The Village’s Secret Chapter 2 [Mysterious Corpse] -HyeKim’s Story

wp-1461545178716.jpeg

The Village’s Secret [Chapter 2]

└ Subtile : Mysterious Corpse┘

A Fanfiction Written by :

HyeKim

Starring With :

-Girls’ Generation Yoona as Im Yoona

-Super Junior Siwon as Choi Siwon

-Ladies Code Sojung as Lee Sojung

-Girls’ Generation Seohyun as Lee Seohyun

Genre : Mystery, Horror, Crime, Romance, AU || Lenght : Multi Chapter || Rating : PG-17 || Inpiration : Korean Drama The Village : Achiara’s Secret

Summary : Im Yoona baru saja datang di Achiara setelah 21 tahun lamanya tinggal di Amerika. Tinggal di desa tersebut bukannya menciptakan kedamaian, tapi Yoona malahan menemukan sebuah mayat misterius. Dibantu oleh Choi Siwon, Yoona berusaha mengungkapkan pembunuhan pelik tersebut serta rahasia terkait dengan Desa Achiara

Disclaimer : This is just work of fiction, the cast(s) are belong to their parents, agency, and God. The same of plot, character, location are just accidentally. This is not meaning for aggravate one of character. I just owner of the plot. If you don’t like it, don’t read/bash. Read this fiction, leave your comment/like. Don’t be plagiat and copy-paste without permission


“Sebelum menemukan mayat ini, aku mendengar sebuah suara memanggil namaku,”


HAPPY READING

HyeKim ©2016

        

 

PREVIOUS :

TEASER+FOREWORD+PREVIEW+PROLOG || Chapter 1 [Comeback to Korea] || (NOW) Chapter 2 [Mysterious Corpse]

 

Matahari tampak bersinar cerah siang ini. Di sebuah rumah penduduk tampak dua orang polisi sedang mengecat rumah tersebut. Salah satunya yang lahir dengan nama Choi Siwon. Pekerjaan di Achiara selalu saja pekerjaan kelewat mudah yang bahkan tidak membuat otak kanan serta kirinya terkena migrain, tak sama halnya ketika dirinya menjabat sebagai detektif di Kepolisan Pusat Seoul dengan titel detektif paling muda.

“Eh Siwon! Cat yang benar!” teguran menyenggol telinga Siwon, Shin Donghee yang turut andil melayani pekerjaan membantu masyarakat menatap Siwon sambil geleng-geleng kepala. “Pantas saja kau dipindahkan ke sini, kerja saja tidak serius,” Donghee bergumam membuat delikan dari Siwon tercipta ke arahnya.

“Hey Shindong! Kau saja tak tahu kemampuanku! Pekerjaan di Achiara itu tidak berat. Lebih banyak membantu rakyat, ck! Pekerjaan di Kantor Pusat lebih menantang! Kasus pembunuhan, kecelakaan lalu lintas beruntun, tabrak lari, perampokan, pembantaian…─”

Shindong hanya geleng-geleng mendengarnya, kemudian melanjutkan kegiatan menggerakan alat kuas catnya pada tembok rumah tersebut. “Dasar dia ini, terobsesi sekali dengan hal merumitkan seperti itu,” ucap Shindong pelan.

Yak! Anak muda! Jangan banyak bicara kau! Ingin dilaporkan pada ketuamu ya? Daritadi hanya bicara saja bisanya!” gertakan dari bapak tua yang merupakan pemilik rumah, membuat Siwon menutup mulut dan mengecat kembali sambil berdumel pelan. Hal itu membuat Shindong terkikik.

“Asal kau tahu, pekerjaan di Achiara memang tidak menantang. Namun kita lebih berbaur dengan rakyat dan sangat terasa sekali kekeluargaannya,” Siwon bersikap tak mendengarkan penuturan yang dilontarkan mulut Shindong barusan.

“Di hutan ada mayat yang ditemukan!” suara kasak-kusuk terdengar menerobos indra Siwon yang langsung memasang sikap siaga menguping.

“Yang benar?”

“Iya! Jangan-jangan korban pembunuh berantai yang tertimbun sudah lama. Lebih baik ke sana,”

Obrolan dua remaja tadi terhenti diwakili oleh sisa jejak kaki yang menjauh pergi. Pupil serta alat bicara Siwon melebar. Mayat misterius di Achiara? Ini adalah hal yang unik! Tanpa pikir panjang, tubuh Siwon meloncat turun dan langsung lari menuju hutan.

“Choi Siwon! Kau mau ke mana?!” teriak Shindong namun Siwon malah sudah larut akan pikirannya sendiri.

**

Hiruk pikuk hutan Achiara seketika penuh dengan gerombolan manusia. Hanya 1 berita yang membuat penduduk heboh kalang kabut. Mayat misterius. Memang karap terjadi pembunuhan disetiap malam kamis berhujan. Namun penemuan mayat ini dapat menggempurkan siapapun. Im Yoona, penduduk baru yang bahkan baru mempelajari medan Achiara, harus dihadiahi sebagai orang yang menemukan mayat tersebut.

Tubuh Yoona terduduk di atas kayu yang merupakan tumbangan pohon, tubuhnya dibaluti selimut berwarna biru yang sedikit memudar. Tubuh wanita itu bergetar bukan main. Sunmi─salah satu rekannya, memberikannya segelas air mineral yang sekon mendatang langsung diteguk habis oleh Yoona. Beberapa polisi sudah datang ke tempat kejadian perkara.

“Yoona…” Sunmi memenggal kata guna mengalihkan intensi retina Yoona ke arahnya dan rencananya berhasil meskipun iris itu memancarkan sedikit trauma. “Kau baik-baik saja? Semenjak tim medis sukses menarikmu keluar jurang, air wajahmu terlihat ketakutan.” Sunmi memandang wajah jelita Yoona dengan air wajah penuh kekhawatiran.

Yoona menyunggingkan senyum─guna untuk menenangkan Sunmi walau hanya setitik. Wanita itu lantas bersajak dengan nada setenang mungkin seakan jatuh ke jurang dan menemukan mayat bukanlah hal yang mendebarkan dalam hidupnya.

“Aku baik,” itulah yang keluar dari bibir manis dengan lipstick berwarna merah ceri. “Malah aku penasaran, mayat siapakah itu.” Yoona berfrasa lagi walau terselubung rasa ngeri mengingat mayat tersebut.

Matanya menelisik liar mencari tim medis yang barang kali sudah berhasil mengangkat bongkahan tulang itu dari jurang. Terdengar helaan napas Sunmi yang mendudukan diri di atas batu besar di sebelah Yoona.

“Maaf karena kau harus mengejar Luhan, kau jadi seperti ini. Anak itu memang kepala batu,” ujar Sunmi dan Yoona kembali terfokus pada wajah cantik rekannya.

“Tak apa. Memang tugas guru begitukan?” respon Yoona disertai senyuman yang meneduhkan.

“Kami pasti akan memberikan dintensi untuknya dan Hyerim,”

“Sebaiknya Hyerim tidak diberikan dintensi karena dia hanya korban tarik-menariknya Luhan,” saran Yoona.

Mengingat Hyerim, dirinya jadi ingin melihat siswi itu. Yoona sangat berterimakasih pada gadis itu yang buru-buru memanggil dewan guru yang lain saat dirinya terjatuh. Yoona pun berdiri menyebabkan kerutan heran dari Sunmi.

“Aku ingin menemui Hyerim untuk berterimakasih,” ujar Yoona sebelum menghilang dari pandangan Sunmi.

Langkah Yoona membawanya ke hiruk pikuk warga Achiara yang bising menyerukan mayat misterius itu. Yoona hanya mengabaikan segalanya apalagi saat tatapan orang-orang seakan menghujamnya, mengingat Yoona lah yang menemukan bongkahan tulang tersebut. Hingga akhirnya Yoona menemukan gadis jelita bermarga Kim itu, dirinya sedang diberi ceramahan oleh Jungsoo dan di sampingnya pun ada Luhan yang bersikap santai, kontras dengan Hyerim yang seakan panas dingin.

“Lihat! Karena ulah kalian Guru Im sampai jatuh ke jurang!” seru Jungsoo saat Yoona baru tiba di balik punggungnya. Hyerim tampak menunduk dan menyerukan kata maaf, sementara Luhan hanya menggerak-gerakan kaki kanannya dan bersikap seakan tak terjadi apapun. “Heh Luhan─”

“Jungsoo-ssi, hentikan,” Yoona berujar sambil menyentuh pundak Jungsoo yang menoleh padanya. “Jangan marahi mereka, aku saja yang urusi mereka.”

Jungsoo tampak tak setuju dan menjawab, “Tapi Yoona-ssi, karena mereka…─”

Jungsoo terus berceloteh dan Yoona terus menanggapinya dengan ucapan biar dirinya yang mengurus keduanya. Hyerim dan Luhan hanya menatap keduanya jengah dan bingung. Hingga Hyerim merasakan toelan ditangan kanannya yang pelakunya adalah Luhan. Gadis itu menoleh ke sampingnya dan disuguhkan gerlingan mata dari Luhan.

“Bagaimana bila kita kabur saja sekarang?” bisik Luhan sambil mendekatkan wajahnya ketelinga Hyerim. Gadis itu menjauhkan jaraknya antara Luhan.

“Jangan sinting!” desis Hyerim sambil melirik sinis Luhan.

Malas menanggapi Luhan dengan ide konyol dan perdebatan antara Yoona serta Jungsoo yang tak ada habisnya. Hyerim mengedarkan pandangan ke arah depan, seketika retinanya menangkap tim medis yang sedang membawa bongkahan tulang ke dalam ambulan untuk dibawa ke kantor polisi, guna indentifikasi segera dilaksanakan. Kain bongkahan itu terkena angin dan sedikit melihatkan wujudnya yang setengah gosong. Seketika kepala Hyerim berdenyut nyeri kala sekelebat memori seakan mengusik masuk kepalanya. Kepalanya seakan berputar-putar layaknya terjebak di labirin.

Tangan kanan Hyerim terangkat memegang sisi kepalanya. Pandangannya perlahan kabur. Mayat itu…. Ingin sekali rasanya kepalanya mengidentifikasi tentang mayat itu. Hingga Hyerim merasa tubuhnya bergoyang dan dunianya seakan runtuh.

“Hyerim!” Yoona menoleh pada gadis itu dan berteriak kala tubuh Hyerim tumbang dan untungnya langsung ditangkap oleh Luhan yang sudah jatuh terduduk dengan Hyerim yang pingsan ditangannya.

“Hye! Hye! Bangunnn!” teriak Luhan sambil menepuk-nepuk pipi Hyerim dengan wajah luar biasa khawatir.

Yoona langsung berlari dan menghampiri tim medis, melaporkan bahwa salah satu siswinya pingsan. “Tolong! Siswi saya ada yang pingsan di bagian sebelah sana!” seru Yoona sambil menunjuk di mana Hyerim berada dan sudah dikurumi para siswa Haewon.

Beberapa tim medis langsung menuju tempat Hyerim. Kekhawatiran makin menumpuk dalam diri Yoona. Keringat dingin perlahan menyusuri kulit putih bersihnya. Korneanya bergerak-gerak liar. Hingga ingatannya tertuju pada bongkahan mayat yang sudah berhasil diangkut dari dalam jurang. Tertoleh lah kepala Yoona ke dalam ambulan dan disuguhi sebuah kasur ala rumah sakit yang ditutupi kain putih. Angin seketika menyapa daerah sekitar Yoona dan dengan jahilnya menarik turun kain putih itu hingga terbuka memperlihatkan bongkahan tulang yang terbakar habis. Hanya gaun putih yang robek dibeberapa bagian dan tersisa bercak darah yang masih utuh.

Hah… hah…” Yoona merasakan napasnya tercekat apalagi tengkorak bongkahan tulang itu seakan menatapnya.

“Im Yoona, selamatkan aku,”

Ucapan itu terngiang lagi. Yoona menggeleng dan langsung membalikan badannya untuk berjalan menjauh. Menjauh dari bongkahan tulang yang membuat harinya menjadi mengejutkan. Namun saat dirinya berjalan, Yoona tak sengaja menabrak badan seorang lelaki berperawakan tinggi.

“Maaf,” ucap Yoona sambil membungkuk sekilas namun ketika retinanya terfokus akan badan tegap milik orang yang ditabraknya, dirinya langsung menyerukan suatu fasa. “Siwon-ssi?”

Siwon yang merasa namanya diserukan langsung menoleh pada wanita yang mana sekon lalu menabrak badan tegapnya. Matanya membulat menyadari absennya Yoona di daerah ini, yang dirinya ketahui sebagai ditemukannya bongkahan mayat misterius.

“Yoona?” ucap Siwon masih dengan britonnya yang terkejut. “Kenapa kau ada di sini?”

“Sekolah tempatku bernaung mengadakan belajar di alam hari ini,” jawab Yoona dan Siwon tampak mengangguk-angguk mengerti, lalu mengedarkan kepalanya untuk menghabisi seluruh penjuru hutan. Dari gerak-geriknya, Yoona menangkap bahwa Siwon sangat ingin mengambil alih kasus ini.

“Kau pasti ke sini karena informasi yang beredar ya?” kata Yoona sambil menatap mimik serius Siwon yang langsung menoleh padanya.

“Ya, aku ingin sekali mengambil alih kasus ini,”

Yoona mengangguk-angguk, dirinya seakan menemukan rekan yang pas kala ini. “Siwon-ssi,” Yoona memanggil Siwon kembali dan membuat fokus Siwon terarah pada wanita jelita yang sudah membuatnya jatuh hati. “Aku ingin memberitahumu sesuatu karena akulah yang menemukan mayat itu.”

Siwon membulatkan matanya namun tak ada niatan dirinya menyela barang satu frasa yang akan Yoona sajakan. “Sebelum menemukan mayat ini, aku mendengar sebuah suara memanggil namaku,” Yoona bersajak demikian dan berdampak akan pupil mata Siwon yang makin melebar terkejut.

**

Di atas tanah tersebut terbentuk lempengan bata yang dilapisi cat berwarna putih. Ukiran bangunan bak istana kepresidenan itu berdiri kokoh di tengah-tengah rumah sederhana di Achiara. Di bagian belakang rumah terhampar luas halaman yang dilengkapi kolam renang, lapangan sepak bola mini, dan tempat duduk yang berguna sekedar untuk minum teh. Di bagian lapangan mini, bermainlah Sehun ditemani Sang Ayah, keduanya berebutan meraih titel kemenangan layaknya ingin merebutkan juara dunia dan seakan bola sepak itu belahan jiwa keduanya.

Sementara di bagian tempat duduk berwarna putih, duduklah Seohyun dengan bibinya karena Sang Ibu harus singgah dahulu ke pasar. Kediaman keluarga Lee tergambar sangat damai diiringi oleh angin musim semi yang menyapa lembut kulit. Lee Ahreum─bibi dari kedua kembar fraternal tersebut, sedang mengesap teh manisnya dan berlagak seolah dirinya ratu dari kerajaan Eropa. Di hadapannya, Seohyun hanya diam dan sesekali menikmati biskuit yang tersedia.

Imo (bibi),” Seohyun memanggil Ahreum yang langsung meletakkan cangkir teh ke tatakan tanpa mencegah bunyi tabrakan antara dua benda yang terbuat dari beling itu.

“Ada apa, Seohyun-ah?” tanya Ahreum sambil menatap Seohyun lembut namun terselip dalam hatinya perasaan tak tulus pada ponakannya itu.

“Kurasa Sojung imo kembali,” ujar Seohyun hampir membuat teh yang sedang ditampung mulut Ahreum nyaris keluar dari tempatnya. Gadis SMP itu mengedarkan pandangan ke langit seakan ada sesuatu di atas sana.

“Sojung tak akan pernah kembali, Seohyun-ah. Dirinya memutuskan pergi dari rumah mewah kita dengan kaki menjijikannya itu,” ucap Ahreum berusaha menyusaikan intonasi suaranya agar terlihat tidak geram.

“Sojung imo orang baik, namun bisa saja dia dendam padamu,” Seohyun mendelik ke arah Ahreum yang wajahnya kentara merah menahan amarah. “Asal kau tahu, hari ini sebuah mayat ditemukan. Wanita dari Virginia itu penghubungnya. Dan kau… akan tahu betapa besar dendam yang membara itu ada,” ucap Seohyun dengan binar kelereng hitamnya yang tajam dan setelah itu menghilang masuk ke rumahnya.

Ahreum menggepalkan tangan kanannya dan menghembuskan napas kesal, apalagi saat Seohyun memanggilnya dengan sebutan ‘kau’. Diliriknya Taemin yang bersorak-sorak karena menang dari Sehun yang tengah cemberut sekarang. “Taemin oppa, anakmu kurang hajar!” seru Ahreum sebelum berlalu juga ke dalam.

Taemin pun menoleh ke arah punggung adiknya yang berlalu masuk, kemudian menghela napas. “Seohyun dan Ahreum tidak pernah bisa akur,” gumamnya.

**

Setelah pertemuan singkatnya dengan Siwon. Yoona memutuskan untuk ke rumah sakit karena baru mengingat salah satu muridnya yang lahir dengan nama Kim Hyerim, tumbang tak berdaya di dekat tempat dirinya menemukan bongkahan mayat tersebut. Dirinya sudah sampai ke rumah sakit Achiara setelah diantar Siwon yang sayangnya harus kembali ke kantor polisi saat ini. Langkah Yoona terajut menuju tempat tujuan, akhirnya rajutan itu menyampai titik final saat retinanya menangkap sosok Luhan, Sunmi, dan Jungsoo.

“Bagaimana keadaan Hyerim?” Yoona menyerukan pertanyaannya tanpa kalimat basa-basi sama sekali. Ketiga orang yang terduduk di kursi tunggu itu melayangkan tatapan pada Yoona.

“Dokter mengatakan Hyerim hanya memaksakan ingatannya akan sesuatu, itulah sebab akibatnya dia pingsan,” intonasi lembut Sunmi lah yang menjawab pertanyaan Yoona namun wanita itu jadi mengerutkan kening bingung.

“Ingatan? Ingatan apa?” nada dari penggalan kata seorang Im Yoona terdengar heran.

“Hyerim pernah kehilangan beberapa memorinya. 1 tahun lalu aku tak sengaja menemukannya pingsan di jalan dekat hutan, kepalanya berdarah menyebabkan dirinya melupakan kejadian yang menyebakan dirinya seperti itu,” kali ini briton Luhan yang menyapa telinga Yoona, intonasi pria yang sangat terobsesi akan gadis bernama Hyerim, terdengar sendu. Yoona pun jadi memancarkan iris mata kasihan pada pemuda itu.

“Keluarga pasien Kim Hyerim,” suara suster menyerobot masuk telinga empat manusia tersebut yang langsung berdiri dan menghampiri Sang Suster. “Pasien Kim Hyerim sudah sadar. Pihak keluarga bisa membesuknya.”

Keempatnya mengeluarkan karbondioksida dalam hal lega mendengar info Hyerim yang sudah siuman. Lalu keempat orang tersebut melangkah masuk ke tempat di mana tubuh Hyerim berbaring. Yoona sempat menanyakan perihal absen orang tua Hyerim ke mari, dan Jungsoo menjawab bahwa kedua orang tua gadis manis itu sudah dihubungi dan sesegera mungkin akan ke rumah sakit.

“Hyerim-ah, kamu sudah sadar? Mana yang sakit? Kepalamu masing pusing? Beritahu aku,” baru saja rajutan langkah keempatnya menyampai finish, namun Luhan sudah banyak bertanya dengan mimik khawatir yang tercetak jelas dan langsung diraih tangan kanan Hyerim olehnya.

Mau tak mau Yoona tersenyum simpul melihatnya. Cinta remaja, begitulah gumamnya dalam hati. Namun dapat diteliti Hyerim sangat risih akan tingkah Luhan, ditariknya tangan kanannya yang tertancap infus kemudian fokusnya berganti-gantian pada Yoona, Sunmi, serta Jungsoo.

“Jangan bertingkah berlebihan! Apa kau tak malu hah?” desis Hyerim disertai delikannya pada Luhan yang memasang wajah tetap khawatir. “Saem, maaf merepotkan kalian semua.” Hyerim berujar dengan nada bersalah.

“Tak apa, Hyerim-ah. Lain kali jangan memaksa otakmu mengingat sesuatu yang hilang itu. Biarlah mereka datang sendirinya,” sahutan Jungsoo yang merespon ujaran bersalah siswinya itu dan tak lupa dengan senyum menenangkannya.

“Sebenarnya ingatan apa yang membuatmu tak sadarkan diri, Hyerim-ah?” pertanyaan Yoona menyerbu gadis manis itu yang sudah duduk besender pada kepala ranjang.

Gadis itu berpikir seakan menimbang perlukah mendongengkan hal tersebut pada wanita berumur 26 tahun tersebut. “Tentang hutan dan mayat itu mungkin. Entah, saat melihat bongkahan mayat itu aku jadi takut. Dan otakku berdenyut perih,”

Mayat? Yoona bergumam dalam hati. Kenapa Hyerim langsung tumbang ketika mayat tersebut terlihat? Yoona menatap Hyerim yang sedang berdebat dengan Luhan yang terlalu over padanya dan berakhir pipi gadis itu dicubit oleh Luhan. Tatapan Yoona mengandung penuh arti pada gadis tersebut.

**

Kantor polisi Achiara tengah sibuk dengan ditemukan bongkahan mayat yang mengempurkan seluruh desa. Beberapa polisi tampak berlalu lalang dan sebagian ada yang mengutak-atik layar beberapa inchi yang berlabel komputer sekedar menelisik informasi orang hilang selama ini. Mayat tersebut sulit terindentifikasi lantaran sudah terbakar habis dan hanya menyisakan gaun putih kumuh yang setia melekat.

Choi Siwon tampak menuntun kakinya menuju ruangan di mana bongkahan tulang yang seketika top merajalela ditaruh. Kendati itu hanya keinginan yang tak tercapai ketika sebuah tangan menahan bobot tubuhnya untuk menggeret langkah makin menjauh.

“Ingin ke mana Petugas Choi?” briton yang sudah menjadi hak milik Kepala Cha terdengar dengan tatapan tertuju pada kelereng hitam milik Siwon yang sekon ini menampilkan raut malas.

“Melihat mayat tersebut tentu saja,” jawab Siwon dengan intonasi super malasnya.

“Aku tahu kamu ini mantan detektif handal. Namun tidak dengan memeriksa mayat itu saat ini,” nada penekanan keluar dari mulut Kepala Cha.

Siwon ingin sekali memberontak, namun suara lain menyerobot indera kedua polisi tersebut. “Kepala Cha, ini data orang hilang selama setahun terakhir. Ada yang berasal dari Achiara,” seru Lee Sungmin membuat fokus kedua polisi yang nyaris adu mulut kesekian kalinya menoleh pada lelaki tersebut yang memegang sebuah map.

“Kemarikan, aku ingin memeriksanya,” ujar Kepala Cha dan Sungmin menurutinya serta memberikan map berisi kumpulan data orang hilang.

Kelereng hitam milik Siwon memfokuskan pandangan pada map tersebut dengan iris yang kentara sekali penasaran. Kepala Cha kemudian duduk di sofa yang tersedia. Siwon pun mengikutinya serta melirik-lirik dokumen tersebut. Kepala Cha menghela napas menyadari tingkah Siwon. Dirinya pasrah kala salah satu bawahannya itu terus mengusik dirinya dan membiarkan Choi Siwon turut andil membaca dokumen tersebut.

“Su Hyeji berasal dari Busan, Park Sanghyuk berasal dari Incheon, Ahn Jisuk berasal dari Daegu…” Kepala Cha bergumam menyebutkan nama-nama yang tertera rapi di kertas dokumen diikuti gerakan liar netra Siwon. Hingga gerakan tangannya terhenti pada sebuah halaman. “Lee Sojung berasal dari Achiara.”

Gumaman Kepala Cha membuat Siwon langsung meneliti lebih lanjut dokumen tersebut. Benar, tertera di sana sebuah foto gadis cantik bermata belo dengan rambut panjang bergelombang. Di sana juga tertulis jelas nama Lee Sojung dan tempat asalnya bertajuk Achiara.

“Anak tiri pengusaha Haewon?” kali ini gumaman pelan Siwon setelah selesai membaca data diri Sojung. Tampak Kepala Cha menghembuskan napas, kentara sekali lelaki berumur 40-an itu frustasi.

“Ini rumit…” gumam Kepala Cha sepintas seperti mengumpat. “Lee Sojung semasa hidupnya dicemooh penduduk desa dengan dikatai anak jalang. Banyak yang mengatakan dirinya tak pantas di desa ini. Hidupnya tertekan dan bila mayat itu dirinya akan sangat rumit. Karena pembunuhnya bisa siapapun di desa ini yang membencinya,”

Siwon mencerna hal tersebut karena dirinya baru beberapa bulan menyinggahi Achiara. Cukup terkejut dirinya saat menerima informasi tersebut. Kelopak matanya tertoleh kembali pada potret Lee Sojung di dokumen yang terletak di atas meja.

“Ah! Kasus besar ini bisa membuat nama baikku kembali,” ujar Siwon sangat pelan mengingat pemfitnahan yang melilit dirinya hingga menyeretnya ke desa terpencil ini dan berdampak akan tercoretnya nama baiknya.

**

Waktu berganti dengan cepatnya layaknya berlari. Tak terasa Sang Surya sudah terbit kembali menyapa para kaum manusia yang singgah di bumi yang sudah berumur sangat tua. Im Yoona pun membuka matanya dan langsung membasuh badannya dengan air segar asli dari pegunungan Achiara. Setelah ritual mandinya terselesaikan. Yoona memutuskan keluar sebentar karena ingin membeli roti. Hari ini adalah hari sabtu dimana kerjaan Yoona libur. Langkah kaki Yoona mulai tercipta ke toko roti milik Choi Bina yang memiliki tatapan meresahkan bagi Yoona.

“Selamat pagi,” sapaan berintonasi ramah karap terdengar oleh Yoona yang berhasil menginjakan kaki ke toko roti tersebut dan langsung bergulat mencari roti yang diinginkan. “Oh ternyata kau Guru Im. Guru yang popularitasnya meroket seketika.”

Tatapan mata Yoona yang semula bertumpu pada roti lantas terangkat. Raut heran terlihat diparas ayunya. Choi Bina kembali menampakan senyum misterius dan tatapan yang seakan menghujam habis Yoona.

“Meroket seketika?” Yoona mengulang penggalan kalimat Bina.

“Ya, guru yang menemukan mayat tersembunyi. Pernahkan kubilang bahwa Achiara itu sempit, berita baru cepat melebar luas, Nona,” ujarnya sambil tersenyum penuh arti. “Jadi, apa pesanan rotimu?” Bina mengalihkan topik.

“Roti kacang dan keju,” Yoona menjawab serta mengabaikan tatapan Bina tersebut yang langsung mengambil pesanannya.

“Diriku dengar dari Soonkyu yang termasuk staff guru Haewon. Dirimu adalah dosen di Virginia National Unniv tadinya,” Bina membuka percakapan kembali sembari memasukan roti pesanan Yoona ke dalam tas kertas berwarna coklat setelah sebelumnya dibungkus rapi olehnya.

“Ya, maka dari itu aku datang untuk mengajar ke sekolah top di Achiara bertajuk Haewon,”

Anggukan kepala Bina tercipta, kemudian dirinya menyerahkan pesanan Yoona tersebut. Saat menyerahkannya, senyum pada paras Bina tercetak sangat penuh arti. Demi apapun, Yoona merasakan hawa tak enak saat melihatnya.

“Aneh sekali dirimu pindah ke mari, padahal lebih baik berkerja di Virginia dibanding di sini,” Bina mencondongkan tubuh sedikit ke depan layaknya sedang bergossip bersama Yoona.

“Bibiku meninggal, beliau adalah keluargaku satu-satunya di sana. Serta juga ajakan temanku yang menyuruhku ke sini,” jawab Yoona. Dirinya agak ragu namun terselip perasaan terdesak untuk memberitahu, penyebabnya hanyalah kornea mata Bina yang menghunus pertahanannya.

“Teman?” rengutan bingung tercipta dikening gadis berdarah Choi tersebut.

Yoona mengangguk lantas menjawab, “Namanya Ashley Choi.”

“Ashley Choi?” intonasi Bina meninggi membuat Yoona langsung menatapnya sambil berharap wanita ini tahu nama yang ia lafalkan tadi, karena demi apapun dirinya ingin bertemu serta penasaran siapa gerangan Ashley─Si Pengirim Surat Misterius padanya. “Tidak ada yang bernama Ashley Choi di sini, Yoona-ssi.”

Namun pengharapan itu berujung tak terjawab sesuai keinginannya. Bina menatap wanita berumur 26 tahun itu seakan penasaran. Sementara Yoona menjadi lemas seketika. Masih terpendam rasa penasarannya seluas samudra pada orang bernama Ashley. Ditambah bongkahan tulang yang ditemukannya itu. Semuanya rumit dan dirinya tak menemukan kedamaian di Achiara sesuai ekspetasinya.

**

Hembusan angin menggelitik tubuh mulus Yoona. Matanya bergerak liar mencari signal di manakah dirinya saat ini. Ketika ditilik kembali. Yoona sedang mengenakan gaun putih panjang dan rambut bergelombangnya tergerai terhempas angin kencang yang membuatnya berkibar. Mata Yoona bergerak liar kembali dan menyadari dirinya sedang di tepi jurang yang curam. Yoona menolehkan kepala ke sana-ke mari mencari jalan keluar kendati hanyalah kekosongan yang didapatinya.

“Im Yoona…” suara bisikan halus menggelitik seluruh permukaan kulitnya menjadi merinding seketika.

Yoona membalikan tubuhnya kali ini dengan perasaan takut luar biasa. “Siapa di sana?” seru Yoona namun keheningan yang menyapanya. Tegukan ludah Yoona pun masuk kekerongkongan wanita tersebut, menandakan dirinya sangat ketakutan sekarang.

“Im Yoona,” namanya terserukan kembali membuat Yoona membalikan badan ke arah berlawanan.

Seketika pupil mata Yoona membulat dikarenakan sebuah tangan berlumuran darah dan sangat pucat tergeletak di bawah kakinya. Ingin dirinya berteriak namun tertahan begitu saja ditenggorokannya. Tangan itu bergerak membuat Yoona menggeleng.

“SELAMATKAN AKUUU!!” teriakan terdengar diiringi tangan itu tertarik ke belakang. “Yoona! Selamatkan akuuuu! AKHHH!” suara teriakan itu perlahan memudar menjauh.

Keringat dingin dirasakan oleh Yoona, hingga waktu berlalu kelopak bunga mawar hitam menjatuhi dirinya. Yoona sangat tahu arti bunga ini. Kematian. Kelopak bunga itu menghujani dirinya membuat Yoona melakukan penggerakan yaitu mengangkat tangan menutupi alat pendengarannya disertai gelengan keras.

“CUKUP!!” seru Yoona disertai suara teriakan pilu yang menggema begitupula angin yang berhembus kencang membuat tubuhnya tumbang dan bersiap terjun bebas ke dalam jurang.

.

.

.

‘Tok! Tok!’

Ruh milik Yoona seakan tertarik masuk kembali ke tubuhnya yang langsung tersentak dan membuka kelopak matanya. Napas yang keluar sangat tidak teratur membuat tenggorokan Yoona tercekat habis seakan membutuhkan asupan air saat ini juga. Saat matanya meneliti kembali, Yoona sedang berada di appartemennya. Hembusan napas lega karap dilakukannya saat mengetahui yang terjadi padanya tadi hanyalah mimpi. Mimpi buruk seakan menghampirinya terus menerus. Hingga suara ketukan kembali terdengar. Yoona pun tersadar akan adanya tamu yang ingin singgah ke rumahnya, entah siapa. Diangkat tubuhnya dan digeret kakinya menuju pintu.

“Hallo Nona Im, maaf berkunjung malam-malam,” suara serta wajah Siwon lah yang menyapa Yoona saat dirinya membukakan pintu.

Yoona tersenyum simpul dan mempersilahkan tamunya masuk. Namun saat Yoona ingin menarik kakinya ke dalam rumah, kelopak matanya menemukan sebuah amplop berwarna coklat tergeletak di atas keset bertulisan welcome. Dibungkukan tubuh Yoona sekedar mengambil amplop tersebut dengan perasaan bingung.

“Siwon-ssi, ini punyamu?” tanya Yoona sambil membalikan badannya.

Siwon yang sudah berada di ruang tengah dan berdiri, menatap ke arah amplop yang Yoona tunjukan. Lelaki itu menggeleng membuat rasa penasaran Yoona bertambah akan amplop tersebut. Akhirnya Yoona menutup pintu dan dirinya menggeret kaki masuk ke dalam ruang tengah serta mempersilahkan Siwon duduk di sofa diikuti dirinya.

“Aku ke mari ingin membahas perihal mayat misterius itu, Nona Im,” Siwon memulai ucapannya. Namun kesibukan fokus Yoona masih pada amplop yang sedang ia balik-balikan ditangannya, yang mana tak tertera nama pengirim. “Lebih baik kau membukanya dulu.” Siwon menyarankan.

Seakan dirinya robot, Yoona pun mengangguk dan membuka amplop tersebut. Diintipnya melalui ujung mata bahwa amplop tersebut berisikan sebuah foto. Karena rasa penasaran bak samudra yang terhampar luas, Yoona langsung menarik semua foto dari amplop keluar.

“Foto siapa itu?” tanya Siwon yang ikut penasaran dan mencondongkan tubuh ke depan.

Yoona mengangkat bahunya dan menjawab. “Entahlah,” dirinya pun membalik foto tersebut setelah menaruh amplopnya di atas meja.

Demi Tuhan, mulut Yoona langsung menganga lebar kala melihat potret wanita yang mungkin sebaya dengannya sedang berada di hamparan ilalang dekat hutan Achiara. Wanita berambut bergelombang dengan mata belo serta gaun putih yang melekat sempurna padanya. Beberapa foto melihatkan wanita itu sedang bercengkrama entah dengan siapa karena orang yang mengobrol dengannya terpotong di foto dan tak terlihat sama sekali. Bukan karena apa, namun Yoona tahu betul bahwa foto tersebut memasuki ciri-ciri mayat yang ditemukannya.

“Astaga!” seruan Siwon menyadarkan Yoona akan delusinya terhadap gadis ini. Raut polisi itu juga terkejut diiringi mulut terbuka sangat lebar. “Ini Lee Sojung.” Siwon berucap kembali membuat intensi Yoona teralih padanya.

“Lee Sojung?” ulang Yoona membuat fokus Siwon yang semula tersita oleh foto Sojung menoleh padanya. Lelaki itu menatap Yoona penuh keyakinan walaupun di sisi lain, Yoona menatapnya keheranan.

“Aku akan membantu anda Nona Im.” Siwon berkata mantap diiringi anggukan tak kalah mantap pula.

Yoona tahu maksudnya, dirinya yang diarahkan menjadi kunci dibalik pembunuhan ini dan dirinya akan senang tiasa menerima uluran tangan Siwon yang sedia membantunya untuk memecahkan kasus yang secara tak langsung menyeretnya masuk.

─To Be Countinued─


HALLO! MASIH ADA YANG INGET FF ASTRAL KARYA TULIS AUTHOR ABSURD INI? BILA ADA SYUKUR ALLHAMDULILAH. Maafkan aku baru lanjut setelah jalan 2 bulan (serius waktu bergulir cepet sampe gak nyadar) Maafkan aku yang melalaikan kewajibanku meneruskan ff ini u,u akhir-akhir ini YoonWon terbengkalai maafkan huhu. Oh ya bentar lagi mau lebaran, mohon maaf lahir batin ya ^^ Maaf bila aku menodai mata kalian dengan FF gak jelas (ff lu mana ada yang jelas Els)

Oh ya, perlu kutegaskan bahwa FF ini terinspirasi sama Drama Korea The Village : Achiara’s Secret, maka jangan heran bila ada kesamaan tapi plot, ending, dan segala macemnya aku buat berbeda. Ya, serius ini hanya terinspirasi bukan mengcopy cat karena gak akan rame kalo gitu. Dan buat kalian yang sangat candu adegan romens, aku minta maaf karena di sini agak jarang karena lebih fokus ke misteri tapi ya tapi nih ada tapinya. Chapter yang mendatang akan ada kok adegan romantis Yoona-Siwon, tenang aja.

Dan di sini OCku si Hyerim exist sama pasangan sehidup-sematinya, Luhan wakakakak. Fyi, kenapa Hyerim pingsan? Ya dia mau aja pingsan :v /ditabok abis-abisan/ jadi aku kasih sedikit clue kalo Hyerim juga terlibat atas kejadian mayat misterius yang katanya mayatnya Sojung :v terlibat dalam hal apanya? Nah kalian tebak aja sendiri dulu akakakakak XD XD

Last, jangan lupa RCLnya dan jadilah readers yang baik dan berbakti (?) semoga FF ini cepet alias gak ngaret lagi jadwal publishnya, aminn

—with luv, HyeKim—
Advertisements

9 thoughts on “The Village’s Secret Chapter 2 [Mysterious Corpse] -HyeKim’s Story

  1. Wah,,,,serem juga yah,,,bacanya,moga az,,siwon ma yoona bsa bersama dan kasus ini bsa kelar dan siwon bsa balik k jabatannya,,,lanjut

    Like

  2. woah…emang dari awal kayaknya soojung pengen banget ditolong sama yoona,, ashley choi itu jgn2 soojung?? kenapa mesti yoona yang jadi perantaranya?? apa hubungan bibi seohyun dengan kematian soojung?? penasaran banget sama ceritanya, ditunggu next chapternya segera 😀

    Like

    • Iya dia ngebet Yoona nolongin dia
      Bukan sayang. Ashley bukan Sojung kok soalnya Si Ashley ngirim surat ini menjelang Yoona pergi sementara mayat ini (sesuai di teaser) udh tertimbun 1 tahun

      Iya tunggu aja yaa

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s