[Ficlet Series] 문열어봐 (Here I Am) – TWO

artwork-70

ParkSeungRiHae storyline present

Title: 문열어봐  [Here I Am]

Main cast: Oh Sehun and Kim Yerim (Yeri)

Length: Ficlet-Series

Rating: General – PG 13

Poster by @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

A/N: DON’T BE SIDERS AND PLAGIATOR!! SHOW US SOME RESPECT! Tolong tuliskan komentar atau apapun itu di kotak komentar untuk membangun author menjadi lebih baik lagi karyanya. Gamsahamnidaa..

Love, Euri

HAPPY READING ^^

Aku sudah berjanji akan membencimu, Yeri-ah – Oh Sehun

Tanpa sadar, Yeri mendekati benda itu dan memegangnya dengan tatapan yang penuh emosi berkecamuk dalam iris matanya. Yeri terus menerus menyalahkan dirinya sendiri yang begitu bodohnya mencampakkan Sehun hanya demi pri impiannya yang ternyata hanya seorang penipu.

“Kau masih mengingat benda itu?”

Suara dingin Sehun membuat Yeri tersentak. Air mata yang tadi sudah menggenang dan siap turun, Yeri seka dengan kasar menggunakan ujung sweaternya cepat-cepat. Gadis itu menoleh ke arah Sehun. Melihat sosok pemuda jangkung yang begitu ia rindukan selama ini. Berdiri di hadapannya dengan pandangan mata teduhnya dan penuh misteri, masih sama seperti dulu.

“Bagaimana kabarmu? Bagaimana kabarmu dengan Jungkook? Semuanya baik-baik saja?” tanya Sehun tidak tahan melihat Yeri berdiri canggung di hadapannya sembari menundukkan kepala. Yeri terdiam. Suaranya tertahan. Tenggorokannya tercekat. Mendengar nama Jungkook kembali disebut setelah sekian lama.

Ini.. ini suara yang selalu menghantuinya di kala musim semi datang. Suara yang sangat ia rindukan. Melebihi apapun. Sebuah penyesalan besar teronggok di pojok hatinya setiap kali mengingat Sehun. Karena dia telah meninggalkan Sehun demi seseorang yang ia kira akan membuat hidupnya lebih baik – Jeon Jungkook.

Sehun melangkah maju. Mempersempit jaraknya dengan Yeri. Gadis itu terus menunduk berusaha menenangkan degup jantungnya yang berpacu abnormal.

“Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” ucap Yeri berbohong setelah menghirup napas dalam-dalam dan memaksakan seulas senyuman yang dulu selalu hadir jika ia berada di samping Sehun. Ia tidak mau membongkar apa yang sebenarnya terjadi di antara dia dan Jungkook sebenarnya.

Setidaknya, Yeri tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri karena telah memilih orang yang salah. Yeri tidak ingin membuat pengakuan dosa terberat di depan orang yang menunggunya dengan setia dan mencintainya secara cuma-cuma, tanpa ada maksud lain di baliknya.

Yeri sungguh membenci dirinya sendiri kala sekarang iris mata Sehun bertambah redup dan redup setiap detik pemuda itu menatapnya.

Sehun tersenyum miring. “Tidak pernah lebih baik dari saat itu.”

Yeri tersenyum canggung. Ia memilih untuk berjalan menghilang dari pandangan Sehun. Hatinya sudah sesak, tidak tahan. Tapi, Sehun menahan lengan Yeri. Membuat gadis itu menghentikan ayunan langkahnya.

“Aku… tidak mau kau membeli flatku. Jika saja, aku tahu kalau pria itu adalah ayahmu. Jika saja, aku tahu bahwa keluargamulah yang akan membeli flatku, aku tidak akan menandatangani perjanjian itu.”

Yeri menoleh kaget mendengar penjelasan Sehun. “Apa maksudmu dengan perjanjian?”

Sehun terdiam membisu mengingat pria paruh baya itu tidak mengizinkannya memberitahu siapapun. Ia masih ingat raut wajah putus asa kepunyaan Tuan Kim. Yang tidak ia kira adalah Tuan Kim yang merupakan ayah dari seorang Kim Yerim.

Raut putus asa dan kesakitan kentara sekali terlihat di wajahnya ketika Tuan Kim datang tertatih-tatih mengetuk pintu flatnya pada malam buta.

Tok.. tok..

Sehun terbangun ketika mendengar suara ketukan dari pintu flatnya. Keningnya mengerut melihat jam weker yang ada di nakas tidurnya. Masih menunjukkan pukul 1 pagi. Siapa yang mungkin datang?

Apakah orang-orang suruhan musuh ayahnya?

Dengan was-was, Sehun berjingkat pelan, menuju pintu masuk flatnya dengan sebuah tongkat besi pengorek tempat perapian di tangan kanannya. Sehun harus jujur kalau sekarang ia takut setengah mati.

Tok.. tok..

Suara ketukan itu mulai berubah tidak sabar. Sehun mengintip dari lubang pintunya kira-kira siapa yang datang. Pemuda itu memejamkan matanya melihat siapa yang datang. Dia sama sekali tidak mengenal siapa itu dan akan gawat sekali jika itu seorang pembunuh bayaran dari musuh ayahnya.

Sehun membuka jalinan rantai kecil yang mengunci pintu flatnya dan membuka pintunya perlahan.

Brukk..

Orang itu jatuh begitu saja tepat di depan kaki Sehun. Membuat pemuda itu terpekik kaget.

“Tuan! Tuan! Apakah Anda baik-baik saja?” teriak Sehun panik melihat pria itu tidak bergerak sama sekali setelah pingsan benar-benar tepat di depan matanya. Sehun berusaha menggotong tubuh pria itu ke dalam flatnya dan menidurkannya di sofa sederhana ruang tengahnya.

“Astaga! Dia tertembak..”. Sehun menjadi panik melihat darah berlumuran memenuhi sebagian bajunya karena dia menggotong pria tua itu. Bagian perut orang itu nampak mengucurkan darah cukup deras. Bisa membuat orang itu kehilangan nyawanya setiap saat.

Sehun mencari-cari brendi yang menjadi persediaannya selama musim dingin jika suhu benar-benar drop. Brendi akan menjaga tubuhnya agar tetap hangat. Dan itu juga akan memberikan sedikit energi kepada orang yang benar-benar sekarat.

Sehun membuka mulut pria itu dan menuangkan cairan berwarna keemasan tersebut ke dalam tenggorokan pria yang nampaknya sudah cukup berumur itu. Sehun juga membuka kancing baju pria itu agar dia leluasa mendapatkan sedikit angin segar jika memang mengalami sesak napas.

Sehun duduk terdiam memperhatikan pria itu. Pandangannya tidak pernah lepas mengamati siapa gerangan orang yang di depannya. Keningnya berkerut karena Sehun merasa dia pernah bertemu dengan pria tua di depannya.

Beberapa puluh menit berselang, pria itu tak kunjung bangun. Membuat Sehun setengah mati khawatir. Jangan-jangan nanti dia dituduh melakukan pembunuhan jika flatnya mendadak digeledah polisi.

“Anak muda..”

Suara lirih dan parau tersebut membuat Sehun terlonjak dan buru-buru menghampiri sofa ruang tengahnya. Berjongkok di pinggir sofa itu serta mendekatkan dirinya kepada pria itu.

“Kau Oh Sehun?”

Sehun mengangguk cepat-cepat. Melihat sepertinya pria tua itu benar-benar sekarat.

“Ini… tanda tangani ini, Nak.. Sekarang juga..”

“Tapi, kenapa?” tanya Sehun bingung menatap kertas lecek yang ada di genggamannya.

“Kau… kau dalam bahaya.. Aku kesini untuk memperingatkanmu setelah lolos dari kejaran anggotaku. Cepat pergi dari sini. Menghilanglah dari sini selamanya..”

Kening Sehun mengkerut. Apa maksudnya?

“Aku akan membeli flatmu. Keluargaku dan juga kau dalam bahaya yang sama gentingnya. Aku tahu ini adalah tempat persembunyian terbaik. Kau masih punya banyak kesempatan untuk melarikan diri. Tapi tidak dengan keluargaku. Pergerakan mereka sangat terbatas. Mereka takkan bisa kabur ke luar negeri begitu saja. Kawananku pasti akan menemukan mereka bahkan ketika mereka baru saja naik taksi ke bandara…”. Pria tua itu bersusah payah mengumpulkan napasnya kembali untuk mengatakan sesuatu yang terpotong.

“Karena itu aku membeli rumahmu. Aku mohon dengan sangat, Tuan Oh..”

Jantung Sehun serasa diberhentikan secara paksa. Kenapa orang ini mengetahui masalah kelamnya dengan mafia? Walaupun dia anak dari seorang boss mafia, Sehun benar-benar membenci pekerjaan yang tidak manusiawi itu.

“Aku berhutang budi padamu. Karena itu, aku datang kesini untuk memperingatkanmu.”

Mata Sehun mengerjap beberapa saat. Berusaha mengumpulkan nyawanya yang tadi sempat terpecah belah karena kaget.

Sehun memperhatikan wajah pria yang awut-awutan di hadapannya itu dengan saksama.

“Tuan Kim..” lirih Sehun pelan. Tuan Kim tersenyum. “Kau sudah menyelamatkanku waktu aku hendak melarikan diri pada percobaan pertama itu.. Sekarang, aku juga hendak melarikan diri untuk terakhir kalinya, untuk memperingatkanmu dan juga keluargaku.. Aku tahu umurku takkan panjang lagi. Mereka sudah berencana membunuhku di tiang gantung besok. Setelah itu, kau juga akan menjadi sasaran mereka. Lalu keluargaku..”

Rahang Sehun mengeras. Tuan Kim adalah salah satu anggota musuh kawanan mafia kepunyaan ayahnya. Pada satu waktu, tak sengaja, Sehun menolong pria tua yang kepayahan di pinggir jalan karena luka tembak di bahu dan perutnya. Yang ternyata bernama Tuan Kim ini.

Sehun ingat janji Tuan Kim padanya sesaat sebelum ia mengungsi ke flat ini dari manor keluarganya yang mewah.

Tuan Kim berkata dia akan membalas budi Sehun dengan cara melindunginya dari musuh-musuh bengis ayahnya atau sama saja melindungi Sehun dari kawanan mafianya sendiri. Yang artinya, Tuan Kim akan mengkhianati mereka semua.

Tentu saja Sehun menjadi incaran mereka. Sehun nantinya akan menjadi pewaris tahta ayahnya sebagai boss mafia yang merajalela di Korea, Amerika, dan China. Musuh geng mafia mereka tentu saja ingin membunuh boss lawannya agar mereka bisa mengambil alih kekuasaan mereka dan memperluas jaringan mafia mereka ke seluruh dunia.

“Kumohon, Sehun-ssi… Lakukan apa yang kukatakan. Aku sudah memikirkan semuanya masak-masak. Takkan ada kesalahan secuil pun jika kau melakukan apa yang aku katakan tadi. Tanda tangani perjanjian ini bahwa kau akan menjual flatku pada keluargaku nanti jika aku sudah tiada. Dan satu lagi, aku mohon tolong nikahi anak gadisku dan bawa dia bersamamu. Begitu juga dengan istriku.”

Tangan Tuan Kim bergetar hebat kala menyodorkan pena usangnya ke arah Sehun. Kekuatannya seperti benar-benar sudah habis. Dan nyawanya pun sudah berada di ujung tanduk.

Sehun cepat-cepat mengambil pena itu dan menandatangani surat perjanjian itu. Tuan Kim tersenyum. Lalu perlahan, matanya terpejam… Tertidur untuk selamanya.

Sehun menundukkan kepalanya sendiri. Punggungnya bergetar menahan tangis. Ia mulai memarahi takdir kenapa dia harus terlahir dalam keluarga mafia yang penuh dengan bahaya seperti ini.. Ia begitu membenci kehidupannya sendiri.

Sehun mengurut pelipisnya sendiri. Membayangkan kejadian malam itu kembali terputar dalam otaknya. Yeri menyentuh lengan Sehun perlahan.

Matanya yang jernih sungguh membuat hati Sehun tenang. Tapi, kembali bergejolak karena pemuda itu tahu sekarang siapa anak gadis Tuan Kim yang harus dinikahinya.

Ya, Kim Yerim lah yang harus dinikahinya. Kenapa harus Kim Yerim? Itu pertanyaan yang muncul dalam benak Sehun. Berputar-putar menginjak-injak seluruh pikirannya. Membuat kepalanya menjadi pening.

Sehun menelan ludahnya sendiri mengingat kemungkinan gadis itu berada dalam bahaya karena akan terus bersama dengan dirinya. Sehun tidak sanggup memikirkan kemungkinan kehilangan Yeri untuk kedua kalinya. Bahkan mungkin untuk selamanya.

Sehun mulai menyadari bahwa keputusan Yeri untuk memutuskan hubungan mereka sudah tepat sekarang. Setelah dia mengetahui bahwa Yerilah putri Tuan Kim. Karena dengan memutuskan hubungan mereka, Yeri akan lebih aman disana bersama ibunya, dibandingkan jika masih berpacaran dengan dirinya.

Dan ia menyesali perjanjian Tuan Kim yang harus ditambahkan dengan menikahi anak gadisnya. Sehun sungguh membenci hal itu. Ia tidak mau perasaannya yang sudah terpendam lama itu akan muncul kembali. Ia tidak mau Yeri menikah dengannya karena kemungkinan gadis itu mangkat dari dunia untuk selama-lamanya semakin besar.

Yeri adalah satu-satunya kebahagiaan Sehun yang dapat ia rasakan di dunia ini setelah keluar dari dunianya yang kelam. Setelah ia memutuskan keluar dari rumah keluarganya, menghindari agar ayahnya tidak mewariskan takhta terkutuknya itu kepadanya, Yeri datang dalam kehidupannya.

Membuat hidupnya lebih berwarna dan juga lebih cerah dibandingkan dengan masa lalunya yang kelam. Kehilangan sosok ibu ketika masih kecil membuat Sehun menyayangi Yeri tak hanya sebatas sebagai kekasih, tapi juga sebagai sosok ibu karena Yeri mempunyai sosok keibuan yang begitu menghangatkan hatinya.

Dan kini, Sehun bahkan sama sekali tidak berani membayangkan kemungkinan Yeri akan pergi selamanya sudah berada di depan mata. Dan kemungkinan itu akan terjadi, karena dirinya.

“Pergilah… Kumohon.. pergi sekarang juga, Yeri-ah.. Bilang pada ibumu aku tak bersedia melakukan semua ini..”

Sehun melepaskan cengkramannya pada lengan Yeri dan berlalu dari hadapan Yeri. Membuat gadis itu mematung. Hatinya benar-benar terpukul melihat Sehun benar-benar membencinya kini. Semuanya sudah berubah. Tatapan mata Sehun yang selalu penuh kasih itu.. berubah menjadi penuh kebencian dan juga ketakutan.

Yeri menutup wajahnya sendiri berusaha menyembunyikan butir bening yang sesaat lagi akan segera jatuh dari pelupuknya.

“Nyonya Kim..”. Sehun memanggil lembut wanita bermata teduh yang sedang memunggunginya itu. Nyonya Kim segera menoleh mendengar pemuda tadi memanggilnya.

“Ada apa?”

Sehun memejamkan matanya sendiri dan menghembuskan napasnya berkali-kali dengan berat. Hatinya benar-benar sedang porak-poranda saat ini. Rasa benci terhadap dirinya sendiri semakin kuat. Berat sekali ia harus mengatakan ini..

Sehun membenci dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi Yeri dan Nyonya Kim. Bagaimana pun juga, Sehun sudah berjanji akan melupakan Yeri. Tapi, ia juga terjerat dengan perjanjian Tuan Kim. Jadi apa yang harus aku lakukan?, tanya Sehun kesal sendiri.

Tapi, apakah jika seperti ini, takdir yang kembali mempertemukan mereka? Apakah takdir memang mengharuskan Sehun selalu bersama dengan Yeri bagaimana pun caranya?

“Aku harus menyampaikan ini padamu.. Aku tidak bersedia menjual flatku padamu. Maafkan aku..”

Nyonya Kim membulatkan matanya. “Kenapa, Nak? Suamiku bilang kau pasti akan menjual flat ini kepadaku dan juga anakku..”

“Maafkan aku.. Aku tidak bermaksud hendak melanggar janjiku pada Tuan Kim –suamimu. Tapi, jika aku kembali memikirkan hal lain, kalian tidak pantas tinggal disini. Ini hanyalah satu flat murahan. Aku akan tetap menetap di flat ini..”

“Kenapa? Jelaskan ini padaku.. Itu bukan satu-satunya alasanmu kan? Ini terdengar sangat tidak masuk akal.” tanya Nyonya Kim dengan dingin. Pandangannya yang tadi teduh berubah berkobar penuh amarah. Sehun menelan ludahnya dengan susah payah.

“Karena.. aku harus menikahi putri Anda jika saja kau membeli flatku ini..”

Nyonya Kim merasakan jantungnya berhenti berpacu. Menikahi Yeri?, wanita itu sudah cukup trauma mendengar anaknya akan dinikahi sejak Yeri gagal menikah dengan pemuda bernama Jeon Jungkook karena tiba-tiba pemuda itu meninggalkan Yeri begitu saja tanpa sebab. Membuat Yeri stress berat dan menjalani kehidupannya bagaikan orang gila.

Orang tua mana yang tega melihat anaknya menjadi seperti itu hanya karena masalah pemuda? Nyonya Kim sudah bertekad dia takkan mengizinkan siapapun mendekati Yeri – anak gadis satu-satunya.

“A..apa.. apa maksudmu! Tidak ada yang boleh mengambil Yeri lagi dariku!!” pekik Nyonya Kim tertahan. Tak terbayangkan olehnya, anak gadisnya akan dinikahi oleh seseorang yang bahkan belum pernah dikenalnya.

“Dalam perjanjianku dengan Tuan Kim, dia menyuruhku untuk menikahi anaknya jika saja kalian sudah pindah kesini.. Dan aku tidak bisa menikahi putri Anda.. Kau juga tidak mau kan itu terjadi?” jelas Sehun lirih. Nyonya Kim menatap Sehun dengan tidak mengerti.

“Kenapa kau tidak bisa menikahi putriku?” tanya Nyonya Kim mendadak kaget mendengar pernyataan Sehun.

Ia kira pemuda itu akan bilang bahwa ia akan menikahi Yeri bagaimana pun caranya. Sama seperti para pemuda yang sudah mengantri untuk menikahi Yeri namun selalu ia tolak. Perkataan klise yang sangat dibenci Nyonya Kim.

“Karena aku sudah berjanji akan membencinya, Nyonya.”

Yeri terkesiap mendengar perkataan Sehun. Membenciku? Dia benar-benar melakukan semua itu?

“Tapi, bagaimana pun juga, kau harus menepati janjimu, Nak.. Suamiku sudah mempercayaimu. Aku yakin dia punya alasan kuat di balik semua ini..”. Nyonya Kim mulai luluh melihat Sehun terlihat begitu polos dalam menyampaikan argumennya. Naluri keibuannya merasa Sehun adalah pemuda yang tepat untuk Yerinya tersayang.

Sehun memejamkan matanya kembali. Berusaha merangkai kata-kata yang tepat agar Nyonya Kim mengerti. Wanita paruh baya ini memang benar. Dia harus memenuhi janjinya pada Tuan Kim. Tapi, ini semua menyangkut masalah perasaannya di masa lalu. Sehun sudah berjanji akan melupakan Yeri.

Apakah aku akan kembali mengulang kesalahan yang sama? Aku tidak mungkin akan kehilangan Yeri.. Itu akan lebih berat.. Yeri-ah, eotteohke uri? (apa yang harus kita lakukan?)

“Menikahlah dengan putriku, Oh Sehun..”. Nyonya Kim menatap Sehun dengan sungguh-sungguh. Ia yakin suaminya mempunyai alasan tersembunyi karena sampai rela memberikan Yeri pada pemuda bermarga Oh ini.

Sehun menggeleng cepat.

“Tidak bisa, Nyonya.. Aku akan sangat terpukul jika benar-benar kehilangannya.. Aku lebih baik menatapnya dari jauh dibandingkan memilikinya dengan konsekuensi akan membuat Yeri dalam bahaya. Aku tidak mau kehilangan Yeri, Nyonya.. Aku tidak mau kehilangan Yeri untuk selamanya.”

Yeri melangkah mendekat. Gadis itu menatap Sehun dengan mata berkaca-kaca. Bibirnya bergetar menahan tangis.

Uluran tangannya mencengkram erat lengan Sehun. “Aku akan bersedia menikah denganmu. Aku akan menebus semuanya. Semuanya..” isak Yeri. Sehun berjengit. “Bukan kau yang bersalah Yeri.. Aku menemukan fakta bahwa lebih baik kau jauh dariku. Marabahaya selalu berada di sekelilingku..”

“Biarkan aku menebus rasa sakit hatimu..” sela Yeri keras kepala. Sehun mendesah keras.

“Tapi, bukankah kau sudah menikah dengan Jungkook?”. Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Sehun. Pemuda itu baru saja mengingat satu fakta itu.

Bukankah Yeri mengakhiri semuanya karena akan menikah dengan Jungkook?, itu pikiran Sehun.

Yeri tersenyum sinis. Kilatan matanya bertambah sakit

“Jungkook? Ah, astaga.. Aku bahkan tak tahu apakah aku pernah menyematkan cincin di tangannya yang hina itu..”

Sehun membulatkan matanya. “Apa maksudmu?”

Note: Dimohon komennya dengan amat sangat.. Komen kalian seperti tenaga untuk Euri berkarya lagi.. Gamsahamnida.. *bow*

Love, Euri

Advertisements

18 thoughts on “[Ficlet Series] 문열어봐 (Here I Am) – TWO

  1. dsini yeri benar” merasa brsalah krna meninggalkan sehun saat dulu ya?
    tp bukankah dulu sehun jg sudah merelakannya untuk prgi berbahagia bersama jungkook sahabatnya sendiri….
    bagaimana bisa jungkook menipu yeri, dan sehun gk tau klau ternyata jungkook adlh seorang penipu?
    pdhl jungkook sahabat sehun kan….
    aq gk nyangka lho klau ternyata sehun itu anak dr boss mafia 🙂
    eh sehun dan yeri buruan nikah aja gih, biar bisa bahagia gitu 🙂
    ditunggu next ceritanya ya kak, semangat ^__^

    Liked by 1 person

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s