Amarillis [Part 3]

Amarillis

|| Title: Amarillis || Author: Phiyun || Genre: Sad | Hurt | Romance | Family life || Main Cast:  Jiyeon | Kai || Support Cast : Member T-ara & Exo ||

Note: Nama Cast sewaktu-waktu akan bertambah maupun berkurang.

Cerita ini hanya fiksi belakang namun apabila ada kesamaan di dunia nyata berarti hanya kebetulan semata. Penulis hanya memakai nama castnya saja sebagai bahan cerita, jadi keseluruhan cast yang ada disini milik penulis. FF ini terinspirasi dari film maupun buku yang pernah ditonton dan dibaca oleh author.  Maaf kalau karakternya Castnya aku buat beda dari karakter  aslinya. Ini semata – mata hanya untuk isi cerita saja. Tapi kalau di dunia kenyataan Castnya milik Tuhan, keluarganya dan agencynya. Heheee… XD

Preview: Part 1 | Part 2

Please Don’t Be Silent Reader!

*** Happy  Reading ***

“Kapan pun kau siap, Nona Park Jiyeon-ssi.” sapanya. Jiyeon pun lalu melewati depan Jongin dan kemudian berkata, “Aku harap anda lebih pandai mengemudikan mobil dibandingkan dengan menerbangkan pesawat, Tuan Kim Jongin-ssi.”

Jongin menanggapi ucapan sinis Jiyeon dengan mengangkat kedua bahunya, setelah itu berkata. “Bagaimana kalau kita buktikan itu.”

Saat Jiyeon berjalan keluar vila ayahnya, dirinya sudah melihat koper-koper miliknya sudah ada di luar. Setelah memandang sekilas, gadis itu lalu menoleh ke belakang. “Sepertinya, anda sudah siap melayani saya.” dengan nada yang dingin.

“Tadinya aku berharap,” sahut Jongin sambil melemparkan koper-koper milik Jiyeon ke dalam bagasi mobil mewahnya, “Mengangkutnya bersama denganmu kembali ke tempat asalmu, tapi itu rupanya tidak mungkin sekarang.” tambahnya acuh tak acuh sambil membuka pintu mobil untuk dirinya sendiri dan kemudian duduk di depan kemudinya setelah itu menghidupkan mesin.

Tak lama kemudian Jiyeon pun menyusul Jongin memasukki mobil mewah tersebut. Gadis itu duduk di sebelahnya, tanpa bantuan. Belum sempat Jiyeon memakai sabuk pengaman, Jongin langsung melepaskann remnya, sehingga mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi sementara Jiyeon tercegang di tempat duduknya.

“Apa yang kau katakan padanya?”tanya Jongin tanpa basa-basi sambil dengan gesit melesat di kesibukan lalu-lintas.

“Sebagai mitra bisnis ayahku bukan berarti kau berhak mengetahui percakapan pribadinya denganku,” sahut Jiyeon sinis.

“Begini ya, Tuan putri. Aku tidak akan membiarkan begitu saja kau mamasuki kehidupan Kapten dan membuat dirinya resah. Aku tidak suka melihat wajahnya saat aku masuk ke sana tadi. Aku hanya meninggalkanmu selama lima menit, dan kau berhasil melukainya. Jangan sampai aku menghentikan mobilku untuk memaksamu bicara!” gertak Jongin.

Untuk sesat pemuda itu terdiam, kemudian dengan nada yang pelan ia menambahkan. “Kau akan tahu caraku bisa kasar sekali.” nada ancaman mewarnai kata-katanya yang nyaris tak terdengar. Jiyeon seketika merasakan dirinya sangat letih untuk berdebat dengan pria yang sedang duduk di sebelahnya.

Ya, gadis itu sudah lelah karena malam demi malam dilewatkannya hanya dengan tidur sebentar. Hari demi harinya pun dipenuhi dengan ketegangan dan kecemasan di perjalannya yang panjang dan tanpa kepastian pada akhirnya menghabiskan tenaga yang telah ia miliki. Dengan kesal, Jiyeon melepaskan topi bundarnya lalu ia menyandarkan kepalanya pada tempat duduknya, lalu menutup matanya sebelum dirinya berkata.

“Tuan Kim Jongin-ssi, aku tidak bermaksud melukai ayahku. Dalam waktu lima menit kau meninggalkanku bersamanya, kami tidak berbicara banyak. Mungkin berita bahwa ibuku sudah meninggal membuat dirinya terkejut, tapi semua itu cepat atau lambat suatu hari ia akan tahu pada akhirnya.” nadanya terdengar pasrah.

Dan di saat Jongin menoleh ke arah Jiyeon, pria itu terkejut melihat wajah pucat gadis itu tanpa tutup kepala. Rambutnya yang halus yang kontras dengan kulit wajahnya yang berwarna gading. Dan untuk pertama kali ia melihat bayangan kehitaman di bawah sekitar mata gadis itu. “Kapan?”

Jiyeon membuka matanya saat mendengar pertanyaan Jongin yang penuh dengan nada simpati. “Setengah tahun yang lalu.” seraya menghela napasnya, kemudian kepalanya menoleh ke arah Jongin yang sedang menyetir. “Ia menabrak tiang listrik. Mereka mengatakan beliau langsung meninggal di tempat.” Tanpa menderita, tambahnya dalam hati, di bawah pengaruh alkohol.

 

Jongin terdiam, dan Jiyeon bersyukur akhirnya dirinya bisa merasakan ketenangan saat berada di samping pemuda yang menyebalkan ini, meskipun Jiyeon merasakan keheningan yang bercampur dengan kecanggungan di antara mereka, gadis itu merasa keheningan itu lebih menyenangkan dari pada harus berdebat dengan Namja tersebut.

~OoO~

-1 jam kemudian-

Jongin membelok masuk ke jalan yang diapit dua pohon kelapa yang berdiri kokoh. Saat mereka mendekati rumah  yang ada di depan pandangan mereka, Jiyeon merasakan getaran yang menyenangkan di dalam dirinya. Bentuk rumah tersebut sangat sederhana tidak banyak lika-liku dan temboknya yang putih memberikan kesan kesejukan. Rumah itu berlantai dua. Kilauan jendela-jendela di bawah sinar matahari, Jiyeon merasa seakan dirinya di sambut dengan ramah.

“Cantik…”

“Tidak semewah seperti yang mungkin kau harapkan,” sahut Jongin sambil menghentikan laju kendaraannya dan berhenti di ujung jalan, “Meskipun begitu, Kap suka begini.” tambah Jongin dengan wajah yang datar.

Suasana damai untuk sesaat sepertinya juga berakhir di saat itu juga. Jiyeon menyadari saat dirinya telah sampai di kediaman sang ayah. Jongin pun lalu turun dari mobil dan memusatkan perhatiannya kepada barang bawaan Jiyeon.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Jiyeon membuka pintu dan menyelinap keluar. Kedua maniknya menatap fokus ke arah bangunan bertembok putih tersebut seolah dirinya sedang mempelajari rumah ayahnya. Ada sejumlah anak tangga menuju sebuah serambi yang mengitari rumah itu. Jongin menaikinya, mendorong pintu depan dengan sikunya kemudian masuk ke dalam. Tak lama Jiyeon pun berjalan menyusul Jongin.

Saat mereka tiba di dalam rumah tersebut. Jiyeon terkejut saat melihat ada seorang wanita yang umurnya sekitar empat puluhan dengan tubuh yang besar sedang menuruni anak tangga. Wanita itu menggunakan pakaian adat. Rambutnya yang hitam mengkilap yang dikuncir tinggi dan kulitnya mulus, berwarna kecokelatan dengan bola mata yang berwarna kehitaman. Menambah kesan kewibawaan wanita paruh baya tersebut di mata, Jiyeon.

“Siapa dia?” tanyanya kepada Jongin sambil melipat lengan-lengannya yang besar di atas dadanya yang penuh.

“Ini putri, Kapten Park.” balas Jongin sambil menurunkan koper-koper Jiyeon, setelah itu Jongin menyadarkan tubuhnya pada sandaran tangga seraya maniknya menatap gadis tersebut.

“Putri, Kapten Park.” wanita berkulit hitam itu merapatkan bibirnya. Matanya sedikit memicing saat menatap fokus ke arah Jiyeon. “Cantik, tapi pucat sekali dan kurus. Kau tidak suka makan?” ia mengukur lengan Jiyeon dengan telunjuk ibu jarinya.

“I—itu… tentu aku ..”

“Tidak cukup,” potong wanita itu sambil menyentuh sebuah ikal hitam milik Jiyeon dengan penuh perhatian. “Hmm… bagus, indah sekali. Tapi mengapa kau biarkan begini pendek?”

“A—aku…”

“Mestinya dari dulu kau sudah kemari, tak masalah yang penting sekarang kau sudah datang ke mari.” ujar wanita itu, kemudian ia mengangkut kedua koper milik Jiyeon ke atas. Jiyeon masih terkesimah dengan wanita tersebut.

Mengetahui, gadis itu masih sedikit terkejut, Jongin lalu mengenalkan siapa wanita yang baru saja ia lihat. “Itu Yolanda,” ujar Jongin sambil memasukan kedua tangannya ke dalam saku. “Ia pengurus rumah ini.”

“Ya, aku mengerti itu.” sahutnya sambil menaikkan tangannya untuk mengukur panjang rambutnya. “Tidakkah seharusnya kau yang membawa koper-koper itu ke atas?”

Dengan santai pemuda itu menjawab. “Yolanda, bisa membopong aku ke atas tanpa kehabisan napas. Selain itu, aku tahu bahwa lebih baik aku tidak mencampuri urusan tugasnya. Ayo ikut denganku.” lalu Jongin mencengkram lengan Jiyeon bersama dengan dirinya.

Ternyata Jongin mrngajak Jiyeon menuju sebuh bufet kecil yang ada di dalam kediaman Tuan Park. Setibanya di sana, Jiyeon melepaskan lengannya sambil melayangkan pandangannya ke sekeliling ruangan berdinding putih. Suasananya sama sederhana seperti di luar, dan gadis itu mengagumi upaya Yolanda dalam menjaga kerapian dan kebersihannya. Tanpa sadar Jiyeon menghela napas saat menatap se keliling sudut ruangan tersebut.

“Kau mau minum apa?” pertanyaan Jongin membuat lamunan dirinya hilang. Ia menggeleng, lalu meletakkan topinya di sebuah meja kecil. ”Aku tidak mau apa-apa, terima kasih.”

Tapi tanggapan yang di balas Jongin terlihat tak bersahabat. “Terserah.” Jongin lalu menuangkan sebuah white wine ke dalam sebuah gelas kristal kemudian menyandarkan drinya ke atas sebuah kursi. “Kami tidak biasa dengan formalitas di sini, Tuan putri. Sementara anda menginap, sebaiknya anda menyesuaikan diri dengan sekitar.”

Jiyeon memiringkan kepalanya, sembari meletakkan tasnya di sebelah topinya. “Setidaknya apakah seseorang masih bisa mencuci tangannya lebih dulu sebelum makan?”

“Tentu,” sahut Jongin, tanpa mengiraukan nada menyindir dari mulut Jiyeon. “Kami punya banyak air.”

Tak lama Jiyeon pun bertanya kembali. “Dan… Tuan Kim Jongin-ssi, anda sendiri tinggal di mana?”

“Di sini!” serunya sambil menjulurkn kakinya dan tersenyum senang saat melihat kerutan di dahi Jiyeon. “Selama seminggu atau dua minggu. Aku sedang melakukan sedikit perbaikan di rumahku.” tambahnya.

“Betapa tidak menyenangkan,” ucap Jiyeon sambil berkeliling ruangan, “Untuk kita berdua.”

“Anda pasti bisa bertahan, Tuan Putri.” Jongin mengangkat gelasnya ke arah Jiyeon. “Aku yakin anda sudah cukup berpengalaman dalam hal itu.” sindir pemuda tersebut.

Merasa dirinya sedang diejek, Jiyeon pun membalas ucapan Jongin dengan dingin. “Memang, Tuan Kim, tapi perasaanku mengatakan anda sebetulnya tidak tahu apa-apa tentang itu.”

“Anda tegar sekali, Nona Park Jiyeon-ssi. Harus kuakui itu.” setelah itu menegak minumannya kemudian mengumpat saat Jiyeon berpaling ke arahnya.

Jiyeon mengetahui kalau sikap pria yang sedang duduk di hadapannya sangat kasar  tapi di dalam hati Jiyeon, dirinya sudah bertekad untuk tidak terbawa arus kemarahan.

“Apakah kau kemari untuk minta uang lagi? Begitu serakahnya kau?” dalam satu gerakan yang luwes, Jongin bangkit dan berjalan ke arah Jiyeon dan kemudian mencengkram pundak gadis itu, sebelum Jiyeon sempat menghindar dari kemarahannya.

“Apakah kau belum cukup memerasnya? Kau tak pernah membalas apa-apa. Tidak pernah bahkan  peduli membalas satu pun dari antara sekian banyak surat-suratnya. Kau membiarkan bertahu-tahun berlalu tanpa kabar sedikit pun darimu. Apa lagi yang masih kau inginkan darinya?”

Tiba-tiba wajah Jongin terenyak saat melihat wajah Jiyeon berubah pucat. Mata gadis itu terlihat bingung. Tubuhnya mengayun seakan sendi-sendi ototnya tak mampu menahan berat badannya lagi. Sebelum Jiyeon terjatuh, Jongin telah lebih duluh meraih lengan kecil gadis tersebut, dan menatapnya dengan tatapan tak mengerti. “Ada apa denganmu?”

“A—aku… Tuan Kim, aku mau minum, bila anda tak keberatan.” Jongin mengerutkan alisnya, kemudian ia menggiring Jiyeon ke sebuah kursi sebelum mengambilkan minuman baginya. Jiyeon menerima gelasnya sambil bergumam kecil untuk mengatakan terima kasih, dan tampak terkejut oleh sengatan alkohol yang tidak dikenalnya. Suasana ruangan itu pun mulai terasa tenang.

Tak lama kemudian Jiyeon membuka pembicaraan. “Tuan, Kim Jongin-ssi, aa—apakah…” Jiyeon berhenti sebentar unutk menutup matanya. “Apakah kau mengatakan bahwa ayahku pernahh menulis surat kepadaku?”

“Kau tahu betul bahwa ia sering menulis surat.” nadanya sinis. “Ia pindah ke mari tak lama setelah kau dan ibumu meninggalkannya, dan ia selalu menulisi surat untukmu sampai tiga tahun yang lalu, setelah ia menyerah. Tapi Kapten selalu mengirimimu uang,” tambah Jongin, sambil menjentikkan pematiknya. “Oh iyam ia masih terus mengirimimu uang sampai dengan sekarang.”

“Bohong!!” teriak Jiyeon. Jongin tampak terkejut saat Jiyeon bangkit dari kursinya. Pipi gadis itu merona merah. Sinar matanya berapi-api. “Uwah…wah… putri es akan meleleh.” Ejek Jongin sambil menghembuskan asap rokoknya dan dengan santai menambahkan, “Aku tidak pernah berbohong, Tuan putri. Bagiku kebenaran jauh lebih menarik.”

Dengan suara yang bergetar Jiyeon kembali berkata. “Dia tidak pernah menulisi aku. Tidak pernah!” gadis itu lalu berjalan menuju tempat Jongin duduk. “Tidak sekali pun selama sekian tahun. semua surat yang aku kirimkan kepadanya di kembalikannya karena ia sudah pindah tanpa mengabariku ke mana.”

Beberapa saat kemudian, Jongin mematikan putung rokoknya, kemudian ia berdiri. “Kau kira aku akan mempercayai ucapanmu begitu saja? Kau keliru, Nona Park Jiyeon yang agung.” Suaranya terdengar dingin sama seperti tatapannya yang sedingin es. “Aku melihat sendiri surat-surat yang di kirim, dan cek-ceknya setiap bulan.” dengan jarinya yang menyelususi setelan pakaian yang di kenakan oleh Jiyeon. “Rupanya kau selalu menggunakan dengan baik.”

“Aku bilang, aku tidak pernah menerima surat-suratnya.” Jiyeon menepiskan tangan pria itu dan mengangkat wajahnya untuk menatap langsung ke dalam matanya. “Aku tidak pernah mendapat kabar sepotong pun dari dirinya sejak aku berusia lima tahun!”

Jongin menghela napasnya sebelum membalas perkataan gadis yang ada di hadapan-nya. “Nona Park, asal kau tahu ya, aku yang mengeposkan sendiri surat-suratnya lebih dari satu kali, meskipun aku betul-betul ingin sekali membuangnya ke dalam laut! Juga hadia-hadianya. Boneka setiap awal tahun. Kau tentu memiliki koleksi boneka porselen yang bagus. Selain itu masih ada perhiasan. Aku masih ingat dengan jelas hadia ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Sepasang giwang opal berbentu hati.”

“Giwang…” lirik Jiyeon. Seketika lantai yang ia pijak terasa bergolak. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menenangkan kepalanya yang saat ini terasa berputar hebat.

“Betul.” nada suara Jongin terdengar ketus saat ia kembali menegak minumannya. “Dan semua itu di kirimkan ke sebuah alamat yang sama: Je le ra Village nomor sembilan, Paris.”

Wajah Jiyeon tampak pucat lagi, dan ia lalu menaikkan sebelah tangannya ke arah pelipisnya. “Itu alamat ibuku,” gumamnya.  Gadis itu lalu memutar tubuhnya unutk mencari tempat duduk sebelum kedua kakinya tidak dapat menahan dirinya lagi. “Aku di sekolah, ibuku yang tinggal di sana.” kata Jiyeon pelan.

Tapi tanggapan Jongin begitu sinis. “Ya,” Jongin menjawabnya dengan sikap tak peduli sambilkemudian duduk di kursi yang ada di seberang Jiyeon. “Pendidikanmu memakan waktu yang lama dan uang yang banyak.” Tambahnya pemuda itu dengan nada yang mengejek.

Jiyeon teringat akan sekolah asramanya dengan makanan ala kadarnya, serpai-serpai katun yang warnanya telah memudar dan atapnya yang sering bocor saat hujan turun. Tak lama Jiyeon menekan kedua matanya yang tertutup dengan jarinya. “Aku tidak tahu bahwa ayahku yang membiayai sekolahku.”

“Lalu siapa kau pikir yang membayar gaun-gaun prancis dan les-les kesenianmu?” sahut pemuda itu.

Jiyeon menghela napasnya, tersinggung oleh nada bicara Jongin. “Victoria… ibuku mengatakan bahwa ia punya penghasilan. Aku memang tidak pernah mempertanyakan itu. tentu ia yang menyimpan surat-surat ayahku.” suara Jiyeon terdengar datar, dan Jongin tiba-tiba menjadi kehilangan kesabarannya. “Kalimat itukan yang kau gunakan di hadapan ayahmu? Kedengarannya meyakinkan sekali.”

“Tidak, Tuan Kim Jongin-ssi. Lagipula tak ada gunanya lagi sekarang, bukan? Aku tidak yakin apakah ia akan ebih mempercayai ucapanku ketimbang anda, Tuan Kim Jongin-ssi. Aku akan mempersingkat waktu kunjunganku, untuk kembali ke Perancis.” Ucapnya kemudian ia mengambil gelasnya dan menerawang isinya yang berwarna coklat kemerahan, sambil bertanya-tanya apakah karena minuman itu ia merasa dadanya menjadi begitu sesak?

“Aku hanya akan tinggal di sini selama seminggu atau dua minggu. Aku akan menghargai kalau anda tidak mengatakan apa-apa soal masalah ini kepada ayahku, bila ia mengetahuinya keadaannya akan semakin rumit nantinya.”

Jongin tertawa geli namun ekspresi yang di perlihatkan terlihat siinis. “Aku tidak punya niat menceritakan apa-apa padanya tengtang dongengmu ini.” cibirnya sambil menyicipi winenya.

“Berjanjilah, Tuan Kim Jongin-ssi.” Jongin tercengang mendengar nadanya yang begitu memohon padanya. Jongin mengangkat wajahnya. “Aku ingin kau berjanjji padaku.” Jiyeon menatap dalam mata kecokelatan milik pria yang ada di depannya, tanpa berkedip. “Aku berjanji, Nona Park,” jawab laki-laki itu pelan pada akhirnya

~OoO~

-Pov Author-

 

Jiyeon mengawasi sosok wanita dalam cermin. Wajahnya yang pucat di dominasi oleh mata besar dan gelap. Ia meraih perona pipinya, membubuhkan sedikit warna ke pipinya. Jiyeon memang mengenal watak ibunya. Pembawaannya egois, pikirannya picik. Sebagai seorang anak tidak sulit baginya melupakan kekurangan-kekurangan itu dan merasa bergembira menghadapi kunjungan-kunjungan si wnita negeri dongeng yang penuh dengan gairah hidup. Subuah istana dan gaun-gaun pesta memang amat kontras di bandingkan dengan pakaian seragam sekolah dan bubur gandum.

Sewaktu Jiyeon bertambah usia, kunjungan-kunjungan menjadi lebih jarang dan lebih singkat. Pada akhirnya gadis muda itu melewatkan masa-masa liburan sekolahnya bersama dengan para biarawati telah menjadi rutinitasanya. Dengan adanya carak di antar mereka berdua, Jiyeon mulai mengetahui kecemasan ibunya saat menghadapi masa remaja dirinya.

Keegoisannya dan upayanya mempertahankan kecantikannya sendiri. Memiliki seorang putri yang mulai beranjak dewasa dengan tubuh yang semakin berkembang dan kulit yang mulus lebih merupakan penghambat baginya dari pada suatu keberhasilan yang telahh ia jaga. Seorang putri yang mulai dewasa membuatnya mengingat akan ketidakabadiannya yang selalu terlihat mempesona.

Nyonya Park selalu takut kalah. Takut kehilangan kecantikannya, kemudaannya, teman-temannya dan pacar-pacarnya. Jiyeon mneghela napasnya saat ia teringat tentang koleksi boneka-boneka  porselen. Boneka milik Victoria, atau tadinya ia mengangap begitu. Sepuluh boneka  porselen, masing-masing dari negeri yang berbeda, ia teringat betapa cantiknya boneka-boneka tersebut. dan giwang opal yang cantik itu tampak mungil di telinga Victoria.

“Aku masih ingat saat ia memakainya sama seperti aku mengingat saat aku mencatatkannya bersama sepuluh boneka porselen untuk dilelang. Masih berapa banyak lagi barang milikku yang diambilnya?” desis Jiyeon dalam keheningan.

Di dalam hati Jiyeon terselip sebuah pertanyaan. “Wanita macam apa yang tega menggunakan apa yang sebetulnya milik putrinya demi kesenangannya sendiri?” membiarkan dirinya mengira tahun ketahun, bahwa sang ayah telah melupakannya. Sang ibu telah menjauhkan dirinya dari jangkauan sanga ayah, bahkan dari surat-suratnya tak ada satu pun yang ia peroleh.

Jiyeon sangat membenci sang ibu untuk itu. bukan untuk uangnya, tapi untuk kebohongan-kebohongan dan rasa kehilangan. “Ibu pasti memakai cek-cek itu untuk mempertahankan apartemen mewahnya di Paris, dan untuk pakaian gaun-gaunnya bahkan semua pesta pora itu.”

Jiyeon menutup kedua matanya untuk menahan kemarahannya. Gadis muda itu baru tersadar mengapa dirinya dibawa oleh ibunya ke Perancis. Ia di jadikan semacam sebuah polis asuransi. Sang ibu telah memanfaatkan dirinya selama lima belas tahun, tapi semua itu belum cukup untuk wanita paruh baya itu. Jiyeon merasakan air matanya menetes dari kedua sudut matanya yang tertutup.

“Ayah pasti benci padaku. Sudah pasti ia akan membenciku karena tidak menunjukan rasa terima kasihku dan untuk reaksiku yang dingin. Ia pasti tidak akan mempercayai semua perkataanku.” hela napas panjang Jiyeon saat mengingat kejadian tadi siang di villa ayahnya.

“Kau mirip ibumu.” Jiyeon seketika membuka matanya, kemudian melangkah kembali ke cermin untuk mempeajari wajahnya di sana. Memang benar apa yang dikatakan sang ayahnya. Kemiripan  mereka terletak pada struktur tulang dan warna kulitnya. Jiyeon mengerutkan kedua alisnya, merasa kurang senang dengan apa yang diwariskan oleh  sang ibunya.

“Ayah hanya perlu menatapku untuk melihat ibuku. Ia hanya perlu menatapku untuk mengingat semua prilaku egois ibuku.” bibir Jiyeon bergetar saat membayangkan hal itu. “Selama seminggu atau dua minggu ke depan akan aku ubah pemikiran ayahku tentang diriku. akan aku tunjukan kalau diriku ini tidak sama seperti ibu.  Aku akan membina kebersamaan dengan ayah seperti dulu. Aku sudah cukup puas dengan itu semua. Ayah juga tidak boleh berpikir bahwa aku kemari untuk mendapatkan uang, karena itu aku harus berhati-hati jangan sampai ia tahu betapa sedikitnya sisa uangku.” gumamnya pelan sambil menatap banyanganya di dalam cermin.

-TBC-

Hai-hai… ketemu lagi kita di sini 🙂

Akhirnya daku bisa mempublishkan kelanjutan fanfic ini, maaf ya bila membuat kalian menunggu lama. Karena aku harus mengganti moodku yang tadi senang menjadi mengharu biru buat nulis part 3 ini. Mengapa, kalian tahu kan aku baru saja mempublishkan ffku yang Pretty devil yang genrenya comedy dan alur ceritanya yang absurd, eh langsung nyambung buat ff ini yang melow drama banget buat aku, hehe /kok jadi curhat dah nih penulisnya./

Fanfic ini juga aku publishkan di blogku.

Oh iya, di sini juga sudah aku ceritain ya, mengapa sikap ayah dan Jongin kelihatan dingin sama Jiyi. Semuanya  karena sikap ibu Jiyi yang egois sehingga sang putrinya lah yang harus menanggungnya.

Apa yang akan Jiyeon lakukan agar dapat dekat kembali dengan sang ayah. Apakah ia akan berhasil atau sebaliknya ia akan semakin terluka dengan apa yang telah ia putuskan? Penasaran sama kelanjutannya, jangan lupa RCL-nya ya dear, biar penulisnya makin semangat lagi buat kelanjutannya ^^

See You Next Part ❤

Advertisements

30 thoughts on “Amarillis [Part 3]

  1. Wah sedih kali ceritanya.. ibunya jiyeon jahat ternyata, kasian jiyeonny jd nanggung semua ulah ibunya..
    Sebel dg tingkah jongin, kasar banget ma jiyeon, dy kan gk tw gimana keadaan jiyeon sebenarny..
    Makin kece ceritanya thor (y)..

    Liked by 1 person

  2. Ohhh jadi ini alesannya kenapa jongin benci sama jiyeon wahhhh…. Ternyata ibunya jahat pantes pas meninggal dalam pengaruh alkohol trs jiyeon kurus ada mata panda nya kasian 😢
    Di tunggu kelanjutannya ka
    Semangat ya kakak✊✊✊

    Liked by 1 person

    • Yap, si jongin begitu sikapnya gegara jiyi gak pernah ngasih balesan ma ayahnya…semuanya gara-gara ibunya 😦
      PAstinya semangat dong, hoho…
      Makasih yah dah nyempetin mampir kesini buat baca ^^

      Like

  3. wahhh daebak mah ini cerita nya,
    cepet di update lagi yah kak,
    jiyi mah emank cantik dari lahir,
    ibu nya aja yang jelek mah,
    jongin mah jangan kasar” ama jiyi,.ntar jadi suka loh,
    moga nanti happy end ya ?

    Liked by 1 person

  4. Ibunya jiyeon jahat banget ya,, jika emang mau barangnya ambil aja,,, tpi surattt nya tolong brikan ke jiyeonnn,,,, uda gatal ni mulut mau bilang semua k bnarannya sam jongi ,,,,, jiyeon ayo bilang,,, percaya gak percaya yang penting uda jujur,, di tunggu kelanjutannya 😄,,

    Liked by 1 person

    • Senengnya kalau kamu suka ^^ di tunggu aja ya, dear part selanjutnya aku usahain secepatnya… tenang semua ff yang dah aku buat pasti aku selesaiin kok, tapi begitu deh agak lama, selesainya, mian 😦
      Makasih ya dah nyempetin mampir kesini ^^

      Like

Write your great opinion ^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s