[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #6. Lost In Past

 

artwork-67

Title: 찾았다, 나의 사랑 [I Got You, My Love]

ParkSeungRiHae Storyline

Poster by: @Chaerim INDO FANFICTION ARTS (IFA)

FF ini merupakan remake dari drama ‘She Was Pretty’ oleh karena itu jika banyak kesamaan momen dalam FF ini mohon maklum karena niatku memang hanya meremake drama tersebut dengan perubahan disana-sini sesuai fantasiku sendiri.

DON’T BE SILENT READERS! DON’T BE A PLAGIATOR!! Dan jangan lupa komen, kritik, saran atau apapun itu yang membangun penulis untuk menjadi lebih baik lagi.

HAPPY READING ^^

Donghae naik taksi dari halte setelah halte dimana Yoona turun. Ia kembali ke tempat dimana tadi ia memarkir mobilnya. Begitu selesai membayar taksi, pemuda itu terlongong mendapati mobilnya sedang diderek tepat di depan wajahnya.

“Ya!! Jangan derek mobilku!!!” teriak Donghae sembari mengejar mobil derek itu. Baru beberapa meter, Donghae menyerah. Napasnya sudah terengah-engah. Ia berbalik dan mengambil surat tilang yang tergeletak dimana ia memarkir mobilnya tadi.

Ia tertawa konyol sendiri menatap surat itu. Donghae sendiri bingung kenapa ia membuntuti Yoona – yang menyebabkan mobilnya diderek.

*@Policeoffice

Gamsahamnida..” ujar Donghae begitu ia mendapatkan kembali kunci mobilnya setelah membayar beberapa ribu won sebagai kompensasi tilangnya. Ia menundukkan kepalanya sejenak, tanda hormat.

“Jangan memarkir mobil sembarangan walapun kau seorang artis ne.. Aku tahu kau punya banyak uang, tapi lebih baik jika kau tidak menggunakannya hanya untuk membayar denda tilang..” nasihat polisi tua yang berjaga di tempat penyitaan kendaraan yang ditilang.

Donghae hanya menunduk sopan sekenanya dan segera berlari menuju mobilnya yang diparkir di halaman kantor polisi yang luas itu.

Donghae langsung masuk ke dalam mobilnya begitu pintunya terbuka.

“Ah, maafkan aku menganggumu pagi buta seperti ini, tapi aku harus menanyakan sesuatu padamu..” ujar Donghae pelan kepada psikiaternya. “Kenapa aku bisa mengalami hal itu?” tanya Donghae tentang kejadiannya yang mendadak sesak napas dan mengalami pikiran yang buruk mendadak ketika waktu itu melihat kecelakaan mobil pada saat hujan deras – saat dimana Yoona menyelamatkannya.

Jika kau sedang dalam kondisi yang stress berat, trauma itu bisa saja kembali terjadi. Aku rasa karena jadwal comebackmu yang terlalu padat mengakibatkan kondisi psikismu tidak baik.

Jangan biarkan dirimu mengalami stress berat, dan jika kau merasa sedang mengalaminya, segera tangani stressmu itu, dan lebih baik jika kau pergi ke suatu tempat agar tak ada sesuatu pun yang bisa menganggumu.

“Aku juga ingin menanyakan sesuatu. Seseorang yang tidak ada kaitannya apapun denganku terus saja mengingatkanku pada seseorang yang menjadi cinta pertamaku 15 tahun lalu. Tapi, aku tidak tahu alasan apa yang membuatku menjadi seperti itu.” keluh Donghae frustasi mengurut pelipisnya.

“Malah, orang yang seharusnya benar-benar aku kenal malah bagaikan orang asing di mataku. Aku terus berpikir jika orang yang kukenal itu bukanlah orang yang sama seperti yang seharusnya aku tahu.”

Donghae terus memikirkan perbincangannya dengan psikiaternya itu bahkan setelah ia pulang ke apartemennya dan membiarkan dirinya terguyur oleh air shower yang dingin..

Bukankah normal jika ia akan berubah setelah 20 tahun?

Apakah kau berpikir seseorang akan tetap menjadi seperti itu setelah ia menjalani kehidupannya dari waktu ke waktu?

Fakta bahwa kau tidak bisa melupakan cinta pertamamu merupakan salah satu tanda dari Zeigarnik Effect.

“Zeigarnik Effect?” tanya Donghae tidak mengerti.

Em..untuk menjelaskannya secara garis besar tentu akan mudah, tapi untuk kasusmu yang tidak bisa melupakan sesuatu yang tidak pernah bisa kau selesaikan yaitu cinta pertamamu itu akan sulit. Aku tidak bisa memvonismu mendapatkan Zeigarnik Effect begitu saja. Bisa jadi itu memang Zeigarnik Effect atau hanya sebuah takdir yang tidak bisa diubah.

“Itu sangat aneh..” desah Donghae kesal.

Kau mungkin tidak akan pernah melihat ujung dari masalahmu dan mungkin juga itulah alasan kenapa kau tidak bisa dengan mudahnya melupakan gadis itu.

Jadi, lupakanlah masa lalu dan hadapi apa yang sedang terjadi dalam kehidupanmu sekarang, hanya itu yang bisa kusarankan. Agar masalahmu bisa menemukan ujungnya. Agar semua ini bisa selesai dengan baik-baik.

(*note: bagian percakapan yang tidak pakai tanda petik, itu yang ngomong si psikiater Donghae)

Donghae menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Menatap bagaimana menyedihkannya keadaannya sekarang hanya karena masa lalunya yang takkan pernah bisa dia lupakan.


“Oh.. Yoona-ya..”

Jessica buru-buru berlari ke pintu apartemen dan menyambut Yoona. “Apakah kau sudah sembuh? Aku sudah membelikanmu semangkuk bubur kerang jamur yang kujanjikan tadi pagi.”

Yoona membulatkan matanya dengan senang. “Aigoo… yeobo membelikanku semangkuk bubur hangat.. Astaga.. kau manis sekali..”. Yoona mencubit pipi Jessica main-main dan segera duduk di sofa ruang tengah.

Jessica kembali menatap Yoona dengan perasaan bersalah. Kenapa Yoona masih sangat baik terhadapku? Bukankah kau menjadi iblis jika seperti ini, Sica-ya?


*@Yoona’sroom

Yoona memandang sebuah pion kecil yang biasanya dipakai bermain monopoli dulu bersama Donghae. Gadis itu baru saja mengunjungi rumah kedua orang tuanya dan membongkar kamar lamanya. Tak sengaja, dia menemukan sebuah pion kecil berwarna merah hati yang selalu Donghae sisakan untuknya. Lebih tepatnya, Donghae tidak membiarkan siapapun menggunakan pion itu ketika dia dengan teman-temannya sedang bermain monopoli.

Selain itu, Yoona menatapi satu barang kecil – kecil sekali, yang ada di dalam genggaman tangan sebelah kanannya. Sebuah jepit kecil yang tidak akan ditemukan lagi pada masa ini, berwarna biru muda, kesukaannya.

Yoona ingat dengan betul, pada bulan keempat setelah Donghae pindah, pemuda itu mengirimkan kembali jepitnya itu bersama dengan sepucuk suratnya.

Donghae bilang, Yoona pasti akan mencari jepit kesayangan itu, karenanya, anak kecil itu mengembalikan benda kepunyaannya. Ia tidak ingin Yoona merasa kehilangan lagi. Setelah merasa kehilangan – ketika Donghae pindah.

Yoona tersenyum mengingat betapa polosnya surat-surat Donghae untuknya dulu. Gadis itu mengenggam erat kedua benda itu hingga senyumnya tak pernah surut.

#skip

Jessica berada di depan pintu kamar Yoona. Tangannya sudah terulur untuk mengetuk pintu kamar gadis itu. Ia nampak masih ragu…

“Apakah kau menyukai Lee Donghae?” tanya Siwon dengan tatapan menyelidik ke arah Jessica yang menghindarinya.

“Ani.. bagaimana bisa aku menyukainya. Aku bahkan tidak pernah kenal dekat dengannya.” bantah Jessica dengan gugup. Siwon bersedekap dengan menampakkan raut ragu.

“Aish.. Manager Choi, aku sudah mengurus semua berita Donghae dan Dara! Aku tidak mempunyai kesalahan apapun lagi.”

“Kau punya satu kesalahan terhadap Yoona.”

Deg. Jessica berusaha mengontrol raut wajahnya begitu Siwon menatapnya dengan serius. “Kau melukainya, Nona Jung..” ucap Siwon bagaikan memberi dakwaan pada seorang tersangka.

“Kenapa kau tiba-tiba menyeret kehidupan pribadiku dengan Yoona?” teriak Jessica tertahan. “Silahkan keluar atau aku akan memanggil sekuriti kesini.” ucapnya dingin. Matanya tajam menusuk Siwon. Pemuda itu menyerah.

“Baiklah, jika kau tidak mau mengaku. Tapi, aku lihat sepertinya akhir-akhir ini Yoona begitu stress mendengar Donghae sedang mempunyai pacar. Jadi, aku sarankan kau mengungkapkannya segera. Kabar Donghae berpacaran dengan seorang wanita cantik kaya dan merupakan seorang CEO sebuah perusahaan majalah besar sudah terendus beberapa minggu ini, Nona. Kusarankan kau mengatakan yang sebenarnya padaku. Dan aku takkan membeberkannya pada siapapun.”

Jessica mematung di tempatnya. Raut wajahnya yang dingin sama sekali tidak berubah. Ia terlihat masih sangat keras kepala. Siwon mengangkat tangannya – menandakan dia menyerah.

“Baiklah, jika kau memang tak mau mengakuinya. Aku sudah pernah memergokimu berciuman dengan Donghae. Apakah itu tidak cukup, Nona Jung?”. Siwon tersenyum sinis kala melihat reaksi Jessica yang terkejut. Kaget bukan kepalang.

Siwon meraih jasnya dan segera keluar membanting pintu ruangan Jessica. Yang menyebabkan bunyi berdebam yang sangat keras.

“Astaga.. bagaimana aku bisa mengakhirinya?” Jessica mengepalkan tangannya sendiri erat-erat berusaha menahan amarahnya sendiri.

“Yoong.. aku ingin berbicara sesuatu denganmu..”. Jessica memilih langsung membuka pintu serta melongokkan kepalanya ke dalam kamar Yoona. Gadis itu hanya mengangguk. “Bisakah aku tidur bersamamu?” tanya Jessica yang sudah membawa bantal dan selimutnya.

Yoona mengerutkan alisnya. “Bukankah kasurmu lebih luas dan nyaman? Bagaimana bisa kau tidur di ranjangku yang sempit dan sekarang bertambah sempit karena kau tidur denganku?” canda Yoona.

“Aku tidak peduli!” seru Jessica senang dan langsung menghempaskan tubuhnya ke samping Yoona. “Aigoo.. kau besar sekali..” keluh Yoona.

“Kenapa kau ingin tidur denganku? Kau ada masalah?” tanya Yoona memecahkan keheningan yang tadi sempat menghampiri. Jessica memiringkan posisi tubuhnya hingga menghadap Yoona. Yoona pun juga melakukan hal yang sama. Mata mereka bertatapan beberapa lama.

“Kau ingin mengatakan sesuatu padaku, Sica-ya?” gumam Yoona setelah sekian lama menunggu Jessica yang ragu-ragu untuk mengatakan maksudnya yang sudah ia niatkan seharian.

Ani, aku hanya mau bertanya padamu. Apa rasanya cinta yang sesungguhnya?”

Yoona nampak berpikir sejenak menggunakan aegyeonya. “Cinta yang sesungguhnya adalah walaupun kau hanya memandangnya dari jauh, kau cukup merasa bahagia. Kau melakukan hal-hal bodoh yang seharusnya tidak kau lakukan karena itu adalah kepentingan mereka. Dan yah begitulah, semuanya menjadi indah ketika kau hanya melihat siluetnya saja.”

Gadis itu tercenung. Membayangkan dirinya sendiri sedang menatap Donghae dari jauh. Dan tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya harus pemuda itu tahu. Menjadi pengecut hanya untuk mengatakan sesuatu tentang masa lalu.

Jessica hanya mengangguk.

“Aku merasakan itu semua ketika melihat Donghae. Walaupun dia tidak mengenaliku sebagai Im Yoona yang dulu, setidaknya, aku masih beruntung bisa melihatnya dan membuatku mendapatkan mood yang bagus jika aku benar-benar down jika bahkan karena ulahnya sendiri.”. Yoona tersenyum manis. Mengingat masih ada sedikit keberuntungan yang membuatnya bisa kembali bertemu dengan Donghae.

Walaupun mereka seperti orang asing kini. Yang bahkan tak saling mengenal ketika mereka terus bersama. Side by side.

Jessica membisu. Yoona kembali menegaskan jika ia memang masih mencintai cinta pertamanya, Lee Donghae. Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Dia pasti akan terluka.

“Kenapa kau tiba-tiba mengatakan hal itu? Apakah kau putus dengan pacarmu itu?”

“Ah.. ani.. kami masih tetap berhubungan..”

“Bisakah aku bertemu dengannya?” tanya Yoona antusias. Matanya yang bundar besar menatap Jessica penuh harap.

Jessica tergagap panik. “Tidak bisa. Dia berada di luar negeri untuk waktu yang lama.”

Yoona hanya mengangguk-angguk setuju. Dia membenarkan posisi tidurnya. Matanya menatap langit-langit kamarnya dengan senyuman.

Lama-lama Yoona terlelap. Jessica benar-benar tidak bisa tertidur di samping Yoona. Perasaan bersalahnya sungguh membuatnya tersiksa. Tapi, ia tahu, sakitnya patah hati lebih membuatnya tersiksa. Jadi, ia memilih untuk masih membohongi Yoona untuk sementara sampai dia menemukan momen yang pas untuk mengungkapkan semuanya.


*@Donghae’sapartment

Donghae tersenyum menatap bawang bombay yang tadi ia beli bersamaan dengan apa yang ia berikan kepada Yoona. Ia tidak sengaja membaca artikel bahwa bawang bombay bisa sedikit meringankan pilek. Tanpa berpikir dua kali, Donghae mengikuti anjuran artikel itu dan segera membeli dua bawang bombay – satu untukknya dan satu untuk Yoona.

Donghae memberikan mata dan senyuman di atas bawang bombay itu persis seperti apa yang tadi ia lihat Yoona lakukan pada bawang bombaynya. Lalu, pemuda itu menaruh bawang bombay itu ke dalam gelas kecil berisikan air sama seperti apa yang dilakukan Yoona.

Senyuman itu kembali muncul. Senyuman yang tak pernah orang lain lihat dari seorang superstar seperti Donghae. Senyuman tulus tanpa ada unsur paksaan.

Senyuman yang hanya akan muncul jika seorang Lee Donghae mengingat perasaan sayangnya kepada seseorang.

Kenapa senyuman itu muncul ketika dia mengingat Yoona? Yang bahkan baru ia kenal beberapa bulan yang lalu sebagai managernya?

Apakah karena pemuda itu mulai menyukainya?


*NCT Entertainment

“Baiklah, siapa yang akan mendampingi Donghae dalam mencari spot untuk perekaman music video kali ini?”

Tidak ada yang mengangkat tangan. Yoona hanya terdiam di seberang meja. Donghae – yang posisinya berhadapan dengan Yoona – menatap gadis itu terus-menerus sedari tadi. Seakan mencari tahu akan rasa penasarannya. Membuat pipi Yoona secara tidak sengaja memanas dan merona.

Kenapa aku seakan pernah mengenalnya sebelum semua ini?, pertanyaan itu yang membuat Donghae kian intens memerhatikan Yoona hingga gadis itu mati gaya.

“Ayolah.. bagaimana bisa tidak ada yang mau?” omel Tae Hee mulai tidak sabar.

Tentu saja takkan ada kru yang mau bekerja dengan Donghae yang mudah sekali berubah temperamennya menjadi sangat buruk dan sering marah-marah tidak jelas itu. Walaupun mungkin menyenangkan, semuanya akan menjadi rusak oleh omelan dan lampiasan amarah Donghae yang tidak pernah puas dan menghargai hasil kerja orang lain.

Siwon yang kali ini juga ikut rapat – karena Dara akan menjadi salah satu aktor utama dalam music video Donghae – menatap Yoona dan Donghae silih berganti. Tidak biasanya Donghae menjadi super serius menatap Yoona seperti itu. Ia mencium ada yang tidak beres.

“Ehem.. aku akan ikut.”. Siwon mengangkat tangannya. Sebenarnya, berusaha mengalihkan perhatian Donghae. Ia tahu, pemuda itu takkan pernah sudi berdekatan dengannya – apalagi bekerja bersama.

Choi Sooyoung – salah satu kru eksekutif Donghae – membulatkan matanya begitu Siwon mengangkat tangannya. “Nado.. (aku juga).”. Sooyoung buru-buru mengangkat tangannya. Siwon mengerutkan alisnya. Jujur saja, ia agak risih dengan perlakuan Sooyoung terhadapnya. Ia tahu dengan jelas bahwa Sooyoung menyukainya. “Aku tidak jadi ikut..” potong Siwon cepat.

Nado.. (aku juga)” ujar Sooyoung membeo Siwon. Tae Hee mengurut pelipisnya dengan kesal. “Choi Sooyoung! Jika kau mau ikut, ikutlah. Jika tidak, jangan mengajukan diri.”

Sooyoung mengangguk malu. Siwon hanya menatapnya remeh.

“Bagaimana ini, kita masih kurang 3 orang lagi. Baiklah, aku akan ikut jika tiga orang masih terlalu banyak untuk kalian penuhi. Siapa 2 orang lagi?”

Akhirnya, Suzy mengangkat tangannya mengalah, ia juga ikut rapat karena Woo Bin akan menjadi aktor pria utama dalam music video Donghae. “Ada lagi?”

“Seo Joon-ah, ikutlah dengan Suzy..” usul salah satu kru yang disambut dengan suara tertawa yang lain. Semua orang tahu jika Suzy menyukai Seo Joon dan pria itu sama sekali tidak peka. Bisa dibilang, Seo Joon adalah pria dingin yang tak pernah mengurus perasaan hatinya sama sekali. Seo Joon mengendikkan bahunya tanda ia menyerah. Tepuk tangan dan suitan riuh rendah membuat gaduh ruangan rapat.

Suzy merona melihat ke arah Seo Joon yang begitu cool baginya. “Hei.. nuna, kau akan mendapatkan jodohmu segera..” bisik Kibum di samping Suzy. Yang langsung mendapatkan pukulan keras di bahunya.

“Sudah.. sudah.. berarti, Suzy dan Seo Joon yang akan berangkat bersamaku. Bagaimana, Donghae-ssi? Im Yoona-ssi.. aku tidak mau ikut?” tanya Tae Hee ke arah Yoona yang sedang melamun.

Ne?”

“Kau tidak akan ikut bersama dengan Donghae?”

“Ah, sudah ada sajangnim, untuk apa aku ikut? Aku ada beberapa pekerjaan untuk comeback Donghae kali ini di label. Aku harus meninjau design album repackagenya.” ujar Yoona beralasan. Sebenarnya, ia ingin sekali ikut melihat bagaimana  jadinya music video terbaru Donghae.

Mendengarkan lagunya saja, Yoona sudah jatuh hati dua kali. Tapi, mengingat keadaannya dengan Donghae sekarang sedang canggung sekali, Yoona memilih untuk tidak mengikuti kemauannya.

Tae Hee mengangguk-angguk setuju. “Kau tidak masalah Donghae-ssi?”

Donghae yang sedari tadi melamun sembari melihat siluet Yoona dari seberang meja tergugah. “Ne?”

“Kenapa kalian berdua melamun, heh? Kalian ada masalah berdua?”

Yoona dan Donghae sama-sama mendelik. “Ani!!” teriak mereka berbarengan dengan kencang. Yoona dan Donghae saling bertatapan dengan kesal. Tatapan menyelidik segera menghujani mereka. “Ani, kami tidak ada apa-apa..” bantah Yoona cepat-cepat. “Iya, kami tidak ada apa-apa..”

“Aku harus pergi. Sugohaesseumnida..”. Yoona membungkukkan badannya dengan cepat dan membanting pintu ruang rapat. Donghae membetulkan letak dasinya dan berdehem tidak nyaman. “Aku juga harus menyiapkan sesuatu..”

Donghae keluar dan membanting pintu rapat lebih keras dari Yoona. “Aigoo.. kenapa mereka semua membanting pintu?! Mereka kan tahu aku tidak suka kalau ada pintu yang dibanting..” gumam Tae Hee. Tapi, di bibirnya terbersit satu senyuman misterius. Prasangkanya semakin kuat.


“Ah.. memalukan sekali!! Oh..” keluh Yoona sembari menutupi wajahnya. “Kenapa kau harus terus menatapku dengan matamu yang tajam itu, Lee Donghae!!” desah Yoona pelan. Ia mengacak rambutnya dengan frustasi.

“Kau membuatku gila!” teriak Yoona akhirnya. Yoona mengetukkan kepalanya ke atas meja beberapa kali.

“Kau memang sudah gila.” decak suara pemuda yang tidak asing. Membuat Yoona terperanjat. “Omo!!! Donghae-ssi..” Yoona merapikan rambutnya dan juga bajunya yang sudah acak-acakan karena perilaku ‘gila’nya tadi.

“Ada yang bisa aku bantu?”. Yoona berusaha bersikap profesional dengan memandang Donghae serius. “Aku hanya kesini untuk menanyakan yang mana saja design cover albumnya. Kau tidak bisa memutuskannya sendiri bukan?”. Nada dinginnya menusuk. Lagi-lagi tatapan tajam itu kembali muncul. Sebenarnya, tatapan menyelidik.

“Ya! Donghae-ssi, bisakah kau tidak memandangku seperti itu?!”. Habis sudah kesabaran Yoona dipermainkan oleh Donghae. Pemuda itu tersadar. “Tatapan? Tatapan apa?”

Yoona mendengus kesal. “Lupakan.” jawabnya singkat. Tangannya mengulurkan sebuah map berisikan kertas design.

Gomapseumnida.” ujar Donghae pelan. Pemuda itu segera berlalu. Huh? Dia mengatakan terima kasih kepadaku setelah sekian lama?, Yoona menatap Donghae dengan bingung.

Matanya menyapu meja kerjanya. Yoona mengerutkan keningnya. Kemana benda itu?

Tangannya lantas mengacak meja kerjanya. Mengangkat beberapa map tebal memeriksa apakah benda itu terselip disana. Mengacak-ngacak dokumen kertas yang ditumpuk hingga menutupi wajahnya sendiri jika ia sedang duduk.

“Dimana benda itu??”

“Huaa.. astaga.. kemana benda itu?”

Yoona bergegas menuju ruang bibi yang biasa membersihkan ruangan para manager.

“Bi, apakah kau melihat benda seperti jepit rambut berwarna pink? Sekecil ini? Sekarang benda itu sudah tidak diproduksi lagi.”. Yoona bersusah payah menjelaskannya dengan tangan dan seluruh anggota tubuhnya. Sayangnya, Bibi itu hanya menggeleng. “Bagaimana aku bisa ingat, Nona? Benda itu kan kecil sekali. Apalagi, terlihat seperti sampah.”

Yoona menyerah dan mengangguk sebentar. Dengan lunglai, dia berjalan kembali ke ruangan para manager. Siwon melihat gadis itu berjalan dengan lunglai dari belakang. Kedua alisnya bertemu. Kenapa lagi sih dia?

Siwon berusaha mengejar Yoona tapi ia berpikir kembali. Instingnya mengatakan bukan saat yang tepat jika ia menghampiri Yoona saat ini.

#skip

Siwon terus memperhatikan Yoona yang bekerja dari seberang bilik kerjanya. Tangannya menumpu dagunya dan alisnya bertemu dengan matanya yang penasaran.

“Hah, dia kenapa sih?”. Siwon rasanya mati penasaran. Pemuda itu akhirnya memilih berseluncur ke arah Yoona dengan kursinya – seperti biasa.

“Ja! Dongsaeng! Kenapa kau tampak begitu murung huh?”. Yoona terlonjak. Matanya melotot melihat Siwon yang sudah berada tepat di samping wajahnya. Pemuda itu menumpukan tangannya di bahu Yoona.

“Ya! Kau membuatku terkejut! Aku hampir saja menemukannya.” keluh Yoona frustasi. Lagi-lagi, Siwon mengerut. “Apa yang kau cari memangnya??”

“Jepit rambut..” jawab Yoona pelan. Siwon langsung meledak tawanya. “Aish!! Kau menyebalkan sekali. Ini bukan hal yang lucu. Jepit itu sangat berarti untukku.”

Yoona menghentakkan kakinya kesal dan pergi meninggalkan Siwon yang bengong karena kaget. “Huh? Apa yang salah? Kenapa dia selalu berbuat hal-hal yang nyentrik sih?” tanya Siwon pada dirinya sendiri.

Yoona membasuh mukanya dengan air dingin berkali-kali di wastafel kamar mandi. Ia menatap wajahnya sendiri beberapa lama. “Aigoo, kenapa kau terlihat menyedihkan Im Yoona? Hanya karena kenangan masa lalu? Yang bahkan orang yang kau kenal itu tidak mengenalmu lagi? Menyedihkan!”

“Apanya yang menyedihkan?”. Suzy muncul di belakang Yoona sembari mengeringkan tangannya dengan tisu. Yoona membelalak. “Ani.. tidak ada apa-apa..”

“Kenapa kau tidak ikut, eonni? Bukankah kau manager utama Donghae? Kau ada masalah dengannya ya?”. Suzy menatap Yoona dengan menggoda. Yoona merona. Tangannya segera dikibaskan di depan wajahnya.

“Tentu saja tidak. Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? Ahahaha… *kalau tahu dramanya inget aja ketawa canggungnya Hye Jin*”. Yoona beringsut pergi dengan tawa yang sangat canggung. Suzy hanya mengendikkan bahunya. Ia tidak benar-benar bermaksud menanyakan itu. Reaksi Yoona malah membuat Suzy makin curiga seperti karyawan yang lain.


Yoona menghela napasnya dengan berat. Jepit itu masih belum ketemu. Dan sekarang, malah tuduhan para karyawan masalah hubungannya dengan Donghae.

“Aduh.. aku bisa gila..” keluh Yoona sambil memegang erat rambutnya dengan frustasi lagi-lagi. Siwon menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar sudah tidak tahan melihat Yoona memperlakukan dirinya seperti itu lagi. Memperlakukan diri sendiri bagaikan orang gila.

Dalam sekali tangkap, Siwon meraih tangan Yoona yang sudah hendak menjambak rambutnya sendiri kembali.

“Kau mencari apa? Dan kenapa kau begitu frustasi huh?”

Siwon memposisikan dirinya di hadapan Yoona. Yoona memonyongkan bibirnya. “Kan aku sudah bilang aku mencari jepit rambut.. Kau ingat tidak jepit rambut yang suka dipakai anak perempuan ketika SD?”

Siwon berpikir sejenak. Lalu menggeleng. Yoona menghembuskan napasnya dengan kesal. “Sudahlah, aku sudah tidak mau memikirkan masalah itu lagi..”

“Kau berpacaran di tempat kerja?”

Sontak Yoona terlonjak dan segera berdiri dari tempat duduknya. Ia membungkukkan badannya dengan hormat. “Ani, Donghae-ssi..”. Yoona mengeluh dalam hatinya. Kenapa Donghae selalu saja muncul tiba-tiba dan mengejutkannya seperti ini?

“Lebih baik kau mengantarkan jadwalku ke kantor, arra?” perintahnya dingin.

Yoona mengangguk patuh. Siwon hanya mendengus sebal. Selalu saja, Donghae ada disana untuk menganggu waktunya dengan Yoona. Yoona membelalakkan matanya lebar-lebar melihat sebuah benda kecil berkelip – terkena pantulan sinar lampu yang juga memantul dari lantai marmer yang berkilau saking bersihnya – di bawah sepatu Donghae.

“Donghae-ssi!!” teriak Yoona dengan cepat membuat langkah Donghae terhenti. Matanya menatap Yoona dengan heran. Yoona cepat-cepat berlari ke arah Donghae.

“Kenapa lagi?” tanya pemuda itu heran. Yoona melirik-lirik ke arah sepatu Donghae beberapa lama. “Ya!! Jangan membuang waktuku!” bentak Donghae menyadarkan Yoona. “Ah, anu.. tidak jadi..” putus Yoona akhirnya. Masa ia memberitahu Donghae soal kenangan masa lalu mereka? Bukankah dengan begitu Donghae akan mengenalinya?

Siwon yang melihat kejadian itu lantas mengerti. Donghae membalikkan badannya dan pergi ke arah pintu. Yoona membekap mulutnya sendiri karena senang melihat jepitnya sudah tidak lagi terjepit di antara sol sepatu Donghae.

“Ah.. Yoona-ssi..”. Donghae tiba-tiba kembali ketika Yoona hendak mengambilnya. Ah, andwae!!, teriak Yoona dalam hatinya. Jika Donghae kembali, kemungkinan jepit itu akan kembali tersangkut di bawah sepatu Donghae.

Tak disangka, Siwon lantas berlari dengan cepat ke tempat dimana jepit itu berada dan segera menginjak lantai bagian itu. Ia memang tepat waktu, namun, badannya sudah menubruk Donghae terlebih dahulu. Agar tidak terlihat mencurigakan, Siwon malah mendapatkan ide lebih gila lagi.

Siwon tanpa rikuh memeluk Donghae dengan erat. Tentu saja, Donghae langsung menjerit kaget. “Ya!!! Manager Choi!! Apakah kau kehilangan akalmu!!”

Ekspresi Siwon malah terlihat lebih ‘menghayati’, Donghae bertambah kalang kabut. “Siapapun!! Lepaskan dia dariku!!”

Siwon melepaskan pelukannya segera setelah Donghae mengatakan kalimat terakhirnya. Donghae menarik napasnya dengan lega. Matanya menatap dengan tajam ke arah Siwon. Tatapannya jika ia sedang terbakar amarah.

“Bagaimana bisa kau melakukan itu!!” teriak Donghae. “Aku hanya ingin merasakan bromance yang sedang menjadi topik dalam artikelku, Donghae-ssi.. Kau tahu aku juga salah satu penulis artikel serabutan.” Siwon terlihat santai-santai saja. Donghae bergidig ngeri mendengarkan apa alasan Siwon.

Siwon mengedipkan sebelah matanya ke arah Yoona. Siwon memberikan kode ke bawah sepatunya. Yoona mengangguk mengerti.

“Kenapa kau tidak urus pacarmu ini, Nona Im?!” bentak Donghae begitu melihat Yoona mengangguk-angguk sendiri ke arah Siwon. Yoona tersentak.

Ne? Pacarku?” Yoona menunjuk dirinya sendiri dengan raut tidak percaya. Donghae menatapnya sinis. “Jangan membantahku bahwa kau memang pacarnya.” ucapnya dingin.

Donghae membenarkan jasnya dan menepuk-nepuk bahunya seakan sesuatu yang menjijikkan baru saja menempel disitu lalu berlalu pergi.

“Yoongie!” seru Siwon dan menunjukkan jepit yang sedari tadi menjadi penyebab resahnya gadis itu. Yoona bertepuk tangan dengan sukacita. Siwon tersenyum puas. Ia begitu senang melihat senyuman lebar Yoona terpampang dengan jelas di depan wajahnya.

Jeongmal gomawo!! Wanjeon jjang! (kau benar-benar hebat)”. Yoona mengacungkan dua jempolnya.

“Jadi, dongsaeng,  karena aku telah memenuhi permintaanmu, maka aku akan menggunakan tiga permintaanku.”

Yoona membelalakkan matanya. “Permintaan? Aku kan tidak memintamu untuk melakukan itu.”

“Tetap saja kau telah berjanji akan mengabulkan tiga permintaanku kapanpun bukan?”

“Tapi, jangan sekarang.. aku sangat sibuk..”

“Ayolah! kau sudah berjanji padaku..” rengek Siwon. Yoona mendengus kesal.

Aku, Im Yoona, berjanji akan memenuhi tiga permintaan Choi Siwon apapun yang terjadi!!!

Yoona kaget. Siwon tersenyum jahil dari bilik kerjanya. Suaranya terdengar begitu keras. “Oh.. bagaimana bisa kau merekam hal itu?!” desis Yoona tertahan malu. Ia menutupi sebagian wajahnya menghindari tatapan heran para manger yang terarah padanya. Siwon tergelak senang. “Untuk berjaga-jaga jika kau mengelak tentang janjimu ini..”

“Aish.. aku pasti ingat..”

“Tadi, baru saja kau mau menolak permintaanku.”. Yoona memalingkan wajahnya dengan malu.

Arra, aku akan memenuhinya! Apa yang kau mau?”

Assa!! Aku ingin makan naengmyeon (mi dingin) dengan beberapa potong donkatsu.. Malam ini bersamamu.”. Yoona melebarkan matanya mendengar apa yang disebutkan Siwon. Ia melirik isi dompetnya yang sudah tipis karena akhir bulan.

“Kenapa kau meminta yang begitu mahal? Aku juga sangat sibuk. Ini, makanlah sendiri.”. Yoona memasukkan uang ke dalam saku baju Siwon dan segera menatap layar laptopnya dengan serius. Siwon mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa Yoona mengacuhkannya?

Dongsaeng, kau harus ikut denganku..” bisik Siwon tepat di telinga Yoona hingga membuat gadis itu terlonjak kaget.

Arasseoyo, aku akan ikut kesana. Jangan ganggu aku lagi, ne?” pinta Yoona dengan raut memohon. Siwon mengangguk dan berseluncur kembali ke tempatnya dengan kursi seperti biasanya.

“IM YOONA-SSI!!!”

Teriakan yang memekakkan telinga itu membuat Yoona segera berdiri dan menyapukan pandangannya ke sekeliling. Ia menemukan Suzy sedang berlari ke arahnya dengan terburu-buru. “Kau harus ikut denganku..”. Tanpa basa-basi, Suzy menarik tangan Yoona. Tentu saja gadis itu memberontak. “Apa-apaan ini, Suzy-ssi?” tanya Yoona bingung.

“Kau harus ikut ke dalam perjalanan kerja sekarang. Tae Hee sajangnim tidak bisa ikut karena ada acara mendadak. Dia harus menangani boyband yang akan debut itu.”

Yoona melongo. Boyband yang mana? Sejak kapan akan ada boyband yang debut? , Kabar boyband akan debut saja tak pernah ramai dibicarakan orang-orang entertainment.

“Tapi, aku belum mengepak bajuku. Perjalanannya kan tiga hari?”

“Ah, Tae Hee sajangnim bilang, kau membawa kopernya saja.. Ayo, cepat. Kita akan terlambat.”. Suzy kembali menyeret Yoona dengan paksa. “Chakkaman. Aku membereskan barangku dulu..”

Siwon menatap semua itu dengan alis naik sebelah. Jelas-jelas tak ada yang akan debut.. Apakah Donghae meminta Tae Hee untuk memberikan posisinya pada Yoona?

Siwon sudah tahu Donghae mulai ada rasa pada Yoona. Walaupun Donghae selalu menolaknya dengan keras. Siwon tahu Donghae membohongi perasaannya sendiri.

“Aku pergi, oppa.” pamit Yoona buru-buru. Siwon mengangguk pelan dengan raut wajah masih penasaran – menerka-nerka apakah tebakannya itu tepat. Tiba-tiba ia teringat..

Dongsaeng!! Bagaimana dengan naengmyeon (mie dingin) nya??”

“Aku akan membelikannya untukmu lain waktu!!” teriak Yoona sembari berlari mengikuti Suzy. Tangannya dilambaikan di atas kepalanya. Siwon menghela napas kesal. “Aish.. permintaanku benar-benar tidak terkabul..”. Siwon menekuk wajahnya dengan sebal dan berusaha menghibur dirinya sendiri dengan mengalihkan perhatiannya kembali ke depan layar laptopnya.


“Seo Joon-ah!” teriak Suzy begitu melihat Seo Joon sudah berdiri di lobi dengan sebelah tangan ditumpukan pada kopernya. Pemuda itu hanya menoleh sekilas dan kembali menekuni ponselnya. Suzy mengerucutkan bibirnya. Sampai kapan Seo Joon akan terus bersikap cuek seperti itu.

“Kau akan naik dengan mobilku..” ujar Suzy tepat di samping Seo Joon. Pemuda itu terlihat hanya mengerutkan keningnya dengan heran. “Cepat, mobilku sudah kuparkir di sana..”. Suzy menarik tangan Seo Joon dengan bersemangat. Pemuda itu hanya melirik sekilas tangannya yang ada dalam genggaman Suzy. Senyuman kecil terbersit sebentar di bibirnya. Namun, ketika Suzy menoleh ke arahnya, senyuman itu lenyap dengan segera.

Yoona menyeret koper Tae Hee dengan terseok-seok. Ia bisa melihat Donghae bersandar di mobilnya yang tampaknya sedang menunggu kedatangan Tae Hee, Suzy, dan Seo Joon.

“Donghae-ssi..”

Donghae menoleh dengan kaget. Matanya menatap tidak suka ke arah Yoona. “Kenapa kau yang kesini? Kemana Tae Hee sajangnim?”

“Ah, anu.. dia ada urusan mendadak. Dia menyerahkan tugasnya padaku.”

Donghae menghela napas dengan berat. “Kemana Suzy dan Seo Joon?” tanya Donghae berusaha mengalihkan perhatian Yoona yang sedari tadi ia tahu sedang menatapnya.

Ne? Suzy-ssi? Dia tadi bersamaku..”. Yoona mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan bingung. Donghae mencuri pandang ke arah Yoona. Kenapa semakin lama dia semakin cantik?, batin Donghae tidak sengaja. Ia menggelengkan kepalanya berusaha mengenyahkan pikiran aneh itu.

Drrt.. drrt..

Donghae menatap ponselnya. Dia mendengus kesal. Yoona langsung sadar akan itu. “Waeyo? Apakah ada yang salah?”

Donghae menyodorkan ponselnya ke muka Yoona. Gadis itu membaca pesan singkat yang ada disitu dengan cepat.

“Eii.. bagaimana bisa ini menjadi seperti ini..” keluh Donghae.

From: Bae Suzy

Donghae-ssi, aku dan Seo Joon sudah berangkat lebih dulu ke sana. Kami mungkin akan berputar-putar sebentar, jadi akan terlambat sedikit. Seo Joon dan aku satu mobil. Berangkatlah dan jangan menungguku serta Seo Joon. Bilang ke Tae Hee sajangnim, aku minta maaf karena berangkat lebih dulu tanpa izin.

Mwoya? Bagaimana bisa dia seperti itu?”. Yoona benar-benar panik.

Donghae mengendikkan bahunya dengan malas. “Masuk.”

Berarti aku hanya akan berdua dengannya? Aku dan Lee Donghae?, Yoona mengigit bibirnya sendiri dengan gugup. Aduh!! Apa yang harus aku lakukan??, Yoona panik sendiri. Donghae yang melihat raut wajah shock Yoona mengetukkaan jarinya ke kaca mobil dan segera menyuruh gadis itu masuk.

Apa-apaan ini, aku akan mati gila!

Annyeong hasimnikka… Euri kembali dengan FF ini.. semoga reader-deul gak bosen yaa.. dimohon untuk kritik serta saran kalian.. Komen kalian akan membuat Euri akan lebih baik lagi dan akan memberikan semangat lebih lagi untuk Euri dalam berkarya membuat FF, karena itu mohon dukungannya..

PLEASE DON’T BE A SIDERS!!

Love, Euri

Advertisements

2 thoughts on “[Chapter] 찾았다, 나의 사랑 (I Got You, My Love) – #6. Lost In Past

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s