[Ficlet] If I Can

If I CanRecommended to Play:

If I Can
Yoona & Siwon | Romance & Fluff | Ficlet

“Ah, siapa sangka jika ia memiliki sebuah perasaan yang sama padaku dan tentang puisi “Jika”, tiba-tiba menjadi nyata.”

Sorry for the absurdness wkwk, alur yang cepet, dan selalu FF Ficlet ._. lagi buntu ide soalnya, semoga suka ^^


Jika aku bisa, memeluk erat tubuhmu…

Jika aku bisa, menggengam erat tanganmu…

Jika aku bisa, mengusap jemarimu…

Namun, aku hanya bisa bertemu dengan bayang semu dirimu…

Tubuh itu masih sama seperti waktu pertama jumpa, proporsi yang Tuhan ciptakan begitu sempurna, membekas pada benak secara repetitif. Caranya tertawa begitu khas, caranya bergurau begitu khas, dan caranya berbicarapun sangat khas.

Ia berjalan sembari menuntun sepeda biru lautnya, mengarungi jalanan membelah langit senja yang tengah melukis diri dengan warna jingga dan semburat awan keemasan. Sementara aku? Seperti seorang penguntit, mengikutinya secara andestin dibalik punggung kekarnya.

Sesekali aku bersembunyi dibalik pohon akasia yang berjajar disekeliling jalan kalau-kalau ia berbalik dan memicingkan matanya merasa seperti diikuti, bisa mati berdiri aku jika ia melihatku tengah membuntutinya.

“Hei, tugas Tuan Cho maha sulit, apa kau bisa bantu?” apa? Tuan Cho? Seorang pengajar Fisika dengan kepala setengah libas, aku yakin kepalanya yang botak itu terlalu banyak terjejali oleh rumus gerak lurus atau rumus temperatur sehingga rambutnya satu per satu rontok, ah persetan dengan Tuan Cho! Caranya berbicara tadi, astaga. Aku meleleh mendengar suara beratnya yang sedikit serak itu, sangat umm…sexy!

Disepanjang jalan, mereka berdua hanya berbicara pasal tugas dari kakek tua yang begitu sulitnya, aku saja sama sekali belum mengerjakannya. Oh ya, aku berbicara panjang lebar seperti ini apa kalian tahu siapa yang tengah aku ikuti? Dia adalah Choi Si Won, salah satu murid terbaik disekolah, dia sangat perfect! Hidup sebagai anak jutawan dengan kecerdasan diatas rata-rata, apalagi dia sangat tampan, kau tahu itu? Aku sudah menyimpan rasa sejak lama padanya, tapi aku takut, jikalau ia tahu kemudian ia merasa risih.

“Siwon, apa kau merasa kita seperti diikuti oleh seseorang?” mereka berbalik, ups! Aku bersembunyi.

“Tidak, sepertinya hanya perasaanmu saja. Ayolah, hari sudah petang!”

Mereka memacu sepeda masing-masing dengan cepat, aku tersenyum. Oh, apakah Tuhan akan menjawab doaku? Ketika aku hanya bisa membuntutinya dari belakang, aku berharap semoga saja suatu hari nanti ia tahu dan mengerti perasaanku padanya.

Akhirnya bel berbunyi! Kepalaku serasa ingin pecah akibat rumus-rumus Kimia yang terbentang penuh dari sisi kiri papan tulis hingga sisi kanannya. Siapa manusia yang begitu jeniusnya menciptakan hal-hal bodoh seperti Kimia ini? Argh!

Dia..

Siwon berjalan keluar bersama temannya. Dia bagaikan seorang malaikat yang dikirim oleh Tuhan untuk mengobati rasa kesalku pada pelajaran eksakta yang telah mengambil setengah bagian dari seluruh kehidupanku.

Aku buru-buru mengemasi buku, berlari kecil dan melakukan hal yang selalu aku lakukan setiap pulang sekolah. Berharap Siwon belum terlalu jauh sehingga aku tidak kehilangan kesempatan ini.

Sore ini masih sama, begitupun dengan dia. Mereka berdua sama-sama ciptaan Tuhan yang maha indah, aku menuntun sepeda dengan keranjang yang biasa untuk meletakkan tas, seperti biasa aku seperti seorang penguntit-lagi- jika kau bertanya berapa lama aku akan melakukan ini, aku tak akan bisa menjawabnya. Kali ini Siwon sendirian, tidak bersama teman-temannya yang selalu berjalan beriringan.

Ups!

Kenapa ia tiba-tiba berhenti dan duduk? Hmm, mungkin aku harus menunggu sedikit lama. Tapi kabar baiknya, aku dapat melihat wajahnya secara langsung. Ia membuka tas hitamnya, mengambil sebuah minuman isotonik yang selalu ia bawa.

Wajahmu sedikit basah oleh peluh…

Jika bisa, aku akan menyekanya…

Huh? Kemana dia? Kenapa tiba-tiba saja hilang? Sigh, ini karena aku terlalu sibuk menghayal! Ya sudah, aku pulang saja.

“Hei!”

Deg!

“Bukankah kau Yoona?”

Itu Siwon, “Uh…ya…”

“Kau sepertinya selalu mengikutiku sejak lama ya?”

Aigo…k-kenapa ia bisa tahu? “Um, tidak…aku hanya…” Siwon menggedikan bahunya, mengangkat kedua alisnya menunggu kalimat apalagi yang akan keluar dari mulutku.

“A-arah r-rumah, ya arah rumahku kebetulan sama, begitulah hehe,” kontan saja aku menjadi kikuk, berhadapan dengan Siwon membuatku kelu. Ia tersenyum simpul, alasan yang tepat.

“Oh begitu ya, kita pulang bersama bagaimana? Aku juga pergi ke arah yang sama.” Ek. Pulang bersama? Astaga, apa ini mimpi? Aku mengangguk tanpa pikir panjang lagi, sebenarnya ini hal bodoh, lima menit kedepan adalah hal yang sangat membosankan sebab aku yang diam seribu bahasa.

Dugaanku salah, Siwon justru orang yang sangat supel kepada siapapun. Ia dapat memecah batu es yang terletak diantara kami, caranya membuat lelucon, aku menyukainya.

“Kau sangat pandai dalam bidang bahasa Yoona, aku bahkan sulit untuk menemukan kata untuk merangkai sebuah karangan.” pujian yang dilontarkan Siwon membuat kedua pipiku merah, tapi kau lebih pandai dalam bidang apapun Siwon, aku bukanlah apa-apa.

“Sepertinya kau sangat menyukai sastra, bisa kau ajari aku?”

“Um, tentu.”

Angin berhembus semilir mengikuti awan senja yang berarak, menelusup hingga masuk ke dalam rambutku. “Kenapa kita berhenti? Perjalanan masih beberapa langkah lagi, ayolah.” bujukku, aku sudah tak sabar ingin pulang. Bisa-bisa aku pingsan terus berada disamping Siwon.

Ia menatapku lekat-lekat, huh? Ini seperti difilm-film yang sering aku tonton.

“Yoona, uh…sebenarnya aku sudah lama mengerti…”

“Bahwa kau selalu mengikutiku secara diam-diam…”

“Tak masalah, aku juga sebenarnya…”

“Menyukainya, selama dirimu yang mengikutiku…”

Siwon menggengam kedua tanganku, dekapan tangannya membuat darahku mengalir lebih cepat, tiba-tiba seluruh tubuhku berdesir akibat hormon yang diciptakan oleh tubuh. Kenapa ini?

“Aku suka padamu Im Yoon Ah, sejak kau membacakan puisi “Jika” aku jatuh cinta pada kelembutan sastra yang terkandung pada setiap untaian bait yang kau ciptakan.”

Um…ternyata…

“Maukah kau menjadi pacarku? Terimalah diriku Yoona.”

Mwoya? Apa ini nyata, ada dua sisi yang saling bertempur pada diriku yang pertama adalah sisi bahagia yang mendorong untuk menerimanya dan sisi pemalu yang menolak untuk menerimanya.

“Aku..”

Aku menggigit bibir bawahku, kemudian aku mengangguk kecil. Secercah senyum terbentuk pada bibir Siwon, ia memelukku dengan erat. Hm, tubuhnya begitu hangat aku dapat mencium wangi parfumnya yang menusuk indra.

“Ayolah, kita pulang.”

Hari itu hanya desiran angin dan semburat jingga senja yang menjadi saksi bisu saat Siwon menyatakan cintanya padaku. Ah, siapa sangka jika ia memiliki sebuah perasaan yang sama padaku dan tentang puisi “Jika”-ku tiba-tiba menjadi nyata. Memang ini terasa begitu cepat, tapi inilah kehendak Tuhan. Semoga saja ini akan terus berjalan seperti biasanya, aku ingin waktu berputar lebih lambat.

-fin-

Halo! Aku dateng lagi setelah sekian lama bertapa di Gunung Fuji wkwk *berlebihan -plak-* dan aku cuma bisa bawa FF ficlet yang super duper aneh bin ngeselin, bener gak? Hmm, menurut kalian? Aku tunggu komentarnya! Ciao!

Advertisements

4 thoughts on “[Ficlet] If I Can

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s