Enemy? [Part 4]

Enemy2

|| Title: Enemy? || Author: Phiyun || Genre: Family | Romance | Comedy | Crime || Rating: 16+ || Cast: Choi Siwon | Im Yoona | Song Joongki a.k.a Im Joongki | Bae Irene | Bae Sooji | Ji Chang Wook || Lenght: Ficlet Series

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Please Don’t Be Silent Reader!

 

Preview: Part 1  || Part 2 || Part 3 

*** Happy  Reading ***

Akan kuceritakan padamu apa yang kukatakan kepada Chang Wook Oppa dan kepada polisi.” Sooji memerlukan waktu sejenak untuk menghirup dan mengeluarkan udara perlahan-lahan dari paru-parunya. “Irene Eonni, dan aku sangat dekat. Dia selalu lembut dan sensitif. Dia begitu manis seperti anak-anak tampa harus bersikap kekanak-kanakan. Aku sangat mengenal dirinya sama baiknya seperti diriku sendiri.”

Sejenak Yoona berpikir tentang Kyuhyun dan kemudian mengangguk. “Ya, aku mengrti.”

Tak lama kemudian Sooji melanjutkan perkataannya dengan mendesah. “Sejak kecil, Eonni punya ketakutan pada tempat-tempat gelap. Kalau dia harus masuk ke dalam kamarnya, dia akan mengulurkan tangannya dan memencet tombol lampu terlebih dahulu sebelum masuk. Hal itu bukan lah kebiasaan namun satu dari ketakutan kecil yang tidak pernah bisa diatasi oleh dirinya. Kau mengerti maksudku?”

Teringat akan rasa takutnya sendiri, Yoona menganguk lagi. “Ya, aku mengerti.”

Sooji menjauh dari jendela, ”Walaupun Eonni,  begitu mencinai rumah itu, tapi adanya rawa yang begitu dekat amat membuatnya gelisa. Eonni, pernah menulis surat padaku bahwa rawa itu seperti lemari yang gelap. Ya, tempat yang selalu ia hindari. Meskipun di kala siang hari pun. Dia mencintai Chang Wook Oppa. ia ingin menyenagkannya , tapi dia tak akan mau pergi ke sana bersama suaminya.

Beberapa saat kemudian Sooji membalikkan tubuhnya ke arah Yoona. Dengan sorot mata yang memohon. “Kau harus mengerti dan percaya, bahwa kakakku tak akan melakukan semua hal itu meskipun  ia sangat mencintai suaminya. Irene Eonni tidak akan pernah pergi ke tempat itu sendirian, apalagi malam hari.” ujar Sooji dengan bibir yang bergetar.

Yoona menantika sejenak, sementara berbagai fakta dan pemikiran berkejaran dalam benaknya. “Tapi dia di temukan di situ.

“Karena seseorang membawanya ke sana.” kata Sooji menjawab pertanyaan semua dalam hatinya. Saat Yoona melirik Sooji, hilang sudah penampilan tak berdayannya.  Walaupun matanya masih membengkak dan ada lingkaran kehitaman di bawah kantung matanya, sekarang terlihat rasa tekad bulat itu dan permohonan untuk bisa mempercayai ucapannya.

Memang tidak pernah jelas alasannya, mengapa pengantin muda itu keluyuran di tengah malam sendirian ke rawa . Walaupun Yoona di besarkan di dekat rawa dan paya-paya, dia tahu tempat-tempa itu berbahaya, terutama di malam hari. Seperti serangga, tanah berlumpur bahkan ular pasti selalu ada di sana.

Dia juga ingat bagaimana Ji Chang Wook menjauh dari wartawan setelah tragedi itu, tidak ada wawancara tidak ada komentar. Tidak lama setelah pemeriksaan ia pun mengurung dirinya kembali. Yoona memikirkan Chang Wook, kemudian melirik Sooji. Kesetiaannya menyentak. Sedangkan naluri kewartawannanya yang sudah ia miliki sejak dulu menarik dari kedua sisinya. Semua pertanyaan dalam kehidupan selalu membutuhkan jawaban.

“Kenapa kau datang ke Emerland, Sooji?”

“Begitu sampai di kota, aku pergi menemui Oppa tadi malam. Dia tidak mau mendengarkanku. Pagi ini aku pergi ke kantor polisi. Tapi yang kudapati hanyalah kegagalan. Kasusnya sudah ditutup. Mungkin seharusnya aku menyewa detektif swasta, tapi…” suaranya melemah sambil menggelengkan kepala. “Bahkan kalaupun itu memang cara yang tepat, aku tidak punya uang. Aku tahu keluarga Ji sangat disegani dan terhormat tapi pasti ada cara memperoleh kebenaran, tentang kenyataannya kakakku di bunuh.” kali ini suaranya bergetar ketika mengucapkan kalimat terkahir itu.

Sooji tidak sekuat yang ingin dirinya tampilkan. Yoona menyadari itu ketika gadis itu bangkit dari hadapannya. “Sooji, maukah kau mempercayaiku untuk menyelidiki semua ini?” kata Yoona membuat Sooji mematung. “A—aku… Kau…”

“Ya, aku akan membantumu.” tambah Yoona.

“Terimakasih.” terlihat rasa lega di mimik wajah gads muda itu.

“Jangan dulu berterimakasih padaku.” balas Yoona. “Aku belum melakukan apa-apa.”

Meskipun begitu, Sooji tidak bisa menutupi rasa bahagianya. “Tunggulah aku di lobby bawah, aku akan bertemu denganmu beberapa menit lagi.” kata Yoona dan Sooji langsung menganguk setuju.. Saat dirinya melihat Sooji berjalan melewati meja yang berliku-liku di ruang utama. Gadis itu mengerutkan mulutnya tanda sedang berpikir.

“Nyonya Ji.” pikir Yoona, lalu setelah itu mengeluarkan desahan. “Chang Wook. Ya Tuhan, sarang lebah macam apa yang akan digangunya?” sebelum ia  merumuskan jawabannya, editor surat kabar masuk, wajahnya yang tipis berkerut memaki. “Ya ampun, Yoona-ah. ini kantor surat kabar bukan layanan Nona kesepian. Cari ruangan orang lain kalau salah satu temanmu bertengkar dengan pacaranya. Sekarang pergilah, nampaknya dia menunggumu.” sambil duduk di meja kerjanya yang berantakan.

Yoona berjalan menghampiri meja dan membungkuk di sudut meja. Lee Hyun Jae adalah sahabat dekat ayahnya, dia sering melambung-lambungkan dirinya di kedua kakinya saat Yoona masih kecil. Tapi jika harus memilih antara kedekatan hubungan pribadi dan tulisan koran, maka urusan tulisan yang akan menang. Meskipun Yoona tak mengharapkan lain dari itu.

“Tadi itu adiknya Nyonya Ji,” kata Yoona tenang ketika Hyun Jae membuka mulut hendak mengeluarkan umpatan. “Ji??” ulang Hyun Jae dengan alis matanya yang lebat berkerut bertemu. “Apa yang dia inginkan?”

Yona mengambil sebuah pemberat kertas di atas meja yang biasa digunakan oleh Hyun Jae. Alat pemberat itu pun di pindahkan dari tangan ke tangan. “Membuktikan bahwa adiknya dibunuh.”

Hyun Jae berteriak pendek yang kedengarannya seperti suara tawa atau lebih tepatnya suara ejekan. Hyun Jae mengambil sebatang rokok dari laci mejanya dan memainkanya di jari-jarinya. Pria paruh baya itu mengelus rokoknya, mengusapnya, tapi tidak menyalakannya. Dia tidak mengisap sebatang rokok pun selama enal belas hari, dua belas jam… sepuluh menit. “Digigit ular,” komentar Hyun Jae, “Dan kehabisan darah semalaman tidak menjadikan kasus ini sebagai pembunuhan. Bagaimana dengan kisah agen jalan tol itu?” ujar Hyun Jae mengalihkan pembicaraan Yoona. Namun sayangngadis yang ada di hadapannya tidaklah bodoh, ia tahu kalau Hyun Jae sedang mengalihkan pembicaraan di antara mereka.

“Adiknya mengatakan padaku bahwa Nyonya Ji mempunyai ketakutan terhadap tempat-tempat gelap,” sambung Yoona. Dalam surat-suratnya secara khusus Irene menyebutkan tentang rawa tempat dia meninggal. Dia tidak pernah menjejakan kakinya di situ, dan sama sekali tidak punya niat  untuk itu. Kelihatan jelas pendapatnya berubah. Atau seseorang mengubahnya untuk Irene?”

“Yoona-ah…”

“Tolong izinkan aku melakukan sedikit penyelidikan tentang hal ini.” sementara berbicara. Yoona mengamati pemberat kertas yang berkilat-kilat itu.

Muka Hyun Jae berkerut ke arah rokoknya, jari-jarinya memainkan rokok itu dari filternya sampai ke ujungnya. “Ji tidak akan menyukai ini.”

“Serahkan soal Chang Wook padaku,” kata Yoona dengan penuh keyakinan, lebih yakin daripada yang dirasakannya. “Ada sesuatu di balik kejadian ini, Jae. Tidak pernah ada alasan yang jelas mengapa Irena pergi sendirian ke rawa itu. dia sudah memakai pakaian tidur.”

Mereka berdua tahu gosip yang beredar, Irene diduga sering menemui mantan kekasihnya dan Chang Wook mengurungnya di dalam rumah sampai akhirnya Irene kabur dari rumah, kemudian tersesat sendiri.

Hyun Jae menaruh roroknya di mulut dan mengunyah filternya. Hyun Jae tak bisa memungkiri kisah tentang keluarga Ji selalu menjadi bahan tulis yang menarik. “Cari sesuatu,” kata Hyun Jae akhirnya. “Beritanya masih cukup hangat.” sebelum Yoona melonjak kesenangan karena dia berhasil memenangkan ronde pertama, Hyun Jae menjatuhkan kartu AS-nya. “Siwon yang meliput cerita ini, kau kerja sama dengan dirinya.”

“Kerja sama dengan Siwon?!” ulang Yoona, “Aku tidak membutuhkannya. Aku yang mendapatkan petunjuknya, ini kisahku!”

“Ini kasusnya,” balas Hyun Jae “Dan tidak menjadi kisah siapa-siapa sampai terbukti ada.”

“Brengsek!” umpat Yoona geram, “Hyun Jae-ah…orang ini sangat menyebalkan. Aku bukan wartawan junior yang memerlukan seorang pengawas, dan…”

“Dan Siwon yang ounya kontak-kontak, sumber-sumber dan tahu latar belakangnya.” Hyun Jae bangkit sementara Yoona kesal. “Kita tidak mempersoalkan masalah keoribadian di Emerland, Yoona-ah. Kalian bekerja bersama atau tidak sama sekali.” Setelah melempar pandangan terakhir ke arah Yoona, Hyun Jae menjulurkan kepalanya ke arah pintu, “Siwon!”

“Kau tak bisa mempersoalkan masalah kepribadian dengan seseorang yang tidak memiliknya,” Yoona mengomel. “Akulah yang mengenal keluarga Ji. Siwon akan menghalagi pekerjaanku.”

“Kau selau merajuk, lama-lama itu bisa jadi kebiasaan buruk, Yoona-ah.” komentar Hyun jae sambil mengitari mejanya lagi.

“Aku tidak merajuk!” protes Yoona bersamaan dengan Siwon masuk ke dalam ruangan. Siwon melirik sekejab ke arah Yoona yang wajahnya memerah karena marah, mengangkat satu alisnya dan meringis. “Ada masalah?” tanya Siwon dingin.

Yoona berusaha mengendalikan keinginannya untuk memaki Siwon, lalu menjatuhkan dirinya ke sebuah kursi. Dengan adanya Choi Siwon di dekatya selalu ada masalah yang timbul.

~OoO~

“Bergembiralah.” kata Siwon beberapa menit kemudian. “Sebelum semua ini berakhir, barangkali kau akan mempelajari sesuatu.”

“Aku tidak perlu pembelajaran apa pun darimu.” Yoona berbalik menuju lift.

“Itu.” gumam Siwon, sembari menikmati bentuk bibir Yoona yang mencibir, “Masih harus di buktikan.” tambahnya.

Yoona menoleh. “Kau tidak sedang menghadapi seorang asisten Tuan Choi, taoi seorang rekan.” Yoona mengepalkan kedua tangannya yang terselip di kantung jaketnya. “Jangan terlalu memaksakan ini, mentang-mentang kau yang meliput penyelidikan serta pemeriksaan mayatnya. Kau akan membuat segalanya lebih mudah untuk kita berdua dengan memberikan semua catatamu kepadaku.”

“Hal yang terakhir yang akan kulakukan,” kata Siwon tenang, “Adalah memberikan catatanku pada siapa pun.”

Tak lama kemudian pria itu berkata kembali. “Dan hal terakhir yang kubutuhkan adalah membiarkanmu menertawakanku. Ini adalah ceritaku. Sungguh menjengkelkan kalau hal itu terjadi?” dengan santainya, Siwon memecet tombol lift lalu menoleh ke Yoona. “Tidakkah Tuan Im pernah memberitahumu bahwa saling berbagi adalah bagus untuk jiwamu?”

Sambil mengerutu Yoona melangkah masuk ke dalam lift dan memencet tombol lobby. “Persetan!”

Yoona tak menyadari kalau Siwon bisa bergerak demikian cepat. Barangkali inilah pelajaran pertama untuknya. Sebelum dia menaruh curiga pada apa yang dilakukan Siwon, pria itu sudah memencet sebuah tombol dan menghentikan lift di antara dua buah lantai. Bahkan saat mulut Yoona sedang ternganga karena terkejut, Siwon menorong punggungnya sampai bersandar ke dinding, “Hati-hati, jangan terlalu mendesak,” Siwon memperingatkan dengan lembut. “Kecuali kau sendiri bersedia menerima desakan yang keras.”

Leher Yoona tiba-tiba terasa kaku dan sakit. tidak pernah dia melihat mata Siwon membeku seperti ini sebelumnya. “Mengagumkan.” lirih Yoona dalam batinnya. Aneh, dia selalu mengira, dia yakin bahwa Siwon tidak pernah marah, tapi sekarang ketika pria ini hampir saja mencengkram lehernya, Yoona tidak merasa terkejut. Tidak, memang tidak mengejutkan bahwa kulitnya dijalari rasa dingin.

Gadis ini ketakutan, Siwon memperhatikannya. Tapi tidak merasa ngeri. Akal sehatnya mengatakan agar mundur sekarang, setelah menjelaskan maksudnya. Tapi satu tahun adalah waktu yang amat sangat lama. “Kupikir sekarang aku akan menyingkirkan semua ini dari sistemku, sebelumkita mulai bekerja.”

Siwon melihat mata Yoona membelalak, terkejut ketika dia merendahkan mulutnya ke dekat mulur Yoona. Sebuah kerut senang menghiasi bibir Siwon saat dia membiarkan bibirnya menggantung amat dekat di atas bibir Yoona. “Terkejut? Hei, Nona Im?” ejek Siwon.

Yoona mematung. Kenapa dia tidak bisa bergerak? Tubuhnya sama sekali tidak bereaksi terhadap perintah otaknya. Dia nyaris yakin bahwa tadi dia menyuruh lengannya untuk mendorong Siwon jauh. Tapi dirinya terpanah akan sinar mata Siwon yang mempesona dirinya, hingga semua keinginan itu lenyap tersapu angin.

Napas Siwon seolah berbisik  dekat kulit Yoona, merambah sampai ke mulutnya lewat bibir yang tanpa disadarinya sudah membuka. Tercium bau sabun dari tubuh Siwon – begitu mendasar, sederhana.

Dalam menjernihkan saraf-sarafnya, Yoona menegakkan tubuhnya sampai merapat ke dinding. “Jangan berani-beraninya kau…”

Kata-katanya terhenti oleh suara kenikmatan tertahan ketika bibir Siwon meluncur ke bibirnya. Bukan sebuah ciuman. Tidak seorang punakan menganggap itu ciuman. Cuma sentuhan sekilas tanpa tekanan. Lebih sebuah isyarat—atau ancaman. Dalam hati Yoona bertanya-tanya apakah seseorang sudah memotong kabel lift.

Dia tidak bergerak, bahkan sebuah ototnya pun tidak. Matanya membelalak lebar-lebar, pikirannya tersapu bersih ketika Siwon maju selangkah lebih dekat dengan tubuh Yoona—tegap, tinggi dan kuat.  Bahkan ketika sistem sarafnya melonjak-lonjak, Yoona tetap tidak bergerak se-inci pun. Mulut Siwon masih berbisik di atas mulutnya, begitu halus, begitu ringan sehingga rasanya dia hanya merasak sekedar membayangkannya saja.

Ketika Yoona merasa ujung lidah Siwon yang basah menelusuri bibirnya, lalu menyelam masuk dan menyentuh, hanya menyentuh ujung lidahnya, napas Yoona yang selama ini di tahannya bergetar keluar. Justru suara lembut itu, yang keluar tanpa disengaja dan menandakan penyerahan diri itulah yang membuat Siwon nyaris kehilangan kendali. Jika saja Yoona menampar  atau membentaknya, dengan mudah Siwon bisa menghadapi reaksi seperti itu. saat itu dia juga sedang cukup marah. Dia justru tidak menyangka, Yoona tunduk secara mengejutkan, tidak mengira sama sekali.

Dari rasa marah yang meluap-luap muncul keinginan menguasai yang menggoda, kemudian sebuah kerinduan—yang perih dan manis—akan keinginan. Bahkan ketika Siwon mengigit bibir bawah Yoona yang lembut, dia ingin tahu apakah mungkin dia bakal mendapatkan Yoona dengan kondisi seperti ini lagi. Siwon ingin sekali menyentuh Yoona, menyeikapkan blus yang di kenakan Yoona agar melorot dari bahunya dan membiarkan tangannya mengelus pelan-pelan, amat sangat pelan, setiap senti tubuhnya, gadis itu. Kulit Yoona, pucat seperti bunga magnolia, lembut seperti air hujan, membuat Siwon tergila-gila selama berbulan-bulan. Dia bisa mendapatkan Yoona sekarang, pikir Siwon ketia dia mempermainkan bibir Yoona dengan sangat lembut.

Dia cukup ahli dalam hal ini, dan saat itu Yoona begitu terbuai sehingga kewaspadaannya mengendur. Bisa saja dia bercinta dengan Yoona di sini, di lantai lift, sebelum salah satu dari mereka memperoleh kembali kesadaran mereka. Luar biasa gila, gila tapi nikmat. Bahkan ketika Yoona berdiri diam, Siwon bisa merasakan gairah dalam diri gadis berjuang keras untuk keluar dan menutupi rasa terkejutnya kemudian menjangkau Siwon. Namun begitu, Siwon mempunyai rencana berbeda untuk merayu Im Yoona.

Jidi dia tidak menyentuh Yoona, tapi dengan enggan terpaksa mundur. Tidak sekali pun selama dua menit yang mendebarkan barusan, gadis itu mengalihkan matanya dari Siwon. Yoona memperhatikan mulut Siwon yang cerdik dan berkerut itu melengkung ketika dia memencet lagi tombol menuju lobby. Lift bergerak kembali di sertai bunyi menderu dan sebuah sentakan.

“Sayang sekali waktu kita terbatas,” ucap Siwon ringan, lalu melihat ke sekeliling lift dengan pandangan acuh tak acuh. “Dan juga tempatnya.”

Lapisan demi lapisan kabut yang ada di pikiran yoona sedikit-demi sedikit menghilang sampai akhirnya dia bisa berpikir jernih. Matanya berkilat-kilat dengan celah kecokelatan. Kulitnya yang berwarna gading bersemu merah penuh amarah ketika Yoona mengeluarkan semua berondongan kata-kata makian seperti air mengalir, tanpa perlu bersusah payah, sehingga membuat Siwon kagum.

“Tahukah kau bahwa kau betul-betul menghilangkan huruf ‘r’ ketika sedang marah?” racau Siwon. “Genjatan senja, Yoona-ah.” Siwon mengangkat tangannya, menyerah waktu Yoona menarik napas dan bersiap-siap untuk memulai lagi. “Setidaknya gencatan senjata profesional sampai kita mendapat petunjuk lebih jelas. Kita bisa melanjutkan perang pribadi ini jika tidak sedang bertugas.”

Yoona menelan kembali jawaban sinis serta kemarahan yang meluap-luap ketika lift berhenti pelan.  “Oke, gencatan senjata, Tuan Choi,” Yoona terpaksa berkompromi ketika mereka melangkah menuju lobby. “Sekali lagi kau melakukan hal semacam itu, kau akan kehilangan beberapa gigimu.” ucap gadis yang ada di sebelahnya.

Siwon menjilat giginya seolah-olah menyakinkan apakah masih utuh di depan Yoona. “Kedengarannya masuk akal.” lalu Siwon menyorongkan tangannya, dan meskipun Yoona tidak percaya dengan ekspresi wajah Siwon yang tenang, di terimanya juga tangannya itu. “Kelihatannya aku juga yang akan meneraktirmu makan siang.” seraya menarik tangannya, Yoona membetulkan letak tali tas di bahunya.

“Omong besar padahal semuanya atas biaya kantor.” sambil meringgis, Siwon mengayunkan tangan bersahabat memeluk Yoona ketika mereka berjalan ke arah belakang lobby. “Jangan ngambek, Nona Yoona-ah. Ini kencan pertama kita.”

“Kencan?” Yoona mendengus dan memalingkan wajahnya—tapi dia tidak mendorong lengan Siwon.

-TBC-

~OoO~

Olahhooo…. ketemu lagih kita di sini ^^

Akhirnya diriku bisa update juga ini FF-nya,  maapkeun bila diriku rada lama publishnya, soalnya baru ada waktu luangnya sekarang. Meskipun begitu, mimin berharap kalian masih setia menunggu kelanjutannya 😀 . Oh iya di part ini sengaja aku buat lebih panjangan loh ^^

Untuk mengingatkan, cerita ini juga terinspirasi juga dari novel dari Nora Roberts yang judulnya Partners, jadi jangan kaget saat bacanya ya, alur awalnya aku buat sedikit sama dan akan sedikit melenceng dari isi novelnya ke depan nantinya 😀

Penasaran sama kelanjutannya? Ayo jangan lupa RCL-nya ya dear, biar miminnya lebih semangat lagi buat publisin part ke-tiganya, hehee (Modus nih, penulisnya) 😀

Sebelumnya Phiyun ucapkan terima kasih kepada semua readers yang sudah mau meninggalkan jejaknya di part sebelumnya dan di sini  ❤

 

Advertisements

29 thoughts on “Enemy? [Part 4]

  1. Akhirnya terjadi jg adegan kissuenya..ini yg dtunggu2 heheheheh…didlm lift kantor pula lg..untung cm mereka b2 yg ada ddlm situ..yoona bener2 terlena ya sm perlakuan siwon..bkn omelan atau makian tp desaha yg kluar dr mulut yoona hihihihihihi….dah berani liar jg nech mereka b2..next ya thor dtunggu chapter 5 nya..

    Fighting n gomawo ya….

    Liked by 1 person

    • Ocehh deh tar aku usahain buat panjangin part kelanjutannya tapi dikit aja yah, hihihi 😀
      Pastinya lanjut dong, apa lagi banyak good readers yang ninggalin komennya di sini, di tunggu aja yah 🙂
      Makasih ya dah nyempetin berkunjung ke sini ^^

      Like

    • Ini baru permulaannya aja loh, dear…
      mungkin di part yang akan datang bakalan lebih liar lagi moment yoonwonnya, hahaha 😀
      Makasih yah dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

  2. Uhuck,,, awal yang bagus Wonppa,,, tingkatkan ne? Hehee
    Udah nggak sabar nunggu yoonwon mecahin kasus ini sambil nyempil moment2 sweet mereka 🙂

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s