat darahnya berdesir setiap kali jarinya bergerak berpindah merapikan anak rambut yang membingkai wajah gadis itu.

Irene-ah.. Apakah aku akan tetap seperti ini? Apa aku harus menghapuskan jarak di antara kita?


“Kalian harus membayar kredit perusahaan kalian kepada kami sekarang juga.”

Taehyung menatap para kreditor di hadapannya tidak terima. “Kenapa mendadak seperti ini?”. Rasanya ada yang ganjil..

“Karena perusahaan kalian sudah melewati batas pembayaran selama dua bulan lebih.”

Alis Taehyung terangkat sebelah. Baru saja semalam dia mempelajari dokumen-dokumen hutang Cho Corp. kepada para kreditor. Semuanya masih jatuh tempo tiga bulan lagi.

“Mustahil. Semua kredit kami masih jatuh tempo tiga bulan lagi.”

Tuan Jo, kreditor paling senior untuk Cho Corp, menyeringai. “Apakah kau yakin?”. Dia mengeluarkan secarik kertas dari tasnya perlahan. “Bisakah kau menjelaskan apa ini?”

Tangan Taehyung mengambil dokumen tersebut dengan sekali sabet. Membacanya cepat-cepat. Matanya membulat melihat tanggal jatuh tempo kredit mereka memang sudah dua bulan yang lalu.

“Aku tidak berbohong, Tuan. Faktur yang kami terima masih menunjukkan semua kredit kami jatuh tempo tiga bulan lagi..”. Suara Taehyung bergetar. Jika begini masalahnya, perusahaan akan terancam tutup.

“Kau juga belum membayar biaya iklan para model dari N Entertainment.” ucap seorang gadis yang duduk di bangku paling ujung. Taehyung melirik sekilas. Namun, detik berikutnya dia tersadar.

“Nona Kwon? Kenapa Anda ada disini juga?”

“Aku mewakili perusahaan keluargaku untuk menagih hutang kalian.”. Mata tajam Yuri mengintimidasi Taehyung. Pemuda itu mengeraskan rahangnya melihat Yuri seperti meremehkan dirinya. Taehyung mulai mengendus apa sebenarnya maksud di balik semua ini. Kedatangan Yuri kesini menambah kuat prasangkanya.

“Apa kau hendak melanggar perjanjian antar perusahaan, Nona? Baru bulan lalu kami membayar semua biaya yang memang harus dibayar. Kami membayarnya setiap enam bulan sekali dan kau datang menagihnya lagi?”. Taehyung berusaha berkelit. Mata Yuri kini penuh dengan dendam mendengar kata ‘perjanjian antar perusahaan’.

“Bukankah sajangnim-mu yang melanggar perjanjian antar perusahaan?” kecam Yuri dingin. Dahi Taehyung berkerut. Kyuhyun? Melanggar perjanjian?

Sajangnim tidak pernah melanggar perjanjian semacam itu, Nona Kwon. Sekarang, saya mohon Nona untuk keluar dari sini jika hanya ingin mengarang alasan untuk mengemis uang kepada kami.” ucap Taehyung pedas. Dia kesal sekali dengan tatapan sinis Yuri ke arahnya. Bagaimana bisa dia meremahkan seorang Kim Taehyung?! Masa bodoh dia seorang anak CEO besar, aku tidak peduli!, teriak Taehyung dalam hatinya.

“Mengemis? Kau bilang aku mengemis?” bentak Yuri dengan nada tinggi. “Akan kubuat kalian yang mengemis kepadaku besok. Lihat saja..”. Suaranya bergetar menahan amarah. Dan mengandung ancaman yang nampaknya sangat serius. Taehyung diam saja. Tatapan matanya balas menentang Yuri. Membuat gadis itu sedikit mati kutu.

Yuri keluar dari ruangan tamu dengan kaki menghentak. Tak lupa, dia membanting pintu begitu keras hingga kusen pintunya bergetar. Taehyung mengendikkan bahunya. Ini pasti rentetan masalah tempo hari ketika Tuan Kwon dan Yuri datang ke kantor dengan urusan pribadi.

Taehyung tidak peduli. Biarkan saja Kyuhyun yang mengurus semuanya.

Yuri berjalan dengan hati yang panas membara. Harga dirinya benar-benar terluka mendengar dirinya dilecehkan Taehyung seperti itu. Hah! Bahkan pegawainya sama tengiknya dengan bossnya, rutuk Yuri dongkol.

Brukk..

“Astaga!!”. Pekikan kesakitan terdengar begitu Yuri tak sengaja menubruk seorang pegawai wanita bertubuh mungil. “Lihatlah pakai matamu, Nona!!” bentak Yuri kesal. “Astaga.. lihatlah, bajuku menjadi basah seperti ini.. Perusahaan biadab! Lihat saja, aku akan membuat kalian semua dipecat!”

“Maafkan aku, Nona Kwon.. Aku tidak sengaja..” lirih wanita itu sembari mengulurkan tangannya, hendak membersihkan baju Yuri yang terkena tumpahan kopi. Yuri segera menepis tangan itu dan bergegas pergi.

“Oh astaga, bagaimana ada gadis sekasar dia di dunia ini? Beraninya dia mengatai perusahaan yang dibangun Cho sajangnim susah payah dengan kata biadab. Lihat saja nanti!” kesal Yeri tersinggung. Gadis itu meleletkan lidahnya ke arah Yuri, melampiaskan kekesalannya.


Irene membuka matanya sedikit. Ia merasakan sesuatu yang hangat di pundaknya. Gadis itu menoleh perlahan dengan susah payah karena bahunya terasa berat.

Matanya mendelik mendapati Kyuhyun sedang tertidur pulas bersandar di bahunya. Gadis itu mengaduh. Astaga… bagaimana ini…, detak jantungnya kembali berpacu dengan abnormal. Irene salah tingkah. Otaknya macet. Bahkan hanya untuk memikirkan bagaimana caranya dia bisa menyingkirkan kepala Kyuhyun dari bahunya tanpa membuat pemuda itu bangun.

Irene mengulurkan tangannya untuk sedikit menggeser posisi kepala Kyuhyun untuk bisa disandarkan ke jok mobil. Kyuhyun tiba-tiba menggeliat dan malah menenggelamkan kepalanya lebih dalam lagi ke pundak Irene. Gadis itu benar-benar tidak bisa bergerak sedikit pun. Jantungnya berdetak cepat dua kali lipat. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang.

Sial! Kenapa juga kau harus satu mobil dengan Kyuhyun seperti ini, Irene-ah?

Mata Irene mendelik melihat jam yang terdapat di dashboard mobil sudah menunjukkan pukul setengah tujuh.

“Kyuhyun-ssi!!! Bangun!!! Ini sudah hampir waktunya makan malam!!” teriak Irene histeris. Sontak, Kyuhyun terperanjat bangun dan kepalanya tak sengaja membentur langit-langit mobilnya dikarenakan sosoknya yang memang jangkung.

“Awww.. Astaga! Kau mengagetkanku saja!” omel Kyuhyun seraya mengusap bagian kepalanya yang terbentur sembari sesekali meringis kesakitan. Irene nyengir melihat bossnya terbangun dengan cara seperti itu.

“Ah, mianhamnida.. Aku terkejut saat melihat pukul berapa sekarang..”. Irene menunjuk jam yang ada di dashboard mobil. Kyuhyun melotot. “Ya ampun! Bibi akan marah besar jika kita tidak segera bergegas..”

Kyuhyun cepat-cepat membenarkan posisi duduknya dan memasang sabuk pengaman tergesa. Irene melebarkan matanya.

“Kau tidak jadi membelikanku baju? Aku hanya harus memakai pakaian kantor ini?” protes Irene. Kyuhyun menatapnya tajam. “Eii.. kau mau kita mati sampai disana walaupun kau sudah pakai baju yang pantas?”

Irene tersenyum kikuk. Benar juga..

“Pasang sabuk pengamanmu. Aku akan langsung tancap gas. Kita akan sampai disana dalam 5 menit.”

Mwo? Lima menit?”

Tapi, Kyuhyun tidak membiarkan Irene berdebat lebih lama lagi. Pria itu langsung benar-benar mengebut bahkan sebelum Irene sukses membuat sabuk pengamannya terpasang. Alhasil, gadis itu harus susah payah mengenakannya karena Kyuhyun terus saja menyalip mobil-mobil yang ada di jalanan. Membuat mereka terus bergoyang ke kanan dan ke kiri.


“Silahkan makan malam…”. Taehyung mempersilakan para tamu untuk segera masuk ke dalam ruangan tamu khusus untuk menjamu.

Taehyung duduk di kursi paling ujung dari meja panjang itu. Ia mengambil alih tempat Kyuhyun sementara.

“Jadi, Tuan-tuan. Kenapa kalian tiba-tiba menagih hutang kami begitu saja?” tanya Taehyung hati-hati kala para tamunya sudah mulai makan makanan pembuka. Hening sesaat. Mereka saling bertatapan satu sama lain dan akhirnya menunjuk Tuan Jo sebagai juru bicara mereka semua.

“Apakah kalian disuruh oleh Nona Kwon?” potong Taehyung ketika Tuan Jo benar-benar hendak menjawab. Raut kaget saja cukup menjadi jawaban pertanyaan Taehyung. Pemuda itu tersenyum sinis.

“Oh, jadi itu alasan kalian. Kalian dibayar apa oleh Nona Kwon?”

Tuan Jo bergeming. Dia juga tidak menjawab pertanyaan Taehyung yang ini. Raut bingung juga sudah cukup menjadi jawabannya bahwa ia memang benar-benar disuruh Yuri dan harus bungkam dalam masalah ini.

“Baiklah. Jika aku sudah tahu semuanya, apakah kalian masih akan tetap menagih hutang kami? Cho Corp bisa saja memenjarakan kalian semua dan juga Yuri karena tuduhan penipuan serta pemerasan.”

“Jangan, Tuan.. Kami mohon.”

“Aku serius. Jadi, apakah memang Nona Kwon yang menyuruh kalian?”

“Ya, dia yang menyuruh kami.” ucap salah seorang penagih hutang yang nampaknya masih baru dalam pekerjaan ini. Ia langsung mendapat tatapan tajam dari Tuan Jo. Death glarenya juga mematikan. Seolah-olah Tuan Jo akan membuat orang itu kehilangan nyawanya setelah semua urusan selesai.

“Kami memang dibayar Nona Kwon..” ucap Tuan Jo dingin dan mengandung ancaman.

“Kenapa dia sampai melakukan itu?” tanya Taehyung menyelidik. Tatapannya juga menusuk Tuan Jo tidak kenal takut.

“Itu urusan kami, Tuan Kim dan kau tidak berhak tahu.”

Taehyung mengendikkan bahunya seolah menyerah. Padahal, dia sedang memikirkan cara bagaimana bisa mendapatkan info yang sesungguhnya.

“Ah.. Apakah kalian tahu Tuan Cho sudah menolah cinta Nona Kwon?” pancing Taehyung. Tuan Jo mendelik mendengar apa yang dikatakan Taehyung. “Dia? Menolak cinta Nona Kwon? Tidak mungkin! Ah, jadi itu maksudnya dia mengirimku kesini.. Dasar perempuan laknat!” marahnya. Kilatan matanya menyala-nyala.

Taehyung tersenyum tipis penuh kemenangan. Dengan kasat mata saja, Taehyung tahu Tuan Jo menyukai Yuri. Dan pria separuh baya itu diperdaya Yuri dengan iming-iming akan menikahi dirinya jika berhasil menghancurkan Kyuhyun.

Tiba-tiba, seorang penagih yang lain mencolek lengan Tuan Jo agar pria itu tenang. Lalu membisikkan sesuatu. Seketika, wajahnya penuh raut takut.

Taehyung kini bisa tersenyum lebar penuh kemenangan melihat Tuan Jo menyesali ucapannya sendiri baru saja.

“Baiklah, silahkan nikmati makanannya, Tuan-tuan.. Saya permisi dulu..”. Taehyung membungkukkan badannya sejenak dan berlalu keluar dari ruang jamu tamu.


“Cho Kyuhyun!!!”

Teriakan mengelegar itu menyambut Kyuhyun dan Irene yang tergopoh-gopoh masuk ke dalam manor keluarga Cho.

Kyuhyun langsung tersenyum kecut mendapati wanita paruh baya penguasa manor ini berjalan mendekati mereka berdua. Irene baru pertama kali ini melihat Kyuhyun ketakutan.

“Kenapa kau terlambat??”

Choisonghamnida, Bi.. Aku tadi terjebak macet.”

Irene bergerak-gerak gelisah di samping Kyuhyun dengan kepala tertunduk. Dari sudut matanya, ia dapat melihat Bibi Cho memerhatikan penampilannya dari atas sampai bawah, tatapan matanya sungguh tidak sopan.

Tapi, Irene tidak bisa apa-apa.

“Kau tahu aku tidak suka orang yang tidak tepat waktu?”. Kyuhyun mengangguk mengiyakan.

“Cepatlah masuk.” ucapnya dingin kemudian. Sedingin nada suara Kyuhyun atau bahkan lebih dingin. Kyuhyun segera memegang tangan Irene dan menyeret gadis itu berjalan di sampingnya.

“Apakah penampilanku mengecewakan Bibimu?” bisik Irene pelan.

“Sudahlah, tidak masalah sejak aku masih ada di sampingmu.. Jangan khawatir..”. Suara Kyuhyun terdengar begitu yakin dan menenangkan hati. Darah Irene lagi-lagi berdesir untuk entah keberapa kalinya hari ini. Kyuhyun sungguh membuat kejutan mengingat dulu pemuda itu menjauhinya bagaikan wabah mematikan.

Kyuhyun membuka sebuah pintu kokoh dari kayu ek berwarna cokelat tua alami. Irene langsung melihat sebuah meja panjang terletak di tengah ruangan. Panjangnya bisa dibilang memenuhi ruangan luas bergaya khas Korea zaman dahulu itu. Gadis itu menahan napasnya kagum. Makanan yang terhampar di meja panjang itu seolah takkan pernah habis saking banyaknya.

Irene membulatkan matanya melihat seorang gadis muda yang seumuran dengannya duduk di samping Bibi Cho dengan sorot matanya yang tajam dan raut mukanya yang dingin. Nampaknya, dia sedang kesal sekali. Irene melihat gadis itu berdebat dengan Bibi Cho sebelum mereka benar-benar sampai di meja makan dan duduk.

“Baiklah. Kyuhyun-ah, perkenalkan pacarmu itu..”. Nada suara Bibi Cho terkesan mengejek. Mungkin ia menilai penampilan Irene terlihat sangat kampungan. Irene berusaha untuk tetap kuat dan tidak mempedulikannya.

Sudah terlalu banyak orang yang menghujatnya – ketika Ayahnya ditetapkan sebagai penjahat kelas kakap –  sehingga ejekan Bibi Cho sangat tidak berarti baginya.

“Namanya..”

Annyeong hasimnikka, Bae Irene imnida. Aku sekretaris pribadi Tuan Cho. Bangapseumnida..”. Irene buru-buru bangkit serta memperkenalkan dirinya memotong perkataan Kyuhyun. Pemuda itu membelalak melihat Irene bertindak berani. Di dalam hatinya, Kyuhyun kagum juga. Ini memang Irene yang ia kenal. Takkan ragu dalam bertindak selama ia anggap benar.

Sesaat, Bibi Cho terlihat terkejut bukan alang kepalang. Marganya Bae? Bukankah dia anak si pembunuh itu? Yang perusahaannya kini diakuisisi oleh kakak?

Pandangan Bibi Cho lalu menyipit tanda tidak suka yang sangat jelas. Gadis muda yang berada di samping Bibi Cho membulatkan matanya sempurna. Tampak sekali ia kaget bukan kepalang.

“Irene-ah!!” serunya bahagia. Tanpa basa-basi, ia bangkit dari duduknya dan memeluk Irene erat-erat. Irene mengerjapkan matanya kikuk. “Em.. Nona..”

“Aku Seulgi!!”

Ne??” ulang Irene kaget.

“Ya, aku Seulgi!”

Irene membulatkan matanya juga. Lalu senyum sumringah merekah di bibir merah cerinya.

“Ya ampun, bangawayo, chingu-ya.. Omo.. kau sungguh berubah sampai-sampai aku tidak mengenalimu..” ucap Irene bahagia.

Bibi Cho hanya diam melihat pemandangan reuni ‘bahagia’ di depannya itu. Bibirnya menipis dan terus menipis. Mungkin rasa bencinya mulai meningkat dan meningkat lagi.

“Nona-nona..”. Kyuhyun bergegas memotong reuni Seulgi dan Irene melihat air muka bibinya sudah benar-benar tidak bisa ditawar lagi.

“Yak! Kyuhyun-ah.. Jangan menganggu acara kami..” bentak Seulgi kesal.

Kyuhyun menyikut Seulgi tanpa kata-kata berkali-kali. Bibi Cho nampaknya tak tahan lagi. Wanita itu malah keluar dari ruang makan dengan ketukan hak tinggi tipisnya yang menggema di manor luas dan kosong itu.

Seulgi menelan ludahnya sendiri melihat Bibinya keluar tanpa kata-kata seperti itu. Ia langsung menatap ke arah Kyuhyun panik.

Omo, omo.. Bagaimana ini , Kyu-ah?”

Kyuhyun menjitak dahi Seulgi kencang-kencang. “Kan tadi aku sudah menyikutmu, berusaha memberitahumu, kau masih saja membentakku, bodohh..” ucap Kyuhyun gemas. Seulgi cengengesan. Irene terkesima melihat kedekatan Seulgi dan Kyuhyun. Bagaimana bisa mereka saling mengenal?

“Kau kaget ya?” tanya Seulgi seolah bisa membaca pikiran Irene. Irene mengangguk dengan raut wajah masih terkesima. Kyuhyun dan Seulgi terkekeh pelan bersamaan.

“Kami anak kembar..”

Mata Irene membulat sempurna. “A..anak kembar?” gagapnya ekstrem.

Kyuhyun mengendikkan bahunya. “Orang tua kami bercerai setelah kami lahir. Aku dibawa ayahku dan Seulgi dibawa ibuku. Sekarang eomma sudah menikah kembali dengan Tuan Kang, salah satu rekanan bisnis Ayah. Makanya, marga Seulgi menjadi Kang dan bukannya Cho. Kau mengerti?”

Irene mengangguk-angguk seperti boneka. Kyuhyun tersenyum lebar. Entah kenapa, Irene merasa sangat senang bisa melihat senyuman lebar Kyuhyun lagi di hadapannya dan bukannya wajah es yang begitu dingin menusuknya.

“Tuan Muda.. Anda dipanggil Nyonya ke ruang duduk.” ucap salah seorang pelayan menyela pembicaraan mereka bertiga. Dahi Kyuhyun otomatis berkerut. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres lagi.

“Apakah ini karena kelakuanku tadi?” tanya Irene panik. Seulgi memegang tangan Irene, meremasnya lembut. “Ani.. Ini sama sekali bukan kesalahanmu.”. Namun, manik mata Seulgi yang mengandung kekhawatiran malah membuat Irene semakin tidak tenang.

“Seulgi-ah, jaga dia dulu. Aku akan membereskan semuanya.”


Kyuhyun membuka pintu ruang duduk perlahan. Suasana hangat ruang duduk yang di temboknya terpasang begitu banyak rak buku yang memuat koleksi buku Kyuhyun beserta ayahnya mencerminkan pribadi penghuninya yang genius.

Di sudut ruangan sana, di dekat perapian yang berkobar lembut, Bibi Cho duduk sembari menyelonjorkan kakinya di dekat perapian agar kakinya tetap hangat.

“Duduklah, Kyuhyun.” perintahnya lembut namun masih saja mengandung maksud lain. Nada sinis terselubungnya masih bisa dicium Kyuhyun.

Kyuhyun duduk jauh di belakang Bibi Cho dengan raut wajah serius. Kilatan matanya menggambarkan dia sedang berubah menjadi seorang pembangkang.

“Kyuhyun-ah.. Kenapa kau menolak tawaran Tuan Kwon tempo hari untuk yang kedua kalinya di kantormu sendiri?”. Bibi Cho memutar kursinya dan kini netra mereka saling bertatapan sengit. Kyuhyun tersenyum sinis.

“Apakah kau takut perusahaan kita hancur hanya karena aku menolak pertunangan itu?” balasnya dingin. Bibi Cho menggeleng prihatin.

“Aku hanya takut akan masa depanmu yang tidak akan bahagia. Seperti perjalanan cinta Ayahmu itu.”

Kyuhyun menggertakkan giginya. Apa sekarang Bibinya sedang berusaha menjelekkan nama ibunya?

“Jika kau menikahi Yuri, semuanya akan menjadi jelas. Masa depanmu lebih terjamin. Kau tidak akan kehilangan istrimu yang kau cintai.”

“Tapi, aku tidak mencintai Yuri, Bi.” sahut Kyuhyun pendek dan kasar. Rasa benci dan amarah mulai memenuhi hatinya. Bibi Cho menghela napasnya kasar seolah ia kehabisan akal menghadapi anak keras kepala keturunan marga Cho ini.

“Sebuah pernikahan tidak hanya dilandaskan oleh cinta, Kyu. Yang ada cinta hanya membutakan dirimu dan akhirnya hanya akan membuat sengsara.”

“Dan Ayahmu sudah membuktikan semuanya. Kita, keturunan chaebol ini, tidak akan bisa menikah dengan masyarakat biasa. Kau harus menikahi orang yang satu tingkat denganmu. Jika kau percaya cinta masih bisa menyatukan dua insan yang berbeda, atau malah sangat berbeda, semua itu hanyalah omong kosong dan kisah klise!”. Nada suara Bibi Cho meninggi seolah olah dia sangat geram melihat ibu dari Kyuhyun bercerai dengan ayah Kyuhyun atau Tuan Cho yang notabene adalah kakaknya.

Eomma bercerai bukan karena kemauannya ataupun niat liciknya yang hanya ingin mendapatkan seluruh kekayaan Ayah! Dia bercerai karena Ayah suka sekali memukulnya!” bentak Kyuhyun yang mulai kehilangan kesabarannya. Kenapa Bibi terus membenci

Bibi Cho melotot. “Beraninya kau menuduh ayahmu seperti itu!”

“Tapi, itu kenyataannya!!” teriak Kyuhyun dengan seluruh suara yang ia punya. “Apakah kau meninggalkan Paman karena dia sudah kehilangan seluruh hartanya untuk kau pakai berfoya-foya, Bi?” sindir  Kyuhyun tajam.

Plak.

Tangan Bibi Cho melayang tepat di pipi kanan Kyuhyun. Pemuda itu mendelik menyadari apa yang baru saja dilakukan Bibinya. “Apa hakmu memukulku?” desisnya penuh amarah.

“Dasar anak tak tahu diri!” geram Bibi Cho. Perangainya sungguh menyeramkan begitu pun dengan raut Kyuhyun. Jika salah satu dari kalian pernah melihat keturunan marga Cho marah, kau akan menyesalinya karena mereka akan marah seperti orang kesetanan.

“KAU BUKAN IBUKU! Dan kenapa kau memaki ibuku? Apa hakmu?!” damprat Kyuhyun. Ia benar-benar gelap mata sekarang.

“Kau kira hanya uang yang bisa melandasi sebuah pernikahan? Irene bukan perempuan matre yang akan meninggalkanku hanya karena uang!”

“Dasar anak ingusan.. Kau hanya tidak tahu seberapa rumitnya sebuah cinta jika sudah berjalan sejak lama. Irene adalah anak dari seorang pembunuh kejam!! Tak takutkah kau? Putuskan Irene atau aku akan mencabut posisimu dari kursi Direktur.”. Bibi Cho menyudahi perdebatannya dengan melempar majalah yang tadi dibawa-bawanya secara sembarangan.

“Irene bukan seorang pembunuh!! Bukan ayahnya yang membunuh Tuan Kim! Justru Ayah lah yang membunuhnya! Bukan begitu, Bi? Bisakah kalian semua tidak terus memutar balikkan fakta seperti ini? Tak tahukah kalian, kalian sudah menghancurkan hidup orang lain!” teriak Kyuhyun lagi melampiaskan segala emosinya yang sudah mencapai puncaknya.

“Jangan berkata macam-macam. Kau hanyalah anak ingusan yang tak tahu apa-apa. Putuskan Irene atau masa depanmu takkan bisa terlihat lagi. Aku menjamin akan hal itu.” ucap Bibi Cho tenang.

Kyuhyun memejamkan matanya, berusaha meredam amarahnya. Tangannya mengepal sangat erat hingga buku jarinya memutih. Bibi Cho berlalu di samping Kyuhyun sembari berbisik, “Kau kalah dalam pertempuran ini, Kyuhyun.. Tak selamanya kau bisa mendapatkan apa yang kau mau. Ada kalanya kau harus menuruti apa yang aku katakan.”

“Ya ampun!” pekik Seulgi kaget begitu pintu terbuka mendadak dan Bibi Cho sudah berdiri di hadapannya dengan raut heran. “Apa yang kau lakukan disini, Seulgi? Menguping pembicaraanku?”. Wajah Bibi Cho yang merah padam membuat Seulgi ternganga. Pasti ada perang tadi di dalam sana. Tidak mungkin, wajah Bibi Cho sampai merah padam seperti itu jika tidak terjadi pertempuran menyeramkan yang terjadi antara adiknya sendiri dan juga Bibinya yang berhati dingin ini.

Seulgi tergagap. “Ah, itu, aku tadi hendak melanjutkan perdebatan kita yang di ruang makan.” jawab Seulgi asal. Sedetik kemudian, Seulgi melebarkan matanya. Ya ampun, aku malah mencari masalah sendiri.., kepalanya segera terkulai kemudian. Bibi Cho tersenyum sinis.

“Mari kita bereskan masalahmu dengan artis tengik itu.”. Bibi Cho meraih tangan Seulgi dan menyeret gadis itu pergi.

Irene yang sedari tadi bersembunyi di pilar untuk menunggu kode-kode Seulgi yang memberitahukan apa yang sedang dibicarakan Kyuhyun dan Bibi Cho di dalam ruang duduk termenung sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa semua menjadi rumit seperti ini?

Kyu-ah, apakah kita tidak akan mendapat kesempatan kedua untuk kembali dekat seperti sedia kala?

Hula gaes.. Euri kembali dengan FF yang sempar agak pending ini.. Semoga tidak membosankan yaa.. Diharapkan komen dan juga likesnya /pastinya/

Dan satu lagi, selamat hari raya Idul Fitri 1437 H!! Mohon maaf lahir batin yaa reader-deul.. Mohon maaf jika aku pernah komen dengan kata-kata yang kurang berkenan atau gagal membuat FF yang bagus sesuai ekspektasi kalian..

Regards, Euri ^^

Advertisements

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s