[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #7. 두근 두근

req-euri-by-laykim.jpg

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @Laykim INDO FANFICTION ARTS (Jeongmal gomawo uri yeppeo unnie! ^^)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Yoona meremas tangannya sendiri dengan gugup. Duduk di jok samping di samping Donghae bukan perkara mudah. Sedari tadi, Donghae bahkan tak mengatakan apapun padanya. Matanya dengan fokus melihat ke arah depan. Wajahnya dingin tanpa ekspresi.

Yoona berusaha membuat percakapan.

“Waa.. cuacanya sangat cerah…”. Yoona melongokkan kepalanya ke luar kaca mobil.

“Tutup jendelanya. Suara jalanan sangatlah bising.” ujarnya datar dan dingin. Yoona salah tingkah.

“Ne.. aku pikir menutupnya akan lebih baik.”

Yoona memutar otaknya. “Waa… kacamata hitammu sangat keren..”. Yoona berusaha menjangkau kacamata hitam Donghae yang ada di dashboard. “Letakkan tanganmu kembali. Cap jarimu akan mengotori lensanya.”. Donghae masih mempertahankan nadanya yang datar dan dingin.

Ne.. baiklah..”

“Aku akan bergantian menyetir denganmu setelah tempat peristirahatan.”

“Tidak usah. Aku takkan berhenti sampai ke tujuan. Jadi, kau tidak usah melakukannya.”. Lagi-lagi, Yoona bisa merasakan hatinya membeku karena suara Donghae yang begitu dingin.

“Lalala.. mari kita pergi..” senandung Yoona riang. “Tak bisakah kau diam? Kita bukan sedang tamasya!” bentak Donghae kesal.

Yoona diam seribu bahasa. Dia menyerah.

Bagaimana bisa dia kembali ke sikapnya yang sangat dingin? Lalu kenapa dia memberikanku bawang itu?

Kraaukk..

Yoona menatap perutnya dengan kaget. “Ani.. suara itu bukan kemauanku..” potong Yoona cepat-cepat. Donghae melirik lewat sudut matanya dengan kesal.

Krauuk..

“Uhuk uhuk uhuk.. uhuk..”. Yoona terbatuk-batuk untuk menyamarkan bunyi perutnya yang sedang lapar. Donghae hanya menghela napasnya pelan. Ia mendesah pelan. Kesulitan selalu menghampirinya kala ia bersama Yoona.


*NCT Entertainment

“WAAA!!”. Siwon berteriak keras sembari melemparkan mainan cicaknya ke arah Jungsoo. Pemuda yang kena lelucon Siwon itu hanya menggelengkan kepalanya dengan prihatin. “Kau tidak takut?” tanya Siwon lemas. Jungsoo menggeleng.

“WAAA!!!”. Siwon kembali melakukan ulahnya yang langsung mendapatkan pukulan tongkat kayu sakti Heenim – manager yang dikenal paling nyentrik di perusahaan ini. “Arra, arra, aku sudah tahu Choi Siwon..”

Siwon merengut. Ia menenggelamkan tubuhnya dengan lesu di kursinya. “Ah, reaksi terkejut Yoongie tidak ada duanya..” gumam Siwon menatap mainan cicak yang ada di tangannya. Rautnya terlihat resah dan galau.

“Kapan dia akan tumbuh dewasa?” gumam Jungsoo heran ke arah Heenim yang hanya mengendikkan bahunya sembari menyodorkan map laporannya.


Yoona merentangkan tangannya lebar-lebar. Menghirup udara pedesaan yang begitu menyegarkan. Rasanya hati dan jiwanya agak sedikit lebih tenang. Sungguh, berada dalam satu mobil bersama Donghae dalam jangka waktu yang lama membuatnya hampir gila.

“Apa yang kau lakukan disana? Kita bukan sedang liburan! Jika kau mau makan, cepat masuk!” ujar Donghae menyebalkan. Yoona mengerucutkan bibirnya kesal. “Nee…”. Hanya kata itu yang ampuh agar Donghae tidak melanjutkan omelannya.

Yoona masuk ke dalam rumah para penduduk desa yang sederhana dan kesan kehangatan desa yang khas langsung menyambutnya. Yoona paling senang dengan suasana seperti ini.

“Pesanlah makanan apapun yang kau mau.”

Ne?”

Donghae mendengus tidak sabar. “Pesanlah makanan yang kau mau!”

“Tapi, bukan aku yang membayar kan?” tanya Yoona polos. Donghae tertawa sombong. “Bagaimana bisa seorang pimpinan dibayari makannya oleh bawahannya? Tentu saja aku yang akan membayar.”

Yoona mengangguk-angguk paham. Donghae tersenyum samar. Senyuman itu lagi. Senyuman tulus yang tak sembarang orang bisa membuatnya tersenyum seperti itu. Hanya di depan Manager Im inilah Donghae secara tidak sadar selalu membuat senyuman itu.

“Ja, kita lihat makanan apa yang enak..”. Yoona dengan matanya yang besar meneleti menu dengan antusias. Begitu ia mengangkat wajahnya, Donghae segera memalingkan wajahnya.

“Aku pesan bibimbap (nasi campur khas Korea) saja, sajangnim...”

Donghae menatap Yoona dengan tidak setuju. Selama itu dia melihat menu dan hanya ingin memesan bibimbap?

“Tenang saja, aku yang membayar.”. Nada angkuhnya kembali terdengar membuat Yoona hanya mencibir malas. Donghae mengangkat tangannya memanggil pelayan. Atau sepertinya pemilik tempat itu.

“Aku makan bibimbap saja.”. Yoona bersikeras. Donghae tidak mempedulikannya.

Ahjumma, aku mau pesan daging sapi hanwoo dengan bibimbap. Berikan seporsi yang besar ya..”. Donghae melemparkan senyumnya dengan manis ke arah bibi penjual itu. Yoona hanya mencibir. Dasar pria tebar pesona!

Begitu makanan datang, Yoona menganga. Melihat betapa banyaknya makanan yang dipesan oleh Donghae. “Kau akan menghabiskan semuanya?”

Donghae mengangguk yakin. “Geureom! Aku akan makan semuanya. Ini bibimbapmu.”

Donghae menyodorkan satu mangkuk besar bibimbap – makanan kesukaan Yoona. Mata gadis itu mulai menatap lekat ke arah panggangan yang dipenuhi oleh daging sapi yang nampaknya begitu lezat. Yoona merasakan mulutnya mulai penuh dengan air liur.

Oh astaga, itu nampak enak sekali…, keluh Yoona melihat Donghae mulai memotong-motong daging itu dengan antusias. Donghae tersenyum usil. Ia melihat bagaimana inginnya Yoona memakan daging itu. Tapi, Yoona pasti malu untuk menarik kembali ucapannya untuk hanya memakan bibimbap saja.

“Kau mau makan ini?” tanya Donghae. Ia mengangkat sepotong daging ke hadapan Yoona. Gadis itu mengendus bau daging yang begitu enak. Mulutnya hendak mengambilnya.

“Eii.. aku tidak mau makan itu!” Yoona mencegah dirinya sendiri sebelum mulutnya bertindak lanjut. Yoona berusaha tidak mempedulikan Donghae yang mulai memprovokasinya.

“Ah.. astaga, ini nikmat sekali..”. Yoona mendongak melihat wajah Donghae yang begitu menikmati sepotong daging dalam mulutnya. Oh astagaa, maki Yoona dalam hatinya. Donghae di hadapannya makan dengan begitu lahap. Ayolah, Im Yoona kau tidak boleh terpancing.

“Ini, makanlah.”. Donghae menyodorkan sumpitnya yang menjepit sepotong daging di depan mulut Yoona. Gadis itu meneguk air liurnya sendiri. Tidak, Im Yoona, kau harus bertahan, Yoona menggelengkan kepalanya dengan cepat. “Tidak, terima kasih, sajangnim..”

Donghae tidak menyerah. Senyuman jahilnya makin nampak kentara. “Eii, cepat, tanganku sudah pegal.”

Astaga, dia keras kepala dan kekanakan sekali, keluh Yoona kesal.

Yoona akhirnya membuka mulutnya. Donghae menyuapkan daging itu ke dalam mulut Yoona. Mata Yoona membelalak begitu rasa nikmat daging membanjiri rongga mulutnya. “Astaga, ini enak sekali..” desis Yoona. Ia malu karena tidak menepati janjinya juga. Donghae terkekeh.

“Yes! Donghae 1 Yoona 0.”. Donghae tertawa lagi dengan puas. Yoona tersenyum samar. Ah, jika saja, dia mengetahui aku adalah Yoona yang sebenarnya dia tahu..

#skip

Ahjumma, terima kasih atas makanannya yang enak..” seru Yoona dengan senang. Perutnya benar-benar kenyang sekarang. Makanan pedesaan memang sangat enak. “Aku membayar dulu. Pergilah ke depan..”

Yoona mengangguk mematuhi apa yang dikatakan Donghae. “Terima kasih atas makanannya sajangnim..”. Yoona membungkukkan badannya dalam. Donghae kembali tersenyum. Senyuman itu lagi.. Senyuman yang takkan pernah seorang pun bisa membuat Donghae tersenyum seperti itu.

Yoona menatap jalanan pedesaan yang nampak membentang dengan panjang di depannya. Ia menumpukan sebagian badannya di bingkai pintu. Pikirannya mulai mengembara kemana-mana.

“Ehem..”. Donghae berdehem mengagetkan Yoona. Gadis itu menatap Donghae dengan senyumannya yang khas bersemangat. “Kau yakin tidak mau aku yang menyetir?”

Donghae nampak bergerak-gerak gelisah. Dia menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah. Yoona menyadari perubahan gestur pemuda itu. “Ada yang salah Donghae-ssi?”

“Ehem.. anu.. itu..”. Donghae membuang mukanya sejenak.

“Aku tidak membawa uang.” ucapnya secepat kilat. “Ne?” tanya Yoona tidak mengerti karena Donghae terdengar seperti hanya bergumam saja. “Aku tidak membawa uang..” gumam Donghae masih tidak jelas. Namun, Yoona yang sudah berkonsentrasi mendengarkan segera membelalakkan matanya.

Mwo??! Bagaimana bisaaa??” jerit Yoona histeris hingga Donghae mau tak mau harus membekap mulut gadis itu agar teriakannya terhenti.

“Eih, sudahlah. Apakah kau membawa kartu?”. Donghae masih saja tenang sedangkan Yoona sudah panik setengah mati.

“Kau tidak membawa dompet?”. Tatapan Yoona menginterogasi Donghae. Pemuda itu hanya meringis salah tingkah. “Ah.. astaga.. sudah kuduga akan seperti ini ujungnya.. Ya Tuhann..” omel Yoona panjang lebar. Lagi-lagi, Donghae hanya bisa tersenyum aneh.

Yoona segera masuk dan menghampiri ahjumma. “Berapa semuanya ahjumma?”

“165.000 won..”

Yoona mengerjapkan matanya beberapa kali. Rasanya mendengar nominal itu bagaikan mimpi. “Ne? 165.00 won?” tanya Yoona tak percaya. Rasanya ia merasakan serangan jantung saat itu juga hanya mendengar angkanya.

“Ya, cepat..”. Tangan bibi itu sudah berada di hadapan wajah Yoona. Meminta uangnya agar segera diberikan. Dengan gugup, Yoona melirik isi dompetnya. Astaga, cuma ada 10.000 won, Yoona menoleh ke arah Donghae yang berdiri tenang di sebelahnya. Yoona memukul lengan pemuda itu. “Kau! Bagaimana bisa kau masih tenang seperti itu hah?! Kenapa malah aku yang jadi stress?”

Donghae menaruh telunjuk di bibirnya. “Aku sedang memikirkan jalan keluarnya.”

“Ahh.. yang benar saja..” emosi Yoona mulai meluap. “Pakai kartumu dulu..” pinta Donghae. Yoona mendelik. “Mwo?! Bagaimana bisa?”

Suara pisau beradu membuat Donghae dan Yoona sama-sama terlonjak. Ahjumma di depannya menatap mereka dengan menyeramkan. Ditambah dengan pisau di kedua tangannya yang saling diasah. “Mana uangku?” tanyanya dengan nada rendah. Mencekam.

“Ah anu.. itu, dompetnya tertinggal.”. Yoona menunjuk Donghae dengan panik. Donghae menjadi gelagapan. “Bibi, turunkan pisaunya…”. Donghae memohon baik-baik. Bukannya diturunkan, bibi itu malah mengasah pisaunya lebih keras sehingga membuat bunyi nyaring yang menyeramkan.

“Uangku..”. Yoona mengekerut. Ia bolak-balik menyikut Donghae. “Lakukan sesuatu.” desis Yoona marah.

“Ah, telepon Siwon atau Jungsoo. Suruh mereka mengirim uang ke rekeningmu secepatnya.”

Yoona mengangguk. Dengan gemetar, ia mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon Siwon.

Ayolah, oppa.. Angkat.. Kumohon.., Tatapan bibi di depan Yoona bertambah seram membuat Yoona meringis takut.

Nomor yang Anda tuju tidak dapat dihubungi..

Sial!, umpat Yoona dalam hati. Yoona menggeleng lemas ke arah Donghae. “Jungsoo..”

Yoona kembali mencoba menelepon Jungsoo. “Ayo, sunbaenim.. Kumohon angkat..”

“Jangan berpura-pura di hadapanku. Aku sudah banyak melihat trik seperti ini! Aku takkan tertipu lagi..” ancamnya. Dengan sekali sabet, ahjumma itu mengambil ponsel dari tangan Yoona dan menempelkannya di telinga. Yoona membelalak.

Yeoboseyo?” Terdengar suara di seberang sana.

“Ah, apakah kau teman dari yang punya ponsel ini? Aku pemilik tempat makan dimana mereka makan sekarang. Mereka bilang mereka lupa membawa uang.. bisakah kau mengirimkan uang ke rekeningnya?”

Jungsoo mengeryit heran. Siapa ini? Jelas ini bukan suara Yoona. Ini suara seorang ahjumma..

Ahjumma, jangan berusaha menipuku. Sekarang banyak berita penipuan. Selamat siang. Aku takkan tertipu olehmu.”

Tut.. tut..

“Oh, astaga.. Bagaimana penipu itu bisa memakai nomor ponsel Yoona?” tanya Jungsoo heran.

“Oh.. oh, aku juga mendapatkan panggilan dari Yoona eonni.. Apakah aku harus menjawabnya?” tanya salah seorang karyawan panik ke arah Jungsoo. Pemuda itu dengan segera menggeleng. “Jangan. Dia penipu. Kau sudah banyak melihatnya bukan?”

Arasseo.. Aku takkan tertipu olehnya!”

Di sisi lain, Heenim yang sedang mengantarkan surat ke meja Donghae menatap heran dompet pemuda itu yang tergeletak di meja. “Apakah dia memang sengaja meninggalkannya?”

Heenim mengendikkan bahunya dengan acuh.

Ahjumma itu tersenyum aneh ke arah Donghae dan Yoona. Yoona mengigit bibirnya. “Apakah dia mau membayarnya?” tanya Yoona pelan.

“Dia tidak mau.. Cepat ikut aku. Bagaimana pun kau harus membayarnya..”

“Kemana, ahjumma? Ah.. aku akan meninggalkan kartu identitasku saja disini sebagai jaminan… Aku akan segera kembali kesini setelah mengambil uang.” usul Yoona.

“Aku akan meninggalkan syalku yang mahal ini.. Ini untukmu ahjumma..”. Donghae berusaha membujuk Bibi itu juga bersama Yoona.

“Aku takkan percaya kepada kalian. Sudah banyak syal yang kudapatkan dan mereka semua tak kembali untuk membayar.”

Ahjumma! Syal ini bahkan lebih mahal dari apa yang kami makan!” protes Donghae tersinggung. “Ini bermerek.” lanjutnya. Bibi yang keras kepala itu menggeleng. Pendiriannya sekuat karang. “Aku tak peduli itu bermerek atau tidak. Cepat ikut aku.”

Yoona dan Donghae serentak mengerang frustasi.

“Ini ambil!”. Bibi itu melemparkan dua baju kerja panjang yang biasa dipakai oleh para petani atau peternak ketika bekerja. Donghae memandangnya dengan bingung. “Bersihkan kandang sapiku! Dan jangan berani-berani keluar dari tempat ini jika belum selesai.”

“Aku tidak mau!” tolak Donghae mentah-mentah. Bibi itu mengeluarkan aura mengerikan. “Apa? Kau bilang tidak mau? Aku akan memanggil polisi!”

“Lakukan saja!” tantang Donghae. Bibi itu mengangguk. Dia langsung menempelkan ponselnya di telinga. “Halo, Opsir! Aku menemukan dua orang pencuri di rumahku..”

Yoona mendelik. Astaga, dia benar-benar nekat.., Yoona dengan cepat meraih ponsel itu dan mematikannya. “Kami akan melakukannya..” ujar Yoona lembut. Bibi tersenyum. “Baiklah, sekop dan gerobak dorong ada di depan kandang. Bersihkan dengan baik.”. Ia berlalu.

Ne..”. Yoona membungkukkan badannya hormat. Donghae berdiri di samping Yoona dengan muka masam.

“Aku tidak mau.”

Yoona memukul lengan Donghae keras-keras dengan kesal. “Bagaimana bisa kau begitu kekanakan hah?! Sudahlah, cepat lakukan..”. Yoona berusaha mengganti pakaiannya dengan pakaian kerja yang sudah disiapkan ahjumma itu tadi.

Donghae sibuk dengan ponselnya. Ia berusaha menelepon Suzy.

Yeoboseyo?

“Kau dimana sekarang?” bisik Donghae pelan. Takut-takut Yoona mendengarnya.

Ne, Donghae-ssi, kami ada di Daejeon sekarang.”

Donghae membulatkan matanya. “Daejeon? Kenapa kau ada disana? Kita akan ke Gangwondo! Itu arah yang benar-benar berlawanan!” teriak Donghae panik.

Omo.. omo.. apa yang harus kulakukan? Aku pikir itu Gyeongsangdo.. Omo.. jadi, itu Gangwondo.. Baiklah, aku akan segera putar arah dan sampai disana secepatnya.” ucap Suzy santai setangah menyebalkan. Suzy tersenyum sendiri. Ini memang sudah rencananya. Agar ia bisa lebih lama bersama dengan Seo Joon. Hanya berdua tanpa orang lain.

“Wae? Apa ada sesuatu yang salah?” tanya Seo Joon yang baru bangun dari tidurnya di jok samping Suzy. “Tujuan kita Gangwondo dan bukannya Gyeongsangdo..” ucap Suzy enteng. Seo Joon mengangguk-angguk.

“Apa?! Itu kan arah yang benar-benar berlawanan!” teriak Seo Joon beberapa detik setelah menyadari hal itu. “Aku tidak tahu kenapa bisa jadi seperti ini. Tenang saja. Aku akan kembali mengemudi di jalan yang benar.”. Seo Joon menarik napasnya dalam-dalam. Astaga, gadis ini bagaimana bisa?, batinnya.

Donghae mengurut pelipisnya dengan frustasi. Baiklah, jika begini… aku akan terus bersama Yoona hanya berdua?!, Donghae melirik ke arah Yoona yang sudah menunggunya di depan kandang sapi.

“Siapa yang menelepon?” tanya Yoona begitu Donghae sudah berada di sampingnya. “Suzy benar-benar tersesat. Dia malah menuju Gyeongsangdo.”

“Oh, Gyeongsangdo.. Mwo?!”. Lagi-lagi, semua orang mengangguk dulu sebelum menyadari bahwa sesuatu yang salah yang sebenarnya terjadi. Mereka benar-benar sedang tidak fokus.

“Bagaimana bisa?”. Yoona menatap Donghae dengan panik. Astaga, itu benar-benar jauh sekali. Apakah aku akan berakhir bersamanya terus sepanjang hari ini?, Yoona mengerang di dalam hati. Aku bisa gila!

#skip

“Apa bagusnya makan makanan mewah jika tidak membawa uang?” sindir Yoona kesal sembari menyekop kotoran sapi yang berserakan dimana-mana. Kuping Donghae panas mendengarnya.

“Siapa yang menyuruhmu untuk memesan makanan penutup seharga 5.000 won. Jika saja kau tidak membeli itu, setidaknya kita bisa menghemat 5.000 won!”

Yoona menghentakkan kakinya dengan marah. “Ya! Kau yang bilang kepadaku untuk memakan apa yang aku mau dan kau yang membayarnya.. Aish.. aku tahu perjalanan ini tidak akan menyenangkan! Pantas saja tak ada kru yang mau ikut denganmu..” omel Yoona panjang-pendek.

“Sudahlah, lupakan saja. Cepat bereskan pekerjaan kita dan lanjutkan perjalanan..”

“Aish.. Ini tidak akan terjadi jika kita hanya memakan bibimbap.”. Yoona mencibir sendiri. Bagaimana bisa Donghae begitu tidak bertanggung jawab dan melemparkan kesalahan padanya?

“Aku bisa mendengar semuanya..”. Donghae mulai merasa kesal juga. Ia stress sedari tadi berusaha menyembunyikan rasa malunya.

Mereka terlihat buru-buru bekerja. Tak sengaja, mereka menyekop mundur seluruh kotoran itu dan mereka bertubrukan dengan kencang sehingga mereka jatuh terjerembap di atas… kotoran sapi.

“ASTAGA!!!! KOTORAN SAPI!!!” teriak Donghae histeris memperhatikan seluruh baju dan tangannya yang berlumuran kotoran. “KOTORAN SAPI!!!”. Donghae bagaikan orang kesetanan.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yoona hati-hati. “APAKAH AKU TERLIHAT BAIK-BAIK SAJA?! Aish, aku tidak bisa melakukan ini..”. Donghae membanting sarung tangannya. Baru beberapa langkah dia hendak keluar, Bibi menyeramkan tadi muncul di ambang pintu.

“Aku akan bekerja dengan sangat keras..”. Donghae segera putar halauan melihat pandangan Bibi itu malah lebih menyeramkan dibandingkan dengan sebelumnya. “Oh, astaga..” keluh Donghae. Yoona hanya tersenyum tipis. Donghae benar-benar rewel.

Tak sengaja, Yoona menjatuhkan tanda pengenalnya ke dasar lantai yang penuh dengan kotoran bau itu.


*@NCT Entertainment

Jal mogesseumnida.. (aku akan makan..)” teriak seluruh karyawan yang berkumpul di pantry. Beberapa mangkuk penganan ringan seperti tteobeokki, sundae (semacam darah babi yang didinginkan hingga bentuknya seperti hati sapi), dan jeroan dari babi terhampar di atas meja pantry yang sempit. Para manager pun berdesakan hanya untuk mengambil makanan tersebut.

Siwon menusuk salah satu dari jeroan babi dan menatapnya dengan pandangan mengerikan.

“Dari sekian banyak makanan, kenapa kau harus memilih memakan ini, Yoongie?” protes Siwon. Raut wajahnya menunjukkan ia benar-benar geli dengan apa yang dimakan Yoona.

“Kau tidak tahu bagian terbaik dari sundae adalah paru-paru ini. Cobalah!”

“Cobalah ini.. Ini benar-benar enak..”. Yoona menyodorkan satu potong sundae berupa paru-paru babi itu ke depan mulut Siwon. Pemuda itu segera mundur beberapa langkah dengan bergidig. “Astaga! Itu benar-benar menjijikkan.. Ah.. astaga..”

“Oh, aku tidak akan sekejam itu memakan semua ini..” keluh Siwon. Yoona pantang menyerah. “Buanglah perasaan menjadi kejammu itu dan cobalah makan ini sekali.”

“Oh, ini menjijikkan sekali..”

“Aaa…”. Yoona berusaha menjejalkan makanan itu ke mulut Siwon. “Ah.. aku tidak mau!! Ini tidak benar!”. Siwon mundur lagi beberapa langkah berusaha menghindari serangan Yoona.

Ah, benda menjijikkan dengan banyak lubang ini.. Yoona memakannya begitu nikmat.., dengan perlahan, Siwon berusaha memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

Ketika pertama kali mengunyahnya, mata Siwon segera melotot. Makanan ini terasa begitu menjijikkan di mulutnya..

“Uh.. ehh.. oh..”. Siwon dengan panik menunjuk-nunjuk mulutnya. Para manager yang sedang berkumpul mengeryitkan dahinya. “Kau kenapa?”

“Weekkkk..”. Siwon memuntahkan isi mulutnya ke dalam satu mangkuk tteobeokki yang masih penuh.

“Choi Siwon!!!” teriak para manager dengan jijik. “Kau idiot! Kenapa kau melakukan itu?? Isi dari mangkuk ini masih banyak dan aku ingin meminum kuahnya!!”. Heenim memukul Siwon dengan tongkatnya. Tapi, tak disangka, Heenim masih memakan tteobeokki itu bahkan menyeruput kuahnya yang sudah bercampur dengan muntahan Siwon tadi. Membuat seluruh manager yang ada disitu bergiding ngeri melihat kelakuan Heenim.


“Ya, angkat sedikit lagi.. Tumpahkan semuanya..” seru Yoona bersemangat.

Donghae mengerahkan segenap kekuatannya untuk mengangkat sedikit gerobak yang begitu berat karena penuh berisi kotoran sapi yang telah mereka bersihkan dari kandang.

“Ah.. akhirnya… kita selesai..”. Donghae mengulurkan tangannya hendak tos dengan Yoona. Tapi, dengan segera pemuda itu menurunkan tangannya dengan salah tingkah. Donghae masih berusaha menjaga imagenya dengan Yoona.

“Aku sudah mendorong ini dari atas, jadi, kau harus mendorongnya kembali ke atas. Aku capek sekali..”. Tanpa basa-basi lagi, Donghae segera meninggalkan Yoona. gadis itu mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa dia disebut sebagai laki-laki?

“Astaga.. benar-benar..”. Walaupun menggerutu, tetap saja, Yoona melakukannya.

#skip

Yoona dan Donghae merebahkan dirinya bersama-sama di sebuah tempat peristirahatan yang ada di situ. Dengan napas masih terengah-engah terdengar di antara mereka.

“Fakta bahwa kita melakukan ini semua – membersihkan kotoran sapi.. Ini harus menjadi rahasia hanya di antara kita berdua. Mengerti?”. Donghae terlihat sangat takut.

Yoona tertawa kecil. “Kenapa? Apa salahnya jika kita membersihkan kotoran sapi?”

Donghae menarik napasnya dengan berat. Ini benar-benar memalukan. “Yah, membersihkan kotoran sapi sebagai ganti membayar makanan bukanlah hal yang umum. Ini begitu memalukan. Bisa-bisa ini menjadi gossip yang menggelikan.”

Yoona menghela napasnya. Ia mengerti posisi Donghae. “Baiklah. Jika itu maumu. Aku tidak akan pernah mengungkit hal ini lagi.”

Mereka terdiam. Tatapan mereka terpaku pada langit yang begitu bersih dan berwarna biru indah. Hanya segumpal awan yang masih bertahan disana.

Tak mereka sadari, dengan bersamaan, mereka mengangkat tangan kanan dan kirinya, membentuk sebuah persegi panjang yang membingkai langit dalam pandangan mereka. Dengan senyuman di bibir mereka masing-masing, tatapan mereka tak pernah lepas dari langit yang kini berada dalam bingkaian tangan mereka.

“Akhirnya, kalian selesai membayar biaya makan kalian..” tegur Bibi mengejutkan mereka berdua. Yoona dan Donghae langsung bangkit.

“Pergi membersihkan diri di sebelah sana dan lanjutkan perjalanan kalian.”

Ne..” sahut Yoona patuh. Bibi itu tersenyum hangat dan meninggalkan mereka. Yoona tersenyum dengan puas.

Eoh? Dimana tanda pengenalku??” seru Yoona panik. “Kemana benda itu? Aku masih memilikinya beberapa saat yang lalu!”

“Kau menghilangkan tanda pengenalmu?” tanya Donghae. Yoona mengangguk dengan cepat.. “Ya.. dimana kira-kira aku menjatuhkannya?”. Nada suara Yoona benar-benar terdengar panik.

“Lagipula, kenapa kau masih memakainya bahkan ketika kita dalam perjalanan di luar kantor?” desah Donghae kesal.

“Lupakan saja.. Kita tidak mempunyai banyak waktu. Cepat bersihkan dirimu dan kita segera berangkat!” lanjut Donghae. Yoona menggeleng dengan panik. Kepalanya berputar kesana-kemari mencari kartu tanda pengenalnya. “Aku tidak bisa pergi tanpa memakai itu..”

“Kau bisa mendapatkannya kembali setelah kita kembali ke kantor nanti..” ujar Donghae. “Cepat bergegas..”

“Mungkin bagimu, kartu itu tidak berarti apapun. Tapi, bagiku, itu harta yang tak ternilai..” balas Yoona keras kepala. “Ah, mungkin itu terjatuh di kandang sewaktu kita membersihkan tadi..”. Yoona berlari kembali menuju kandang dengan langkah seribu.

“Aku akan pergi dalam 20 menit. Tidak peduli kau sudah menemukannya atau tidak!! Aku akan meninggalkanmu jika kau tidak siap dalam 20 menit!!” teriak Donghae susah payah ke arah Yoona yang bahkan sudah tidak terlihat lagi.

“Ah.. benar-benar..” desah Donghae frustasi.

#skip

Dengan lemas, Yoona mengelap tangannya yang masih agak basah sehabis mandi. Ia tidak habis pikir kemana hilangnya kartu pegawainya. Apakah itu ikut terbuang?

Yoona terhenti begitu melihat kartu pegawainya disodorkan oleh Donghae.

“Uwaaa.. kartu pegawaiku!! Dimana kau menemukannya?”. Raut wajah Yoona dengan drastis berubah menjadi sangat riang. Donghae berdehem tidak nyaman. Kenyataan dimana ia menemukan kartu itu membuatnya mual.

“Ah, aku menemukannya di lantai tadi.”

“Di lantai? Aku mencarinya kemana-mana. Aku yakin itu.”

“Kau yakin kau mencarinya dengan benar? Itu berguling di atas lantai begitu saja..” sinis Donghae. Yoona tidak mempedulikan Donghae yang menyindirnya itu. “Oh astaga.. ini begitu melegakan..”. Yoona mencium kartu itu dengan penuh cinta seolah ia akan kehilangan benda yang begitu bermakna untuknya itu dua kali. Donghae hendak muntah begitu melihat Yoona mencium kartunya begitu… dalam.

“Kau tidak seharusnya mencium itu..” ujar Donghae tersendat. Rasa mualnya masih menghantui.

Jeongmal gamsahamnida..”. Yoona membungkukkan badannya berkali-kali di hadapan Donghae. Membuat pemuda itu senang tak alang kepalang namun juga salah tingkah. Kenapa aku merasa begitu senang?

“Ayo kita pergi..”. Yoona mengangguk.

“Maafkan aku, Tuan Muda. Aku ingin menanyakan sesuatu. Kenapa kau terlihat seperti mengacak-acak kotoran sapi yang telah kau kumpulkan tadi? Aku melihatnya begitu ganjil di tempat pembuangan. Aku rasa tadi aku melihatnya sudah dibuang olehmu dengan rapi.”. Bibi itu menghentikan langkah Yoona dan Donghae.

Yoona melebarkan matanya. “Apakah… kau mengacak-acak tumpukan kotoran itu untuk mencari kartu ini untukku?”. Yoona menunjukkan kartu pegawainya di depan mata Donghae. Pemuda itu membelalak.

“Ahaha.. apa yang kau pikirkan? Aku sudah bilang itu terjatuh di tanah. Ah, kenapa banyak sekali lalat disini?”. Donghae bergegas pergi meninggalkan Yoona dengan salah tingkah. Yoona menatap siluet Donghae yang menjauh dengan senyuman tipis di bibirnya. Apakah dia memang melakukannya untukku?

#skip

Yoona masih memandang kartu pegawainya dengan senyuman mengembang. Donghae berdehem memecah keheningan yang sedari tadi berada di antara mereka. Donghae melihat ekspresi wajah Yoona melalui sudut matanya. Tangannya memegang kemudi dengan erat.

“Ini pertama kalinya aku bisa bekerja di perusahaan impianku.” jelas Yoona seolah bisa membaca pikiran Donghae yang bertanya-tanya kenapa kartu itu begitu berarti untuknya.

“Ketika aku mencari pekerjaan untuk pertama kalinya, hal yang paling membuatku iri adalah kartu pegawai mereka. Itulah alasanku mengapa ketika aku melihat kartu pegawaiku sendiri, aku merasa sangat senang, bangga, dan berterima kasih karena telah diberikan kesempatan untuk bekerja disini. Aku selalu merasakan semua itu.”

“Dan aku pasti akan bergumam, ‘Wah, aku benar-benar memiliki tempat di dalam perusahaan ini.’. Yah, hal semacam itu membuatku menjadi penting dan merasa dibutuhkan.”

Donghae tersenyum. Pikiran Yoona benar-benar polos dan sederhana. Entah kenapa, mendengarkan ocehan Yoona membuatnya lebih bersyukur lagi. Donghae menyadari kehidupan ini terlihat lebih sederhana jika kau merasa bahagia.

“Kartu pegawai hanyalah kartu pegawai.. Kau pasti menganggapku berlebihan bukan?”

Donghae tersenyum lagi. Ya, Yoona yang begitu polos dan sederhana itu membuat Donghae menyadari apa arti kehidupan yang sebenarnya dan tidak selalu harus glamor…

Begitu Yoona menoleh ke arahnya, senyuman Donghae segera lenyap. Ia kembali dalam mode Donghae yang seperti biasanya.

“Kau memang sangat berlebihan. Tapi, sepertinya aku bisa mengerti keadaanmu.”. Yoona mengangguk.

“Terkadang ada satu atau dua hal yang menurut orang lain benar-benar hanya hal yang sepele dan sama sekali tidak bernilai yang begitu bermakna untuk kita sendiri.” lanjut Donghae.

“Apakah kau mempunyai sesuatu yang seperti itu?” tanya Yoona antusias.

“Benda yang kau rusak waktu itu.. Sewaktu kau mengantarkanku ketika aku pingsan karena mabuk.”. Donghae mengusap hidungnya sendiri – kebiasaannya jika ia sedang gugup.

Ne?” tanya Yoona gugup.

#Flashback

“Mwoya? Kenapa kau ada disini?”

Yoona terlonjak. Tangannya tidak sengaja menyenggol sebuah kotak kaca yang berisikan papan permainan monopoli. Ya, papan permainan monopoli yang dulu sering digunakan mereka untuk bermain bersama. Semua tersusun dengan rapi. Bahkan pionnya, Donghae letakkan di atas negara-negara yang menjadi favorit mereka jika bermain dulu.

Pion biru muda Donghae di atas Negara Perancis. Dan bagian Negara Italia – yang merupakan kesukaan Yoona – bertuliskan ‘kepunyaan Im Yoona’ tanpa pion. Tentu saja, karena pion berwarna merah hati kesukaan Yoona masih gadis itu simpan dengan baik di dalam kotak rahasianya di rumah.

Prangg..

Suara kaca yang pecah membuat Yoona tersadar dari lamunannya sendiri. Ia menahan napasnya dengan kaget.

Donghae mendelik melihat semuanya hancur berantakan dan berserakan dimana-mana.

“Kau!” teriaknya tertahan. Yoona segera membungkukkan badannya berkali-kali. “Maafkan aku, Donghae-ssi.. Aku sungguh tidak bermaksud..”

Yoona bergegas memungut kepingan pecahan kaca yang berserakan di bawah. Donghae menahan tangannya. “Jangan, kau akan terluka.”

Walaupun sepertinya, jemari gadis itu sudah terluka.

#Flashback END

“Ah.. hal itu..” ucap Yoona sedikit gugup. Insiden bodoh yang terjadi karena rasa penasarannya.

Donghae mengulurkan sebelah tangannya di depan wajah Yoona. Tatapannya masih tidak bisa lepas dari jalanan yang ada di depannya. Donghae selalu mengutamakan keselamatan berkendara.

“A..ada a..apa dengan tanganmu?” gagap Yoona. Hatinya berpacu tidak keruan. Donghae tidak menjawabnya dan hanya menggoncangkan tangannya di depan wajah Yoona seperti meminta sesuatu.

Yoona mengigit bibirnya. Dengan perlahan, ia menggenggam tangan Donghae. Sejenak, Yoona merasakan darahnya berdesir. Ini kali pertama aku bisa menggenggam tangannya lagi..

Mwohaneun geoya jigeum? (Apa yang sedang kau lakukan??)”. Donghae terlihat bingung dengan kelakuan Yoona yang aneh tiba-tiba menggenggam tangannya. “Ah, ne?” tanya Yoona yang masih tersipu dan larut dalam khayalannya sendiri.

“Aku meminta uang ganti rugi padamu. Untuk menggantikan kaca yang kau rusak waktu itu. Kaca yang menyimpan papan monopoli itu.

Ne?!! Astaga!”. Yoona segera melepaskan tangannya dengan salah tingkah. Jadi itu maksudnya?

“Aku tahu kau pasti takkan bisa membayarnya sekarang. Bayarlah ketika kita sudah kembali ke Seoul.” ucap Donghae cepat. “Nomor rekeningku 0820491.” lanjutnya masih dengan kecepatan bicara yang tinggi.

“Ah.. ah.. ah.. tunggu sebentar.. Chakkaman..”. Yoona dengan terburu-buru mengeluarkan ponselnya dan mencatatnya.

“08204.. lalu?”. Donghae tersenyum tipis. Dia benar-benar polos.

“Kau tipe yang sempurna untuk dikerjai. Pantas saja Siwon selalu menjadikanmu bahan candaannya.. Kau sepertinya tidak bisa membedakan mana candaan dan mana perkataan yang serius.” jelas Donghae. Yoona membulatkan matanya. “Apa?!”

“Aku benar-benar akan memberikannya padamu! Ayo, cepat beritahu aku nomornya! Jangan merendahkanku seperti itu..”. Yoona tidak mau kalah.

“Tapi, apakah kau yakin akan membayar 1.000.000 won?”

“Baiklah, aku akan mengambil perkataanmu sebagai candaan..” potong Yoona begitu mendengar nominal yang Donghae sebutkan. Donghae tersenyum lebar. Asyik sekali mengerjai gadis seperti Yoona.

Lagi-lagi, ketika Yoona menoleh, senyuman Donghae kembali surut. Usahanya untuk tetap terlihat dingin masih Donghae pertahankan. Tapi, Donghae kalah cepat. Kali ini, Yoona sempat melihat senyuman lebar itu tersungging di bibir Donghae.

Yoona tersenyum sendiri. Kenapa dia harus menyembunyikan senyumannya?

#skip

Yoona menahan teriakannya sendiri begitu melihat hamparan laut biru yang terbentang luas di hadapannya.

“WAA… BADA DA (ITU LAUT!!)”. Yoona berteriak, berlari sembari membuka kedua tangannya. Ia benar-benar bahagia bisa melihat pemandangan seindah itu. Donghae mengikuti di belakangnya dengan senyuman tertahan.

“Waaaa..”. Yoona masih berteriak melampiaskan kegembiraannya. Begitu dia membalikkan badannya dan mendapati Donghae menatapnya dengan tajam, Yoona segera mengetahui kesalahannya.

“Ah.. aku lupa kita tidak sedang dalam liburan.”

“Ah… jeotdaa… (ini begitu menyenangkan).” teriak Donghae mengikuti kelakuan Yoona yang tampaknya menyenangkan. Yoona tersenyum lebar dan sangat.. manis di mata Donghae.

“Ah… jeotdaaa…” teriak Yoona mengikuti Donghae. Hatinya senang tak alang kepalang melihat Donghae nampaknya juga menikmati sama seperti apa yang dirasakannya sekarang.

Donghae mengusap lehernya sendiri dengan salah tingkah. Kenapa sekarang rasanya begitu menyenangkan berada di sisi Yoona?

“Baiklah, mari kita berkeliling mencari spot yang bagus.” ajak Donghae. Yoona teringat sesuatu.

“Jika begitu, biarkan aku menelepon seseorang dulu untuk meminjamkan uang untuk makan malam kita berempat nanti.”. Donghae mengangguk menyetujui ide Yoona. Gadis itu segera mencari ponselnya dan menekan satu kontak.

“Eng, Donghae-ssi.. Tapi, kau akan membayar hutangmu padaku kan?”

“Ah.. kau benar-benar.. Aku akan menulis surat perjanjian jika kau tidak mempercayaiku!” omel Donghae kesal – seketika mood baiknya menguap.

“Ah, kau tipe yang sempurna untuk dikerjai juga. Aku bercanda, Donghae-ssi.” ujar Yoona lalu menjauh untuk menelepon. Donghae terlongong. Yoona membalasnya? Donghae tersenyum lagi. Nampaknya, hari ini, senyuman tulusnya benar-benar akan selalu ada.

Drrt.. drrt..

Donghae merasakan ponselnya bergetar. ‘Yoona-ya’ tercetak dengan jelas di layar ponselnya. Hanya saja itu Yoona yang lain alias Jessica.

Ne, Yoona-ya?”

“Hae-ya.. Apakah kau mau makan malam bersamaku setelah pulang kerja?” tawar Jessica.

“Oh.. jika begitu, bagaimana dengan di Gangwondo jam 8 malam?”

“Apa yang kau maksud dengan Gangwon.. Ah, aku lupa kau sedang dalam perjalanan bisnis hari ini..”

“Em, aku akan mencari spot yang bagus untuk shooting MV terbaruku..” jelas Donghae.

“Apakah kau akan kembali besok?” tanya Jessica dengan kecewa. Ia lupa sama sekali jika Donghae sedang tidak ada di Seoul saat ini.

Jessica merasakan ponselnya bergetar. Ia melirik sebentar layar ponselnya. ‘Yeobo’ tercetak besar-besar disitu.

“Donghae-ya, aku mendapat panggilan masuk. Aku akan meneleponmu lagi nanti.”

“Baiklah.. Aku akan meneleponmu besok ketika kembali ke Seoul.”

Tut.. tut..

Yeoboseyo?”

“Hai, yeobo! Aku melihat beberapa missed call darimu..”

“Ah.. iya. Aku memang meneleponmu.” balas Jessica malas-malasan.

“Yeobo, bisakah kau meminjami aku uang? Aku sedang membutuhkan uang sekarang dan kartu debitku nilainya nol. Bisakah kau meminjamkan beberapa? Aku sedang dalam kerja rodi.” tanya Yoona harap-harap cemas.

“Em. Aku akan mengirimkannya padamu. Kerja rodi? Apa maksudmu?”

“Aku akan menjelaskannya ketika aku kembali ke Seoul. Cepat kirimkan uangnya ya. Ah, dan aku tidak akan pulang malam ini. Katanya ini akan menjadi perjalanan tiga hari. Tapi, entahlah, aku berharap ini segera berakhir. Aku terseret ke dalam perjalanan bisnis bersama seseorang.”

“Perjalanan… bisnis?”. Kening Jessica mengkerut. Kedua alisnya bertemu. Rasanya ada yang tidak beres.

“Ya, perjalanan bisnis.”

“Bersama siapa?” tanya Jessica was-was. “Lee Donghae..” bisik Yoona keras. Jessica melebarkan matanya. Mereka melakukan perjalanan bisnis bersama dan bermalam? Omo.., Jessica mengigit bibirnya sendiri. Tidak akan terjadi apa-apa Sica-ya.. Tenang saja.., Jessica mengelus dadanya berusaha menenangkan diri.

“Hanya kalian berdua?”. Yoona mengeryitkan dahinya. Kenapa dia terdengar begitu curiga?

“Ya, sampai sekarang kami hanya berdua. Nanti akan ada beberapa kru yang menyusul.”

“Ah.. baiklah.”. Jessica terdengar menghela napas dengan begitu lega. Yoona yang begitu polos sungguh tidak menghiraukan nada Jessica yan mulai berubah.

“Sica-ya.. Gomawoyo..” ujar Yoona lembut. Rasa cemburu yang tadi diam-diam menyelimuti hati Jessica luluh seketika. Kenapa aku harus cemburu pada Yoona yang bahkan aku khianati?

Ne..”. Jessica segera memutuskan sambungan telepon sebelum rasa bersalah semakin membuatnya tersiksa. Kebohongan benar-benar membuatnya tersiksa.

Note:

Jangan lupa komennya ya guys.. ! Gomawoo ^^

Love, Euri

Advertisements

4 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #7. 두근 두근

    • halo-haloo… ehem bang donghae udah mulai suka sama yoongie (?) gatau dehh hehe hanya Tuhan dan Donghae yang tau /alay bat sih/ sepertinya kebohongan Jessica masih lama keungkapnya /author yang kejam/

      Btw, thanks udah komen yaaa ^^ tetap ditunggu FF ku ya??

      Love, Euri {}

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s