Falling For Innocence [Chapter 11]

Falling For Innocence

|| Title: Falling For Innocence || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life | Comedy | Friendship || Main Cast:  Jiyeon |Kris a.k.a Wu Yifan | Tao | Jessica | Sehun | Eunjung ||

Preview:  Part 1 || Part 2 || Part 3 || Part 4 || Part 5 || Part 6 || Part 7  || Part 8 || Part 9 || Part 10

WARNING!!! Please Don’t Silent Readers!!!

–&–

***Happy Reading Guy’s***

-Privew-

 

“Bahkan jika, dia pembunuh berseri yang sudah  membunuh ribuan orang, tidak ada seorang Ibu  yang bertanya kepada putranya ‘Mengapa kau menjadi seorang monster’. Ketika anda bertemu dengan Ibu anda, dia hanya akan mengatakan satu hal…”

“Aku minta maaf. Karena, aku meninggalkanmu sendiri.”

“Aku minta maaf. Jika ini membuatmu jadi sangat terluka, menjadi sulit.”

Kris sangat tersentuh mendengarnnya. Lalu Kris memberitahu kepada Jiyeon bahwa ada sesuatu yang belum ia katakan pada gadis itu. Sesuatu kata yang tak seharusnya ia katakan. “Jika aku mengatakan ini, aku merasa semuanya akan jadi berantakan.”

Jiyeon semakin penasaran dengan apa yang akan di katakan Kris kepadanya, “Apa itu? katakanlah.” pinta Jiyeon dengan menatap dalam kedua mata Kris.

~OoO~

 

“Cepat! Cepatlah!” bisik rekan Eunjung yang berdiri di depan pintu toko untuk melihat kondisi di dalam toko.

Eunjung pun menjadi panik dan dia meminta rekan ahli forensiknya untuk bergerak lebih cepat. “Apa akan memakan waktu lama? Cepatlah!”

“Aku hampir saja selesai!” serunya tak kalah panik.

Tak lama kemudian, Tao akhirnya menemukan pilihan cincin yang akan ia belikan untuk Jiyeon. Dan bersamaan dengan itu pula ahli forensik juga menemukan sesuatu dari mobil milik Tao.

-End-

~OoO~

“Cepat! Cepatlah!” bentak Eunjung dengan setengah berbisik. Eunjung semakin panik di saat dirinya melihat Tao sudah hampir selesai memilih perhiasan yang, pria tersebut cari. “Apa kau belum selesai juga? Bisa lebih cepat?” tanya Eunjung kembali untuk yang sekian kalinya.

Eunjung terus-menerus memojok-kan rekan kerjanya sehingga rekannya yang sedang memeriksa kendaraan Tao, semakin gugup dan tertekan pastinya. Tak lama akhirnya rekan Eunjung pun selesai memeriksa. Wajah pria itu terlihat kaget dan itu membuat Eunjung semakin penasaran dengan hasil yang telah di temukan.

“Apa kau menemukan sesuatu?” tanya Eunjung sambil berjalan menghampiri rekan ahli forensiknya. Dengan suara yang pelan namun mantap, rekan Eunjung pun berkata. “Tidak ada. Tidak ada bercak darah sama sekali. Aku rasa ini bukan mobil yang menabraknya.”

Eunjung terkejut dengan hasil yang ia terima. Gadis itu bersih keras menyuruh rekannya mengecek ulang kembali. “Tidak mungkin, cek sekali lagi.” pintanya namun sayang rekannya tak menggubris permintaan gadis itu. Pria itu malah pergi begitu saja meninggalkan Eunjung tanpa menoleh ke belakang sekali pun.

~OoO~

-Di tempat yang lain-

Jiyeon memasuki dalam rumahnya dengan langkah yang gontai. Gadis itu terus menundukan kepala dan tak lama kemudian ia jatuh tak berdaya di atas kasur lipatnya. Ia termenung, seakan ia sedang benar-benar mencerna apa yang baru saja terjadi kepada dirinya. wajah Jiyeon terlihat tegang. Gadis itu terus menghela napas, sekali, dua kali dan saat ia menghela napasnya yang untuk sekian kalinya, Jiyeon langsung menelungkupkan wajahnya yang telah memerah di atas selimut dengan frustasi.

Tak jauh beda dengan Jiyeon, Kris juga tertegun. Pemuda itu duduk terdiam tanpa kata setibanya di dalam rumahnya. Sesekali ia menatap bayangan tubuhnya dari depan cermin dan dengan ekspresi datar Kris menatap sosoknya dalam hening.

~OoO~

-Keesokan hari-

Kris dan Sekertaris Oh sedang membahas jadwal yang akan mereka lakukan esok hari. Dengan cekatan sekertaris Oh mencatat rutinitas atasannya. Karena mereka sudah seperti saudara sendiri jadi pertemuan mereka pun dapat di lakukan di mana saja, contohnya seperti malam ini. Mereka membahas pekerjaan di sebuah rumah makan yang tak jauh dari kediaman Kris.

“Kita harus menggunakan mobilmu besok.  Aku tidak yakin apa mobilku sudah selesai diperbaiki atau belum. Sepertinya mobilnya mengalami kerusakan parah, saat kau pergi dengan, Nona Jiyeon.” kata Sehun dan Kris menjawabnya dengan anggukan kepala tampa menoleh ke lawan bicaranya.

Mendapati jawaban seperti itu dari Kris, Sehun hanya dapat menghela napas panjang sebelum dirinya menelepon bengkel yang saat ini memperbaiki mobilnya. Saat Sehun sedang sibuk mencari nomor telepon bengkel tersebut, dengan ragu-ragu Kris memanggil Sehun sebelum dirinya mengajukan pertanyaan.

“Sehun-ah…”

“Hemm…” balas Sehun yang masih sibuk dengan telepon gengamnnya.

“Be—begini ada seorang wanita, yang  muak dan membenci dirimu. Tapi ketika mabuk kau tiba-tiba sudah menciumnya.”

Sesaat Sehun melirik Kris sebelum dirinya kembali berkutat dengan ponselnya. “Aigoo. Dia wanita yang baik.”

Tak lama kemudian Kris bertanya kembali. “Lalu bagaimana sikapmu kepadanya keesokan harinya?” ucap Kris penasaran, Sehun pun menghentikan aktivitasnya dan membalas pertanyaan atasannya, Kris. “Apa yang sedang kau rasakan pada dirinya? Apa kau menyukainya?” jawabnya enteng.

“Aku…ahh..” Kris berpikir namun beberapa saat kemudian ia langsung mengelaknya. “Bukan Aku!” jeritnya.

“Aku tahu. Itu bukan dirimu.” kata Sehun sambil mengangukkan kepala. “Orang itu. Laki-laki bodoh itu. Apa dia menyukai wanita itu?” tanyanya kembali.

Tampa berpikir panjang, Kris langsung menjawab. “Sedikit…” dan perkataan Kris langsung di balas oleh Sehun. “Jawabannya cepat sekali.”

Mwo?” Kris nyaris berdiri dari kursinya saat mendengar nada mengejek dari lawan bicaranya. “Jika Dia membenci dirimu…”

“Itu bukan…” potong Kris kelabakan.

Sehun menghela napas panjang sebelum ia melanjutkan perkataannya. “Aku tahu itu bukan dirimu. Sungguh buruk jika pria itu terus bergantung padanya hanya karena dia mabuk dan menciumnya.”

“Lalu apa yang harus aku lakukan.  Maksudku, apa yang harus aku katakan pada temanku itu.” kata Kris sambil kembali duduk ke atas kursinya.

“Apa maksudmu dengan apa yang harus dilakukan. Hanya ada satu jawabannya.” ucapa Sehun seraya melirik ke arah lawan bicaranya. Kris semakin penasaran apa yang akan di katakan oleh rekan kerjanya, Sehun.

                                                                                             ~OoO~

-Di tempat yang lain-

 

“Apa yang membawa anda untuk jauh-jauh datang ke Seoul?”

“Pertama, tolong bawa ini.” kata ketua Park kepada Jiyeon sambil memberikan beberapa map.

“Apa ini?”

“Ini laporan dari rencana pembuatan produk baru di pabrik cabang tengah dan untuk tim peneliti Hermia.” Jelas ketua Park.

Jiyeon mengetahui itu adalah dokumen penting tapi mengapa ketua Park menyerahkan dokumen penting itu kepada dirinya. “Ya tapi kenapa…”

“Aku mohon bisakah kau memberikannya kepada Direktur Kris?”

“Apa??” Jiyeon sempat terkejut dengan permintaan ketua Park.

“Mereka sudah mengumumkan penutupan pabriknya. Hanya 1 bulan waktu tersisa untuk pemberitahuannya secara hukum.” ujar pria paruh baya tersebut. “Dewan direksi Hermia tidak memiliki kekuatan besar. Kuncinya mungkin hanya Golden Partners yang memegangnya.”

Tak lama Jiyeon membalas perkataan Ketua Park. “Sebenarnya Golden Partners datang dengan tujuan untuk membuat perusahaan bangkrut dan menjualnya. Aku rasa itu semua akan sia-sia.”

“Aku tahu itu. Jika itu orang lain aku tidak akan memiliki harapan, tapi bukannya ini perusahaan ayahnya Direktur Kris? Tidak bisakah kita katakan kalau kita akan membuat perusahaan ini jadi baik sehingga mendiang ayahnya merasa bangga atas usaha anaknya mempertahankan perusahaan ini?” tambah Ketua Park penuh harap.

Jiyeon menjadi tak enak hati bila memupuskan keinginan ketua Park yang sekaligus sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri. Dengan pemikiran yang matang dan kebulatan tekadnya, Jiyeon lalu berkata. “Baiklah, aku akan memberikannya kepada beliau.”

~OoO~

-Dikediaman Kris-

 

Jiyeon berdiri termangun di depan pintu gerbang kediaman Kris. Sekali dua kali gadis itu menghela napas panjang sambil menatap berkas dokumen kepunyaan Ketua Park. “Sepertinya tidak ada orang di rumah.” gumamnya pelan.

“Aku jadi sangat malu.  Kenapa aku jadi membicarakan soal itu?” tanpa gadis itu sadari sudah ada seorang pria berdiri di belakangnya. “Apa yang kau lakukan!” sapa Kris dari belakang. Jiyeon melompat kaget dan dirinya hampir terjatuh, untungnya Kris menangkap tubuh Jiyeon sebelum gadis itu jatuh. Dan sekarang Jiyeon sudah ada di dalam dekapan Kris. menyadari apa yang sedang terjadi Kris langsung melepaskan Jiyeon.

“Mengapa kau terkejut?” tanya Kris dengan ekspresi datar. Jiyeon langsung membalas pertanyaan Kris. “Karena anda tiba-tiba saja muncul!” ujar Jiyeon dengan kikuk tampa berani menatap wajah lawan bicaranya.

“Apa yang membawamu datang ke sini?” tanya Kris. “Apa itu?” sambil menatap dokumen-dokumen yang di bawa oleh Jiyeon. Sebenarnya itu hanya kalimat basa-basi yang di katakan oleh dirinya pada Jiyeon.

Beberapa saat kemudian Jiyeon mengangkat wajahnya dan berkata. “Ada yang harus aku katakan, jadi aku datang ke sini.” Seraya menatap dalam kedua mata milik Kris.

Saat kedua matanya menatap manik milik Jiyeon, Kris teringat pada perkataan Sehun sebelumnya di kafe. Sehun memberitahu kan Kris untuk bersikap sedingin mungkin seolah tak ada yang terjadi diantara mereka. Bahkan Sehun memberikan contoh kepada Kris. “Apakah terjadi sesuatu diantara kita kemarin?

“Bukankan itu perkataan seorang pria yang jahat?” tanya Kris bingung. Sehun membenarkan perkataan Kris. “Benar. Wanita tunduk kepada laki-laki yang jahat.”

“Tapi Aku selalu jadi laki-laki yang jahat. Mengapa wanita tidak menyukaiku?” ucap Kris polos. Sehun tertawa saat melihat ekspresi pria tersebut. “Itu sedikit… Ada perbedaan antara laki-laki yang gila dan yang jahat.” katanya setelah itu ia pergi meninggalkan Kris yang masih mematung.

~OoO~

Setelah merasa lebih tenang, Kris lalu berkata bila diirnya juga ada sesuatu yang harus dikatakan kepada Jiyeon. “Ada yang ingin aku katakan juga. Masuklah.”

Setibanya di dalam, mereka berdua terlihat begitu canggung. Jiyeon terus menundukan kepala, sesekali ia mengepal erat kedua jari jemarinya karena merasa tak nyaman saat Kris terus menatap dirinya.

Benar sekali. Tenanglah. Ayo tenang menghadapinya.” ungkap batin Kris untuk meyakinkan dirinya sendiri kalau dirinya bisa menghadapi Jiyeon.

“Ma…” saat Kris akan memulai pembicaraan, Jiyeon juga ikut berbicara. “Aku yang akan bicara dulu.” kata gadis itu meminta ijin kepada Kris.

Harusnya bukan seperti ini?” jerit batin Kris kembali sambil mempersilahkan Jiyeon untuk berbicara terlebih dahulu.

“Tolong lihat ini.” sembari memberikan beberapa map yang ia bawa tadi kepada Kris.  Kris sempat bingung apa maksud dari pembicaraan Jiyeon. “Apa ini?” tanyanya.

Jiyeon lalu menjelaskan apa isi dari dokumen tersebut kepada Kris. “Ini laporan dari rencana pembuatan produk baru di pabrik cabang tengah dan untuk tim peneliti Hermia.”

“Tapi kenapa kau memberikan ini kepadaku?” tanya Kris yang semakin tak mengerti arah pembicaraan Jiyeon kepadanya.

“Perusahaan ini. Bisakah anda memberikan satu kesempatan lagi? Pabrik ini telah dibangun  oleh ayah anda selama hidupnya. Sungguh disayangkan jika anda menutup pabriknya seperti ini. Jika Direktur membuka hati anda sedikit saja..”

Tiba-tiba Kris menyela perkataan Jiyeon. “Hei..Tunggu sebentar. Jadi kau datang ke sini hanya untuk membicarakan soal ini?”

“Ya..” Jiyeon membenarkan sambil mengalihkan pandangannya.

Beberapa saat kemudian Kris bertanya kembali. “Apa tidak ada hal lain yang ingin dibicarakan?”

“Ti—tidak ada.” jawab Jiyeon sambil menunduk.

“Sejak hari itu…ini pertama kalinya kita bertemu lagi  dan tidak ada yang ingin kau katakan?” kata Kris kali ini dengan nada yang memaksa.

“Aku rasa lebih baik jika kita tidak membicakan soal itu. Semua itu hanya kesalahan.” Balas Jiyeon sambil tetap menunduk.

Mendengar tanggapan dingin dari Jiyeon, membuat Kris menyimpulkan bahwa semua itu hanya sekedar suatu kesalahan. “Jadi yang kau katakan adalah. Kau melakukan kesalahan besar itu karena mabuk?”

Mwo??” Jiyeon menatap Kris seolah apa yang dikatakan oleh pemuda itu adalah salah. “Mengapa anda memutarbalikkan kata-kataku?” kata Jiyeon tak terima dengan tuduhan dari pria yang saat ini berdiri di hadapannya.

“Kenapa? Karena aku melakukannya dengan tulus. Sejak hari itu, aku…” sesat Kris menghela napasnya sebelum dirinya melanjutkan perkataannya. “Hatiku sudah merasa  senang dan aku bahkan merindukan..” sekali lagi Kris menghentikan ucapannya. “Pada akhirnya yang kau bicarakan hanya pekerjaan.” Ujar Kris dengan suara yang menahan kesal.

Jiyeon tercengang saat mendapati atasannya berkata semacam itu  kepada dirinya. “Maafkan aku. Aku menganggap kalau ini bisa mengganggu pekerjaan dan membuat Direktur tidak nyaman.” kilahnya.

“Bukan aku, tapi kau yang merasa tidak nyaman sekarang ini!” nada Kris sempat meninggi namun tak lama kemudian Kris menyerah dengan sikap Jiyeon. Ya, pria itu mulai membataskan dirinya dengan garis profesional kerja. “Baiklah. Aku juga akan bicara soal bisnis. Singkirkan laporan ini!” perintah Kris dingin.

“Direktur…”

“Aku adalah orang yang menjual dan membeli perusahaan ini. Apa kau pikir kau bisa membujukku?”

Jiyeon lalu menjawab. “Ya. Itu menurut penilaianku..”

“Apa?” Kris semakin tak mengerti apa yang ada di dalam pikiran gadis ini.

“Aku pikir anda sudah berubah sedikit demi sedikit, dengan melihat cara Direktur membantu PresDir Wu secara diam-diam atau sementara melupakan dendam anda. Bukankah itu bukti kalau anda sudah mulai berubah?”

Kris tersenyum saat mendengar perkataan Jiyeon yang terlihat menyakinkan. “Lalu, kau meminta aku untuk memilih kehidupan yang  tidak memalukan yang kau katakan malam itu, untuk membuang semua kehidupanku dan memilih kehidupan baru yang mengerikan yang.. aku tidak yakini dan takut dengan kesulitan yang akan aku hadapi, dan kau ingin aku membuat keputusan seperti itu?”

“Ini bisa menjadi keputusan yang baik di..” belum sempat Jiyeon menyelesaikan ucapannya, Kris langsung memotongnya.

“TUTUP MULUTMU! Jangan bicara omong kosong!” teriak Kris geram. “Apapun yang kau katakan. Aku akan tetap hidup seperti yang Aku inginkan. Jangan menyinggung masalah ini lagi.” tiba-tiba ekspresi Kris terlihat lelah dengan semua yang telah terjadi kepada dirinya.

Saat Kris hendak pergi, dari hadapan dirinya. Jiyeon langsung berdiri dari atas kursinya dan berkata. “Aku akan melindunginya.”

“Melindungi apa?” ujar pemuda itu heran.

“Aku akan membantu dan melindungi diri anda sehingga kau tidak akan merasa bingung dan takut.. Aku benar-benar tulus mengatakannya.”

~OoO~

-Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda-

Di Hermia, Tao memberitahu kepada Direktur Yoon bila PresDir Gold Partners akan berkunjung ke korea. Mendengar kabar itu Direktur Yoon senang karena Tao akan segera bertemu dengannya. Tapi masih ada satu masalah saat Ketua Gold Partners akan mengunjungi pabrik utama. Sehingga Tao menceritakan duduk permasalahannya kepada rekan kerjanya, Direktur Yoon.

“Masalahnya adalah PresDir akan mengunjungi pabrik cabang tengah dengan utusannya untuk membeli perusahaan.”

“Oh..tidak… Apa serikat buruh sudah mulai mogok di sana?” tanya Direktur Yoon.

Tao pun membenarkan pertanyaan Direktur Yoon. “Ya. Mereka sangat menentangnya. Jadi besok segera selesaikan semuanya bagaimanapun caranya. Bagaimanapun juga, Kris dan Gold Partners yang akan disalahkan. Kita hanya harus bersikap netral di depan mereka.” ujarnya dan di iyakan oleh Direktur Yoon.

~OoO~

-Keesokan harinya-

 

Sudah senjak pagi para buruh pabrik melakukan unjuk rasa menentang PHK yang dilakukan oleh  perusahaan.

“Hentikan penutupan!! Hentikan! Hentikan!” seru semua buruh bersama-sama sambil mengibarkan spanduk maupun poster yang berisi penolakan PHK.

~OoO~

Di hari yang sama Kris seperti biasa sudah siap untuk pergi ke Hermia. Saat dirinya akan mengambil ponsel di atas meja ruang tamu, ia melihat map berwarna kuning yang semalam di bawa oleh Jiyeon di meja. Nampaknya gadis itu sengaja meninggalkannya di sana. Dan di saat Kris melihat tumpukan dokumen itu, Kris pun teringat tentang pembicaraan mereka semalam.

-Flash back-

“Kau akan menjagaku?” kata Kris tak percaya.

Jiyeon lalu mengiyakan perkataan Kris. dan tak lama kemudian ia berkata kembali. “Direktur, anda orang yang baru saja kembali dari ambang kematian. Bisakah anda hidup dengan kehidupan yang berbeda jika anda diberi kesempatan untuk hidup yang kedua kalinya?”

“Yak!!” bentak Kris.

Tapi sayangnya Jiyeon tetap tak peduli dengan sorot mata Kris yang saat ini sedang marah kepada dirinnya. Gadis itu tetap melanjutkan ucapannya. “Mereka lah  yang akan menderita karena balas dendam anda  bukan PresDir atau anak buah Anda. tapi orang -orang yang tulus dan baik hati. dan yang lebih penting, mimpi ayah anda akan hilang juga.”

 

-End-

~OoO~

Dari kejauhan terlihat seorang gadis sedang berlari kencang ke sebuah mobil yang sedang terparkir di depan pintu gerbang. Saat gadis itu telah sampai dan ia hendak mengetuk kaca jendela tiba-tiba kaca jendela mobil itu terbuka.

“Anda memanggilku?” tanya Jiyeon dengan napas yang masih terengah-engah.

“Pergi ke suatu tempat untukku.”

“Kemana?” tanya gadis itu kembali.

“Pergi ke Pabrik Cabang Tengah dan bawa buku catatan absensi. Tadinya sekertaris Oh yang harus mengambilnya tapi PresDIr datang jadi dia tidak bisa mengambilnya.” kata Kris.

Sebelum Jiyeon pergi melaksanakan perintah Kris, gadis itu bertanya kembali. “Permisi. Apa anda melihat dokumen yang  aku tinggalkan di sini?” ucap Jiyeon kikuk.

Kris memicingkan tatapannya saat ihat kecemasan di wahaj Jiyeon. “Kau pikir aku akan membaca dokumen yang  dengan sengaja kau tinggalkan? Trik apa ini!” sambil menyodorkan beberapa tumpukan map yang tadi malam di bawa oleh Jiyeon.

“Maafkan aku.” Jiyeon langsung membungkukkan tubuhnya untuk meminta maaf. Ia menyadari kalau atasannya mungkin saja sekarang marah besar pada dirinya.

tapi ternyata pikiran Kris sebaliknya. “Itu bagus. Dalam perjalanan ke pabrik, kembalikan itu. dan pastikan untuk meletakkan buku catatan absen di meja jam 3 siang.”

~OoO~

Selepas Kris pergi, ia lalu pergi ke pabrik dan di dalam taksi ia menghubungi ketua Park.  “Ahjussi. Ini aku Jiyeon.”

“Oh ya Jiyeon-ah.” sahut dari seberang sana.

“Sekarang aku sedang menuju ke pabrik cabang tengah.”

Ketua Park terdiam saat Jiyeon mengatakan akan berkunjung ke pabrik. Dengan hati-hati ketua Park berkata. “Ini bukan karena perkataanku kemarin, kan?”

“Bukan karena itu, ini.. karena hal lain.” kilahnya.

Tapi sepertinya pria tua itu mengetahui bila semua itu tak berjalan lancar saat mendengar suara Jiyeon di telepon. “Jangan terlalu banyak memikirkannya. Jujur saja, aku tidak berharap banyak.”

“Maafkan aku Ahjussi.

“Tidak perlu.” sahut ketua Park. “Mari kita makan bersama karena kau sudah datang kesini.” Tawarnya dan di sambut baik oleh Jiyeon.

~OoO~

Di perjalanan untuk bertemu dengan PresDir Gold Partner, Tao memastikankepada Direktur Yoon bila dirinya sudah menyiapkan tempat yang paling bagus untuk menjamu PresDir.

“Tentu saja, aku sudah mencari tahu soal kesukaan beliau dan memilih tepat yang  cocok dengan semua yang beliau suka.” jawab Direktur Yoon.

Tidak itu saja, Tao juga menanyakan apa permasalahan di pebrik tengah sudah dapat di handel atau tidak.

“Aku sudah membuat kontrak dengan  tukang pukul pagi ini. Mereka orang-orang  yang bisa dipercaya. Dalam waktu satu jam pembersihan pabriknya akan dimulai. ika PresDir datang, pabrik pasti sudah kembali normal.” Kata Direrktur Yoon dengan wajah yang sumeringah.

Mendengar kabar baik tersebut Tao tidak lupa memberi tahu kepada rekannya untuk menyembunyikan rencana ini dari semua orang. “Jangan sampai orang lain mengetahuinya terutama sekretaris Park tahu soal ini. Apa kau mengerti?”

“Ya. Aku mengerti. Aku akan menghubungi mereka  sekali lagi.” balasnya kemudian pria paruh baya tersebut langsung melaksanakan perintah atasannya, Tao.

~OoO~

“Bagaiman dengan jadwal PresDir di Korea?” tanya Kris pada Jessica di perjalanan menuju lobby.

PresDir akan dijadwalkan untuk mengunjungi pabrik cabang siang nanti, bertemu dengan PresDir yang baru, Tao. Lalu makan malam dengan anggota dewan.” sahut gadis berambut pirang tersebut.

Kris terkejut saat mendengar perkataan Jessica. Sampai-sampai ia harus menghentikan langkah kakinya.“ Tunggu! Apa beliau akan mengunjungi pabrik hari ini? Bukannya di sana ada unjuk rasa? Bagaimana PresDir bisa masuk kesana?” tanya Kris bingung.

“Jangan khawatir. Semua itu sudah diselesaikan.”

“Apa maksudmu diselesaikan?” Kris semakin tidak mengerti.

Jessica lalu menjelaskan maksud perkataannya kepada rekan bisnisnya Kris. “PresDir sementara, Tao, mengambil tindakan keras untuk melawan serikat buruh di sana. Hari ini juga, pemogokannya akan selesai karena Tao sudah mengirimkan orang-orang bayaran.”

“Mengirimkan orang-orang bayaran?”

“Ya, Pasti sudah dimulai saat ini.” kata gadis itu seraya menatap arloji.

“Ya. Kenapa?” tanya Kris dengan nada membentak dan itu membuat Jesicca heran. “Apa maksudmu kenapa? Karena pemogokan serikat buruh, kita tidak bisa menegoisasikan harga penjualan perusahaan yang rendah. Apa yang lebih penting dari itu semua bagi kita?” tutur gadis itu.

Di detik itu juga Kris teringat bila dirinya menyuruh Jiyeon pergi ke pabrik untuk mengambil buku absensi karyawan pabrik. Kris menjadi panik dan dia langsung berlari meninggalkan Jessica. Tanpa menghiraukan panggilan gadis yang ada di belakangnya.

~OoO~

Setibanya di Pabrik tengah, Jiyeon di sambut baik oleh para buruh. Di sana Jiyeon juga membantu memberikan makan siang bagi para pengunjuk rasa. Selama di sana Jiyeon terlihat senang karena ia selalu tersenyu, dia juga tak lupa menyapa kepada semua para buruh. Nampaknya Jiyeon mengenal semua pekerja di sana.

Sementara Kris dengan cemas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pemuda itu terus menerus menghubungi Jiyeon namun sayangnya saat ini Jiyeon sedang sibuk menjamu para serikat buruh dan kebetulan juga telepon gengam milik Jiyeon ada di dalam tasnya yang ia taruh da atas bangku.

“Tolong angkat telponnya.” Gumam Kris namun tak ada sama sekali jawaban dari Jiyeon. Hingga akhirnya Kris menjadi kesal dan dengan kencang, Pria itu melemparkan hendset bloetoothnya ke depan kemudinya.

~OoO~

Di saat Ketua Park akan mengajak Jiyeon berkeliling pabrik tiba-tiba datanglah sekelompok pria berpakaian hitam yang turun dari dua bis besar. Pria-pria misterius itu semuanya membawa tongkat besi di tangannya. “Ya! Kita mulai sekarang!” teriak salah satu pria berpakaian hitam itu dan setelah mendengar instruktur dari orang itu. Semua orang-orang yang berpakaian layaknya gengster langsung memukul para buruh dengan brutal.

Melihat itu Jiyeon dan Ketua Park langsung berlari ke lapangan untuk menghentikan kekerasan tersebut. Namun apa daya kekuatan mereka berdua tak mampu menghadapi keganasan kelompok bayaran yang telah di utus oleh Tao.

Dan di waktu Jiyeon sedang membantu para buruh yang terkapar di jalan beraspal, tak sengaja ia melihat Ketua Park terkena puklan tongkat besi dari orang bayaran Tao. Jiyeon langsung berlari ke arah Kerua Park yang saat ini sedang tersungkur di aspal. “Ahjussi! Apa kau tidak apa-apa? Apa yang akan kita lakukan?”

~OoO~

Kris langsung menghentikan mobilnya setibanya di halaman pabrik. Pria itu langsung berlari dari dalam mobilnya ke arah kerumunan. Di sana terlihat ada Jiyeon sedang duduk melindungi Ketua Park. Kris lalu mempercepat laju langkahnya. Namun sebelum Kris tiba membantu Jiyeon untuk pergi dari amukan orang bayaran Tao.

“Park Jiyeon!” teriak Kris saat dirinya melihat ada  seseorang tukang pukul Tao sudah berdiri di belakang Jiyeon dan tampa ampun pria itu memukul kencang belakang kepala milik Jiyeon dengan sebongkah kayu besar.

Pandangan Jiyeon mulai memudar saat dirinya menatap Kris yang tak jauh dari hadapannya. Tak lama kemudian keluarlah darah dari pelipis Jiyeon dan dalam hitungan beberapa detik, gadis itu pun tumbang.

~OoO~

Mendengar kabar pemukulan di pabrik tengah dari atasannya Kris, sekertaris Oh langsung datang kerumah sakit. di ruang UGD, Kris menunggui Jiyeon yang masih tak sadarkan diri. Tak beberapa lama kemudian sekertaris Oh menghampiri Kris yang sedang duduk menemani Jiyeon.

“Apa yang mereka katakan?” tanya Kris.

Dan Sehun pun menjawab. “Syukurlah, Nona Park hanya mengalami gegar otak ringan. Dia akan merasakan sakit kepala dan pusing untuk beberapa hari tapi tidak ada masalah yang lainnya.”

Kris menghela napas panjang saat mendengar kabar keadaan Jiyeon. wajah Pria itu terlihat pucat saat Sehun menatapnya. “Wajahmu terlihat lebih buruk daripada wajah Nona Park. Pergi keluar dan hubungi Dr. Joo untuk menghirup udara segar.” ujar sekertaris Oh.

Tapi balasan Kris sebaliknya, ia mengatakan kalau dirinya baik-baik saja. “Dengarkan aku. Kau yang akan pingsan  jika dalam keadaan seperti ini.” kata Sehun kembali. Mendengar nada bicara sekertarisnya yang begitu khawatir kepadanya, pemuda itu akhirnya mendengar permintaan Sehun. “Tolong, jaga Dia sebentar.”

Kris lalu keluar dari ruang rawat Jiyeon. saat ia keluar ia melihat banyak buruh pabrik yang terluka dan salah satu dari mereka mengenal Kris dan buruh itu langsung memaki Kris. dengan sumpah serapah. “Dasar brengsek! Itu semua karena dirinya! Bajingan!!”

Beberapa buruh yang lain pun berjalan mendekati Kris dengan tangan sebelah tangan yang di gips. “Mengapa kau ada di sini? APA ALASANMU UNTUK BERADA DI SINI???” teriaknya. “Apa kau ini manusia? Banyak orang yang terluka. Apa kau puas sekarang?!” kata laki-laki itu engan penuh emosi.

Mendengar suara kegaduhan, Sehun langsung keluar dari ruangan sekertaris Park. Pemuda ituberusaha menghalau para serikat buruh yang ingin memukul Kris. tapi tanggapan Kris terkesan dingin sama seperti sorot matanya. “Lalu siapa yang menyuruh kalian untuk melakukan ini? Dan mengapa kalian mempertaruhkan nyawa klian demi sesuatu yang tidak mungkin? Perusahaan apa ini?!” gumamnya dan di akhir ucapannya, Kris berteriak lantang. “Sebenarnya perusahaan apa ini sehingga kalian harus melakukan hal seperti ini. Wae? Wae!!”

 

Pertanyaan Kris lalu dijawab oleh Ketua Park. “Agar kami bisa hidup seperti manusia selayaknya. Itu karena kalian yang dibilang seperti manusia tapi sebenarnya kalian lebih rendah dari manusia, yang tidak memperlakukan kami seperti manusia! Jadi kami memberontak agar kami bisa hidup dan diperlakukan seperti manusia selayaknya! Apa Kau mengerti?” kata Ketua Park menggebu-gebu.

Kris terhenyak saat mendengar perkataan pria tua tersebut namun tak lama kemudian pemuda itu menarih sudut bibirnya sambil berkata. “Apa kau pikir kau akan diperlakukan seperti manusia selayaknya? Kalian masih saja tidak mengerti setelah insiden ini? Bahkan jika Kalian mengerti, kehidupan kalian akan  menjadi seperti lalat!”

“Apa kau bilang?” tak terima perkataan kasar Kris salah satu buruh yang mendengarnya langsung menghambur ke arah Kris. Tapi Kris sama sekali tak gentar, pria itu tetap mengoceh di depan serikat buruh tampa menurunkan nada bicaranya yang lantang. “Jadi menyerahlah! Kalian hanya akan dibantai jika  kalian melawan orang-orang yang tidak berprikemanusiaan itu!!” kemudian ia melirik ke arah Ketua Park dan berkata dengan nada yang sama. “Apa kalian mengerti!!!”

Para buruh semakin emosi mender perkataan Kris dan mereka langsung berhamburan untuk menyerangnya. “Karena kau adalah binatang, Kami akan memperlakukanmu seperti binatang!” teriak salah satu kerumunan pekerja. Sehun kelabakan saat semua serikat buruh berlari untuk mengejar Kris. sampai-sampai Ketua Park ikut campur tangan untuk menghentikan kericuhan.

“HENTIKAN!!” teriak Jiyeon yang tiba-tiba saja muncul. Dari balik tirai. Jiyeon berjalan menghampiri mereka dengan langkah yang tertatih-tatih. “Semuanya, tolong hentikan. Ini sudah cukup. Apa yang terjadi hari ini bukan kesalahan Direktur.” Jiyeon berusaha untuk menjelaskan kepada semua pekerja bahwa semua yang terjadi bukanlah karena Kris.

“Bagaimana kau bisa tahu kalau bukan dia dalang dari semua ini?” tanya salah satu pekerja. Dan dengan yakin Jiyeon menjawab pertanyaan pria paruh baya tersebut. “Karena jika dia yang menyuruhnya, dia tidak akan datang sendiri ke sini. Mengapa dia harus datang saat tahu kalau dirinya bisa terluka? Jadi kalian semua, tolong hentikan semuanya.” Mendengar penjelasan dari Jiyeon, para pekerja yang awalanya penuh dengan emosi dengan perlahan-lahanmereka menjadi diam. Karena hampir semua yang dikatakan oleh Jiyeon terlihat benar apa adanya.

Di waktu yang hampir sama, Tao beserta Jessica menyambut PresDir Gold Partner yang baru saja tiba di Korea. Mereka lalu masuk kedalam sebuah rumah makan. Di sana Tao di puji oleh PresDir Gold Partner akan kelihaiannya dalam mengurusi semua masalah kebangkrutan Hermia. “anda seorang pengusaha yang hebat. Jangan khawatir. Semuanya berjalan lancar. Mari Kita bersulang untuk masa depan kita.” Sambil menyodorkan segelas wine di depan Tao dan mereka pun bersulang merayakan kesuksesan yang telah mereka capai.

~OoO~

-Kembali ke rumah sakit-

“Atas dasar apa kau mengatakan hal-hal itu? Kau sebenarnya sedang berpihak ke mana?” tanya Kris seraya maniknya menatap tajam ke sosok gadis yang saat ini sedang duduk di atas ranjang rumah sakit.

“Aku tidak berpihak kepada siapa pun. Aku hanya bicara soal kebenarannya kepada mereka.” balasnya dengan tersenyum tipis.

“Kau tidak tahu apakah aku yang melakukannya atau tidak?” tanya pemuda itu kembali. Dan dengan ekspresi yang sama Jiyeon berkata. “Direktur yang sudah menyuruhku ke sini jika anda tahu kalau aku akan terluka, anda tidak mungkin mengirim, kan…” untuk sesaat Jiyeon menjeda perkataannya, “Aku untuk datang kesini.” dengan menghela napas yang panjang sebelum mengakhiri kalimatnya.

Kris terdiam, ia mulai merasakan perasaan aneh lagi dan tampa ia sadari, pria itu berbicara pada dirinya sendiri. “Dia mengatakan hal-hal yg aneh lagi.” gumamnya seraya menundukan kepala.

“Aku sudah berjanji pada anda, kalau aku akan melindungimu. Hari ini, di sini. Anda datang untuk menyelamatkanku, kan?” gadis itu balik berkata.

Kris terhenyak, jantungnya berdebar-debar kencang saat melihat senyuman yang di sematkan di wajah Jiyeon. “Aku jadi benar-benar gila kerena dirimu.” lirihnya. Mendengar itu Jiyeon lalu mengoda Kris dengan tertawa kecil. “Apa yang harus kita lakukan terhadapmu? Jika kau mudah terombang ambing seperti ini, bagaimana kau bisa melakukan sesuatu mulai saat ini? tapi aku bersyukur dengan semua itu.”

Kris semakin tak mengerti megapa Jiyeon dapat berkata semacam itu kepada dirinya. Hingga akhirnya Kris mengeluaan semua apa yang ada di dalam otaknya kepada Jiyeon. “Memang aku ini apa, sehingga kau harus melindungiku? Mengapa aku merasa jadi bingung denganmu? Mengapa kau selalu mengacaukan kehidupanku?” ucapnya penuh dengan sorotan mata tak percaya. Jiyeon terdiam ia bingun untuk menjawab semua pertanyaan atasannya. Karena sirinya snediri pun tak tahu.

~OoO~

Sebelum Kris kembali ke rumahnya ia terlebih dulu menengok para pekerja pabrik yang masih ada di ruang UGD. Banyak keluarga pekerja yang sedih melihat sanak familiynya yang terluka. Setelah itu Kris juga menyempatkan kembali ke pabrik di sana ia melihat ada beberapa pekerja yang merapikan sisa-sisa unjuk rasa dengan kodisi yang memperhatinkan, Kris menjadi merasa iba saat membayangkan kejadian tadi siang di tempat itu.

~OoO~

Di pagi harinya, Jiyeon sudah mulai masuk kerja. Boram  yang melihat kondisi Jiyeon yang pucat, menyuruh Jiyeon lebih baik beristirahat saja di rumah. Namun Jiyeon tak bisa mengikutin permintaan rekan kerjanya Boram. “Aku harus mencatat pertemuan Direktur hari ini. Bagaimana mungkin aku bisa bolos?” kata gadis itu sambil merapikan kerah lengan kemejanya.

“Semua ini gara-gara Gold Partner!” cetus Boram kesal namun ucapannya langsung di ralat oleh Qirin. “Hei kau salah. Ada kemungkinan, pengacau itu dari orang dalam.”

Mendengar kabar itu membuat Jiyeon tercengang. “Apa mksudmu itu?” tanyanya.

“Aku mendengar gosip kalau orang yang menyewa orang-orang bayaran itu adalah Direktur Tao.” Jelas Qirin dan itu membuat Jiyeon semakin terkejut. Jiyeon pun langsung berdiri dari tempat duduknya dan kemudian pergi keluar.

-TBC-

~OoO~

Haloo…. ketemu lagi nih sama aku Phiyun disini…

Akhirnya aku bisa update kelanjutannya , hehe 😀

Sesuai janjiku, aku publishkan FFdi bulan ini,hoho ^^ Aku harap kalian, menyukainya ya…

FF ini adalah remake dari korea drama yang berjudul sama, tapi ada adengan yang aku hilangkan karena tak mungkin aku buat sama persis seperti difilemnya, hihi 😀

Aku juga mau mengucapkan terima kasih kepada reader yang sudah mau meninggalkan jejaknya di part – part sebelumnya. Komentar dari kalian semua adalah sebangai penyemangat ku dalam membuat kelanjutan bahkan di FF ku yang lainnya.

Sampai ketemu di next part selanjutnya

Gomawoyo  ❤

Advertisements

9 thoughts on “Falling For Innocence [Chapter 11]

  1. Yaampun ini salah satu ff kesayangan aku, gatau kenapa suka banget sama karakter kris sama jiyeon disini. Kaya pas aja sama jalan ceritanya bener2 dapet feelnya huhuhuhu ayo dong cepet update ff yang satu ini😂😂 ohiya kris jiyeon lama banget sih kok ga jadian2 keburu jiyeon disamber tao.. Dia seenaknya aja main beli cincin main lamar anak orang aja huhuhuhuhu

    Liked by 1 person

    • Senengnya ada yang suka ff buatanku, aku juga sayang sama kamoh, hehe 😀
      masalah next partnya di tunggu aja ya, dear… soalnya masih banyak ff ku yang masih pada ngantri, tar aku usahain secepatnya publish /apa sih yah gak untuk kamuh/ [modus nih, penulisnnya] ^^
      btw, thikyu yah dah mampir kesini buat baca ❤

      Like

  2. aigoooo tao ini makin kesini makin jahat aja deh.
    untung aja jiyeon gak knpa2 pas kena pukul itu.
    hahhaha kris udah mulai ada rasa nih sama jiyeon

    Liked by 1 person

    • Iya si Sehun kayanya dah tau, kalau yang diomongin sama Kris di kafe itu bosnya sendiri, hehe 😀
      Maap ya dear daku buat publishnya kelamaan, hihi n Thikyu dah mampir kesini buat RCL ❤

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s